Anda di halaman 1dari 108

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

Session 1
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AKUNTANSI
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi

Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Imam Buchori (023122001)


Dewi Novita Wulandari (023122009)
Siti Maria (023122011)
Achmad Hafil (023122013)
Randy Putra Benardi (023122041)
Moch. Singgih Permadi (023122045)

Fakultas Ekonomi Kampus A Universitas Trisakti


Jl. Kyai Tapa No.1, Grogol, Jakarta 1140, Telp: (021) 5663232
Season satu
Sejarah dan Perkembangan Akuntansi

1.1.

Pendahuluan
Akuntansi dari waktu ke waktu telah menarik perhatian dari orang-

orang yang memiliki kemampuan intelektual yang tidak perlu dipertanyakan


lagi; ia mampu memberikan pembuktian lewat dirinya sendiri bahwa ia timbul
untuk memenuhi kebutuhan sosial. Fungsinya adalah untuk menunjukan
pertanggungjawaban, untuk mencegah terjadinya kecurangan (fraud), untuk
memandu industri , untuk menetukan ekuitas, untuk memecahkan teka-teki
mendasar di dalam dunia usaha: Berapakah keuntungan yang telah saya
raih?, juga untuk membantu pemerintah di dalam operasi fiskalnya, unutk
memandu manajer bisnis dalam upaya memastikan efisiensi.
Studi mengenai sejarah dan perkembangan akuntansi adalah suatu
hal yang sangat penting di dalam memahami dan menghargai praktik-praktik
yang berlakuk sekarang dan di masa depan, sekaligus sebagai struktur
institusional dari disiplin ilmu itu sendiri.
1.2.
Evolusi Pembukuan Pencatatan Berpasangan (Double Entry)
1.2.1 Sejarah awal akuntansi
Banyak perbedaan Pendapat tentang negara yang

memakai

akuntansi pertama kali, ada sumber sumber yang mengatatakan bahwa


akuntansi ditemukan pertama kali di Negara eropa namun ada juga yang
mengatakan akuntansi ditemukan di Negara Mesir, mengingat bahwa Mesir
adalah negara perdagangan pertama yang selama beberapa masa
menunjukan kejayaan di dunia perdagangan. Pada hakikat nya para pakar
sepakat mengatakan bahwa akuntansi telah ada sejak lama bahkan sejak
adanya kehidupan sosial ekonomi.
Orang orang dahulu sebelum mengenal kertas mereka mencatat
catatan akuntansi pada kulit kayu, kulit hewan. Temuan ini telah ditemukan
sejak lima belas abad yang lalu. Dalam sebuah artikel yang berjudul

Accounting in Ancident Times dikemukakan bahwa Negara di negera mesir


ditemukan ribuan catatan akuntansi dalam kulit kayu.
Pada awal tahun 3200SM telah dikenal dua macam teknik akuntansi,
pertama koin dengan bentuk tertentu disimpan dan ditandai kemudian
dimasukan dalam sebuah amplop. Teknik yang kedua menggunakan token
yang disimpan dalam bentuk yang lebih besar dengan berbagai variasi yang
lebih kompleks. Perbedaan ini memisahkan perbedaan transaksi cash
(Utang, Piutang, dll) dan transaksi noncash (Persediaan, peralatan, Tanah,
dll)
Perkembangan pembukuan di Italia bermula ketika kekaisaran timur
runtuh, sehingga seluruh negeri yang berada di bawahnya, mengambil
kesempatan untuk mengumumkan kemerdekaan mereka termasuk Italia.
Segera pula Italia yang sebelumnya menjadi ruang sidang dunia menjadi
pangkal perdagangan. Pada kisaran tahun 1250 dan 1400, para pedagang
Italia telah berhasil melakukan penggabungan dari berbagai elemen yang
heterogen ke dalam sebuah sistem pengklasifikasian yang terintegrasi yang
disebut rekening/perkiraan/akun dan dikembangkan dengan berdasarkan
pada prinsip dari pencatatan ganda untuk seluruh transaksi. Bahkan
setidaknya di Italia, para pedagangnya pada tahun 1400 telah mulai
menggunakan akuntansi sebagai salah satu alat pengendalian manajemen,
mengembankgan kerangka-kerangka dasar dari akuntansi biaya dengan
memperkenalkan pencadangan dan jenis-jenis penyesuaian lainnya, seperti
akrual dan memberikan perhatian kepada audit atas neraca.

1.2.2 Perkembangan

Pembukuan

Pencatatan

Berpasangan

dan

Kontribusi Luca Pacioli


Perkembangan akuntansi sejalan dengan perkembangan organisasi
dan kegiatan suatu usaha, karena kehadirannya memerlukan pencatatan

sehingga seluruh kegiatan akan tergambar di dalamnya. Pada abad ke-15


seorang ahli Matematika berkebangsaan Italia Luca Paciolo telah menyusun
buku tentang akuntansi dengan judul Tractatus de Cumputis at Scritorio.
Buku

ini

berorientasi

pada

pembukuan

berpasangan.

Pembukuan

berpasangan (double entry bookkeeping) mencatat kedua aspek transaksi


sedemikian rupa yang membentuk suatu pemikiran yang berimbang.
Praktek pencatatan akuntansi dalam arti pencatatan kejadian yang
berhubungan dengan bisnis sudah dimulai sejak adanya kejadian dalam
double entry bookkeeping. Menurut pendapat Mattessich (dalam Harahap,
1997) bahwa double entry sudah ada sejak 5000 tahun yang lalu. Sedangkan
selama ini kita kenal bahwa penemu sistem tata buku berpasangan ini maka
dapat dikemukakan sebagai berikut.
Double entry accounting system telah disepakati para ahli mula-mula
diterbitkan oleh Luca Pacioli dalam bukunya yang berisi 36 bab yang terbit
pada tahun 1949 di Florence, Italia dengan judul Summa de Arithmatica,
Geometrica, Proportioni et Proportionalita yang berisi tentang palajaran ilmu
pasti. Inoue (dalam Harahap, 1997) menyebutkan Orang yang pertama-tama
menulis (bukan menerbitkan seperti Pacioli) tentang

double entry

bookkeeping system adalah Bonedetto Cotrugli pada 1458, 36 tahun


sebelum terbitnya buku Pacioli.
Namun buku Benedetto Cotrugli ini baru terbit pada tahun 1573 atau
89 tahun setelah buku Pacioli terbit. Dengan demikian penjelasan ini maka
pertentangan sebenarnya tidak ada. Jika kita kaji sejarah terutama sejarah
Islam, sebenarnya pada awal pertumbuhannya sudah ada sistem akuntansi.
Akan tetapi, sayangnya literatur belum banyak menganalisis bagaimana rupa
eksistensi akuntansi pada zaman itu ( 570 Masehi). Seperti yang
dikemukakan oleh Russel (dalam Rosjidi, 1999) Sebenarnya orang-orang
Italia dalam abad ke-14 baru menerapkan sistem pembukuan berpasangan
lengkap setelah terlebih dahulu digunakan oleh saudagar-saudagar Muslim
(Moslem Merchants). Revolusi indusrti di Inggris pada tahun 1776 juga

menimbulkan efek positif terhadap perkembangan akuntansi. Pada tahun


1845 undang-undang perusahaan yang pertama di Inggris dikeluarkan untuk
mengatur tentang organisasi dan status perusahaan. Dalam undang-undang
tersebut,

diatur

tentang

kemungkinan

perusahaan

meminjam

uang,

mengeluarkan saham, membayar hutang, dan dapat bertindak sebagaimana


halnya perorangan. Keadaan-keadaan inilah yang menimbulkan perlunya
laporan baik sebagai informasi maupun sebagai pertanggungjawaban.
Dalam upaya untuk menunjukkan bahwa model berpasangan telah
berkembang dengan cara yang sangat mirip dengan ilmu pengetahuan yang
lazim, Cushing menggambarkan secara garis besar rangkaian tahap-tahap
perkembangan sebagai berikut :
1. Sekitar abad ke-16 sedikit perubahan dibuat dalam teknik pemubukuan.
Perubahan yang nyata adalah pengenalan jurnal khusus untuk mencatat tipetipe transaksi yang berbeda.
2. Evolusi praktik laporan keuangan periodic terjadi pada abad 16 dan 17. Pada
masa tersebut juga terjadi evolusi personafikasi akun dan transaksi sebagai
upaya untuk membuat aturan debit dan kredit menjadi masuk akal.
3. Penerapan sistem berpasangan diperluas dalam tipe organisasi lain.
4. Penggunaan akun sediaan yang terpisah untuk tipe barang yang berbeda
terjadi dalam abad ke tujuh belas.
5. Dimulai dengan East India company dalam abad ke-17 dan pertumbuhan
korporasi yang berkelanjutan setelah revolusi industri, akuntansi memperoleh
status yang lebih baik, dicirikan oleh kebutuhan akan akuntansi cost, dan
suatu kepercayaan pada konsep kesinambungan (continuity), periodisasi
(periodicity), dan akrual.
6. Metode perlakuan asset tetap yang dikembangkan sebelum abad ke-18:
Asset dibawa ke periode pada biaya pemerolehan, selain antara pendapatan
pembayaran (revenue) dan penerimaan.
Akun asset, yang berisi catatan pengeluaran awal dan pengeluaran lain dan
penerimaan (termasuk penerimaan dari penjualan bagian asset) ditutup pada

tanggal neraca dan selisih antara total debit dan total kredit di bawa ke
periode berikutnya sebagai saldo akun.
Asset dinilai kembali, naik atau turun, pada tanggal neraca, nilai hasil
penilaian

kembali

dibawa

ke

periode

berikutnya

dan

perbedaan

saldonya(termasuk untung atau rugi penilaian kembali dibawa ke akun profit


dan loss).
7.

Sampai dengan awal ke-19, depresiasi kekayaan, diperlakukan sebagai

barang dagangan yang tidak terjual.

Dalam paruh ke dua dari abad ini,

depresiasi dalam industri kereta api di pandang tidak perlu jika kekayaan
tersebut tidak mengalami kondisi yang memburuk. Meskipun tidak banyak
digunakan, Saliero pada tahun 1915, membuktikan adanya metode
depresiasi berikut garis lurus, metode menurun, sinking fund dan metode
anuitas, dan metode biaya per unit. Hanya setelah tahun 1930-an beban
depresiasi menjadi sesuatu yang umum.
8. Akuntansi Biaya hadir dalam abad ke-19 sebagai akibat revolusi industri.
Akuntansi biaya dimulai pada perusahaan-perusahaan tekstil abad 15.
9. Perkembangan teknik akuntansi untuk pembayaran di muka dan akrual
untuk memungkinkan dilakukan komputasi profit periodik terjadi pada paruh
ke dua abad ke-19.
10. Perkembangan laporan dana terjadi pada paruh kedua abad ke-19 dan
abad

ke-20.

11. Pada abad ke-20 terjadi perkembangan metode-metode akuntansi yang


menyangkut isu-isu kompleks, dari masalah komputasi earning perlembar
saham, akuntansi untuk komputasi bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa guna
jangka panjang dan pensiun, sampai masalah akuntansi yang krusial untuk
produk baru dari rekayasa keuangan.
1.3. Perkembangan Prinsip-Prinsip Akuntansi di Amerika Serikat

Berbagai kelompok yang ada di Amerika Serikat, yang telah


mengimplementasikan gabungan dari bermacam-macam pendekatan, telah
menjadikan teori dan praktik akuntansi sebagai subjek dari pemeriksaan
ulang yang konstan dan analisis yang penting. Perkembangan akuntansi di
Amerika Serikat dikenal dalam 4 tahap sebagai berikut:
1.

Tahap kontribusi manajemen (1900-1933)


Pengaruh manajemen di dalam formulasi prinsip-prinsip akuntansi

muncul dari meningkatnya jumlah pemegang saham dan peranan ekonomi


dominan yang dimainkan oleh perusahaan-perusahaan industri setelah tahun
1900. Pemain utama pada masa itu adalah asosiasi akuntan profesional,
American Institute of Accountans (AIA). Posisi dari AIA atas permintaan dari
Komisi Dagang Federal (Federal Trade Commission-FTC) adalah bahwa
tidak ada biaya penjualan, beban bunga atau beban administrasi di dalam
biaya overhead pabrik. Penentang atas posisi dari Institut ini menghadapi
pernyataan di dalam laporan yang mengatakan diperhitungkannya bunga di
dalam biaya produksi adalah teori yang tidak berdasar dan salah, dan dapat
dikatakan mustahil (absurd) di dalam praktiknya. Pihak yang menentang pun
mengalami kekalahan. Kejadian penting yang lain dimasa itu adalah
meningkatnya dampak dari teori akuntansi terhadap perpajakan atas laba
usaha. Meskipun Undang-Undang pendapatan tahun 1913 telah memberikan
dasar kalkulasi laba kena pajak dengan dasar penerimaan dan pengeluaran
kas, Undang-Undang tahun 1918 adalah yang pertama mengakui peranan
dari prosedur akuntansi di dalam penentuan laba kena pajak.
2.

Tahap kontribusi institusi (1933-1959)


1. Pada tahun 1934, Kongres menciptakan SEC dengan tugas untuk

mengelola beragam hukum-hukum investasi federal, termasuk UndangUndang Sekuritas pada tahun 1933 yang mengatur penerbitan sekuritas di

pasar-pasar antarnegara bagian dan Undang-undang Sekuritas tahun 1934


yang mengatur perdagangan sekuritas.
2. Setelah publikasi yang dilakukan oleh Ripley di dalam satu artikel
yang

mengkritik

teknik-teknik

pelaporan

sebagai

sesuatu

yang

memperdayakan, George O. May, kebangsaan Inggris, mengusulkan agar


Institut Akuntan Publik Bersertifikat Amerika (American Institute of Certified
Public Accountant-AICPA) memulai sebuah usaha kerja sama dengan bursa
efek. Sebagai akibatnya, Komite Khusus dari AICPA melalui kerja sama
dengan Bursa Efek menyarankan solusi umum berikut ini : Alternatif yang
lebih pratikal adalah membiarkan setiap perusahaan untuk bebas memilih
metode-metode akuntansinya sendiri di dalam batasan yang sangat luas
namun

mengharuskan

adanya

pengungkapan

dari

metode

yang

dipergunakan dan konsistensi pengaplikasiannya dari tahun ke tahun..


Sebagai tambahan, Komite mengusulkan percobaan resminya yang pertama
untuk mengembangkan teknik-teknik akuntansi yang berlaku umum. Dikenal
sebagai prinsip-prinsip umum (board principles).
3. Setelah diterbitkannya ASR No. 4 oleh SEC, yang menantang
profesi akuntan untuk memberikan dukungan substansial dari yang
berwenang bagi prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku, dan meningkatnya
kecaman dari Asosiasi Akuntansi Amerika (American Accounting Association)
dan para anggotanya yang baru saja dibentuk, Institut selanjutnya di tahun
1938 memutuskan memberikan kuasa kepada Komite Prosedur Akuntansi
(Committee Accounting Procedure-CAP) untuk mengumumkan keputusannya
3.

Fase kontribusi professional (1953-1973)


Komite Khusus tentang Program Riset mengusulkan pembubaran CAP

dan departemennya yang diterima oleh AICPA dan kemudian didirikan


Accounting Principle Board (APB) dan The Accounting Research Division
(ARD) untuk meneliti tentang isu-isu yang merupakan prinsip-prinsip

akuntansi yang diterima umum. APB kemudian menerbitkan berbagai


pendapat untuk membahas isu-isu kontroversial , namun upaya tersebut tidak
berhasil sehingga APB diserang dan dikritik karena opini yang bersifat
kontroversial termasuk tentang akuntansi pensiun, alokasi pajak penghasilan,
kredit pajak investasi, akuntansi untuk penggabungan usaha dan goodwill
4.

Tahap politisasi (1973-sekarang)


Keterbatasan

asosiasi

professional

dan

manajemen

dalam

merumuskan teori akuntansi mendorong diadopsinya pendekatan yang lebih


deduktif dan politis. Dalam situasi tersebut FASB mengindikasikan proses
penetapan standar akuntansi sebagai proses demokratik. Proses penetapan
standar akuntansi tidak hanya didasarkan kebutuhan pemakai tetapi juga
mempertimbangkan beberapa perspektif yang dapat mempresentasikan
seluruh konstituensi. Juga ditekankan agar Pemerintah federal dan Kongres
harus berada pada kepentingan umum dengan mempertahankan dan
meningkatkan akuntabilitasnya dimata publik.
1.4.

Akuntansi dan Kapitalisme


Akuntansi seolah dua sisi mata uang yaitu selain terbentuk dan

berkembang

dari

mempengaruhi

lingkungannya,

namun

juga

mempunyai

efek

dan membentuk lingkungannya. Akuntansi konvensional

yang merupakan satu subsistem dari makro sistem ekonomi kapitalis secara
langsung maupun tidak langsung menjadikan kapitalis berkembang dan
menempati kemapanan eksistensi seperti sekarang ini. Triyuwono (1996,44)
mengemukakan:
Akuntansi sebagaimana dikenal dalam masyarakat umum, adalah
suatu media yang disediakan untuk memberikan informasi dari sebuah
entitas bisnis bagi pihak-pihak dalam pengambilan keputusan-keputusan

ekonomi . . . di mana akuntansi mampu memberikan kontribusi yang besar


bagi perkembangan sistem ekonomi kapitalis (Triyuwono, 1996:44).
Akuntansi dan kapitalisme oleh beberapa ahli sejarah ekonomi telah
dikaitkan dengan klaim umum bahwa sistem tatabuku berpasangan (doubleentry bookkeeping) merupakan suatu hal yang sangat penting bagi
perkembangan dan evolusi kapitalisme.

Weber (1930) mengemukakan

argumennya, yakni:
Organisasi industrial yang rasional, yang terbiasa dengan pasar
teratur, bukannya dengan kesempatan-kesempatan politis atau spekulatif
irasional demi mengejar keuntungan, bagaimanapun bukan merupakan satusatunya ciri kapitalisme Barat. Pengorganisasian secara rasional modern
atas usaha kapitalistik tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya dua faktor
penting dalam perkembangannya: pemisahan bisnis dari rumah tangga yang
mendominasi

sepenuhnya

kehidupan

ekonomik

modern

dan,

yang

berhubungan erat dengan itu, pembukuan yang rasional . . . (Andreski,


1996:22).
Alasan utama untuk itu adalah adanya persyaratan yang tidak bisa
ditinggalkan bagi kebebasan ini, yaitu: tata buku bisnis yang rasional dan
pemisahan

secara

legal/sah

atas

milik

usaha

dengan

milik

pribadi/perorangan, sama sekali tidak ada, atau baru saja berkembang.


Tesis ini diperluas oleh Sombart (1915) sebagai berikut:
Seseorang tidak dapat membayangkan akan seperti apa kapitalisme
tanpa sistem pembukuan berpasangan: kedua fenomena tersebut saling
terkait secara intim seperti bentuk dan isi. Seseorang tidak dapat
mengatakan

apakah

kapitalisme

menciptakan

sistem

pembukuan

berpasangan sebagai alat dalam ekspansinya; atau mungkin, sebaliknya,


sistem

pembukuan

2000:12).

berpasangan

menciptakan

kapitalisme

(Belkaoui,

Lebih lanjut Belkaoui (2000, 13) menjelaskan kaitan antara akuntansi


dan kapitalisme ini dikenal dengan tesis Sombart atau argumen Sombart.
Tesis ini menunjukkan bahwa tansformasi aset menjadi nilai abstrak dan
ekspresi kuantitatif hasil aktivitas usaha, akuntansi sistematik dalam bentuk
pembukuan berpasangan memungkinkan: pertama, pengusaha kapitalistik
untuk merencanakan, mengatur dan mengukur dampak aktivitasnya; dan
kedua,

untuk

pemisahan

pemilik

dan

memungkinkan pertumbuhan korporasi.

usaha

itu

sendiri,

sehingga

Empat alasan berikut menurut

James O. Winjum (1971) secara umum dikemukakan untuk menjelaskan


peran pembukuan berpasangan dalam ekspansi ekonomi yang terjadi setelah
abad pertengahan:
1. Pembukuan berpasangan menyumbang sikap baru dalam kehidupan
ekonomi. Tujuan pokok perusahaan abad pertengahan yang lama
digantikan oleh tujuan kapitalistik untuk memperoleh profit. Semangat
akuisisi (spirit of acquisition) dikembangkan dan didorong. Sistem
pembukuan

berpasangan

mengilhami

pencarian

profit.

