Anda di halaman 1dari 5

KONDISI FISIK PAPUA MENDUKUNG AKTIVITAS NYAMUK.

Suhu di provinsi papua tidak terlalu rendah, secara rata-rata suhu di Papua berkisar antara
14C hingga 27C derajat (anonym, 2012). Depkes RI (2004) menunjukkan bahwa nyamuk
adalah binatang berdarah dingin dan karenanya proses metabolisme dan siklus kehidupannya
tergantung pada suhu lingkungan. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu
kurang dari 10C atau lebih dari 40C. dari pernyataan di atas membuktikan bahwa suhu di
Papua lebih dari 10C dan kurang dari 40C menjadi tempat pertumbuhan dan perkembangan
nyamuk yang sangat baik. Pernyataan ini pun diperjelas kembali dengan pendapat Gunawan
(2000), suhu yang mempengaruhi perkembangan parasit dalam nyamuk sekitar 20C dan
30C
Keadaan iklim Papua termasuk iklim tropis, dengan keadaan curah hujan sangat bervariasi
terpengaruh oleh lingkungan alam sekitarnya. Curah hujan bervariasi secara lokal, mulai dari
1.500 mm sampai dengan 7.500 mm setahun. Curah hujan di bagian utara dan tengah ratarata 2000 mm per tahun (hujan sepanjang tahun). Cuaca hujan di bagian selatan kurang dari
2000 mm per tahun dengan bulan kering rata-rata 7 (tujuh) bulan (anonym,2012). Terdapat
hubungan langsung antara hujan dan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk dewasa.
Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan, jumlah hari hujan,
jenis vektor dan jenis tempat perindukan (breeding places). Curah hujan mempengaruhi
penyebaran malaria dengan menyediakan tempat bagi nyamuk Anopheles untuk berkembang
biak dan disertai peningkatan kelembaban udara rata-rata juga dapat mendukung untuk
bertahan hidup.
Pengukuran kelembapan udara dilakukan untuk mengetahui pengaruh kelembaban relatif
terhadap populasi nyamuk. Pada kelembapan yang lebih tinggi nyamuk menjadi aktif dan
lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria. Tingkat kelembapan 60%
merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan nyamuk hidup (Gunawan, 2000).
Kelembaban udara rata rata sebesar 82.16% (papua.go.id). Dari data yang telah terpapar,
kelembapan udara di Provinsi Papua berada di atas batas paling rendah, sehingga
memungkinkan nyamuk untuk bertahan hidup dan aktif adalah besar.
Adanya kelembapan yang tinggi juga mempengaruhi nyamuk untuk mencari tempat yang
lembap dan basah di luar rumah sebagai tempat hinggap istirahat pada siang hari (Depkes RI,
2004). Teori tersebut mendukung terdapatnya beberapa tempat di wilayah penelitian yang
selalu lembap dan basah di siang hari seperti di dalam hutan dengan kelembapan yang cukup
tinggi.
Menurut Depkes RI (2004), kecepatan angin yang dapat menghambat penerbangan nyamuk
adalah 11-14 meter/ detik atau 25-31 mil/jam. Kecepatan dan arah angin dapat mempengaruhi
jarak terbang nyamuk serta ikut menentukan jumlah kontak antara nyamuk dan manusia
(Gunawan, 2000). Secara teoritis, nyamuk bisa terbang sampai 2-3 km, dengan pengaruh
angin, jarak terbang nyamuk bisa mencapai 40 km. (Achmadi, 2005). Data diatas mendukung
kembali kondisi fisik Papua sebagai tempat beraksinya nyamuk yakni kecepatan angin ratarata sebesar 2,58 knot/jam. (anonym,2012)

Faktor lingkungan fisik yang melibatkan oleh kegiatan manusia yang berpengaruh terhadap
penularan penyakit malaria adalah konstruksi rumah, terutama jenis dinding, langit-langit dan
penggunaan kasa. Konstruksi dengan dinding rumah yang tidak tertutup rapat memungkinkan
terjadinya penularan penyakit malaria. Kualitas dan konstruksi rumah mempunyai hubungan
erat dengan kejadian malaria (Yudhastuti, 2005). Menurut Harijanto (1998) dalam Yudhastuti
(2005), penduduk dengan rumah yang dindingnya banyak berlubang berisiko sakit malaria 18
kali lipat, dibandingkan dengan rumah penduduk yang berdinding rapat. Pernyataan tersebut
mendukung kondisi kekinian Provinsi Papua yang notabene nya memiliki konstruksi rumah
terbuka dan jenis dinding yang kurang tepat.
DATA PENDERITA MALARIA

