Anda di halaman 1dari 13

KERAJAAN CAMPA

A. Profil Kerajaan Campa


Kerajaan Champa adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di sebuah
wilayah, yang sekarang adalah Vietnam tengah dan selatan, pada tahun 192 M
hingga 1832 M.Selama beberapa abad menguasai wilayah tersebut, akhirnya
kerajaan Champa diokupasi oleh orang-orang Vietnam. Jadi, orang-orang
Vietnam yang sekarang bukanlah penduduk asli wilayah tersebut. Melainkan
pendatang dari wilayah lain. Urang Campa adalah sebutan bagi komunitas
Campa dalam bahasa mereka sendiri. Sedangkan di Malaysia mereka disebut
sebagai Melayu Champa. Pada awalnya mereka adalah penganut Hindu Shiwa
dan

kemudian

beralih

ke

Islam

sejak

abad

ke

13,

sezaman

dengan

perkembangan Islam di Nusantara. Asal muasal orang Champa menurut


penelitian

adalah

masyarakat Melayu-Polinesia yang

mendiami

Kepulauan

Nusantara pada abad sebelum Masehi.


Bangsa Champa juga tersebar sampai ke Acheh dan Minangkabau. Bahkan
bahasa Champa mempengaruhi Bahasa Aceh yang dituturkan di Pesisir Utara
dan Pesisir Timur Aceh. Bangsa Champa juga merupakan bangsa yang
menganut adat matrilineal, sama seperti yang diamalkan orang Minangkabau
saat ini.Saat ini,Urang Champ tersebar di tujuh negara, yaitu: Vietnam,
Kamboja, Indonesia, USA, Thailand, Laos, dan Perancis.
Menurut catatan sejarah Cina, Kerajaan Champa mulai berdiri pada tahun 192
M, yang kerajaannya disebutkan dengan nama Lin Yi. Kerajaan ini merupakan
gabungan dari kota-kota yang mempunyai kekuasaan di wilayahnya masingmasing atau untuk itu dikenal dengan istilah konfederasi kota. Kota-kota
tersebut bernama:
Indrapura Kota Indrapura saat ini disebut Dong Duong, tidak jauh
dari Da Nangdan Hu sekarang. Da Nang dahulu dikenal sebagai kota
Singhapura, dan terletak dekat lembah My Son dimana terdapat banyak
reruntuhan candi dan menara. Wilayah yang dikuasai oleh kepangeranan

ini termasuk propinsi-propinsi Qung Bnh, Qung Tr, danTha Thin


Hu sekarang ini di Vietnam.
Amaravati Kota Amaravati menguasai daerah yang merupakan
propinsi Qung Namsekarang ini di Vietnam.
Vijaya Kota Vijaya saat ini disebut Cha Ban, yang terdapat beberapa mil
di sebelah utara kota Qui Nhon di propinsi Bnh nh di Vietnam. Selama
beberapa waktu, kepangeranan Vijaya pernah menguasai sebagian besar
wilayah propinsi-propinsi Quang-Nam, Quang-Ngai, Binh Dinh, dan Phu
Yen.
Kauthara Kota Kauthara saat ini disebut Nha Trang, yang terdapat di
propinsiKhnh Ha sekarang ini di Vietnam.
Panduranga Kota Panduranga saat ini disebut Phan Rang, yang
terdapat di propinsiNinh Thun sekarang ini di Vietnam. Panduranga
adalah daerah Champa terakhir yang ditaklukkan oleh bangsa Vietnam.
Mahkota Kebesaran Campa

