Anda di halaman 1dari 8

Pengkajian Struktur Keperawatan Di Ruang Perawatan Katinting (Kelas II dan III) RS

Universitas Hasanuddin
A.

HASIL PENGKAJIAN
Pada praktek keperawatan manajemen yang dilakukan oleh mahasiswa Ners A Program
Studi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin dimulai tanggal 26-28 Januari 2015 di Rumah
Sakit

Universitas

Hasanuddin

Makassar

dilakukan

pengkajian

keperawatan

untuk

mengidentifikasi masalah-masalah kepemimpinan/manajemen keperawatan (Struktur) dan mutu


pelayanan keperawatan di tingkat ruang rawat. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan
kuesioner pada perawat baik kepala ruangan, perawat primer dan perawat associate yang
berfokus pada pelayanan dan asuhan keperawatan, khususnya struktu manajemen Pelayanan
keperawatan (man, method, material).
Hasil analisis analisa data mengenai struktur manajemen pelayanan Keperawatan
1. Ketenagakerjaan (M1)
Diagram.1
Struktur Manajemen Keperawatan- Ketenagakerjaan (M1) (n=20)

Ketenagakerjaan

50%

50%

Cukup
Baik

Sumber: Data Primer, 2014

Berdasarkan diagram 1 diketahui bahwa dari 20 responden, struktur manajemen


keperawatan berdasarkan ketenagakerjaan (M1) yaitu 50% (10 orang) mengatakan struktur
ketenagakerjaan di RS Universitas Hasanuddin baik.

2. Sarana dan Prasarana (M2)


Diagram.2
Struktur Manajemen Keperawatan- Sarana dan Prasarana (M2) (n=20)

Sarana dan Prasarana


5%

30%
Sangat Kurang
Cukup
Baik

65%

Sumber: Data Primer, 2014

Berdasarkan diagram 2 diketahui bahwa dari 20 responden, struktur manajemen


keperawatan berdasarkan sarana dan prasarana (M2) yaitu lebih dari sebagian perawat
mengatakan struktur sarana dan prasarana di RS Universitas Hasanuddin 65% (13 orang)
mengatakan cukup.

3. Model Praktek Pelayanan Profesional (MPKP)


a. Model Praktek Pelayanan Profesional (M3-1)

Model praktek pelayanan keperawatan professional yang digunakan yaitu


model keperawatan MPKP/TIM. Perawat memahami model keperawatan yang
digunakan saat ini. Pelaksanaan MPKP cocok digunakan di ruangan karena
menurut perawat di ruangan, pelaksanaan MPKP sesuai dengan visi dan misi
ruangan.

Efektifitas

dan

efisiensi

model

keperawatan

MPKP

tidak

mempengaruhi lama rawat inap pasien, pembiayaan, dan pelayanan MPKP


menjadikan pasien percaya terhadap ruangan.
Pelaksanaan model asuhan keperawatan tetap melakukan kolaborasi
dengan tim kesehatan lain dan pembagian tanggung jawab serta pelaksanaan
tugas sesuai dengan job description seperti mengkaji, terima pasien, orientasi,
membuat renpra namun ada sebagian kecil yang berpendapat bahwa terkadang
masih ada pekerjaan yang dikerjakan walaupun bukan tanggung jawabnya.

b. Timbang Terima (M3-2)


Timbang terima di ruang perawatan dilakukan 3 kali yaitu pukul 07.30, 13.30 dan
20.30 yang dipimpin oleh perawat primer setiap TIM dan dihadiri oleh perawat yang
berkepentingan (perawat associate). Adapun persiapan sebelum timbang terima yaitu
status pasien, buku ataupun kertas yang digunakan untuk untuk mencatat hasil pelaporan
dari perawat shift sebelumnya mengenai biodata pasien, rekam medic, keluhan pasien
serta intervensi yang akan dilakukan selanjutnya. Timbang terima juga dilaksanan
diruangan

