Anda di halaman 1dari 7

PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN

Dalam budidaya ikan, serangan penyakit adalah masalah dan aspek yang sangat
penting, artinya penanggulangan penyakit dan hama juga harus menjadi pengetahuan yang
penting bagi petani ikan dan siapa saja yang hendak membudidayakan ikan. Sebab
penyerangan penyakit maupun ganguan hama dapat mengakibatkan kerugian ekonomis.
Serangan penyakit dan ganguan hama dapatr menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi
lambat (kekerdilan), padat tebar sangat rendah, konversi pakan sangat tinggi, periode
pemeliharaan lebih lama, yang berarti meningkatnya biaya produksi. Dan pada tahap tertentu,
serangan penyakit dan gangguan hama tidak hanya menyebabkan menurunya hasil panen
(produksi), tetapi pada tahap yang lebih jauh dapat menyebabkan kegagalan panen.
Agar para pembudidaya ikan mampu mencegah serta mengatasi serangan penyakit
dan gangguan hama yang terjadi pada ikan pemeliharaannya, maka mereka perlu dibekali
pengetahuan menyenai sumber penyakit, penyebab, dan jenisnya serta teknik-teknik
penanggulangannya.
Permasalahan budidaya ikan antara lain, rusaknya lingkungan hutan mangrove karena
pembukaan lahan tambak yang begitu luas serta menurunnya daya dukung lahan karena
budidaya ikan dan udang di beberapa tempat mengabaikan daya dukung lahan tersebut.
Khusus untuk jenis ikan tertentu, pasokan benih masih mengandalkan hasil penangkapan di
alam, sehingga selain pasokan benih terbatas, penangkapan benih telah menyebabkan
kerusakan habitat ikan.
Dan masalah yang dianggap sering menjadi penghambat budidaya ikan terbesara adalah
munculnya serangan penyakit. Pengalaman dalam dunia perudangan merupakan trauma
berkepanjangan, yang hingga saat ini belumterpecahkan secara tuntas. Karena senrangan
penyakit dapat menimbulkan kerugian ekonomis, bahkan mengagalkan hasil panan, maka
para akuakulturis dan calon akuakulturis perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang
penanggulangan hama dan penyakit.
1.

A. PENYAKIT IKAN
Penyakit ikan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan
suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung
maupun tidak lansung. Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak dating begitu
saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi
di dalam air), kondisi inang (ikan), dan adanya jasad pathogen (jasad penyakit). Dengan
demikian timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil dari interaksi yang tidak serasi
antara lingkungan, ikan, dan jasad/ organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini
menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjdi
lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit.

Manusia memegang peranan penting dalam upaya mencegah terjadinya serangan


penyakit pada ikan budidaya, baik di kolam, keramba, tambak, maupun di wadah budidaya
lainnya, yaitu dengan cara memelihara keserasian interaksi antara tiga komponen di atas. Ini
berarti kerugian yang diderita karena serangan penyakit sebenarnya dapat dihindari apabila
petani mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai cara menjaga keserasian antara
ketiga komponen penyebab penyakit itu.
Penyebab penyakit pada ikan atau peristiwa yang memicu terjadinya penyakit antara
lain sebagai berikut :
1.1.

Stress

Semua perubahan pada lingkungan dianggap sebagai penyebab stress bagi ikan dan
untuk itu diperlukan adanya adaptasi dari ikan. Beberapa faktor stress, misalnya suhu air dan
salinitas, bisa menyebabkan meningkatnya metabolism ikan, bila ikan dipindahkan dari air
tawar yang salinitasnya 0 ppt ke tambak atau laut yang salinitasnya di atas 20 ppt tidak secara
bertahap maka ikan akan mengalami kesulitan beradaptasi. Faktor lain misalnya transportasi,
dapat menyebabkan tekanan pada system kekebalan dan menghasilkan bermacam penyebab
meningkatnya penyakit dan kematian pada ikan.
Oleh karena itu kadang-kadang ikan diberi obat penenang sebelum ditransportasikan.
Ada juga stres disebabkan dari segi makanan atau pakan yang diberikan, seperti yang terjadi
pada ikan lele, jika ikan muda (0,5-5,0 gram) diberi makanan lebih dari 5% berat tubuh segar
per hari, usus bagian belakang atau bagian tengah pecah menimbulkan penyakit pada
peritoneum. Kemudian timbul radang pada dinding perut yang menyebabkan luka yang
berasal dari dalam.
Untuk mengurangi stres pada saat penebaran benih harus hati-hati, ikan yang baru
ditangkap atau baru didatangkan tidak boleh langsung dicampurkan dengan ikan-ikan yang
lama, namun perlu dilakukan adaptasi suhu terlebih dahulu.
1.

