Anda di halaman 1dari 3

Rizcha Anastasia Widodo

135070500111008

Biofarmasetika Rute Parenteral

Produk parenteral, terutama dalam bentuk injeksi, harus steril, tidak boleh
mengandung partikel yang memberikan reaksi pada pemberian, dan tidak mengandung bahan
pirogenik. Pembebasan dari mikroba (steril) dapat dilakukan dengan cara sterilisasi dengan
pemanasan pada wadah akhir, namun untuk bahan yang tidak tahan panas dapat dilakukan
teknik aseptik. Bahan pirogenik adalah endotoksin bakteri yang berasal dari fragmen dinding
selnya. Adanya endotoksin ditandai dengan reaksi demam, hal ini merupakan pertanda bahwa
selama proses produksi terjadi kontaminasi mikroba pada produk (Akers, 2002).
Rute pemberian obat secara parenteral merupakan rute yang tidak melalui
gastrointestinal track atau saluran pencernaan. Rute yang paling umum digunakan adalah
injeksi intravena. Selain itu terdapat pula rute intramuskular, subkutan, intradermal,
intraspinal, artikular, intrakardiak, dan lain-lain (Akers, 2002).
Menurut Farmakope Indonesia edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa larutan,
suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau di suspensikan terlebih dahulu sebelum
digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit
atau selaput lendir. Injeksi dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan atau mensuspensikan
sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut atau dengan mengisikan sejumlah obat kedalam
wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda (FI III, 1979).
Rute intravena merupakan rute pemberian obat dengan penginjeksian obat langsung
ke pembuluh darah vena. Sediaan rute intravena berbentuk larutan dan tidak boleh berbentuk
emulsi mau pun suspensi karena dapat menyyumbat pembuluh vena. Bioavailibilitas rute ini
100% karena sediaan segera tersebar ke seluruh tubuh tanpa proses absorpsi sehingga
onsetnya cepat (Prantera, 1997).
Pada rute intramuskular, obat masuk ke sirkulasi dengan cara berdifusi pasif menuju
cairan di sekitar tempat sediaan diadministrasikan. Pelepasan obat dari otot berjalan lambat
sehingga onset obat lebih lambat dari intravena, namun lebih lama durasi kerjanya. Sediaan
berbentuk larutan akan lebih cepat pelepasan obatnya daripada bentuk kental seperti minyak
mau pun suspensi. Pada suspensi, kecepatan penyerapan obat sangat tergantung pada besar
kecilnya partikel yang tersuspensi: semakin kecil partikel, semakin cepat proses absorpsi.
Injeksi IM dengan volume yang besar juga akan meningkatkan absorpsi dibandingkan injeksi
volume kecil jika obat lipofil, jika hidrofil hal ini tidak berarti. Faktor yang mempengaruhi

pelepasan obat dari jaringan otot (im) anatar lain : rheologi produk, konsentrasi dan ukuran
partikel obat dalam pembawa, bahan pembawa, volume injeksi, tonisitas produk dan bentuk
fisik dari produk (Prantera, 1997).
Sediaan injeksi subkutan disuntikkan ke jaringan di bawah kulit. Umumnya larutan
bersifat isotonis dan pH-nya netral. Onset pemberian subkutan lebih lambat dari intravena
dan intramuskular karena absorpsinya lebih lambat. Determinan dari kecepatan absorpsi ialah
total luas permukaan dimana terjadi penyerapan, menyebabkan konstriksi pembuluh darah
lokal sehingga difusi obat tertahan/diperlama, obat dapat dipercepat dengan menambahkan
hyaluronidase, suatu enzim yang memecah mukopolisakarida dari matriks jaringan (Prantera,
1997).
Di dalam darah, kebanyakan obat mengalami pengikatan secara reveribel dengan
komponen-komponen darah terutama albumin. Dengan demikian di dalam darah obat
terdapat dalam dua bentuk, yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat. Bentuk terikat karena
molekulnya besar, tidak bisa menembus membran, tetap tinggal dalam ruang vaskuler;
sedangkan bentuk bebas akan menembus dinding vaskuler dan masuk ke dalam jaringanjaringan dan cairan tubuh lainnya (Nema, 2010).
Keuntungan dari pemberian obat secara parenteral antara lain (Syamsuni, 2006):
a)
b)
c)
d)

Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.


Bioavabiltas sempurna atau hampir sempurna.
Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis dapat dihindarkan .
Obat dapat diberikan kepada penderita yang sedang sakit keras ataupun koma.

Sedangkan kelemahan dari rute parenteral diantaranya ialah (Syamsuni, 2006):


a) Pemberian sediaan parenteral harus dilakukan oleh personal yang terlatih dan
membutuhkan waktu pemberian yang lebih lama
b) Pemberian obat secara parenteral sangat berkaitan dengan ketentuan prosedur aseptic
rasa nyeri pada lokasi penyuntikan yang tidak selalu dapat dihindari
c) Bila obat telah diberikan secara parenteral, sukar sekali untuk
menghilangkan/merubah efek fisiologisnya karena obat telah berada dalam sirkulasi
sistemik
d) Harganya relatif lebih mahal, karena persyaratan manufaktur dan pegemasan
e) Masalah lain dapat timbul pada pemberian obat secara parenteral dan interaksi obat
secara parenteral seperti septisema, infeksi jamur, inkompatibilitas karena
pencampuran sediaan parenteral dan interaksi obat.

Daftar pustaka
Akers, M. J., Larrimore, D., Guazzo, D. 2002. Parenteral Quality Control: Sterility, Pyrogen,
Particulate, and Package Integrity Testing. CRC Press, USA.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Depkes RI, Jakarta.
Nema, S., Ludwig, J. D. 2010. Pharmaceutical Dosage Forms: Parenteral Medications 3rd
Edition. CRC Press, USA.
Prantera, C., Korelitz, B. I. 1997. Development of Biopharmaceutical Parenteral Dosage
Forms. Taylor & Francis, USA.
Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. EGC, Jakarta.