Anda di halaman 1dari 10

Ci Tarum

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Untuk kegunaan lain dari Citarum atau Ci Tarum, lihat Citarum (disambiguasi).
Ci Tarum, dengan jembatan kereta api di atasnya, dekat Stasiun Kedunggedeh.
Ci Tarum[1] atau Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat,
Indonesia. Sungai dengan nilai sejarah, ekonomi, dan sosial yang penting ini sejak 2007 menjadi
salah satu dari sungai dengan tingkat ketercemaran tertinggi di dunia. Jutaan orang tergantung
langsung hidupnya dari sungai ini[2], sekitar 500 pabrik berdiri di sekitar alirannya, tiga waduk
PLTA dibangun di alirannya, dan penggundulan hutan berlangsung pesat di wilayah hulu.

Daftar isi

1 Etimologi

2 Geografi

3 Ci Tarum dalam sejarah

4 Pemanfaatan
o 4.1 Pencemaran sungai
o 4.2 Biota sungai

5 Referensi

6 Lihat pula

7 Pranala luar

Etimologi
Ci Tarum disusun oleh dua kata yaitu Ci yang artinya sungai atau air dan tarum yang merupakan
nama tumbuhan penghasil warna nila. Dari asal usul kata ini bisa disimpulkan bahwa pada jaman
dahulu banyak tumbuhan tarum di sepanjang Ci Tarum.

Geografi

Panjang aliran sungai ini sekitar 300 km. Secara tradisional, hulu Ci Tarum dianggap berawal
dari lereng Gunung Wayang, di tenggara Kota Bandung, di wilayah Desa Cibeureum, Kertasari,
Bandung.[3] Ada tujuh mata air yang menyatu di suatu danau buatan bernama Situ Cisanti di
wilayah Kabupaten Bandung. Namun demikian, berbagai anak sungai dari kabupaten
bertetangga juga menyatukan alirannya ke Ci Tarum, seperti Ci Kapundung dan Ci Beet. Aliran
kemudian mengarah ke arah barat, melewati Majalaya dan Dayeuhkolot, lalu berbelok ke arah
barat laut dan utara, menjadi perbatasan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung Barat,
melewati Kabupaten Purwakarta, dan terakhir Kabupaten Karawang (batas dengan Kabupaten
Bekasi). Sungai ini bermuara di Ujung Karawang.
Berikut ini adalah sebagian dari anak sungai yang mengalir ke Ci Tarum:

Ci Beet

Ci Kao

Ci Somang

Ci Kundul

Ci Balagung

Ci Sokan

Ci Meta

Ci Minyak

Ci Lanang

Ci Jere

Ci Haur

Ci Mahi

Ci Beureum

Ci Widey

Ci Sangkuy

Ci Kapundung

Ci Durian

Ci Pamokolan

Ci Tarik

Ci Keruh

Ci Rasea

Ci Tarum dalam sejarah


Dalam perjalanan sejarah Sunda, Ci Tarum erat kaitannya dengan Kerajaan Taruma, kerajaan
yang menurut catatan-catatan Tionghoa dan sejumlah prasasti pernah ada pada abad ke-4 sampai
abad ke-7. Komplek bangunan kuna dari abad ke-4, seperti di Situs Batujaya dan Situs Cibuaya
menunjukkan pernah adanya aktivitas permukiman di bagian hilir. Sisa-sisa kebudayaan praHindu dari abad ke-1 Masehi juga ditemukan di bagian hilir sungai ini.
Sejak runtuhnya Taruma, Ci Tarum menjadi batas alami Kerajaan Sunda dan Galuh, dua kerajaan
kembar pecahan dari Taruma, sebelum akhirnya bersatu kembali dengan nama Kerajaan Sunda.
Ci Tarum juga disebut dalam Naskah Bujangga Manik, suatu kisah perjalanan yang kaya dengan
nama-nama geografi di Pulau Jawa dari abad ke-15.