B. Latar Belakang Berdirinya


Sebelum terbentuknya kerajaan Campa, didaerah tersebut sudah terdapat
kerajaan Lin-Yi (Lam Ap), akan tetapi sampai saat ini belum diketahui dengan
jelas hubungan antara Lin-yi dan Campa.
Adapun wilayah kekuasaan kerajaan Champa pada setelah abad ke-7 meliputi
wilayah-wilayah yang sekarang bernama: Quang Nam, Quang Ngai, Binh Dinh,
Phu Yen, Khanh Hoa, Ninh Thuan, dan Binh Thuan.
Kerajaan Campa merupakan sebuah kerajaan yang tertua di Asia Tenggara. Ini
dapat diketahui berdasarkan dari sumber Cina sejak tahun 192 Masehi.
Rakyatnya terdiri dari beberapa etnik termasuk etnik Camp yang merupakan
satu etnik dalam rumpun Melayu-polinesia atau Austronesia. Dalam sepanjang
sejarah orang Camp, ramai meninggalkan tanah airnya yang tercinta mereka,
disebabkan perluasan wilayah Vietnam ke selatan yaitu Nam tien (Dai Viet).
Mereka

mencari

tempat

perlindungan

yang

aman

untuk

terus

hidup.

Kebanyakan mereka menetap di Kamboja. Peristiwa yang berlaku dalam suku


ketiga abad ke-20 telah menyebabkan mereka yang masih tinggal di Kamboja
dan Vietnam berhijrah sekali lagi ke negara-negara lebih jauh untuk
meyelamatkan diri. Kali ini mereka ke Malaysia dan juga ke Eropah, Amerika,
Indonesia dan Oceania.
Masyarakat Camp telah menghuni negara Khmer semenjak abad ke-11.
Hubungan antara Campa dan Khmer ada disebut dalam inskripsi termasuk
yang menyatakan bahwa seorang putera raja dari Campa telah mengawini
seorang puteri Khmer. Walau bagaimanapun sebagian besar orang Camp tiba
di Kamboja selepas kejatuhan Vijaya, ibu negara Campa pada tahun 1471.

Gambar Wilayah Campa


C. Budaya dan Agama
Pada awalnya Champa memiliki hubungan budaya dan agama yang erat
dengan Tiongkok,
tetangganya

namun peperangan dan penaklukan

yaitu Kerajaan

Funan pada

abad

ke-4,

terhadap

telah

wilayah

menyebabkan

masuknya budaya India. Setelah abad ke-10 dan seterusnya, perdagangan laut
dari Arab ke wilayah ini akhirnya membawa pula pengaruh budaya dan
agamaIslam ke dalam masyarakat Champa. Sebelum penaklukan Champa oleh
by L Thnh Tng, agama dominan di Champa adalah Syiwaisme dan budaya
Champa sangat dipengaruhi India.Islam mulai memasuki Champa setelah abad
ke-10, namun hanya setelah invasi 1471 pengaruh agama ini menjadi semakin
cepat. Pada abad ke-17 keluarga bangsawan para tuanku Champa juga mulai
memeluk agama Islam, dan ini pada akhirnya memicu orientasi keagamaan
orang-orang Cham. Pada saat aneksasi mereka oleh Vietnam mayoritas orang
Cham telah memeluk agama Islam. Kebanyakan orang Cham saat ini beragama
Islam, namun seperti orang Jawa di Indonesia, mereka mendapat pengaruh
besar Hindu. Catatan-catatan di Indonesia

