Anda di halaman 1dari 12

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Praditya Teguh Priambodo


: B1J013061
:I
:1
: Ade Winda Pradana

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyediaan benih ikan yang memadai baik secara kuantitas maupun
kualitasnya sangat diperlukan untuk menunjang perkembangan akuakultur. Adanya
usaha pembenihan sangat diperlukan agar dapat menyediakan benih ikan dalam
jumlah banyak dan berkualitas tinggi, secara berkesinambungan. Langkah awal
usaha tersebut dapat dimulai dengan cara mengembangkan pemuliaan ikan (breeding
program), baik melalui teknik reproduksi alami maupun teknik reproduksi buatan.
Faktor yang sangat menentukan di dalam pengembangan usaha pembenihan ikan
adalah kesinambungan penyediaan induk matang gonad yang sehat dan berkualitas,
karena hanya dari induk unggul akan didapatkan benih ikan yang mempunyai
kecepatan tumbuh tinggi dan kebal penyakit (Itishom, 2008).
Pemijahan buatan ikan mulai dikenal sejak tahun 1943 di Brazil dengan
teknik hipofisasi untuk merangsang ovulasi pada induk betina. Hipofisasi adalah
menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisis (donor) untuk menginduksi kematngan
gonad, ovulasi dan spermiasi. Teknik hipofisasi dilakukan untuk meningkatkan kadar
hormon LH pada ikan yang kadarnya tidak cukup menghasilkan kematangan gonad
tingkat akhir dan ovulasi pada betina (Najmiyati et al., 2006). Metode hipofisasi
adalah usaha untuk memproduksi benih dari induk yang tidak mau memijah secara
alami tetapi memiliki nilai jual tinggi dengan kelenjar hipofisasi dari ikan donor yang
menghasilkan hormon yang merangsang pemijahan seperti gonadotropin. Pemijahan
sistem hipofisasi ialah merangsang pemijahan induk ikan dengan menyuntikkan
kelenjar hipofisa (Susanto, 1996).
Hipofisis merupakan suatu kelenjar yang terletak didalam struktur bertulang
(sela tursika) di dasar otak. Sela tursika berfungsi sebagai pelindung hipofisa dan
memberikan ruang yang sangat kecil untuk mengembang. Proses hipofisasi dapat
mempercepat kematangan gonad 10-12 jam sebelum memijah. Kematangan gonad
tergantung dari ukuran dan bentuk hewan Kelenjar hipofisa menghasilkan berbagai
hormon di antaranya adalah GnRH, ACTH, TSH, FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin,
Vasopresin dan Oksitosin (Afrianto, 1998).

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah merangsang ikan untuk ovulasi dan
memijah dengan induksi kelenjar hipofisis.

II. MATERI DAN CARA KERJA


2.1 Materi
Alat yang digunakan adalah spuit, sterofoam, ember plastik, homogeniser,
centrifuge, pisau besar dan kecil, bak pemijahan, selang aerasi, spatula dan cawan
petri.
Bahan yang digunakan adalah ikan Mas matang kelamin (Cyprinus carpio)
sebagai donor dan ikan Nilem (Osteochilus hasselti) sebagai ikan resipien serta
akuabidest.
2.2
1.
2.
3.

Cara Kerja
Ikan Mas (Cyprinus carpio) matang kelamin disiapkan sebagai donor.
Kepala ikan dipotong tepat di belakang telinga sampai putus.
Pemotongan kedua dilakukan dengan meletakkan kepala ikan Mas dengan mulut
menghadap ke atas, bagian belakang kepala dipotong tepat dari lubang hidung di

atas otak sampai putus sehingga tengkorak kepala terbuka.


4. Kelenjar hipofisis ikan diambil, dibersihkan dan dilumatkan dengan ditambah
akuabidest (1 cc).
5. Akuabidest ditambahkan sesuai kebutuhan, yaitu volume keseluruhan sama
dengan jumlah ikan yang akan disuntik (resipien) x 0,3 cc.
6. Kelenjar hipofisis disentrifuge kecepatan 3000 rpm selama 10 menit hingga
menjadi ekstrak kelenjar.
7. Ekstrak kelenjar disuntikkan pada ikan Nilem (Osteochilus hasselti) sebagai ikan
resipien.
8. Di induksi selama 10 jam.
9. Diamati hasilnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil
Tabel 3.1.1 Hasil Pengamatan Rasio Hipofisasi Rombongan I
/

