Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATA KULIAH UMUM BAHASA INDONESIA

CONTOH KALIMAT TOPIK DAN PARAFRASE


TEMA : GIZI

Oleh :

Jefri Karsoni

04101001037

FAKULTASKEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya Makalah MKU
bidang Bahasa Indonesia dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini betujuan untuk memenuhi tugas makalah yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penyusun makalah ini tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pembimbing MKU
bidang Bahasa Indonesia yang telah membimbing kami semua dalam pelaksanaan ini. Serta
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik pembaca akan
sangat bermanfaat bagi revisi yang senantiasa akan tim penyusun lakukan.

Palembang, Desember 2013


Hormat Kami

Penyusun

I. PROGRESS

KERANGKA KONSEP
Gizi

Gizi Buruk

Normal

Gizi kurang

Gizi buruk pada balita

Definisi
gizi buruk

Prevalensi
kejadian

Faktor
penyebab

FRASE UNTUK KALIMAT TOPIK

Kegemukan

JUDUL

Cara
pencegahan

Obesitas

Kalimat Topik
1. Gizi buruk adalah kondisi kekurangan energi protein berat dalam memenuhi kebutuhan
gizi sehari-hari.
Paragraf yang telah memuat Parafrase yang sudah dikembangan berdasarkan
kalimat topik dan sumber kutipan:
Gizi buruk atau kekurangan energi protein berat adalah suatu kondisi kurangnya
nutrisi yang dikonsumsi dikarenakan kurangnya konsumsi energi dan protein dalam
makanan sehari-hari sehingga tidak mencukupi angka kecukupan gizi. Gizi buruk pada
balita dapat diamati

apabila garis merah pada berat badan dan tinggi badan balita

tersebut berada di bawah persentil -3 KMS.


2. Angka kejadian gizi buruk pada balita mengalami penurunan.
Paragraf yang telah memuat Parafrase yang sudah dikembangan berdasarkan
kalimat topik dan sumber kutipan:
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2007
angka kejadian gizi buruk nasional pada balita mengalami penurunan dari tahun
sebelumnya. Tercatat kasus gizi buruk mencapai 5,4 % dan gizi kurang mencapai 13 %.
Dari kasus tersebut didapatkan pula data bahwa kasus tersebut mencapai 13,3 % terjadi
pada laki-laki dan 10,9 % pada perempuan. Penurunan angka kejadian ini dikarenakan
program pemerintah yang melibatkan pusat pelayan primer meliputi Puskesmas dan
Posyandu dalam menjalankan program gizi seperti Kadarzi (keluarga sadar gizi) sudah
berjalan baik dan mulai menunjukkan hasilnya.
3. Ada banyak faktor yang dapat mengakibatkan gizi buruk pada balita
Paragraf yang telah memuat Parafrase yang sudah dikembangan berdasarkan
kalimat topik dan sumber kutipan:
Masalah gizi terutama gizi buruk dapat timbul karena beberapa faktor penyebab
seperti faktor host

yang meliputi fisiologi sistem pencernaan, metabolisme dan

kebutuhan gizi individu tiap harinya, faktor agent yang meliputi kebutuhan zat gizi
makro dan mikro seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta faktor
lingkungan yang meliputi bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, penghidangan
serta sanitasi makanan itu sendiri. Namun secara umum terdapat 4 masalah gizi pada

balita di Indonesia seperti kekurangan energi protein, kekurangan vitamin A, kekurangan


yodium dan kekurangan zat besi.
4. Pencegahan gizi buruk pada balita adalah dengan memantau tumbuh kembang anak atau
balita melalui pusat-pusat layanan kesehatan .
Paragraf yang telah memuat Parafrase yang sudah dikembangan berdasarkan
kalimat topik dan sumber kutipan:
Cara efektif untuk mencegah gizi buruk pada balita dapat dilakukan dengan
memantau tumbuh kembang anak melalui pusat-pusat layanan kesehatan yang telah ada
di masyarakat seperti Posyandu. Ada beberapa hal yang nantinya akan didapatkan di
Posyandu guna mencegah terjadinya gizi buruk pada balita seperti pemantauan tumbuh
kembangan anak melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak,
pemberian vitamin A serta imunisasi yang dibutuhkan, informasi mengenai pemberian
ASI ekslusif dan makanan-makanan bernutrisi serta informasi cara penanggulangan gizi
buruk pada balita.

