Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PEMBUATAN

SIMPILISIA

NABATI

DAN

RAMUAN

JAMU

TRADISIONAL

I.

Tujuan
1.
Agar mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan
proses pembuatan simplisia dari tahap awal pengumpulan
2.

bahan baku sampai pemeriksaan mutu.


Agar mahasiswa dapat membuat ramuan jamu daari
simplisiadan tahu manfaan dan cara penggunaannya.

II.

Cara Percobaan
1. Dalam percobaan ini akan dibuat simplisia nabati saja
yaitu

simplisia

yangberuoa

tanaman

utuh,

bagian

tanaman atau eksudat tanaman, dan pembuatannya


dilakukan dengan cara pengeringan.
2. Mahasiswa bekerja secara kelompok dalampembuatan
simplisia dari tanaman obat yang sudah ditentukan.
Setiap

mahasiswa

dalam

kelompok

tersebut

harus

membuat pengepakan sendiri terhadap ramuannya dan


melengkapinya

dengan

etiket.

Etiket

jamu

dibuat

perorangan berisi nama jamu, nama produsen, komposisi,


khasiat, dan cara pemakaian.
III.

Tinjauan Pustaka
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan
sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun
juga dan kecuali diyatakan lain simplisia merupakan bahan
yang dikeringkan. Simplisia terdiri dari 3 golongan yaitu
berupa simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia
pelikan atau mineral.
Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa
tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau

gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan


Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang
secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara
tertentu

sengaja

dikeluarkan

dari

selnya.

Eksudat

tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati


lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi
dari tanamannya.

Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa
hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh
hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya
minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel

depuratum).
Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia
berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah
atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum
berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan
serbuk tembaga ( Dep.Kes RI,1989).
Untuk

menjamin

keseragaman

senyawa

aktif,

keamanan maupun kegunaannya, maka simplisia harus


memenuhi persyaratan minimal. Dan untuk memenuhi
persyaratan minimal tersebut, ada beberapa faktor yang
berpengaruh, antara lain :
1. Bahan baku simplisia.
2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan
bahan baku simplisia.
3. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia.
Agar simplisia memenuhi persyaratan minimal yang
ditetapkan, maka ketiga faktor tersebut harus memenuhi
syarat minimal yang ditetapkan.

A. Pembuatan Simplisia Secara Umum


1. Bahan Baku
Tanaman obat yang menjadi sumber simplisia
nabati , merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi

mutu

simplisia.

Sebagai

sumber

simplisia, tanaman obat dapat berupa tumbuhan liar


atau

berupa

tanaman

budidaya.

Tumbuhan

liar

adalah tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di


hutan atau tempat lain, atau tanaman yang sengaja
ditanam

dengan

tujuan

lain,

misalnya

sebagai

tanaman hias, tanaman pagar, tetapi bukan dengan


tujuan

untuk

memproduksi

simplisia.

Tanaman

budidaya adalah tanaman yang sengaja ditanam


untuk tujuan produksi simplisia. Tanaman simplisia
dapat di perkebunan yang luas, dapat diusahakan
oleh petani secara kecil-kecilan berupa tanaman
tumpang sari atau Tanaman Obat Keluarga. Tanaman
Obat Keluarga adalah pemanfaatan pekarangan yang
sengaja digunakan untuk menanam tumbuhan obat.
2. Dasar Pembuatan Simplisia
a. Simplisia yang Dibuat Dengan Cara Pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini dilakukan
dengan pengeringan cepat, tetapi dengan suhu
yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang terlalu
lama

akan

mengakibatkan

simplisia

yang

diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan dengan


suhu yang tinggi akan mengakibatkan perubahan
kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk
mencegah hal tersebut, untuk simplisia yang
memerlukan perajangan perlu diatur panjang
perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan
yang

pada

pengeringan

tidak

kerusakan.
b. Simplisia Dibuat Dengan Fermentasi

mengalami

Proses fermentasi dilakukan dengan seksama,


agar proses tersebut tidak berkelanjutan kearah
yang tidak diinginkan.
c. Simplisia Dibuat Dengan Proses Khusus
Pembuatan simplisia dengan penyulingan,
pengentalan eksudat nabati, penyaringan sari air
dan proses khusus lainnya dilakukan dengan
berpegang pada prinsip bahwa pada simplisia
yang dihasilkan harus memiliki mutu sesuai
dengan persyaratan.
d. Simplisia Pada Proses Pembuatan Memerlukan Air
Pati, talk dan sebagainya pada proses
pembuatannya
digunakan

memerlukan

harus

terbebas

air.
dari

Air

yang

pencemaran

serangga, kuman patogen, logam berat dan lainlain.


3. Tahap Pembuatan Simplisia
Pada umumya pembuatan

simplisia

melalui

tahapan sebagai berikut :


a. Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia
berbeda-beda antara lain tergantung pada :
Bagian tanaman yang digunakan.
Umur tanaman yang digunakan.
Waktu panen.
Lingkungan tempat tumbuh.
Waktu

panen

sangat

erat

hubungannya

dengan pembentukan senyawa aktif di dalam


bagian

tanaman

yang akan dipanen. Waktu

panen yang tepat pada saat bagian tanaman


tersebut

mengandung

jumlah yang terbesar.

senyawa

aktif

dalam

Senyawa aktif terbentuk secara maksimal di


dalam bagian

tanaman

atau

tanaman

pada

umur tertentu. Sebagai contoh pada tanaman


Atropa belladonna,
mula

terbentuk

pertama,
pada

alkaloid

dalam

kedua

batang

mula-

akar. Dalam

pembentukan

batang yang

hiosiamina

tahun

hiosiamina berpindah

masih

mulai

hijau. Pada

berlignin

tahun

dan

kadar

hiosiamina mulai menurun

sedang pada daun

kadar

meningkat.

hiosiamina

makin

Kadar

alkaloid hios'amina tertinggi dicapai I


pucuk
dan

dalam

tanaman pada saat tanaman berbunga


kadar

alkaloid

menurun

pada

saat

tanaman berbuah dan makin turun ketika buah


makin

tua.

Contoh

Menthapiperita
banyak

muda

lain,

mengandung

dalanl daunnya. Kadar

dan mentol
dicapai

tanaman
mentol

rninyak

atsiri

tertinggi pada daun tanaman ini

pada

saat

tanaman

tepat

akan

berbunga. Pada Cinnamornunz camphors, kamfer


akan terkumpul dalam kayu tanaman yang telah
tua.

Penentuan

bagian

tanaman

yang

dikumpulkan dan waktu pengumpulan secara


tepat

memerlukan

waktu

panen

penelitian.

yang dikaitkan

Di

samping

dengan

umur,

perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari.


Contoh,
atsiri

lebih

Dengan
panen

simplisia

yang

mengandung

baik dipanen

demikian
dalam

untuk

sehari

stabilitas kimiawi

dan

pada

pagi

menentukan

perlu
fisik

minyak
hari.
waktu

dipertimbangkan
senyawa

aktif

dalam simplisia terhadap panas sinar matahari.

Secara

garis

besar,

pedoman

panen

sebagai berikut :

Tanaman
bijinya

yang

pada

saat

yang telah tua

panen

seperti

(Parkia rosbbrgii), pengambilan


dengan
pula

telah mengeringnya

pemetikan

benar,

yaitu

alami dan

diambil

kedawung

biji ditandai
buah.

dilakukan sebelum kering

sebelum buah pecah

biji

Sering

terlempar jauh,

secara

misal jarak

(Ricinus cornrnunis).

Tanaman

yang pada saat

buahnya,

waktu

panen

diambil

pengambilan

sering

dihubungkan dengan tingkat kemasakan, yang


ditandai dengan terjadinya perubahan pada
buah seperti perubahan
misal

labu

merah

tingkat

(Cucurbita

kekerasan

n~oscllata).

Perubahan warna, misalnya asam (Tarnarindus


indica), kadar air buah, misalnya belimbing
wuluh (Averrhoa belimbi), jeruk nipis (Citrui
aurantifolia)

perubahan

bentuk

buah,

misalnya mentimun (Cucurnis sativus), pare


(Mornordica charantia).

Tanaman yang pada saat panen diambil daun


pucuknya pengambilan dilakukan pada saat
tanaman

mengalami

perubahan

pertumbuhan dari vegetatif ke generatif. Pada


saat itu penumpukan
kondisi

tinggi,

senyawa

sehingga

aktif

dalam

mempunyai mutu

yang terbaik. Contoh tanaman yang diambil

daun pucuk ialah kumis kucing (Orthosiphon


starnineus).