Pemanfaatan
Sejak lama Ci Tarum dapat dilayari oleh perahu kecil. Penduduk di sekitarnya memanfaatkan
sumberdaya perikanan di sungai ini, baik secara tradisional dengan cara memancing atau
menjala, atau dengan membudidayakan ikan dalam keramba jaring apung di waduk dan
bendungan.
Karena banyaknya debit air yang dialirkan oleh sungai ini, maka dibangun tiga waduk (danau
buatan) sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan juga untuk irigasi persawahan di
sungai ini:
1. PLTA Saguling di wilayah hulu DAS Ci Tarum
2. PLTA Cirata di wilayah tengah, dan
3. PLTA Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal sebagai PLTA Jatiluhur, di wilayah hilir.
Air dari Ci Tarum dimanfaatkan sebagai pasokan air minum untuk sebagian penduduk Jakarta.
Irigasi di wilayah Subang, Karawang, dan Bekasi juga dipasok dari aliran sungai ini.
Pengaturannya dilakukan sejak Waduk Jatiluhur.

Pencemaran sungai
Keadaan lingkungan sekitar Ci Tarum telah banyak berubah sejak paruh kedua dasawarsa 1980an. Industrialisasi yang pesat sejak akhir 1980-an di kawasan sekitar sungai ini telah
menyebabkan menumpuknya limbah buangan pabrik-pabrik di Ci Tarum.[4]
Setiap musim hujan wilayah Bandung Selatan di sepanjang Ci Tarum selalu dilanda banjir.
Setelah kejadian banjir besar yang melanda daerah tersebut pada tahun 1986, pemerintah
membuat proyek normalisasi sungai Ci Tarum dengan mengeruk dan melebarkan sungai bahkan
meluruskan alur sungai yang berkelok. Tetapi hasil proyek itu nampaknya sia-sia karena
setelahnya tidak ada perubahan perilaku masyarakat sekitar, sehingga sungai tetap menjadi
tempat pembuangan sampah bahkan limbah pabrik pun mengalir ke Ci Tarum. Bertahun
kemudian, keadaan sungai bahkan bertambah buruk, sempit dan dangkal, penuh sampah, dan di
sebagian tempat airnya pun berwarna hitam pekat.

Biota sungai

Genggehek (Mystacoleucus marginatus), salah satu jenis ikan yang menghilang dari Waduk
Jatiluhur
Puluhan jenis ikan hidup di Ci Tarum. Di lingkungan Waduk Jatiluhur saja, Kartamihardja
(2008) mencatat keberadaan 20 spesies ikan. Dan angka ini sebetulnya telah berubah menyusut
dalam kurun waktu 40 tahun (1977-2007); pada awalnya tercatat sebanyak 34 spesies dengan
komposisi 23 spesies asli dan 11 pendatang (introduksi).[5]
Perubahan ekosistem, dari aliran sungai yang relatif dangkal dan deras menjadi lingkungan
waduk yang dalam dan tenang, jelas mempengaruhi keberadaan jenis-jenis ikan. Akan tetapi
jenis-jenis yang menghilang dari waduk masih mempunyai kemungkinan bertahan di bagian lain
Ci Tarum. Catatan ringkas yang diperoleh sebuah LSM pemerhati Ci Tarum, masih mendapati
puluhan jenis ikan dari berbagai lokasi di sungai ini[6]. Meskipun demikian, hingga saat ini
memang belum tersedia data yang memadai menyangkut keanekaragaman, penyebaran, dan
populasi ikan-ikan di Ci Tarum ini.

INFO JABAR

Kondisi Citarum di Hulu dan Hilir


Situ Cisanti menjadi titik sentral kehidupan jutaan warga Jawa Barat (Jabar). Situ ini letaknya
sekitar 60 km di selatan Kota Bandung, tepatnya di kampung Pejaten, Desa Tarumajaya,

Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Situ Cisanti menjadi hulu Sungai Citarum yang
mengalir hingga mencapai hilirnya di Pantai Muara Bendera, Kecamatan Muara Gembong,
Kabupaten Bekasi.
Situ ini didirikan pada 2001 dan memiliki luas 7 hektare. Saya menuju sumber mata air
Pangsiraman yang menjadi sumber penghasil debit air terbesar di Situ Cisanti. Airnya sangat
jernih dan dingin. Di kawasan ini, terdapat tujuh mata air, yaitu Cisanti, Cihaniwung,
Cikahuripan, Cikawedukan, Cikoleberes, Cisadane, dan Cisanti.
Penjaga situ, Kang Yana (40 tahun) langsung membuka gembok gerbang menyambut kedatangan
kami. Dari sini lah, Sungai Citarum mengalir, kata pegawai perum Jasa Tirta II Bandung
tersebut belum lama ini. Kedatangan saya bersama tim Fortuga ITB ingin menyusuri kadar
kualitas air Citarum sepanjang 300 km ini.
Menyusuri Citarum
Sungai Citarum memiliki peran penting sebagai jalur perdagangan dan peradaban manusia sejak
awal Hindu-Budha hingga Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-4. Sekarang, setidaknya dari 45
penduduk Jabar sesuai sensus 2012, setidaknya 15 juta warga menggantungkan hidupnya dari
sungai ini. Namun kisah keagungan Citarum tinggal kenangan.
Akibat perilaku masyarakat yang tidak memuliakan sungai dengan gemar membuang sampah
sembarangan, menjadi tempat pembuangan limbah pabrik, dan penggundulan hutan membuat
kualitas air Citarum menurun drastis hingga tidak layak pakai. Bahkan, media populer Amerika
Serikat, Huffington Post pada 2010 menempatkan Citarum termasuk ke dalam daftar sungai
terkotor dan paling tercemar di dunia!
Usai menuruni perbukitan sejauh 10 km dari Situ Cisanti, terlihat air sungai sudah mulai keruh.
Penggundulan hutan membuat sedimentasi tanah di pinggir sungai tererosi aliran air. Meski
begitu, karena kualitas airnya masih bagus, PDAM Kabupaten Bandung mengambil air sebanyak
150 meter kubik di Desa Sukarame, Kecamatan Pacet. Di Sukarame, sungai hanya terlihat
keruh, dan hanya terkotori sampah rumah tangga yang jumlahnya relatif sedikit, kata petugas
PDAM.
Perjalanan selanjutnya berhenti di Jembatan Majalaya. Rumah penduduk di kawasan ini sering
menjadi langganan banjir kalau Citarum meluap. Hujan sebentar saja jalanan sudah tergenang.
Kedalaman air sangat dangkal, rata-rata satu meter. Terlihat pula bekas banjir setinggi dua meter
yang mengotori dinding rumah yang berdiri tepat di bibir sungai.
Kekeruhan sungai diperparah dengan aktivitas penambangan pasir. Ada 15 orang yang setiap
harinya mengeruk pasir di sini. Sampah juga mulai terlihat mengotori sungai. Salah satu

penambang pasir, Pak Wahyu (38) mengaku berhenti mencari pasir ketika terjadi banjir bandang.
Faktor hujan dan limpahan air dari gunung yang menyebabkan kawasan Kecamatan Majalaya
tergenang.
Meski terlihat sampah berserakan, ia menyebut, sepanjang aliran sungai belum terkena
pencemaran serius. Selain warga masih ada yang memanfaatkannya untuk mandi, masih terlihat
pula beberapa orang memancing. Di sini, ikan masih banyak, kata pria yang setiap harinya
delapan hari berendam di sungai ini.
Dengan menaiki perahu karet dari Jembatan Majalaya perjalanan menuju garis finis di Jembatan
Kopo. Selepas melewati titik keberangkatan, mulai terlihat berderetan pabrik di kanan kiri sungai
yang membuang limbah dengan seenaknya.
Ada pabrik yang melakukan kamuflase dalam membuang limbah industrinya. Selain menaruh
pipa pembuangan berdiameter 30 cm di bagian atas yang mengalirkan air sisa dengan warna
jernih, satu lagi menanam pipa di dalam sungai. Kalau tidak jeli, kita tentu bakal melewatkan
pemandangan yang bisa menipu mata itu. Namun, bau menyengat yang bersumber dari aliran
hitam menjadi pertanda adanya limbah pabrik yang dibuang ke sungai.
Limbah cair berwarna hitam pekat bercampur dengan segala macam sampah dan barang bekas
rumah tangga mengotori sungai yang warnanya mulai kecoklatan. Di beberapa belokan sungai,
sampah menggunung karena tidak terbawa arus. Pabrik menanam pipa pembuangan sebenarnya
di dalam tanah sehingga limbah langsung terbuang ke sungai, kata Ketua Tim Ekspedisi Fortuga
ITB, Iwan Bungsu.
Setelah ditelusuri, pembuangan limbah model seperti itu tidak hanya dilakukan satu atau dua
pabrik. Bahkan, pabrik tekstil dan plastik yang yang berlokasi jauh dari Sungai Citarum juga
memiliki saluran pembuangan ke situ. Pemilik pabrik sepertinya sudah merancang saluran pipa
untuk ditanam di bawah tanah hingga mengalir menuju sungai.
Pabrik yang membuang limbah di sini, jaraknya ada yang 5 km dan berada di Bandung Barat,
kata Pak Tata, warga kampung Bojong, Desa Dayeuhkolot yang ditemui di pinggir sungai.
Pak Tata mengatakan, kualitas air sudah tercemar berat. Banyaknya limbah membuat sangat
sedikit ikan yang ditemui di sepanjang kawasan ini. Pengamatan saya, tidak terlihat ikan yang
muncul ke permukaan sepanjang perjalanan menyusuri sungai menuju Jembatan Kopo.
Kondisi lebih parah ditemukan di Curug Jompong. Tempat ini merupakan titik temu antara
Sungai Citarum yang di arah baratnya merupakan Waduk Saguling. Area tidak sedap yang
terpancar dari bau limbah pabrik dan sampah yang terbawa aliran sungai menyambut kedatangan