Keterangan :
Warna hijau terang menandakan : kalimat pengembangan yang di buat berdasarkan
kalimat topik serta kutipan
Warna kuning menandakan: kalimat kontras yang dapat mendukung paragraf yang berisi
pengembangan kalimat topik dan kutipan
Sumber Kutipan :
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/3045/MAKALAH
%20KEP.pdf?sequence=1
1. Paragraf yang memuat kalimat topik, parafrase, pengembangan dan detail
kalimat topik, parafrase serta kutipannya sehingga membentuk suatu kalimat
yang koheren.
Manusia

memerlukan

makanan

yang

bergizi

untuk

pertumbuhan

dan

perkembangan. Makanan bergizi adalah makanan yang cukup mengandung hidrat arang
(karbohidrat), lemak, protein, vitamin dan mineral serta kebutuhan kandungan makanan
ini harus seimbang. Kekurangan makanan bergizi ini akan menyebabkan gizi buruk. Gizi
buruk atau kekurangan energi protein berat adalah suatu kondisi kurangnya nutrisi yang
6

dikonsumsi dikarenakan kurangnya konsumsi energi dan protein dalam makanan seharihari sehingga tidak mencukupi angka kecukupan gizi. Gizi buruk pada balita dapat
diamati apabila garis merah pada berat badan dan tinggi badan balita tersebut berada di
bawah persentil -3 KMS (kartu menuju sehat) atau di bawah garis merah. (Jafar,2008).
Selain itu juga balita dikatakan mengalami kurang gizi jika garis pertumbuhan berat
badan dan tinggi badan berada diantara persentil -2 dan 0. Keadaan kecukupan gizi yang
normal dan juga berlebihan dapat dinilai pula dari garis yang terdapat di dalam KMS,
dikatakan normal jika garis atau status pertumbuhan pada KMS berada diantara persentil
0 dan 2 serta apabila status pertumbuhan balita berada di atas persentil 3 maka balita
tersebut dapat dikatakan mengalami obesitas. Anak di bawah usia lima tahun atau balita
merupakan kelompok anak yang rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi hal tersebut
dikarenakan sistem imunitas pada anak yang belum terbentuk secara matang,
pengetahuan orang tua akan asuhan gizi yang tepat masih kurang serta masalah ekonomi
yang juga erat kaitannya dengan masalah ini. Adapun penyakit yang berhubunganan
langsung akibat dari gizi buruk ini adalah marasmus dan khwasihorkor, penyakit ini
merupakan suatu keadaan patologis yang diakibatkan oleh tidak terpenuhinya zat gizi
yang masuk kedalam tubuh dan dibutuhkan dalam waktu yang relatif lama atau bersifat
kronis. Untuk mengetahui kebutuhan gizi tiap individu atau balita maka diperlukan
pengukuran angka kecukupan gizi (AKG). Zat gizi yang terdapat pada AKG adalah zatzat yang penting bagi tubuh seperti energy, protein, vitamin A,C, B 12, tiamin, riboflavin,
niasin, asam folat, kalsium, fosfor, zat besi, zink, dan yodium. (Arisman, 2012)

2. Paragraf yang memuat kalimat topik, parafrase, pengembangan dan detail


kalimat topik, parafrase serta kutipannya sehingga membentuk suatu kalimat
yang koheren.
Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama yang
banyak dijumpai pada balita di Indonesia. Dalam Repelita VI, pemerintah dan masyarakat
berupaya menurunkan prevalensi KEP dari 40% menjadi 30%. Seiring dengan mulai
menstabilnya kondisi ekonomi Negara yang beberapa tahun ke belakang dilanda krisis
maka diperkirakan kejadian kasus KEP berat atau gizi buruk pada balita akan berkurang.
7