Tanaman

yang

pada saat

panen

diambil

daun yang telah tua, daun yang diambil dipilih


yang telah membuka sempurna dan terletak
di

bagian

cabang

menerima
daun

atau

batang

yang

sinar matahari sempurna. Pada

tersebut

terjadi

kegiatan

asimilasi

yang sempurna. Contoh panenan ini misal


sembung (Blumea balsamifera).

Tanaman yang pada saat panen diambil kulit


batang, pengambilan

dilakukan

pada saat

tanaman telah cukup umur. Agar pada saat


pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan,
sebaiknya

dilakukan

menguntungkan

pada

musim

pertumbuhan

yang

antara

lain

menjelang musim kemarau.

Tanaman

yang pada saat

panen

diambil

umbi lapis, pengambilan dilakukan pada saat


umbi

mencapai

pertumbuhan

besar

maksimum

pada bagian

dan

di atas tanah

berhenti misalnya bawang merah (Allium cepa).

Tanaman yang pada


rimpangnya,
musim

saat

pengambilan

kering

panen
dilakukan

dengan

diambil
pada

tanda-tanda

mengeringnya bagian atas tanaman. Dalam


keadaan ini rimpang dalam keadaan
maksimum. Panen
tangan,

dapat

menggunakan

besar

dilakukan dengan
alat

atau

menggunakan

mesin.

keterampilan

pemetik

diperoleh

simplisia

tercampur

dengan

merusak

Dalam

diperlukan,

yang
bagian

tanaman

ha1

agar

benar,
lain

induk. Alat

ini
tidak

dan

tidak

atau mesin

yang digunakan untuk memetik perlu dipilih


yang sesuai. Alat yang terbuat dari logam
sebaiknya tidak digunakan bila diperkirakan
akan merusak senyawa aktif siniplisia seperti
fenol, glikosida dan sebagainya.
Cara

pengambilan bagian tanaman

untuk

pembuatan simplisia dapat dilihat pada table


berikut:
No. Bagian
1

Tanaman
Kulit Batang

Cara Pengumpulan

Kadar

Air

Simplisia
Dari

batang

cabang,

utama

dikelupas

dan

dengan

ukuran panjang dan lebar

10%

tertentu ;untuk kulit batang


mengandung minyak atsiri/
golongan

senyawa

fenol

digunakan alat pengelupas


2

Batang

bukan logam.
Dari cabang dipotong-potong
dengan panjang tertentu dan

Kayu

diameter cabang tertentu.


Dari batang atau cabang,
dipotong

Daun

10%

kecil

atau

diserut(disugu)

setelah

dikelupas kulitnya.
Tua
dan muda

(daerah

pucuk),

dengan

dipetik

10%

5%

tangan satu persatu.


Kuncup atau bunga mekar

Bunga

atau mahkota bunga, dipetik


6

Pucuk

dengan tangan.
Pucuk
berbunga;

dipetik

dengan

tangan

(mengandung
7

dan bunga).
Dari
bawah

Akar

tanah,
8

10

permukaan

dipotong

Rimpang

dipotong

8%

muda
10%

dengan

ukuran tertentu.
Dicabut, dibersihkan
akar;

daun

5%

dari

melintang

Buah

dengan ketebalan tertentu.


Masak,
hampir
masak, 8%

Biji

dipetik dengan tangan.


Buah dipetik:dikupas

8%

kulit

buahnya dengan pisau atau 10%


menggilas,

kemudian

biji

11

Kulit Buah

dikumpulkan dan dicuci.


Seperti
biji,
kulit
buah 8 %

12

Bulbus

dikumpulkan dan dicuci.


Tanaman dicabut, bulbus
dipisah dari daun dan akar dengan

cara

dipotong

kemudian dicuci.

b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan
kotoran-kotoran

atau

lainnya dari bahan

bahan-bahan

simplisia. Misalnya

asing
pada

simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman


obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil,
rumput, batang, daun, akar yang telah rusak,

serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah


mengandung bermacam-macam mikroba dalam
jurnlah

yang

tinggi,

oleh

karena

itu

pembersihan simplisia dari tanah yang terikut


dapat mengurangi jumlah mikroba awal.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan
tanah dan
pada

pengotoran lainnya yang melekat

bahan

simplisia.

Pencucian

dilakukan

dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air


sumur

atau

air

PAM. Bahan simplisia

yang

mengandung zat yang mudah larut di dalam


air yang mengalir, pencucian agar dilakukan
dalam

waktu

Menurut

yang

Frazier

sesingkat

(1978),

mungkin.

pencucian

sayur-

sayuran satu kali dapat menghilangkan


dari

jumlah

mikroba

awal,

jika

25%

dilakukan

pencucian sebanyak tiga kali, jumlah mikroba


yang tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba
awal.

Pencucian

simplisia

dari

tidak

semua

pencucian

yang

mengandung

juga

dapat

membersihkan

mikroba

karena

digunakan
sejumlah

sortasi dan pencucian

air

biasanya

mikroba.

Cara

sangat mempengaruhi

jenis dan jumlah rnikroba awal simplisia. Misalnya


jika air yang digunakan untuk pencucian kotor,
maka jumlah mikroba pada permukaan bahan
simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat
pada

permukaan

menipercepat
yang

bahan

tersebut

dapat

pertumbuhan

mikroba.

Bakteri

umuln

terdapat

dalam

air

adalah Pseudomonas, Proteus,Micrococcus, Bacill

us, Streptococcus, Enterobacter dan Escherishia.


Pada simplisia akar, batang atau buah dapat
pula dilakukan pengupasan kulit luarnya untuk
mengurangi
sebagian

jumlah
besar

terdapat

jumlah

pada

yang telah

tidak

memerlukan

bersih.
d. Perajangan
Beberapa
mengalami
bahan

awal

biasanya

bahan

simplisia.

dikupas

tersebut mungkin

pencucian

dilakukan

jenis
proses

jika

dengan

bahan

mempermudah

cara

tepat

simplisia

perajangan.

simplisia

karena

mikroba

permukaan

Bahan

pengupasannya

mikroba

dan

perlu

Perajangan

dilakukan
proses

untuk

pengeringan,

pengepakan dan penggilingan. Tanaman yang


baru diambil

jangan

langsung

dirajang tetapi

dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari.


Perajangan

dapat

dilakukan

dengan

pisau,

dengan alat mesin perajang khusus sehingga


diperoleh irisan tipis atau potongan dengan
ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan,
semakin

cepat

penguapan

air,

sehingga

mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi


irisan

yang

terlalu

tipis

juga

dapat

menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat


berkhasiat

yang

mempengaruhi
diinginkan. Oleh

mudah

menguap.

komposisi bau
karena

Sehingga

dan rasa yang

itu bahan

simplisia

seperti temulawak, temu giring, jahe, kencur


dan bahan sejenis lainnya dihindari perajangan
yang terlalu tipis untuk mencegah berkurangnya

kadar

minyak

atsiri.

Selama

perajangan

seharusnya jumlah mikroba tidak bertambah.


Penjemuran

sebelum

perajangan

untuk mengurangi pewarnaan

diperlukan

akibat

reaksi

antara bahan dan logam pisau. Pengeringan


dilakukan dengan sinar matahari selama satu
hari.
e. Pengeringan
Tujuan
mendapatkan
rusak,sehingga

pengeringan
simplisia
dapat

ialah

yang

untuk

tidak

disimpan

mudah

dalam

waktu

yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air


dan

menghentikan

dicegah

reaksi

penurunan

mutu

enzimatik
atau

akan

perusakan

simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia


pada kadar tertentu dapat merupakan media
pertumbuhan

kapang

dan

jasad

renik

lainnya.Enzim tertentu dalam sel,masih dapat


bekerja,menguraikan

senyawa

aktif

sesaat

setelah sel mati dan selama bahan simplisia


tersebut masih mengandung kadar air tertentu.
Pada tumbuhan yang masih hidup pertumbuhan
kapang dan reaksi enzimatik yang merusak itu
tidak terjadi karena adanya keseimbangan antara
proses-proses metabolisme, yakni proses sintesis,
transformasi

dan

Keseimbangan

ini

penggunaan
hilang

segera

isi

sel.

setelah

sel

tumbuhan mati. Sebelum tahun 1950, sebelum


bahan

dikeringkan,

terhadap

bahan

simplisia

tersebut lebih dahulu dilakukan proses stabilisasi


yaitu

proses

untuk

menghentikan

reaksi

enzimatik. Cara yang lazim dilakukan pada saat

itu, merendam bahan simplisia dengan etanol 70


% atau dengan mengaliri uap panas. Dari hasil
penelitian selanjutnya diketahui bahwa reaksi
enzimatik tidak berlangsung

bila

kadar

dalam simplisia kurang dari 10%.