pasien selama 2-5 menit sambil berinteraksi dengan pasien mengenai

kondisinya.
c. Ronde Keperawatan (M3-3)
Ruang perawatan ini mendukung adanya kegiatan ronde keperawatan dan
sebagian nesar perawat mengerti mengenai pelaksanaan ronde keperawatan, namun
untuk pelaksanaan ronde keperawatan di ruangan belum optimal. Pelaksanaan ronde
keperawatan jarang dilaksanakan karena tingginya beban kerja perawat sehingga ronde
tidak bisa dilakukan pada waktu dinas kecuali mengambil waktu diluar jam dinas,
meskipun TIM ronde keperawatan telah dibentuk.
d. Sentralisasi Obat (M3-4)
Ruang perawatan ini memiliki ruang sentralisasi obat pasien yang digunakan
untuk menyimpan dan meracik obat, dan ruangan sentralisasi obat dibuat daftar sesuai
dengan nama, dan pemberian etiket pada obat. Sentralisasi obat diruangan tidak optimal
karena kadang tidak ada etiket obat serta sarana dan prasarana untuk sentralisasi obat
lumayan memadai, namun ruangannya sempit dan panas. Alur penerimaan obat yaitu
perawat memberikan resep dari dokter kepada keluarga pasien dan keluarga pasien yang
mengambil obat diapotek kemudian memberikan obat ke perawat. Format persetujuan
sentralisasi obat dari pasien ada di lembar MR 5 pada status masing-masing pasien.
Pemberian obat tiap pasien sesuai dengan format obat pasien, namun tidak masih ada
obat yang tidak dimasukkan ke dalam tempat sentralisasi obat. Obat-obat pasien
dipisahkan sesuai kepemilikan masing-masing. Pemberian obat dan pengaturan dosis &
jadwal obat yang dilakukan oleh perawat.
e. Penerimaan Pasien (M3-5)
Penerimaan pasien baru dilakukan diruangan dengan memberikan orientasi
ruangan, sentralisasi obat, peraturan RS dan status kesehatan klien. Tidak ada
pembagian khusus perawat untuk melakukan penerimaan pasien baru namun tergantung
perawat mana yang sedang shift/dinas. PPB dilakukan secara lisan setelah itu dilakukan
pendokumentasian.

f.

Dischart Planning (M3-6)

Discharge Planning adalah memberikan edukasi pada pasien mulai pasien


masuk RS sampai pasien akan keluar RS, namun ada beberapa yang beranggapan
bahwa Discharge Planning dilakukan hanya pada saat pasien yang akan keluar
RS. Adapun Discharge Planning yang biasa diberikan kepada pasien adalah
mengenai obat yang akan diminum di rumah, rencana kontrol selanjutnya dan
diet yang pasien butuhkan. Discharge Planning dilakukan sebagian besar
perawat dengan lisan menggunakan bahasa Indonesia namun belum pernah
menggunakan media leaflet/brosur. Setiap Discharge Planning yang diberikan
akan segera didokumentasikan oleh perawat.
g. Dokumentasi Keperawatan (M3-7)
Model pendokumentasian keperawatan yang terdapat di ruangan adalah model
pendokumentasian yang sesuai dengan standar baku dengan menuliskan SOAP sesuai
dengan diagnose yang diangkat berdasarkan keluhan pasien dan melakukan intervensi
sesuai dengan diagnose yang diangkat sesuai NIC NOC. Format dokumentasi dengan
mengisi identitas pasien, keluhan pasien, kondisi pasien, sebelum masuk RS dan
tindakan keperawatan yang akan dilakukan. Dokumentasi perawat dilakukan setelah
melakukan tindakan dan ditutup dengan pendokumentasian di akhir shift.
Pendokumentasiannya tepat waktu dan kadang model pendokumentasian banyak
menyita waktu dan menambah beban kerja perawat.
h. Supervisi (M3-8)
Hasil analisa data menunjukkan sebagian besar perawat mengerti mengenai
supervise dan di ruangan perawatan katinting telah dilaksanakan supervisi yang
dilakukan sekali dalam sebulan. Pelaksanaan supervisi dilakukan oleh kepala ruangan.
Sebagian besar perawat di ruang perawatan memahami alur supervisi. Supervisi
dilakukan kepada perawat Associate dan perawat primer disupervisi oleh kepala ruangan
dikonsultasikan kepada CCM.

B.