Sumber: RISKESDAS 2013


Dari gambar 3.4.7 memnunjukkan bahwa insiden malaria pada penduduk Indonesia tahun
2013 adalah 1,9 persen menurun dibanding tahun 2007 (2,9%). Meskipun menurun, dapat
kita lihat bahwa daerah Timur Indonesia yakni Papua Barat, NTT, dan Papua masih memiliki
angka yang tinggi disbanding dengan provinsi lain.
Upaya penanggulangan penyakit malaria di Indonesia sejak tahun 2007 dapat dipantau
dengan menggunakan indikator Annual Parasite Incidence (API). Hal ini sehubungan dengan
kebijakan, Kementerian Kesehatan dimana pada tahun 2007 menerbitkan kebijakan mengenai
penggunaan satu indikator untuk mengukur angka kejadian malaria, yaitu dengan API.
Kebijakan ini mensyaratkan bahwa setiap kasus malaria harus dibuktikan dengan hasil
pemeriksaan sediaan darah. Kepala Dinas Kesehatan Papua Josef Rinta dalam koran Tempo
(2013) tantangan yang dihadapi pihaknya dalam menekan laju kasus malaria di Papua, yakni
pemeriksaan malaria masih belum seluruhnya dikonfirmasi di laboratorium.
API dari tahun 2008 2013 menurun dari 2,47 per 1000 penduduk menjadi 1,38 per 1000
penduduk. Untuk tahun 2013, bila dilihat per provinsi API yang tertinggi adalah Papua (42,65
per 1.000 penduduk), Papua Barat (38,44 per 1.000 penduduk) dan NTT (16,37 per 1.000
penduduk) seperti tampak pada gambar di bawah ini

Prevalensi malaria tahun 2013 adalah 6,0 persen. Tiga provinsi dengan insiden dan prevalensi
tertinggi adalah Papua 28,6%, Nusa Tenggara Timur 23,3%, Papua Barat 19,4%,

Sumber: RISKESDAS 2013


Dari data-data yang terpapar diatas, jumlah penderita malaria di Provinsi Papua masih sangat
tinggi hingga saat ini. Oleh sebab itu, perlunya gebrakan suatu inovasi terbarukan untuk
menangani masalah tersebut.

PEMANFAATAN LIMBAH AKAR WANGI SEBAGAI BAHAN PAPAN


Satu hektar pertanaman akarwangi menghasilkan lebih kurang 40 ton brangkasan sehingga
dengan luas 3.200 ha akan menghasilkan brangkasan sebanyak 128.000 ton per tahun
(Emmyzar,2013). Penduduk Indonesia sendiri memanfaatkan brangkasan ini menjadi bahan
kerajinan, kompos, pulp dan sebagainya. Padahal, bahan ini dapat dimanhfaatkan sebagai
bahan papan sebagai salah satu upaya penncegahan penyakit malaria.
Selama ini berangkasan tanaman akarwangi, memang ditinggalkan di lahan, brangkasan
inilah satu-satunya penambah bahan organik pada pertanaman akarwangis

INFO TAMBAHAN MBA


Syarat tumbuh Tanaman akarwangi dapat tumbuh mulai dari dataran rendah (200 m dpl)
sampai dataran tinggi (1.400 m dpl), ketinggian optimum adalah 750 m dpl. Akarwangi
menghendaki sinar matahari langsung, sehingga tidak cocok ditempat teduh karena akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan sistem perakarannya dan mutu minyak. Curah hujan yang
dikehendaki berkisar antara 2.000 3.000 mm/tahun dengan suhu udara 17 27 0C. Tanaman
ini bisa bertahan pada bulan kering (tidak turun hujan) selama 2 bulan. Tanah yang sesuai
untuk tanaman akarwangi adalah tanah yang berpasir atau abu vulkanik. Jenis tanah regosol
atau andosol dengan drainase baik merupakan media tumbuh yang sesuai bagi tanaman
akarwangi. Tanaman akarwangi umumnya ditanam di daerah-daerah berbukit dengan
kemiringan di atas 15 40%. Jenis tanah di daerah tersebut andosol yang bertekstur kasar
dengan kadar pasir dan debu lebih dari 60%. Derajat kemasaman tanah (pH) yang cocok
bekisar 6-7.

Daftar pustaka
Anonym, 2012, Iklim dan Kondisi Fisik Papua, https://www.papua.go.id/view-detail-page186/geografi-dan-iklim.html, diakses 10 Maret 2015 pukul 09:12
Depkes RI Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan. 2004. Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor. Jakarta: Departemen
Kesehatan.

Departemen Kesehatan R. I. Modul Manajemen Malaria, Gebrak Malaria. Jakarta, 2013.


Departemen Kesehatan R. I. Epidemiologi Malaria. Direktorat Pencegahan Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, Jakarta, 1995.
Emmyzar, 2013, Prospek Pengembangan Tanaman Akar Wangi, Journal,
Gunawan, S. 2000, Malaria Epidemiologi, Patogenesis, Manifestesi Klinis dan Penanganan
Epidemiologi Malaria. Jakarta: EGC.
Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS), 2013
Yudiastri, Riri, 2008, Gambaran Faktor Lingkungan Daerah Endemis Malaria Di Daerah
Berbatasan (Kabupaten Tulungagung Dengan Kabupaten Trenggalek), Jurnal Kesehatan
Lingkungan, Vol.4, No.2, Januari 2008 : 9 - 20