menunjukkan pengaruh Putri

Darawati,

seorang

suaminya,Kertawijaya,

putri

Champa

yang

raja Majapahit ketujuh

beragama
sehingga

Islam,

terhadap

keluarga

kerajaan

Majapahit akhirnya memeluk agama Islam. Makam Putri Campa dapat


ditemukan

di Trowulan,

situs

ibukota

KerajaanMajapahit.Di

bagian

akhir

tulisannya tentang Kedatangan Islam ke Campa The Introduction of Islam to


Campa, Doctor Pierre-Yves menyatakan bahwa yang menyakinkan ialah bahwa
pemerintah Campa memeluk Islam pada akhir abad ke-17 Masehi.
Kemudian oleh karena gangguan Vietnam, proses pengislaman itu berlaku
sebagian saja dan tidak menyeluruh. Seandainya golongan pendatang Camp ke
Kamboja diambil maka hampir 80% dari keseluruhan penduduk Camp memeluk
agama Islam.
Untuk melihat fenomena itu lebih dekat boleh diberikan perhatian kepada
hubungan negeri itu dengan negeri-negeri yang berdekatan di Dunia Melayu.
Sebagaimana yang boleh diperhatikan ialah adanya kawasan kediaman orang
Campa di Melaka di akhir abad ke 15 Masehi.
Bukti-bukti tentang adanya hubungan negeri Campa dengan kawasan lain Asia,
khususnya Asia Tenggara, menunjukkan dan menyanggahi kenyataan yang
menyebutkan hilangnya negeri Campa dari sejarah, setelah kejatuhan ibu kota
negerinya, Vijaya, pada tahun 1471; dan mereka masih kuat pada akhir abad
ke-16 Masehi sehingga ia mengirim tentara bantuan ke negeri Johor, dan para
pedagangnya terus menerus pada abad ke-17 Masehi mengunjungi pelabuhanpelabuhan Asia Tenggara. Kelemahan berjalan sedikit demi sedikit, antara
tahun 1691 dan 1697 akibat serangan orang Vietnam, yang menjadikannya
satu wilayah Binh-thuan, di bawah Nguyen, dan pelabuhan Campa terakhir
masuk ke tangan mereka. Terasing daripada kawasan lain di Asia, mereka
mundur

ke

kawasan

pedalaman,

dan

masih

eksis

dalam

alam

yang

menentangnya, di bawah otoritas kerajaan yang kecil yang dilantik oleh Hue,
dan dikontrol oleh kekuasaan Vietnam.
Bukti-bukti itu menunjukkan proses bagaimana negeri itu menjadi negeri
Islam. Mulai dari tumbuhnya kerajaan Melaka, Orang Melayu memainkan
peranan yang mendominasi di dalamnya; pertama melalui kerajaan Melaka itu
sendiri, kemudian Johor, di mana kesultanan masih ada selepas kejatuhan

Melaka,

kemudian

melalui

kawasan-kawasan

pendudukan

Melayu

yang

memainkan peranannya, terutama sekali pada Kamboja, yang selalu ada


hubungan dengan kawasan pendudukan orang Camp yang menerima agama
Islam dengan hubungan ini. Dengan cara yang sama, Orang Melayu yang
berpindah datang ke Campa nampaknya memainkan peranan mendatangkan
pengaruh ke atas Orang Campa.
Jelaslah, orang Campa, sebagaimana Orang Melayu, adalah penganut AhlisSunnah wal-Jamaah, dari segi fiqhnya kepada mazhab Imam Syafii. Memang
kenyataannya, orang Campa ini berhubungan dengan dunia Melayu, yang
mereka memang merupakan bagian dari segi budaya dan agamanya.Pada awal
abad

ke-19

berlaku

perubahan

politik

antara Pandurangga-

Campadengan istana Hue (Vietnam). Dengan itu maka Maharaja Minh Menh
(Vietnam) membuat keputusan menghapuskan Campa dari peta Indocina dan
mengVietnamkan orang-orang Campa yang berkebudayaan Melayu dan
beragama

Islam

menjadikan

mereka

berkebudayaan

dan

mengikuti

kepercayaan Vietnam.

Masjid Kuno Champa da Toly Pandurunga


Perkembangan Islam di Vietnam danKamboja
Jumlah orang Campapenganutislam di Kambojalebih 80% dari total
orang Campa. Kecuali orang Campa yang berada di Vietnam (Annam),
penganutislamhanyasekitarsepertigadarijumlahpopulasimasyarakatCampa
yang ada.
PendudukCampa yang muslimkinitinggalberdampingandengan orang Khmer
yang

beragamabudha,

disampingjugaberdampingandengansesama

Campatapipenganuthindu.

orang

Sampaisaatini,

setelahkawasanindocinadikuasaikomunis,
kehidupanberagamadanjumlahpendudukCampa

yang

danKambojahanyadiperkirakansekitar 100.000 orang.

tinggal

di

Vietnam

Orang

Camp di

Kambojatidakmengijinkanperkawinanantar

kecualidengansyaratbahwapihak
orang

Khmer

yang

bukanislammasukislam.

bolehdikatakantakpernahakanmeninggalkan

agama
Olehkarena

agama

budha,

tiadakemungkinanbahwakeduabangsaakanterpadu, sedang orang Cam dengan


orang

Melayuperkawinanseringterjadi.

