Anda di halaman 1dari 11

Makalah Enterpreneur dan Keperawatan keluarga

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Peningkatan kewaspadaan masyarakat, kesadaran masyarakat akan hak-haknya di muka


hukum, terbukanya era pasar bebas, meningkatnya persaingan nasional dan internasional, dan
peningkatan kualitas pendidikan dasar menjadi sebuah tantangan yang perlu dijawab oleh
dunia keperawatan. Orientasi bahwa sarjana keperawatan akan menjadi perawat yang baik
seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Saat ini dunia telah mulai bergerak ke arah
Entrepreneurship, dimana setiap anak bangsa harus memulai menjual kreatifitas dan
kemampuan yang dimilikinya. Tampaknya hal tersebut akan semakin sulit direalisasikan oleh
generasi keperawatan jika trends dunia tersebut tidak diikuti oleh arahan penyelenggara
pendidikan keperawatan dengan baik. Satu hal yang sangat terlihat membedakan keperawatan
dengan profesional kesehatan lain saat ini adalah bahwa sampai dengan saat ini keperawatan
masih belum menemukan bentuk layanan pokok yang hanya dapat dilakukan dan menjadi
kewenangan perawat semata. Entrepreneurship erat kaitannya dengan upaya mandiri untuk
menghasilkan uang tanpa harus banyak bergantung kepada pihak-pihak tertentu. Mungkin
pernyataan tersebut membuat sebagian orang berpikir tentang perdagangan. Lebih dari itu,
sebenarnya Entrepreneurship tidak hanya berbicara soal penjual pembeli, namun ke arah
pengembangan kreatifitas dalam membuka peluang baru untuk menciptakan lapangan kerja
sendiri, menjual ide baru, mengembangkan ide ide dan peristiwa sehari-hari, dan
mengkombinasikan hal-hal biasa menjadi sesuatu yang luar biasa dan memiliki selling point
and value yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Selama ini rutinitas perawat di ruangan saat pasien telah selesai diberikan tindakan dan
asuhan kaperawatan, seringkali menggunakan waktu luangnya untuk menyiapkan kasa dan
kapas untuk disterilisasi, menyiapkan set untuk perawatan klien harian dan hal-hal minor
yang lain. Boleh menjadi bayangan bagaimana jika contoh tersebut dikelola sehingga bernilai
jual. Contoh lainnya, saat ini penderita penyakit kronis mengalami peningkatan dari segi
kuantitas. Tentunya kondisi ini sedikit-banyak jika dirawat di rumah sakit dalam jangka
waktu lama akan menurunkan kualitas manajemen rumah sakit dan cost inefective. Jika
peluang itu dapat ditangkap, maka seharusnya perawat mampu meningkatkan peranannya di
rumah sakit. Oleh karena itu, pengembangan Entrepreneurship perlu ditanamkan agar
kreatifitas pelaku keperawatan dapat tumbuh dan menjadi nilai jual dan daya saing tersendiri
bagi pemiliknya kelak sebagai bekal memulai untuk terjun ke dunia kerja.
B.

Rumusan Masalah

1.

Landasan teori yang memotivasi untuk menjadi nursepreneur?

2.

Perawat seperti apa yang diinginkan dan strategi apa yang harus dilakukan?

C.

Tujuan

1.

Dengan makalah ini dapat memotivasi perawat untuk membuka usaha sendiri.

2.
Perawat mampu mengetahui strategi yang harus ditempuh dan mendapat hasil yang
sesuai.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.

Keperawatan

Perawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang di dasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biopsiko-sosio-spritual yang komprehensif serta di tujukan kepada individu, keluarga, dan
masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia
(Lokakarya keperawatan Nasional 1986).
1.

Ciri-ciri keperawatan ( Shortridge, ( 1985 )

Adapun ciri-ciri keperawatan adalah sebagai berikut:


a.

Berorientasi pada pelayanan masyarakat

Hal ini berarti kepentingan masyarakat akan pelayanan keperawatan ada diatas kepentingan
pribadi agar kebutuhan klien ( individu, keluarga, dan masyarakat ) akan asuhan keperawatan
terpenuhi. Keperawatan merupakan suatu pelayanan sosial yang esensial dank lien
mempunyai hak menggunakan pelayanan keperawatan dari perawat secara professional.
b.

