Anda di halaman 1dari 18

MEKANISME NYERI

(UNTUK MEMENUHI TUGAS ILMU KEPERAWATAN DASAR II)

OLEH
KELOMPOK VI
NAMA KELOMPOK :
Yulita Lobo

(131111150)

KELAS
:C
ANGKATAN : VI
SEMESTER : II

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


STIKES CITRA HUSADA MANDIRI KUPANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Hyang Maha Esa,


karena berkat dan rahmatNYA, kami dapat menyelesaikan Makalah kini
tepat pada waktunya. Adapun judul dari makalah adalah MEKANISME
NYERI. Dalam penyusunannya, kami mendapatkan berbagai halangan
dan rintangan. Namun, berkat bantuan dari berbagai pihak, terutama
Dosen pembimbing, maka halangan dan rintangan itu bisa kami atasi dan
akhirnya tugas mengenai makalah ini dapat kami selesaikan.
Penyusunan tugas ini bertujuan untuk memenuhi kriteria penilaian
dalam perkuliahan karena makalah ini sangat berhubungan dengan
profesi kami dibidang kesehatan. Untuk itu, makalah ini disusun untuk
dipelajari demi tuntutan pendidikan.

Kupang, MEI 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan merupakan salah satu keinginan setiap orang untuk
mempertahankan hidupnya. Didunia kesehatan, para medis yang
bertugas dalam menangani kesehatan masyarakat menyimpulkan
berbagai penyakit kedalam penyebab timbulnya masalah dalam
kehidupan.
Untuk itu, kita sebagai manusia yang perlu akan kesehatan
sebaiknya waspada terhadap ancaman berbagai penyakit yang
datang. Disini salah satu penyebab sakit itu adalah factor
lingkungan, genetic, makanan, dan lainnya. Kebanyakan individu
terserang penyakit mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Disisi
lain, penyakit dapat menyebar begitu cepat dalam tubuh melalui
perantara biologis dan nonbiologis.
Kelainan tubuh terjadi dan beberapa gejala fungsi organ
terganngu akibat kesalahan manusia itu sendiri contohnya, nyeri.
Seperti yang ktia ketahui bahwa nyeri tersebut merupakan suatu
gejala yang mengakibatkan muskulus atau otot menjadi tersendat
akibat adanya ketidaknormalan darah melewati pembuluh darah
seperti keadaan normalnya.
Selain itu, nyeri juga bisa dikatakan sebagai suatu keadaan
yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui sebagai
keadaan yang tak nyaman. Biasanya berkaitan dengan kerusakan
jaringan actual seperti otot dan system peredaran darah.
Untuk itu kami mengangkat tema nyeri sebagai bahan acuan
dalam penulisan makalah yang memiliki harapan dan kegunaan
bagi diri sendiri dan para pembaca khususnya.
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
1. Dapat mendiskripsikan apa sebenarnya nyeri yang
dimaksud.
2. Agar kita

dapat mengetahui

secara

mendalam

mengenai nyeri dan hasilnya itu diinformasikan

didalam masyarakat serta menerapkan tata cara


pendiagnosaannya.
b. Tujuan Khusus
1. Mempelajari dengan seksama apa sebenarnya nyeri
itu
2. Dapat mengetahui bagaimana mekanisme nyeri itu
berlangsung.
1.3 Manfaat
1. Dapat mengetahui secara pasti apa sebenarnya nyeri itu.
2. Menambah pengetahuan dibidang pembelajaran mengenai
kesehatan secara menyeluruh.
3. Dapat mengetahui berbagai penanganan mengenai efek dari
nyeri itu bagi tubuh.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Nyeri
Nyeri adalah perasaan dan pengalaman sensoris atau
emosional yang tidak menyenangkan, yang berhubungan
dengan kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial,

nyeri selalu bersifat subjektif. (Tarcy (2005) Dikutip dari

International Association for the Study of Pain (IASP, 1994),


Nyeri adalah sensasi subjektif rasa tidak nyaman yang
biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau
potensial. Nyeri dirasakan apabila reseptor nyeri spesifik

teraktivasi (Elizabeth Crowin, 2007).


Nyeri adalah perasaan yang menimbulkaan distres ketika
ujung-ujung saraf tertentu (nosiseptor) di rangsang. (Kamus

Keperawatan)
Secara umum, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang
tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik
maupun dari dalam serabut saraf dalam tubuh ke otak dan
diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun emosional.

B. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi nyeri secara umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri akut
dan nyeri kronis (Long, 1989) :
a. Nyeri Akut
Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan
cepat menghilang, yang tidak melebihi 6 bulan dan ditandai
adanya peningkatan tegangan otot (Long, 1989).
Fungsi nyeri akut ialah memberi peringatan akan cedera atau
penyakit yang akan datang. Nyeri akut akhirnya menghilang
dengan atau tanpa pengobatan setelah keadaan pulih pada
araea yang rusak
( Potter & Perry, 2005).
b. Nyeri Kronis
Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahanlahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama, yaitu

lebih dari enam bulan. Yang termasuk dalam kategori nyeri


kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis, dan nyeri
psikosomatis (Long, 1989).
C. Reseptor Nyeri
Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya
rangsangan. Reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor,
yang merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki
sedikit atau bahkan tidak memiliki myelin yang tersebar pada kulit
mukosa, khususnya pada visera, persendian, dinding arteri, hati,
dan kandung empedu. Reseptor nyeri dapat memberikan respons
akibat adanya stimulasi atau rangsangan.

D. Stimulus Nyeri
Seseorang dapat mentoleransi, menahan nyeri (pain tolerance),
atau dapat mengenali jumlah stimulus nyeri sebelum merasakan
nyeri (pain threshold).
Ada beberapa jenis stimulus nyeri menurut Alimul (2006),
diantaranya adalah :
1. Trauma pada jaringan tubuh, misalnya karena bedah akibat
terjadinya kerusakan jaringan dan iritasi secara langsung
pada reseptor
2. Gangguan pada jaringan tubuh, misalnya karena edema
akibat terjadinya penekanan pada reseptor nyeri
3. Tumor, dapat juga menekan pada reseptor nyeri
4. Iskemia pada jaringan, misalnya terjadi blokade pada arteria
koronaria

yang

menstimulasi

reseptor

nyeri

akibat

tertumpuknya asam laktat


5. Spasme otot, dapat menstimulasi mekanik
Trauma pada jaringan tubuh, Gangguan pada jaringan tubuh,
Tumor
E. Kecepatan Sensasi
Fast pain (nyeri cepat) dirasakan selama kurang dari satu
detik (biasanya jauh lebih singkat) setelah aplikasi stimulus nyeri

(mis, menyentuh kompor panas). Nyeri cepat terlokalisasi dengan


baik pada suatu tempat dan sering digambarkan sebagai tusukan
ataau tajam. Nyeri cepat biasanya dirasakan pada atau dekat
dengan permukaan tubuh.
Slow pain (nyeri lambat) dirasakan selama satu detik atau
lebih setelah aaplikasi stimulus nyeri (mis, nyeri yang terus terasa
setelaah kepala terbentur). Nyeri lambat sering digambarkaan
sebagai tumpul, berdenyut, atau terbakar. Nyeri ini dapat meningkat
dalam beberapa menit dan dapat terjadi di kulit atau semua
jaringan dalam di tubuh. Nyeri lambat dapat menjadi kronis dan
menimbulkan disabilitas yang berat.
F. Teori Nyeri
a) Teori Pemisahan (Specivicity Theory)
Teori ini digambarkan oleh Descartes pada abad ke-17. teori ini
didasarkan pada kepercayaan bahwa terdapat organ tubuh
yang secara khusus mentransmisi rasa nyeri. Saraf ini diyakini
dapat menerima rangsangan nyeri dan mentransmisikanya
melalui ujung dorsal dan substansia gelatinosa ke thalamus,
yang akhirnya akan dihantarkan pada daerah yang lebih tinggi
sehingga timbul respons nyeri (Tamsuri, 2006).
Menurut teori ini, rangsangan nyeri masuk ke medulla spinalis
(spinal cord) melalui dorsalis yang bersinaps di daerah
posterior, kemudian naik ke tractus lissur dan menyilang di garis
median ke sisi lainnya, dan berakhir di korteks sensoris tempat
rangsangan nyeri tersebut diteruskan (Long, 1989).
b) Teori Pola (Pattern theory).
Teori ini menerangkan bahwa ada dua serabut nyeri,yaitu
serabut yang mampu menghantarkan rangsangan dengan
cepat; dan mampu menghantarkan rangsangan dengan lambat.
Kedua serabut saraf tersebut bersinapsis pada medulla spinalis
dan meneruskan informasi ke otak mengenai jumlah, intensitas,
dan tipe input sensori nyeri yang menafsirkan karakter dan
kuantitas input sensori nyeri (Tamsuri, 2006).

Rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke


medulla spinalis dan merangsang aktivitas sel T. hal ini
mengakibatkan suatu respons yang merangsang ke bagian
yang lebuh tinggi, yaitu korteks serebri, serta kontraksi
menimbulkan

persepsi

dan

otot

berkontraksi

sehingga

minimbulkan nyeri. Persepsi dipengaruhi oleh modalitas respo


dari reaksi sel T (Long, 1989)
c) Teori Pengendalian Gerbang (Gate Control Theory)
Melzack & Wall (1965) pertama kali mengusulknan teori
mekanisme nyeri yakni teori Gate Control mereka menjelaskan
teori

gerbang

kendali

nyeri,

yang

menyatakan

terdapat

semacam pintu gerbang yang dapat memfasilitasi atau


memperlambat transmisi sinyal nyeri (Tamsuri, 2006). Menurut
teori ini, nyeri tergantung dari kerja serat syaraf besar dan kecil
yang

keduanya

berada

dalam

akar

ganglion

dorsalis.

Rangsangan pada serat syaraf besar akan meningkatkan


aktivitas substansi gelatinosa yang mengakibatakan tertutupnya
pintu mekanisme sehingga aktivitas sel T terhambat dan
menyebabkan

hantaran

rangsangan

ikut

terhambat.

Rangsangan serat besar dapat langsung merangsang korteks


serebri. Hasil persepsi ini akan dikembalikan ke dalam medulla
spinalis melalui serat eferen dan reaksinya mempengaruhi
aktivitas sel T. rangsangan pada serat kecil akan menghambat
aktivitas substansi gelatinosa dan membuka pintu mekanisme,
sehingga merangsang aktivitas sel T yang selanjutnya akan
menghantarkan rangsangan nyeri (Long, 1989).
Teori gate control menggambarkan bahwa ada mekanisme pintu
gerbang pada ujung syaraf ruas tulang belakang (spinal cord)
yang dapat meningkatkan atau menurunkan aliran impuls saraf
dari serat perifer menuju system saraf pusat. Mekanisme pintu
gerbang ini dipengaruhi oleh aktifitas A-Beta berdiameter besar,

A-Delta berdiameter kecil dan serabut c serta pengaruh dari


otak. Bila pintu tertutup berakibat tidak ada nyeri; pintu terbuka,
nyeri ; sebagian pintu terbuka, nyeri kurang. Ketika pintu ditutup,
transmisi impuls nyeri dihentikan di spinal cord sehingga nyeri
tidak mencapai tingkay yang disadari (Reeder-Martin, 1984 ;
Flynn & Heffron, 1984). Sereblum dan thalamus disebut sebagai
pusat control nyeri oleh melzak & Wall (1965). Pesan sensori
yang berbeda dialirkan langsung ke serebrum. Pusat control
memproses informasi dari 3 sumber, yakni informasi sensoridiskriminatif, informasi motivasi-afektif dan informasi kognitifevaluatif. Karena rangsangan nyeri diproses dalam konteks
yang individual, variasi yang luas dari respon nyeri dapat
diamati (Flynn & Heffron, 1984 ; marie, 2002).
d) Teori Transmisi dan Inhibisi
Adanya stimulus pada nociceptor memulai transmisi impulsimpuls syaraf, sehingga transmisi impuls menjadi efektif oleh
neurotransmitter yang spesifik. Kemudian, inhibisi impuls nyeri
menjadi efektif oleh impuls-impuls pada serabut besar yang
memblok impuls-impuls pada serabut lamban dan endogen
opiate system supresif (Long, 1989).
G. Mekanisme Nyeri
Rangkaian proses terjadinya nyeri diawali dengan tahap
transduksi, dimana hal ini terjadi ketika nosiseptor yang terletak
pada bagian perifer tubuh distimulasi oleh berbagai stimulus,
seperti faktor biologis, mekanisme, listrik, thermal,dan radiasi.
Fast pain dicetuskan oleh reseptor tipe mekanis atau thermal
(yaitu serabut saraf A-Delta), sedangkan slow plain (nyeri lambat)
biasanya dicetuskan oleh serabut saraf C).
Karakteristik Serabut A-delta yaitu :
Menghantar nyeri dengan cepat
Bermielinasi

Karakteristik Serabut C, yaitu :