Perceraianlebihsulitdanlebihjarangterjadidaripada
Perkawinanmerekahampirselalusubur,

di

akantetapi

Annam.

Orang

Cam

di

Kambojabertambahbanyakjumlahnyadenganmengangkatanakasingkedalamsuk
unya,

yaituanakbangsa

Annam

ataulebih-lebihlagianak

diterimanyasebagaipembayaranhutang

yang

Khmer

yang

takterlunasi,

danakandididiknyadalam agama islam.


Di Annam,

negerikelahiran

orang

Camp,

islamtidaklebihhanyasegenggamjumlahnya,
tiadabersemangat,

orang-orang

Cam

berperangailemahlembut,

sengsara,

hidupmerana,

danjikatidaksemakinberkurangjumlahnyabertambah

pun

tidak.

Tingkat

kecerdasannya yang sangatrendahtercerminpadacaramerekamengubah system


agamanya,

sekurang-kurangnyamerekadapatdijadikancontohbahwadalamjiwa

yang gelapdantidakbertenaga, islamsebagai agama kehilangansifatnya yang


militant

yang

menurutpendapatumum

yang

dimilikinya,

sedangkanlebihtepatmenganggapwatakberperangtersebutsebagaiwarisanbang
sa-bangsa yang pertamamelahirkanataumenganut agama islam. Agama islam di
Annam,

tidakmurnilagi,

banyak

yang

prakteksihirdanbekas-bekaskepercayaanpribumi.
para

imam

(penghulu)

di

tercemarolehpraktkDalampraktekkeagamaan,

Annam

bukansajatidakmengertibahasaarabmelainkanjugasukar
membacaaksaraarab.

Surah-surah

(BinhThuan),
pula
dandoa-

doadihapalnyadiluarkepalatetapidilafalkannyadengansangatberbedadenganasli
nya. Kita lihatcontohberikutini:
o Bahasa Arab: Bismillaahirrahmaanirrahiimi
Bahasa Camp: Abihsimillahyor rah monyor rah himik.
o Bahasa Arab: Allahuakbar, la ilahaillallahallahuakbar

Bahasa Cam: Aulahuakkabar , la ilahaillauwahukwuwukwahukakkabar


Dilainpihak,

orang

Camp

di

Kambojamerupakanmasyarakat

bersatupadudansadar,

yang
yang

lambatlaunbertambahjugajumlahnyadankekuatannya,
takperludiherankanuntuk

hal

yang

Negara

yang

kesuburanwanitanyadiimbangiolehtingginyaangkakematiananak-anak.
Apakahhaliniharusditanggapisebagaiakibatkebebasan
dinikmatinyadibandingkandengan

orang

yang

sebangsanya

di

Annam

yang

sejakberabad-abadditundukkandibawahperbudakan yang paling menyedihkan?


Itumungkinsaja,

malahankebenarantanggapanitudiharapkan,

berdasarkanwawasanitu,

agar

dayaupayakitauntukmembangunkembalimasyarakat

Camp di Binh-thuanberhasil. Namunkebebasanitutakdapatdianggapsebagaisausatunyasebab,

karena

orang

Khmer

sejak

lama

sudahmerdekaditanahairnyasendiridenganiklim

yang

samabahkantetaplebihmalasdanlebihtakacuhterhadapmasadepannyadaripada
orang Camp pendatangitu.
Dapatlahdisimpulkanbahwa agama islam yang dipahamidenganbaikdaripada di
Annam

oleh

orang

Camp

danMelayu

di

Kamboja

yang

seagama,

dankegiatandankeberhasilannyasama

pula,

telahbekerjabagaikanapisemangatpadabangsa yang demikiansantaisifanyaitu?


Kesimpulanitudapatditerimatetapidalambatas-batastertentusaja, karena orang
Camp

di

Annam

Sedangkan

takkalahmerosotdengan

orang

Melayu

di

orang

Camp

beragamahindu.