Pengeringan simplisia dilakukan

air

dengan

menggunakan sinar matahari atau menggunakan


suatu

alat

pengering.

Hal-ha1

yang

perlu

diperhatikan selama proses pengeringan adalah


suhu

pengeringan,

kelembaban

udara,

aliran

udara, Waktu pengeringan dan luas permukaan


bahan. Pada pengeringan bahan simplisia tidak
dianjurkan rnenggunakan alat dari plastik. Selama
proses pengeringan bahan simplisia, faktor-faktor
tersebut harus diperhatikan sehingga diperoleh
simplisia kering yang tidak mudah mengalami
kerusakan

selama

penyimpanan.

Cara

pengeringan yang salah dapat mengakibatkan


terjadinya "Face hardening", yakni bagian luar
bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya
masih basah. Hal ini dapat disebabkan oleh irisan
bahan

simplisia

yang

terlalu

tebal,

suhu

pengeringan yang terlalu tinggi, atau oleh suatu


keadaan lain yang menyebabkan penguapan air
permukaan bahan jauh lebih cepat daripada difusi
air dari dalam ke permukaan tersebut, sehingga
permukaan

bahan

menjadi

menghambat

pengeringan

keras

dan

selanjutnya.

"Face

hardening" dapat mengakibatkan kerusakan atau


kebusukan
dikeringkan.

di

bagian

dalarn

bahan

yang

Suhu pengeringan tergantung kepada bahan


simplisia

dan

cara

pengeringannya.

Bahan

simplisia dapat dikeringkan pada suhu 30 0 sampai


90C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak
melebihi 60C. Bahan simplisia yang mengandung
senyawa aktif yang tidak tahan panas atau
mudah menguap harus dikeringkan pada suhu
serendah mungkin, misalnya 300 sampai 450 C,
atau dengan cara

pengeringan vakum yaitu

dengan mengurangi tekanan udara di dalam


ruang atau lemari pengeringan, sehingga tekanan
kira-kira 5 mm Hg. Kelembaban juga tergantung
pada

bahan

simplisia,cara

pengeringan,

dan

tahap tahap selama pengeringan. Kelembaban


akan menurun selama berlangsungnya proses
pengeringan. Berbagai

cara pengeringan telah

dikenal dan digunakan orang. Pada dasarnya


dikenal dua cara pengeringan yaitu pengeringan
secara alamiah dan buatan.
Pengeringan Alamiah
Tergantung dari senyawa
dikandung
dikeringkan,

dalam

bagian

dapat

aktif

yang

tanaman

yang

dilakukan

dua

cara

pengeringan :
Dengan panas sinar matahari langsung. Cara
ini dilakitkan untuk mengeringkan bagian
tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit
kayu, biji dan sebagainya, dan rnengandung
senyawa aktif yang relatif stabil. Pengeringan
dengan

sinar

matahari

yang

banyak

dipraktekkan di Indonesia merupakan suatu


cara yang mudah dan murah, yang dilakukan
dengan cara membiarkan bagian yang telah

dipotong-potong di udara
tampah-tampah

terbuka di atas

tanpa

kondisi

yang

terkontrol sepertl suhu, kelembaban dan


aliran udara. Dengan cara ini kecepatan
pengeringan

sangat

tergantung

kepada

keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik


dilakukan di daerah yang udaranya panas
atau kelembabannya rendah, serta tidak
turun

hujan.

mendung

Hujan

dapat

atau

cuaca

memperpanjang

yang
waktu

pengeringan sehingga memberi kesempatan


pada kapang atau mikroba lainnya untuk
tumbuh sebelum simplisia tersebut kering.
F'IDC (Food Technology Development Center
IPB) telah merancang dan membuat suatu
alat pengering dengan menggunakan sinar
matahari, sinar matahari tersebut ditampung
pada permukaan yang gelap dengan sudut
kemiringan tertentu. Panas ini kemudian
dialirkan
diberi

keatas

atap

rak-rak

tembus

pengering

cahaya

di

yang

atasnya

sehingga rnencegah bahan menjadi basah


jika tiba-tiba turun hujan. Alat ini telah
digunakan

untuk

mengeringkan

singkong

yang telah dirajang dengan demikian dapat


pula

digunakan

simplisia.
Dengan

untuk

diangin-anginkan

mengeringkan
dan

tidak

dipanaskan dengan sinar matahari langsung.


Cara

ini

terutama

digunakan

untuk

mengeringkan bagian tanaman yang lunak


seperti bunga, daun, dan sebagainya dan

mengandung

senyawa

menguap.
Pengeringan Buatan
Kerugian yang

aktif

mungkin

mudah

terjadi

jika

melakukan pengeringan dengan sinar matahari


dapat

diatasi

jika

melakukan

pengeringan

buatan, yaitu dengan menggunakan suatu alat


atau mesin pengering yang suhu kelembaban,
tekanan dan aliran udaranya dapat diatur.
Prinsip pengeringan buatan adalah sebagai
berikut: udara dipanaskan oleh suatu sumber
panas seperti lampu, kompor, mesin disel atau
listrik, udara panas dialirkan dengan kipas ke
dalam ruangan atau lemari yang berisi bahan
yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di
atas rak-rak pengering. Dengan prinsip ini
dapat diciptakan suatu alat pengering yang
sederhana, praktis dan murah dengan hasil
yang cukup baik.
Dengan
menggunakan

pengeringan

buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu


yang lebih baik karena pengeringan akan lebih
merata dan waktu

pengeringan akan lebih

cepat, tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca.


Sebagai

contoh

misalnya

jika

kita

membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk


penjemuran dengan sinar matahari sehingga
diperoleh simplisia kering dengan kadar air
10% sampai 12%, dengan menggunakan suatu
alat

pengering

dapat

diperoleh

simplisia

dengan kadar air yang sama dalam waktu 6


sampai 8 jam.

Daya

tahan

suatu

simplisia

selama

penyimpanan sangat tergantung pada jenis


simplisia,

kadar

penyimpanannya.

airnya
Beberapa

dan

cara

simplisia

yang

dapat

tahan lama dalam penyimpanan jika

kadar

airnya

diturunkan

sampai

8%,

sedangkan simplisia lainnya rnungkin masih


dapat

tahan

selama

penyimpanan

dengan

kadar air 10 sampai 12%.


f. Sortasi Kering
Sortasi setelah

pengeringan

sebenarnya

merupakan tahap akhir pembuatan

simplisia.

Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda


asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak
diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang
masill ada dan tertinggal pada sirnplisia kering.
Proses ini dilakukan sebelum sirnplisia dibungkus
untuk kernudian disimpan. Seperti halnya pada
sortasi

awal,

dengan

sortasi

disini

dapat

dilakukan

atau secara mekanik. Pada simplisia

bentuk rimpang sering jurnlah akar yang melekat


pada

rimpang

terlampau

besar

dan

harus

dibuang. Demikian pula adanya partikel-partikel


pasir,

besi dan benda-benda tanah lain yang

tertinggal

harus

dibuang

sebelum

simplisia

dibungkus.
g. Penyimpanan dan Pengepakan
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah
mutunya karena berbagai faktor luar dan dalam,
antara lain :
Cahaya
Sinar dari panjang gelombang tertentu
dapat menimbulkan

perubahan kimia pada

simplisia, misalnya isomerisasi,

polimerisasi,

rasemisasi dan sebagainya.


Oksigen Udara
Senyawa tertentu dalam simplisia dapat
mengalami perubahan kimiawi oleh pengaruh
oksigen udara terjadi oksidasi dan perubahan
ini dapat berpengaruh pada bentuk simplisia,
misalnya, yang semula cair dapat berubah
menjadi kental atau padat, berbutir-butir dan

sebagainya.
Reaksi Kimia Intern
Perubahan kimiawi dalam simplisia yang dapat
disebabkan oleh reaksi kimia intern, misalnya
oleh

enzim,

polimerisasi,

dan

sebagainya.
Dehidrasi
Apabila kelembaban luar lebih rendah dari
simplisia, maka
lahan

oto-oksidasi

akan

simplisia secara perlahan-

kehilangan

sebagian

airnya

sehingga rnakin lama makin mengecil (kisut).


Penyerapan Air
Simplisia yang higroskopik, misalnya agaragar, bila disimpan dalam wadah yang terbuka
akan

menyerap

lengas

udara

sehingga

menjadi kempal basah atau mencair.


Pengotoran
Pengotoran
pada
simplisia
disebabkan oleh berbagai

dapat

sumber, misalnya

debu atau pasir, ekskresi hewan, bahan-bahan


asing (misalnya minyak yang tertumpah) dan

fragmen wadah (karung goni).