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2007 angka
kejadian gizi buruk nasional pada balita mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Tercatat kasus gizi buruk mencapai 5,4 % dan gizi kurang mencapai 13 %. Dari kasus
tersebut didapatkan pula data bahwa kasus tersebut mencapai 13,3 % terjadi pada lakilaki dan 10,9 % pada perempuan. Penurunan angka kejadian ini dikarenakan program
pemerintah yang melibatkan pusat pelayan primer meliputi Puskesmas dan Posyandu
dalam menjalankan program gizi seperti Kadarzi (keluarga sadar gizi) sudah berjalan baik
dan mulai menunjukkan hasilnya. (Jafar,2008). Namun angka kematian balita yang
diakibatkan gizi buruk ini di Indonesia masih tergolong tinggi. Badan kesehatan dunia
WHO memperkirakan bahwa 54 persen kematian anak disebabkan oleh keadaan gizi
yang buruk sementara masalah gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen
kematian pada anak. Prevalensi balita gizi buruk merupakan indikator millennium
development goals (MDGs) yang harus dicapai disuatu daerah (kabupaten/kota) pada
tahun 2015 yaitu terjadi penurunan prevalensi balita gizi buruk menjadi 3,6 persen atau
kekurangan gizi pada balita menjadi 15,5 persen. (Depkes,2012) Penurunan prevalensi ini
harus dicapai karena status gizi buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang
sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berpikir yang pada
akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.

3. Paragraf yang memuat kalimat topik, parafrase, pengembangan dan detail


kalimat topik, parafrase serta kutipannya sehingga membentuk suatu kalimat
yang koheren.
Masalah gizi terutama gizi buruk dapat timbul karena beberapa faktor penyebab
seperti faktor host

yang meliputi fisiologi sistem pencernaan, metabolisme dan

kebutuhan gizi individu tiap harinya, faktor agent yang meliputi kebutuhan zat gizi
makro dan mikro seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta faktor
lingkungan yang meliputi bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, penghidangan
serta sanitasi makanan itu sendiri. Namun secara umum terdapat 4 masalah gizi pada
balita di Indonesia seperti kekurangan energi protein, kekurangan vitamin A, kekurangan
yodium dan kekurangan zat besi.(Jafar,2008). Hal tersebutlah yang nantinya akan
mengakibatkan

keadaan

patologis

pada

proses

digesti,

absorpsi,

transportasi,

penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk


mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta
menghasilkan energi. Sehingga apabila tubuh merasa kecukupan akan gizi pada tubuh
belum terpenuhi maka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi
kebutuhannya dan jika keadaan ini berlangsung lama maka simpanan zat gizi akan habis
dan pada akhirnya akan terjadi kemerosotan pada jaringan tubuh dan pada kondisi inilah
balita dapat dikatakan mengalami malnutrisi berat atau gizi buruk. Status gizi buruk pada
balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental
maupun kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.
Balita hidup penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10
persen.(soenarto, 2011). Keadaan ini tentunya akan berdampak pada menurunnya sumber
daya manuisa. Selain itu kondisi gizi buruk ini dapat menakibatkan munculnya penyakit
yang rawan terjadi seperti diabetes melitus dan penyakit jantung koroner. Dampak paling
buruk yang diterima adalah kematian pada umur yang sangat dini.

4. Paragraf yang memuat kalimat topik, parafrase, pengembangan dan detail


kalimat topik, parafrase serta kutipannya sehingga membentuk suatu kalimat
yang koheren.
Umumnya gizi buruk dapat dicegah dengan pemberian makanan yang tepat dari
sejak ibu melahirkan hingga anak paling tidak mencapai usia 5 tahun seperti:
memperhatikan konsumi makanan selama ibu hamil, pemberian ASI ekslusif pada bayi
sampai dengan usia 6 bulan, pemberian makan tambahan yang sehat dan tepat dari usia 6
bulan sampai dengan 2 tahun, mengontrol defisiensi zat yodium, zat besi, vitamin A dan
lain sebagainya dan sampai saat ini pemerintah telah banyak menyusun serta
menjalankan program-program pencegahan dan penanggulangan gizi buruk di Indonesia
baik itu program yang bermitra dengan organisasi international (UNICEF) maupun
bersifat nasional seperti, program keluarga harapan (PKH), keluarga sadar gizi
(KADARZI), TABURIA, program positive deviance (PD), dan lain sebagainya. Program
program ini bertujuan untuk menurunkan prevalensi kurang energi protein (KEP) menjadi
setinggi-tingginya 15 persen dan gizi buruk menjadi setinggi-tingginya 2,5 persen pada
tahun 2014. (Depkes, 2012) Untuk mengatasi masalah gizi buruk ini umumnya pada
pusat-pusat pelayan kesehatan akan melakukan tindakan kuratif, rehabilitatif, promotif,
dan juga preventif. Adapun Cara efektif untuk mencegah gizi buruk pada balita dapat
dilakukan dengan memantau tumbuh kembang anak melalui pusat-pusat layanan
kesehatan yang telah ada di masyarakat seperti Posyandu. Ada beberapa hal yang
nantinya akan didapatkan di Posyandu guna mencegah terjadinya gizi buruk pada balita
seperti pemantauan tumbuh kembangan anak melalui penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi badan anak, pemberian vitamin A serta imunisasi yang dibutuhkan,
informasi mengenai pemberian ASI ekslusif dan makanan-makanan bernutrisi serta
informasi cara penanggulangan gizi buruk pada balita. (Jafar,2008).