Pelayanan keperawatan yang diberikan didasarkan pada ilmu

Hal ini berarti perawat harus mempunyai ilmu pengetahuan yang kokoh sebagai dasar
pemberian asuhan keperawatan. sebagai suatu profesi, keperawatan mempunyai badan
ilmu body of knowledge yaitu ilmu terapan sebagai sintesa dari berbagai disiplin ilmu.
Ciri utama pelayanan keperawatan didasari ilmu pengetahuan, bila asuhan keperawatan
dilakukan dengan menggunakan metode pemecahan masalah yaitu proses keperawatan.
meliputi pengkajian, diagnose keperawatan, pelaksanaan, evaluasi. Manfaatnya adalah
menjamin efektifitas dan efisiensi asuhan keperawatan serta menggambarkan tanggung jawab
dan tanggung gugat perawat.
c.

Adanya otonomi

Artinya profesi keperawatan mempunyai kemandirian, wewenang, dan tanggung jawab


untuk mengatur kehidupan profesi, mencakup otonomi dalam menetapkan standar baku
penyelenggara pendidikan, pelayanan keperawatan serta praktik keperawatan dalam bentuk
legislasi keperawatan. hal ini penting artinya agar perkembangan profesi keperawatan terarah
dan terencana sehingga memudahkan proses evaluasi terhadap kemajuan yang telah dicapai.
d.

Memiliki kode etik

Kode etik adalah seperangkat norma dan peraturan yang diyakini oleh profesi dan
menjadi pedoman dan acuan perawat dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai
kewenangan dan tanggung jawab yang diembannya.
2.

Landasan Prinsip-Prinsip Asuhan/Pelayanan dan Praktik Keperawatan

a.

Berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan

Artinya, pelayanan keperawatan harus dilandasi dan menggunakan ilmu keperawatan dan kiat
keperawatan yang mempelajari bentuk dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar
manusia serta upaya perawatan dan penyembuhan. Kiat keperawatan (Nursing Arts) lebih
difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara
komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat-kiaat tertentu dalam upaya
memberikan kepuasan dan kenyamanan pada klien.
b.

Bersifat komprehensif

Pelayanan keperawatan dikatakan bersifat komprehensif jika asuhan keperawatan yang


diberikan berifat menyeluruh meliputi aspek biologi, psikologi, sosial dan spiritual.
c.

Ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat sehat maupun sakit

Sesuai dengan ilmu keperawatan yang melandasi praktek keperawatan, asuhan keperawatan
dapat diberikan kepada individu pada institusi pelayanan kesehatan seperti puskesmas,
poliklinik, klinik keperawatan mandiri dan rumah sakit.
d.

Merupakan bagian integral pelayanan kesehatan

Pada hakekatnya pelayanan kesehatan meliputi pelayanan medis (kedokteran), pelayanan


keperawatan dan pelayanan penunjang kesehatan ( gizi, farmasi, laboratorium, dsb). Sebagai
bagian integral pelayanan kesehatan, pelayanan keperawatan tidak dapat dipisahkan dari
pelayanan kesehatan lain. Hal ini bertujuan pemberian asuhan keperwatan sejalan dengan
tujuan pemberian pelayanan kesehatan.
e.

Mencakup siklus hidup manusia

Artinya, asuhan keperawatan dapat diberikan kepada klien sejak dalam kandungan sampai
tutup usia. Yaitu sejak konsepsi (pertemuan sperma dan ovum), setelah lahir (bayi), anak,
remaja, dewasa, usia lanjut sampai menjelang kematian.
3.

Fokus Praktek Keperawatan Profesional

Praktek keperawatan tidak boleh terlepas dari upaya kesehatan masyarakat dunia dan sistem
kesehatan nasional. focus utama keperawatan saat ini adalah kesehatan masyarakat dengan
target populasi total. Manusia tidak hanya dipandang dari aspek fisik tetapi manusia
dipandang sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual. tujuan praktek keperawatan sesuai
yang dicanangkan WHO (1985) harus diupayakan pada pencegahan primer, peningkatan
kesehatan pasien, keluarga dan masyarakat, perawatan diri dan peningkatan kepercayaan diri.
Praktik keperawatan meliputi empat area yang terkait dengan kesehatan (Kozier, Erb,1990) :
a.

