Anda di halaman 1dari 4

Indonesia dan Perlombaan Persenjataan di Asia

Andi Widjajanto, Sekretaris Kabinet Kerja Republik Indonesia


Disarikan oleh Tangguh Chairil, Dosen Hubungan Internasional Universitas Binus
Kuliah Umum
11.0013.30
30 April 2015
Ruang Suwantji Sisworahardjo (N2.302303), Gedung Nusantara 2
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia
Andi Widjajanto mengawali kuliah umum dengan mengisahkan keakraban Presiden
Republik Indonesia Joko Widodo dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Hingga kuliah
umum ini, Jokowi sudah sembilan kali bertemu secara fisik dengan Xi, sementara ia baru dua
kali bertemu dengan PM Jepang Shinzo Abe dan sekali dengan Presiden Amerika Serikat
Barack Obama. Andi melihat kedekatan kedua kepala negara ini akan berpengaruh pada
kedekatan hubungan bilateral kedua negara. Andi, yang sebelumnya seorang Neorealis, 1
kemudian sampai pada simpulan baru: bahwa pembuatan kebijakan luar negeri tidak lagi
hanya bergantung pada struktur internasional (sebagaimana asumsi Neorealis), namun juga
pada faktor-faktor idiosinkrasi.
Dikaitkan dengan Neorealisme, Andi mengatakan bahwa RI dapat dilihat sedang
melakukan balancing2 terhadap AS dalam skala internasional, sehingga bersekutu dengan
1 Neorealis adalah sebutan untuk pemikir Hubungan Internasional yang
berparadigma Neorealisme, yaitu perspektif yang berargumen bahwa negaranegara berada dalam kondisi anarki, yaitu sistem dunia yang tanpa
pemerintahan berdaulat yang universal, sehingga negara-negara tersebut
terpaksa untuk mencari kekuatan untuk menjamin keberlangsungan hidup dan
keamanannya. Neorealisme berfokus pada struktur anarki sistem internasional,
berbeda dengan Realisme Klasik yang melihat pada negara sebagai agen dalam
sistem internasional.
2 Balancing adalah kebijakan luar negeri suatu negara untuk mengimbangi
konsentrasi power yang berbahaya pada suatu negara besar, baik dengan
membangun kapabilitas mereka sendiri atau yang disebut balancing internal,
maupun dengan mengumpulkan kapabilitasnya dengan negara-negara lain
dalam aliansi atau yang disebut balancing eksternal.

Tiongkok. Dahulu, Andi akan mengatakan bahwa Tiongkok merupakan negara yang
berbahaya karena pada 2008 sudah menggelar kapal-kapal destroyer ke Laut Tiongkok
Selatan, kemudian pada 2011 sudah mengirim kapal induk ke LCS. Sekarang, Andi
mengatakan bahwa gelar persenjataan Tiongkok di kawasan ini tidak berbahaya. Di sinilah
terdapat kesenjangan riil antara akademisi dan proses pembuatan kebijakan.
Andi kemudian mencoba menjawab, apakah dampak kedekatan JokowiXi pada
perubahan kebijakan pertahanan RI? Jawabannya adalah penggabungan gagasan Poros
Maritim dengan Jalur Sutra. Dalam mengantisipasi pembangunan infrastruktur konektivitas
dan integrasi ASEAN, Andi menekankan RI harus mendorong agar proyek ini dimulai dari
RI. Jika pembangunan infrastruktur ini dimulai pasca-berlakunya Masyarakat Ekonomi
ASEAN, RI dan Filipina akan sangat tertinggal di kawasan ini karena secara geografis kedua
negara ini tidak tersambung dengan ASEAN daratan.
Terkait agenda Tiongkok membangun Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB),
Andi menuturkan RI segera masuk secara keras (hard call), yaitu mengajukan syarat agar
markas pusat dibangun di Indonesia dan salah satu wakil presiden AIIB adalah warga
Indonesia. Persyaratan pertama pasti ditolak Tiongkok karena markas pusat akan dibangun di
Beijing, maka minimal markas Asia Tenggara AIIB dibangun di RI. Hal ini harus dipenuhi
agar RI dapat berperan lebih besar dalam AIIB nantinya sebagai modal RI memulai
pembangunan infrastruktur konektivitas.
Salah satu persyaratan bagi RI untuk dapat hard call dalam AIIB adalah dengan
membangun financial city, yang bukan sekadar kawasan bisnis SCBD melainkan suatu
Shanghai, New York, atau Sydney baru. Untuk membangun financial city dibutuhkan 5.000
7.000 hektare tanah. Satu-satunya kawasan yang siap untuk pembangunan financial city,
menurut Andi, adalah kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), namun penetapan
kawasan ini sebagai financial city belum diputuskan pada saat kuliah umum ini. Dalam
rangka ini pula, pada hari yang sama Jokowi memulai groundbreaking tol Trans Sumatera.
Oleh karena hal-hal di atas, pertahanan RI ke depan akan menghubungkan Poros
Maritim dengan Jalur Sutra. Hal ini membutuhkan dua perubahan dalam sistem pertahanan
negara, yaitu reformasi doktrin kebijakan umum pertahanan negara (Jakum Hanneg) dan
perubahan Minimum Essential Force (MEF). Reformasi doktrin akan dilakukan dengan
mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang penggabungan sistem pertahanan semesta
dengan Poros Maritim, dan pembentukan organisasi pertahanan baru yang akan relevan
hingga tiga puluh tahun ke depan.