kami. Belum lagi warna air yang terlihat keruh, meski mengalir deras membuktikan pencemaran
Citarum sudah sangat akut.
Sekarang, warga tidak lagi mandi di kawasan sini karena airnya bikin gatal, kata Sutisna (47),
warga setempat di tepi sungai. Bahkan kalau musim kemarau tiba saat debit air mengecil, air
cenderung berwarna hitam dan mengeluarkan bau busuk yang dapat dicium hingga radius
puluhan meter.
Ia menceritakan, Curug Jompong mengalami masalah luar biasa akibat pencemaran limbah.
Warga Jelegong yang banyak bekerja sebagai pembuat batu bata saja sudah mulai enggan
menggunakan air sungai. Pasalnya, kalau memaksakan diri, risikonya tangan mengalami gatalgatal. Alhasil, ia bersama pekerja lebih memilih menggunakan air sumur untuk membuat olahan
bahan batu bata.
Kondisi itu jelas sangat kontras dengan yang terjadi sekitar 25 tahun lalu. Ia masih ingat,
sebelum era 1990, setiap harinya banyak warga memanfaatkan aliran air untuk mandi di tepi
sungai. Bahkan, karena masih jernih tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk keperluan
minum sehari-hari. Tahun 1985, airnya masih bening. Setelah banyak limbah dan sampah, tidak
ada yang ke sini, kenang Sutisna.
Tercemar parah
Tingkat pencemaran Sungai Citarum yang sangat parah bukan omong kosong. Saya singgah ke
Jembatan Cipatik di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Melihat Citarum tanpa
perlu terjun ke sungai sudah membuat saya bergidik. Ini lantaran tumpukan sampah seolah
menutup hampir seluruh sungai di sepanjang mata memandang.
Kondisinya mirip toserba karena berbagai macam barang, mulai botol hingga kasur terlihat
mengambang. Saking banyaknya sampah yang berbaur dengan eceng gondok, hingga membuat
rumput liar tumbuh subur memenuhi permukaan sungai.
Saat itu, debit air lumayan banyak sehingga sampah masih berpencar. Menurut peneliti perairan
ITB Abrar Prasodjo, kalau musim kemarau tiba, para pemulung tidak lagi menggunakan
sampannya karena terhalang tumpukan sampah setinggi tiga meter. Mereka bisa berdiri dan
berjalan di atas sampah tanpa takut jatuh disebabkan volumenya sangat banyak.
Kalau musim kering, perahu bahkan tidak bisa dipakai karena sampah sangat tebal dan hampir
mengendap, katanya.
Kemudian, saya bergeser menuju Waduk Saguling. Menyusuri Saguling, mudah sekali
menemukan eceng gondok. Mengacu kualitas air, kata Abrar, banyaknya tanaman gulma menjadi