Peningkatan kesehatan (Health Promotion).

Dalam kegiatan ini, perawat membantu masyarakat mengembangkan sumbersumber atau


meningkatkan kesejahteraan/kesehatan. Tujuannya adalah mencapai kesehatan yang optimal,
dengan contoh menjelaskan manfaat program latihan bagi pasien.
b.

Pemeliharaan kesehatan (Health Maintenance).

Perawat melakukan aktivitas untuk membantu masyarakat mempertahankan status


kesehatannya. Contoh kegiatan disini adalah mengajarkan atau menganjurkan seseorang usia
lanjut melakukan latihan untuk mempertahankan kekuatan dan mobilitas otot.
c.

Pemulihan Kesehatan (Health restoration).

Perawat membantu pasien meningkatkan kesehatan setelah pasien memiliki masalah


kesehatan atau penyakit. Sebagai contoh adalah mengajarkan pasien merawat luka atau
membantu orang cacat mempertahankan kekuatan fisik seoptimal yang dapat dilakukan.
d.

Perawatan orang yang menjelang ajal.

Perawat memnerikan rasa nyaman dan merawat orang dalam keadaan menjelang ajal.
kegiatan dapat dilakukan dirumah sakit, rumah, dan fasilitas kesehatan yang lain.
B.

Enterpreneur

Entrepreneurship atau kewirausahaan, berasal dari entrepreneur (wirausahawan) berasal dari


bahasa Perancis entreprende yang berarti mengambil pekerjaan (to undertake). Konsep
mengenai entrepreneur adalah: the entrepreneur is one who undertakes to organize, manage,
and assume the risk of business.
Kewirausahaan / Entrepreneurship adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu yang
ada pada diri kita untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih optimal, sehingga dapat
meningkatkan taraf hidup kita.
Kewirausahaan juga berarti, proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan mengabdikan
seluruh waktu dan tenaganya disertai dengan menanggung risiko keuangan, kejiwaan, sosial
dan menerima balas jasa dalam bentuk uang dan kepuasan pribadinya.
Ada
kerancuan
antara entrepreneurship, intrapreneurship, entrepreurial danentrepreneur yaitu:

istilah

1)
Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani
antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan
baru, aktivitas kewirausahaan juga kemampuan manajerial yang dibutuhkan seorang
entrepreneur.
2)
Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi
yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar.
3)
Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa
tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang
lebih besar dari pada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan,
inovasi dan aturan baru.
4)

Entrepreurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.

Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi:


1)

Pengambilan inisiatif

2)
Mengorganisasi dan reorganisasi mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah
sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis.
3)

Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan.

Kewirausahaan meliputi proses yang dinamis sehingga dengan demikian timbulpengertian


baru dalam kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai
sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana
pendukung, fisik, dan resiko sosial, dan akan menerima reward yang berupa keuangan dan
kepuasan serta kemandirian personal. Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang
dimiliki oleh seorang wirausahawan yaitu:
1)
Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan
nilainya. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga
audiens yang akan menggunakan hasil kreasi tersebut.
2)
Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan.
Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung
proses kreasi yang akan timbul dalam kewirausahaan.
3)
Memperkirakan resiko yang mungkin terjadi, dalam hal ini resiko yang mugkin
terjadi pada resiko keuangan, fisik dan resiko sosial.
4)
Memperoleh reward, dalam hal ini reward terpenting adalah independensi atau
kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Sedangkan reeward berupa uang biasanya
dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya.
1.

Pendidikan Kewirausahaan

Anggapan lama mengatakan Entrepreneurship are born not made sehingga kewirausahaan
tidak dapat dipelajari atau diajarkan. Sementara anggapan sekarang Entrepreneurship are
not only born also made. Sehingga kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau
urusan pengalaman di lapangan saja, tetapi merupakan disiplin ilmu yang dapat dipelajari.
Transformasi pengetahuan kewirausahaan telah berkembang pada akhir-akhir ini. Pendidikan
dan pelatihan kewirausahaan tumbuh pesat. Mata kuliah kewirausahaan diberikan dalam
bentuk kuliah umum ataupun bentuk konsentrasi program studi.
Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena berisi:
a.