Indocinajelasmenampilkanketabahan,

pandanganjauh, danjiwadagangseperti di Indonesia. Padakeduaunsurkemajuan


yang

begitupentingitu,

yaitukebebasandan

system

agama

merangsangdayabertindakperorangan,

baikditambahunsurketiga:

yang

Camp

dialamioleh

orang

sebagaipelarian

yang

keharusan
yang

selamaitubegitubenciperbudakansampaiterpaksamelarikandiri,
sejakmerekamengungsi

di

Kamboja

(yang

memadukannyadalamsatumasyarakat), untukmenciptakansuatukesatuan yang


sekaligusbersifatmembinakerukunanantaramerekadanrajinsertatangguhterhad
ap

orang

luar,

tidakmautenggelamataudikucilkan.

sepertihalnyasetiapminoritas

yang

Orang Camp HijrahKeKamboja


Kehadirankaum Cam di KambojaadalahumumnyadisebabkantekananNam-tien.
Kamboja terletak di bagian Timur Asia, berbatasan dengan Thailand dari arah
utara dan barat, Laos dari arah utara dan Vietnam dari arah timur dan selatan.
Luasnegaraini

181.055

Km2 denganjumlahpenduduk

11.400.000

jiwa,

beragama

6%

Islam

danmayoritasberagamaBudhasertaminoritasberagamaKatholik.
Beberapaahlisejarahberanggapanbahwa Islam sampai di Kambojapadaabad ke11

Masehi.

KetikaitukaummusliminberperanpentingdalampemerintahankerajaanCampa,
sebelumkeruntuhannyapadatahun

1470

setelahitukaummusliminmemisahkandiri.
baruini,

M,

SepanjangsejarahKambojabaru-

kaummuslimtetapteguhmenjagapolahidupmereka

yang

khas,

karenasecara agama danperadabanmerekaberbedadengan orang-orang Khmer


yang

beragamaBudha.

Merekamemilikiadatistiadat,

makanandanidentitassendiri,

bahasa,

karenapadadasarnya,

merekaadalahpendudukaslikerajaanCampa yang terletak di Vietnam yang


setelahkehancurannya,

merekahijrahkenegara-negaratetangga

di

antaranyaKamboja, initerjadisekitaabad ke-15 Masehi.


Padapermulaantahun

70-an

abad

ke-20,

jumlahkaummuslimin

di

Kambojasekitar 700 ribujiwa. Merekamemiliki 122 mesjid, 200 mushalla, 300


madrasah islamiyyahdansatumarkazpenghafalan al-Quran al-Karim.
SejakkehilangankerajaanCampa, masyarakat Camp telahmenjadiminoritas di
beberapabuahnegeri di Indochina, yaitu di Kamboja, Vietnam dan di Laos. Di
negerinegeritersebutmerekamelibatkandiridalamberbagaicabangkehidupantermasuk
perniagaan,

politikdantentarakhususnya

Indocinapadatahun
Cam

1975

kenegara-negara

lain

di

Kamboja.

Peristiwa

di

mengakibatkansekalilagipenghijrahanmasyarakat
di

seluruhduniasepertike

Malaysia,

Amerika

Syarikat, Perancis, Australia dan lain-lain.


Mereka yang datang ke Kamboja terdiri dari berbagai kelas sosial. Mereka
diterima oleh orang Khmer, dari masyarakat umum sehingga keluarga raja.

Pelarian Cam diterima dan disenangi oleh keluarga diraja. Sebagai contoh,
pada tahun 1692 mereka diberi perlindungan oleh Raja Jayajettha III (16771705). Raja Jayajetta III mengizinkan mereka mendiami beberapa bagianSrok
Khmer (Kamboja) di antaranya kawasan Oudong (ibu kota negara Kamboja
pada masa itu), dalam propinsi Thbaung Khmum, Stung Trng dan berbagai
kampung di Kamboja. Mereka diperbolehkan tinggal di mana saja dalam
wilayah Kamboja. Pada abad ke-19 kumpulan pertama orang Perancis yang tiba
terkejut dengan hubungan, simbiosis yang terjalin dan mereka melihat
bagaimana orang Islam dan Buddha hidup bersama bagaikan adik-beradik.
Kini,

