Anda di halaman 1dari 11

TUGAS GEOLOGI STRUKTUR

Siklus Wilson, Pegunungan Himalaya, Gempa Nepal

Disusun oleh :
ASMORO PRIBADI DEWO
F1D213020

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2015

1. Wilson Cycle

Gambar 1. Diagram Siklus Wilson mengenai pembukaan dan penutupan cekungan samudera.
Permukaan samudera tidak diperlihatkan

Siklus Wilson (Gambar 1) merupakan suatu siklus yang menggambarkan interaksi antar
lempeng mulai dari pemekaran suatu lempeng sampai pada tahap kolisi yang menyebabkan
lempeng yang terpisah karena pemekaran tersebut bergabung lagi.
Berikut ini merupakan tahapan - tahapan dalam siklus Wilson.
Tahap 1

: continental rifting dimulai, membentuk rift valley yang merupakan embrio

samudra.
Tahap 2

: Tahap awal; terbentuk teluk sempit.

Tahap 3

: Tahap akhir, samudra luas dengan passive continental margin di kedua sisi.

Tahap 4a

: Penutupan samudra dimulai dengan pembentukan batas subduksi baru pada

lempeng samudra.
Tahap 4b

: terbentuk busur kepulauan gunungapi di dekat batas subduksi.

Tahap 5

: Konvergensi busur kepulauan. Batas subduksi baru di dekat batas benua

mengakibatkan busur kepulauan gunungapi bertumbukan dengan benua.


Tahap 6

: Konvergensi benua-benua menghasilkan pegunungan.

2. Cerita Pembentukan Pegunungan Himalaya


Pegunungan Himalaya, yang membentang sekitar 2.900 kilometer antara India,
Pakistan, China, dan Nepal, adalah pegunungan tertinggi di dunia. Selain Gunung Everest,
gunung tertinggi di dunia dengan ketinggian puncak 8.848 meter, pegunungan ini juga
memiliki beberapa puncak gunung lainnya dengan ketinggian lebih dari 8.000 meter. Ini
adalah satu-satunya pegunungan yang memiliki gunung-gunung dengan tinggi lebih dari
8.000 meter; peringkat kedua adalah pegunungan di Amerika Selatan, yang puncak
tertingginya sekitar 6.962 meter.

\
Gambar-1: Peta Geografis Himalaya

Lebih dari 250 juta tahun yang lalu, India, Afrika, Australia dan Amerika Selatan
berada dalam satu kesatuan sebagai sebuah benua yang disebut Pangea. Beberapa juta tahun
setelahnya, benua raksasa ini mulai pecah, dan pada akhirnya membentuk benua-benua yang
kita kenal saat ini. Pangea terpecah dan sisi-sisi dari benua yang lama menjadi zona tabrakan
antar benua-benua yang baru. Afrika, Amerika Selatan, dan Antartika mulai terbentuk.

Gunung Everest terbentuk sekitar 60 juta tahun yang lalu akibat gerakan India ke arah
Utara dan menabrak Benua EuroAsia. India bergerak menyeberangi equator dengan
kecepatan 15 cm/tahun, dimana pada saat yang bersamaan lautan bernama Tethys yang
memisahkan bagian-bagian benua Pangea berangsur-angsur menghilang. Lautan Tethys ini
tidak ada lagi di masa sekarang, akan tetapi sedimen batuan yang ada di dasar lautnya dan
penyelidikan gunung yang terletak di sisi lautan telah memberikan bukti yang sangat jelas
mengenai keberadaanya dahulu kala.

Gambar-2: Proses Pergerakan Lempeng India ke Arah Utara dan menabrak Benua Euro Asia.

Bukti keberadaan Tethys terlihat pada sebuah daerah yang jauhnya lima puluh
kilometer di utara Lhasa (ibu kota Tibet). Ilmuwan telah menemukan lapisan batu pasir merah
muda yang mengandung butiran mineral magnetit yang telah merekam arah magnet bumi.
Batu pasir ini mengandung fosil tumbuhan dan binatang yang terkubur di daerah ini ketika
Lautan Tethys secara periodik membanjiri daerah tersebut.
Studi fosil tersebut tidak hanya memberikan informasi umur geologi akan tetapi juga
memberi informasi lingkungan dan iklim dimana mereka terbentuk. Sebagai contoh, studi ini