tanda kualitas air itu tercemar. Apalagi waduk ini difungsikan pula sebagai penyaring segala
kotoran yang terangkut Citarum. Alhasil, tidak mengherankan kualitas air Saguling cukup buruk.
General Manager PT Indonesia Power Saguling, Del Eviondra mengakui terjadi pencemaran
berat di Saguling. Selain karena limbah bawaan Citarum, penyebab pencemaran adalah pakan
yang tidak termakan ikan hingga mengendap di dasar waduk. Semakin parahnya kualitas air
yang mengandung gas amoniak dan aroma sulfur yang kental pada musim kemarau tidak hanya
membuat ikan yang dibudidayakan mengandung logam berat.
Hal ini juga mengakibatkan peralatan besi, seperti dinding dan pipa mudah berkarat, katanya.
Dampaknya, banyaknya kandungan pencemaran, air waduk hanya layak digunakan untuk
kepentingan industri, dan tidak layak dikonsumsi.
Kondisi Waduk Cirata tidak beda jauh dengan Waduk Saguling yang dipenuhi eceng gondok.
Kondisinya berbeda dengan pencemaran di Waduk Jatiluhur yang belum separah kedua waduk
tersebut. Meski jumlah jaring apung jauh lebih banyak, namun sebaran eceng gondok sangat
sedikit. Kualitas air di Jatiluhur jelas lebih baik karena limbah dari Citarum sudah disaring dua
waduk sebelumnya, kata Abrar.
Hingga penyusuran sungai dari dari Karawang hingga Bekasi, semakin ke utara kualitas air
malah tidak layak. Setelah mengambil sampel di 10 titik, Abrar melanjutkan, bakal menelitinya
di laboratorium. Hal itu untuk membuktikan tingkat pencemaran Citarum yang sudah sangat akut
akibat ulah manusia yang tidak peduli kepada lingkungan. Nanti hasil penelitian ini kami
rekomendasikan kepada pihak terkait
https://www.facebook.com/InfoJabar/posts/416551661775333

Kekeruhan Air
Posted on March 19, 2011 by lelykesehatan
Air bawah tanah (ground water) atauakifer (aquifer) adalah air yang terdapat pada pori-pori
tanah-pasir-kerikil-batuan yang telah jenuh terisi air. ( Choesin, dkk, 2004)
Kekeruhan adalah jumlah dari butir-butir zat yang tergenang dalan air. Kekeruhan mengukur
hasil penyebaran sinar dari butir-butir zat tergenang:
Makin tinggi kekuatan dari sinar yang terbesar, makin tinggi kekeruhannya. Bahan yang
menyebabkan air menjadi keruh termasuk:
Tanah liat
Endapan (lumpur)
Zat organik dan bukan organik yang terbagi dalam butir-butir halus
Campuran warna organik yang bisa dilarutkan