Tujuan

perusahaan dapat ditempatkan dalam bentuk yang spesifik dan


konsep modal dimungkinkan.
2. Spirit akuisisi yang baru tersebut dibantu dan didorong oleh perbaikan
kalkulasi ekonomik. Penggunaan sistem terpadu akun yang saling
terkait memungkinkan pengusaha mengejar profit secara rasional.
Rasionalisasi sekarang dapat didasarkan pada kalkulasi yang cermat.
Kondisi ekonomi sekarang dapat segera ditentukan dan rencana yang
rasional untuk operasi masa depan dapat dikembangkan.
3. Rasionalisme baru ini selanjutnya ditingkatkan oleh organisasi yang
sistematik. Pembukuan yang sistematik mengembangkan keteraturan
dalam

akun

dan

organisasi

perusahaan.

Sifat

yang

dualitas

memungkinkan pengecekan akurasi; mekanisasi dan objektivitasnya

memungkinkan pencatatan kegiatan usaha secara teratur dan


berkesinambung. Sistem ini adalah sistem kalsifikasi yang unik.
4. Sistem

pembukuan

berpasangan

memungkinkan

pemisahan

kepemilikan dan manajemen sehingga mendorong pertumbuhan


perusahaan patungan yang besar. Pemisahan aset usaha dan aset
pribadi, memungkinkan perusahaan berdiri sendiri (autonomous).
Teknik pembukuan berpasangan yang terstandarisasi membuat
komunikasi dapat dipahami oleh banyak pihak tidak hanya oleh pemilik
yang menjadi pengelola (owner manager) dan pembukuannya
(Belkaoui, 2000: 13).
Tesis tersebut tidak mengejutkan, karena diturunkan dari kesimpulan
umum pada waktu itu bahwa pertukaran (trade) merupakan konsekuensi
alamiah dari pengadopsian sistem tatbuku berpasangan. Apakah sistem
berpasangan dalam akuntansi sistematik sangat diperlukan bagi suksesnya
perusahaan komersial tidak mudah ditentukan. Meskipun mungkin untuk
memperoleh pernyataan-pernyataan tentang keutamaan pembukuan, bukti
historis yang disediakan Yamey (1964) mengindikasikan bahwa pengusaha
abad ke 16 sampai 18 tidak menggunakan sistem tatabuku berpasangan
untuk mengikuti perkembangan profit dan modal, tetapi sekedar sebagai
catatan akuntansi. Dia menyatakan:
. . . Fungsi sistem pembukuan berpasangan tidak lebih dari menyediakan
suatu kerangka agar dapat dicocokkan, disusun, dikelompokkan, dan
dikelompokkan kembali.

Sistem berpasangan tidak dengan sendirinya

menentukan rentang data yang harus dimasukkan dalam setting tertentu,


tidak juga menentukan pola menentukan pola pengurutan internal dan
pengurutan kembali data (Belkaoui, 2000:13).
Selanjutnya dia juga menyatakan bahwa:

1. Pembukuan berpasangan tidak diperlukan untuk menetukan profit dan


modal.
2. Pembukuan berpasangan hanya berguna untuk masalah-masalah
rutin, dan
3. Pembukuan berpasangan tidak berguna untuk pemilihan peluang yang
tersedia bagi pengusaha (Belkaoui 2000, 13) .
Perbedaan antara Sombart dan Yamey pada dasarnya terletak pada
interpretasi

atas

signifikansi

teknik

pembukuan

berpasangan

dan

penggunaan awal catatan tatabuku berpasangan.


1.5.

Relevansi Sejarah Akuntansi


Sejarah akuntansi adalah studi atas evolusi yang terjadi pada

pemikiran, praktik-praktik dan institusi akuntansi sebagai respon dari


perubahan-perubahan lingkungan dan kebutuhan sosial. Hal ini juga
memperhitungkan dampak yang ditimbulkan oleh evolusi tersebut pada
lingkungan.(Committee on Accounting History Report of the Committee, The
Accounting Review (Suplemen untuk Vol. XLV, 1920), hal.53)
Sejarah akuntansi penting bagi pedagogi, kebijakan, dan praktik
akuntansi. Berkaitan dengan pedagogi, sejarah akuntansi dapat sangat
berguna utnuk memberikan pemahaman dan apresiasi yang lebih baik
mengenai bidang akuntansi dan evolusinya sebagai salah satu ilmu sosial.
Dalam kaitannya dengan perspektif kebijakan, sejarah akuntansi melakukan
peran yang instrumental dalam memberikan pemahaman yang lebih baik
atas permasalahan-permasalahan akuntansi dan konteks institusionalnya,
sekaligus juga dalam formulasi ekbijakan umum. Berkaitan dengan praktik,
sejarah akuntansi dapat memberikan penialaian yang lebih baik atas praktikpraktik yang berlaku dengan melakukan perandingan terhadap metodemetode yang pernah digunakan di masa lalu.

1.6 Sejarah Akuntansi di Indonesia

Akuntansi sebenarnya sudah ada sejak manusia mulai dapat


menghitung dan membuat suatu catatan, dengan menggunakan batu, kayu,
bahkan daun. Pada abad ke15, terjadilah perkembangan dan perluasan
perdagangan

oleh

pedagang-pedagang

Venesia.

Perkembangan

perdagangan ini menyebabkan diperlukannya suatu sistem pencatatan yang


lebih baik sehingga dengan demikian akuntansi mulai berkembang.

Pada akhir abad XV, sejalan dengan menurunnya pengaruh Romawi,


pusat perdagangan bergeser ke Spanyol, Portugis, dan Belanda. Akibatnya,
sistem akuntansi yang telah dikembangkan Romawi juga ikut berpindah dan
digunakan di negara-negara tersebut. Sejak itu perhitungan rugi laba mulai
dibuat secara tahunan yang kemudian mendorong dikembangkannya
penyusunan neraca secara rutin pada akhir jangka waktu tertentu.

Pada abad XIX revolusi industri di Eropa mendorong berkembangnya


akuntansi biaya dan konsep penyusutan. Pada tahun 1930, New York Slock
Exchange dan American Institute of Certied Public Accountant membahas
dan menetapkan prinsip-prinsip akuntansi bagi perusahaan-perusahaan yang
sahamnya terdaftar di bursa saham.

Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusur pada era penjajahan


Belanda sekitar 17 atau sekitar tahun 1642. Jejak yang jelas berkaitan
dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747, yaitu

praktik

pembukuan

yang

dilaksanakan

Amphioen

Sociteyt

yang

berkedudukan di Jakarta.

Pada era ini Belanda mengenalkan sistem pembukuan berpasangan


(double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh Luca
Pacioli. Sistem ini diperkenalkan oleh Luca Pacioli bersama Leonardo da
Vinci, dan sudah dipakai untuk melakukan pencatatan upah sejak zaman
Babilonia. Sistem Kontinetal merupakan pencatatan semua transaksi ke
dalam dua bagian, yaitu debit dan kredit secara seimbang dan menghasilkan
pembukuan yang sistematis serta laporan keuangan yang terpadu. Dengan
menggunakan sistem ini perusahaan mendapatkan gambaran tentang laba
rugi usaha, kekayaan perusahaan, serta hak pemilik.

Perusahaan VOC milik Belanda-yang merupakan organisasi komersial


utama selama masa penjajahan memainkan peranan penting dalam praktik
bisnis di Indonesia selama era ini.

Kegiatan ekonomi pada masa penjajahan meningkat cepat selama


tahun

1800an

dan

awal

tahun

1900an.

Hal

ini

ditandai

dengan

dihapuskannya tanam paksa sehingga pengusaha Belanda banyak yang


menanamkan modalnya di Indonesia. Peningkatan kegiatan ekonomi
mendorong munculnya permintaan akan tenaga akuntan dan juru buku yang
terlatih. Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan di Indonesia pada tahun
1907. Peluang terhadap kebutuhan audit ini akhirnya diambil oleh akuntan
Belanda dan Inggris yang masuk ke Indonesia untuk membantu kegiatan
administrasi di perusahaan tekstil dan perusahaan manufaktur.

Internal auditor yang pertama kali datang di Indonesia adalah J.W


Labrijn yang sudah berada di Indonesia pada tahun 1896 dan orang pertama
yang melaksanakan pekerjaan audit (menyusun dan mengontrol pembukuan
perusahaan) adalah Van Schagen yang dikirim ke Indonesia pada tahun
1907.

Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan


Akuntan Negara Government Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun
1915.
Akuntan publik yang pertama adalah Frese & Hogeweg yang
mendirikan kantor di Indonesia pada tahun 1918. Pendirian kantor ini diikuti
kantor akuntan yang lain yaitu kantor akuntan H.Y.Voerens pada tahun 1920
dan pendirian Jawatan Akuntan Pajak Belasting Accountant Dienst. Pada era
penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan publik.

Orang Indonesa pertama yang bekerja di bidang akuntansi adalah JD


Massie, yang diangkat sebagai pemegang buku pada Jawatan Akuntan Pajak
pada tanggal 21 September 1929. Kesempatan bagi akuntan lokal
(Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945, dengan mundurnya
Belanda dari Indonesia.

Pada tahun 1947 hanya ada satu orang akuntan yang berbangsa
Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari. Praktik akuntansi model Belanda masih
digunakan selama era setelah kemerdekaan (1950an). Pendidikan dan
pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model Belanda.

Nasionalisasi atas perusahaan yang dimiliki Belanda dan pindahnya orang


orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan kelangkaan
akuntan dan tenaga ahli. Atas dasar nasionalisasi dan kelangkaan akuntan,
Indonesia pada akhirnya berpaling ke praktik akuntansi model Amerika.
Namun demikian, pada era ini praktik akuntansi model Amerika mampu
berbaur dengan akuntansi model Belanda, terutama yang terjadi di lembaga
pemerintah. Makin meningkatnya jumlah institusi pendidikan tinggi yang
menawarkan pendidikan akuntansi, seperti pembukaan jurusan akuntansi di
Universitas Indonesia 1952, Institute Ilmu Keuangan (Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara-STAN) 1990, Univesitas Padjajaran 1961, Universitas
Sumatera Utara 1962, Universitas Airlangga 1962 dan Universitas Gadjah
Mada 1964, telah mendorong pergantian praktik akuntansi model Belanda
dengan model Amerika pada tahun 1960.

Selanjutnya, pada tahun 1970 semua lembaga harus mengadopsi


sistem akuntansi model Amerika. Pada pertengahan tahun 1980an,
sekelompok tehnokrat muncul dan memiliki kepedulian terhadap reformasi
ekonomi dan akuntansi. Kelompok tersebut berusaha untuk menciptakan
ekonomi yang lebih kompetitif dan lebih berorientasi pada pasar dengan
dukungan praktik akuntansi yang baik. Kebijakan kelompok tersebut
memperoleh dukungan yang kuat dari investor asing dan lembaga-lembaga
internasional. Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan reformasi
akuntansi tahun 1980an dan awal 1990an, dalam praktik banyak ditemui
perusahaan yang memiliki tiga jenis pembukuan satu untuk menunjukkan
gambaran sebenarnya dari perusahaan dan untuk dasar pengambilan
keputusan; satu untuk menunjukkan hasil yang positif dengan maksud agar
dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman/kredit dari bank domestik dan
asing; dan satu lagi yang menjukkan hasil negatif (rugi) untuk tujuan pajak.

Pada awal tahun 1990an, tekanan untuk memperbaiki kualitas


pelaporan keuangan muncul seiring dengan terjadinya berbagai skandal
pelaporan keuangan yang dapat mempengaruhi kepercayaan dan perilaku
investor.
Skandal pertama adalah kasus Bank Duta (bank swasta yang dimiliki
oleh tiga yayasan yang dikendalikan presiden Suharto). Bank Duta go public
pada tahun 1990 tetapi gagal mengungkapkan kerugian yang jumlah besar.
Bank Duta juga tidak menginformasi semua informasi kepada Bapepam,
auditornya atau underwriternya tentang masalah tersebut. Celakanya, auditor
Bank Duta mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian. Kasus ini diikuti
oleh kasus Plaza Indonesia Realty (pertengahan 1992) dan Barito Pacific
Timber (1993). Rosser (1999) mengatakan bahwa bagi pemerintah
Indonesia, kualitas pelaporan keuangan harus diperbaiki jika memang
pemerintah menginginkan adanya transformasi pasar modal dari model
casino menjadi model yang dapat memobilisasi aliran investas jangka
panjang.
Berbagai skandal tersebut telah mendorong pemerintah dan badan
berwenang untuk mengeluarkan kebijakan regulasi yang ketat berkaitan
dengan pelaporan keuangan. Pertama, pada September 1994, pemerintah
melalui IAI mengadopsi seperangkat standar akuntansi keuangan, yang
dikenal dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Kedua,
Pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia (World Bank) melaksanakan
Proyek Pengembangan Akuntansi yang ditujukan untuk mengembangkan
regulasi akuntansi dan melatih profesi akuntansi. Ketiga, pada tahun 1995,
pemerintah membuat berbagai aturan berkaitan dengan akuntansi dalam
Undang Undang Perseroan Terbatas. Keempat, pada tahun 1995 pemerintah
memasukkan aspek akuntansi/pelaporan keuangan kedalam UndangUndang Pasar Modal.

Jatuhnya nilai rupiah pada tahun 1997-1998 makin meningkatkan


tekanan pada pemerintah untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan.
Sampai awal 1998, kebangkrutan konglomarat, collapse nya system
perbankan, meningkatnya inflasi dan pengangguran memaksa pemerintah
bekerja sama dengan IMF dan melakukan negosiasi atas berbagaai paket
penyelamat yang ditawarkan IMF. Pada waktu ini, kesalahan secara tidak
langsung diarahkan pada buruknya praktik akuntansi dan rendahnya kualitas
keterbukaan informasi (transparency).
1.7 Perkembangan Akuntansi Di Indonesia
Perkembangan akuntansi di Indonesia, pada mulanya menganut
sistem kontinental, sama seperti yang di pakai Belanda. Sistem kontinental
ini, yang di sebut juga Tata Buku atau Pembukuan, yang sebenarnya tidak
sama dengan akuntansi, karena Tata Buku (Bookkeeping) adalah elemen
prosedural dari akuntansi sebagaimana aritmatika adalah elemen prosedural
dari matematika.
Selain itu, terletak perbedaan antara tata buku dengan Akuntansi,
yakni

Tata Buku (Bookkeeping): menyangkut kegiatankegiatan proses akuntansi


seperti pencatatan, peringkasan, penggolongan, dan aktivitas aktivitas lain
yang bertujuan untuk menghasilkan informasi akuntansi yang berdasarkan
pada data.
Akuntansi (Accounting): menyangkut kegiatankegiatan analisis dan
interprestasi berdasarkan informasi akuntansi.

Pertengahan abad ke18, terjadi Revolusi Industri di Inggris yang


mendorong pula perkembangan akuntansi. Pada waktu itu, para manajer
pabrik, misalnya ingin mengetahui biaya produksinya. Dengan mengetahui
berapa besar biaya produksi, mereka dapat mengawasi efektivitas proses
produksi dan menetapkan harga jual. Sejalan dengan itu, berkembanglah
akuntansi dalam bidang khusus, yaitu akuntansi biaya yang memfokuskan
diri

pada

pencatatan

biaya

produksidan

penyediaan

informasi

bagi

manajemen. Revolusi Industri mengakibatkan perkembangan akuntansi


semakin pesat sehingga menyebar sampai ke Benua Amerika, khususnya di
Amerika Serikat dan melahirkan sistem Anglo Saxon. Seiring perkembangan,
selanjutnya tata buku mulai di tinggalkan orang. Di Indonesia, orang atau
perusahaan semakin banyak menerapkan sistem akuntansi Anglo Saxon
yang

berasal

dari

Amerika,

dan

ini

di

sebabkan

oleh

Pada tahun 1957, Adanya konfrontasi Irian Barat antara Indonesia


Belanda yang membuat seluruh pelajar Indonesia yang sekolah di Belanda di
tarik kembali dan dapat melanjutkan kembali studinya di berbagai Negara
(termasuk Amerika), terkecuali negara Belanda.
Hampir sebagian besar mereka yang berperan dalam kegiatan
pengembangan akuntansi menyelesaikan pendidikannya di Amerika, dan
menerapkan system akuntansi Anglo Saxon di Indonesia. Sehingga sistem ini
lebih dominan di gunakan daripada sistem

Kontinental / Tata buku di

Indonesia.
Dengan adanya sistem akuntansi Anglo Saxon, Penanaman Modal
Asing (PMA) di Indonesia membawa dampak positif terhadap perkembangan
akuntansi.
Selain itu, terdapat beberapa perbedaan istilah antara tata buku dan
akuntansi, yaitu :

-Istilah

perkiraan,

-Istilah

neraca

laju,

menjadi
menjadi

kertas

akun;
kerja

-dan lain lain.

Di Indonesia, Komite Prinsip Akuntansi (KPA) merumuskan Standar


Akuntansi untuk di sahkan oleh Pengawas Pusat Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI) sebagai Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan berfungsi untuk
menyesuaikan dan menyusun laporan keuangan yang di keluarkan oleh
pihak ekstern. Sejalan dengan perkembangan ekonomi, hubungan dagang
antarnegara pada masa masa kerajaan di masa lalu seperti Majapahit,
Mataram, Sriwijaya, menjadi pintu masuk akuntansi dari negara lain ke
Indonesia.
Meskipun demikian, belum terdapat penelitian yang memadai
mengenai sejarah akuntansi di Indonesia. Masa perkembangan akuntansi di
Indonesia

secara

garis

besar

dapat

dibagi

menjadi

dua,

yaitu:

1.7.1 Masa Penjajahan Belanda dan Jepang


Kedatangan bangsa Belanda di Indonesia akhir abad ke-16 awalnya
untuk berdagang, kemudian Belanda membentuk perserikatan maskapai
Belanda yang dikenal dengan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).
Pada tahun 1602, terjadi peleburan 14 maskapai yang beroperasi di Hindia
Timur, yang selanjutnya di tahun 1619 membuka cabang di Batavia dan kotakota lainnya di Indonesia. Perjalanan VOC ini berakhir pada tahun 1799 dan
setelah VOC dibubarkan, kekuasaan diambil alih oleh Kerajaan Belanda.
Sejak masa itulah mulai tumbuh perusahaan perusahaan Belanda di

Indonesia. Catatan pembukuan saat itu menekankan pada mekanisme debit


dan kredit berdasarkan praktik dagang yang semata-mata untuk kepentingan
perusahaan Belanda. Pada masa ini, sektor us aha kecil dan menengah
umumnya dikuasai oieh masyarakat Cina, India, dan Arab yang praktik
akuntansinya menggunakan atau dipengaruhi oieh sistem dari negara
mereka masing-masing. Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 sampai
1945, system akuntansi tidak banyak mengalami perubahan, yaitu tetap
menggunakan pola Belanda.

1.7.2 Masa Kemerdekaan


Sistem akuntansi yang beriaku di Indonesia mengikuti sejarah masa
lampau dari masa kolonial Belanda, maka sistem akuntansinya mengikuti
akuntansi Belanda yang dikenal dengan Sistem Tata Buku. Sistem Tata Buku
ini merupakan subsistem akuntansi atau hanya merupakan metode
pencatatan. Setelah masa penjajahan Belanda berakhir dan masuk ke dalam
masa kemerdekaan, banyak perusahaan milik Belanda yang dirasionalisasi
yang diikuti pula dengan masuknya berbagai investor asing, terutama
Amerika Serikat. Para investor tersebut memperkenalkan system akuntansi
Amerika Serikat ke Indonesia.
Adanya perubahan lingkungan global yang semakin menyatukan
hampir seluruh negara di dunia dalam komunitas tunggal, yang dijembatani
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin murah,
menuntut adanya transparansi di segala bidang. Standar akuntansi keuangan
yang berkualitas merupakan salah satu prasarana penting untuk mewujudkan
transparasi tersebut.