Posyandu

merupakan kegiatan perwujudan peran serta masyarakat yang dikelola oleh masyarakat
dari masyarakat dan untuk masyarakat dalam mencapai pelayanan kesehatan yang lebih
baik lagi di dalam posyandu terdapat kader-kader kesehatan yang mampu memberikan
edukasi kepada ibu mengenai asuhan gizi pada anak agar dapat memberikan asupan
nutrisi yang tepat supaya terhindar dari gizi buruk.

10

Peta Teori

Kata kunci dari frase frase yang dibuat: Angka kecukupan gizi, KMS, program
pemerintah, masalah gizi, Posyandu
Peta teori/ kalimat topik baru dari kata-kata kunci:
Gizi buruk pada balita merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia dan dapat
ditanggulangi serta dicegah dengan menjalankan program pemerintah salah satunya
dengan secara rutin memantau KMS (kartu menuju sehat) di Posyandu sehingga angka
kecukupan gizi pada balita dapat terpenuhi.
Dalil kemenarikan/ informasi lama
Gizi buruk pada balita merupakan masalah gizi nasional yang sampai saat ini
masih belum dapat diatasi secara tuntas. Faktor kemiskinan dan ketiadaan bahan gizi
yang murah merakyat seringkali diduga penyebab masyarakat kurang gizi terutama pada
balita, namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Fakta yang lebih kuat menyatakan
bahwa ternyata masyarakat kita belum sepenuhnya memahami gizi dengan benar. Ada
kesan bahwa gizi itu barang mewah yang mahal dan orang miskin tidak akan mampu
menyediakannya. Jelas ini adalah opini yang salah dan berakibat fatal. Salah satu
penyebab terjadinya kekurangan gizi ini adalah perilaku masyarakat yang dapat membuat
struktur keluarga terpecah seperti pekerja migrasi, perceraian dan sebagainya yang pada
akhirnya membuat anak terlantar dan menjadi kurang gizi. Faktor lain yang juga cukup
dominan adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi dan kesehatan para ibu atau
keluarga yang mengasuh dan memelihara anak atau balita tersebut, juga rapatnya jarak
kehamilan dan kelahiran. Selain itu juga anak tidak mendapat cukup perhatian dan ASI,
karena ibunya sangat sibuk mengurusi anak yang banyak serta asupan makanan yang
kurang atau anak sering sakit atau terkena infeksi.

