Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Desa siaga adalah salah satuupaya pemerintah dalam rangka pencapaian visi
Indonesia sehat, yang intinya adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu
untuk hidup sehat. Salah satu indicator keberhasilan desa siaga dinilai dari dampak yang
dihasilkan dari kegiatan-kegiatan yang dijalankan oleh desa siaga, antara lain: Jumlah
penderita sakit, jumlah penderita gangguan jiwa, angka kematian ibu, bayi dan balita dan
jumlah balita gizi buruk. Dengan mengetahui parameter-parameter tersebut, maka dapat
diketahui tingkat keberhasilan desa siaga yang telah bejalan.
Desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau Upaya kesehatan
bersumberdaya Masyarakat (UKBM) berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan
dasar, penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, surveilance berbasis masyarakat
yang meliputi gizi, penyakit, lingkungan dan perilaku sehingga masyarakatnya
menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Tujuandaridiadakannyadesasiagayaituantara lain: Peningkatan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.Peningkatan kewaspadaan dan
kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawadaruratan dan sebagainya). Peningkatan
kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa
untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan. Namunbanyakmasyarakat yang
belummengetahuidanmemahamisecaramendalamtentangdesasiaga. Maka dari masalah
tersebut penulis menyusun materi untuk menambah wawasan pembaca dan sebagai
sarana bahan belajar untuk mahasiswa tentang desa siaga.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian desa siaga?
2. Apakah tujuan umum dan tujuan khusus desa siaga?
3. Bagaimana perkembangan desa siaga?
4. Apakah program- program yang terdapat dalam desa siaga?
5. Bagaimana Pelaksanaan desa siaga?
6. Bagaimana peran jajaran kesehatan dan pemangku kepentingan terkait?
7. Apakah ciri-ciri desa siaga?
8. Bagaimana sasaran pengembangan desa siaga?
9. Bagaimana kriteria pengembangan desa siaga?
10. Bagaimana keberhasilan program desa siaga?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari desa siaga
2. Untuk mengetahui tujuan umum dan tujuan khusus desa siaga
3. Untuk mengetahui perkembangan desa siaga
4. Untuk mengetahui program- program yang terdapat dalam desa siaga?
5. Untuk mengetahui Pelaksanaan desa siaga?
6. Untuk mengetahui peran jajaran kesehatan dan pemangku kepentingan terkait
7. Untuk mengetahui ciri-ciri dari siaga
8. Untuk mengetahui sasaran pengembangan desa siaga
9. Untuk mengetahui kriteria pengembangan desa siaga
10. Untuk mengetahui keberhasilan program desa siaga
1.4 Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan diatas, maka penulisan makalah ini diharapkan dapat
1

bermanfaat, sebagai berikut:


Manfaat Umum
Memberikan sumbangan pemikiran untuk memperkaya wawasan dan
pengetahuan tentang materidesasiaga.

Manfaat Khusus
1 Bagi pembaca
Materi ini diharapkan dapat mempermudah pembaca dalam
memahami materi yang di sajikan. Selain itu pembaca materi ini
diharapkan mampu menerima semua materi yang disampaikan.
1.4.2.2 Bagi penulis
Dapat memperluas kaidah-kaidah pengetahuan serta sumber ajar
yang berguna dalam proses pembelajaran khususnya pada
materidesasiaga.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Desa Siaga
Masyarakat hukum yang memiliki batas batas wilayah, yang berwenang untuk
mengatur dan Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan serta kemauan untuk untuk mencegah dan mengatasi masalah
kesehatan, bencana, dan kegawadaruratan, kesehatan secara mandiri.Desa yang dimaksud di
sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan mengurus kepentingan yang diakui dan
dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau Upaya kesehatan
bersumberdaya Masyarakat (UKBM) lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai
pemberi pelayanan kesehatan dasar, penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan,
surveilance berbasis masyarakat yang meliputi gizi, penyakit, lingkungan dan perilaku
sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
2.2 Tujuan Umum, Tujuan Khusus Desa Siaga
Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli,
tanggap dan mampu mengenali, mencegah, serta mengatasi terhadap permasalahan kesehatan
di wilayahnya yang dihadapi secara mandiri, sehingga derajat kesehatannya meningkat
Tujuan khususnya adalah sebagai berikut :

Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya


kesehatan.

Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan


bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah,
kegawadaruratan dan sebagainya)

Peningkatan kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan dan kemauan


masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.

Mengembangan kebijakan pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di

Pemerintahan Desa atau Kelurahan


Meningkatkan komitmen dan kerjasama semua perangkat Desa atau Kelurahan dan

organisasi kemasyarakatan untuk pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.


Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar di desa atau
kelurahan.
3

Mengembangkan UKBM dan melaksanaan survailans berbasis masyarakat (meliputi


pemantauan penyakit, kesehatan ibu, dan anak, lingkungan, dan perilaku),

penanggulangan bencana dan kedaruratan kesehatan, serta penyehatan lingkungan.


Meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia, dana, maupun sumber daya lain,
yang berasal dari Pemerintah Desa atau Kelurahan, masyarakat dan swasta/dunia usaha,

untuk pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.


Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga.