Memijah

1:3

1:2

1:1

Tidak Memijah

Tabel 3.1.2 Hasil Pengamatan Dosis Hipofisasi Rombongan II


/

Memijah

2 cc

4 cc

Tidak Memijah

3.2 Pembahasan
Praktikum hipofisasi ini mengggunakan ikan Mas (Cyprinus carpio) sebagai
donor universal dan ikan Nilem (Osteochilus hasselti) sebagai ikan resipien. Kelenjar
hipofisa ikan Mas diambil dan dibuat ekstraknya untuk disuntikkan pada ikan Nilem.
Penyuntikan dengan metode intramuscular dilakukan pukul 20.30 wib dan kurang
lebih 10 jam kemudian yaitu pukul 7.00 WIB diamati hasilnya. Berdasarkan
pengamatan didapat bahwa tidak ada ikan yang berhasil memijah. Hal ini tidak
sesuai dengan pustaka Sumantadinata (1983), penyuntikan kelenjar hipofisis akan
memberikan respon dan menyebabkan ikan memijah antara 7-11 jam. Hal ini bisa
terjadi karena hipofisasi dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya ketidaktepatan
penyuntikkan sehingga ekstrak hipofisa tidak masuk aliran darah. Menurut Djuhanda
(1981), ikan juga tidak dapat memijah disebabkan karena ikan mengalami stress
yang dipengaruhi keadaan lingkungan, adanya sisik yang terkelupas, lamanya waktu
penyuntikan, serta kualitas airnya tidak sesuai dengan habitat ikan.
Menurut Kakufu & Ikonwe (1983), cara pengambilan ikan resipien jangan
sampai terjadi luka atau hilangnya sisik, hal ini dapat menyebabkan ikan tidak dapat
memijah walaupun telah diberi suntikan kelenjar hipofisa, serta perlu diperhatikan
tempat penyuntikkan hipofisis. Apabila keadaan suhu lingkungan yang disenangi
tidak dijumpai, maka ikan tidak akan memijah. Kondisi media yang kurang sesuai
antara lain pH air, tekanan osmosis, oksigen terlarut yang kurang, kemasakan atau
kematangan kelamin ikan, keadaan psikologis ikan, dan cahaya juga dapat
mempengaruhi ikan tidak memijah. Rendahnya hormon gonadotropin dalam darah
menyebabkan kemampuan gonadotropin untuk mengovulasikan telur sangat terbatas.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum, dapat diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi pemijahan diantaranya adalah tingkat kematangan gonad,
stress dan tempat pemijahan yang tidak cocok dengan habitat asli. Syarat ikan donor
dan resipien haruslah yang telah benar-benar matang kelamin, hal ini penting karena
hanya ikan yang telah matang kelamin yang memiliki volume kelenjar hipofisis yang
maksimal. Apabila yang digunakan belum matang kelamin maka ikan tersebut tidak
dapat memijah ataupun volume kelenjar hipofisanya masih sedikit. Makanan yang
diberikan pada ikan haruslah yang mencukupi dalam hal kebutuhan nutrisinya,
karena ikan yang memijah memerlukan pasokan nutrisi yang cukup banyak untuk
mensuplai telurnya (Bagnara, 1988).

Ciri-ciri morfologis ikan betina matang gonad yang siap untuk memijah
adalah gerakannya lamban, perut mengembang dan bila diraba terasa lunak, lubang
genital memerah dan menonjol, terkadang telur telah tampak di lubang genital. Ciriciri sel telur matang secara fisiologis adalah polar body I telah keluar, germinal
vesicle (inti sel) telah menepi dan berada di depan micropile, warna telur transparan,
ukuran telur mendekati 1 mm. Sejenak sebelum ovulasi germinal vesicle akan
melebur sehingga disebut Germinal Vesicle Break Down (Susanto, 1996).
Ciri-ciri ikan jantan matang gonad secara morfologis adalah ikan lebih
ramping dibanding ikan betina, gerakannya lincah, bila diurut ke arah lubang genital
akan keluar cairan seperti susu (milt). Ciri-ciri sel sperma matang adalah warna
seperti susu atau santan dan kental, organ sperma telah lengkap, motilitas tinggi,
kenormalan lebih dari 90%. Kenormalan sperma merupakan unsur yang penting
disamping kesehatan, karena faktor ini akan diturunkan kepada anaknya (Susanto,
1996).
Menurut Sumantadinata (1983), dalam teknik hipofisasi dilakukan dengan
cara menggunakan ikan donor dan ikan resipien. Ikan donor adalah ikan yang
diambil kelenjar hipofisanya dan masih dalam satu jenis atau satu familia dengan
ikan resipien, yaitu ikan yang diinjeksi atau disuntik. Ikan donor dan resipien adalah
ikan yang matang kelamin, yang biasanya menunjukkan gerakan gelisah dan sering
bergerak ke permukaan air. Menurut Picford (1957), penyuntikan suspensi kelenjar
hipofisis diharapkan mampu merangsang organ seksual jantan dan betina ikan
sehingga mempercepat spermatogenesis dan ovulasi. Penambahan gonadotropin
diharapkan akan meningkatkan konsentrasi FSH dan LH dalam tubuh ikan.
Kelenjar hipofisis terdiri dari berbagai jaringan embrionik yang berasal dari
dua sumber, yaitu komponen saraf dan komponen bucall. Hipofisis mensekresi
sejumlah hormon yang mengatur kelenjar endokrin lain atau secara langsung
mempengaruhi metabolisme. Fungsi yang paling khas dari hipofisis anterior adalah
mengeluarkan hormon-hormon yang mempengaruhi aktivitas-aktivitas kelenjar
endokrin lain, terutama menyangkut reproduksi (Hadjamulia, 1980). Hipofisasi
dimulai dari ekstrak kelenjar hipofisa yang disuntikkan pada ikan resipien dan
menimbulkan rangsangan. Informasi berupa rangsangan yang diterima diteruskan ke
hipotalamus melalui sel syaraf, sehingga hipotalamus akan memproduksi hormon
gonadtropin, FSH dan LH. Hormon ini akan mempengaruhi testis dan ovarium untuk