11

II. CONTOH MAKALAH

12

1. JUDUL : GIZI BURUK PADA BALITA DI INDONESIA


2. PENDAHULUAN
Gizi buruk pada balita merupakan masalah gizi nasional yang sampai saat ini
masih belum dapat diatasi secara tuntas. Faktor kemiskinan dan ketiadaan bahan gizi
yang murah merakyat seringkali diduga penyebab masyarakat kurang gizi terutama pada
balita, namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Fakta yang lebih kuat menyatakan
bahwa ternyata masyarakat kita belum sepenuhnya memahami gizi dengan benar. Ada
kesan bahwa gizi itu barang mewah yang mahal dan orang miskin tidak akan mampu
menyediakannya. Jelas ini adalah opini yang salah dan berakibat fatal. Salah satu
penyebab terjadinya kekurangan gizi ini adalah perilaku masyarakat yang dapat membuat
struktur keluarga terpecah seperti pekerja migrasi, perceraian dan sebagainya yang pada
akhirnya membuat anak terlantar dan menjadi kurang gizi. Faktor lain yang juga cukup
dominan adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi dan kesehatan para ibu atau
keluarga yang mengasuh dan memelihara anak atau balita tersebut, juga rapatnya jarak
kehamilan dan kelahiran. Selain itu juga anak tidak mendapat cukup perhatian dan ASI,
karena ibunya sangat sibuk mengurusi anak yang banyak serta asupan makanan yang
kurang atau anak sering sakit atau terkena infeksi.
Gizi buruk merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian dan
kesakitan atau mortalitas dan morbiditas pada bayi, balita dan anak di Indonesia. Angka
kematian bayi, balita dan anak merupakan salah satu indikator kesehatan yang sangat
mendasar, dan status gizi merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap
peningkatan atau penurunan angka kematian bayi, balita dan anak. Gizi pada balita
terutama diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Kurang
terpenuhinya gizi pada balita akan menghambat sintesis protein DNA sehingga
menyebabkan terhambatya pembentukan sel otak yang selanjutnya akan menghambat
perkembangan otak. Jika hal ini terjadi setelah masa divisi sel otak berhenti, hambatan
sintesis protein akan menghasilkan otak dengan jumlah sel yang normal tetapi dengan
ukuran yang lebih kecil
Gizi buruk pada balita merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia dan dapat
ditanggulangi serta dicegah dengan menjalankan program pemerintah salah satunya
13

dengan secara rutin memantau KMS (kartu menuju sehat) di Posyandu sehingga angka
kecukupan gizi pada balita dapat terpenuhi.

3. ISI
Manusia

memerlukan

makanan

yang

bergizi

untuk

pertumbuhan

dan

perkembangan. Makanan bergizi adalah makanan yang cukup mengandung hidrat arang
(karbohidrat), lemak, protein, vitamin dan mineral serta kebutuhan kandungan makanan
ini harus seimbang. Kekurangan makanan bergizi ini akan menyebabkan gizi buruk. Gizi
buruk atau kekurangan energi protein berat adalah suatu kondisi kurangnya nutrisi yang
dikonsumsi dikarenakan kurangnya konsumsi energi dan protein dalam makanan seharihari sehingga tidak mencukupi angka kecukupan gizi. Gizi buruk pada balita dapat
diamati apabila garis merah pada berat badan dan tinggi badan balita tersebut berada di
bawah persentil -3 KMS (kartu menuju sehat) atau di bawah garis merah. (Jafar,2008).
Selain itu juga balita dikatakan mengalami kurang gizi jika garis pertumbuhan berat
badan dan tinggi badan berada diantara persentil -2 dan 0. Keadaan kecukupan gizi yang
normal dan juga berlebihan dapat dinilai pula dari garis yang terdapat di dalam KMS,
dikatakan normal jika garis atau status pertumbuhan pada KMS berada diantara persentil
0 dan 2 serta apabila status pertumbuhan balita berada di atas persentil 3 maka balita
tersebut dapat dikatakan mengalami obesitas.
Anak di bawah usia lima tahun atau balita merupakan kelompok anak yang rentan
terhadap masalah kesehatan dan gizi hal tersebut dikarenakan sistem imunitas pada anak
yang belum terbentuk secara matang, pengetahuan orang tua akan asuhan gizi yang tepat
masih kurang serta masalah ekonomi yang juga erat kaitannya dengan masalah ini.
Adapun penyakit yang berhubunganan langsung akibat dari gizi buruk ini adalah
marasmus dan khwasihorkor, penyakit ini merupakan suatu keadaan patologis yang
diakibatkan oleh tidak terpenuhinya zat gizi yang masuk kedalam tubuh dan dibutuhkan
dalam waktu yang relatif lama atau bersifat kronis. Untuk mengetahui kebutuhan gizi tiap
individu atau balita maka diperlukan pengukuran angka kecukupan gizi (AKG). Zat gizi
yang terdapat pada AKG adalah zat-zat yang penting bagi tubuh seperti energy, protein,