memberi informasi bahwa fosil tersebut dahulunya hidup pada sebuah lingkungan sejuk dan
basah. Waktunya setelah dilacak sekitar 150 juta tahun lalu. Itu berarti dataran Tibet pada
masa itu dekat dengan ekuator. Iklim Tibet saat ini lebih kering dan gersang. Perubahan ini
terjadi karena naiknya dataran dan telah bergesernya dataran tersebut sekitar 2000 km dari
ekuator. Fosil tersebut telah menunjukkan perubahan iklim yang terjadi di daerah Tibet akibat
pergerakan lempeng pada masa 100 juta tahun ini.
Untuk memahami mekanisme tabrakan yang luar biasa antara India dan Asia kita
harus terlebih dahulu melihat ke bawah permukaan bumi. Benua-benua ditopang oleh
lempeng-lempeng tektonik bumi seperti orang-orang di atas eskalator. Ada sekitar tujuh
lempeng raksasa dan beberapa lempeng kecil yang bergerak di atas permukaan bumi.
Di masa lalu jumlah lempeng-lempeng ini mungkin saja lebih banyak atau mungkin
lebih sedikit. Saat ini lempeng-lempeng ini terus bergerak, saling tabrak, dan saling
menjauhi satu sama lain dengan kecepatan 1-20 cm/tahun. Gerakan ini diakibatkan oleh
panas yang berasal dari kedalaman interior bumi yang energinya hanya bisa terlepas melalui
sebuah proses konveksi. Konveksi adalah sebuah proses yang mengakibatkan gas cair panas
yang tidak padat mengalir naik ke atas dan menjadi dingin dan padat sehingga kemudian
bergerak turun lagi.
Bisa dikatakan bahwa benua terbentuk dan merupakan akumulasi dari butiran-butiran
batuan yang berada di atas lempeng tektonik. Benua seperti buih bumi, yang mengandung
mineral ringan seperti kuarsa yang tidak tenggelam ke dalam mantel padat bumi.
Tidak kurang selama 80 juta tahun, lempeng laut India terus-menerus menabrak Asia
bagian selatan, termasuk Tibet. Dasar laut lempeng India yang berat berfungsi sebagai
angkur raksasa, menujam dengan cepat ke dalam mantel bumi yaitu ke bawah lempeng Asia
dan menarik lempeng benua India ke arah Utara yaitu ke arah Tibet.

Gambar-3: Proses Tabrakan India dengan Asia yang Mengangkat Dataran Tinggi Tibet

Ketika lempeng bertubrukan, dasar lautan yang tenggelam melahirkan pegunungan di


selatan Tibet. Friksi dan tekanan yang besar mengakibatkan bebatuan yang ada di atas
lempeng yang menujam melebur. Lebih kurang 25 juta tahun yang lalu lautan yang ada di
antara dua lempeng yang bertabrakan semakin mengecil dan benar-benar hilang akibat benua
India terus menekan dan menekan sedimen di atas dasar lautan. Dikarenakan sedimen adalah
sedimen ringan, alih-alih ikut tenggelam dengan lempeng India, sedimen tersebut menekuk
menjadi rangkaian pegunungan, yakni Pegunungan Himalaya.
Sepuluh juta tahun yang lalu akhirnya kedua lempeng atau kerak benua akhirnya
bertubrukan secara langsung. Dikarenakan Benua India secara dominan terbentuk dari batuan
kuarsa ringan, maka penujaman ke bawah mengikuti lempeng India tidak bisa terjadi lagi.
Akhirnya pengangkuran yang mengakibatkan penujaman retak. Kemungkinannya, lempeng
India yang menujam sudah jatuh dan terbenam ke dalam mantel bumi.
Walau kita tidak mengerti seluruhnya mekanisme apa yang terjadi di masa depan, hal
yang sangat jelas adalah India mulai bergerak horizontal seperti pasak raksasa di bawah Tibet
yang mendorong Tibet naik ke atas. Tibet, di saat bersamaan berperan seperti blok batu
raksasa yang menahan Himalaya bergerak ke arah Utara.
Pada masa 5-10 juta tahun ke depan, lempeng India akan terus bergerak dengan
kecepatan yang tetap. India akan menerobos dataran Tibet hingga 180 km pada masa 10 juta
tahun tersebut. Angka ini hampir sama dengan lebar Negara Nepal yang bertetangga dengan
India. Karena perbatasan Nepal di satu sisi berada pada puncak-puncak gunung yang berada
di dataran Tibet, dan satu sisi lagi berada di dataran India, maka secara teknis 10 juta tahun