Plankton
Jasad renik (mahluk hidup yang sangat kecil). (Nuijten, 2007)
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang
diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh
adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir
halus), maupun bahan anorganik dan organic yang berupa plankton dan mikro organism lain.
Kekeruhan dinyatakan dalam satuan turbiditas, yang setara dengan 1mg/liter SiO2. Peralatan
yang pertama kali digunakan untuk mengukur turbiditas atau kekeruhan adalah Jackson Candler
Turbidimeter, yang dikalibrasi dengan menggunakan silika. Kemudian, Jackson Candler
Turbidimeter dijadikan sebagai alat baku atau standar bagi pengukuran kekeruhan. Satu Unit
turbiditas Jackson Candler Turbidimeter dinyatakan dengan satuan 1 JTU. Pengukuran
kekeruhan dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter bersifat visual, yaitu
membandingkan air sampel dengan standar.
Selain dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter, kekeruhan sering diukur dengan
metode Nephelometric. Pada metode ini, sumbercahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas
cahaya yang dipantulkan oleh bahan-bahan penyebab kekeruhan diukur dengan menggunakan
suspensi polimer formazin sebagai larutan standar. Satuan kekeruhan yang diukur dengan
menggunakan metode Nephelometric adalah NTU (Nephelometric Tubidity Unit). Satuan JTU
dan NTU sebenarnya tidak dapat saling mengkonversi, akan tetapi Sawyer dan MC Carty (1978)
mengemukakan bahwa 40 NTU setara dengan 40 JTU.
Menurut Lloyd (1985) peningkatan nilai turbiditas pada perairan dangkal dan jernih sebesar 25
NTU dapat mengurangi 13%-50% produktivitas primer. Peningkatan turbiditas
sebesar 5 NTU di danau dan sungai dapat mengurangi produktivitas primer berturut-turut sebesar
75% dan 3%-13%.
Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan
tersuspensi, nilai kekeruhan juga semakin tinggi, tetapi tidak berarti memiliki kekeruhan yang
tinggi.
Kekeruhan pada air yang tergenang (lentik), misalnya danau, lebih banyak disebabkan oleh
bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus. Sedangkan kekeruhan pada
sungai yang sedang banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan tersuspensi yang
berukuran lebih besar, yang berupa lapisan permukaan tanah yang terbawa oleh aliran air pada
saat hujan. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi,
misalnya, pernafasan dan daya lihat organism akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya
kedalaman air. Tingginya nilai kekeruhan juga dapat mempersulit usaha penyaringan dan
mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air. (Effendi,2003)
Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan ini meliputi: tanah liat, lumpur, bahan-bahan
organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil yang tersuspensi lainnya. Nilai yang
menunjukkan kekeruhan didasarkan pada bahan-bahan tersuspensi pada jalannya sinar melalui
sampel.
Nilai ini tidak secara langsung menunjukkan banyaknya bahan tersuspensi, tetapi ia
menunjukkan kemungkinan penerimaan konsumen terhadap air tersebut. Kekeruhan tidak
merupakan sifat dari air yang membahayakan, tetapi ia menjadi tidak disenangi karena rupanya.
Untuk membuat air memuaskan untuk penggunaan rumah tangga, usaha penghilangan secara
hampir sempurna bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan, adalah penting.
Standar yang ditetapkan oleh U.S. Public health Service mengenai kekeruhan ini adalah batas
maksimal 10 ppm dengan skala silikat, tetapi dalam angka praktik angka standar ini umumnya

tidak memuaskan. Kebanyakan bangunan pengolahan air yang modern menghasilkan air dengan
kekeruhan 1 ppm atau kurang. Menurut Clair N Sawyer dkk. Kekeruhan pada air merupakan satu
hal yang harus dipertimbangkan dalam penyediaan air bagi umum, mengingat
bahwa kekeruhan tersebut akan mengurangi segi estetika, menyulitkan dalam usaha penyaringan
dan akan mengurangi efektivitas usaha desinfeksi. (Sutrisno, 2006).
Sebagian besar air baku untuk penyediaan air bersih diambil dari air permukaan seperti sungai,
danau dan sebagainya. Salah satu langkah penting pengolahan untuk mendapatkan air bersih
adalah menghilangkan kekeruhan dari air baku tersebut. Kekeruhan ini sendiri diakibatkan oleh
adanya partikel-partikel kecil dan koloid yang berukuran 10 nm sampai 10 m. Partikel-partikel
kecil dan koloid tersebut tidak lain adalah kwarts, tanah liat, sisa tanaman, ganggang dan
sebagainya.
Kekeruhan dihilangkan melalui pembubuhan sejenis bahan kimia dengan sifat-sifat tertentu yang
disebut flokulan. Umumnya flokulan tersebut adalah tawas, namun dapat pula garam Fe (III),
atau salah satu polielektrolit organis. Selain pembubuhan flokulan diperlukan pengadukan
sampai flok-flok terbentuk. Flog-flog ini mengumpulkan partikel-partikel kecil dan koloid
tersebut (bertumbukan) dan akhirnya bersama-sama mengendap. (Alaerts, 1987).
Kekeruhan dipengaruhi oleh:
1. Benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur dan sebagainya.
2. Adanya jasad-jasad renik (plankton) dan
3. Warna Air
Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai dimana masih ada
kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapisan-lapisan mana yang tidak keruh, agak
keruh, dan paling keruh. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak pula terlampau jernih baik
untuk kehidupan ikan dan udang budidaya. (Ghufron, 2007).

http://lelykesehatan.wordpress.com/2011/03/19/kekeruhan-air/