Standar akuntansi keuangan dapat diibaratkan sebagai sebuah


cermin, di mana cermin yang baik akan mampu menggambarkan kondisi
praktis bisnis yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengembangan standar
akuntansi keuangan yang baik, sangat relevan dan mutlak diperlukan pada
masa sekarang ini.
Terkait hal tersebut, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah
profesi akuntansi di Indonesia selalu tanggap terhadap perkembangan yang
terjadi, khususnya dalam hal-hal yang memengaruhi dunia usaha dan profesi
akuntan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika kegiatan pengembangan standar
akuntansi sejak berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini. Setidaknya,
terdapat tiga tonggak sejarah dalam pengembangan standar akuntansi
keuangan di Indonesia.
Tonggak sejarah pertama, menjelang diaktifkannya pasar modal di
Indonesia pada tahun 1973. Pada masa itu merupakan pertama kalinya IAI
melakukan kodifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia
dalam suatu buku Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI). Kemudian, tonggak
sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa itu, komite PAI melakukan
revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian mengkondifikasikannya alam
buku Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 dengan tujuan untuk menyesuaikan
ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia usaha. Berikutnya pada
tahun 1994, IAI kembali melakukan revisi total terhadap PAI 1984 dan
melakukan kodifikasi dalam buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per 1
Oktober 1994. Sejak tahun 1994, IAI juga telah memutuskan untuk
melakukan harmonisasi dengan standar akuntansi internasional dalam
pengembangan

standarnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi perubahan dari harmonisasi

ke adaptasi, kemudian menjadi adopsi dalam rangka konvergensi dengan


International Financial Reporting Standards (IFRS). Program adopsi penuh
dalam rangka mencapai konvergensi dengan IFRS direncanakan dapat
terlaksana dalam beberapa tahun ke depan. Dalam perkembangannya,
standar akuntansi keuangan terus direvisi secara berkesinambungan, baik
berupa berupa penyempurnaan maupun penambahan standar baru sejak
tahun 1994. Proses revisi telah dilakukan enam kali, yaitu pada tanggal 1
Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004, dan 1
September 2007. Buku Standar Akuntansi Keuangan per 1 September 2007
ini di dalamnya sudah bertambah dibandingkan revisi sebelumnya yaitu
tambahan KDPPLK Syariah, 6 PSAK baru, dan 5 PSAK revisi. Secara garis
besar, sekarang ini terdapat 2 KDPPLK, 62 PSAK, dan 7 ISAK. Untuk dapat
menghasilkan standar akuntansi keuangan yang baik, maka badan
penyusunnya terus dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan
kebutuhan. Awalnya, cikal bakal badan penyusun standar akuntansi adalah
Panitia Penghimpunan Bahan-bahan dan Struktur dari GAAP dan GAAS
yang dibentuk pada tahun 1973.
Pada tahun 1974 dibentuk Komite Prinsip Akuntansi Indonesia PAI)
yang bertugas menyusun dan mengembangkan standar akuntansi keuangan.
Komite PAI telah bertugas selama empat periode kepengurusan IAI sejak
tahun 1974 hingga 1994 dengan susunan personel yang terus diperbarui.
Selanjutnya, pada periode kepengurusan IAI tahun 1994-1998 nama Komite
PAI diubah menjadi Komite Standar Akuntansi Keuangan (Komite SAK).
Kemudian, pada Kongres VIII IAI tanggal 23-24 September 1998 di Jakarta,
Komite SAK diubah kembali menjadi Dewan Standar Akuntansi Keuangan
(DSAK) dengan diberikan otonomi untuk menyusun dan mengesahkan PSAK
dan ISAK. Selain itu, juga telah dibentuk Komite Akuntansi Syariah (KAS) dan
Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan (DKSAK). Komite Akuntansi

Syariah (KAS) dibentuk tanggal 18 Oktober 2005 untuk menopang


kelancaran kegiatan penyusunan PSAK yang terkait dengan perlakuan
akuntansi transaksi syariah yang dilakukan oleh DSAK. Sedangkan DKSAK
yang anggotanya terdiri atas profesi akuntan dan luar profesi akuntan, yang
mewakili para pengguna, merupakan mitra DSAK dalam merumuskan arah
dan pengembangan SAK di Indonesia.
Ada juga pendapat yang lain mengtakan bahwa perkembangan standar
akuntansi keuangan di Indonesia yang terbaru mengadopsi IFRS ke PSAK,
kronologis kejadian dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut :
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) telah membentuk Komite Prinsipprinsip Akuntansi Indonesia untuk menetapkan standar-standar akuntansi,
yang kemudian dikenal dengan Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).
(Terjadi pada periode 1973-1984). Komite PAI melakukan revisi secara
mendasar PAI 1973 dan kemudian menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia
1984 (PAI 1984). Menjelang akhir 1994, Komite standar akuntansi memulai
suatu

revisi

besar

atas

prinsip-prinsip

akuntansi

Indonesia

dengan

mengumumkan pernyataan-pernyataan standar akuntansi tambahan dan


menerbitkan interpretasi atas standar tersebut. Revisi tersebut menghasilkan
35 pernyataan standar akuntansi keuangan, yang sebagian besar harmonis
dengan IAS yang dikeluarkan oleh IASB. (Terjadi pada periode 1984-1994)
Ada perubahan Kiblat dari US GAAP ke IFRS, hal ini ditunjukkan Sejak tahun
1994, telah menjadi kebijakan dari Komite Standar Akuntansi Keuangan
untuk menggunakan International Accounting Standards sebagai dasar untuk
membangun standar akuntansi keuangan Indonesia. Dan pada tahun 1995,
IAI melakukan revisi besar untuk menerapkan standar-standar akuntansi
baru, yang kebanyakan konsisten dengan IAS. Beberapa standar diadopsi
dari US GAAP dan lainnya dibuat sendiri. (Terjadi pada periode 1994-2004).
Merupakan konvergensi IFRS Tahap 1, Sejak tahun 1995 sampai tahun 2010,

buku

Standar

Akuntansi

Keuangan

(SAK)

terus

direvisi

secara

berkesinambungan, baik berupa penyempurnaan maupun penambahan


standar baru. Proses revisi dilakukan sebanyak enam kali yakni pada tanggal
1 Oktober 1995, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004, 1 Juni 2006, 1
September 2007, dan versi 1 Juli 2009. Pada tahun 2006 dalam kongres IAI
(Cek Lagi nanti) X di Jakarta ditetapkan bahwa konvergensi penuh IFRS
akan diselesaikan pada tahun 2008. Target ketika itu adalah taat penuh
dengan semua standar IFRS pada tahun 2008.
Namun dalam perjalanannya ternyata tidak mudah. Sampai akhir tahun 2008
jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS dari total 33
standar. (terjadi pada periode 2006-2008)
1.8 Standar Akuntansi Internasional di Indonesia
Berikut adalah perkembangan standar akuntansi Indonesia mulai dari
awal sampai dengan saat ini yang menuju konvergensi dengan IFRS
(Sumber: Ikatan Akuntan Indonesia, 2008) di Indonesia selama dalam
penjajahan Belanda, tidak ada standar Akuntansi yang dipakai. Indonesia
memakai standar (Sound Business Practices) gaya Belanda sampai Tahun
1955 : Indonesia belum mempunyai undang undang resmi / peraturan
tentang standar keuangan.
Tahun. 1974 : Indonesia mengikuti standar Akuntansi Amerika yang dibuat
oleh IAI yang disebut dengan prinsip Akuntansi.
Tahun. 1984 : Prinsip Akuntansi di Indonesia ditetapkan menjadi standar
Akuntansi.
Akhir Tahun 1984 : Standar Akuntansi di Indonesia mengikuti standar yang

bersumber dari

IASC

(International Accounting

Standart

Committee)

Sejak Tahun. 1994 : IAI sudah committed mengikuti IASC / IFRS.


Tahun 2008 : diharapkan perbedaan PSAK dengan IFRS akan dapat
diselesaikan.
Tahun 2012 : ikut IFRS sepenuhnya?
Asas Standar akuntansi di Indonesia yang berlaku saat ini mengacu
pada US GAAP (United Stated Generally Accepted Accounting Standard),
namun pada beberapa pasal sudah mengadopsi IFRS yang sifatnya
harmonisasi. Adopsi yang dilakukan Indonesia saat ini sifatnya belum
menyeluruh, baru sebagian (harmonisasi). Di era globalisasi saat ini
menuntut

adanya

suatu

sistem

akuntansi

internasional

yang

dapat

diberlakukan secara internasional di setiap negara, atau diperlukan adanya


harmonisasi terhadap standar akuntansi internasional. Namun proses
harmonisasi ini memiliki hambatan antaralain nasionalisme dan budaya tiaptiap negara, perbedaan system pemerintahan pada tiap-tiap negara,
perbedaan

kepentingan

antara

perusahaan

multinasional

dengan

perusahaan nasional yang sangat mempengaruhi proses harmonisasi antar


negara,

serta

tingginya

biaya

untuk

merubah

prinsip

akuntansi.

Pesatnya teknologi informasi ini merupakan akses bagi banyak investor untuk
memasuki pasar modal di seluruh dunia, Kebutuhan ini tidak bisa terpenuhi
apabila perusahaan-perusahaan masih memakai prinsip pelaporan keuangan
yang berbeda-beda. Amerika memakai FASB dan US GAAP, Indonesia
memakai PSAK-nya IAI, uni eropa memakai IAS dan IASB. Hal tersebut
melatarbelakangi

perlunya

adopsi

IFRS

saat

ini.

Pengadopsian standar akuntansi internasional ke dalam standar


akuntansi domestik bertujuan menghasilkan laporan keuangan yang memiliki
tingkat kredibilitas tinggi, persyaratan akan item item pengungkapan akan
semakin tinggi sehingga nilai perusahaan akan semakin tinggi pula,

manajemen akan memiliki tingkat akuntabilitas tinggi dalam menjalankan


perusahaan, laporan keuangan perusahaan menghasilkan informasi yang
lebih relevan dan akurat, dan laporan keuangan akan lebih dapat
diperbandingkan dan menghasilkan informasi yang valid untuk aktiva, hutang,
ekuitas, pendapatan dan beban perusahaan.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mencanangkan bahwa Standar
akuntansi internasional (IFRS) akan mulai berlaku di Indonesia pada tahun
2012 secara keseluruhan atau full adoption. Diharapkan Indonesia sudah
mengadopsi keseluruhan IFRS, sedangkan khusus untuk perbankan
diharapkan tahun 2010. Dengan pencanangan tersebut timbul permasalahan
mengenai sejauh mana adopsi IFRS dapat diterapkan dalam Laporan
Keuangan di Indonesia, bagaimana sifat adopsi yang cocok apakah adopsi
seluruh atau sebagian (harmonisasi), dan manfaat bagi perusahaan yang
mengadopsi khususnya dan bagi perekonomian Indonesia pada umumnya,
serta

bagaimana

kesiapan

Indonesia

untuk

mengadopsi

IFRS.

IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu


upaya untuk memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi
jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan. Tujuan
IFRS adalah memastikan bahwa laporan keungan interim perusahaan untuk
periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan,
mengandung

informasi

berkualitas

tinggi

yang:

Menghasilkan transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan


sepanjang periode yang disajikan.
Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang
berdasarkan pada IFRS.
Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para

pengguna.
Saat ini standar akuntansi keuangan nasional sedang dalam proses
konvergensi

secara

penuh

dengan

International

Financial

Reporting

Standards(IFRS) yang dikeluarkan oleh IASB (International Accounting


Standards Board). Oleh karena itu, arah penyusunan dan pengembangan
standar akuntansi keuangan ke depan akan selalu mengacu pada standar
akuntansi internasional (IFRS) tersebut.
Peranan dan keuntungan harmonisasi atau adopsi IFRS sebagai
standar akuntansi domestik : Keuntungan harmonisasi menurut Lecturer Ph.
Diaconu Paul (2002) adalah:
Informasi keuangan yang dapat diperbandingkan,
Harmonisasi dapat menghemat waktu dan uang,
Mempermudah transfer informasi kepada karyawan serta mempermudah
dalam melakukan training pada karyawan,
Meningkatkan perkembangan pasar modal domestik menuju pasar
modal internasional, Mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan
operasional yang berguna untuk menjalankan bisnis serta mempermudah
dalam pengelolaan hubungan baik dengan pelanggan, supplier, dan pihak
lain.
Dengan mengadopsi IFRS berarti laporan keuangan berbicara dengan
bahasa akuntansi yang sama, hal ini akan memudahkan perusahaan
multinasional dalam berkomunikasi dengan cabang cabang perusahaannya
yang berada dalam negara yang berbeda, meningkatkan kualitas pelaporan
manajemen dan pengambilan keputusan. Dengan mengadopsi IFRS juga

berarti meningkatkan kepastian dan konsistensi dalam interpretasi akuntansi,


sehingga memudahkan proses akuisisi dan divestasi. Dengan mengadopsi
IFRS kinerja perusahaan dapat diperbandingkan dengan pesaing lainnya
secara global, apalagi dengan semakin meningkatnya persaingan global saat
ini. Akan menjadi suatu kelemahan bagi suatu perusahaan jika tidak dapat
diperbandingkan secara global, yang berarti kurang mampu dalam menarik
modal dan menghasilkan keuntungan di masa depan. Indonesia perlu
mengadopsi standar akuntansi internasional untuk memudahkan perusahaan
asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun
demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah
karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal.
Indonesia sudah melakukannya namun sifatnya baru harmonisasi, dan
selanjutnya akan dilakukan full adoption atas standar internasional tersebut.
Adopsi standar akuntansi internasional tersebut terutama untuk perusahaan
publik. Hal ini dikarenakan perusahaan publik merupakan perusahaan yang
melakukan transaksi bukan hanya nasional tetapi juga secara internasional.
Jika ada perusahaan dari luar negeri ingin menjual saham di Indonesia atau
sebaliknya, tidak akan lagi dipersoalkan perbedaan standar akuntansi yang
dipergunakan dalam menyusun laporan.
Faktor Lingkungan yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan
Akuntansi

Telah banyak yang menyatakan bahwa akuntansi dipengaruhi oleh


lingkungannya dan sebaliknya akuntansi juga mempengaruhi lingkungannya.
Pada pokoknya, tesis ini menyiratkan bahwa inovasi dan perkembangan
akuntansi dipicu oleh faktor-faktor non-akuntansi. Standar-standar akuntansi
muncul ke permukaan setelah banyak akuntan mengalami tuntutan hukum,

LIFO ditimbulkan oleh kondisi-kondisi inflasi, dan banyak pengungkapanpengungkapan keuangan yang merupakan konsekuensi dari pasar modal
publik.
Kondisi-kondisi

lingkungan

yang

diharapkan

mempengaruhi

penentuan standar akuntansi, meiliputi:

1.) Relativisme budaya, dengan cara bagaimana konsep-konsep


akuntansi yang ada di setiap negara seunik ciri budaya negara tersebut.
2.) Relativisme linguistik, dengan cara bagaimana akuntansi sebagai
suatu bahasa dengan karakteristik leksikal dan gramatikalnya akan
mempengaruhi perilaku linguistik dan non-linguistik dari para penggunanya.
3.) Relativisme politik dan sipil, dengan cara bagaimana konsep
akuntansi yang ada di setiap negara didasarkan pada konteks keadaan politik
dan sipil negara tersebut.

4.) Realtivisme ekonomi dan demografi, dengan cara bagaimana


konsep akuntansi yang ada di setiap negara didasarkan pada konteks
ekonomi dan demografi di negara tersebut.

1.9 Macam-macam Akuntansi


AkuntansiKeuangan
Akuntansi yang berhubungan dengan pencatatan transaksi keuangan.
Hasil akhir akuntansi keuangan adalah Laporan Laba/rugi, Laporan

perubahan modal, neraca, Laporan perubahan posisi keuangan, catatan atas


laporan keuangan. Dalam penyusunan laporan keuangan harus sesuai
dengan prisip akuntansi yang berterima umum.
Akuntansi Manajemen

Akuntansi yang memberikan informasi baik keuangan (kuantitatif)


maupun bukan keuangan (kualitatif), untuk kepentingan manajemen.
perusahaan. Bidang ini bermanfaat untuk pengambilan keputusan dan
pengendalian operasi perusahaan.

Akuntansi Biaya

Akuntansi keuangan yang hanya menyajikan sebagian elemen dari


laporan laba atau rugi.

Akuntansi pemerintah

Penyajian

laporan

Akuntansi

transaksi

yang

dilakukan

oleh

pemerintah.
Perpajakan

Akutansi yang mengkhususkan pada penyiapan data yang diperlukan


untuk perhitungan pajak.

Akuntansi Anggaran

Akuntansi

yang

berhubungan

dengan

penyusunan

rencana

pengeluaran perusahaan dan membandingkannya dengan pengeluaran


aktual.
Profesi di bidang akuntansi di sebut akuntan.
Macam-macam akuntan dan tugasnya, menurut UU No.34 th. 1945 :
Akuntan Privat/Intern/Manajemen adalah akuntan yang bekerja dalam suatu
perusahaan/organisasi tertentu, bertugas menjalankan fungsi akuntansi
keuangan maupun akuntansi manajemen.

Akuntan Publik (Extern)


Adalah akuntan yang menjalankan fungsi pemeriksaan secara bebas
(indepeden) terhadap laporan keuangan perusahaan dan organisasi lain.
Hasil laporan keuangan dinyatakan dalam laporan akuntansi yang berisi
pendapat tentang kewajaran atau kelayakan laporan keuangan yang
diperiksanya.
Tugas selain pemeriksaan adalah :
Konsultasi perencanaan dan pelaporan pajak
Penyusunan anggaran
Penyusunan system akuntansi
Penyusunan system akuntansi

Penyususnan laporan keuangan


Akuntan Pemerintah

Adalah akuntan yang bekerja di lembaga pemerintahan, misalnya : di


BPK,

Dirjen

pajak,

BPKP, Departemen

keuangan

dan

lain-lain.

Tugasnya adalah mengawasi keuangan dan kekayaan negara sampai


pengelolaan keuangan dan kekayaayan negara.
Akuntan Pendidik
Akuntan yang bekerja di lembaga pendidikan untuk mengajarkan,
melakukan riset dan mengembangakan pengetahuan akuntansi.

Akuntansi Internasional
Pengertian Akuntansi Internasional
Akuntansi internasional adalah akuntansi untuk transaksi antar negara,
pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan
dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Perkembangan
akuntansi internasional sekarang ini semakin pesat dan perhatian profesi
akuntan pun terhadap masalah ini semakin besar.
Tujuan Akuntansi Internasional :
Mengidentifikasi

sejarah

perkembangan

akuntansi

internasional

Memperkenalkan berbagai perbedaan nasional dalam sistem akuntansi di


dunia
Meringkas evolusi bisnis sampai zaman modern
Membahas pentingnya dimensi akuntansi dalam bisnis global dan topiktopik penting yang membentuk akuntansi internasional.

1.10 Sejarah Akuntansi Internasional


Pada abad 14 dan 15 Italia menggunakan system Double bookkeeping
entry . Sistem Double bookeeping Entry mempengaruhi kepentingan bisnis
negara Inggris dan koloninya . Kemudian pada zaman Fugger dan Kelompok
Hanseatik beralih ke Jerman dari Pembukuan Ala italia. Para filsuf bisnis
Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan. Di abad 15 aparat
pemerintah Perancis menemukan keuntungan dan diterapkan dalam system
perencanaan dan akuntabilitas pemerintah. Tahun 1850 di Skotlandia
terbentuk suatu komunitas profesi akuntan public. Tahun 1870 di Inggris juga
lahir suatu komunitas profesi akuntan public. Dari Inggris praktek akuntansi
menyebar ke seluruh Amerika Utara dan wilayah persemakmuran. Sistem
akuntansi Belanda masuk ke Indonesia. Sistem akuntansi Perancis
menemukan tempatnya di Polinesia dan Afrika. Sistem akuntansi Jerman
berpengaruh di Jepang, Swedia dan Rusia. Setelah PD-II, sistem akuntansi
semakin pesat tumbuh di dunia barat, terutama Jerman dan Jepang.
Abad ke-20 Akuntansi tumbuh di Amerika Serikat dan menjadi suatu
disiplin ilmu di Universitas. Perkembangan tersebut meliputi hal-hal berikut ini
:
Sekitar abad ke-16 terjadi beberapa perubahan di dalam teknik-teknik
pembukuan. Perubahan yang patut dicatat adalah diperkenalkan jurnal-jurnal
khusus

untuk

pencatatan

berbagai

jenis

transaksi

yang

Berbeda

Pada abad ke-16 dan 17 terjadi evolusi pada praktik laporan keuangan
periodik. Sebagai tambahan lagi, di abad ke-17 dan abad ke-18 terjadi
evolusi pada personifikasi dari seluruh akun dan transaksi, sebagai suatu
usaha untuk merasionalisasikan aturan debit dan kredit yang digunakan pada
akun-akun yang tidak pasti hubungannya dan abstrak. Penerapan sistem
pencatatan berpasangan juga diperluas ke jenis-jenis organisasi yang lain.
Abad ke-17 juga mencatat terjadinya penggunaan akun-akun

persediaan

yang

terpisah

untuk

jenis

barang

yang

berbeda.