yang akan datang, Nepal akan terus mengecil dan menjadi pada akhirnya akan hilang! Akan
tetapi rangkaian Pegunungan Himalaya akan tetap ada.
Bentuk Pegunungan Himalaya tampaknya akan akan memiliki profil yang sama
dengan saat ini. Pegunungan yang tinggi di sebelah Utara dan pegunungan kecil di Selatan.
Himalaya akan terus berjalan di atas lempeng India, dan dataran tinggi Tibet akan terus
bertumbuh. Bukti hal ini terlihat dari kandungan sedimen di sepanjang dataran Gangga.
Biasanya bongkahan batuan besar akan kelihatan terlebih dahulu dan diikuti kerikil, dan jika
terus ke selatan, butiran pasir dan akhirnya lumpur halus akan kelihatan.
Hal ini akan kelihatan jika kita berjalan dari akhir perbukitan Himalaya ke arah
selatan sejauh 100 km. Rekaman sejarah geologis memang tidak terlihat karena tertanam di
bawah sedimen yang ada saat ini. Akan tetapi jika dilakukan pemboran di dataran Gangga,
maka batuan kasar akan terlihat lebih dahulu, diikuti kerikil dan lumpur di bawahnya. Itu
merupakan bukti bahwa Himalaya terus masuk ke wilayah india.
3. Gempa Nepal
Gempa Bumi Nepal 25 April 2015 terjadi sangat kuat dan meluluhlantahkan semua
bangunan dan perumahan masyarakat Nepal. Gempa bumi ini oleh USGS dicatat terjadi di
episenter 28.147 LU dan 84.708 BT dengan kedalaman 10-15 Km dengan kekuatan gempa
bumi 7,9 Mw (momen magnitude). Kawasan Nepal dan sekitar sangat menarik secara
tektonik karena disanalah terdapat gunung yang awal di dasar laut tiba-tiba menjulang
menjadi gunung tertinggi di dunia akibat gaya tektonik tersebut. Gempa Nepal 2015 ini
menjadi bukti pelepasan energi tektonik ini dalam bentuk pergeseran kerak bumi dalam
bentuk gempa bumi.
Bumi tempat kita tinggal sekarang ini terdiri dari beberapa lempeng-lempeng dan
masing-masing lempeng saling bergerak satu sama lainnya. Dasar pemikiran tektonik
lempeng bermula atas kecurigaan Sir Francis Bacon yang memperhatikan adanya kesamaan
bentuk garis pantai timur Amerika Selatan dengan Afrika Barat. Pada tahun 1855, Antonia
Snider-Pellegrini membuat sebuah sketsa dan berhasil memperlihatkan bahwa kedua benua
tersebut pada awalnya bersatu.
Pada tahun 1912, Alfred Wegener seorang ahli Meteorologi dan Fisika Jerman
melontarkan konsep Pengapungan Benua (Continental Drift) dalam monografinya The

Origin of Continent and Oceans yang nantinya menjadi konsep dasar Teori Tektonik
Lempeng. Pada masa itu, beberapa ilmuan menerima konsep Afred Wegener namun lebih
banyak yang mencemoohkannya. Masyarakat pada masa itu belum bisa menerima pemikiran
suatu massa benua yang besar dapat terapung di atas bumi yang padat. Untuk mendukung
konsepnya tersebut, Afred Wegener terus mengumpulkan bukti-bukti diantaranya kesamaan
garis pantai antara satu benua dengan lainnya, kesamaan fosil yang ditemukan, kesamaan
struktur dan jenis batuan. Sampai Afred Wegener meninggal pada tahun 1930, banyak orang
masih meragukan konsep yang dia tawarkan.

Gambar 1. Pergerakan lempeng sejak 200 juta tahun lalu (Sumber: Introduction to Physical Geology
karya Thompson & Turk)

30 tahun setelah Afred Wegener meninggal, yaitu pada tahun 1960-an, mulai banyak
sekali terkumpul berbagai macam data yang memperlihatkan bahwa benua-benua tersebut
benar-benar terpisah dan mulai saat itu berkembanglah Teori Tektonik Lempeng. Sampai
dengan saat ini, banyak sekali penelitian yang dilakukan untuk mengamati pergerakan
lempeng tersebut sehingga dari pergerakan yang ada sekarang bisa dirunut ke belakang
seperti apa peta bumi pada awal mulanya. Dalam teori Tektonik lempeng dikatakan bahwa
lempeng bumi saling bergerak satu sama lain secara saling menjauh (divergen), saling
mendekat (konvergen) dan saling berpapasan. Penyebab pergerakan lempeng ini bisa karena

ada arus konveksi di lapisan Astenosfer, ada kawasan divergen/pemekaran samudra, dan
karena pengaruh gaya gravitas lempeng atau Slab Pull. Pada gambar 1 di atas dapat dilihat
proses pergerakan lempeng dimana ada lempeng-lempeng yang saling menjauh, saling
mendekat dan saling berpapasan.
Untuk pergerakan lempeng yang saling menjauh dapat dilihat pada gambar di atas
antara lempeng Amerika Selatan dan Utara dengan Lempeng Afrika, antara Afrika dengan
Antartika, antara Antartika dengan Australia dan lainnya. Pergerakan lempeng saling
mendekat bisa dilihat antara lempeng Autralia dengan Eurasia, India dengan Eurasia, dan
lainnya. Sedangkan pergerakan lempeng saling berpapasan antara lempeng India dengan
Afrika, lempeng India dengan Australia dan lainnya.
Pada gambar 1 di atas, lempeng India diberi warna agak sedikit berbeda dengan yang
lain. Hal ini dikarenakan ada proses yang unik yang terjadi antara lempeng India dengan
Lempeng Eurasia. Sekitar 200 juta tahun yang lalu, lempeng India berada di bagian bumi
selatan dengan dekat dengan lempeng Antartika, seiring berjalannya waktu Lempeng India
terus menuju ke utara sampai akhirnya bertumbukan dengan lempeng Eurasia dan
membentuk pergunungan Himalaya.