Serangga
Serangga dapat menitnbulkan kerusakan
dan

pengotoran

bentuk

ulatnya

pada

simplisia,

maupin

oleh

baik

oleh

bentuk

dewasanya. Pengotoran tidak hanya berupa


kotoran

serangga,

tetapi

juga

sisa-sisa

metamorfosa seperti cangkang telur, bekas

kepompong,

anyaman

kepompong,

bekas

benang

kulit

bungkus

serangga

dan

sebagainya.
Kapang
Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi,
maka simplisia

dapat berkapang. Kerusakan

yang timbul tidak hanya terbatas pada jaringan


simplisia, tetapi juga akan merusak susunan
kimia zat yang dikandung dan malahan dari
kapangnya dapat mengeluarkan toksin yang
dapat mengganggu kesehatan.
Selama
terjadi

penyimpanan

kerusakan

tersebut

dapat

pada

kemungkinan
simplisia,

mengakibatkan

bisa

kerusakan

kemunduran

mutu, sehingga simplisia yang bersangkutan tidak


lagi memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, pada
penyimpanan simplisia perlu diperhatikan hal
yang

dapat

menyebabkan

kerusakan

pada

simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan


dan pewadahan, persyaratan gudang simplisia,
cara sortasi dan pemeriksaan mutu serta cara
pengawetannya.

Penyebab

utama

pada

kerusakan simplisia yang utama adalah air dan


kelembaban. Untuk dapat disimpan dalam waktu
lama, simplisia harus dikeringkan terlebih dahulu
sampi kering, sehingga kandungan airnya tidak
lagi

dapat

simplisia.

menyebabkan

kerusakan

pada

Cara menyimpan simplisia dalam wadah


yang kurang sesuai memungkinkan terjadinya
kerusakan pada simplisia karena dimakan kutu
atau ngengat yang temasuk golongan hewan
serangga atau insekta. Berbagai jenis serangga
yang dapat menimbulkan kerusakan pada hampir
semua jenis simplisia yang berasal dari tumbuhan
dan hewan, biasanya jenis serangga tertentu
merusak jenis simplisia tertentu pula. Kerusakan
pada

penyimpanan

simplisia

yang

perlu

mendapatkan perhatian juga ialah kerusakan


yang ditimbulkan oleh hewan pengerat seperti
tikus.
Cara pengemasan simplisia tergantung pada
jenis

simplisia

dan

tujuan

penggunaan

pengemasan. Bahan dan bentuk pengemasannya


harus sesuai, dapat melindungi dari kemungkinan
kerusakan simplisia dan dengan memperhatikan
segi

pemanfaatan

ruang

untuk

keperluan

pengangkutan maupun penyimpanannya.


Wadah harus bersifat tidak beracun dan tidak
bereaksi(inert)
menyebabkan

dengan

isinya

terjadinya

sehingga

tidak

reaksi

serta

penyimpangan rasa, warna, bau dan sebagainya


pada simplisia. Selain itu wadah harus melindungi
simplisia

dari

cemaran

mikroba,

kotoran,

serangga serta mempertahankan senyawa aktif


yang mudah menguap atau mencegah pengaruh
sinar, masuknya uap air dan gas-gas lainnya yang
dapat

menurunkan

mutu

simplisia

yang

tidak

misalnya

yang

banyak

tahan

simplisia.

Untuk

terhadap

mengandung

sinar,

vitamin,

pigmen atau minyak, diperlukan wadah yang


melindungi simplisa terhadap cahaya, misalnya
aluminium foil, plastic atau botol yang berwarna
gelap, kaleng dan lain sebagainya.
Bungkus yang paling lazim digunakan untuk
simplisia

adalah

karung

goni.

Sering

juga

digunakan karung atau kantong plastik, peti atau


drum dari kayu atau karton. Beberapa jenis
simplisia

terutaman

yang

berbentuk

cairan

dikemas dalam botol atau guci porselen. Simplisia


yang berasal dari akar, rimpang, umbi, kulit akar,
kulit batang, kayu, daun, herba, buah, biji dan
bunga sebaiknya dikemas pada karung plastik.
Simplisia

dari

daun

atau

herba

umumnya

dimampatkan terlebih dahulu dalam bentuk yang


padat dan mampat, dibungkus dalam karung
plastik

dan

dijahit.

perdagangan dan

Untuk

ekspor

keperluan

simplisia

dalam

bungkus plastik tersebut berbobot antara 50


sampai 125 kg tiap bal.
Simplisia yang mudah menyerap air, udara
perlu dibungkus rapat untuk mencegah terjadinya
penyerapan

kelembaban

tersebut.

Sesudah

dikeringkan sampai cukup kering di bungkus


dengan karung atau kantong plastic, dalam peti
drum

atau

kaleng

besi

berlapis.

Pada

penyimpanannya, simplisia tersebut dimasukkan


dalam wada yang tertutup rapat dan seringkali
perlu diberi kapur tohor sebagai bahan pengering.
Gom dan damar dikemas dalam wadah drum,
peti yang terbuat dari karton, kayu atau besi
berlapis sedangkan simplisia aroma atau baunya

perlu dipertahankan, harus dikemas dalam peti


kayu berlapis timah.
Kaleng atau aluminium dapat digunakan
sebagai wadah untuk simplisia kering terutama
jika diperlukan penutupan secara vakum. Akan
tetapi

kaleng dan bahan aluminium

bersifat

korosif dan mudah bereaksi dengan bahan yang


disimpan di dalamnya, sehingga kaleng atau
aluminium biasanya harus diberi lapisan khusus
misalnya lapisan oleoresin, vinil, malam ataupun
bahan yang lainnya. Sifat wadah gelas yang
mengguntungkan adalah tidak beraksi, tetapi
penggunaan wadah gelas terbatas, karena gelas
mudah pecah dan berat, sehingga menyulitkan
dalam pengangkutan. Kertas dan karton tidak
dapat digunakan sebagai pembungkus simplisia
secara sempurna oleh karena itu, biasanya bahan
pembungkus kertas perlu dilapis lagi dengan lilin,
damar,

atau

plastik

untuk

mencegah

keluar

masuknya gas dan uap air. Plastik biasanya


digunakan untuk membungkus simplisia kering,
tetapi penggunaan plastik tidak tahan panas dan
mudah menguap. Sekarang ini, aluminium foil
mulai

banyak

mengguntungkan,

digunakan

karena

diantaranya

sifatnya

mudah

dilipat,

ringan serta dapat mencegah keluar masuknya air


dan zat-zat yang mudah menguap lainnya.
Penyimpanan

simplisia

kering,

biasanya

dilakukan pada suhu kamar (15 sampai 30 , tetapi


dapat pula dilakukan ditempat sejuk (5 sampai
15 ),

atau

tempat

dingin

(0 sampai

5 ),

tergantung dari sifat dan ketahanan simplisia

tersebut. Kelemaban udara di ruang penyimpanan


simplisia kering, sebaiknya diusahakan serendah
mungkin untuk mencegah terjadinya penyerapan
uap air. Di Indonesia daun tembakau dikemas
dalam keranjang bambu yang bagian dalamnya
diberi lapisan pelepah daun pisang yang telah
dikeringkan.
Simplisia harus disimpan didalam ruangan
penyimpanan
simplisia,

khusus

terpisah

dari

atau

dalam

tempat

gudang

penyimpanan

bahan lainnya maupun alat-alat. Gudang simplisia


harus mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai
dengan

fungsinya,

dibuat

dengan

konstruksi

permanen yang cukup kuat dan dipelihara dengan


baik. Gudang harus mempunyai ventilasi udara
yang cukup baik dan bebas dari kebocoran dan
kemungkinan

kemasukan

air

hujan.

Perlu

dilakukan pencegahan kemungkinan kerusakan


simplisia yang ditimbulkan oleh hewan, baik
serangga maupun tikus yang sering memakan
simplisia

yang

disimpan.

Untuk

mencegah

tertariknya serangga pemakan simplisia ataupun


lalat dan nyamuk, gudang harus bersih dan bebas
dari sampah. Untuk mencegah masuknya tikus ke
dalam gudang simplisia, sedapat mungkun lubang
ventilasi, lubang-lubang saluran air dan lubanglubang lainnya diberi tutup yang sesuai seperti
kasa kawat atau yang lainnya.
Cara penyimpanan simplisia dalam gudang
harus diatur sedemikian rupa, sehingga tidak
menyulitkan pemasukan dan pengeluaran bahan
simplisia yang disimpan. Untuk simplisia yang

sejenis, harus diberlakukan prinsip pertama


masuk,

pertama

keluar

untuk

itu

perlu

dilakukan administrasi pergudangan yang teratur


dan rapi. Semua simplisia dalam bungkus atau
wadahnya masing-masing harus diberi label dan
dicantumkan nama jenis, asal bahan, tanggal
penerimaan,
Dalam

dan

pemasukan

jangka

waktu

dalam

tertentu

gudang.
dilakukan

pemeriksaan gudang secara umum, dilakukan


pengecekkan

dan

pengujian

mutu

terhadap

semua simplisia yang dipandang perlu. Simplisia


yang

setelah

memenuhi

diperiksa

syarat

ternyata

yang

tidak

ditentukan

lagi

misalnya

tumbuh kapang, dimakan serangga, berubah


warna,

berubah

bau

dan

lain

sebagainya

dikeluarkan dari gudang dan dibuang.