Dimulai dengan East India Company di abad ke-17 dan selanjutnya


diikuti dengan perkembangan dari perusahaan tadi, seiring dengan revolusi
industri, akuntansi mendapatkan status yang lebih baik, yang ditunjukkan
dengan adanya kebutuhan akan akuntansi biaya, dan kepercayaan yang
diberikan kepada konsep-konsep mengenai kelangsungan, periodisitas, dan
akrual.
Metode-metode untuk pencatatan aktiva tetap mengalami evolusi pada
abad ke-18.
Sampai dengan awal abad ke-19, depresiasi untuk aktiva tetap hanya
diperhitungkan pada barang dagangan yang tidak terjual.

Akuntansi biaya muncul di abad ke-19 sebagai sebuah hasil dari


revolusi industri.
Pada paruh terakhir dari abad ke-19 terjadi perkembangan pada teknik-teknik
akuntansi untuk pembayaran dibayar di muka dan akrual, sebagai cara untuk
memungkinkan dilakukannya perhitungan dari laba periodik.
Akhir abad ke-19 dan ke-20 terjadi perkembangan pada laporan dana.
Di abad ke-20 terjadi perkembangan pada metode-metode akuntansi untuk
isu-isu kompleks, mulai dari perhitungan laba per saham, akuntansi untuk
perhitungan bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa jangka panjang dan
pensiun, sampai kepada masalah penting dari akuntansi sebagai produk baru
dari rekayasa keuangan (financial engineering).

Akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip


akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar
akuntansi di seluruh dunia adalah definisi Akuntansi Internasional menurut
Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) selain itu ada 3 bidang lain yang luas
yaitu:
1. Pengukuran (Measurements)

Membantu dalam proses mengidentifikasi, mengelompokkan dan menghitung


aktivitias

dan

profitabilitas,

transaksi,
operasi

memberikan

dan

kekuatan

masukan
posisi

mendalam

keuangan

mengenai

perusahaan.

2. Pengungkapan (Disclosure)

Proses dimana pengukuran akuntansi dikomunikasikan kepada para


pengguna laporan keuangan dan digunakan dalam pengambilan keputusan
atau proses mengkomunikasikan kepada para pengguna.

3. Auditing (Auditing)

Proses dimana para kalangan professional akuntansi khusus (auditor)


melakukan atestasi (pengujian) terhadap keandalan proses pengukuran dan
komunikasi.

1.11 Kompetisi Global

Salah satu pentingnya akuntansi internasional adalah fenomena


kompetisi global. Penentuan acuan (benchmarking), suatu tindakan untuk
membandingkan kinerja satu pihak dengan suatu standar yang memadai,
bukanlah hal yang baru. Hal yang baru adalah standar perbandingan yang
kini melampaui batas-batas nasional.

Dalam penentuan acuan terhadap pesaing internasional, seseorang


harus berhati-hati untuk memastikan bahwa perbandingan yang dilakukan
memang benar-benar dapat dibandingkan. Sebagai contoh, alat ukur kinerja
yang sering digunakan adalah pengembalian atas ekuitas (Return on Equity).
Perkembangan dunia usaha semakin lama semakin cepat dan sangat
bervariasi. Bidang-bidang yang dahulu tidak di bayangkan sebagai sektor
usaha sekarang menjadi sektor besar. Bunga Bank yang tinggi mendorong
orang mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan permodalannya,
persaingan antar perusahaan semakin meningkat dengan dibarengi berbagai
permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan di Indonesia. Dalam
menghadapi itu semua para pengelola perusahaan sangat membutuhkan
informasi akuntansi dalam rangka pengambilan keputusan. Akuntansi
mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan tumbuh dan
berkembangnya bisnis surat-surat berharga khususnya bisnis saham di pasar
modal.
Masyarakat Amerika sudah mengenal bisnis tersebut sejak tahun 1900
(Belkaoui, 2007). Dalam bertransaksi, baik para investor maupun calon
investor telah menggunakan informasi keuangan perusahaan sebagai salah
satu pedoman dalam membuat prediksi-prediksi dan untuk mengambil
keputusan bisnis, yaitu investasi dalam surat-surat berharga, khususnya
dalam saham. Perkembangan positif yang terjadi terhadap bisnis saham di

pasar modal Amerika juga menunjukkan bahwa kebutuhan perusahaan akan


modal

juga

meningkat

seirama

dengan

perkembangan

pasar.

Perkembangan ini sekaligus menunjukkan bahwa pasar modal


memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara khususnya
Amerika pada era tersebut. Disamping itu, juga berarti bahwa kebutuhan dan
peran informasi akuntansi menjadi semakin penting.
1.12 Terkait Akuntansi Internasional

Perkembangan yang cepat dalam transportasi dan komunikasi


membuat dunia menjadi tanpa batas hingga mewujudkan apa yang
dinamakan

global

village.

Ditambah

dengan

ditandai

pertumbuhan

perdagangan internasional dan pertukaran bisnis lainya diantara berbagai


negara mempengaruhi kehidupan kita. Umumnya, perkembangan ini
membawa dampak berbagai kebiasaan, dan praktek yang sama. Dalam
kegiatan

bisnis

harmonisasikan

khusus
standar

telah

mendukung

akuntansi

keinginan

diantara

untuk

berbagai

mengnegara

tersebut.Harmonization menunjukkan derajat koordinasi atau kesamaan


diantara berbagai set variasi standar akuntansi nasional dan metode serta
format pelaporan keuangan. (Meek et. al dalam Wolk & Tearney, 1992; 577).
Salah satu faktor yang mendasari perlunya meng-harmonisasikan
standar akuntansi internasional adalah adanya peningkatan kepentingan dari
berbagai perusahaan multinational. Kesamaan secara umum dalam satandar
akuntansi

dan

prosedur

akuntansi

akan

memfasilitasi/memudahkan

koordinasi diantara perusahaan multinational. Sebagai contoh, laporan


keuangan konsolidasi akan mudah disajikan jika perangkat akuntansi yang
tersedia applicable untuk perusahaan multinational tersebut. Konsekuensi
dari MNCs tersebut maka profesi akuntan publik pun ikut mendunia, banyak

firma-firma akuntan publik berpraktek diseluruh dunia. Akhirnya pembiayaan


antar negara meningkat ditandai dengan bergairahnya pasar-pasar modal
antar berbagai negara.

Donna L. Street et. al (2000), dalam penelitiannya di Amerika,


menyatakan bahwa adanya program dari IOSCO (International Organization
of

Securities

Commissions)

bagi

pasar

modal-pasar

modal

untuk

menggunakan standar akuntansi internasional (IAS), memberikan secara


signifikan konteks global dari pasar modal Amerika dan memaksanya untuk
melakukan rekonsiliasi (penyesuaian) antara GAAP dengan IAS. Hal itu
dimaksudkan agar dalam praktek akuntansinya mudah dipahami oleh
Securities exchange commission (SEC) dengan tujuan konteks global dari
pasar modal Amerika. Bagaimana dengan Indonesia?

Zubaidur Rahman, (2000) dalam papernya menyatakan bahwa semua


negara yang ada di kawasan Asia Timur semuanya telah memiliki standar
akuntansi nasional yang semuanya diadopsi atau disusun berdasarkan
standar akuntansi internasional (IAS), tetapi pada kenyataannya laporan
keuangan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang ada di negaranegara Asia Timur tersebut jauh panggang dari api, sejak di perbandingkan,
mereka

kurang

memperhatikan

mekanisme

dari

standara

akuntansi

nasionalnya di rekonsialiasikan dengan standar akuntansi internasional.


2. ISU-ISU AKUNTANSI INTERNASIONAL
2.1 Definisi akuntansi internasional
Dapat dipastikan terjadi kebingunan di dalam literatur-literatur mengenai arti
dari akuntansi internasional, yang dibuktikan dengan adanya bermacam-

macam definisi yang mencakup ruang lingkup yang berbeda-beda. Weirich


dan beberapa penulis lain memberikan klarifikasi yang bermanfaat atas
definisi-definisi ini, dengan pengidentifikasian tiga konsep utama yang
mereka lakukan:
1. Akuntansi untuk induk perusahaan-anak perusahaan di luar negeri
atas akutansi untuk anak perusahaan.
2. Akuntansi komperatif atau internasional
3. Akuntansi universal atas dunia
Konsep dari akuntansi universal atau dunia adalah yang paling luas ruang
lingkupnya.Konsep ini mengarahkan internasional menuju formulasi dan studi
atas

satu

kumpulan

prinsip-prinsip

akuntansi

yang

diterima

secara

universal.Tuuannya adalah untuk mendapatkan satu standarisasi lengkap


atas prinsip-prinsip akuntansi secara internasional. Definisi yang diterapkan
oleh Weirich dan kawan-kawan adalah sebagai berikut:

Area
Biografi

Aspek-aspek Prinsipal
Pengaruh dari individu-individu kunci atas
konsep-konsep,

praktik,

dan

intituisi

akuntansi.
Sejarah
Tradisi

dari

profesi

dan

organisasi

akuntansi. Mempertimbangkan pengaruh


dari lingkugan social, ekonomi, dan politik;
sumber data bagi riset yang bersifat
menjelaskan
Pengembangan pemikiran

di

akuntansi lainnya.

subjek-subjek

sejarah

Menegaskan dan mengembangkan dasardasar konseptual serta individu-individu


dan intitusi yang berkaitan dengannya.
Pengembangan model-model konseptual
dan
Sejarah umum

jejak;

dampak

dari

sekumpulan

pemikiran atas praktik dan displin serta


intitusi lainnya.
Perspektif

makro

dan

perkembangan

akuntansi; penekanan tradisional dan/atau


Sejarah penting

nasional;

pengembangan

area-area

tertentu (misalnya akuntansi biaya)


Menerapkan

sebuah

perspektif

yang

kecenderungannya mengarah kepada kritik


atas peranan dari factor sejarah di dalam
Basis data-taksonom dan bibliografi

konteks konflik social, politik, ekonomi dan


interaksi intitusional.

Historiografi

Sumber dar informasi utama; dukungan


bagi riset sejarah dan kontemporer
Struktur dari riset sejarah; evaluasi atas
riset sejarah akuntansi; perspektif dari
metode-metode

pelaksanaan

dan

penginterpretasian riset sejarah akuntansi


Tampilan 1.1Area diskusi riset sejarah

Akuntansi Dunia. Di dalam

kerangka kerja konsep ini, akuntansi

internasional dianggap sebagai sebuah system universal yang dpat


diterapkan

di

semua

Negara.

Sebuah

seperangkat

prinsip-prinsip

akuntansi yang berlaku umum (generally accepted accounting principlesGAAP) yang diterima di seluruh dunia, seperti di Amerika Serikat, akan
dibentuk. Praktik dan prinsip-prinsip yang dikembangkan dapat diberlakukan
di seluruh Negara. Konsep ini akan menjadi sasaran tertinggi dari suatu
system internasional. 65
Konsep dari akuntansi komperatif atau akuntansi internasional mengarahkan
kuntansi internasional kepada studi dan pemahaman atas perbedaanperbedaan nasional di dalam akuntansi.
Hal ini meliputi:
a. Kesadaran

akan

adanya

keragaman

internasional

di

dalam

akuntantasi perusahaan dan praktik-praktik pelapisan;


b. Pemahaman akan prinsip-prinsip dan praktik-praktik akuntansi dari
masing-masing Negara; dan
c. Kemanapun untuk menilai dampak dari beragamnya praktik-praktik
akuntansi pada pelaporan keuangan.

66

Terdapat consensus umum di dalam literature akuntansi bahwa istilah


akuntansi internasional aka mengacu kepada prinsip-prinsip akuntansi
komperatif. Definisinya adalah:
Akuntansi Internasional.Konsep utama kedua dari istilah akuntansi
internasional

melibatkan

pendekatan

yang

deskriptif

dan

informatif.Berdasarkan konsep ini, akuntansi internasional meliputi


semua ragam prinsip, metode dan standar akuntansi dari semua
negara.Konsep ini melibatkan GAAP masing-masing negara, sehingga
akuntan perlu menyadari sejumlah prinsipberbeda ketika mempelajari

akuntansi internasional.Tidak ada prinsip-prinsip

universal atau

sempurna yang perlu dibentuk. Kumpulan semua prinsip, metode dan


standar dari semua negara akan disebut sebagai sistem akuntansi
internasional. Perbedaan-perbedaan ini muncul karena perbedaanperbedaan dalam geografis, pengaruh social, ekonomi, politik, dan
hukum.67
Akuntansi untuk Anak Perusahaan di Luar Negri.Konsep utama ketiga
yang bisa diaplikasikan ke akuntansi internasional mengacu kepada
praktik-praktik akuntansi perusahaan induk dan perusahaan anak-nya
di luar negeri.Acuan atas negara tertentu atau tempat domisili
perusahaan diperlukan dalam konsep ini agar pelaporan keuangan
internasional efektif.Kepentingan akuntan yang utama adalah translasi
dan penyesuaian laporan keuangan anak perusahaan. Masalahmasalah akuntansi yang berbeda akan timbul dan prinsip-prinsip
akuntansi yang berbeda harus diikuti tergantung negara mana yang
digunakan sebagai acuan bagi translasi dan penyesuaian. 68
Munculnya paradigma baru di dalam akuntansi internasional memperluas
kerangka kerja dan pemikiran untuk mamasukkan ide-ide baru dari akuntansi
internasional. Sebagia akibatnya, terbit daftar yang sangat panjang akan
konsep-konsep dan teori-teori akuntansi yang dibuat oleh Amenkihienan
untuk memasukkan hal-hal berikut ini:
1.
2.
3.
4.
5.

Teori universal atau dua;


Teori multiprinsip;
Teori komparatif;
Teori transaksi-transaksi internasional;
Teori translasi.

Masing-masing teori-teori di atas memberikan dasar bagi pengembangan dari


sebuah kerangka kerja konseptual untuk akuntansi internasional. Meskipun
akan terdapat argumentasi mengenai teori manakah yang akan lebih disukai.
Akuntansi internasional memperluas akuntansi yang bertujuan umum
(general perpose), yang berorientasi nasional, dalam arti yang luas untuk:
1. analisa komparatif internasional,
2. pengukuran dan isu-isu pelaporan akuntansinya yang unik bagi
transaksi-transaksi

bisnis

multinasional

dan

bentuk

bisnis

perusahaan multinasional,
3. kebutuhan akuntansi bagi pasar-pasar keuangan internasional, dan
4. harmonisasi akuntansi di seluruh dunia dan harmonisasi
keragaman pelaporan keuangan melalui aktivitas-aktivitas polotik,
organisasi, profesi dan pembuatan standar.

2.3 Harmonisasi dan Konvergensi Akuntansi Internasional


Dalam kaitannya dengan standar internasional, terdapat beberapa
macam langkah yang dilakukan oleh banyak negara sehubungan dengan
perbedaan dengan standar yang mereka buat sebelumnya.Secara garis
besar langkah-langkah yang dapat diambil tersebut dapat dibagi menjadi
harmonisasi dan konvergensi.
Harmonisasi merupakan proses untuk meningkatkan komparabilitas
(kesesuaian)

praktik

akuntansi

dengan

menentukan

batasan-batasan

seberapa besar praktik-praktik tersebut dapat beragam. Secara sederhana


pengertian harmonisasi standar akuntansi dapat diartikan bahwa suatu
negara

tidak

mengikuti

sepenuhnya

standar

yang

berlaku

secara

internasional.Negara tersebut hanya membuat agar standar akuntansi yang


mereka miliki tidak bertentangan dengan standar akuntansi internasional.

Keuntungan Harmonisasi Internasional:


1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di
seluruh

dunia

tanpa

hambatan.

Standar

pelaporan

keuangan

berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia


akan memperbaiki efisiensi alokasi modal.
2. Investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih baik portofolio
akan lebih beragam dan risiko keuangan berkurang.
3. Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan
keputusan strategi dalam bidang merger dan akuisisi.
4. Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard pat
disebarkan dalam mengembangkan standar global yang berkualitas
tertinggi.

Konvergensi dalam standar akuntansi dan dalam konteks standar


internasional berarti nantinya ditujukan hanya akan ada satu standar. Satu
standar itulah yang kemudian berlaku menggantikan standar yang tadinya
dibuat dan dipakai oleh negara itu sendiri.Sebelum ada konvergensi standar
biasanya terdapat perbedaan antara standar yang dibuat dan dipakai di
negara tersebut dengan standar internasional. Konvergensi standar akan
menghapus perbedaan tersebut perlahan-lahan dan bertahap sehingga
nantinya tidak akan ada lagi perbedaan antara standar negara tersebut
dengan standar yang berlaku secara internasional.
2.4 IFRS (Internasional Financial Accounting Standard)
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh
International

Accounting

Standar

Board

(IASB).Standar

Akuntansi

Internasional disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan


Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC),
Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi
Internasional (IFAC).
IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu
upaya untuk memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi
jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan.

Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keungan interim


perusahaan

untuk

periode-periode

yang

dimaksukan

dalam

laporan

keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang:


1. Transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang
periode yang disajikan.
2. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang
berdasarkan pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna.

Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh adanya suatu perubahan sistem


IFRS sebagai standar global yatitu :

Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di


seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan
berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia
akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal.
Investor dapat membuat keputusan yang lebih baik
Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan
keputusan mengenai merger dan akuisisi
Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat
disebarkan dalam mengembangkan standard global yang berkualitas
tertinggi.Selain peran regulator, AEI punya kepentingan sebagai
asosiasi harus memberdayakan anggotanya supaya investor di luar
negeri bisa melihat acuan yang sama kalau kita sudah beradaptasi ke
IFRS. Tentang tujuan penerapan IFRS adalah memastikan bahwa
penyusunan laporan keungan interim perusahaan untuk periodeperiode

yang

dimasukkan

dalam

laporan

keuangan

tahunan,

mengandung informasi berkualitas tinggi yang terdiri dari :


Memastikan bahwa laporan keuangan internal perusahaan
mmengandung infomasi berkualitas tinggi
Tranparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang
periode yang disajikan
Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna
Meningkatkan investasi
Demikian peran regulator dalam mensosialisasikan betapa besar tujuan dan
manfaat yang diperoleh menuju ke IFRS .Perusahaan juga akan menikmati
biaya modal yang lebih rendah, konsolidasi yang lebih mudah, dan sistem
teknologi informasi yang terpadu, kata Patrick Finnegan, anggota Dewan
Standar

Akuntansi

International

(International

Accounting

Board/IASB), dalam Seminar Nasional IFRS di Jakarta

Standards

2.5 Definisi, Peranan dan Kegunaan Akuntansi


Pengertian Akuntansi (accounting) berasal dari kata bahasa Inggris to
account, yang berarti memperhitungkan atau mempertanggungjawabkan.
Akuntansi yang paling banyak digunakan secara luas dapat didefinisikan
sebagai berikut:
1. American

Accounting

Association

(AAA)

adalah

proses

mengindentifikasikan, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi


untuk memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas bagi
mereka yang menggunakan informasi tersebut.
2. American Insitute of Certified Public Accountans (AICPA) adalah seni
pencatatan, pengelompokan dan pengikhtisaran menurut cara yang
berarti dan dinyatakan dalam nilai uang.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :

Akuntansi sebagai sistem informasi adalah informasi ekonomi dari


kegiatan (transaksi) organisasi ataupun perusahaan.

Akuntansi

adalah

proses

pengindentifikasikan,

pengukuran,

pencatatan dan pelaporan informasi ekonomi yang berupa laporan


keuangan.

Informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna


untuk penilaian dan pengambilan keputusan bagi pihak yang
memerlukan.

Maka dari itulah akuntansi disebut sebagai bahasa bisnis atau dunia usaha.
Melalui akuntansi kita akan memperoleh informasi tentang keadaan suatu

perusahaan yang memungkinkan kita menilai keberhasilan perusahaan


tersebut.
2.6 Akuntansi Seni atau Ilmu?
Menurut komite terminologi dari American Institute of certified public
accountans adalah sebagai berikut:
akuntansi

adalah

seni

pencatatan

pengklasifikasian,

dan

pengikhtisaran, dalam cara yang signifikan dan satuan mata uang,


transaksi-transaksi
diantaranya

dan

memiliki

kejadian-kejadian
sifat

yang,

keuangan

paling

dan

tidak

selanjutnya

diinterpresentasikan hasilnya
Namun baru-baru ini, akauntansi telah di defenisikan berkaitan dengan
konsep dari informasi kuantitatif sebagai berikut:
akuntansi adalah aktivitas jasa. Fungsinya adalah untuk memberikan
informasi kuantitatif dari entitas ekonomi, terutama yang bersifat
keuangan yang dimaksudkan untuk bermanfaat dalam pengambilan
keputusa

ekonomi,

dan

dalam

menentukan

pilihan

diantara

serangkaian tindakan-tindakan alternatif yang ada.