14

vitamin A,C, B12, tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, kalsium, fosfor, zat besi, zink, dan
yodium. (Arisman, 2012)
Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama yang
banyak dijumpai pada balita di Indonesia. Dalam Repelita VI, pemerintah dan masyarakat
berupaya menurunkan prevalensi KEP dari 40% menjadi 30%. Seiring dengan mulai
menstabilnya kondisi ekonomi Negara yang beberapa tahun ke belakang dilanda krisis
maka diperkirakan kejadian kasus KEP berat atau gizi buruk pada balita akan berkurang.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2007 angka
kejadian gizi buruk nasional pada balita mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Tercatat kasus gizi buruk mencapai 5,4 % dan gizi kurang mencapai 13 %. Dari kasus
tersebut didapatkan pula data bahwa kasus tersebut mencapai 13,3 % terjadi pada lakilaki dan 10,9 % pada perempuan.
Penurunan angka kejadian ini dikarenakan program pemerintah yang melibatkan
pusat pelayan primer meliputi Puskesmas dan Posyandu dalam menjalankan program gizi
seperti Kadarzi (keluarga sadar gizi) sudah berjalan baik dan mulai menunjukkan
hasilnya. (Jafar,2008). Namun angka kematian balita yang diakibatkan gizi buruk ini di
Indonesia masih tergolong tinggi. Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan bahwa
54 persen kematian anak disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk sementara masalah
gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian pada anak. Prevalensi
balita gizi buruk merupakan indikator millennium development goals (MDGs) yang harus
dicapai disuatu daerah (kabupaten/kota) pada tahun 2015 yaitu terjadi penurunan
prevalensi balita gizi buruk menjadi 3,6 persen atau kekurangan gizi pada balita menjadi
15,5 persen. (Depkes,2012) Penurunan prevalensi ini harus dicapai karena status gizi
buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan
fisik, mental maupun kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menurunkan
produktivitas kerja.
Masalah gizi terutama gizi buruk dapat timbul karena beberapa faktor penyebab
seperti faktor host

yang meliputi fisiologi sistem pencernaan, metabolisme dan

kebutuhan gizi individu tiap harinya, faktor agent yang meliputi kebutuhan zat gizi
makro dan mikro seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta faktor
lingkungan yang meliputi bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, penghidangan
serta sanitasi makanan itu sendiri. Namun secara umum terdapat 4 masalah gizi pada
15

balita di Indonesia seperti kekurangan energi protein, kekurangan vitamin A, kekurangan


yodium dan kekurangan zat besi.(Jafar,2008). Hal tersebutlah yang nantinya akan
mengakibatkan

keadaan

patologis

pada

proses

digesti,

absorpsi,

transportasi,

penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk


mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta
menghasilkan energi. Sehingga apabila tubuh merasa kecukupan akan gizi pada tubuh
belum terpenuhi maka simpanan zat gizi pada tubuh digunakan untuk memenuhi
kebutuhannya dan jika keadaan ini berlangsung lama maka simpanan zat gizi akan habis
dan pada akhirnya akan terjadi kemerosotan pada jaringan tubuh dan pada kondisi inilah
balita dapat dikatakan mengalami malnutrisi berat atau gizi buruk. Status gizi buruk pada
balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental
maupun kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.
Balita hidup penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10
persen.(soenarto, 2011). Keadaan ini tentunya akan berdampak pada menurunnya sumber
daya manuisa. Selain itu kondisi gizi buruk ini dapat menakibatkan munculnya penyakit
yang rawan terjadi seperti diabetes melitus dan penyakit jantung koroner. Dampak paling
buruk yang diterima adalah kematian pada umur yang sangat dini.
Umumnya gizi buruk dapat dicegah dengan pemberian makanan yang tepat dari
sejak ibu melahirkan hingga anak paling tidak mencapai usia 5 tahun seperti:
memperhatikan konsumi makanan selama ibu hamil, pemberian ASI ekslusif pada bayi
sampai dengan usia 6 bulan, pemberian makan tambahan yang sehat dan tepat dari usia 6
bulan sampai dengan 2 tahun, mengontrol defisiensi zat yodium, zat besi, vitamin A dan
lain sebagainya dan sampai saat ini pemerintah telah banyak menyusun serta
menjalankan program-program pencegahan dan penanggulangan gizi buruk di Indonesia
baik itu program yang bermitra dengan organisasi international (UNICEF) maupun
bersifat nasional seperti, program keluarga harapan (PKH), keluarga sadar gizi
(KADARZI), TABURIA, program positive deviance (PD), dan lain sebagainya.
Program-program tersebut bertujuan untuk menurunkan prevalensi kurang energi
protein (KEP) menjadi setinggi-tingginya 15 persen dan gizi buruk menjadi setinggitingginya 2,5 persen pada tahun 2014. (Depkes, 2012) Untuk mengatasi masalah gizi
buruk ini umumnya pada pusat-pusat pelayan kesehatan akan melakukan tindakan
kuratif, rehabilitatif, promotif, dan juga preventif. Adapun Cara efektif untuk mencegah
16