2.3 Perkembangan Desa Siaga


Desa siaga kini lebih dikenal dengan nama Desa dan Kelurahan Siaga Aktif Landasan
hukumnya Keputusan Menteri Kesehatan No 564/Menkes/SK/ VIII/2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga. Kemudian program ini direvitalisasi guna
mengakselerasi pencapaian target Desa Siaga Aktif pada tahun 2015. Landasan hukumnya
Keputusan Menteri Kesehatan No 1529/Menkes/SK/X/2010 tentang Pedoman Umum
Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Berikut beberapa ulasan tentang desa dan
kelurahan siaga aktif.
A. Komponen Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
1. Pelayanan kesehatan dasar.
2. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UKBM dan mendorong upaya
survailans berbasis masyarakat, kedaruratan kesehatan dan penanggulangan
bencana, serta penyehatan lingkungan.
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
B. Manfaat Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
1. Bagi Masyarakat:
- Mudah mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.
- Peduli, tanggap dan mampu mengenali, mencegah dan mengatasi masalah
-

kesehatan yang dihadapi.


Tinggal di lingkungan yang sehat.
Mampu mempratikkan PHBS.
Tokoh masyarakat dan kader berperan aktif memberdayakan dan

menggerakkan masyarakat.
2. Bagi Puskesmas:
- Meningkatkan cakupan program kesehatan
- Optimalisasi fungsi Puskesmas.
- Menurunkan angka kesakitan dan kematian.
- Meningkatkan citra Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.
3. Bagi Pemerintah Kecamatan:
- Alokasi dana pembangunan tidak banyak digunakan untuk pelayanan kuratif,
-

melainkan untuk promotif dan preventif.


Terciptanya pembangunan berwawasan kesehatan di kecamatan.
4

- Mempercepat terwujudnya Kecamatan Sehat.


- Meningkatkan citra Pemerintah Kecamatan.
C. Kriteria Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
1. Kepedulian Pemerintah Desa atau Kelurahan dan pemuka masyarakat terhadap
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang tercermin dari kesadaran dan keaktifan
Forum Desa dan Kelurahan.
2. Keberadaan Kader Pemberdayaan Masyarakat/Kader Kesehatan Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif.
3. Kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar yang buka atau
memberikan pelayanan setiap hari.
4. Keberadaan UKBM yang dapat melaksanakan
(a) survailans berbasis masyarakat,
(b) kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana,
(c) penyehatan lingkungan.
5. Tercakupnya pendanaan untuk pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
dalam Anggaran Pembangunan Desa atau Kelurahan serta dari masyarakat dan
dunia usaha.
6. Peran serta aktif masyarakat dan organisasi kemasyarakatan dalam kegiatan
kesehatan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
7. Peraturan di desa atau kelurahan yang melandasi dan mengatur tentang
pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga AKtif.
8. Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga.
D. Latar Belakang Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif diluncurkan dalam rangka mendukung
pencapaian visi Pembangunan Nasional 2005- 2025 yaitu Indonesia yang Mandiri,
Maju, Adil dan Makmur. Untuk mencapai itu, pembangunan kesehatan perlu
mendapat prioritas.
Upaya Pemerintah dimulai dengan gerakan Pembangunan Kesehatan Masyarakat
Desa (PKMD) pada era 1970an-1980an. Masa kejayaan tersebut hendak diulang dan
dibangkitkan kembali melalui gerakan pengembangan dan pembinaan Desa Siaga
yang sudah dimulai pada tahun 2006 melalui Keputusan Menteri Kesehatan No 564/
Menkes/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga.
Sampai dengan tahun 2009 tercatat 42.295 desa dan kelurahan (56,1%) dari 75.410
desa dan kelurahan yang ada di Indonesia telah memulai sebuah proses mewujudkan
Desa Siaga dan Kelurahan Siaga.
Untuk mencapai target Desa Siaga Aktif pada tahun 2015, dilakukanlah
revitalisasi. Melalui Peraturan Menteri Kesehatan No 741/ Menkes/Per/VII/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di Kabupaten dan Kota
dan Keputusan Menteri Kesehatan No 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk
5

Teknis Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di kabupaten dan kota,
Pemerintah menetapkan bahwa pada tahun 2015 sebanyak 80% desa telah menjadi
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
E. Langkah-Langkah Desa Siaga
Upaya pemecahan suatu masalah dilestarikan & masalah berikutnya dipecahkan,
dst. Pengenalan kondisi Desa atau Kelurahan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat
(KPM), lembaga kemasyarakatan, dan Perangkat Desa/Kelurahan, dilakukan dan hasil
analisis situasi perkembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif, yang sudah dapat atau
belum dapat dipenuhi oleh Desa atau Kelurahan yang bersangkutan.
1. Pengenalan Kondisi Desa/Kelurahan
Pengenalan kondisi Desa atau Kelurahan oleh Kader Pemberdayaan
Masyarakat (KPM), lembaga kemasyarakatan, dan Perangkat Desa/Kelurahan,
dilakukan dan hasil analisis situasi perkembangan Desa dan Kelurahan Siaga
Aktif, yang sudah dapat atau belum dapat dipenuhi oleh Desa atau Kelurahan
yang bersangkutan.
2. Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS
Dengan mengkaji Profil/Monografi Desa/Kelurahan, dan hasil analisis situasi
kesehatan melalui Survai Mawas Diri (SMD). SMD merupakan pengumpulan
data oleh kader, tokoh masyarakat, anggota Forum Desa yang terlatih dengan
menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disepakati Forum Desa. Melalui
SMD, dapat diidentifikasi:
1.
2.
3.
4.
5.

Masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat dan prioritas penanganannya.


Penyebab masalah kesehatan dan perilaku masyarakat.
Potensi yang dimiliki desa/kelurahan
UKBM yang ada dan harus diaktifan kembali/dibentuk baru.
Bantuan/dukungan yang diharapkan: apa bentuknya, berapa banyak, dari mana

kemungkinan didapat (sumber), dan bilamana dibutuhkan.