disebabkan

posisi

tersebut,

masyarakat

Camp,

bersama

dengan

masyarakat Melayu yang datang dari Nusantara, menghuni di seluruh kawasan


Kamboja. Walau bagaimanapun konsentrasi penduduk berpusat di tebing Tonle
Thom (sungai Mekong) (dari Kratie ke Phnom Penh), tebing sungai Tonle Sap,
(dari Phnom Penh ke Kompong Chhnang, khususnya di Chraing Chamres,
Khleang Sbek dan Kompong Luong), di kawasan Tasik Tonle Sap dan di daerah
Kampong Cham, Pursat, Battambang dan Kompot. Merekajugaterdapat di
kawasanpinggirankota Phnom Penh seperti di ChroyChangvardanPrekPra.
PerkampunganterbesarkaumMelayuterdapat
Battambangdan

di

kampung-kampung

di
di

propinsiKompot,

KompongLuong.

Keduanya,

maysarakatMelayudan Cam membentuksuatumasyarakat Islam yang menyatu.


Sebuahmanuskrip

Camp

secarapuitismenerangkanmengenaipemberontakanPuteraSivuthaiaituadikkepa
da

Raja

Norodom.

Manuskripinimenceritakanbagaimana

orang

Cam

danMelayumembentukperkampunganmereka di Prey Pus, ChoukSrdanSr


Prey dalampropinsi Kampong Chhnang. Setelah mereka menetap di Kamboja
mereka menikmati hak yang sama dengan orang Khmer. Di kawasan
berpendudukan Melayu-Cam yang menganut agama Islam, masjid atau surau
didirikan bagi tujuan beribadah serta juga aktivitas-aktivitas kemasyarakatan
yang lain seperti, pendidikan dan pengajian agama Islam.
Sepanjang sejarah masyarakat Cam di Kamboja, mereka, bersama orang
Khmer, telah melalui banyak kisah suka duka termasuk zaman pembunuhan

beramai-ramai oleh rezim Pol Pot yang banyak melakukan penganiayaan kejam
terhadap penduduk Kamboja pada tahun 1975-1979.
Kejatuhan negara Republik Khmer (Kemboja) pimpinan Lon Nol kepada pihak
komunis yang dikenal sebagai Khmer Rouge (Khmer merah) pada bulan April
1975, satu rezim zalim, ganas dan tidak berperikemanusiaan yang dibangun
oleh Khmer Rouge di bawah pimpinan Pol Pot. Pemerintahan ini bertujuan
untuk membersihkan dan mewujudkan suatu masyarakat Khmer bercorak
sosialis yang ideal. Kota-kota besar seperti Phnom Penh dikosongkan,
kehidupan berkeluarga dimusnahkan dan agama-agama seperti Islam, Buddha
dan Kristian dihapuskan. Peristiwa ini telah mengakibatkan satu jutaan orang
rakyat Khmer mati dianiyaya, dipenjara dan dibunuh dengan sewenangwenang. Anggota bekas pemerintahan Lon Nol dan tentara, apabila dapat
dikenali, dibunuh. Akibat dari kekejaman Khmer Rouge itu, rakyat Kamboja
terpaksa melarikan diri ke negara-negara tetangga, terutama sekali Thailand
dan Malaysia mencari perlindungan.
Dalambulan April itujuga Vietnam telahjatuhkepagaregimKomunis. Rakyat
Vietnam