Body of knowledge yang utuh dan nyata, ada objek, konsep dan modelnya.

b.
Kewirausahaan memiliki dua konsep, posisi venture start up dan venture growth,
tidak memisahkan antara manajemen dan kepemilikan usaha.
c.
Merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

d.
Merupakan alat untuk menciptakan pemerataan usaha dan pendapatan atau
kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
e.
Kewirausahaan telah dijadikan kompetensi inti dalam menciptakan perubahan,
perbaharuan dan kemajuan.
f.
Objek studi kewirausahaan adalah kemampuan merumuskan bertujuan hidup,
memotivasi diri, berinisiatif, membentuk modal, mengatur waktu, dan membiasakan diri
untuk belajar dari pengalaman.
g.
Kewirausahaan pada hakikatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki
kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.
2.

Motivasi berwirausaha

Teori 3 kebutuhan David McClelland:


NAch, need for achievment, wirausaha yang memiliki motivasi ini selalu ingin berprestasi/
meraih yang terbaik, umumnya memiliki ciri-ciri:
a.
Ingin mengatasi sendiri kesulitan-kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada
dirinya.
b.
Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk dapat mengukur keberhasilan atau
kegagalan.
c.

Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.

d.

Berani menghadapi resiko dengan penuh tantangan.

e.

Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.

NPow, need for power, yaitu hasrat untuk mempengaruhi, mengendalikan dan menguasai
orang lain. Ciri umum adalah senang bersaing, berorientasi pada status dan menguasai orang
lain.
NAff, need for affilitation, yaitu hasrat untuk dapat diterima dan disukai oleh orang lain.
Wirausaha yang berfiliasi tinggi lebih menyukai persahabatan, bekerjasama, dan saling
pengertian.
3.

Prinsip-Prinsip Kewirausahaan

a.

Prinsip Wirausaha I

Kekuatan yang mendorong kesuksesan perusahaan strart up terdiri dari tiga macam: peluang,
tim dan sumber daya. Proses kewirausahaan diawali bukan dari ketersediaan uang, strategi,
network, tim ataupun rencana bisnis, melainkan dari adanya peluang. Peluang yang
berpotensi tinggi terkadang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari pada ketersediaan

sumbe daya atau tim pada saat itu. Peran entrepreneur dan tim adalah menjaga keseimbangan
antara tiga kekuatan tersebut dalam lingkungan yang terus berubah. Ketidakpastian dan
resiko menjadi teman sejati para entrepreneur.
Adanya keseimbangan akan membantu entrepreneur dalam mencapai keberlanjutan atau
sustanbility perusahaan tanpa harus merusak lingkungan, komunitas atau masyarakat.
Rencana bisnis berfungsi sebagai komunikator kualitas dan keseimbangan kekuatan pada saat
tertentu.
b.

Prinsip Wirausaha II

Dunia kewirausahaan bersifat dinamis, cair, ambigu, dan chaos. Perubahan yang konstan
terjadi menyebabkan dunia kewirausahaan berkaitan erat dengan paradoks.
1)

Untuk bisa sukses, jangan takut untuk gagal.

Kasus yang biasanya terjadi adalah jika perusahaan pertama gagal, entrepreneur belajar dari
pengalaman dan kemudian membentuk perusahaan lagi yang ternyata sangat sukses di masa
depan.
2)

Rencana bisnis akan cepat menjadi uang.

Kondisi persaingan, teknologi, dan pasar yang sangat dinamis menyebabkan kita kesulitan
untuk mengetahui semua kondisi kompetisi. Hasilnya adalah rencana bisnis cepat menjadi
uang begitu ia selesai dicetak. Entrepreuneur harus melatih kebiasaan berencana dan bereaksi
secara cepat, mengkombinasikan logika dan intuisi sampai kebiasaan ini menjadi sesuatu
yang refleks.
3)

Agar kreativitas dan inovasi berhasil, harus ada disiplin ilmu yang mengimbangi.

Penemuan- penemuan produk harus dibarengi dengan ilmu mengenai komersialiasi teknologi
atau produk, jika tidak, maka penemuan ini tidak akan mampu memberikan nilai tambah bagi
perusahaan dan masyarakat.
4)

Entrepreneur harus bisa bertindak cepat, tetapi juga harus sabar.

Sementara kompetitor bergerak cepat, entrepreneur harus belajar menentukan kapan ia harus
bertindak dan kapan ia harus bertahan.