3. Musyawarah Desa/Kelurahan
- Musyawarah Desa/Kelurahan dapat dilakuan secara berjenjang dengan
terlebih dulu menyelenggarakan Musyawarah Dusun atau Rukun Warga.
Musyawarah Desa diselenggarakan dengan menyajikan hasil analisis data
-

hasil kajian Profil Desa/Kelurahan dan atau hasil SMD.


Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan:
Menyosialisasikan masalah kesehatan yang dihadapi.
Mencapai kesepakatan urutan prioritas.
Mencapai kesepakatan tentang UKBM yang dibentuk baru atau diaktifkan
kembali.
6

Memantapkan data potensi desa untuk sumber bantuan/dukungan yang


diperlukan.
Menggalang semangat dan partisipasi warga untuk mendukung
pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Setelah diperoleh kesepakatan dari warga, KPM dan lembaga kemasyarakatan
mengadakan pertemuan gunamenyusun rencana pengembangan Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif untuk dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan
Desa/Kelurahan.
4. Perencanaan Partisipatif
Rencana pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif mencakup:
UKBM yang akan dibentuk baru atau diaktifkan kembali.
Sarana yang akan dibangun baru atau direhabilitasi (misalnya Poskesdes,
Polindes, sarana air bersih, jamban keluarga, dll).
Kegiatan yang akan dilaksanakan dan biaya operasionalnya.
Hal-hal yang dapat dilaksanakan dengan swadaya masyarakat dan atau
bantuan dari donatur (misalnya swasta), disatukan dalam dokumen tersendiri.
Sedangkan hal-hal yang memerlukan dukungan Pemerintah dimasukkan ke
dalam dokumen Musrenbang Desa atau Kelurahan untuk diteruskan ke
Musrenbang Kecamatan dan Kabupaten/Kota.
5. Pelaksanaan Kegiatan
a. Kegiatan yang mendapat dukungan dana dari pemerintah memerlukan proses
Musrenbang.
b. Kegiatan dapat dimulai dengan membentuk UKBM-UKBM, menetapkan
kader-kader pelaksanaannya.
c. Pelaksanaan kegiatan yang tidak memerlukan biaya operasional seperti
promosi kesehatan melalui Dasawisma, pertemuan Rukun Tetangga,
pertemuan Rukun Warga/ Dusun, atau forum-forum kegiatan kemasyarakatan
dan keagamaan.
d. Tim pelaksana kegiatan bertanggung jawab mengenai realisasi fisik,
keuangan, dan administrasi kegiatan yang dilakukan, sesuai dengan rencana,
e. Apabila dibutuhkan barang berupa bahan dan alat yang tidak dapat
disediakan/dilakukan sendiri oleh masyarakat, maka Dinas Kesehatan
melalui Puskesmas dapat membantu masyarakat untuk menyediakan
barang/jasa tersebut.
f. Pencatatan dan pelaporan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk
teknis dari Kemendagri.
7

g. Pelatihan teknis, termasuk kursus-kursus penyegaran, bagi para kader


pelaksana UKBM menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dengan dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi untuk melaksanakannya,
dengan mengacu kepada petunjuk teknis yang dibuat oleh Kemendagri dan
Kemenkes.
h. Pembinaan kelestarian Desa/Kelurahan Siaga Aktif tugas dari KPM, Kepala
Desa/Lurah, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.
i. Pertemuan berkala dan kursus penyegaran bagi para kader, termasuk KPM,
juga dikembangkan cara lain melalui program Kelompencapir dan
Perpustakaan Desa/Kelurahan.
6. Pembinaan Kegiatan
- Pembinaan kelestarian juga dilaksanakan terintegrasi dengan
penyelenggaraan Perlombaan Desa dan Kelurahan yang diselenggarakan
-

setiap tahun ke tingkat Nasional.


Pembinaan kelestarian juga diselenggarakan pencatatan dan pelaporan
perkembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang berjalan secara
berjenjang dan terintegrasi dengan Sistem Informasi Pembangunan Desa
yang diselenggarakan oleh Kemendagri.

2.4 Program-Program yang Terdapat Dalam Desa Siaga


Inti dari kegiata Desa Siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan
mampu untuk hidup sehat. Oleh karena itu dalam pengembangannya diperlukan langkahlangkah pendekatan edukatif. Yaitu upaya mendampingi (memfasilitasi) masyarakat
untuk menjalani proses pembelajaran yang berupa proses pemecahan masalah-masalah
kesehatan yang dihadapinya.
Untuk menuju Desa Siaga perlu dikaji berbagai kegiatan bersumberdaya masyarakat
yang ada dewasa ini seperti Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa, Dana Sahat, Siap-AntarJaga, dan lain-lain sebagai embrio atau titik awal pengembangan menuju Desa Siaga.
Dengan demikian, mengubah desa menjadi Desa Siaga akan lebih cepat bila di desa
tersebut telah ada berbagai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).
1. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Dalam Desa Siaga
a. Pengertian Poskendes
Poskesdes adalah upaya UKBM yang dibentuk di desa dalam rangka
mendekatkan / menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa.
Poskesdes dapat dikatakan sebagai sarana kesehatan yang merupakan pertemuan
antara upaya-upaya masyarakat dan dukungan pemerintah. Pelayanannya meliputi
8

upaya-upaya promotif, preventif, dan kuratif yang dilaksanakan oleh tenaga


kesehatan (terutama bidan) dengan melibatkan kader atau tenaga sukarela
lainnya.
b. Kegiatan Poskendes
Poskesdes diharapkan dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat desa, sekurang-kurangnya:
-

Pengamatan epidemiologis sederhana terhadap penyakit, terutama penyakit


menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB, dan faktor-faktor

resikonya (termasuk status gizi) serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang
berpotensi menimbulkan KLB, serta faktor-faktor resikonya (termasuk kurang

gizi).
Kesiapsiagaan dan penanggualangan bencana dan kegawatdaruratan

kesehatan.
Pelayanan medis dasar, sesuai dengan kompetensinya.
Kegiatan-kegiatan lain, yaitu promosi kesehatan untuk peningkatan keluarga
sadar gizi, peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penyehatan
lingkungan, dan lain-lain, merupakan kegiatan pengembangan.