Perubahan MEF akan dilakukan dengan menambah kebutuhan alat utama sistem
senjata. Pada 2015, untuk pertama kalinya anggaran pertahanan RI akan mencapai Rp102
triliun, yang mana secara empiris sekitar 8788% akan terpakai, dengan persentase 0,96%
dari Produk Domestik Bruto. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi RI akan mencapai 5,7%
pada 2015, kemudian 6,2% pada 2016, 6,46,6% pada 2017, dan 7% pada 2018, Andi
memprediksi anggaran pertahanan RI dapat mencapai Rp250270 triliun pada 2018. Total
pembelian senjata dalam periode sampai dengan tahun tersebut, yang dahulu diproyeksikan
mencapai Rp147 triliun, dapat ditingkatkan menjadi Rp430 triliun.
Andi kemudian mengajukan pertanyaan, dari mana senjata yang merupakan kebutuhan
MEF ini dapat diperoleh? Kebanyakan platform senjata utama yang dibutuhkan RI belum
dapat diproduksi oleh BUMN lokal: PT Pindad baru dapat membangun tank medium, PT
PAL masih dalam proses belajar membuat dan mengembangkan kapal selam, sementara
program pesawat tempur IF-X/KF-X yang dikembangkan bersama PT DI dengan KAI Korea
Selatan baru direncanakan diperkenalkan pada 2025. Satu-satunya cara memenuhi kebutuhan
MEF baru adalah dengan melakukan pembelian kepada penyuplai asing.
Permasalahannya, Undang-Undang No. 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan
mengharuskan pengadaan senjata dari luar negeri diiringi dengan proses alih teknologi dan
imbal dagang (offset), yang menyebabkan penjual cenderung enggan menjual produknya.
Akibatnya, RI bisa-bisa memiliki anggaran pengadaan senjata yang besar, namun tidak dapat
membeli senjata. Oleh karena itu, RI memiliki waktu setengah tahun untuk melakukan
pengadaan dalam jumlah besar sebelum UU Industri Pertahanan berlaku pada 2016. Dalam
kurun waktu ini, RI akan melakukan pembelian senjata dalam jumlah besar.
Andi mengungkapkan bahwa RI telah bertemu dengan perwakilan dari Boeing,
Lockheed Martin, dan Saab terkait negosiasi pembelian pesawat tempur. Menurutnya, jika RI
membeli satu skuadron pesawat Sukhoi Su-35, kapabilitas deterrence3 RI akan meningkat
drastis, namun persepsi negara-negara tetangga akan memburuk. Sebaliknya, jika RI membeli
Saab JAS 39 Gripen, persyaratan UU Industri Pertahanan paling mungkin terpenuhi
sementara RI dapat menjaga persepsi negara-negara tetangga terkait intensi pembangunan
senjata RI.

3 Deterrence adalah strategi untuk mencegah negara lain melakukan serangan


terhadap negara sendiri dengan meningkatkan kapabilitas negara untuk
bertahan dari serangan negara lain, dan untuk menyerang balik negara tersebut,
sehingga negara lin tidak melakukan serangan pertama.

Sebagai Sekretaris Kabinet, peran Andi dalam negosiasi pembelian senjata adalah
memastikan bahwa rezim penjual senjata adalah rezim yang bersih dan tidak bertoleransi
terhadap korupsi, bahwa mereka mau mematuhi persyaratan UU Industri Pertahanan, dan
bahwa life cycle produk yang ditawarkan sesuai dengan kondisi makrostrategis. Jadi,
keseluruhan proses produk tersebut dalam tahap utilisasi hingga pembuangan dapat dipenuhi.
Di lain pihak, urusan spesifikasi militer senjata tersebut adalah peran dari angkatan Tentara
Nasional Indonesia.
RI telah melewati tahap pemeliharaanreduksi (maintenance dan reduction) senjata
hingga 2004. Kini, dengan adanya perubahan sistem pertahanan negara dengan
dimasukkannya gagasan Poros Maritim, RI harus masuk tahap modernisasipembangunan
(modernization dan buildup). Untuk memenuhi agenda modernisasi tersebut, rezim penjual
senjata yang paling mungkin adalah Tiongkok. Kedekatan faktor-faktor idiosinkrasi JokowiXi diharapkan dapat memuluskan agenda pembangunan pertahanan RI dengan Tiongkok ke
depannya.
Agar pembelian senjata RI tidak menimbulkan perlombaan persenjataan di kawasan,
pemerintah harus dapat mengelola masalah persepsi negara-negara tetangga. Caranya adalah
dengan mengimbangi persepsi negara-negara yang bertentangan dengan simbol-simbol.
Dalam kunjungan Jokowi ke Jepang, pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa klaim
Tiongkok terkait nine-dotted line4 tidak berdasar hukum internasional. Kemudian, dalam
kunjungan ke Tiongkok, pemerintah menyinggung soal kejahatan Perang Dunia II yang
dilakukan Jepang.
Andi mengungkapkan, agar upaya mengelola masalah persepsi ini dapat dikendalikan,
RI harus melihat peluang-peluang diplomasi yang ada dalam tiap-tiap konteks hubungan
bilateral. Contohnya, dalam agenda kunjungan Jokowi ke AS nanti, biasanya rute yang akan
dilewati adalah Seoul, Washington D.C., kemudian Kanada. Untuk mengimbangi persepsi
negara-negara lain, Andi mengusulkan rute Pyongyang, Washington D.C., kemudian
Venezuela. Bahkan, sebelumnya hendak diusulkan kunjungan terakhir ke Kuba, namun
negara tersebut telah mulai berdamai dengan AS.

4 Nine-dotted line adalah garis demarkasi Tiongkok terhadap sebagian besar


kawasan Laut Tiongkok Selatan.