Tidak bermielinasi
Berukuran sangat kecil
Bersifat lambat dalam menghantarkan nyeri
Serabut A mengirim sensasi yang tajam, terlokalisasi, dan
jelas dalam melokalisasi sumber nyeri dan mendeteksi intensitas
nyeri. Serabut C menyampaikan impuls yang terlokalisasi (bersifat
difusi), viseral, dan terus-menerus. Sebagai contoh mekanisme
kerja serabut A-delta dan serabut C dalam suatu trauma adalah
ketika seseorang menginjak paku, sesaat telah kejadian orang
tersebut dalam waktu kurang dari 1 detik akakn merasakan nyeri
yang terlokalisasi dan tajam, yang merupakan transmisi dari
serabut A. dalam beberapa detik selanjutnya, nyeri menyebar
sampai seluruh kaki terasa sakit karena persarafan serabut C.
Tahap

selanjutnya

adalah

transmisi, dimana impuls nyeri

kemudian ditransmisikan serat afferen (A-delta dan C) ke medula


spinalis melalui dorsal horn, dimana di sini impuls akan bersinapsis
di substansia gelatinosa (lamina II dan lll). Impuls kemudian
menyeberang keatas melewati traktus spinothalamus anterior dan
lateral. Beberapa impuls yang melewati traktus spinothalamus
lateral diteruskan langsung ke thalamus tanpa singgah di formatio
retikularis membawa impuls fast pain. Di bagian thalamus dan
korteks serebri inilah individu kemudian dapat mempersepsikan,
menggambarkan, melokalisasi, menginterpretasikan dan mulai
berespon terhadap nyeri.
Beberapa impuls nyeri

ditransmisikan

melalui traktus

paleospinothalmaus pada bagian tengah medula spinalis. Impuls ini


memasuki formatio retikularis dan sistem limbik yang mengatur

perilaku emosi dengan kognitf, serta integretasi dari sistem saraf


otonom. Slow pain yang terjadi akan membangkitkan emosi,
sehingga timbul respon terkejut, marah, cemas, tekanan darah
meningkta, keluar keringat dingin, dan jantung berdebar-debar.
H. Pengkajian Nyeri
Pengkajian nyeri yang tepat adalah awal dari penanganan nyeri
dan

merupakan

proses

lanjut

yang

meliputi

faktor-faktor

multidimensional perumusan manajemen nyeri terhadap rencana


keperawatan.

Pengkajian

mengidentufikasi

sindrom

ini
nyeri

sangat
atau

penting

penyebab

nyeri

dalam
dan

memasukkan pengkajian pada intensitas dan karakteristik nyeri,


pengkajian fisik yang berhubungan dengan pemeriksaan sitem
saraf akan dicurigai adanya gangguan pada sistem saraf.
Psikososial dan pengkajian kebudayaan menggunakan diagnosa
yang tepat dalam menentukan penyebab nyeri (Suza, 2007).\
Pengkajian dapat dilakukan dengan cara PQRST :
1. P (pemacu), yaitu faktor yang memengaruhi gawat atau
ringannya nyeri
2. Q (quality), yaitu kualitas dari nyeri itu sendiri. Seperti apakah
rasanya : tajam, tumpul, atau tersayat
3. R (region), yaitu daerah perjalanan nyeri
4. S (severity), adalah keparahan atau intensitas nyeri
5. T (time), yaitu lamanya nyeri/waktu serangan atau frekuensi
nyeri
Pengkajian nyeri meliputi berbagai aspek yaitu :
1. Lokasi

Anatomi diagnosa adalah sebuah ilustrasi yang tepat untuk


menentukan

lokasi

nyeri,

menentukan

letak

nyeri

banyak
secara

pasien
tepat,

tidak

dapat

banyak

yang

mengindikasikan letak dengan dengan huruf seperti ABC.


Pasien boleh menggambarkan lokasi nyeri dalam bentuk atau
bekas lokasi pada tubuhnya dan anggota keluarga dapat
memberi tanda bilangan atau angka pada bentuk pengkajianya
(Suza, 2007).
2. Intensitas
Seseorang dalam mengekspresikan nyeri mereka hanya
mampu menilai suatu intensitas nyeri secara akurat, dua jenis
skala penilaian intenstas nyeri yang digunakan adalah skala
verbal dan skala numerical.
a. Face Rating Scale
Skala ini diatur secara visual dengan ekspresi guratan wajah
untuk meunjukkan intensitas nyeri yang dirasakan. Skala
penilaian wajah pada dasarnya digunakan pada anak-anak
tetapi juga bias bermanfaat ketika orang dewasa yang
mempinyai kesulitan dalam menggunakan angka-angka dari
skala visual analog (VAS) yang merupakan alat penilaian
pengkajian nyeri secara umum (Suza, 2007)
Wong dan Baker (1988) mengembangkan skala wajah untuk
mengkaji nyeri pada anak-anak. Skala tersebut terdiri dari
enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan
wajah dari wajah yang sedang tersenyum tidak merasa
nyeri kemidian secara bertahap meningkat menjadi wajah
kurang bahagia, wajah yang sangat sedih sampai wajah
yang sangat ketakutan nyeri yang sangat (Potter & Perry,
2005)

b. Flowsheets (Kartu Pencatatan)


Kartu

ini

perkembangan

digunakan
yang

untuk
bertujuan

mendokumentasikan
mempertahankan

keberhasilan dalam manajemen nyeri. Dokter menggunakan


flowsheets untuk mencatat waktu, menilai nyeri dan
mengontrol penggunaan obat penghilang rasa nyeri dan efek
sampingnya.