Poskesdes juga diharapkan sebagai pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai


UKBM lain yang dibutuhkan masyarakat desa (misalnya Warung Obat Desa,
Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain). Dengan
demikian, Poskesdes sekaligus berperan sebagai coordinator dan UKBM-UKBM
tersebut.
c. Sumber Daya Poskendes
Poskesdes diselenggarakan oleh tenaga kesehatan (minimal seorang bidan),
dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya dua orang kader.
Untuk menyelenggarakan Poskesdes harus tersedia sarana fisik bangunan,
perlengkapan, dan peralatan kesehatan. Guna kelancaran komunikasi dengan
masyarakat dan dengan sarana kesehatan (khususnya Puskesmas), Poskesdes
seyogyanya memiliki juga sarana komunikasi (telepon, ponsel, atau kurir).
Pembangunan saranan fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara,
yaitu dengan urutan alternative sebagai berikut:
a.

Mengembangkan Pondok Bersalin Desa (Polindes) yang telah ada menjadi


Poskesdes.

b.

Memanfaatkan bangunan yang sudah ada, yaitu misalnya Balai RW, Balai
Desa, Bali Pertemuan Desa, dan lain-lain.

c.

Membangun baru, yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau


Daerah), donator, dunia usaha, atau swadaya masyarakat.

2.5 Pelaksanaan Desa Siaga


1. Persiapan
Dalam tahap persiapan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
-

Pusat:
Penyusunan pedoman.
Pembuatan modul-modul pelatihan.
Penyelenggaraan Pelatihan bagi Pelatih atau Training of

Trainers (TOT).
Provinsi:
Penyelenggaraan TOT (tenaga kabupaten / Kota).
- Kabupaten / Kota:
Penyelenggaraan pelatihan tenaga kesehatan.
Penyelenggaraan pelatihan kader.
2. Pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
- Pusat:
Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain.
- Provinsi:
Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain.
- Kabupaten / Kota:
Penyediaan dana dan dukungan sumber daya lain.
Penyiapan Puskesmas dan Rumah Sakit dalam rangka
-

penanggualangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.


- Kecamatan:
Pengembangan dan Pembinaan Desa Siaga.
3. Pemantauan dan Evaluasi
Dalam tahap pemantauan dan evaluasi, hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
- Pusat:
Memantau kemajuan dan mengevaluasi keberhasilan pengembangan
-

Desa Siaga.
Provinsi:
Memantau kemajuan pengembangan Desa Siaga.
Melaporkan hasil pemantauan ke pusat.
Kabupaten / Kota:
Memantau kemajuan pengembangan Desa Siaga.
Melaporkan hasil pemantauan ke Provinsi.
Kecamatan:
10

Melakukan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).


Melaporkan pengembangan ke Kabupaten /Kota.
4. Pendekatan Pengembangan Desa Siaga
Pengembangan Desa Siaga dilaksanakan dengan membantu / memfasilitasi
masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran melalui siklus atau spiral
pemecahan masalah yang terorganisasi (pengorganisasian masyarakat), yaitu
dengan menempuh tahap-tahap:
-

Mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, dan sumber daya yang dapat

dimanfaatkan untuk mengatasi masalah.


Mendiagnosis masalah dan merumuskan alternatif-alternatif pemecahan

masalah
Menetapkan alternative pemecahan masalah yang layak, merencanakan dan

melaksanakannya.
Memantau, mengevaluasi dan membina kelestarian upaya-upaya yang telah
dilakukan.
Meskipun di lapangan banyak variasi pelaksanaanya, namun secara garis

besar langkah-langkah pokok yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut:


a. Pengembangan Tim Petugas
Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan-kegiatan lainnya
dilaksanakan. Tujuan langkah ini adalah mempersiapkan para petugas
kesehatan yang berada di wilayah Puskesmas, baik petugas teknis maupun
petugas administrasi. Persiapan pada petugas ini bisa berbentuk sosialisasi,
pertemuan atau pelatihan yang bersifat konsolidasi, yang disesuaikan dengan
kondisi setempat.
Keluaran (output) dan langkah ini adalah para petugas yang memahami
tugas dan fungsinya, serta siap bekerjasama dalam satu tim untuk melakukan
pendekatan kepada pemangku kepentingan masyarakat.
b. Pengembangan Tim di Masyarakat
Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan para petugas, tokoh
masyarakat, serta masyarakat, agar mereka tahu dan mau bekerjasama dalam
satu tim untuk mengembangkan Desa Siaga.
Dalam langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu
kebijakan, agar mereka mau memberikan dukungan, baik berupa kebijakan
atau anjuran, serta restu, maupun dana atau sumber dana yang lain, sehingga
11

pembangunan Desa Siaga dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan pendekatan