memproduksi estrogen dan progesterone untuk menghasilkan sperma dan sel telur
(Gardon, 1982).
Proses perkembangan gonad dan ovulasi pada ikan diatur oleh sistem
hormon. Agar ikan mau memijah, maka dalam prosesnya akan lebih baik jika
menggunakan manipulasi hormon yaitu melalui penyuntikkan beberapa macam
hormon. Hormon yang sering digunakan untuk merangsang pemijahan diberbagai
negara saat ini adalah sGnRHa+domperidon (ovaprim). Salah satu faktor yang
mempengaruhi rangsangan pemijahan adalah pemberian dosis yang tepat. Dosis
hormon yang kurang tepat akan memberikan hasil yang kurang memuaskan
(Itishom, 2008).
Tanda-tanda ikan yang sudah mengalami ovulasi dan siap dikeluarkan
telurnya yaitu ikan terlihat gelisah, sering muncul di permukaan air dan ikan jantan
sering berpasangan dengan ikan betina. Kelenjar hipofisis berukuran sangat kecil,
terletak di sebelah bawah bagian depan otak besar (diencephalon) sehingga jika otak
kiri diangkat, maka kelenjar ini akan tertinggal. Kelenjar hipofisa terdiri atas 4
bagian masing-masing berurutan dari depan ke belakang adalah pars tubelaris, pars
anterior, pars intermedius dan neurophisis (Ville et al., 1988).
GnRH merupakan inisiator neuroendokrin utama dari hormonal yang
mengendalikan reproduksi, melalui stimulasi tindakan pada sintesis dan sekresi
hipofisis gonadotropin. Seperti di banyak teleost lainnya, tiga gen GnRH berbeda
hadir. Tipe 1 GnRH (GnRH-1), gen diekspresikan dalam neuron otak depan bagian
ventral. Tipe 2 GnRH (GnRH-2) menghasilkan varian gen yang disebut ayam GnRHII (cGnRH-II) yang disintesis oleh neuron yang terletak pada transisi diencephalicmesencephalic. Tipe 3 GnRH (GnRH-3), gen mengkodekan varian lain bernama
salmon GnRH (sGnRH) yang terutama dihasilkan di olfactory bulb/neuron
telencephali (Servili et al., 2010). Teknik hipofisasi telah memberi manfaat yang
besar terhadap pembenihan, tetapi masih belum lepas dari berbagai masalah yang
dihadapi seperti dosis dan sumber kelenjar hipofisa (Muhammad et al., 2001).
Hipofisasi dapat dilakukan dengan menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa
pada tubuh ikan yang akan dibiakkan. Terdapat 3 cara penyuntikkan menurut
Hadjamulia (1970) yaitu :

a. Teknik intra muscular (penyuntikan ke dalam otot), Teknik penyuntikan yang


dilakukan dengan cara menyuntikkan pada bagian otot punggung atau batang
ekor.
b.

Teknik intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut), Teknik penyuntikan ke


dalam rongga perut, lokasi penyuntikan antara kedua sirip perut sebelah depan
dan atau antara sirip dada sebelah depan sejajar dengan dinding perut.