gizi buruk pada balita dapat dilakukan dengan memantau tumbuh kembang anak melalui
pusat-pusat layanan kesehatan yang telah ada di masyarakat seperti Posyandu. Ada
beberapa hal yang nantinya akan didapatkan di Posyandu guna mencegah terjadinya gizi
buruk pada balita seperti pemantauan tumbuh kembangan anak melalui penimbangan
berat badan dan pengukuran tinggi badan anak, pemberian vitamin A serta imunisasi yang
dibutuhkan, informasi mengenai pemberian ASI ekslusif dan makanan-makanan
bernutrisi serta informasi cara penanggulangan gizi buruk pada balita. (Jafar,2008).
Posyandu merupakan kegiatan perwujudan peran serta masyarakat yang dikelola oleh
masyarakat dari masyarakat dan untuk masyarakat dalam mencapai pelayanan kesehatan
yang lebih baik lagi di dalam posyandu terdapat kader-kader kesehatan yang mampu
memberikan edukasi kepada ibu mengenai asuhan gizi pada anak agar dapat memberikan
asupan nutrisi yang tepat supaya terhindar dari gizi buruk.

4. KESIMPULAN
Gizi buruk adalah kondisi kekurangan energi protein berat dalam memenuhi
kebutuhan gizi sehari-hari. Anak di bawah usia lima tahun atau balita merupakan
kelompok anak yang rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi terutama gizi buruk. Hal
tersebut dikarenakan sistem imunitas pada anak yang belum terbentuk secara matang,
pengetahuan orang tua akan asuhan gizi yang tepat masih kurang serta faktor sosio
ekonomi keluarga juga berpengaruh. Berdasarkan laporan dari Departemen Kesehatan
RI, Angka kejadian gizi buruk pada balita di Indonesia mulai mengalami penurunan. Ada
banyak faktor yang dapat mengakibatkan gizi buruk pada balita seperti faktor host, agent,
dan lingkungan.
Gizi buruk pada balita merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia dan dapat
ditanggulangi serta dicegah dengan menjalankan program pemerintah salah satunya
dengan secara rutin memantau KMS (kartu menuju sehat) di Posyandu sehingga angka
kecukupan gizi pada balita dapat terpenuhi.
5. SARAN

17

Semua pihak seperti pemerintah, dinas kesehatan setempat, masyarakat dan


terutama keluarga diharapkan lebih berpartisipasi dan bekerjasama untuk meningkatkan
upaya pencegahan terjadinya gizi kurang pada balita, diantaranya dengan pembinaandan
pemberdayaan keluarga yang memiliki resiko gizi buruk pada balita. Pemberdayaan dan
pembinaan keluarga ini dapat dilakukan oleh puskesmas setempat dengan melibatkan
kader-kader kesehatan dalam melayani kesehatan masayarakat untuk menjalankan
program-program pemerintah dalam rangka menanggulangi kejadian gizi buruk pada
balita..
Selain itu perlu dilakukan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan untuk
memberikan informasi tentang gizi sehingga akan meningkatkan pengetahuan keluarga
khususnya ibu tentang asupan nutrisi, cara pengolahan dan pemilihan bahan makanan
yang baik pada balita dan anak melalui puskesmas dan posyandu.
Masyarakat setempat terutama keluarga sebaiknya jangan hanya mengharapkan
bantuan dari Dinas Kesehatan, melainkan harus bisa mandiri dalam menjaga keadaan
status gizi balita walaupun keadaan ekonomi tidak mencukupi.

18