2. Kekurangan gizi
Ikan yang kekurangan gizi juga merupakan sumber dan penyebab penyakit. Pakan
yang kandungan proteinnya rendah akan mengurangi laju pertumbuhan, proses reproduksi
kurang sempurna, dan dapat menyebabkan ikan menjadi mudah terserang penyakit.
Kekurangan lemak atau asam lemak akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat,
kesulitan reproduksi, dan warna kulit yang tidak normal. Kekurangan karbohidrat dan mineral
jarang terjadi, kecuali yodium yang dapat menyebabkan gondok. Kekurangan vitamin dapat
mengakibatkan pertumbuhan menurun, mata ikan redup, anemia, kulit pucat, dan
pertumbuhan tulang belakang kurang baik.
Pakan yang tidak seimbang atau komponennya berlebihan juga dapat menimbulkan
masalah, seperti kelebihan protein dan lemak dapat menimbulkan penimbunan lemak di hati
dan ginjal (lipoid liver degeneration) sehingga ikan menjadi gemuk, nafsu makan berkurang,
dan bengkat di sekitar perut. Dan kelebihan karbohidrat juga dapat menyebabkan penimbunan

lemak di hati dan organ dalam lainya, rongga perut melebar, insang menjadi pucat, telur
tertahan, dan kualitasnya menurun.
Pencegahan dilakukan dengan memberikan ikan makanan yang mengandung gizi lengkap,
tidak kelebihan gizi, pemberian makanan cukup, tepat waktu, dan makanan tidak mengandung
bahan beracun.
1.3.

Pemberian pakan yang berlebihan

Selain kekurangan gizi sebagai pengebab mudahnya ikan terserang penyakit, pemberian
makanan juga mengakibatkan hal yang sama. Ada dua kejadian yang berbahaya bila ikan
diberikan pakan yang berlebihan, yaitu ikan mengalami kekenyangan yang berlebihan
sehingga usus ikan mudah pecah dan penurunan kualitas air.
Pakan yang berlebihan yang tidak habis dimakan oleh ikan akan tertimbun didasar kolam dan
tambak. Dengan demikian akan mempercepat penurunan kualitas air, karena pakan
merupakan sumbernbahan organik yang mengalami dekomposisi (terutama protein) akan
menjadi ammonia. Sedangkan konsentrasi ammonia yang berlebihan dapat menyebabkan
timbulnya keracunan pada ikan.
1. 4. Keracunan
Keracunan yang bayak dikenal adalah yang disebabkan oleh ion NO 2- dan NH3. Tetapi ini
terjadi hanya pada kondisi lingkungan tertentu, misalnya penimbunan lumpur dan sisa pakan
yang banyak dikolam atau tambak. Gangguan kesehatan lainnya yang sangat tergantung
pada keadaan fisik adalah trauma gelembung gas atau disebut GBT (Gas Bubble Trauma).
Penyakit ini terjadi karena air terlalu jenuh dengan gas-gas terutama nitrogen. Tetapi trauma
gelembung gas atau GBT juga bisa terjadi karena terlalu jenuhnya oksigen. Terlalu jenuhnya
darah dengan gas bisa terjadi misalnya karena penggunakan air yang dipanaskan, air yang
disediakan melalui tekanan yang berlebihan, dan pengaliran air menggunakan pompa-pompa
yang rusak dan berlubang. Didalam tubuh ikan, dengan kejenuhan darah seperti tersebut di
atas, akan timbul suatu gelembung udara dengan tingkat tertentu dan hal ini akan menyumbat
kapiler-kapiler darah. Pecahnya kapiler-kapiler ini menghasilkan hemoragik.
Selain keracunan yang disebutkan di atas, kerucunan juga bisa berasal dari pakan. Misalnya
dari bahan baku yang digunakan, aktivitas mikroorganisme yang mencemari pakan dan
penurunan/ pengrusakan komponen pakan selama penyimpanan. Ketengikan lemak dapat
merusak fungsi hati ikan. Mycotoksin dai Aspergilus flavus dapat menyebabkan tumor hati.
Beberapa senyawa lainnya yang tidak beracun tetapi dapat menurunkan kualitas pakan antara
lain enzim thiaminase yang dapat merusak thiamin (vitamin B1), trypsin inhibitor yang dapat
menghambat aktivitas enzim tripsin.
Keracunan juga bisa berasal dari limbah baik limbah rumah tangga seperti ditergen, limbah
pertanian seperti pestida maupun limbah industry seprti Cu, Cd, dan Hg serta berbagai bahan
pencemaran lainnya. Kesemuanya ini pada konsentrasi tinggi dapat membahayakan ikan dan
para pengkonsumsi ikan.

