Anda di halaman 1dari 3

1.

Klasifikas Tumor Otak


Berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi :
a. Jinak Acoustic neuroma
a. Meningioma
b. Pituitary adenomaAstrocytoma ( grade I )
b. MalignantAstrocytoma ( grade 2,3,4 )
a. Oligodendroglioma
b. Apendymoma
Berdasarkan lokasi tumor dapat dibagi menjadi:
a. Tumor intradural Ekstramedular
a. Cleurofibroma
b. Meningioma intramedural
c. Apendimoma
d. Astrocytoma
e. Oligodendroglioma
f. Hemangioblastoma
b. Tumor ekstradural
Merupakan metastase dari lesi primer.
Lokasi
Lobus Frontalis

Manifestasi Klinis
Kelemahan lengan dan tungkai kontralateral, afasia motorik
Perubahan kepribadian, emosional, tingkah laku dan fungsi

Lobus Oksipitalis
Lobus temporalis

intelektual
Gangguan lapang pandang
Afasia sensorik (jika terkena lobus temporalis dominan),

Lobus Parietalis

gangguan lapang pandang (kuadrananopsia homonym atas)


Gangguan sensorik, gangguan lapang pandang, agnosia jari,

Korpus Kalosum
Hipotalamus
Batang Otak

akalkualia, agrafia, apraksia


Sindrom diskoneksi
Gangguan endokrin
Penurunan kesadaran, cekukan, tremor, Kelainan gerakan bola

Cerebellum

mata dan abnormalitas pupil


Ataksia berjalan, tumor intesional, Distrasia, nistagismus

2. Status Epileptikus
Defnisi: kejang yang terjadi > 30 menit atau kejang berulang tanpa disertai pemulihan
kesadaran kesadaran diantara dua serangan kejang
Algoritme manajemen status epileptikus:

3.
Gejala-

gejala

peningkatan TIK?
Nyeri kepala (Gilroy J, Youman JR)
Nyeri kepala pada tumor otak terutama ditemukan pada orang dewasa dan kurang sering
pada anak-anak. Nyeri kepala terutama terjadi pada waktu bangun tidur, karena selama
tidur PCO2 arteril serebral meningkat sehingga mengakibatkan peningkatan dari
serebral blood flow dan dengan demikian mempertinggi lagi tekanan intrakranial. Selain
itu, juga terjadi lonjakan tekanan intrakranial saat pasien batuk, mengejan atau bersin
akan memperberat nyeri kepala.
Muntah
Muntah dijumpai pada 1/3 penderita dengan gejala tumor otak dan bisanya disertai
dengan nyeri kepala. Muntah tersering adalah akibat tumor di fossa posterior. Muntah

tersebut dapat bersifat proyektil atau tidak dan sering tidak disertai dengan perasaan
mual serta dapat hilang untuk sementara waktu.
Kejang
Kejang umum / fokal dapat terjadi pada 20 50% kasus tumor otak, dan merupakan
gejala permulaan pada lesi supratentorial pada anak sebanyak 15%. Frekuensi kejang
akan meningkat sesuai dengan pertumbuhan tumor. Pada tumor di fossa posterior kejang
hanya terlihat pada stadium yang lebih lanjut. Schmidt dan Wilder (1968)
mengemukakan bahwa gejala kejang lebih sering pada tumor yang letaknya dekat
korteks serebri dan jarang ditemukan bila tumor terletak dibagian yang lebih dalam dari
hemisfer, batang otak dan difossa posterior.
Papil edema
Karena tekanan intrakranial yang tinggi akan menyebabkan oklusi vena sentralis retina,
sehingga terjadi edema papil.
Gejala lainnya
False localizing sign yaitu parese N. VI bilateral / unilateral, respons ekstensor yang
bilateral, kelainan mental dan gangguan endokrin. Gejala neurologis fokal juga dapat
ditemukan sesuai dengan lokasi tumor.