kepada tokoh-tokoh masyarakat bertujuan agar mereka memahami dan
mendukung, khususnya dalam membentuk opini publik guna menciptakan
iklim yang kondusif bagi pengembangan Desa Siaga.
Jadi dukungan yang diharapkan dapat berupa dukungan moral, dukungan
financial atau dukungan material, sesuai kesepakatan dan persetujuan
masyarakat dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
Jika di daerah tersebut telah terbentuk wadah-wadah kegiatan masyarakat
di bidang kesehatan seperti Konsil Kesehatan Kecamatan atau Badan
Penyantun Puskesmas, Lembaga Pemberdayaan Desa, PKK, serta organisasi
kemasyarakatan lainnya, hendaknya lembaga-lembaga ini diikut sertakan
dalam setiap persemuan dan kesepakatan.
c. Survei Mawas Diri
Survey Mawas Diri (SMD) atau Telaah Mawas Diri (TMD) atau
Community Self Survey (CSS) bertujuan agar pemuka-pemuka masyarakat
mampu melakukan telaah mawas diri untuk desanya. Survey ini harus
dilakukan oleh pemuka-pemuka masyarakat setempat dengan bimbingan
tenaga kesehatan. Dengan demiian, mereka menjadi sadar akan permasalahan
yang dihadapi di desanya, serta bangkit niat dan tekad untuk mencari
solusinya, termasuk membangun Poskesdes sebagai upaya mendekatkan
pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa. Untuk itu, sebelumnya
perlu dilakukan pemilihan dan pembekalan keterampilan bagi mereka.
Keluaran atau output dan SDM ini berupa identifikasi masalah-masalah
kesehatan serta daftar potensi di desa yang dapat didayagunakan dalam
mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut, termasuk dalam rangka
membangun Poskesdes.
d. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
Tujuan penyelenggaraaan musyawarah masyarakat desa (MMD) ini
adalah mencari alternative penyelesaian masalah kesehatan dan upaya
membangun Poskesdes, diakitkan dengan potensi yang dimiliki desa. Di
samping itu, juga untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan
Desa Siaga.
Inisiatif penyelenggaraan musyawarah sebaiknya berasal dari tokoh
masyarakat yang telah sepakat mendukung pengembangan Desa Siaga. Peserta
12

musyawarah adalah tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh-tokoh


perempuan dan generasi muda setempat. Bahkan sedapat mungkin dilibatkan
pula kalangan dunia usaha yang mau mendukung pengembangan Desa Siaga
dan kelestariannya (untuk itu diperlukan advokasi).
Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD disajikan, utamanya
dalah daftar masalah kesehatan, data potensial, serta harapan masyarakat.
Hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk penentuan prioritas,
dukungan dan kontribusi apa yang dapat disumbangkan oleh masing-masing
individu / institusi yang diwakilinya, serta langkah-langkah solusi untuk
pembangunan Poskesdes dan pengembangan masing-masing Desa Siaga.
5. Pelaksanaan Kegiatan
Secara operasional pembentukan Desa Siaga dilakukan dengan kegiatan sebagai
berikut:
a. Pemilihan Pengurus dan Kader Desa Siaga
Pemilihan pengurus dan kader Desa Siaga dilakukan melalui pertemuan
khusus para pemimpin formal desa dan tokoh masyarakat serta beberapa
wakil masyarakat. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dan mufakat,
sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku, dengan difasilitasi oleh
Puskesmas.
b. Orientasi / Pelatihan Kader Desa Siaga
Sebelum melaksanakan tugasnya, kepada pengelola dan kader desa
yang telah ditetapkan perlu diberikan orientasi atau pelatihan. Orientasi /
pelatihan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota sesuai
dengan pedoman orientasi / pelatihan yang berlaku. Materi orientasi /
pelatihan yang berlaku. Materi orientasi / pelatihan mencakup kegiatan yang
akan dilaksanakan di desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga
(sebagaiman telah dirumuskan dalam Rencana Operasional). Yaitu meliputi
pengelolaan Desa Siaga secara umum, pembangunan dan pengelolaan
Poskesdes, pengembangan dan pengelolaan UBKM lain, serta hal-hal penting
terkait seperti kehamilan dan persalinan sehat, Siap-Antar-Jga, Keluarga
Sadar Gizi, Posyandu, kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit menular,
penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB-PLP),
kegawatdaruratan sehari-hari, kesiap-siagaan bencana, kejadian luar biasa,
warung obat desa (WOD), dversifikasi pertanian tanaman pangan dan
13

pemanfaatan pekarangan melalui Taman Obat Keluarga (TOGA), kegiatan


surveilans, PHS, dan lain-lain.
c. Pengembangan Poskesdes dan UKBM lain
Dalam hal ini, pembangunan Poskesdes bisa dikembangkan dari
Polindes yang sudah ada.
Apabila tidak ada Polindes, maka perlu dibahas dan dicantumkan
dalam rencana kerja tentang alternative lain pembangunan Poskesdes.
Dengan demikian diketahui bagaimana Poskesdes tersebut akan diadakan ,
membangun baru dengan fasilitas dari pemerintah, membangun baru dengan
bantuan dari donator, membangun baru dengan swadaya masyarakat, atau
memodifikasi bangunan lain yang ada.
Bilamana Poskesdes sudah berhasil diselenggarakan, kegiatan
dilanjutkan dengan membentuk UKBM-UKBM yang diperlukan dan belum
ada di desa yang bersangkutan, atau merevitalisasi yang sudah ada tetapi
kurang / tidak aktif.
d. Penyelenggaraan Kegiatan Desa Siaga
Dengan telah adanya Poskesdes, maka desa yang bersangkutan telah
dapat ditetapkan sebagai Desa Siaga. Setelah Desa Siaga resmi dibentuk,
dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan Poskesdes secara rutin, yaitu
pengembangan sistem surveilans berbasis masyarakat, pengembangan
kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawat-daruratan dan bencana,
pemberantasan penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan
KLB., penggalangan dana, pemberdayaan masyarakat menuju KADARZI
dan PHBS, penyehatan lingkungan, serta pelayanan kesehatan dasar (bila
diperlukan). Selain itu, diselenggarakan pula pelayanan UKBM-UKBM lain
seperti Posyandu dan lain-lain dengan berpedoman kepada panduan yang
berlaku.
Secara berkala kegiatan Desa Siaga dibimbing dan dipantau oleh
Puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan dan
pengembangan Desa Siaga selanjutnya secara lintas sektoral.
6. Pembinaan dan Peningkatan
Mengingat permasalahan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kinerja sektor
lain, serta adanya keterbatasan sumber daya, maka untuk memajukan Desa Siaga
perlu adanya pengembangan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak.
14