Menurut sumber WIKIPEDIA defenisi dan syarat ilmu sbb:
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki,
menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi
kenyataan dalam alam manusia.Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan
rumusan-rumusan yang pasti.Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi
lingkup

pandangannya,

dan

kepastian

ilmu-ilmu

diperoleh

keterbatasannya.Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge).

dari

Tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang


disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode
yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu
golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar
maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau
mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam
mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian
antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan
subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi
kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran.
Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian
kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani Metodos yang
berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang
digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui

dan

menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam


hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem
yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu
menjelaskan

rangkaian

sebab

akibat

menyangkut

objeknya.

Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab


akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran
universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua
segitiga bersudut 180. Karenanya universal merupakan syarat ilmu
yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar keumum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu
alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk

mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia


konteks dan tertentu pula.
Jadi pertanyaanya adalah akuntansi apakah sebuah seni, atau aktifitas jasa
atau sebuah ilmu?Mereka yang berpendapat bahwa akuntansi adalah seni
atau keahlian menyarankan agar keahlian akuntansi yang dibutuhkan untuk
menjadi seorang pedagang yang baik harus diajarkan dan memerlukan
adanya pendekatan legalistik terhadap akuntansi. Dan yang mendukung
akuntansi adalah ilmu yang sebaliknya menyarankan agar mengajarkan
model pengukuran akuntansi untuk mendapat ddan memberikan pandangan
yang lebih konseptual kepada para mahasiswa akuntansi menegenai apa
yang hendak dilakukan oleh akuntansi akrual konvensional dalam memenuhi
sasaran umum guna melayani kebuttuhan para penggunanya; dan untuk
menumbuhkan

pemikiran-pemikiran

kritis

di

bidang

akuntansi

dan

perubahan-perubahan dinamis yang terjadi di dalamnya.


Menurut pandangan Mautz bawa akuntansi adalah ilmu sosial yang lengkap,
dan menurut argumentasinya adalah:
akuntansi berhubungan dengan perusahaan, yang tentunya merupakan
kelompok sosial; akuntansi berkepentingan dengan transaksi-transaksi dan
kejadian-kejadian
mempunyai

ekonomi

lainnya

yang

memiliki

konsekuensi

dampak atas hubungan sosial; akuntansi

dan

menghasilkan

pengetahuan yang berguna dan berarti bagi orang-orang yang terlibat dalam
aktivita-aktivitas yang memiliki implikasi sosial; akuntansi pada hakikatnya
bersifat mental menurut dasar-dasar pedoman yang ada, akuntansi adalah
suatu ilmu sosial
Akuntansi dianggap ilmu sosial telah menimbulkan perpecahan dikalangan
akdemik dan praktisi,

hal ini dibuktikan oleh survei AICPA sebagai berikut:


Masalah terpenting yang dihadapi oleh CPA dalam bidang pendidikan
adalah adanya kenyataan bahwa bidang akademi telah terpisah terlalu
jauh dari profesi akuntansi
Riset akuntansi yang saat ini kebanyakan dijalankan tidak relevan
sama sekali denagn akuntansi di dunia nyata
Para pengajar sering kali kurang berinteraksi dengan para praktisi

2.7 SIFAT DAN PERANAN AKUNTANSI


Sifat-sifat baik dari praktek akuntansi meliputi:
1. Kejujuran dari akuntan pada umumnya dan auditor pada khusunya
2. Memiliki kepedulian terhadap status ekonomi pihak lain dalam bentuk
penyelenggaraan dan akuntabilitas
3. Sensitif terhadap nilai kerja sama dan konflik dengan mengantisipasi
terjadinya konflik dan menciptakan adanya semacam penegakan kerja
sama melalui penggunaan teknik-teknik akuntansi manajemen.
4. Sifat akuntansi yang komunikatif dengan meceritakan pengalamanpengalaman ekonomi melalui dialog-dialog akuntansi, dan
5. Penyebaran informasi ekonomi dengan memberikan

informasi

mengenai ekonomi untuk pengambilan keputusan.

2.8 Peranan Akuntansi sebagai Suatu Sistem Informasi


Akuntansi sebagai sistem informasi diharapkan dapat memberikan informasi
yang tepat dan akurat dalam memberikan keputusan yang tepat bagi para
pemakainnya.Sehingga para pemakainnya dapat mengambil keputusan guna
kemajuan perusahaan yang dikelolanya. Informasi akuntansi dijadikan
sebagai alat untuk pengambilan keputusan baik oleh pihak interrn dan
ekstern.

Kegunaan Akuntansi
Kegunaan akuntansi secara umum sebagai berikut :

Untuk mengetahui informasi yang berguna bagi manajemen.

Untuk menghitung laba atau rugi yang dicapai oleh perusahaan.

Untuk membantu menetapkan hak masing-masing pihak yang


berkepentingan dalam perusahaan. Baik pihak intern maupun ekstern.

Untuk mengendalikan atau mengawasi aktivitas-aktivitas yang dimiliki


perusahaan.

Untuk Menunjukkan hal- hal yang telah dilakukan oleh perusahaan


dalam mencapai target yeng telah ditetapkan oleh perusahaan.

2.9 PENGUKURAN DALAM AKUNTANSI


Secara umum akuntansi dianggap sebagai salah satu alat pengukuran
sekaligus suatu disiplin komunikasi.Pengukuran memiliki arti pemberian
angka-angka pada objek atau kejadian-kejadian manurut aturan tertentu.
Terdapat beberapa jenis ukuran yang mungkin dalam akuntansi :
a. Ukuran-ukuran

akuntansi

dapat

langsung

maupun

tidak

langsung. Ukuran langsung atau utama adalah ukuran nyata


dari suatu objek yang ia miliki. Ukuran tidak langsung diambil
secara tidak langsung melalui suatu transformasi aljabar dari
sejumlah angka yang mencerminkan ukuran langsung dari
beberapa objek.

b. Dapat diklasifikasikan sebagai ukuran lampau, masa kini dan


masa depan.
c. Sebagai suatu ukuran retrospektif, kontemporer atau ukuran
prospektif.
d. Pengukuran dapat berupa pengukuran fundamental ( di mana
suatu angka dapat diberikan kepada suatu sifat sesuai dengan
referensinya terhadap hukum alam) dan pengukuran turunan
(yang bergantung pada pengukuran dari dua atau lebih
kuantitas dan bergantung kepada adanya suatu teori empiris).
e. Pengukuran dapat (a) dilakukan ketika teori-teori empiris yang
telah

dikonfirmasikan

mungkin

dapat

digunakan

untuk

mendukung keberadaan mereka. Atau (b) dibuat melalui suatu


keputusan resmi yang di dasarkan pada definisi yang arbiter.
2.10 Jenis-jenis skala
Jenis-jenis skala dapat diuraikan dalam istilah umum sebagai skala nominal,
ordinal, interval atau rasio.
a. Skala

nominal

akan

membantu

dalam

penentuan

keseimbangan, seperti penomoran pemain sepak bola.


b. Skala ordinal membentu dalam penentuan lebih besar atau
lebih kecil suatu hal, like mutu wol atau nomor jalan.
c. Skala interval membantu menentukan keseimbangan dari
interval atau perbedaan suhu dan waktu.
d. Skala rasio membantu dalam penentuan keseimbangan dari
rasio, dengan tambahan fitur dari suatu awal yang unik.
3 OVERVIEW OF ACCOUNTING THEORY
3.1 TEORI AKUNTANSI

Pada awal dipraktikkannya akuntansi bahkan sampai beberapa


tahunkemudian tidak ada teori akuntansi. Selama tidak adanya struktur
teori akuntansiformal, maka yang terjadi adalah banyaknya alternatif
metode pencatatan yangberlaku dalam praktik sehingga menimbulkan
kebingungan masyarakat. VernonKam (1986) mengemukakan fungsi dari
adanya teori akuntansi sebagai berikut:
1. Menjadi pegangan bagi lembaga penyusun standar akuntansi
menyusunstandarnya.
2. Memberikan kerangka

rujukan

untuk

menyelesaikan

akuntansidalam hal tidak adanya standar resmi.


3. Menentukan batas dalam hal melakukan
penyusunanlaporan keuangan.
4. Meningkatkan pemahaman dan

keyakinan

masalah

judgement
pembaca

dalam
laporan

terhadapinformasi yang disajikan laporan keuangan.


5. Meningkatkan kualitas dapat diperbandingkan.
Sedangkan Hendriksen (1982) mengemukakan kegunaan teori
akuntansi sebagai berikut:
1. Memberikan kerangka rujukan sebagai dasar untuk menilai prosedur
dan praktik akuntansi.
2. Memberikan pedoman terhadap praktik dan prosedur akuntansi yang
baru.
Teori adalah susunan konsep, definisi, dan dalam menyajikan
pandanganyang sistematis, fenomena dengan menunjukkan hubungan
antara variabel yangsatu dengan yang lain dengan maksud untuk
menjelaskan

dan

meramalkanfenomena.Websters

Third

New

International Dictionary mendefinisikan teorisebagai suatu susunan yang


saling berkaitan tentang hipotesa, konsep, dan prinsippragmatis yang

membentuk kerangka acuan untuk bidang yang dipertanyakan.McDonald


memberikan tiga elemen teori, antara lain:
1. Membuat kode sebagai simbol fenomena.
2. Mengkombinasikannya sesuai dengan peraturan.
3. Menerjemahkannya ke dalam fenomena yang sebenarnya terjadi.
Vernon Kam (1986) menganggap bahwa teori akuntansi adalah
suatu sistem yang komprehensif, dimana termasuk postulat dan teori
yang berkaitandengannya. Dia membagi unsur teori dalam beberapa
elemen, yaitu postulat atauasumsi dasar, definisi, tujuan akuntansi, prinsip
atau standar, dan prosedur ataumetode-metode.
Keneth S. Most (1982) mendefinisikan teori sebagai suatu
pernyataansistematik mengenai peraturan atau prinsip yang mendasari
atau memandu suatuset fenomena. Teori bisa juga dianggap sebagai
kerangka atau susunan ide,penjelasan fenomena dan prediksi perilaku
yang akan datang. Teori akuntansiadalah cabang akuntansi yang terdiri
dari pernyataan yang sistematik tentangprinsip dan metodologi yang
membedakannya dengan praktik. Karena teoriadalah penjelasan, tetapi
tidak semua penjelasan itu teori. Teori adalah penjelasanyang sistematik
dan scientific.
Eldon S. Hendriksen (1970) mengutip definisi Eric I. Kohler,
sepakatmenerima definisi teori sebagai suatu set proporsi termasuk
aksioma, teoremabersama definisi dan peraturan, kesimpulan formaldan
informal yang diarahkanuntuk menjelaskan suatu gabungan fakta atau
kelompok kegiatan yang kongkret atau yang abstrak.
Sedangkan

menurut

Hendriksen

sendiri

teori

adalah

satu

setsusunan hipotesa, konsep dan prinsip pragmatis yang membentuk

kerangka

umumreferensi

untuk

suatu

bidang

yang

dipertanyakan.Sedangkan teori akuntansi didefinisikan sebagai alasan


yang logis dalambentuk suatu set prinsip yang luas yang memberikan
kerangka umum dari rujukan dimana prinsip akuntansi dapat di nilai,
pedoman pengembangan praktik dan prosedur yang baru. Teori akuntansi
bisa juga menjelaskan praktikyang berlaku saat ini dan mendapatkan
pemahaman yang lebih baik tentang praktik tersebut. Tujuan utama dari
teori akuntansi adalah memberikan suatu setprinsip yang logis yang
saling terkait yang membentuk kerangka umum sebagairujukan untuk
menilai dan mengembangkan praktik akuntansi yang baik.
Godfrey dkk (1992) menyatakan bahwa teori dapat didefinisikan
dalamberbagai cara misalnya, teori adalah sistem deduktif yaitu berupa
pernyataan yangmengurangi generalisasi, yang lain menganggap bahwa
teori adalah suatu susunanide yang digunakan untuk menjelaskan
sesuatu. Teori bisa juaga secara sederhanadijelaskan sebagai alasan
logis yang mendasari suatu pernyataan keyakinan.Apakah teori diterima
atau

ditolak tergantung

pada

kemampuannya

meramalkanrealitas,

kemampuannya menjelaskan praktik akuntansi, dan kemampuannya


menjadi dasar pengembangan praktik akuntansi tersebut.
Kalau

berbicara

mengenai

teori

akuntansi

maka

yang

dimaksudkanadalah kristalisasi fenomena yang dituangkan dalam bentuk


kalimat-kalimat(preposition) yang disimpulkan dari fenomena interaksi
bisnis dan pemakailaporan keuangan.Berdasarkan pernyataan ini maka
semestinya teori itu harusmelihat dan menyesuaikan diri dengan
perkembangan dan evolusi dari interaksipemakai laporan keuangan dan
situasi bisnis.

Pemakai

laporan

keuangan

menentukan

tujuan

laporan

keuangan.Mereka inilah yang diminta pendapatnya untuk apa mereka


menggunakan laporankeuangan. Dari pendapat ini para ahli merumuskan
postulat, konsep, prinsip dasar,dan akhirnya dapat dijabarkan teknik
pencatatan akuntansi.

3.2 TEORI DAN PEMBUAT KEBIJAKAN AKUNTANSI


Teori

akuntansi

berkaitan

erat

dengan

penyusunan

kebijaksanaanakuntansi. Teori bersama faktor politik dan kondisi dan


sistem ekonomi akanmenentukan pembuatan kebijakan akuntansi
Dalam penyusunan kebijaksanaan akuntansi yang akan dijadikan
sebagai dasar dalam praktik atau teknik akuntansi dipengaruhi oleh
berbagai faktor, antara lain:
1. Teori Akuntansi.
2. Faktor politik.
3. Kondisi ekonomi.
Hal ini membuktikan bahwa kita harus mempelajari teori akuntansi
untukdapat
cepat,struktur

merumuskan

kebijaksanaan

akuntansimestinya

yang

mengikuti

tepat.Lambat

evolusi

atau

perkembangan

masyarakat.Perkembangan itu tentuakan mempengaruhi konsep, postulat


akuntansi, prinsip dasar akuntansi, dan akhirnya teknik (metode
pencatatan) akuntansi. Biasanya postulat, konsep, dan prinsip dasar
akuntansi lebih bersifat jangka panjang dibandingkan denganpenggunaan
teknik atau prosedur pencatatannya.Jika kita lihat struktur ini makawilayah
teori akuntansi itu mencakup perumusan postulat,konsep,prinsipdasar,dan
teknik dasar akuntansi.

Prinsip akuntansi yang berlaku sekarang adalah merupakan hasil


evolusiyang diperkirakan akan terus berlaku seterusnya.Perubahan bisa
saja terjadi padatingkat metode pencatatan (GAAP). GAAP ini berubah
sebagai respon terhadapperubahan ekonomi dan kondisi sosial,teknologi
dan ilmu pengetahuanbaru,permintaan para pemakai laporan keuangan
yang

mengharapkan

informasiyang

lebih

bermanfaat.Sifat dinamis

akuntansi kauangan itu dalam meresponperubahan keadaan menambah


kegunaan informasi yang disajikan.
Perubahan ini tentu tidak bisa dilaksanakan begitu saja.Perubahan
harusdilakukan berdasarkan prinsip dalam kerangka teori akuntansi dan
disiplinnya sendiri, disinilah hubungan antara teori akuntansi dengan
prinsip

akuntansi(GAAP)

itu.

Teori

ini

harus

debatable,refutable,arguable,justifiable,terhadap kritik dan argumen baru


yang

diungkapkan

Verivication

Theory.

masyarakat. Proses ini


Teori

yang

tidak

disebut

memiliki

denganproses

sifat

itu

maka

rumusanprinsip yang dilahirkan akan rapuh.


Teori akuntansi oleh karenanya harus lahir dari proses kontruksi
teori dan sekaligus verifikasi teori.Jika suatu teori tidak dapat bertahan
pada prosesverifikasi maka teori harus diganti dengan teori yang lebih
baik ukurannya padaakhirnya kembali pada respon yang diberikan
masyarakat pada output akuntansiitu.
Teori akuntansi akan dapat bermanfaat apabila rumusan teori itu
dapatdijadikan sebagai alat untuk meramalkan apa yang akan diharapkan
mungkinterjadi dimasa yang akan datang. Kalau demikian halnya maka
mestinya

setiapnegara

harus

memiliki

dan

merumuskan

teori

akuntansinya sendiri yangdisimpulkan dari kondisi dan fenomena ekonomi


sosial yang dimilikinya.Bukanmengambil alih sepenuhnya dari susunan

teori

akuntansi

negara

lain.Hadibroto

(Media

Akuntansi

1988)

menekankanpentingnya teori akuntansi.Menurut beliau ada sinyalemen


yang berkembang yang menggangap bahwa seolah teori akuntansi tidak
dibutuhkan. Alasan yang mendasari pemikiran iniadalah bahwa akuntansi
bukanlah merupakan suatu disiplin ilmu yang dapatmenjelaskan semua
gejala-gejala

akuntansi

dalam

praktiknya.

Akuntansi

bersifatteknis

prosedural dia sama seperti mesin saja tidak memerlukan kreasi-kreasi


atauinisiatif baru.
Untuk memperkuat argumen bahwa akuntansi merupakan disiplin
ilmuyang didasari oleh metode ilmiah,maka akuntansipun mengalami
perkembangandisiplin ilmunya. Watts dan Zimmernan menjelaskan
perkembangan dari teoriakuntansi dari normatif ke teori akuntansi positif
dan dewasa ini berkembang kearah Teori Akuntansi Interpretatif. Dimana
masing-masing

dalam

menyusun

teoritersebut

terdapat

berbagai

pendekatan. Misalnya dalam teori akuntansi positifdilakukan pendekatan


ekonomi dan perilaku (behavior).
3.3 SIFAT TEORI AKUNTANSI
Dari penjelasan maka teori akuntansi dapat kita rumuskan
sebagaiberikut:
Teori

akuntansi

menyajikansecara

adalah

sistematis

suatu

gambaran

konsep

definisi

fenomena

dalil

yang

akuntansi

yang

menjelaskan hubunganantara variabel dengan variabel lainnya dalam


struktur akuntansi dengan maksuddapat menjelaskan dan meramalkan
fenomena yang mungkin muncul,Hendriksenmenilai teori akuntansi
sebagai satu susunan prinsip umum akan dapat:

1. Memberikan kerangka acuan yang umum darimana praktik akuntansi


dinilai.
2. Teori akuntansi yang dirumuskan tidak akan mampu mengikuti
perkembangan

ekonomi,sosial,teknologi

dan

ilmu

pengetahuan

yangdemikian cepat.
Oleh karena itu, tepatlah kesimpulan Ahmed Belkaoui yang
menyatakanbahwa tidak ada teori akuntansi yang lengkap pada setiap
kurun waktu. Teori akuntansi harus juga mencakup semua literatur
akuntansi yangmemberikan pendekatan yang berbeda-beda satu sama
lain.Senada dengankesimpulan ini American Accounting Associations
Committe on Concepts and Standard for External Reports yang
menyebutkan bahwa:
1. Tidak ada teori akuntansi keuangan yang lengkap yang mencakup
danmemenuhi keinginan semua keadaan dan waktu dengan efektif.
2. Di dalam literatur akuntansi keuangan yang ada bukan teori akuntansi
tetapikumpulan teori yang dapat dirumuskan mengatasi perbedaanperbedaanpersyaratan

yang

diinginkan

teori

akuntansi

para

pemakai

laporan

keuangan.
Untuk

perumusan

memang

tidak

dapat

hanyamengandalkan teori akuntansi Ansich,harus menggunakan literatur


akuntansi dandisiplin ilmu lain yang relevan. Namun teori akuntansi
merupakan

instrumen

yangsangat

penting

dalam

menyusun

dan

memverifikasi prinsip akuntansi yangdigunakan dalam penyusunan


laporan keuangan untuk disajikan pada parapemakainya.
3.4 PERIODISASI TEORI AKUNTANSI

Godfrey dkk (1992) membuat periodisasi teori akuntansi sebagai


berikut:
1. Pre-Theory Period(1492-1800)
Peragalo mengemukakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang
dirumuskansejak Pacioli sampai pada awal abad ke-19. Kalaupun ada
saran-saran ataupertanyaan-pertanyaan belum dapat digolongkan
sebagai teori ataupernyataan yang sistematis.
2. General Scientific Period (1800-1955)
Dalam

periode

ini

sudah

ada

pengimbangan

teori

yang

penekanannyabaru berupa penjelasan terhadap praktik akuntansi. Di


sini

sudah

ada

mengembangkan

kerangkakerja
praktik

untuk

akuntansi.

menjelaskan

dan

Akuntansidikembangkan

berdasarkan metode empiris yang mengutamakan pengamatan


ataskenyataan sehari-hari atau realitas bukan didasarkan pada logika.
Laporan AAAA Tentative Statement of Accounting Principles Affecting
Corporate Reportspada tahun 1938 serta laporan AICPA tentang A
Statement of AccountingPrinciple (Sanders, Hatfield dan Moore)
merupakan

dua

contoh

perumusan teoriakuntansi berdasarkan

metode empiris atau disebut era general scientific ini.