ANALISIS SWOT
Tabel Analisis SWOT di Ruang Perawatan Katinting (Kelas II & III) RS Universitas Hasanuddin
Strength

Weakness

1. Pelaksanaan model keperawatan professional yang dilaksanakan


di ruang perawatan kelas II & III sesuai dengan visi dan misi
Rumah Sakit

dengan baik

4. Tersedianya sumber daya manusia (SDM) tenaga keperawatan


yang professional berdasarkan proporsi tingkat pendidikan :
S1 Ners : 18 orang

- D3

: 10 orang

5. Fasilitas Rumah Sakit yang memadai untuk memenuhi pelayanan


keperawatan
pendokumentasian

3. Pelaksanaan Discharge Planning yang dilakukan perawat


kebanyakan secara lisan tanpa memberikan media leaflet/brosur

3. Pelaksanaan tugas perawat sesuai dengan jobdesk masing-masing

6. Sistem

2. Pelaksanaan ronde keparawatan yang jarang dilakukan meskipun


telah terbentuk tim ronde keperawatan

2. Pelaksanaan kolaborasi di rumah antara tenaga kesehatan terjalin

1. Pelaksanaan supervisi yang dilakukan belum maksimal

yang

digunakan

menggunakan

pendokumentasian yang terintegrasi dengan penulisan SOAP yang


sesuai dengan standar baku pendokumentasian
7. Penulisan dischart planning dilakukan sejak pasien masuk rumah
sakit hingga pasien pulang
8. Tersedianya sarana dan prasarana untuk pengelolaan sentralisasi
obat
9. CCM dan kepala ruangan mendukung kegiatan supervisi demi
peningkatan mutu pelayanan keperawatan.

Opportunity

Treath

1. Secara Geografis Letak RS Yang Strategis Mudah Dijangkau

1. Semakin banyak rumah sakit yang menawarkan pelayanan

Oleh Masyarakat, Dari Arah Barat Merupakan Pintu Masuk


Unhas, Timur Jalan Poros Perintis Kemerdekaan, Utara
Merupakan Jalur Transportasi Umum Dari Berbagai Arah

Kemajuan

Teknologi

Dan

Informasi

3. Konsumen semakin kritis terhadap adanya malpraktek


Yang

Memudahkan Komunikasi, Baik Dengan Mitra Kerja Maupun


Dengan Pengguna Jasa`Layanan Kesehatan
4. Adanya mahasiswa S1 keperawatan praktik manajemen
keperawatan
5. Adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa PSIK dengan
perawat ruangan

2. Adanya beberapa RS yang menawarkan jasa jaminan kesehatan


yang lebih beragam yang mudah dijangkau masyarakat

2. Dukungan Sarana dan Prasarana yang memadai


3. Dukungan

keperawatan berkualitas yang bisa menjadi pesaing

4. Bebasnya pers yang dapat langsung menyebarkan informasi


dengan cepat
5. Belum adanya program pelatihan/ seminar khusus tentang
manajemen keperawatan.

C.

No

POA

Masalah

Tujuan

Program/Kegiatan

1.

Discharge
Planning, Discharge
Planning 1. Membuat alur pelaksanaan
Pelaksanaan yang belum dilaksanakan
secara
Discharge Planning
maksimal
optimal
dan 2. Menentukan penyakit terbanyak
terdokumentasi dengan
untuk dilakukan Discharge
baik
Planning
3. Melakukan
sosialisasi
dan
simulasi Discharge Planning di
ruangan
4. Membagikan media sosialisasi
berupa buklet dan leaflet bagi
pasien
5. Pembuatan dan pemasangan
poster alur Discharge Planning
di ruangan
6. Dokumentasi

2.

Ronde keperawatan,
jarang terlaksana

Ronde keperawatan
terlaksana dengan
optimal sesuai prosedur

1.
2.
3.
4.

Menetukan waktu untuk ronde


Menentukan pasien untuk ronde
Sosialisasi TIM untuk ronde
Mempersiapkan ronde
keperawatan
5. Melaksanakan ronde
keperawatan (strategi dan
materi)

Indikator / Target
Penanggung
Keberhasilan
Jawab
Setiap pasien mulai masuk Sri
Bintari
sampai pulang sudah Rahayu
mendapatkan Discharge
Planning dengan media
buklet dan leaflet

Ronde keperawatan sudah


terlaksana bersama perawat
ruangan

Rezky
Mulyana

Waktu

3.

Supervisi sudah berjalan


tetapi belum optimal

Mampu menerapkan
supervisi keperawatan
dengan benar

1. Mengajukan proposal
pelaksanaan alur supervisi
2. Melaksanakan supervisi
keperawatan bersama-sama
perawat dan kepala ruangan
3. Mendokumentasikan hasil
pelaksanaan supervisi
keperawatan
4. Membuat format supervisi

Supervisi
terdokumentasikan dengan
baik dan benar

Ratna
Wuchun