Perwujudan dan pengembangan jejaring Desa Siaga dapat dilakukan melalui Temu
Jejaring UKBM secara internal di dalam desa sendiri dan atau Temu Jejaring antar
Desa Siaga (minimal sekali dalam setahun). Upaya ini selain untuk memantapkan
kerjasama, juga diharapkan dapat menyediakan wahana tukar-menukar pengalaman
dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bersama. Yang juga tidak kalah
pentingnya adalah pembinaan jejaring lintas sektor, khususnya dengan programprogram pembangunan yang bersasaran Desa.
Salah satu kunci keberhasilan dan kelestarian Desa Siaga adalah keaktifan
para kader. Oleh karena itu, dalam rangka pembinaan perlu dikembangkan upayupayauntuk memenuhi kebutuhan para kader agar tidak drop out. Kader-kader
yang memiliki motivasi memuaskan kebutuhan sosial psikologinya harus diberi
kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kreatifitasnya. Sedangkan
kader-kader yang masih dibebani dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya, harus
dibantu untuk memperoleh pendapatan tambahan, misalnya dengan pemberian
gaji / intensif atau difasilitasi agar dapat berwirausaha.
Untuk dapat melihat perkembangan Desa Siaga, perlu dilakukan pemantauan
dan evaluasi. Berkaitan dengan itu, kegiatan-kegiatan di Desa Siaga perlu dicatat
oleh kader, misalnya dalam Buku Register UKBM (contohnya: kegiatan Posyandu
dicatat dalam buku Register Ibu dan Anak Tingkat Desa atau RIAD dalam Sistem
Informasi Posyandu).
2.6 Peran Jajaran Kesehatan dan Pemangku Kepentingan Terkait
1. Peran Jajaran Kesehatan
a. Peran Puskesmas
Dalam rangka pengembangan Desa Siaga, Puskesmas merupakan ujung
tombak dan bertugas ganda yaitu sebagai penyelenggara PONED dan penggerak
masyarakat desa. Namun demikian, dalam menggerakkan masyarakat desa,
Puskesmas akan dibantu oleh Tenaga Fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten /
Kota yang telah dilatih Provinsi.
Adapun peran Puskesmas adalah sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar, termasuk Pelayanan Obstetrik
dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).
2. Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim tingkat kecamatan dan desa
dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
3. Memfasilitasi pengembangan Desa Siaga dan Poskesdes.
15

4. Melakukan monitoring Evaluasi dan pembinaan Desa Siaga.


b. Peran Rumah Sakit
Rumah Sakit memegang peranan penting sebagai sarana rujukan dan pembina
teknis pelayanan medik. Oleh karena itu, dalam hal ini peran Rumah Sakit adalah:
1. Menyelenggarakan pelayanan rujukan, termasuk Pelayanan Obstetrik dan
Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK).
2. Melaksanakan bimbingan teknis medis , khususnya dalam rangka
pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan bencana di
Desa Siaga.
3. Menyelenggarakan promosi kesehatan di Rumah Sakit dalam rangka
pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan bencana.
c. Peran Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
Sebagai penyedia dan pembina Puskesmas dan Rumah Sakit, peran Dinas
Kesehatan Kabupaten / Kota meliputi:
1. Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat Kabupaten / Kota
dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
2. Merevitalisasi Puskesmas dan jaringannya sehingga mampu
menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar dengan baik, termasuk PONED,
dan pemberdayaan masyarakat.
3. Merevitalisasi Rumah Sakit sehingga mampu menyelenggarakan pelayanan
rujukan dengan baik, termasuk PONEK, dan promosi kesehatan di Rumah
Sakit.
4. Merekrut / menyediakan calon-calaon fasilitator untuk dilatih menjadi
Fasilitator Pengembangan Desa Siaga.
5. Menyelenggarakan pelatihan bagi petugas kesehatan dan kader.
6. Melakukan advokasi ke berbagai pihak (pemangku kepentingan) tingkat
Kabupaten / Kota dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
7. Bersama Puskesmas melakukan pemantauan, evaluasi dan bimbingan teknis
terhadap Desa Siaga.
8. Menyediakan anggaran dan sumber daya lain bagi kelestarian Desa Siaga.
d. Peran Dinas Kesehatan Provinsi
Sebagai penyedia dan pembina Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan
Kabupaten / Kota, Dinas Kesehatan Provinsi berperan:
1. Mengembangkan komitmen dan kerjasama tim di tingkat provinsi dalam
rangka pengembangan Desa Siaga.