3. Normative Period (1956-1970)
Dalam periode ini perumus teori akuntansi mencoba merumuskan
norma-norma atau praktik akuntansi yang baik. Kalau dalam
periodesebelumnya

menekankan

kepada

APA

yang

terjadi

dalamperiode iniBagaimana seharusnya dilakukan, What shouldbe.


Pada periode ini munculkritik terhadap konsep Historical Cost dan
pendukung adanya Conceptual Framework. Beberapa terbitan
laporan pada era ini adalah: An Inquiry IntotheNature of Accounting

oleh Goldberg yang diterbitkan pada tahun 1965, AAAmenerbitkan A


Statement of Basic Accounting Theory.
4. Specific Scientific Period (1970-sekarang)
Periode ini disebut juga Positive Era. Di sini teori akuntansi
tidakcukup hanya dengan sifat normatif tetapi harus bisa diuji
kebenarannya. Normadinilai subjektif jadi harus diuji secara positif.
Pendekatan normatif dikritikkarena:
a. Teori normatif tidak melibatkan pengujian hipotesa.
b. Teori normatif didasarkan pada pertimbangan subjektif.
Karena teori normatif dianggap merupakan pendapat pribadi
yang subjektif maka tidak bisa diterima begitu saja harus dapat diuji
secara empiris agar memiliki dasar teori yang kuat. Pada periode ini
data empiris sudah banyak tersedia kemudian teknik-teknik statistik
dan teknik yang menggunakan disiplinlain untuk melakukan pengujian
sudah demikian banyak sehingga memudahkan melakukan pengujian.
Tujuan

dari

pendekatan

teori

akuntansi

positif

adalah

untuk

menerangkan dan meramalkan praktik akuntansi. Salah satu contoh


dalampenggunaan teori positif ini adalah hipotesa Bonus Plan.
Hipotesa

ini

menunjukkan

bahwa

manajemen

yang

remunerasinyadidasarkan pada bonus maka mereka akan berusaha


memaksimasi pendapatannyamelalui pendekatan akuntansi yang
dapat menaikkan laba sehingga bonusnyatinggi. Dalam penyusunan
laporan keuangan manajemen tentu akan memilihstandar akuntansi
yang dapat menaikkan laba atau bonus mereka. Teori ini akandapat
menjelaskan atau memprediksi perilaku manajemen dalam mana
bonus plandiberlakukan. Watts dan Zimmerman pendukung konsep ini
dalam

bukunyaPositive Accounting

Theory

menyatakan

bahwa

keuntungan pendekatan iniadalah bahwa regulator bisa meramalkan


konsekuensi ekonomis dari berbagai kebijakan atau praktik akuntansi.
Menurut Godfrey dkk pada akhir-akhir ini ada kecenderungan
munculnya perbedaan antara Riset Academics dan Riset Profesional
yangsebelumnya dinilai seragam. Riset Academics tetap dalam
pendekatan positifyang umumnya menekankan pada peran dan
pengaruh informasi akuntansisedangkan profesional agak condong
pada pendekatan normatif yang umumnyamenekankan upaya untuk
menyeragamkan praktik akuntansi agar lebihbermanfaat bagi praktisi.
4. PENDEKATAN DALAM PERUMUSAN TEORI
Perumusan TeoriAkuntansi dalam literatur dikenal beberapa
pendekatan dalam merumuskan teoriakuntansi. Masing-masing penulis
memberikan metode yang diikutinya. Dalambab ini kita pakai saja
penjelasan dari Belkaoui tentang pendekatan dalamperumusan teori
akuntansi sebagai berikut:
1. Pendekatan informal yang dibagi dalam:
a. Pragmatis, Praktis, Non Teoritis
Dalam metode ini perumusan
padakeadaan

praktik

di

teori

lapangan.

akuntansi.
Di

sini

Didasarkan

yang

menjadi

pertimbangan adalah hal-halyang berguna untuk menyelesaikan


persoalan secara praktis. Menurut pendekatanini prinsip akuntansi
yang dipakai adalah didasarkan pada kegunaannya bagi para
pemakai laporan keuangan dan relevansinya dengan proses
pengambilankeputusan.
b. Otoriter

Dalam metode ini yang merumuskan teori akuntansi adalah


organisasiprofesi yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang
mengatur praktikakuntansi. Biasanya organisasi profesipun tetap
memperhatikan aspek praktis danpragmatis. Oleh karena itu maka
pendekatan otoriter ini digolongkan juga sebagaipragmatis.
2. Pendekatan Teoritis yang dibaginya dalam:
a. Deduktif
Dalam metode ini perumusan teori dimulai dari perumusan dalil
dasarakuntansi (postulat dan prinsif akuntansi) dan selanjutnya dari
rumusan dasar inidiambil kesimpulan logistentang teori akuntansi
mengenai hal yang dipersoalkan.Jadi perumusan dimulai dari dalil
umum kepada dalil khusus. Pendekatan inidilakukan dalam
penyusunan struktur akuntansi di mana dirumuskan dahulutujuan
laporan keuangan, rumusan postulat, kemudian prinsip, dan
akhirnya lebihkhusus menyusun teknik akuntansi.Dalam hal ini
teori diuji dari posisinya dalam menampung keinginan praktik. Jika
pemakai

dalam

praktik

diterima

maka

dianggap

teori

itu

diterimaatau verified, sebaliknya jika tidak diterima disebut


falsified.Beberapa pendukungmetode ini adalah: Paton, Canning,
Sweeney, MacNeal, Alexander, Edward andBell, Moonitz, dan
Sprouse and Moonitz.
b. Induktif
Dalam metode ini penyusunan teori akuntansi didasarkan pada
beberapaobservasi dan pengukuran khusus dan akhirnya dari
berbagi sample dirumuskanfenomena yang seragam atau berulang
(informasi akuntansi) dan diambilkesimpulan umum (postulat dan
prinsip akuntansi). Tahap yang dilalui adalah:
1) Mengumpulkan semua observasi.

2) Analisis dan golongan observasi berdasarkan hubungan yang


berulang-ulangdan sejenis, seragam, mirip.
3) Ditarik kesimpulan umum dan prinsip

akuntansi

yang

menggambarkanhubungan yang berulang-ulang tadi.


4) Kesimpulan umum diuji kebenarannya.
Tidak seperti pendekatan deduktif, dalam pendekatan induktif
inikebenaran dan kepalsuan dalil tidak tergantung pada dalil
lainnya, tetapi harusmelalui pengujian empiris. Dalam pendekatan
induktif

kebenaran

suatu

daliltergantung

pada

pengamatan

terhadap contoh yang cukup dari hubungan kasusyang berulangulang dan seragam. Para teoritisi yang menggunakan pendekatan
ini adalah Hatfield, Gilman, Littlelton, Paton and Littlelton, dan Ijiri.
c. Etik
Dalam pendekatan ini digunakan konsep kewajaran, keadilan,
pemilikan,dan kebenaran. Patillo menyebutkan dalam metode ini
standar dasarnya adalahetika, metodenya logis dan coherent dan
penerapannya

di

lapangan.

Jadisebenarnya

dimensi

yang

diutamakan dalam perumusan teori itu diutamakan darisudut


etikanya, tanpa menyebut bahwa pendekatan lain tidak beretika.
Pendekatan ini diperkenalkan oleh DR. Scott.
Menurut beliau kriteria yang harus digunakan dalam perumusan
teoriakuntansi adalah keadilan dengan memperlakukan pihak yang
berkaitan secaraadil. Disajikan kebenaran dalam arti laporan yang
benar dan akurat tanpamengundang salah tafsir, dan kewajaran
dalam arti penyajiannya wajar, tidak biasa,dan tidak sebagiansebagian. Dalam buku lain dikenal dengan PendekatanPeristiwa
(Event Approach) artinya dalam perumusan teori kita harus

memperhatikan semua pihak jangan hanya memperhatikan pihakpihak tertentusaja. Pendekatan ini mirip pendekatan etik ini.
d. Sosiologis
Dalam pendekatan ini yang menjadi perhatian utama dalam
perumusanteori akuntansi adalah dampak sosial dari teknik
akuntansi. Jadi yang menjadiperhatian bukan pemakai langsung
akuntansi tetapi juga masyarakat secarakeseluruhan. Pendekatan
inilah sebagai EmbrioSocio Economic Accounting atauSocial
ResponsibilityAccounting.

Pendekatan

ini

seolah

merupakan

perluasandari konsep etik dimana yang menjadi fokus perhatian


adalah kesejahteraanseluruh masyarakat bukan saja pemilik.
Menurut konsep ini prinsip akuntansi dinilai dari penerimaan dari
seluruhpihak

terhadap

laporan

keuangan,

khususnya

yang

melaporkan tentang dampakperusahaan terhadap masyarakat.


Akuntansi dalam model ini harus dapatmemberikan pertimbangan
dalam mengambil kesimpulan terhadap kesejahteraanmasyarakat.
Para penulis yang mengkaji isu ini adalah Belkaoui dan Beams
danFertig, Ladd, Littlelton, dan Zimmerman.
e. Ekonomi
Pendekatan

ekonomi

dalam

perumusan

teori

akuntansi

menekankan padakontrol pada perilaku indikator makro ekonomi


atau generar economic welfareyang menghasilkan perumusan
teknik akuntansi. Sehingga dalam pemilihanteknik akuntansi
didasarkan

pada

dampaknya

pada

ekomomi

nasional.

Misalnyateknik LIFO lebih menarik daripada FIFO pada masa


inflasi. Dari pendekatan inimaka dapat disimpulkan bahwa:
1) Teknik
dan
kebijaksanaan
akuntansi
harus

dapat

menggambarkan realitasekonomi.
2) Pilihan terhadap teknik akuntansi harus tergantung pada
konsekuensiekonomis.

f. Eklektif
Jika dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak hanya
satupendekatan, tetapi berbagai kombinasi pendekatan maka
disebut

eklektif.Dariliteratur

komunikatif
akuntansi.

lain

(communication
Pendekatan

kita

mengenal

theory)dalam

ini

pendekatan

perumusan

dikembangkan

oleh

teori

Bedford

danBaldouni yang menganggap bahwa akuntansi adalah sebagai


suatu sistem yangterpadu dalam proses komunikasi. Di sini
dirumuskan

informasi

perusahaan

kepada

apa

yang

para

perludan

pembaca

disajikan
agar

oleh

mereka

dapatmenggunakannya dalam proses pengambilan keputusan.


ASOBAT (A Statementof Basic Accounting Theory) termasuk
menggunakan teori ini.
Banyak lagi pendekatan lain yang perlu dikemukakan di sini antara
lain:behaviorapproach, yang menekankan pada aspek perilaku yang
ditimbulkanoleh informasi akuntansi, pragmatic, nontheoretical approach
(perumusannyatidak didasarkan pada dasar teori yang berlaku. Keadaan
ini terjadi pada periodeawal perkembangan akuntansi), theory of account
approach yang melihatakuntansi dari aspek hubungan antara perkiraan
yang dibangun dari dasar teoridouble entry.
5. PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI DI INDONESIA
Sampai

saat

ini

Indonesia

masih

belum

berupaya

untuk

merumuskanteori maupun standar akuntansinya sendiri. Kita masih tetap


menggunakan teoriatau standar akuntansi Amerika atau terakhir dari
IASC (International AccountingStandard Committee) sebagai dasar
pengembangan akuntansi di Tanah Air.Standar Akuntansi Keuangan

maupun Pernyataan Standar Pemeriksaan masihmengadopsi atau


menerjemahkan standar atau pedoman dari Amerika atau IASCdengan
berbagai modifikasi minor.
Upaya yang baru dilakukan oleh profesi akuntansi adalah
perumusanprinsip akuntansi Indonesia namun belum menyentuh dasar
teori akuntansinya.Dalam sebuah kuliahnya di Gedung Baja (1991),
Belkaoui menganjurkan agarsetiap negara memiliki teori akuntansi sendiri
termasuk Indonesia. Menurut beliauteori akuntansi lahir dari kondisi,
lingkungan, dan situasi ekonomi dan sosial yang ada disuatu negara yang
tentu akan berbeda dengan negara lainnya. Akibatnyakita tidak akan tepat
jika menggunakan teori akuntansi yang dilahirkan dari negara lain dengan
situasi dan kondisi yang berbeda dengan negara kita.
Menurut penulis buku ini, tentu sangat ideal dan tidak akan
mungkindapat kita wujudkan dalam jangka pendek. Namun pada
dasarnya kita harusmembuat agenda menuju ke sana. Oleh karena itu
para peneliti akuntansi,pemerintah, Fakultas Ekonomi serta Kantor
Akuntan Publik sudah selayaknyamemikirkan permasalahan ini dengan
upaya yang intens untuk melakukanberbagai penelitian akuntansi.
Sebelum hal itu terwujud maka sebaiknya profesidan pemerintah sudah
harus melakukan upaya-upaya dalam perumusan teori danstandar
akuntansi Indonesia yang digali dari kondisi kita. Dan tentu saja
teoriakuntansi yang sudah ada khususnya dari negara lain seperti dari
Amerika

dapatkita

jadikan

sebagai

dasar

atau

pedoman

dalam

merumuskan teori kita ataumengisi teori yang masih lowong.


4 PEMIKIRAN DI BALIK AKUNTANSI PENCATATAN BERPASANGAN
Akuntansi
pencatatan

pencatatan

berpasangan

berpasangan

terdiri

klasifikasional

dari
dan

dua

ejnis

akuntansi

akuntansi
pencatatan

berpasangan kausal. Kedua jenis penctatan tersebut bergantung pada


keseimbangan dari debit dan kredit.
Akuntansi pencatatan berpasangan klasifikasional ditunjukkan untuk tetap
menjaga persamaan akuntansi fundamental yang merangkum posisi
klasifikasional tersebut :

AKTIVA = KEWAJIBAN + EKUITAS PEMILIK


Dalam akuntansi pencatatan berpasangan klasifikasional ini, sisi debit
menggambarkan suatu klasifikasi, sementara sisi kredit menggambarkan
klasifikasi yang lain. Dengan demikian akan terjadi dua klasifikasi yang
berbeda, misalnya suatu opembelian persedian secara kredit sebesar
$20,000 akan dicatat menjadi:
Dr
Persedian

Cr

$20,000

Utang usaha

$20,000

Pembukuan pencatatan berpasangan kausal menggambarkan hubungan


sebab akibat antara suatu kenaikan dengan penurunan. Mis :

Dr

Cr

Persediaan

$20.000

Kas

$20.000

4.1 PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI YANG BERLAKU UMUM (GAAP)


4.1.1 Arti GAAP
Akuntansi dipraktikkan dalam suatu kerangka yang implisit. Kerangka ini
dikenal sebagai prinsip-prinsip yang berlaku umum (GAAP). Pernyataan dari
Accounting Principles Board (APB) of the American Institute of Certified
Public

Accountant

(AICPA)

menyatakan

bahwa

GAAP

mencatat

pengalaman, alasan, kebiasaan, penggunaan, dan .. kebutuhan praktis dan


mereka .... mencakup ketentuan, aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk
mendefinisikan praktik akuntansi yang berlaku umum. Ini adalah pedoman
bagi profesi akuntansi dalam pemilihan teknik-teknik akuntansi dan
pembuatan laporan keuangan dengan cara yang dianggap sebagai praktik
akuntansi yang baik.

Skinner berpendapat bahwa metode akuntansi harus dapat memenuhi paling


sedikit satu dan biasanya beberapa kondisi-kondisi berikut ini, untuk dapat
dikualifikasikan sebagai suatu metode yang berlaku umum :

Metode tersebut kan benar-benar digunakan dalam kasus-kasus yang


jumlahnya signifikan, dimana terdapat kondisi yang emmungkinkan

untuk menggunakan metode tersebut.


Metode tersebut mendapat dukungan

pernyataan-pernyataan dari lingkungan akuntansi professional.


Metode-metode tersebut mendapat dukungan secara tertulis dari

yang

diberikan

melalui

pengajar dan pemikir akuntansi terkemuka.


Literatur yang menyinggung GAAP telah mengalami perluasan seiring
dengan waktu dengan dianutnya sejumlah laporan, opini, dan pernyataan
lainnya dari berbagai sumber yang berwenang. Ia meliputi pernyataan-

pernyataan yang saat ini berlaku dari beragam badan-badan yang bertugas
untuk menetapkan standar

Mereka yang menginginkan keseragaman dan komparabilitas akan memilih


GAAP, mereka yang menginginkan fleksibilitas dan cara-cara yang baik untuk
menghadapi kondisi yang beragan akan memilih GAAP, khusus, mereka yang
memperdebatkan kondisi-kondisi unik atau menantang standar yang
berlebihan akan memilih untuk menggunakan OCBOA.
4.1.2 Mana yang Harus Digunakan? GAAP, GAAP Khusus, atau OCBOA ?

GAAP kini tidak lagi dilihat sebagai satu set aturan pengukuran yang
kaku. Banyaknya perbedaan dalam penerapan mereka, pada kenyataannya,
akan berbeda tergantung pada kondisi yang terjadi. Di satu pihak, kita
memiliki bermacam-macam GAAP dan GAAP khusus (special GAAP) yang
berbeda.
Terdapat lebih banyak perhatian pula yang diberika pada alternativealternatif dari GAAP, yang pada dasarnya mengenai laporan keuangan yang
dibuat menurut basis akuntansi komprehensif lainnya (other comprehensive
bases of accounting-OCBOA). Dorongan untuk berpindah ke OCBOA timbul
akibat adanya perubahan yang terjadi pada undang-undang perpajakan yang
dibuat oleh Undang-Undang Economic Recovery Act (Pemulihan Ekonomi)
pada tahun 1981 dan meningkatnya pemisahan akuntansi perpajakan dari
akuntansi GAAP, meningkatnya jumlah persekutuan, perusahaan subbab S
dan entitas-entitas lain yang lebih memilih untuk menyajikan laporan
keuangan yang berdasarkan atas perpajakan dan basis kas, serta
kesimpulan sementara dari komite khusus AICPA untuk studi kelebihan
beban standar akuntansi yang mendukung peningkatan akuntansi dengan
basis pajak. Untuk dapat diklasifikasikan sebagai OCBOA satu dari empat
kriteria berikut ini harus dipenuhi:
1. Basis akuntansi yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan
regulasi.
2. Basis akuntansi yang dapat digunakan untuk pelaporan pajak
penghasilan.
3. Basis akuntansi yang didasarkan pada penerimaan dan pengeluaran
kas dengan atau tanpa beberapa dukungan akrual
4. Basis akuntansi yang dihasilkan oleh penerapan dari satu set kriteria
tertentu yang telah ditetapkan
Penggunaan laporan berdasarkan OCBOA menimbulkan lebih banyak
masalah baik kepada pengguna maupun para CPA :

a.

Bagi para pengguna, mereka mungkin tidak terlihat sebagai alternatif yang

dapat diterima atau dikenal dari GAAP.


b.
Bagi para praktisi, laporan berdasarkan OCBOA dapat menimbulkan
masalah akibat kurangnya pedoman yang komprehensif seperti yang tersedia
bagi laporan berdasarkan GAAP.
Namun, mana yang harus digunakan? GAAP, GAAP khusus atau
OCBOA? Mereka yang menginginkan keseragaman dan komparabilitas akan
memilih GAAP; mereka yang menginginkan fleksibilitas dan cara-cara yang
lebih baik untuk menghadapi kondisi-kondisi yang beragam akan memilih
GAAP khusus. Sedangkan mereka yang memperdebatkan adanya kondisikondisi unik atau menantang standar yang berlebihan akan memilih untuk
menggunakan OCBOA.
4.1.3 GAAP Kecil Vs GAAP Besar
Apakah benar terdapat perbedaan antara usaha-usaha besar dengan
usaha-usaha kecil, dan di antara kebutuhan dari masing-masing para
pengguna informasinya, yang membenarkan adanya perbedaan dalam
aturan akuntasi melalui dua bentuk GAAP; GAAP kecil untuk usaha-usaha
kecil dan/atau dikendalikan langsung, dan GAAP besar untuk perusahaanperusahaan besar.
a.