termasuk

orang

Camp,

telahmenjadipelarian

di

beberapabuahnegeritetangga, akibatdaridasarpemerintahankomunis. Ada yang


melarikan diri melalui jalan darat dan yang melalui jalan laut yang dikenali
sebagai the boat people.
Karena dengan kejatuhan Kamboja pada April 1975 hingga tahun 1979,
pelarian-pelarian tersebut mulai membanjiri Thailand dan antara mereka itu
terdapat sejumlah pelarian Khmer Islam yaitu orang Melayu dan Camp yang
beragama Islam. Pelarian-pelarian itu berpusat di kawasan Aranyaprathet,
sebelah timur Thailand dekat dengan Kamboja. Kebanyakan dari pelarian itu
beragama Buddha dan mereka mendapat layanan orang Thai yang juga
beragama Buddha. Pelarian Khmer Islam atau Melayu-Cam juga mendapat
layanan orang Thai bergama Islam melalui beberapa perkumpulan Islam Thai
di Bangkok. Walau bagaimana pun pelarian Melayu-Cam itu menarik untuk
mendapatkan perlindungan di Malaysia, khususnya ke Kelantan karena ada di
kalangan pelarian Melayu-Cam itu yang mempunyai sanak saudara dan juga
kenalan di Kelantan.

Karena berkali-kali terjadi peperangan dan kekacauan perpolitikan di Kamboja


dalam dekade 70-an dan 80-an lalu, mayoritas kaum muslimin hijrah ke negaranegara tetangga dan bagi mereka yang masih bertahan di sana menerima
berbagai

penganiayaan;

penghancuran

pembunuhan,

mesjid-mesjid

dan

penyiksaan,

sekolahan,

pengusiran

terutama

pada

dan
masa

pemerintahan Khmer Merah, mereka dilarang mengadakan kegiatan-kegiatan


keagamaan, hal ini dapat dimaklumi, karena Khmer Merah berfaham komunis
garis keras, mereka membenci semua agama dan menyiksa siapa saja yang
mengadakan kegiatan keagamaan, muslim, budha ataupun lainnya. Selama
kepemerintahan mereka telah terbunuh lebih dari 2 juta penduduk Kamboja, di
antaranya 500.000 kaum muslimin, di samping pembakaran beberapa mesjid,
madrasah dan mushaf serta pelarangan menggunakan bahasa Campa, bahasa
kaum muslimin di Kamboja.
Baru setelah runtuhnya rezim Khmer Merah ke tangan pemerintahan baru
yang ditopang dari Vietnam, secara umum keadaan penduduk Kamboja mulai
membaik dan kaum muslimin yang saat ini mencapai kurang lebih 45.000 jiwa
dapat melakukan kegiatan keagamaan mereka dengan bebas, mereka telah
memiliki 268 mesjid, 200 mushalla, 300 madrasah islamiyyah dan satu markaz
penghafalan al-Quran al-Karim. Di samping mulai bermunculan organisasiorganisasi keislaman, seperti Ikatan Kaum Muslimin Kamboja, Ikatan Pemuda
Islam Kamboja, Yayasan Pengembangan Kaum Muslimin Kamboja dan Lembaga
Islam

Kamboja

untuk

Pengembangan.

Di

antaramerekajugaada

yang

mendudukijabatan-jabatanpentingdipemerintahan,
sepertiwakilperdanamenteri,

menteriPendidikan,

wakilmenteriTransportasi,

dua orang wakilmenteri agama dandua orang anggotamajelisulama.


Sekalipunkaummuslimindapatmenjalankankegiatankehidupanmerekasepertibia
sanyadanmulaimendirikanbeberapa
program-program

madrasah,

mesjiddanyayasan,

merekainimengalamikendalafinansial

yang

namun

cukupbesar,

melihatmerekasangatmelarat.
Inidapatdilihatbahwagajiparatenagapengajartidakmencukkupikebutuhankeluar
gamereka. Disamping itu sebagian kurikulum pendidikan di beberapa sekolah
agama sangat kurang dan tidak baku.