Informasi

yang

ada

dalam

manajemen

Flowsheet dapat disatukan dalam bentuk bentuk format yang


lain untuk menghindari terjadinya kesalahan pada waktu
pencatatan.
c. Graphic Rating Scale
Graphic rating sacale dikembangkan oleh VAS untuk
menambah kata-kata atau angka diantara awal dan akhir
skala. Penambahan kata-kata seperti tidak nyeri, nyeri
sedang dan nyeri berat disebut verbal graphic rating scale
sedangkan jika huruf seperti 0 sampai 10 menjadi numerical
graphic rating scale (Suza, 2007)
d. Numerical Rating Scale
Skala penilaian numeric (Numerical Rating Scales, NRS)
lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata.
Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan
skala 0-10 (Potter & Perry, 2005). Skala ini digunakan secara
verbal atau visual dari 0 sampai 10 dan menambahkan katakata dan huruf sepanjang garis vertical dan horizontal, 0
menunjukkan hasil dari tidak ada nyeri dan 10 menunjukkan
hasil dari nyeri yang tak terbayangkan (Suza, 2005)
e. Simple Descriptor Scale (Verbal Descriptor Scale, VDS)

Skala

ini

menggunakan

daftar

kata-kata

untuk

mendeskripsikan perbedaan tingkat intensitas nyeri, mudah


dan sangat sederhana dalam menggunakannya sebagai
contoh tidak ada nyeri, nyeri ringan , nyeri sedang dan nyeri
barat (Suza, 2007).
Skala

deskriptif

merupaka

alat

pengukuran

tingkat

keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala pendeskripsian


verbal merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai
lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang
sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari
tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan
(Potter & Perry, 2005).;
f. Visual Analog Scale (VAS)
Visual analog scale tidak melabel subsidi. VAS merupakan
suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus
menerus dan memiliki alat pendeskripsi verbal pada setiap
ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk
mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan
pengukur keparahan nyeri yang lebih sensitive karena klien
dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada
dipaksa memilih satu kata atau satu angka (McGuire, 1984).
Visual Analog Scale digunakan dengan garis horizontal 10
cm dengan menambahkan kata-kata pada garisnya seperti
tidak ada nyeri, dan nyeri sangat berat. Pasien membuat
sebuah tanda sepanjang garis untuk mengungkapkan
intensitas

nyeri,

angka

diperoleh

dengan

mengukur

millimeter dari awal sampai akhir pengukuran dan pasien


akan langsung menandainya (Suza, 2007).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang kami telah uraikan diatas, maka dapat
ditarik kesimpulan :
Bahwa mekanisme nyeri diawali dengan tahap transduksi,
dimana hal ini terjadi ketika nosiseptor yang terletak pada bagian
perifer tubuh distimulasi oleh berbagai stimulus, seperti faktor
biologis, mekanisme, listrik, thermal,dan radiasi.
Tahap selanjutnya adalah transmisi, dimana impuls nyeri
kemudian ditransmisikan serat afferen (A-delta dan C) ke medula
spinalis melalui dorsal horn, dimana di sini impuls akan bersinapsis
di substansia gelatinosa (lamina II dan lll).

3.2 Saran
Demi lengkapnya isi dan pembahasan mengenai makalah
ini, maka kami sebagai penulis mengharapkan saran dari para
pembaca dan pendengar demi kelengkapan isinya. Untuk itu kami
mohonkan sarannya yang besifat membangun .

Daftar Pustaka

Sigit Nian Prasetyo 2010, Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri,


Penerbit Buku Erlangga
Crowin Elizabeth, 2007, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran, EGC
Uliyah Musrifatul dan A. Azis Alimul Hidayat, 2008, Ketrampilan
Dasar Praktik Klinik, Jakarta : Penerbit Salemba Medika
A, Aziz Alimul H, 2006, Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta :
Penerbit Salemba Medika