Perbedaan antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil


Perusahaan kecil adalah suatu perusahaan yang operasinya relatif
kecil, biasanya dengan total pendapatan kurang dari $5 juta. Biasanya
perusahaan ini (a) dikelola oleh pemilik, (b) dan jika ada, memiliki hanya
sedikit pemilik yang lain, (c) seluruh pemiliknya ikut terlibat secara aktif dalam
pelaksanaan urusan-urusan perusahaan, kecuali mungkin bagi beberapa
anggota keluarga tertentu, (d) jarang terjadi perpindahan kepemilikan, dan (e)
memiliki struktur modal yang sederhana.

Sedangkan perusahaan besar (publik) adalah suatu perusahaan yang


(a) sahamnya diperdagangkan di pasar publik atau bursa saham atau pasar
over-the-counter atau (b) diwajibkan untuk memberikan laporan keuangannya
kepada Securities and Exchange Commission. Suatu perusahaan juga dapat
dianggap perusahaan publik jika laporan keuangannya diterbitkan sebagai
persiapan dilakukannya penjualan sekuritas (surat berharga) jenis apa pun di
b.

sebuah bursa umum.


Perbedaan di antara pengguna laporan keuangan
Bukti yang ada menegaskan bahwa analisis keuangan dan pemegang
saham publik adalah pengguna utama dari laporan keuangan dari
perusahaan-perusahaan publik, di mana pemilik manajer dan kreditor adalah
pengguna utama dari laporan keuangan perusahaan pribadi. Sehingga
selanjutnya dinyatakan bahwa kelompok-kelompok yang berbeda dapat
dianggap memiliki kebutuhan informasi yang berbeda pula. Namun bukti
yang lain menegaskan bahwa para petugas pinjaman bank dan analisi
sekuritas memiliki tingkat preferensi yang sama tingginya untuk berbagai

c.

jenis informasi yang umumnya dicantumkan dalam laporan keuangan.


Posisi resmi mengenai GAAP Kecil
Kebutuhan akan pengukuran, pelaporan, dan pengungkapan yang
berbeda berdasarkan atas ukuran (besar versus kecil) maupun kepemilikan
(publik versus pribadi) telah mendapat perhatian dari profesi akuntansi sejak
tahun 1952. Divisi standar akuntansi AICPA memulai sebuah studi mengenai
aplikasi GAAP pada usaha-usaha yang lebih kecil dan/atau dikelola langsung
dengan membentuk Komite Prinsip-Prinsip akuntansi yang berlaku umum
bagi Usaha-usaha yang Lebih Kecil dan/atau Milik Pribadi (Committee on
GAAP for Smaller and/or Closely Held Bussinesses) pada tahun 1974
(Komite GAAP Kecil).
Komite GAAP Kecil mempelajari respons yang diterima, kemudian
menyimpulkan secara umum dalam laporannya yang diterbitkan pada tahun
1979 bahwa terdapat dukungan yang kuat dalam profesi secara keseluruhan

untuk mempertimbangkan kembali praktik-praktik yang berlaku sehubungan


dengan penerapan dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum pada
laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan kecil dan/atau dikelola
langsung, dan dengan mematuhi standar-standar dari laporan CPA atas
laporan-laporan tersebut.
AICPA kemudian membentuk Accounting and Review Services
Committee (ARSC) dan memberikannya status sebagai komite senior. Tujuan
ARSC adalah untuk menilai kembali seluruh aspek dari pernyataanpernyataan AICPA yang dapat diterapkan pada asosiasi dari CPA dengan
laporan keuangan yang tidak diaudit, sebuah proyek yang pada dasarnya
berorientasi pada usaha kecil.
Bola kembali berada di tangan FASB. Pendekatan yang lebih logis
bagi FASB adalah mengatasi masalah standar yang berlebihan terlebih
dahulu, yang akan mengurangi masalah yang dihadapi oleh perusahaan
kecil. Membuat suatu GAAP Kecil secara praktik dan logis adalah kurang
tepat. Banyaknya keberatan yang muncul sehubungan dengan adanya dua
set GAAP sudah cukup memberikan alasan. Contoh-contoh keberatan
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perbaikan

dalam

pelaporan

dari

satu

kelompok

pengguna

hendaknya juga mendorong perbaikan pelaporan dari kelompok


lain.
2. Semua perusahaan yang beroperasi dalam lingkungan yang sama,
menghadapi kondisi ekonomi yang serupa, dan dapat memiliki
jenis-jenis transaksi yang sama.
3. Kebanyakan perusahaan menjadi anggota dari suatu asosiasi
perdagangan atau kelompok industri yang bisanya

merangkum

laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan dalam asosiasi


atau kelompok tersebut.
4. Kebanyakan perusahaan pribadi pada akhirnya nanti akan menjadi
perusahaan publik.

Faktanya terjadi ketimpangan antara perusahaan besar dengan perusahaan


kecil mengenai fungsi GAAP, apakah sama tau berbeda. Kodisi riil yang
terjadi pada masa itu adalah lebih banyaknya usaha kecil menengah yang
memenuhi sector public. Begini penjelasannya :

a.

Perbedaan

perusahaan

besar

dengan

perusahaan

kecil.

FASB secara relative mendefinisikan sebuah peruahaan kecil sebagai suatu


perusahaan yang operasinya relative kecil, dikelola oleh pemilik, dan jika ada,
hanya memiliki sedikit pemilik yang lain, seluruh pemiliknya ikut terlibat
secara

aktif

dalam

pelaksanaan

urusan

perusahaan,

jarang

terjadi

perpindahan kepemilikan, dan memiliki struktur modal yang sederhana.


Sedangkan perusahaan public adalah suatu perusahaan yang sahamnya
diperdagangkan di pasar public, diwajibkan untuk memberikan laporan
keuangan kapada securities and exchange commission, dan jika laporan
keuangannya

diterbitkan

sebagai

persiapan

dilakukannya

penjualan

sekuritas.
b.

Perbedaan

di

antara

pengguna

laporan

keuangn

Terkait dengan perbedaan-perbedaan di antara para pengguna, isu-isunya


adalah untuk mengidentifikasi (a) apakah terdapat perbedaan yang nyata
antara kebutuhan pengguna laporang keuangan perusahaan public dengan
pengguna laporan keuangan perusahaan pribadi, (b) apakah terdapat
perbedaan yang nyata di antara para pengguna sehubungan dengan tingkat
kepercayaan mereka terhadap laporan keuangan perusahaan pribadi
sebagai

sumber

informasi.

Pandangan yang intuitif yang akurat adalah bahwa para pengguna utama
dari laporan keuangan perusahaan public adalah para analis keuangan dan

pemegang saham public, dan laporan keuangan dari perusahaan yang lebih
kecil biasanya ditujukan kepada para pemilik-manajer dan banker serta para
pemberi kredit lainnya.

4.2 KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PERUBAHANNYA

Kebijakan akuntansi dari suatu entitas pelaporan adalah prinsip-prinsip


akuntansi yang spesifik dan metode-metode penerapan prinsip-prinsip
tersebut yang dinilai oleh manajemen dari entitas tersebut sebagai yang
paling sesuai dengan kondisi yang ada untuk menyajikan secara wajar posisi
keuangan, perubahan yang terjadi pada posisi keuangan, dan hasil operasi
sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum dank arena itu
telah diadopsi untuk pembuatan laporan keuangan. Ketua SEC, Artthur Levit,
berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan public telah menggunakan
enam praktik akuntansi untuk mengelola keuntungan perusahaan :
1. Melebihsajikan perubahan restrukturisasi untuk membersihkan neraca.
2. Mengklasifikasikan jumlah yang signifikan dari nilai harga suatu
entitas yang dibeli menjadi biaya penelitian dan pengembangan.
3. Menciptakan kewajiban yang besar untuk menampung pengeluaranpengeluaran di masa depan guna melindungi laba di masa depan.
4. Menggunaka asumsi yang tidak realistis dalam mengestimasi nilai
kewajiban untuk hal-hal seperti retur penjualan, kerugia pinjaman dan
biaya jaminan sehingga kelebihan dari estimasi tersebut dibalik untuk
meningkatkan laba di periode berikutnya.
5. Membuat kesalahan secara disngaja dalam buku perusahaan dan
menjustifikasikan kegagalan untuk memperbaiki kesalahan tersebut
dengan alas an materialitas.
6. Mengakui pendapatan sebelum proses untuk menghasilkan selesai.

4.3 AKUNTANSI YANG DIRANCANG

Karena kekontrasannya yang dimilikinya dengan pemilihan teknik dan solusi


yang didasarkan pada suatu prinsip. Suatu fenomena yang disebut akuntansi
prinsip maka disebutlah akuntansi yang dapat dirancang. Aspek-aspek dari
akuntansi yang dapat drancang termasuk konsep-konsep yang berbeda
seperti :
4.3.1 Hipotesis Salah Saji Keuangan Secara Selektif
Hipotesis dari salah saji keuangan yang selektif, seperti yang
dikemukakan oleh Revsine, menyatakan Masalah ini bukanlah suatu yang
insidental, melainkan hasil dari aturan-aturan pelaporan yang fleksibel dan
menyusun yang disebarluaskan oleh para penyusun standar yang telah
ditangkap oleh subjek yang dimaksudkan dan pihak-pihak lain yang terlibat
dalam proses pelaporan keuangan. Hipotesis salah saji keuangan secara
selektif diasumsikan melintasi kedua sektor publik dan pribadi karena para
partisipan di kedua sektor tersebut dimotivasi untuk mendukung standarstandar yang secara selektif membuat salah saji dari realitas ekonomi ketika
hal tersebut sesuai dengan tujuan mereka. Ini berlaku untuk para manajer,
pemegang saham, auditor, dan para penyusun standar.
1.

Para manajer lebih menyukai standar pelaporan yang longgar


dibandingkan
memungkinkan

dengan
(a)

standar

pergesaran

yang
laba

terlalu
di

ketat,

antara

karena

tahun

hal

yang

ini
lebih

menguntungkan bagi pencapaian bonus, (b) memberikan kesan kepada para


pemegang saham, dan (c) melindungi posisi mereka dengan mencegah
terjadinya pengambilalihan.

2.

Para pemegang saham juga mendapatkan keuangan dari longgarnya


standar jika dilihat dari perataan laba yang dilaporkan oleh manajer akan
menurunkan volatilitas dari laba yang dilaporkan, menurunkan persepsi pasar

atas risiko kegagalan dan meningkatkan nilai perusahaan.


3.
Auditor mungkin memilih aturan pelaporan yang

sama

yang

mendistorasikan realitas ekonomniuntuk harmonisasi dengan klien, atau


aturan yang kaku ketika mereka menginginkan tumbal yang kuat sebagai
pelindung.
4.
Penyusun standar mungkin memilih hipotesis salah saji yang dilakukan
5.

sendiri untuk proteksi pribadi dan altruisme.


Para akademisi mungkin memilih hipotesis salah saji secara selektif karena
memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengemukakan terori dan
proposal sebagai imbalan atas kenaikan remunerasi dan gengsi.
Situasi ini menuntut adanya suatu perubahan dengan mengisolasi
proses penentuan standar dan jangkauan regulator. Revsine mengusulkan
proses empat langkah berikut :

1.
2.
3.
4.

Mendidik publik
Memperbaiki proses pemilihan dan pengawasan para penyusun standar
Menetapkan pengaturan pendanaan baru
Menciptakan indenpedensi bagi para penyusun standar

4.3.2 perataan laba


Definisi awal mengatakan bahwa perataan laba adalah pengaturan
fluktuasi laba dari tahun ke tahun dengan memindahkan pendapatan dari
tahun-tahun yang tinggi pendapatannya ke periode-periode yang kurang
menguntungkan.
Definisi yang lebih akhir mengenai perataan laba melihatnya sebagai
fenomena proses manipulasi profil waktu dari pendapataan atau laporan
pendapatan untuk membuat laporan laba menjadi kurang bervariasi, sambil
sekaligus tidak meningkatkan pendapatan yang dilaporkan selama periode
tersebut.

Kedua definisi di atas sepertinya mengandung maksud bahwa hanya


terdapat satu bentuk perataan laba yang digunakan untuk meredam fluktuasi
yang terjadi pada pendapatan menuju ke arah tingkat pendapatan yang
diharapkan. Perataan yang dibuat atau disengaja pada dasarnya adalah
suatu perataan akuntansi yang menggunakan fleksibilitas yang ada dalam
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum dan pilihan-pilihan serta
kombinasi-kombinasi yang tersedia untuk meratakan laba. Karenanya dan
pada dasarnya perataan laba adalah suatu bentuk akuntansi yang dirancang.
Perataan alami, berbeda dengan perataan buatan, adalah produk
alamiah dari proses penghasilan laba, dan bukannya hasil dari tindakan yang
diambil oleh manajemen. Perataan yang dibuat dapat dicapai baik melalui
perataan artifisial ataupun perataan nyata. Perataan artifisial adalah hasil
yang diperoleh dari penggunaan manipulasi akuntansi untuk meratakan laba.
Perataan yang sesungguhnya melibatkan pilihan yang disengaja dan
perubahan waktu dari transaksi yang dapat mempengaruhi arus kas dan
mengendalikan peristiwa ekonomi yang mendasarinya. Hal ini dapat
dilakukan dengan memilih dan mengubah waktu pembelian, menyewa
produksi,

investasi,

penjualan,

penganggaran

modal,

penelitian

dan

pengembangan, periklanan dan keputusan-keputusan lainnya.


4.3.3 Manajemen Laba
Para Manajer mempunyai fleksibilitas untuk memilih diantara beberapa
cara alternatif dalam mencatat transaksi sekaligus memilih opsi-opsi yang
ada dalam perlakuan akuntansi yang sama. Fleksibilitas ini, yang
dimaksudkan untuk memungkinkan para manajer mampu beradaptasi
terhadap berbagai situasi ekonomi dan menggambarkan konsekuesni
ekonomi yang sebenarnya dari transaksi tersebut, dapat juga digunakan
untuk mempengaruhi tingkat pendapatan pada suatu waktu tertentu dengan
tujuan untuk memberikan keuntungan bagi manajemen dan para pemangku
kepentingan. Ini adalah esensi dari manajemen laba, yaitu seuatu

kemampuan

untuk

memanipulasi

pilihan-pilihan

yang

tersedia

dan

mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat laba yang
diharapkan.

5. THE NATURE AND USES OF ACOUNTING SIFAT DAN KEGUNAAN


AKUNTANSI

5.1 DEFINISI DAN PERAN AKUNTANSI


5.1.1Istilah Akuntansi
Istilah akuntansi berasal dari kata bahasa Inggris to account yang berarti
memperhitungkan atau mempertanggung jawabkan.Kata akuntansi diserap
dari kata accountancy yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan accountant
(akuntan)

atau

yang

dikerjakan

oleh

akuntan

dalam

menjalankan

profesinya.Sebagai bidang pengetahuan, istilah yang umum dipergunakan


adalah accounting yang mempunyai pengertian lebih luas dari pada
accountancy (lebih berkaitan dengan profesi atau implementasi pengetahuan
akuntansi).
5.2 PENGERTIAN AKUNTANSI
Akuntansi disebut sebagai bahasa bisnis karena merupakan suatu alat untuk
menyampaikan

informasi

keuangan

kepada

pihak-pihak

yang

memerlukannya.Semakin baik kita mengerti bahasa tersebut, maka semakin


baik pula keputusan kita, dan semakin baik kita didalam mengelola
keuangan.Untuk

menyampaikan

informasi-informasi

tersebut,

maka

digunakanlah laporan akuntansi atau yang dikenal sebagai laporan

keuangan.Laporan keuangan suatu perusahaan biasanya terdiri atas empat


jenis laporan, yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan
laporan arus kas.

Neraca
Adalah daftar yang sistematis dari aktiva, utang dan modal pada tanggal
tertentu, yang biasanya dibuat pada akhir tahun.Disebut sebagai daftar yang
sistematis, karena neraca disusun berdasarkan urutan tertentu.Dalam neraca
dapat

diketahui

perusahaan

berapa

membayar

jumlah

kekayaan

kewajiban

serta

perusahaan,

kemampuan

kemampuan

perusahaan

memperoleh tambahan pinjaman dari pihak luar.Selain itu juga dapat


diperoleh informasi tentang jumlah utang perusahaan kepada kreditur dan
jumlah

investasi

pemilik

yang

ada

didalam

perusahaan

tersebut.

Laporan laba rugi


Adalah ikhtisar mengenai pendapatan dan beban suatu perusahaan untuk
periode tertentu, sehingga dapat diketahu laba yang diperoleh dan rugi yang
dialami.
Laporan perubahan modal
Adalah laporan yang menunjukkan perubahan modal untuk periode tertentu,
mungkin satu bulan atau satu tahun.Melalui laporan perubahan modal dapat
diketahui sebab-sebab perubahan modal selama periode tertentu.

Laporan arus kas


Dengan adanya laporan ini pemakai laporan keuangan dapat mengevaluasi
perubahan aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas
dan solvabilitas) dan kemampuan perusahaan didalam menghasilkan kas
dimasa mendatang.
5.3 PEMBAHASAN

A.

Sifat keuangan Akuntansi

Akuntansi keuangan adalah bagian dari akuntansi yang berkaitan dengan


penyiapan laporan keuangan untuk pihak luar, seperti pemegang saham,
kreditor, pemasok, serta pemerintah. Prinsip utama yang dipakai dalam
akuntansi keuangan adalah persamaan akuntansi (Aktiva = Kewajiban +
Modal). Akuntansi keuangan berhubungan dengan masalah pencatatan
transaksi untuk suatu perusahaan atau organisasi dan penyusunan berbagai
laporan berkala dari hasil pencatatan tersebut.Laporan ini yang disusun untuk
kepentingan umum dan biasanya digunakan pemilik perusahaan untuk
menilai prestasi manajer atau dipakai manajer sebagai pertanggungjawaban
keuangan terhadap para pemegang saham.Hal penting dari akuntansi
keuangan adalah adanya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang
merupakan aturan-aturan yang harus digunakan didalam pengukuran dan
penyajian laporan keuangan untuk kepentingan eksternal. Dengan demikian,
diharapkan pemakai dan penyusun laporan keuangan dapat berkomunikasi
melalui laporan keuangan ini, sebab mereka menggunakan acuan yang sama

yaitu SAK. SAK ini mulai diterapkan di Indonesia pada 1994, menggantikan
Prinsip-prinsi Akuntansi Indonesia tahun 1984.

Sebagaimana yang telah diketahui untuk tujuan tertentu akuntansi dapat


dibagi dua yaiu :
1.

Akuntansi Keuangan

Yaitu memberikan informasi yang bersifat baku, terstandar dan bertujuan


umum. Format informasinya sudah memiliki pola yang ditetapkan
lembaga resmi yang berhak menyusun standar pelaporan akuntansi.

2.

Akuntansi Manajemen

Yaitu memberikan informasi yang seluas-luasnya bagi manajer sesuai


dengan kebutuhannya. Akuntansi manajemen tidak terikat dengan prinsip
penyusunan baku, ia bebas memilih format dan kebijaksanaan sendiri
karena memang laporan ini tidak untuk konsumsi umum.