B. Metodologi dan Parameter Standarisasi Simplisia
Ada tiga Parameter standarisasi simplisia sebagai
bahan baku yang diperlukan dalam analisa mutu siplisia ,
yaitu :
1. Pengujian Pendahuluan (Kebenaran Simplisia)
a. Uji Organoleptis
Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
kekhususan bau dan rasa simplisia yang diuji.
b. Uji Makroskopik
Dilakukan
dengan
menggunakan
kaca
pembesar

atau

tanpa

alat,

untuk

mencari

kekhususan morfologi, ukuran dan warna simplisia


yang diuji.
c. Uji Mikroskopik
Dilakukan dengan menggunakan mikroskop
yang derajat pembesarannya disesuaikan dengan
keperluan.

Simplisia

yang

diuji

dapat

berupa

sayatan maupun serbuk. Tujuannya adalah untuk


mencari unsur-unsur anatomi jaringan yang khas.
Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia
berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi
masing-masing simplisia. Serbuk yang diperiksa
adalah serbuk yang homogen dengan derajat
kehalusan 4/18 yang dipersyaratkan oleh MMI. Ada
4

cara

pengamatan

menggunakan

mikroskop

yaitu :
Mikroskopik 1
Menggunakan medium air atau gliserin.
Digunakan untuk mendeteksi hablur lepas, butir
pati, butir tepung sari, serabut, sel batu, rambut
penutup, rambut kelenjar lepas serta beberapa

jenis jaringan khas lainnya.


Mikroskopik 2
Serbuk terlebih dahulu dididihkan dalam
larutan kloral hidra. Butir pati akan larut akan
larut dan jaringan yang berisi klorofil menjadi
jernih sehingga pengamatan dapat lebih jelas.
Akan tampak sel-sel epidermis , mesofil, rongga

minyak, parenkim, hablur, sistolit dll.


Mikroskopik 3
Diakukan
pewarnaan
terhadap
Sebaiknya
dijernihkan
dalam

dilakukan
dengan

hal-hal

menambahkan

serbuk.

setelah

chloral

serbuk

hidrat,

namun

tertentu

boleh

langsung

pereaksi

tanpa

didahului

penjernihan jaringan.
Pereaksi yang biasa

digunakan

misalnya

floroglusin-asam klorida akan menimbulkan


warna merah pada sel yang berisi lignin ( sel

batu, serabut dan xilem ).


Mikroskopik 4

Dilakukan
diabukan.

terhadap

Uji

ini

serbuk

khusus

yang

ditujukan

telah
untuk

mendeteksi ada tidaknya kerangka silika pada


tanaman
seperti

yang
familia

banyak

mengandung

Poaceae

Gramineae

silika
dan

Equisetaceae.
2. Parameter Non Spesifik
a. Penetapan Kadar Air (MMI)
Kandungan air yang berlebihan pada bahan /
sediaan

obat

tradisional

akan

mempercepat

pertumbuhan

mikroba

dan

juga

mempermudah

terjadinya

kandungan

kimianya

mengakibatkan

hidrolisa

dapat
terhadap

sehingga

penurunan

mutu

dapat

dari

obat

tradisional. Oleh karena itu batas kandungan air


pada
dalam

suatu

simplisia

suatu

sebaiknya

uraian

dicantumkan

yang

menyangkut

persyaratan dari suatu simplisia.


Tujuan dari penetapan kadar air adalah utuk
mengetahui

batasan

maksimal

atau

rentang

tentang besarnya kandungan air dalam bahan.


Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya
kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan
demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah
tertentu berguna untuk memperpanjang daya
tahan

bahan

selama

penyimpanan.

Simplisia

dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air


kurang dari 10%. Penetapan kadar air dapat
dilakukan dengan 3 cara yaitu :
Metode Titrimetri
Metode ini berdasarkan atas reaksi secara
kuantitatif air dengan larutan anhidrat belerang
dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang
bereaksi

dengan ion

hydrogen.

Kelemahan

metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak


tepat dan reprodusibilitas bergantung pada
beberapa faktor seperti kadar relatif komponen
pereaksi, sifat pelarut inert yang digunakan
untuk

melarutkan

zat

dan

teknik

yang

digunakan pada penetapan tertentu. Metode ini


juga perlu pengamatan titik akhir titrasi yang
bersifat relatif dan diperlukan sistem yang
terbebas dari kelembaban udara ( Anonim,
1995 ).
Zat

yang

akan

diperiksa

dimasukkan

kedalam labu melalui pipa pengalir nitrogen


atau

melalui

disumbat.

pipa

samping

Pengadukan

mengalirkan

gas

yang

dilakukan

nitrogen

dapat
dengan

yang

telah

dikeringkan atau dengan pengaduk magnit.


Penunjuk titik akhir terdiri dari batere kering 1,5
volt atau 2 volt yang dihubungkan dengan
tahanan variable lebih kurang 2.000 ohm.
Tahanan

diatur

sedemikian

sehingga

arus

utama yang cocok yang melalui elektroda


platina

berhubungan

mikroammeter.

Setiap

secara
kali

seri

dengan

penambahan

pereaksi Karl Fishcer, penunjuk mikroammeter


akan menyimpang tetapi segera kembali ke
kedudukan

semula.

Pada

titik

akhir,

penyimpangan akan tetap selama waktu yang


lebih lama. Pada zat-zat yang melepaskan air
secara

perlahan-lahan,

umumnya

dilakukan

titrasi tidak langsung.


Metode Azeotropi (Destilasi Toulena)
Metode ini efektif untuk penetapan kadar
air karena terjadi penyulingan berulang ulang

kali di dalam labu dan menggunakan pendingin


balik

untuk

mencegah

adanya

penguapan

berlebih. Sistem yang digunakan tertutup dan


tidak dipengaruhi oleh kelembaban ( Anonim,
1995 ).

Kadar air (V/B) =

Vol . Air yang terukur


100
bobot awal simplisia

Metode Gravimetri
Dengan menghitung

susut

pngeringan

hingga tercapai bobot tetap ( Anonim, 1995 ).


b. Penetapan Susut Pengeringan (MMI)
Susut pngeringan adalah kadar bagian yang
menguap suatu zat.kecuali dinyatakan lain , suhu
peetapan adalah 105oC , keringkan pada suhu
penetapan hingga bobot tetap. Jika suhu lebur zat
lebih rendah dari suhu penetapan, pengeringan
dilakukan pada suhu antara 5oC dan 10oC dibawah
suhu leburnya selama 1 jam sampai 2 jam,
kemudian pada suhu penetapan selama waktu
yang ditentukan atau hingga bobot tetap.
Susut pengeringan = (bobot awal bobot
akhir) / bobot awal x 100% Untuk simplisia yang
tidak mengandung minyak atsiridan sisa pelarut
organik menguap, susut pengeringan diidentikkan
dengan kadar air, yaitu kandungan air karena
simplisia

berada

di

atmoster

dan

ligkungan

terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban


lingkungan penyimpanan.
c. Penetapan Kadar Abu (MMI)
Penetapan kadar abu merupakan cara untuk
mengetahui sisa yang tidak menguap dari suatu
simplisia

pada

pembakaran.

Pada

penetapan

kadar abu total, abu dapat berasal dari bagian

jaringan tanaman sendiri atau dari pengotoran


lain misalnya pasir atau tanah.
d. Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larut Dalam
Asam (MMI)
Ditujukan

untuk

mengetahui

jumlah

pengotoran yang berasal dari pasir atau tanah


silikat.
e. Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Air (MMI)
Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui
jumlah senyawa yang dapat tersari dengan air
dari suatu simplisia.
f. Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Etanol
Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui
jumlah senyawa yang dapat tersari dengan etanol
dari suatu simplisia.
g. Uji Cemaran Mikroba
Uji Aflatoksin
Uji ini bertujuan
cemaran

aflatoksin

untuk

yang

mengetahui

dihasilkan

oleh

jamur Aspergillus flavus.