1. 5. Memar dan luka


Ikan mengalami memar dan luka karena saling mengigit atau penangganan yang kurang baik.
Penyakit ulcus syndrome pada ikan kerapu yang diidentifikasikan disebabkan oleh bakteri
vibrio sp. (vibriosis) berawal dari memar dan luka pada ikan (Anonim, 1994).
Selama pengangkutan perlu diperhatikan agar kondisi lingkungan dalam media pengangkut
tetap baik, sehingga ikan tidak mengalami gangguan. Untuk menjaga kondisi media
pengangkut tetap baik, perlu diperhatikan waktu pengangkutan, jumlah ikan yang diangkut,
dan jarak yang ditempuh. Di dalam wadah pengangkut, ukuran ikan harus seragam, terutama
ikan-ikan yang mempunyai sifat kanibal (saling memangsa) seperti ikan kerapu, kakap, kuwe,
gabus, dan ikan-ikan karnivor lainya. Hal ini perlu diperhatikan agar tidak terjadi saling
menyerang antara ikan yang dapat menyebabkan memar dan luka pada ikan. Sebab ikan
yang memar dan luka hanya cepat stres, tetapi bagian tubuh yang memar dan luka
merupakan media potensial untuk diserang penyakit.
1. 6. Cacat
Ikan cacat akan kesulitan memperoleh makanan, baik karena pergerakannya lambat atau
karena kecacatannya sehingga mengalami kekerdilan. Dan karena itu, sulit bersaing terutama
dalam memperoleh makanan. Walaupun demikian ikan cacat bukan hanya merupakan
penyakit (non-infeksi) bawaan, tetapi juga karena perlakuan pembenih yang tidak tepat.
Misalnya, ikan yang mempunyai kebiasaan memakan makanan di dasar perairan, oleh
pembenih diberikan makanan terapung. Perlakuan seperti ini akan menyebabkan ikan
menderita mata juling. Begitu juga ikan yang mengalami pembengkokan tulang. Mungkin saja
telur ikan ditetaskan terserang penyakit terlebih dahulu sebelum menetas. Oleh karena itu,
pembenih juga harus dapat memastikan media air yang digunakan maupun telur yang hendak
ditetaskan adalah dalam kondisi optimal.
1. 7. Kulitas air
Bila kualitas air tidak dalam kondisi optimum untuk keperluan kehidupan ikan, misalya tingkat
bahan organik di dasar kolam atau tambak yang tinggi. Kualitas air juga mempunyai potensi
untuk menyebabkan perubahan sito-patologi dan histo-patologi pada ikan. Kosentrasi amonia
yang tinggi bisa menyebabkan perubahan histologis pada jaringan insang walaupun secara
lambat tetapi terus menerus.
Menjaga agar kualitas air tetap optimum bagi kebutuhan ikan yang dibudidayakan, berarti
menjaga kesehatan ikan dan mencegah serangan penyakit. Kualitas air yang optimum dapat
dipertahankan dari kegiatan memilih lokasi yang ideal, menggunakan dan membuat wadah
budidaya yang cocok, dan melaksanakan pengololaan usaha budidaya ikan secara benar,
seperti memilih benih yang berkualitas, pemberian pakan yang cukup dan bermutu serta tepat
waktu, pergantian air, pengelolaan tanah, dan sebagainya.

1. 8. Hama
Penyakit juga dapat disebabkan oleh hama yang secara sengaja maupun tidak sengaja masuk
ke dalam wadah pemeliharaan. Hama selain mengganggu ikan pemeliharaan dalam bentuk
memangsa, menyaingi, dan merusak wadah budidaya, juga dapat membawa organisme
penyakit seperti virus, perasit, bakteri atau jamur. Ikan pemeliharaan yang terluka akibat
terserang pemangsa akan mudah stres, dan bagian yang memar atau terluka merupakan
media yang potensial terjadinya serangan penyakit infeksi.
1. B. PENANGGULANGAN PENYAKIT IKAN
Cara penanggulangan penyakit ikan dengan menggunakan obat-obatan atau secara kimiawi
dapat dilakukan di dalam bak (tank treatment) maupun di kolam/tambak (pond treatment).
Sedangkan teknik-teknik yang digunakan sebagai berikut :
1. 1. Jangka pendek
Untuk penanggulangan penyakit ikan jangka pendek (short duration) dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu :
1. Metode perendaman (Dip Method)
Metode perendaman dilakukan dengan memakai dosis konsentrasi yang tinggi untuk waktu
yang pendek, tidak lebih dari beberapa detik. Ikan yang diobati dengan cara ini dimasukan
kedalam jaring dan dicelupkan. Cara ini diterapkan pada pengobatan ikan dan telur ikan.
1. Metode pembilasan (Rapis (Flus)
Metode pembilasan dilakukan dengan memakai konsentrasi yang relatif tinggi, ikan dibilas
sekaligus sambil dilakukan penggantian air. Biasanya cara ini diterapkan untuk telur ikan.
1. 2. Jangka panjang
Penanggulangan penyakit ikan jangka panjang (prolonged treatment) dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu sebagai berikut:
1. Metode pemandian (Bath Method)
Metode pengobatan dengan cara pemandian dilakukan sekitar 1 jam. Selama pengobatan
ikan selalu diamati. Aerasi juga terus menerus diberikan selama pengobatan (pemandian).
1. Perlakuan dengan aliran air tetap ( Constant Flow Treatment)