5)
Semakin besar ukuran dan kontrol terhadap perusahaan, semakin rendah
kinerja.
Kewirausahaan memerlukan fleksibilitas tingggi dalam strategi dan taktik. Kontrol dan
keteraturan yang berlebih dapat menghambat kemajuan perusahaan
c.

Prinsip Wirausaha III

Setiap manusia akan menghadapi resiko dalam hidupnya. Begitupun dengan entrepreneur,
berikut adalah beberapa resiko yang umum di hadapi entrepreneur yaitu:
1)

Resiko Finansial

Pada perusahaan yang baru berdiri, entrepreneur memberikan sebagian simpanannya untuk
modal. Uang ataupun aset lain yang disimpan ini akan hilang jika perusahaan ternyata gagal.
Entrepreneur akan bertangggung jawab menanggung kewajiban perusahaan yang nilainya
mungkin jauh melebihi jumlah simpanan. Oleh karena itu, entrepreneur beresiko
kebangkrutan.
2)

Resiko karir

Pertanyaan yang sering ada di benak entrepreneur adalah apakah mereka akan menemukan
pekerjaan atau kembali ke pekerjaannya yang dulu jika bisnisnya gagal. Resiko ini
merupakan pertimbangan utama bagi manajer yang bekerja di perusahaan besar dengan gaji
yang menarik.
3)

Resiko keluarga dan social

Memulai usaha baru akan menyerap banyak energi dan waktu dari entrepreneur.
Konsekuensinya adalah bidang kehidupan yang lain akan dikorbankan. Entrepreneur yang
sudah menikah, terutama yang memiliki anak, akan beresiko tidak bisa hadir sepenuhnya
untuk keluarganya. Kehidupan sosialnya mungkin akan terganggu juga.

4)

Resiko kesehatan

Jam kerja yang panjang menyebabkan terancamnya kesehatan entrepreneur. Uang dapat
digantikan, keluarga dapat beradaptasi, namun kesehatan yang terganggu lebih sulit untuk
diperbaiki.

BAB III
PEMBAHASAN

Isu kesejahteraan perawat saat ini masih gencar dihembuskan selain isu profesionalisme.
Kesejahteraan perawat yang berbanding lurus dengan gaji perawat konon berbanding terbalik
dengan beban kerja perawat. Mengharapkan pemerintah untuk melihat hal itu, rasanya tidak
mungkin tampak pada ketidakjelasan RUU Keperawatan karena saat ini perawat di Indonesia
masih belum memiliki bargaining position di mata pemerintah. Salah satu solusi yang bisa
diambil untuk mem-backup kesejahteraan perawat tanpa perlu menggantungkan pada gaji
dari pemerintah bagi perawat yang bekerja sebagai PNS adalah dengan
menjadi nurpreseneur(Perawat Pengusaha). Konsep nurpreseneur sudah lama muncul dalam
dunia
keperawatan.
Namun,
di
Indonesia
konsep
ini
belum
begitu
familiar. nurpreseneur (Perawat Pengusaha) berasal dari kata Nurse dan Entrepreneur yang
jika diartikan secara harfiah adalah perawat pengusaha atau perawat pebisnis.

Secara konseptual Nursepreneur termasuk dalam pengembangan karir dari peran dan fungsi
perawat. pengembngan karir tersebut dapat menjadi pengelola klinik atau sarana kesehatan
lainnya. Misalnya manager spa, manager fisioterapi, manager Nursing Center, manager Balai
kesehatan swasta, pemilik massage dan refleksi, meskipun dalam pelaksanaan teknisnya
banyak melibatkan profesi lain sebagai pelaksana, dalam hal ini perawat dapat bertindak
sebagai pemilik modal, penggagas ide, pemilik saham, atau owner yang akan menggaji
karyawannya. Selain peran tersebut perawat juga dapat melakukan penelitian-penelitian,
sebagai contoh adanya tim riset yang meneliti perawatan luka, cara ganti balutan efektif,
kompres modern, terapi modalitas, tehnik relaksasi dsb. Masalah penelitian
direkomendasikan dari Rumah sakit atau intistusi kesehatan yang membutuhkan solusi.
Misalnya kenapa kunjungan ke RS tertentu sangat rendah, maka perawat manajemen akan
melakukan riset yang didanai rumah sakit yang bersangkutan, termasuk riset kepuasan klien.
Disamping peran-peran di atas perawat dapat juga bergerak dalam bidang pendidikan atau
menyediakan pelatihan-pelatihan atau sebagai konsultan. Misalnya pelatihan baby siter,
pelatihan perawat lansia, perawat anak di rumah atau perawat yang akan mendampingi klien
saat ibadah haji.
Ada satu hal yang sangat menarik dari konsep nursepreseneur ini, yaitu untukmenjadi
perawat pengusaha atau perawat pebisnis kita hanya perlu 5 langkah. Uniknya 5 langkah ini
sangat sering dilakukan oleh perawat. 5 langkah itu adalah bagian dari proses
keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan
evaluasi. Jika dikaitkan dengannursepreseneur, proses keperawatan itu akan menjadi 5
langkah awal untuk menjadi perawatpengusaha atau perawat pebisnis, yaitu :
1.