Uji Angka Lempeng Total
Untuk mengetahui jumlah mikroba/bakteri
dalam sample. Batasan angka lempengan total
yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan
yaitu 10oC FU/gram.

Uji Angka Kapang


Untuk
mengetahui

adanya

cemaran

kapang, batasan angka lempeng total yang


ditetapkan oleh Kemenkes yaitu 104 CFU/gram.
3. Parameter Spesifik
Parameter ini digunakan untuk mengetahui
identitas kimia dari simplisia. Uji kandungan kimia
simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan
senyawa tertentu dari simplisia. Biasanya dilakukan
dengan

analisa

kromatografi

lapis

tipis

(KLT).

Sebelum dilakukan KLT perlu dilakukan preparasi


dengan penyarian senyawa kimia aktif dari simplisia
yang masih kasar.
1. Daun Jambu Biji (Psidi Folium)

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae (suku jambu-jambuan)

Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajava L.

Kandungan

: Flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid

Khasiat

: Antidiare, antiinflamasi, antimutagenik,


diabetik,
analgesik

Tumbuhan

ini

berbentuk

pohon,

Batang

jelas

terlihat, berkayu (lignosus), silindris, permukaanya licin


dan terlihat lepasnya kerak (bagian kulit yang mati),
batang berwarna coklat muda, percabangan dikotom.
Arah tumbuh cabang condong keatas dan ada pula
yang mendatar. Jambu biji memiliki cabang sirung
pendek (virgula atau virgula sucre scens) yaitu cabangcabang kecil dengan ruas-ruas yang pendek.

Daun jambu biji tergolong daun tidak lengkap


karena hanya terdiri dari tangkai (petiolus) dan helaian
(lamina) saja disebut daun bertangkai. Dilihat dari letak
bagian terlebarnya jambu biji bagian terlebar daunya
berada ditengah-tengah dan memiliki bangun jorong
karena perbandingan panjang : lebarnya adalah 1 - 2 :
1 (13-15 : 5,6-6cm).

Daun

jambu

biji

memiliki

tulang

daun

yang

menyirip (penninervis) yang mana daun ini memiliki


satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan
merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang
kesamping,

keluar

tulang-tulang

cabang,

sehingga

susunannya mengingatkan kita kepada susunan siripsirip pada ikan. Jambu biji memiliki ujung daun yang
tumpul. Pangkal daun membulat (rotundatus), ujung
daun tumpul (obtusus). Jambu biji memiliki tepi daun
yang rata (integer), daging daun (intervinium) seperti
perkamen (perkamenteus). Pada umumnya warna daun
pada sisi atas tampak lebih hijau licin jika di bandingkan
dengan sisi bawah karena lapisan atas lebih hijau,
jambu biji memiliki permukaan daun yang berkerut
(rogosus). Tangkai daun berbentuk silindris dan tidak
menebal pada bagian pangkalnya.
Morfologi Daun
Daun merupakan suatu bagian yang penting, yang
berfungsi sebagai alat pengambilan zat zat makanan
(reabsorbsi), asimilasi transpirasi dan respirasi. Daun
jambu biji tergolong daun tidak lengkap karena hanya

terdiri dari tangkai dan helaian saja disebut daun


bertangkai.
Sifat sifat daun yang di miliki oleh jambu adalah
sebagai berikut :
1. Bangun daun (Circumscription). Dilihat dari letak
bagian

terlebarnya

jambu

biji

bagian

terlebar

daunya berada ditengah tengah dan memiliki


bangun jorong karena perbandingan panjang :
lebarnya adalah 2 : 1.
2. Ujung (epex). Jambu biji memiliki ujung yang tumpul
tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu
tulang,

cepat

menuju

kesuatu

titik

pertemuan

membentuk sudut 900.


3. Pangkal (basis folii). Karena tepi daunnya tidak
pernah bertemu, tetapi terpisah oleh pangkal ibu
tulang / ujung tangkai daun, maka pangkal dari
daun jambu biji ini, adalah tumpul (obtusus).
4. Susunan tulang tulang daun (nervation atau
vanation). Daun jambu biji memiliki pertumbuhan
daun yang menyirip (penninervis) yang mana daun
ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari
pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai
daun dari ibu tulang kesamping, keluar tulang
tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan
kita kepada susunan sirip sirip pada ikan.
5. Tepi daun (margo). Jambu biji memiliki tepi daun
yang rata (integer)
6. Daging daun (intervinium)
Anatomi Daun
Epidermis atas : terdiri dari 1 lapis sel, pipih,
terentang

tangensial,

bentuk

poligonal,

dinding

antiklinal lurus, tidak terdapat stomata. Epidermis

bawah : sel lebih kecil, pipih, terentang tangensial,


bentuk poligonal, dinding antiklinal lurus. Stomata: Tipe
anomositik, banyak terdapat pada permukaan bawah.
Rambut penutup : Terdapat pada kedua permukaan,
lebih banyak pada permukaan bawah, bentuk kerucut
ramping yang umumnya agak bengkok, terdiri dari 1
sel, berdinding tebal, jernih, panjang rambut 150 m,
pangkal rambut kadang-kadang agak membengkok,
lumen

kadang-kadang

mengandung

zat

berwarna

kuning kecoklatan. Jaringan air : Terdapat di bawah


epidermis atas, terdiri dari 2 sampai 3 lapis sel yang
besar, jernih dan tersusun rapat tanpa ruang antar sel.
Idioblas : terdapat di beberapa tempat, berisi hablur
kalsium oksalat berbentuk roset yang besar dan bentuk
prisma. Kelenjar minyak : Rongga minyak bentuk lisigen
besar, terdapat lebih banyak di bagian bawah dari pada
di bagian atas. Jaringan palisade : Terdiri dari 5 sampai
6 lapis sel, terletak di bawah jaringan air, 2 lapis sel
yang pertama lebih besar dan mengandung lebih
banyak

zat

hijau

daun,

lapisan-lapisan berikutnya

berongga lebih banyak.


Kandungan Kimia
Kandungan senyawa kimia pada daun tersebut
meliputi alkohol, aldehida, hidrokarbon alifatik, alkohol
aromatik,

kadalena,

kalsium, karbohidrat,

beta

kariofilena, kasuarinin, klorofil A, klorofil B, sineol, tanin


terkondensasi, asam krategolat, asam 2-alfa-3-betadihidroksi-olean-12en28-oat,

asam

2-alfa-3

beta-

dihidroksiurs- 12en28-oat, minyak atsiri, galiotanin, 4gentiobiosida

asam

elagat,

guajaverin,

asam

guajavolat, guavin A, guavin B, guavin C, guavin D,

tanin yang dapat terhidrolisis, asam 2-alfa-hidroksi


ursolat, unsur anorganik, isostriktinin, leukosianidin,
limonena,

D-limonena,

DLlimonena,

mastinat,

monoterpenoid,

lutein,

neo-beta-karotena

asam
U,

nerolidol, asam oleanolat, asam oksalat, pedunkulagin,


pigmen,

kalium,

sesquiguavaena,

asam

psidiolat,

sesquiterpenoid,

kuersetin,

beta-sitosterol,

stakiurin, striknin, telimagrandin I, triterpenoid, asam


ursolat (Soegijanto, 2010: 9).
Khasiat Daun Jambu Biji
Adapun khasiat dari daun jambu biji seperti, sebagai
deodorant alami, mengobati penyakit diare, sariawan,
luka dan borok, ambeien, mengusir kembung, dan
sebagai antimikroba.
2. Herba Tapak Dara (Catharanthus Herba)

Klasifikasi
Kingdom
Subkingdom

: Plantae (tumbuhan)
: Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio

: Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio

: Magnoliophyta (berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil

Sub-kelas

: Asteridae

Ordo

: Gentianales

Familia

: Apocynaceae

Genus

: Catharanthus

Spesies

: Catharanthus roseus (L.) G. Don

Kandungan

: Vinblastin, vinristin, vindolin.

Khasiat

: Antikanker, antihipertensi, diuretik,

diabetes,
Menetralkan racun.
Tumbuhan

ini

berasal

dari

Amerika

Tengah,

umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Tapak dara


bias tumbuh di tempat terbuka atau terlindung pada
bermacam-macam

iklim,

ditemukan

dari

dataran

rendah sampai ketinggian 800 m dpl.