Gambar 2. Penampang melintang yang menunjukkan pergerakan lempeng India (kiri) menabrak
lempeng Lempeng Eurasia (kanan). (a) Pergerakan 120 Juta tahun lalu. (b) Pergerakan 80 Juta
tahun lalu. (c) Pergerakan 40 juta tahun lalu. (d) kondisi sekarang dimana banyak terdapat Patahan
Naik (thrust faulting). (Sumber: Buku Introduction to Physical Geology karya Thompson & Turk hal:
214)

Secara tektonik kawasan negara Nepal, Bhutan, India, dan Tibet berada pada zona
tumbukan antara lempeng benua dengan lempeng benua. Lempeng benua memiliki densitas
batuan lebih rendah dibandingkan dengan lempeng samudra. Apabila lempeng benua
bertumbukan dengan lempeng samudra maka lempeng samudra akan menunjam ke bawah
karena pengaruh gravitasi sehingga terbentuklah zona subduksi seperti di negara kita. Apa
yang terjadi di Nepal berbeda dengan di tempat kita, tumbukan antara lempeng benua India
dengan Lempeng benua Eurasia yang memiliki nilai densitas yang sama dan tidak ada yang
mau mengalah dan saling naik ke atas sehingga petumbukan kedua lempeng ini membentuk
pergunungaan Himalaya.
Proses pembentukan pergunungan Himalaya yang menjadi gunung tertinggi di dunia
tersebut terbentuk akibat tumbukan antara lempeng benua dengan benua, dimana prosesnya
dapat dilihat pada gambar 2 di atas yang bersumber dari buku Introduction to Physical
Geology karya Thompson & Turk hal: 214. Pada gambar (a), pembaca bisa melihat lempeng
India (warna abu-abu kiri) dan di antara lempeng benua India dengan Eurasia pada 120 juta
tahun lalu masih terdapat lempeng samudra (warna hitam kebiruan) dan lempeng Eurasia
(benua) sendiri yang pada gambar diberi tanda lokasi Tibet. (abu-abu kanan). Gambar (b)
menunjukkan lempeng India mulai bergerak dan ada lempeng samudra mulai menunjam ke
bawah (subduksi). Proses subduksi ini bisa terjadi karena lempeng samudra memiliki densitas
yang sangat tinggi atau terbentuk dari batuan beku basalt, ini terjadi sekitar 80 juta tahun lalu.
Sekitar 40 juta tahun lalu sebagaimana ditunjukkan oleh gambar (c), lempeng benua India
dan lempeng benua Eurasia sudah mulai bertumbruk. Pertumbukan tersebut terus terjadi dan
tidak yang mau mengalah karena memiliki densitas yang hampir sama sehingga terbentuklah
pergunungan Himalaya seperti ditunjukkan oleh gambar (d). Patahan naik atau thrust
faulting terbentuk di antara berbatuan pergunungan Himalaya sebagai respon batuan atas
gaya tektonik ini. Patahan-patahan naik inilah yang akan menjadi sumber gempa di sekitar
kawasan tersebut. Patahan-patahan naik sangat dekat dengan permukaan sehingga gempa hari
ini 25 April 2015 bisa sangat dangkal dan memiliki efek merusak yang tinggi. USGS sendiri

mencatat dan membuat mekanisme fokal untuk gempa ini dan berkesimpulan
bahwa penyebab gempa Nepal ini adalah patahan naik dengan kedalaman 10-15 km.

Daftar Bacaan
https://faisalsiddiq.files.wordpress.com/2013/05/terbentuknya-cekungan-samudra-dan-asalmula-air-di-bumi.pdf
http://www.pbs.org/wgbh/nova/everest/earth/birth.html
http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/himalaya.html
http://www.kembangpete.com/2014/10/28/bagaimana-pegunungan-himalaya-terbentuk/
http://www.ibnurusydy.com/mengapa-gempa-nepal-25-april-2015-terjadi/
http://geologi.unsyiah.ac.id/ibnu/gempa-nepal-2015-yuk-lihat-tatanan-tektoniknya/