Pengkajian

Langkah pertama untuk memulai berbisnis adalah kita melakukan pengkajian.Masalah adalah
hal pertama yang kita ingin dapatkan dari prosespengkajian. Maka untuk memulai bisnis, kita
harus mengetahui masalah apa yang terjadi. Saat ini yang paling berkuasa dalam dunia bisnis
adalah pasar (market). Maka pengkajian yang kita lakukan untuk memulai berbisnis adalah
mengkaji kebutuhan pasar.
2.

Diagnosa

Langkah kedua setelah melakukan pengkajian adalah menetapkan diagnosa. Dalam dunia
bisnis, setelah kita mengetahui kebutuhan pasar maka yang selanjutnya dilakukan adalah
memetakan potensi yang bisa kita masuki untuk menjawab kebutuhan pasar. Pemetaan
potensi itu dalam langkah ini adalah tahap diagnosa.
3.

Perencanaan

Setelah kita mengetahui potensi pasar yang bisa kita masuki, maka langkah selanjutya adalah
menyusun rencana untuk bisa masuk kedalam pasar yang sesungguhnya. Tahap perencaan ini
merupakan tahap ketika kita harus memiliki konsep usaha yang jelas dan detail.
4.

Implementasi

Langkah ini adalah tahap bagi kita untuk take action. Konsep usaha yang jelas harus
diwujudkan dalam bentuk nyata. Tahap ini merupakan tahap yang paling inti dalam proses

berbisnis dan tentu saja merupakan tahap yang paling sulit. Semua orang bisa punya ide,
namun tidak semua orang berani take action.
5.

Evaluasi

Dalam sistem apapun, evaluasi merupakan bagian penting dan tidak boleh terlupakan. Dari
evaluasi ini, kita bisa mengetahui apakah implementasi yang kita lakukan berhasil atau tidak.
Sama dalam dunia bisnis, evaluasi akan memberikan gambaran kepada kita apakah konsep
yang sudah kita jalankan berhasil atau tidak. Jika berhasil, maka kita bisa lakukan
peningkatan, namun jika tidak, perubahan rencana dan strategi bisa dilakukan
Jadi yang terpenting dari seorang Nursepreneur adalah inovasi dan keberanian untuk
mengambil risiko serta siap bekerja keras mencapai tujuan dengan optimis. Inilah yang
membuat entreprenur selalu tampil dengan gagasangagasan baru yang segar, melawan arus
pemikiran orang banyak atau kreatif.

BAB IV
PENUTUP

Simpulan
Entrepreneurship atau kewirausahaan, berasal dari entrepreneur (wirausahawan, berasal dari
bahasa Perancis entreprende yang berarti mengambil pekerjaan (to undertake). Konsep
mengenai entrepreneur adalah: the entrepreneur is one who undertakes to organize, manage,
and assume the risk of business.
Untuk menjadi nursepreneur yang sukses juga harus pintar untuk mengambil keputusan
disetiap peluang dan bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Jadi yang terpenting dari
seorang Nursepreneur adalah inovasi dan keberanian untuk mengambil risiko serta siap
bekerja keras mencapai tujuan dengan optimis. Inilah yang membuat entreprenur selalu
tampil dengan gagasangagasan baru yang segar, melawan arus pemikiran orang banyak atau
kreatif.

http://25071990.blogspot.com/2013/10/makalah-enterpreneur-dan-keperawatan.html