Terna atau semak, menahun, tumbuh tegak, tinggi
mencapai 120 cm, banyak bercabang. Batang bulat,
bagian pangkal berkayu, berambut halus. Warnanya
merah tengguli. Daun tunggal, agak tebal, bertangkai
pendek,berhadapan bersilang. Helai daun elips, ujung
runcing, pangkal meruncing, tepi rata, pertulangan
menyirip, kedua permukaan daun mengkilap, dan
berambut halus. Perbungaan majemuk, keluar dari
ujung tangkai dan ketiak daun 5 helai, mahkota bunga
berbentuk terompet, warnanya ada yang putih, merah
muda, atau putih dengan bercak merah di tengahnya.
Buahnya buah bumbung berbulu, menggantung, berisi
banyak biji berwarna hitam. Perbanyakan dengan biji,
setek bataang, atau akar.

Morfologi Tapak Dara


Tinggi

tanaman

bisa

mencapai

0,2-1

meter.

Memiliki batang yang berbentuk bulat dengan diameter


berukuran kecil,berkayu, beruas, dan bercabang serta
berambut. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna
hijau,

tersusun

menyirip

berselingan

dan

diklasifikasikan berdaun tunggal. Panjang daun sekitar


2-6 cm, lebar 1-3 cm, dan tangkai daunnya sangat
pendek.
Bunganya aksial

(muncul

dari

ketiak

daun).

Kelopak bunga kecil, berbentuk paku. Mahkota bunga


berbentuk terompet dengan permukaan berbulu halus,
ujungnya melebar, berwarna putih, biru, merah jambu
atau ungutergantung kultivarnya. Buahnya berbentuk
silinder, ujung lancip, berambut, panjang sekitar 1,5
2,5 cm, dan memiliki banyak biji.
Ciri-Ciri Tapak Dara
Tapak dara merupakan tanaman herba/semak yang
tegak, hidup lama, tinggi 0,2-0,8 m dan mengandung

getah. Batangnya mengandung getah berwarna putih


susu, berbentuk bulat dengan diameter berukuran kecil,
berkayu, beruas, bercabang, dan berambut sangat
lebat. Daun bersusun berhadapan, bertangkai pendek,
memanjang bulat telur dengan pangkal serupa baji dan
ujung tumpul panjang 2 6 cm, lebar 1 3 cm, dan
tangkai daunnya sangat pendek. Bunganya muncul dari
ketiak daun. Kelopak bunga kecil, berbentuk paku.
Mahkota bunga berbentuk terompet, dan ujungnya
melebar. Tepi bunga datar, terdiri dari taju bunga
berbentuk bulat telur, dan ujungnya runcing menutup
ke kiri. berbunga sepanjang tahun, berbentuk tubular,
panjang 1,5-4 cm, lebar 5 cm memiliki 5 mahkota kecil.
Bunga berwarna violet, merah rosa, putih (var. albus),
putih dengan bintik merah (var. ocellatus), ungu, kuning
pucat.

Buahnya

berbentuk

silindris,

ujung

lancip,

berbulu, panjang sekitar dengan panjang folikel 1-4 cm


hijau dan berbiji banyak tanpa rambut gombak. Bijinya
mempunyai

panjang

1-2mm

berbentuk

panjang, hitam, kotiledon datar,

persegi

endosperm kecil.

Panjang akar dapat mencapai 70 cm.


Kandungan Herba Tapak Dara
Herba mengandung lebih dari 70 macam alkaloid,
termasuk 28 biindole alkaloid. Komponen antikanker,
yaitu alkaloid seperti vincaleukoblastine (vinblastin =
VLB), leurosidin dan katarantin, Alkalod yang berkhasiat
hipoglikemik (menurunkan kadar gula darah) antara lain
leurosin,

katarantin,

lochneri,

tetrahidroalstonin,

vindolin dan vindolinin. Sedangkan akar tapak dara


mengandung alkaloid, saponin, flafonoid dan tanin.

Khasiat Herba Tapak Dara


Herba sedikit pahit rasanya, sejuk, agak beracun
(toksik), masuk meridian hati. Berkhasiat sebagai anti
kanker (antineoplastik), menenangkan hati, peluruh
kencing

(diuretic),

menurunkan

tekanan

darah

(hipotensif), penenang (sedative), menyejukkan darah,


penghenti

perdarahan

(hemostatis),

serta

menghilangkan panas dan racun. Sedangkan akar tapak


dara berkhasiat sebagai peluruh haid.
3. Selasih (Ocimum basilicum)

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Magnoliophyta

Class

: Magnoliopsida

Ordo

: Lamiales

Famili

: Lamiaceae

Genus

: Ocimum

Species
Kandungan
Khasiat

: Ocimum basilicum
: Eugenol, linalool, dan geraniol
: Antifungi, antireppelant, ekspektorant,

dan
antikanker.
Tanaman selasih merupakan tanaman semusim,
tegak, banyak bercabang dibagian atas, berbau harum,

tinggi 50 80 cm dengan batang berwarna coklat


bersegi empat. Daun letaknya berhadapan dan berdaun
tunggal, bertangkai yang panjangnya 0,5 2 cm, helai
daun bulat telur sampai memanjang, ujung runcing,
permukaan daun berambut halus dengan bintik-bintik
kelenjar, tulang daun menyirip. Bunganya berwarna
putih atau lembayung, tersusun dalam tandan yang
panjangnya

5 30 cm yang keluar dari ujung

percabangan. Biji keras warnanya coklat tua, bila


dimasukan ke dalam air akan mengembang seperti
selai (Wijayakusumah. 1996)

Morfologi Selasih
Merupakan herba tegak, sangat harum, tinggi 0,61,6 m. Batang cokelat, segi empat. Daun tunggal
berhadapan, bertangkai, panjang 0,5-2 cm, bulat telur,
ujung dan pangkal agak meruncing, permukaan daun
agak halus dan bintil-bintik kelenjar, tulang daun
menyirip, tepi bergerigi, panjangnya 3,5-7,5 cm, lebar
1,5-2,5 cm, warna hijau tua. Bunga berwarna putih atau
lembayung, kelopak sisi luar berambut, bulat telur
terbalik dengan tepi mengecil sepanjang tabung. Biji

keras, cokelat tua, bila dimasukkan dalam air akan


mengembang (Backer

&

van

den

Brink,

1965;Wijayakusuma et al., 1996).


Tanaman selasih merupakan tanaman dikotil yang
tergolong tanaman yang melakukan fotosintesis (Siklus
Calvin). Pada siang hari dengan mengubah RUBP dan
CO2 dengan bantuan enzim menjadi amilum yang
akhirnya di salurkan keseluruh tubuh tumbuhan melalui
jaringan floem. Untuk pemenuhan nutrisi kelebihannya
disimpan

oleh

tanaman

sebagai

pati

yang

juga

digunakan kembali untuk proses respirasi tumbuhan.


Selasih merupakan tanaman herba tahunan yang
tumbuh rimbun. Selasih tumbuh di suatu kawasan yang
lapang seperti kawasan pertanian. Bentuk batang
selasih bulat dan bercabang banyak, mempunyai tinggi
50 80 cmdan bentuk daun adalah tunggal. Tumbuhan
ini mudah membiak dari biji benih yang tersebar di
sekitarnya.
Selasih mempunyai enam kuntum bunga, megikuti
urutan dari atas ke tengah. Kelopak bunganya bewarna
hijau keunguan dan bagian atas bunganya bewarna
putih atau merah jambu pucat. Selasih mempunyai bau
yang khas dan harum. Selain juga dipenggil ruku ruku
atau ruku ruku hitam.
Jenis selasih yang sering di jumpai adalah kemangi.
Kemangi ada yang berdaun agak keriting dan ada pula
mempunyai daun yang agak kecil dan sering di makan
sebagai ulam.
Kandungan Selasih
Selasih

mengandung

eugenol,

linalool,

dan

geraniol yang dikenal sebagai zat penolak serangga


sehingga zat zat tersebut juga berfungsi sebagai

pengusir nyamuk. Bau daun selasih sangat tajam


bahkan jika tercium agak lama atau disimpan dalam
ruangan dapat menimbulkan rasa mual dan pusing.
Selasih juga mengandung alkoloid, flavonoid, terpenoid,
steroid, dan saponin.
Khasiat Selasih
Menurut

penelitian

selasih

dapat

berkhasiat

sebagai antifungi, antireppelant, ekspektorant, dan


antikanker.
Selain

itu

selasih

juga

dapat

meningkatkan

pengeluarana bendalir badan melalui air kencin karena


bersifat

diuretik,

sifat

analgesik

yang

membantu

menahan atau meredakan sakit kepala, sakit gigi, sakit


perut

demam,

pengeluaran

sifat
keringat,

diaforetik

yang

menurunkan

membantu
kolesterol,

membantu pencernaan, mengobati kram usus dan


melancarkan buang air besar.
4. Daun Keji Beling (Sericoclyx Folium)

Klasifikasi

Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Sub divisi

: Dicotyledonae (Tumbuhan berkeping

dua)
Kelas
Sub kelas

: Magnoliopsida (Tumbuhan dikotil)


: Asteridae

Ordo

: Scrophulariales

Bangsa

: Solanales

Famili

: Acanthaceae

Genus

: Strobilanthes

Spesies

: Strobilanthes crispus Bl.