16

2. Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota mengembangkan kemampuan


melalui pelatihan-pelatihan teknis, dan cara-cara lain.
3. Membantu Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota mengembangkan kemampuan
Puskesmas dan Rumah Sakit di bidang konseling, kunjungan rumah, dan
pengorganisasian masyarakat serta promosi kesehatan, dalam rangka
pengembangan Desa Siaga.
4. Menyelenggarakan pelatihan Fasilitator Pengembangan Desa Siaga dengan
metode kalakarya (interrupted training).
5. Melakukan advokasi ke berbagai pihak (pemangku kepentingan) tingkat
provinsi dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
6. Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota melakukan pemantauan, evaluasi
dan bimbingan teknis terhadap Desa Siaga.
7. Menyediakan anggaran dan sumber daya lain bagi kelestarian Desa Siaga.
e. Peran Departemaen Kesehatan
Sebagai aparatur tingkat Pusat, Departemaen Kesehatan berperan dalam:
1. Menyusun konsep dan pedoman pengembangan Desa Siaga, serta
mensosialisasikan dan mengadvokasikannya.
2. Memfasilitasi revitalisasi Dinas Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit, serta
Posyandu dan UKBM-UKBM lain.
3. Memfasilitasi pembangunan Poskesdes dan pengembangan Desa Siaga.
4. Memfasilitasi pengembangan sistem surveilans, sistem informasi / pelaporan,
serta sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan bencana
5.
6.
7.
8.

berbasis masyarakat.
Memfasilitasi ketersediaan tenaga kesehatan untuk tingkat desa.
Menyelenggarakan pelatihan bagi pelatih (TOT).
Menyediakan dana dan dukungan sumber daya lain.
Menyelenggarakan pemantauan dan evaluasi.

2. Peran Pemangku Kepentingan Terkait


Pemangku kepentingan lain, yaitu para pejabat Pemerintah Daerah, pejabat
lintas sektor, unsur-sunsur organisasi / ikatan profesi, pemuka masyarakat, tokohtokoh agama, PKK, LSM, dunia usaha, swasta dan lain-lain, diharapkan berperan
aktif juga di semua tingkat administrasi.
a. Pejabat-pejabat Pemerintah Daerah
1. Memberikan dukungan kebijakan, sarana dan dana untuk penyelenggaraan
Desa Siaga.

17

2. Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan


Poskesdes / Puskesmas / Pustu dan berbagai UBKM yang ada (Posyandu,
Polindes, dan lain-lain).
3. Melakukan pembinaan untuk terselenggaranya kegiatan Desa Siaga secara
teratur dan lestari.
b. Tim Penggerak PKK
1. Berperan aktif dalam pengembangan dan penyelenggaraan UBKM di Desa
Siaga (Posyandu dan lain-lain).
2. Menggerakkan masyarakat untuk mengelola, menyelenggarakan dan
memanfaatka UBKM yang ada.
3. Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dalam rangka menciptakan kadarzi
dan PHBS
c. Tokoh Masyarakat
1. Menggali sumber daya untuk kelangsungan penyelenggaraan Desa Siaga.
2. Menaungi dan membina kegiatan Desa Siaga.
3. Menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan Desa Siaga.
d. Organisasi Kemasyarakatan / LSM / Dunia Usaha / Swastas
1. Beperan aktif dalam penyelenggaraan Desa Siaga.
2. Memberikan dukungan sarana dan dana untuk pengembangan dan
penyelenggaraan Desa Siaga
2.7 Ciri-Ciri dari Desa Siaga
1. Minimal Memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar
( dengan sumberdaya minimal 1 tenaga kesehatan dan sarana fisik bangunan,
perlengkapan & peralatan alat komunikasi ke masyarakat & ke puskesmas )
2. Memiliki sistem gawat darurat berbasis masyarakat
3. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan secara mandiri
4. Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat
2.8 Sasaran Pengembangan Desa Siaga
Sasaran pengembangan desa siaga adalah mempermudah strategi intervensi, sasaran
ini dibedakan menjadi tiga yaitu sebagai berikut :
1. Semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu melaksanakan hidup
sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya

18

2. Pihak- pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan
keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku
tersebut, seperti tokoh masyarakat termasuk tokoh agama, tokoh perempuan dan
pemuda, kader serta petugas kesehatan
3. Pihak-pihak yang diharapkan memberi dukungan memberi dukungan kebijakan,
peraturan perundang undangan, dana, tenaga, sasaran, dll, seperti kepala desa, camat,
pejabat terkait, LSM, swasta, donatur, dan pemilik kepentingan lainnya.
2.9 Kriteria Pengembangan Desa Siaga
Dalam pengembangan desa siaga akan meningkat dengan membagi menjadi empat
kriteria.
a. Tahap bina. Tahap ini forum masyarakat desa mungkin belum aktif, tetapi telah ada
forum atau lembaga masyaratak desa yang telah berfungsi dalam bentuk apa saja
misalnya kelompok rembuk desa, kelompok pengajian, atau kelompok persekutuan
doa.
b. Tahap tambah. Pada tahap ini, forum masyarakat desa talah aktif dan anggota forum
mengembangkan UKBM sesuai kebutuhan masyarakat , selain posyandu. Demikian
juga dengan polindes dan posyandu sedikitnya sudah oada tahap madya.
c. Tahap kembang. Pada tahap ini, forum kesehatan masyarakat telah berperan secara
aktif,dan mampu mengembangkan UKBMsesuai kebutuhan dengan biaya berbasis
masyarakat.Jika selama ini pembiyaan kesehatan oleh masyarakat sempat terhenti
karena kurangnya pemahaman terhadap sistem jaminan,masyarakat didorong lagi
untuk mengembangkan sistem serupa dimulai dari sistem yang sederhana dan di
butuhkan oleh masyarakat misalnya tabulin.
d. Tahap Paripurna,tahap ini,semua indikator dalam kriteria dengan siaga sudah
terpenuhi. Masyarakat sudah hidup dalam lingkungan sehat serta berperilaku hidup
bersih dan sehat.
2.10 Keberhasilan Program Desa Siaga
Indikator keberhasilan pengembangan desa siaga dapat diukur dari 4 kelompok
indikator, yaitu : indikatorinput, proses, output dan outcome (Depkes, 2009).
1.