Sifat dasar atau prinsip yang mendasari akuntansi keuangan merupakan


konsep yang harus diyakini kebenarannya sebagai dasar dari ilmu akuntansi
itu dibangun. Prinsip dasar akuntansi ini bisa menjadi keterbatasan atau
sekaligus kekuatan informasi ini yang nanti akan dibahas lebih lanjut. Banyak
kajian yang telah menawarkan dan menjelaskan prinsip atau sifat dasar
akuntansi itu. Menurut Belkaoui (1986) beberapa gambaran sifat-sifat
akuntansi :

a. Akuntansi sebagai suatu ideology


Bahwa akuntansi sebagai alat untuk melegitimasi keadaan dan
struktur

sosial,

ekonomi

dan

politik

kapitalis. Akuntansi

dianggap sebagai mitos, simbol, dan ritus yang berperan


menciptakan aturan simbolis tempat masyarakat berintegrasi.
b. Akuntansi sebagai bahasa
Akuntansi
berbicara

merupakan

bahasa

(berkomunikasi)

perusahaan

sendiri

tentang

yang
suatu

dapat
entitas/

organisasi yang dilaporkannya.

c. Akuntansi sebagai catatan historis


Akuntansi

dianggap

sebagai

wahana

untuk memberikan

gambaran sejarah organisasi dan transaksi yang dilakukan


dengan lingkungannya pada masa lalu. Catatan ini merupakan
gambaran

bagaimana

pemilik.Transaksi

yang

manajemen
lalu

itu

mengelola

dicatat,

kekayaan

dibukukan

dan

dilaporkan melalui laporan keuangan.

d. Akuntansi sebagai realitas ekonomi saat ini


Akuntansi dianggap dapat memberikan gambaran realitas

ekonomi perusahaan pada saat ini. Sehingga laporan akuntansi


dianggap menggambarkan situasi ekonomi perusahaan pada
saat sekarang sehingga sistem akuntansi harus menggunakan
harga saat ini (current value).

e. Akuntansi sebagai sistem informasi


Akuntansi merupakan teknik yang menggambarkan proses
yang

menghubung-kan

sumber

data

melalui

channel

komunikasi dengan para penerima informasi.

f. Akuntansi sebagai komoditi


Akuntansi harus mampu merespons kebutuhan para pemakai
agar tetap menjadi komoditi yang laku di pasaran. Jika akuntan
hanya mampu mengetahui proses pembukuan, maka akuntansi
tidak akan bernilai komoditi. Sehingga saat ini akuntansi
sebagai

komoditi

mendapat

ujian

dengan

adanya

perkembangan ilmu komputer yang kini telah membantu dalam


proses pembuatan laporan keuangan.

g. Akuntansi sebagai sistem pertanggung jawaban.


Akuntansi sebagai media untuk mempertanggung jawabakan
pengelolaan

suatu

perusahaan

atau

lembaga

kepada

principal.Dengan adanya akuntansi, sumber- sumber kekayaan


yang dikelola dapat ditelusuri, dapat diketahui arus masuk dan
keluarnya, serta hasil yang diperoleh dari transaksi yang terjadi
beserta posisi masing-masing kekayaan pada suatu tanggal
tertentu dan hasil usahanya pada suatu periode.Gambaran ini
mencakup dalam laporan keuangan yang berfungsi baik
sebagai

informasi

maupun

sebagai

pertanggungjawaban.

h. Akuntansi sebagai teknologi


Menurut Bambang Sudibyo (1987), akuntansi adalah teknologi
perangkat lunak. Akuntansi tidak ditujukan untuk menerangkan
dan meramalkan perilaku variabel-variabel, sosial/ ekonomi
tertentu,

melainkan

untuk

mengendalikan

variabel.Guna

memperbaiki status ekonomi karenanya status sosial dari


perilakunya.Wujud yang lebih konkrit dari akuntansi sebagai
perangkat lunak adalah bahwa akuntansi merupakan disiplin
rekayasa informasi dan pengendalian (kontrol) keuangan.
I. Kegiatan akuntansi meliputi :

1. Pengidentifikasian dan pengukuran data yang relevan untuk suatu


pengambilan

keputusan.

Pemrosesan

data

yang

bersangkutan

kemudian pelaporan informasi yang dihasilkan.

3. Pengkomunikasian informasi kepada pemakai laporan.

Definisi lain dapat juga dipakai untuk memahami lebih dalam


pengertian akuntansi ialah bahwa :

"Akuntansi adalah bahasa atau alat komunikasi bisnis yang dapat


memberikan informasi tentang kondisi keuangan (ekonomi) berupa
posisi keuangan yang tertuang dalam jumlah kekayaan, utang dan
modal suatu bisnis dan hasil usahanya pada suatu waktu atau periode
tertentu."
Dengan informasi ini pembaca laporan tidak perlu lagi mengunjungi
suatu perusahaan atau melakukan interviw untuk mengetahui keadaan
keuangannya, hasil usahanya maupun memprediksi masa depan
perusahaan ini.

Menurut Committe on Terminology dari AICPA

mendefinisikan

akuntansi sebagai seni, yang secara lengkap berbunyi sebagai berikut:


" Akuntansi adalah seni pencatatan, pengklasifikasian dan peringkasan
dalam suatu cara yang signifikan dan dalam ukuran uang, transaksitransaksi dan peristiwa-peristiwa yang paling tidak sebagian bersifat
keuangan,

dan

penginterpretasian

hasil-hasilnya.

"

Dalam definisi tersebut, dimulai bahwa akuntansi sebagai seni.Definisi


seperti itu mungkin karena pada waktu itu akuntansi belum dapat
diidentifikasikan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang utuh.Akuntansi
didefinisikan sebagai seni karena pada waktu itu karakteristik

pengetahuan

akuntansi

tidak

dapat

disamakan

dengan

atau

dimasukkan sebagai pengetahuan ilmiah. Apa yang dikerjakan dalam


akuntansi bersi{at sangat individual sesuai dengan kebutuhan
perusahaan sehingga tidak ada struktur dan konsep yang cukup
mapan untuk dapat disebut sebagai seperangkat ilmu pengetahuan.
Ruang lingkup akuntansi sebagaimana yang dijelaskan oleh definisi
Komite Terminologi dari AICPA tampak seperti terbatas. Sebuah
perspektif

yang

lebih

luas

dinyatakan

dalam

definisi

yang

menggambarkan akuntansi sebagai berikut: proses pengidentifikasian,


pengukuran dan pengkomunikasian informasi ekonomi sehingga
memungkinkan adanya pertimbangan dan pengambilan keputusan
berdasarkan informasi oleh para pengguna informasi tersebut.
Untuk menggambarkan berbagai sisi akuntansi, maka disebutan beberapa
image

yang

menggambarkan

sifat-sifat

akuntansi

sebagai

berikut:

1. Akuntansi sebagai ideology


Tidak banyak yang membahas bahwa akuntansi dianggap sebagai suatu
ideologi. Pihak yang menganggap akuntansi sebagai ideologi menganggap
bahwa akuntansi ini alat untuk melegitimasi keadaan dan struktur sosial,
ekonomi, dan politik kapitalis.

2. Akuntansi sebagai suatu bahasa


Akuntansi adalah bahasa perusahaan yang dapat berbicara (berkomunikasi)
sendiri

tentang

suatu

perusahaan/organisasi

yang

dilaporkannya.

Sebagaimana halnya bahasa, akuntansi memiliki ciri-ciri yang sama dengan


bahasa.
3. Akuntansi sebagai suatu catatan historis
Akuntansi telah dianggap sebagai wahana untuk memberikan gambaran
sejarah organisasi dan transaksi yang dilakukan dengan lingkungannya pada
masa lalu. Catatan ini merupakan gambaran bagaimana manajemen
mengelolah kekayaan pemilik.Transaksi yang lalu dicatat dibukukan, dan
dilaporkan melalui laporan keuangan.

4.

Akuntansi

sebagai

suatu

realitas

ekonomi

saat

ini

Bagi pendukung pendapat ini maka akuntansi dianggap dapat memberikan


gambaran realitas ekonomi perusahaan pada saat ini. Sehingga laporan
akuntansi dianggap menggambarkan situasi ekonomi perusahaan pada saat
sekarang, sehingga mestinya sistem akuntansi harus menggunakan harga
saat ini atau current value.

5. Akuntansi sebagai suatu sistem informasi


Akuntansi

merupakan

teknik

yang

menggambarkan

proses

yang

menghubungkan sumber data melalui channel komunikasi dengan para


penerima informasi. Akuntansi memiliki siklus yang disebut Accounttng Cycle,
yang memproses bukti transaksi menjadi bentuk-bentuk informasi yang kita
kenal dengan laporan keuangan yang dapat dipergunakan masyarakat untuk
proses pengambilan keputusan.

6. Akuntansi sebagai suatu komoditi


Komoditi adalah barang yang dapat dijual kepada konsumen karena daya
gunanya. Output akuntansi dalam bentuk informasi adalah merupakan
produk dari suatu "pabrik" yang dalam konteks ini pabrik tersebut adalah
"sistem akuntansi". Output ini dibutuhkan masyarakat karena memberikan
manfaat yang besar terutama bagi para pemakainya yang digunakan dalam
proses pengambilan keputusan ekonomi.

7.

Akuntansi

Akuntansi

dianggap
juga

sebagai

dapat

pertanggungiawaban

dijadikan

sebagai

(accountibility)
media

untuk

mempertanggungiawabkan pengelolaan suatu perusahaan atau lembaga


kepada principal (majikan). Dengan adanya akuntansi maka sumber-sumber
kekayaan yang dikelola dapat ditelusuri, dapat diketahui arus masuk dan
keluarnya serta hasil yang diperoleh dari transaksi yang tedadibeserta posisi
masing-masing kekayaan pada suatu tanggal tertentu dan hasil usahanya
pada suatu periode.

8. Akuntansi sebagai teknologi


Akuntansi merupakan bagaian dari praktik sedangkan jika akuntansi
dianggap sebagai teori maka untuk bisa dipakai mempengaruhi sosial harus
terlebih dahulu diolah menjadi teknologi. Teknologilah yang secara langsung
akan dapat mengubah sosial. Dengan demikian teknologilah yang bisa
menjembatani antara teori dan praktek.

5.4

Perbedaan antara Akuntansi Keuangan dengan Akuntansi


Manajemen
1. Akuntansi Keuangan
2. Laporannya ditekankan pada kebutuhan pihak luar
3.Laporannya mencakup seluruh organisasi
4.Memiliki standar penyusunan yang baku
5. Mencatat data historis
6.Akurasinya amat tinggi
7.Diatur dan dilindungi Undang-undang
8.Akuntansi Manajemen
9.Laporannya digunakan oleh pihak intern (manajemen)
10. Laporannya biasanya menyangkut unit dalam organisasi lebih
rinci
11.Tidak memiliki standar penyusunan yang baku
12. Bias historis, bias prediksi atau standar

13. Yang penting relevansi pada kebutuhan pemakai


14.Tidak tunduk pada Undang-undang

5.5

Tujuan Akuntansi atau Laporan Keuangan

Tujuan akuntansi atau laporan keuangan menurut berbagai sumber dapat


dilihat sebagai berikut ini :
Prinsip Akuntansi Indonesia (1984) menyatakan bahwa tujuan laporan
keuangan itu adalah

1.

Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai

aktiva dan kewajiban serta modal suatu perusahaan

2.

Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai

perubahan dalam aktiva netto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan


yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba

3.

Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai

laporan di dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba

4.

Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan

dalam aktiva dan kewajiban suatu perusahaan seperti informasi mengenai


aktivitas pembiayaan dan investasi

5.

Untuk

mengungkapkan

sejauh

mungkin

informasi

lain

yang

berhubyngan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan


pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang
dianut perusahaan.

APB Statement No 4 (AICPA), menggambarkan tujuan laporan keuangan


menjadi dua yaitu :

1.

Tujuan umum

Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi


keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima.

2.

Tujuan khusus

Memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih,

proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban, serta informasi lainnyab


yang relevan.

A Statement Of Basic Accounting Theory merumuskan empat tujuan


akuntansi yaitu ;

1.

Membuat keputusan yang menyangkut penggunaan kekayaan yang

terbatas dan untuk menetapkan tujuan

2.

Mengarahkan dan mengontrol secara efektif sumber daya manusia dan

factor produksi lainnya

3.
4.

Memelihara

dan

melaporkan

pengamanan

terhadap

kekayaan

Membantu fungsi dan pengawasan sosial.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK, 5), laporan keuangan adalah


menyediakan informasi yang menyangkut posisi keungan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
5.6 Postulat, Konsep, Prinsip, dan Teknik Akuntansi

a.

Postulat akuntansi

Pospulat akuntansi dalam gambar di atas merupakan elemen dalam struktur


teori akuntansi. Pengertian pospulat dalam konteks ini adalah : Pernyataan
yang dapat membuktikan sendiri kebenarannya atau disebut juga aksioma
yang sudah diterima, karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan
keuangan, yang menggambarkan aspek ekonomi, politik sosiologis, dan
hukum dari suatu lingkungan (masyarakat) di mana akuntansi beroperasi.
b.

Konsep Akuntansi

Konsep teoretis sebagai elemen dalam teori akuntansi adalah : Pernyataan


yang dapat membuktikan sendiri kebenarannya atau disebut juga aksioma
yang sudah diterima, karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan
keuangan, yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang berperan dalam
ekonomi pasar yang ditandai dengan adanya pengakuan hak pribadi.
c.

Prinsip Akuntansi

Prinsip akuntansi yang merupakan elemen struktur teori akuntansi adalah :


peraturan umum yang dijabarkan dari tujuan laporan keuangana atau
konsep teoretis akuntansi yang menjadi dasar dalam pengembangan teknik
akuntansi.

d.

Teknik Akuntansi

Teknik akuntansi sebagai unsure terakhir dalam struktur elemen dasar dari
akuntansi adalah : Peraturan khusus yang dijabarkan dari prinsip akuntansi
yang mengatur bagaimana perlakuan terhadap transaksi atau kejadian
tertentu yang dialami suatu lembaga.
5.7 Prinsip Dasar Akuntansi

Prinsip-prinsip ini mendasari setiap sifat dan cirri laporan keuangan dan
output akuntansi lainnya sebagai berikut :
1.

Accounting entity

2.

Going concern

3.

Measurement

4.

Time period

5.

Monetary unit

6.

Accrual

7.

Exchange price

8.

Approximation

9.

Judgment

10.

General purpose

11.

Interrelated statement

12.

Substance over form

13. Materiality

Prinsip dasar akuntansi menurut SAK

Prinsip akuntansi Indonesia 1984 membuat sifat dasar atau konsep dasar
akuntansi antara lain :

1.

Kesatuan akuntansi;

2.

Kesinambungan;

3.

Periode akuntansi;

4.

Pengukuran dalam nilai uang;

5.

Harga pertukaran;

6.

Penetapan beban dan pendapatan.

5.7 Kualitas Laporan

A Statement Of Basic Accounting Theory (ASOBAT) merekomendasikan


pedoman dalam pelaporan akuntansi antara lain :

Mengungkapkan hubungan keuangan dan kegiatan yang dianggap

penting.
Memasukkan informasi dalam lingkungan perusahaan (di mana data
diperoleh dan ke mana disampaikan).

Menggunakan keseragaman di antara berbagai perusahaan.

Konsistensi praktik sepanjang waktu.

FASB melalui Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No.2


mengemukakan

hierarki

kualitas

laporan

keuangan

antara

lain

Manfaat pembuatan informasi harus lebih besar dari pada biaya untuk
menyusunnya;
Informasi itu harus dapat dipahami;

Informasi harus berguna bagi proses pengambilan keputusan;

Supaya berguna maka informasi harus relevan;

Dapat diyakini kebenarannya;

Harus dapat digunakan untuk tujuan prediksi;

Harus mampu memberikan data umpan balik;

Informasi harus tepat waktu;

Dapat diperiksa kebenarannya;

Penyajiannya benar;

Konsistensi dan dapat diperbandingkan;

Netral diatas berbagai kepentingan berbagai pemakai laporan;

Hanya memuat hal-hal yang material.

5.8 Hubungan dengan Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan merupakan kegiatan menganalisis laporan


keuangan yang lahir dari suatu konsep dan system akuntansi keuangan.
Dengan memahami sifat dan konsep akuntansi keuangan, kita akanlebih
mengenal sifat dan konsep akuntansi keuangan sehingga kita dapat menjaga
kemungkinan salah taksir terhadap informasi yang diberikan serta saat

mengenal lebih dalam sifat-sifat dari laporan yang disajikan melalui laporan
keuangan itu sehingga kesimpulan kita lebih akurat.

5.9 Kelemahan Analisis Laporan Keuangan

1.

Analisis laporan keunagan di dasarkan pada laporan keuangan, oleh

Karenanya

kelemahan laporan keuangan harus selalu diingat agar

kesimpulan dari analisis itu tidak salah.

2.

Objek analisis laporan keuangan hanya laporan keuangan. Untuk

menilai suatu perusahaan tidak cukup hanya dari angka-angkaa laporan


keuangan.kiata harus melihat aspek lainnya seperti tujuan perusahaan situasi
ekonomi, situasi industry, gaya manajemen, budaya perusahaan, dan budaya
masyarakat.

3.

Objek analisis adalah historis yang menggambarkan masa lalu dan

kondisi ini bias berbeda dengan kondisi masa depan.

4.

Jika kita melakukan perbandingan dengan perusahaan lain maka perlu

melihat beberapa perbedaan prinsip yang bisa menjadi penyebab perbedaan


angka misalnya :

Prinsip akuntansi

Jenis industry
Periode laporan
Laporan individual atau Konsolidasi
Jenis perusahaan aspek profit motive atau nonprofit motive
5.

Laporan keuangan hasil konsolidasi atau hasil konversi mata uang

asing perlu mendapatkan perhatian tersendiri karena perbedaan bisa saja


timbul karena masalah kurs konversi atau metode konsolidasi.

6.

Kelemahan analisis rasio.

Tehnik analisis rasio merupakan sebagian dari konsep analisis laporan


keuangan. Tehnik analisis rasio memiliki kelelmahan sebagai berikut :
Rasio itu diambil dari data akuntansi yang juga memiliki sifat-sifat tersendiri
yang harus diketahui, dan memerlukan tafsiran tersendiri. Dan bukan tidak
mungkin data akuntansi itu sendiri mengandung data manipulasi atau
kesalahan-kesalahan lainnya. Perbedaan-perbedaan yang sama-sama boleh
dalam akuntansi misalnya perbedaan metode penyusutan akan memberikan
data keuangan yang berbeda, penilaian persediaan, periode akuntansi, dan
lain-lain.
Kalau kita ingin menganalisis 2 perusahaan yang berbeda dan ingin
membandingkannya, kita harus melakukan :

1.

Analisis tentang prinsip akuntansi yang dianut;

2.

Penyesuaian (rekonsilia) atas hal-hal yang berbeda.

7.

Dalam menilai suatu rasio baik atau buruk, analis harus hati-hati. Turn

over yang tinggi belum tentu baik. Mungkin perusahaan melakukan obral
besar-besaran

dan

cendrung

mau

bangkrut

atau

mungkin

jenis

perusahaannya berbeda.Rasio Turn Over untuk perusahaan supermarket


berbeda
8.

sekali

dengan

perusahaan dealer mobil

mewah misalnya.

Membandingkan dengan Industrial ratio (yang belum ada di

Indonesia)harus hati-hati. karena banyak trik-trik yang digunakan manajemen


untuk memperbaiki rasio.

9.

Harus juga disadari bahwa laporan keuangan yang dianalisis tidak

menggambarkan
10.

perubahan

nilai

uang

dan

tenaga

belinya.

Hati-hati terhadap kemungkinan adanya window dressing, income

smoothing, atau laporan konsolidasi.


5.10 KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN AKUNTANSI
Perusahaan-perusahaan perlu membuat pilihan diantara berbagai metode
akuntansi

dalam

mencatat

transaksi

dan

menyiapkan

laporan

keuangan.PABU menuntut pilihan ini merepresentasi kebijakan akuntansi


suatu perusahaan.

Kebijakan akuntansi dari sebuah pelaporan entitas adalah prinsip akuntansi


spesifik dan metode penerapan prinsip tersebut yang oleh manajemen entitas
dipandang paling tepat untuk menyajikan posisi keuangan, perubahan dalam
posisi keuangan, dan hasil operasi dengan sewajarnya sesuai dengan PABU
dan karenanya diadopsi untuk menyiapkan laporan keuangan.
Perusahaan juga membuat perubahan akuntansi sebagai bagian dari
kebijakan akuntansi mereka.Keyakinan umum adalah bahwa perusahaan
membuat perubahan akuntansi untuk memoles kinerja mereka.Literatur
akuntansi menjelaskan bahwa perubahan-perubahan dalam prinsip dan
estimat akuntansi dalam pengertian keinginan manajemen untuk mencapai
tujuan tertentu seperti perataan income, atau mengurangi biaya keagenan
berkaitan dengan pelanggaran perjanjian utang.

DAFTAR PUSTAKA
Belkaoui,

Ahmed

Riahi.

(2006).

Teori

Akuntansi.

Jakarta:Salemba Empat.
Hendriksen. (2000).Accounting Theory. 9thEdition.

Edisi

Kelima.

Anda mungkin juga menyukai