Sinonim
Kandungan

: Sericoclyx crispus L
: Kalsium karbonat, kalium, natrium,

posfor.
Khasiat

: Diuretika

Keji beling (Strobilanthes crispus) adalah tanaman


terna yang biasa ditanam masyarakat sebagai tanaman
pagar, bisa tumbuh hampir diseluruh wilayah Indonesia.
Tanaman ini juga sebagai tanaman herba liar hidup
menahun yang banyak manfaatnya bagi kesehatan
dalam penyembuhan beberapa penyakit.
Tanaman keji beling atau Strobilanthes crispus
mudah berkembang biak pada tanah subur, agak
terlindung dan di tempat terbuka. Tumbuhan ini dapat
hidup di daerah dengan kondisi ekologis dengan syarat
sebagai berikut. Hidupnya di ketinggian tempat 1m
1.000 m di atas permukaan laut dengan curah hujan
tahunan 2.500 mm 4.000 mm/tahun, iklimnya bulan

basah (di atas 100 mm/bulan) 8 bulan 9 bulan, bulan


kering (di bawah 60 mm/bulan) 3 bulan 4 bulan, hidup
di suhu udara 200 C 250 C dengan kelembapan
sedang, penyinaran sedang, tekstur tanah pasir sampai
liat, drainase sedang baik, kedalaman air tanah 25 cm
dari permukaan tanah, kedalaman perakaran 5 cm dari
permukaan tanah, kemasaman (pH) 5,5 7 dan
kesuburan sedang.

Morfologi Keji Beling


Berdasarkan morfologi tanaman, keji beling dibagi
menjadi bagian akar, batang, daun, dan bunga. Akar
keji beling berbentuk akar tunggang dan serabut. Akar
berwarna

putih

kekuningan.

Fungsi

akar

untuk

memperkuat berdirinya tanaman serta menyerap air


dan unsur hara dari tanah.
Tanaman ini menyerupai rumput besar. Batang
berbentuk bulat, beruas dengan diameter 0,2-0,7 cm.
Batang berkulit ungu, memiliki bintik-bintik hijau pada
saat masih muda, dan berubah menjadi cokelat setelah
tua. Daun berbentuk bulat telur, pada bagian tepi
bergerigi, serta berbulu halus. Panjang helaian daun
adalah 2-5 cm berwarna hijau. Tanaman keji beling

berbunga setelah dewasa. Bunga keluar pada waktu


tertentu.
Tanaman
dikenal

ini

secara

berasal

pasti

dari

untuk

Mandagaskar,

pertama

telah

kalinya

oleh

Thomas Anderson (1832-1870) yang mengkelaskan


tumbuhan ini di bawah Spermatophyta (tumbuhan
berbunga, gymnospermae)
Keji

beling

memiliki

batang

beruas,

bentuk

batangnya bulat dengan diameter antara 0,12 - 0,7 cm,


berbulu kasar, percabangan monopodial. Kulit batang
berwarna ungu dengan bintik-bintik hijau pada waktu
muda dan berubah jadi coklat setelah tua. Tergolong
jenis daun tunggal, berhadapan, bentuk daunnya bulat
telur sampai lonjong, permukaan daunnya memiliki bulu
halus, tepi daunnya beringgit, ujung daun meruncing,
pangkal daun runcing, panjang helaian daun berkisar
5 - 8 cm, lebar 2 - 5 cm, bertangkai pendek, tulang
daun menyirip, dan warna permukaan daun bagian atas
hijau

tua

sedangkan

bagian

bawah

hijau

muda.

Bunganya tergolong bunga majemuk, bentuk bulir,


mahkota bunga bentuk corong, benang sari empat, dan
warna bunga putih agak kekuningan. Strobilanthes
crispus memiliki buah berbentuk bulat, buahnya jika
masih muda berwarna hijau dan setelah tua atau masak
berwarna hitam. Untuk bijinya berbentuk bulat, dan
ukurannya

kecil.

Sistem

perakarannya

tunggang,

bentuk akar seperti tombak, dan berwarna putih.


Kandungan Daun Keji Beling
Daun keji beling mengandung vitamin C, B1, B2
yang tinggi. Dari berbagai penelitian, diketahui daun

keji beling mengandung zat-zat kimia antara lain :


kalium, kalsium, natrium, dan asam silikat.
Khasiat Daun Keji Beling
Tanaman keji beling diambil daunnya yang diolah
menjadi simplisia atau sebagai daun segar, digunakan
sebagai bahan racikan jamu atau obat-obat tradisional.
Sebagai tanaman obat, keji beling bisa menyembuhkan
beberapa jenis penyakit antara lain batu ginjal, batu
empedu, diabetes, ambeien, kholesterol, sembelit, dll.
Kalium pekat yang terkandung dalam keji beling
bisa meluruhkan batu ginjal dan batu empedu. Unsurunsur yang terkandung dalam daun keji beling yang
bersifat diuretic dapat memperlancar sekresi gula
dalam darah, menghancurkan gumpalan kholesterol
dalam

darah,

membantu

memperlancar

proses

pembuangan tinja yang keras sehingga bisa berfungsi


sebagai pencahar. Disamping itu kandungan anti racun
yang disinyalir terdapat dalam daun keji beling dapat
menyembuhkan sakit akibat gigitan ular berbisa atau
semut hitam.
5. Biji Bunga Matahari (Helianthus Semen)

Klasifikasi
Kingdom
Divisi
Kelas
Sub Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
Kandungan

:
:
:
:
:
:
:
:

: Plantae
Magnoliophyta
Magnoliopsida
Asteridae
Asterales
Asteraceae
Helianthus
Helianthus annuus L
Vitamin B1, vitamin

E,

mangan,

magnesium,
posfor, folat
: Antioksidan, antiinflamasi

Khasiat

Bunga matahari juga dikenal dengan berbagai


nama sun flower (Inggris), mirasol(Filipina), himawari
dan

koujitsuki

(Jepang),

serta

xiang

ri

kui

(Cina).Tanaman ini tergolong dalam famili Compositae


(Asteraceae)
annuus

dan

memiliki

nama

latin Helianthus

L.Heli berarti

matahari,

dan annuus yaitu semusim.Dari situ, tanaman ini masuk


ke dalam jenis tanaman herba annual, yaitu tanaman
yang berumur pendek (kurang dari setahun).
Tanaman cantik ini berasal dari Meksiko dan Peru,
Amerika Tenga.Tanaman ini telah dibudidayakan secara
besar-besaran pada abad ke-18 di berbagai negara
seperti Amerika, Argentina, Rusia, Hongaria, Meksiko,
Perancis, Jerman, Rumania, Bulgaria, dan beberapa
negara yang ada di Benua Afrika.Sementara baru pada
tahun

1907,

bunga

matahari

diperkenalkan

ke

Indonesia oleh seorang ahli pertanian Belanda.


Bunga matahari dapat tumbuh di daerah dingin
ataupun di daerah kering pada ketinggian sampai
1500 mdpl.Tanah berpasir hingga tanah liar dengan
drainase yang baik dan tidak asam atau asin,serta pH

yang berkisar antara 5,7-8,1 merupakan tanah yang


baik untuk menanam tumbuhan ini.Udara yang kering
setelah terbentuknya biji juga sangat penting untuk
membuat masak biji tumbuhan bunga matahari.

Morfologi Biji Bunga Matahari


Biji bunga matahari ini memiliki kulit yang agak
keras.Berbentuk pipih memanjang, warnanya bisa putih
keabuan atau hitam.Biji bunga matahari ini dikenal
dengan nama kuaci.
Kandungan Biji Bunga Matahari
Protein, globuiin, albumin, glutolin, asam amino
esensial, Beta sitosterol, prostaglandin E, chlorogenic
acid, quinic acid, phytin, dan 3,4 benzopyrene. Dalam
100 g minyak biji bunga matahari: Lemak total: 100,
lemak jenuh: 9,8: lemak tidak jenuh: oleat 11,7 dan
linoleat 72,9: kolesterol 3.
Khasiat Biji Bunga Matahari
Anti dysentery, membangkitkan nafsu makan, lesu,
sakit

kepala,

pengeluaran

disenteri

cairan

tubuh

berdarah,
(hormon,

merangsang
enzym,

merangsang pengeluaran campak (Measles).

dll.),

IV.
V.
VI.
VII.

Alat dan Bahan


Evaluasi
Pembahasan