Indikator Input

Jumlah kader desa siaga.

Jumlah tenaga kesehatan di poskesdes.


19

Tersedianya sarana (obat dan alat) sederhana.

Tersedianya tempat pelayanan seperti posyandu.

Tersedianya dana operasional desa siaga.

Tersedianya data/catatan jumlah KK dan keluarganya.

Tersedianya pemetaan keluarga lengkap dengan masalah kesehatan yang dijumpai


dalam warna yang sesuai.

Tersedianya data/catatan (jumlah bayi diimunisasi, jumlah penderita gizi kurang,


jumlah penderita TB, malaria dan lain-lain).

2.

Indikator proses

Frekuensi pertemuan forum masyarakat desa (bulanan, 2 bulanan dan sebagainya).

Berfungsi/tidaknya kader desa siaga.

Berfungsi/tidaknya poskesdes.

Berfungsi/tidaknya UKBM/posyandu yang ada.

Berfungsi/tidaknya sistem penanggulangan penyakit/masalah kesehatan berbasis


masyarakat.

Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS.

Ada/tidaknya kegiatan rujukan penderita ke poskesdes dari masyarakat.

3.

Indikator Output

Jumlah persalinan dalam keluarga yang dilayani.

Jumlah kunjungan neonates (KN2).

Jumlah BBLR yang dirujuk.

Jumlah bayi dan anak balita BB tidak naik ditangani.

Jumlah balita gakin umur 6-24 bulan yang mendapat M P-AS I.

Jumlah balita yang mendapat imunisasi.

Jumlah pelayanan gawat darurat dan KLB dalam tempo 24 jam.

Jumlah keluarga yang punya jamban.

Jumlah keluarga yang dibina sadar gizi.

Jumlah keluarga menggunakan garam beryodium.

Adanya data kesehatan lingkungan.

Jumlah kasus kesakitan dan kematian akibat penyakit menular tertentu yang menjadi
masalah setempat.

4.

Adanya peningkatan kualitas UKBM yang dibina.


Indikator outcome
20

Meningkatnya jumlah penduduk yang sembuh/membaik dari sakitnya.

Bertambahnya jumlah penduduk yang melaksanakan PHBS.

Berkurangnya jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.

Berkurangnya jumlah balita dengan gizi buruk.

21

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Masyarakat hukum yang memiliki batas batas wilayah, yang berwenang untuk
mengatur dan Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan serta kemauan untuk untuk mencegah dan mengatasi masalah
kesehatan, bencana, dan kegawadaruratan, kesehatan secara mandiri. Tujuan umum desa
siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli, tanggap dan mampu
mengenali, mencegah, serta mengatasi terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya yang
dihadapi secara mandiri, sehingga derajat kesehatannya meningkat.
Desa siaga kini lebih dikenal dengan nama Desa dan Kelurahan Siaga Aktif Landasan
hukumnya Keputusan Menteri Kesehatan No 564/Menkes/SK/ VIII/2006 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga. Kemudian program ini direvitalisasi guna
mengakselerasi pencapaian target Desa Siaga Aktif pada tahun 2015. Landasan hukumnya
Keputusan Menteri Kesehatan No 1529/Menkes/SK/X/2010 tentang Pedoman Umum
Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Berikut beberapa ulasan tentang desa dan
kelurahan siaga aktif.
Pelaksanaan Desa Siaga yaitu Persiapan, Pelaksanaan, Pemantauan dan Evaluasi,
Pengembangan Desa Siaga, Pendekatan ,Pelaksanaan Kegiatan,Pembinaan dan Peningkatan.
Peran Jajaran Kesehatan Peran Puskesmas,Peran Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Kabupaten /
Kota, Peran Dinas Kesehatan Provinsi, Peran Departemaen Kesehatan, Peran Pemangku
Kepentingan Terkait,peran Kemasyarakatan / LSM / Dunia Usaha / Swasta.Sasaran
pengembangan desa siaga adalah mempermudah strategi intervensi, sasaran ini dibedakan
menjadi tiga yaitu Semua individu dan keluarga di desa, Pihak- pihak yang mempunyai
pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga, Pihak-pihak yang diharapkan
memberi dukungan memberi dukungan kebijakan, peraturan perundang undangan, dana,
tenaga, sasaran, dll.Dalam pengembangan desa siaga akan meningkat dengan membagi
menjadi empat kriteria yaitu Tahap bina,Tahap tambah,Tahap kembang, Tahap
Paripurna.Indikator keberhasilan pengembangan desa siaga dapat diukur dari 4 kelompok
indikator, yaitu : indikatorinput, proses, output dan outcome (Depkes, 2009).
Inti dari kegiata Desa Siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu
untuk hidup sehat. Peran Jajaran Kesehatan meliputi peran puskesmas, peran rumah sakit
22

Peran Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota, Peran Dinas Kesehatan Provinsi. Sasaran
pengembangan desa siaga adalah mempermudah strategi intervensi, sasaran ini
dibedakan menjadi tiga. Dalam pengembangan desa siaga akan meningkat dengan
membagi menjadi empat kriteria. Indikator keberhasilan pengembangan desa siaga dapat
diukur dari 4 kelompok indikator, yaitu : indikatorinput, proses, output dan outcome
3.2 Saran
Terwujudnya Desa Siaga tentunya menjadi harapan kita bersama, oleh sebab itu
penulis sangat mengharapkan agar para pembaca tidak hanya sekedar tahu tentang Desa
Siaga, namun juga akam melakukan perubahan sesuai dengan tingkat kemampuannya
untuk merealisasikan Desa Siaga

23