c. Teknik intra cranial (penyuntikan di kepala), Teknik penyuntikan ke dalam


rongga otak melalui tulang occipital bagian yang tipis.
Berdasarkan

ketiga teknik penyuntikkan yang paling umum dan mudah

dilakukan adalah teknik intra muscular, karena pada bagian ini tidak merusak organ
yang penting bagi ikan dalam melakukan proses metabolisme seperti biasanya dan
tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. Penyuntikan secara
intra muscular yaitu sisik ke 5 dari pinna dorsalis dan 3 sisik ke bawah dari pinna
dorsalis ikan.
Metode pemijahan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu stripping dan hormon :
1. Stripping
Stripping adalah salah satu metode pemijahan dengan cara mengurut perut
induk ikan, hal ini dilakukan untuk mengeluarkan telur dan semen (cairan sperma).
Stripping dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Kering, Sel telur hasil stripping dari induk betina dicampur dengan sperma
jantan, pencampuran dilakukan dengan bulu ayam/ bulu bebek, kemudian
dibiarkan selama 10 menit. Setelah itu dicuci dengan air laut yang telah
disaring dan disterilisasi, baru telur dipindahkan ke bak penetasan.
b. Basah, Sel telur dan sperma hasil stripping dicampur dalam air laut yang telah
disterilisasidan dibiarkan selama + 10 menit, kemudian dicuci dan
dipindahkan.
2. Hormon
Berdasarkan tekniknya, pemijahan ikan dengan hormon dapat dilakukan
dengan 3 macam cara yaitu:
a. Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan
manusia. Terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon).

b. Pemijahan secara semi intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi


denganmemberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan
gonad, tapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam.
c. Pemijahan ikan secara intensif, yaitu memberikan rangsangan hormon
untuk mempercepat kematangan gonad serta ovulasinya (Hadjamulia, 1970).

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa :
1. Teknik hipofisasi dilakukan dengan cara menggunakan ikan donor (Cyprinus
carpio) dan ikan resipien (Osteochillus hasselti).
2. Proses hipofisasi dapat mempercepat kematangan gonad 10-12 jam sebelum
memijah. Kematangan gonad tergantung dari ukuran dan bentuk hewan Kelenjar
hipofisa menghasilkan berbagai hormon di antaranya adalah GnRH, ACTH, TSH,
FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin, Vasopresin dan Oksitosin
3. Ikan Nilem yang telah di induksi kelenjar hipofisis tidak berhasil memijah, hal ini
dapat dikarenakan stress fisiologi dan keadaan tempat memijah yang tidak sesuai
dengan habitat aslinya dan juga bisa karena ketidaktepatan penyuntikkan sehingga
ekstrak hipofisa tidak masuk aliran darah.

DAFTAR REFERENSI
Afrianto, I. & Liviawati, E. 1998. Beberapa Metode Budidaya Ikan. Yogyakarta :
Kanisesis (Anggota IKAPI).
Bagnara, T. 1988. Endokrinologi Umum. Surabaya : Airlangga University Press.
Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Bandung : Armico,
Gardon, M.S. 1982. Animal Physiology Principles. New York : Mc Milan Publishing
Co.
Hadjamulia. 1970. Pengamatan Budidaya Ikan Merangsang Pemijahan Hormon
Hypofisa. Kontribusi Lembaga Penelitian Perikanan Darat No.19, Bogor.
Itishom, R. 2008. Pengaruh sGnRHa+Domperidon dengan Dosis Pemberian Dosis
yang berbeda Terhadap Ovulasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Strain Punten.
Berkala Ilmiah Perikanan. Vol. 3 No.1. pp. 9-16
Kakufu, T. dan Ikonwe, H. 1983. Hormon Injection for Artifical Spawning Modern
Methods of Aquaculture. Japan :In Japan Konshasha Ltd.
Muhammad, Hamzah S, Irfan A. 2001 . Pengaruh Donor dan Dosis Kelenjar
Hipofisa terhadap Ovulasi dan Daya Tetes Telur Ikan Betok (Anabas
testudineus Bloch). J Sains dan Teknnologi. Vol 3 (3) pp. 87-94.
Najmiyati, E., Lisyastuti E., Hedianto Y. E. 2006. Bipotensi Kelenjar Hipofisis Ikan
Patin (Pangasiun pangasius) Setelah Penyimpangan Kering Selama 0, 1, 2, 3
dan 4 Bulan. Jurnal Teknik Lingkungan. Vol. 7 (3). pp. 311-316.
Picford, G.E. 1957. The Physiology for Pituitary Gland of Fisher. New York :
Zoological Society.
Servili, Arianna, Christe` le Lethimonier, Jean-Jacques Lareyre, Jose Fernando Lo
pez-Olmeda, Francisco Javier Sa nchez-Va zquez, Olivier Kah, & Jose
Antonio Mun oz-Cueto. 2010. The Highly Conserved GonadotropinReleasing Hormone-2 Form Acts as a Melatonin-Releasing Factor in the
Pineal of a Teleost Fish, the European Sea Bass Dicentrarchus labrax.
Journal of Endocrinology, Vol 151 (5) pp. 22652275. ISSN 1945-7170.
Sumantadinata, K. 1983. Pembenihan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia. Bogor :
Sastra Budidaya.
Susanto, H. 1996. Teknik pemijahan Ikan Ekonomis. Jakarta : Penebar Swadaya.
Ville, C.A, Walker, W.F., & Barner, R. D. 1988. Zoologi Umum Edisi Ke- 6. Jakarta :
Erlangga.