Saat ini kaum muslimin Kamboja berpusat di kawasan Free Campia bagian
utara sekitar 40 % dari penduduknya, Free Ciyang sekitar 20 % dari
penduduknya, Kambut sekitar 15 % dari penduduknya dan di Ibu Kota Pnom
Penh hidup sekitar 30.000 muslim. Namun sayang, kaum muslimin Kamboja
belum memiliki media informasi sebagai ungkapan dari identitas mereka, hal
ini dikarenakan kondisi perekomomian mereka yang sulit

D. Perdagangan Kerajaan Campa


Bangsa Champa adalah bangsa pedagang yang pada masa kejayaannya
menguasai jalur perdagangan sutera dan rempah-rempah antara Cina,
Nusantara, India dan Persia. Umumnya mereka adalah pedagang perantara.
Champa merupakan jalur penghubung penting dalam Jalur Rempah-rempah
(Spice Road) yang dimulai dari Teluk Persia sampai dengan selatan Tiongkok;
dan kemudian ia juga termasuk dalam jalur perdagangan bangsa Arab
ke Indochina, yang merupakan pemasok aloe. Champa memiliki hubungan
perdagangan dan budaya yang erat dengan kerajaan maritim Sriwijaya, serta
kemudian dengan Majapahit di kepulauan Melayu. Dalam Babad Tanah Jawi,
dikatakan bahwa raja Brawijaya V memiliki istri bernama Anarawati (atau
Dwarawati), seorang puteri dari Kerajaan Champa yang beragama Islam.
Beberapa Walisongo juga dikatakan pernah bermukim di Kerajaan Champa
sebelum menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Demikian pula, terdapat
hubungan yang erat antara Kerajaan Champa dan Kerajaan Kamboja. Meskipun
sering terjadi peperangan, kedua kerajaan juga mengadakan pertukaran
kebudayaan dan perdagangan; dimana sering terjadi pernikahan keluarga
kerajaan di antara keduanya.
E. Serangan-Serangan Menuju Kehacuran
Bangsa Khmer dan Bangsa Vietnam adalah musuh tradisional dari Bangsa
Champa. Selama lebih seribu tahun perjalanan sejarah mereka, kedua bangsa
ini silih berganti menyerang Champa.. Bukti dari permusuhan orang-orang Dai

Viet

terhadap

Urang

Champ

adalah

pemerintah

Vietnam

membiarkan

bangunan kuno Urang Cham di Vietnam, yaitu Kompleks percandian My Son


dan Po Klong Garai, tidak diurus/ dilestarikan.
Gambar Kompleks Candi My Son dan Po Klong Garai
Berikut ringkasan serangan-serangan tersebut:
Invasi Khmer ke Kauthara, pada tahun 944-945 M
Invasi Dai Viet ke Inderapura pada tahun 982 M, yang menyebabkan kota
ini ditinggalkan dan ibukota pindah ke Vijaya di selatan
Invasi Dai Viet ke Vijaya pada tahun 1021, 1026 dan 1044 M, yang
menyebabkan tewasnya Raja Sa Dau dan ditawannya Permaisuri Mi E.
Permaisuri kemudian bunuh diri dengan menceburkan diri ke lautan.
Sejumlah 30,000 rakyat Champa juga tewas dalam penyerbuan ini. Tahun
1069, Dai Viet kembali menyerang Vijaya, membakar seisi kota dan
menawan 50,000 warganya untuk dijadikan budak.
Invasi Khmer ke Vijaya pada tahun 1080 M. Candi-candi dan Istana
dihancurkan dan dirampok.
Invasi Khmer pada tahun 1145 M, ibukota dipindahkan ke Panduranga.
Komplek percandian My Son dihancurkan oleh Khmer. Namun pada tahun
1177 M, Champa melakukan serangan balasan ke ibukota Khmer dan
membunuh Raja Khmer.
Invasi Bangsa Mongol pada tahun 1283 M
Invasi Dai Viet pada tahun 1471, pada saat ini komunitas Champa sudah
menganut agama Islam. Invasi ini merupakan awal kehancuran Champa
secara massif yang berujung pada terhapusnya negara Champa dari peta
dunia. Kota Vijaya dihancurkan sehancur hancurnya, 60,000 rakyat tewas
dan 60,000 lainnya ditawan sebagai budak. Raja Pau Kubah juga
ditangkap dan dibunuh. Kaisar L Thnh Tng menganeksasi wilayah
Amaravati dan Vijaya kedalam Vietnam. Peristiwa ini memicu emigrasi
besar-besaran dari rakyat Champa yang tersisa ke Kamboja (Khmer),
Malaka, Aceh dan wilayah lain di Sumatera.