Metode ini diperlukan alat aliran air tetap (constan flow apparatus). Lama pengobatan untuk
metode ini sekitar 1 jam.
1. 3. Jangka waktu tak terbatas
Metode pengobatan ikan sakit dalam jangka waktu tak terbatas (indefinite treatment)
umumnya dipakai untuk pengobatan dikolam, tambak atau bak-bak yang berukuran besar.
Bahan kimia yang digunakan dalam dosis yang rendah untuk jangka waktu yang lama, dan
dibiarkan supaya berkurang dan hilang dengan sendirinya.
1. 4. Penyemprotan
Penanggulangan penyakit ikan di kolam atau tambak dapat dilakukan dengan cara
penyemprotan. Bahan kimia yang biasanya digunakan adalah dengan jalan penyemprotan
yaitu pestida. Pengobatan dengan pestida ini hanya dilakukan sebagai cara terakhir, setelah
cara yang lain tidak yang efektif.
1. 5. Penyuntikan
Pengobatan melalui penyuntikan biasanya dilakukan untuk ikan-ikan yang berukuran besar
atau induk-induk ikan. Penyuntikan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut:
1. Secara Intra Peritoneal (IP), yaitu penyuntikan dilakukan pada bagian belakang dari
rongga perut, tepat di depan sirip perut (diusahakan agar tidak melukai usus ikan).
2. Secara Intra Muscular (IM), yaitu penyuntikan dilakukan pada bagian tengah otot
punggung dekat sirip punggung (kurang lebih 3 sisik di bawah ujung belakang sirip
punggung).
1. 6. Pengobatan melalui makanan
Apabila ikan yang terserang penyakit masih mau makan (belum kehilangan nafsu makannya)
maka pengobatan dapat dilakukan melalui makanan. Caranya, obat yang hendak digunakan
dicampur dengan makanan (sesui dosis) sesaat sebelum makanan diberikan.
1. C. PENANGGULANGAN HAMA
Hama adalah organisme yang dapat menimbulkan ganguan pada ikan budidaya secara
langsung maupun tidak langsung. Untuk menanggulangi serangan hama lebih ditekankan
pada system pengendalian hama terpadu, yaitu pemberantasan hama yang berasil, tetapi
tidak mengakibatkan kerusakan ekosistem, termasuk hewan ternak, ikan budidaya, manusia,
dan musuh alami yang mengkonsumsinya (hama). Dengan kata lain, apabila masih ada cara
yang dapat dilakukan dan ternyata memberikan hasil yang baik, maka tidak perlu
menggunakan obat-obatan, apa lagi obat-obatan buatan pabrik (pestisida anorganik). Oleh
karena itu, penanggulangan hama umumnya dilakukan dengan cara mekanis. Pemberantasan
secara mekanis sebaiknya dilakukan petani ikan pada saat sebelum penebaran benih. Cara ini

merupakan tindakan pencegahan (preventif). Cara pencegahan ini lebih menguntungkan


karena tidak menimbulkan dampak yang merugikan pada lingkungan, mudah dan murah
pelaksanaannya, tidak berpengaruh buruk pada usaha budidaya dan memberikan pengaruh
yang cukup lama.
Tindakan pencegahan seperti menyiapkan kondisi kolam/ tambak yang sempurna dengan
perlakuan pengolahan tanah yang baik, pengeringan yang memenuhi syarat, pengapuran
dengan dosis yang sesuai pH dan sifat tanah, mempertinggi peranan dan fungsi saluran, pintu
air dan alat penyaringannya dalam kolam/tambak, akan memberikan andil yang sangat besar
dalam usaha penanggulangan hama.