Anda di halaman 1dari 34

KARAKTERISTIK SUMBERDAYA DAN SOSIAL EKONOMI RUMAH

TANGGA PETANI DAN PERUSAHAAN PERTANIAN KABUPATEN


CIAMIS
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Dosen Mata Kuliah:
Dr. Ir. Lies Sulistyowati, MS.
Mahammad Arief Budiman, SE., ME.

Disusun Oleh
Ardelia Defani

150610120040

Novrian Rachmat

150610120046

Nur Annisa Rizkita Kartiwa

150610120053

Gianti Mega Lestari

150610120063

Anwar Mujadid

150610120077

Tika Rahmadhani

150610120078

Kelompok 5-Agribisnis B

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKUTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita
berbagai macam nikmat, sehingga semua kegiatan hidup yang kita jalani ini akan
selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih lagi pada
kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita
capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen Mata
Pembangunan Pertanian Berkelanjutan, serta teman-teman sekalian yang telah
membantu, baik bantuan berupa moril maupun materil, sehingga laporan akhir ini
terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Kami menyadari sekali, bahwa didalam penyusunan laporan ini masih jauh
dari kesempurnaan serta banyak kekurangannya, baik dari segi tata bahasa
maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian,
besar harapan kami jika ada kritik dan saran

yang membangun untuk lebih

menyempurnakan laporan kami dilain waktu.


Harapan yang paling besar dari penyusunan laporan ini ialah, semoga apa
yang telah kami susun ini bermanfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta
orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil
hikmah dari judul ini sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah
ada.

Jatinangor,

Maret 2015
Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................
i
DAFTAR ISI ..............................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................................................
1
1.1

Latar belakang....................................................................................................................

1.2

1
Rumusan Masalah..............................................................................................................

1.3

1
Tujuan Makalah..................................................................................................................
2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................


3
2.1. Karakteristik Pertanian.......................................................................................................
3
2.2. Sumber Daya Pertanian......................................................................................................
7
BAB III PEMBAHASAN..........................................................................................................
10
3.1. Karakteristik Sumberdaya Pertanian Kabupaten Ciamis...................................................
10
3.2. Karakteristik Sosial Ekonomi Rumah Tangga Petani dan Perusahaan
Pertanian......................................................................................................................................
22

BAB IV Penutup........................................................................................................................
28
4.1. Kesimpulan.........................................................................................................................
28
4.2. Saran...................................................................................................................................
28
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................
29

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang termasuk di dalamnya yaitu
bercocok tanam, peternakan, perikanan dan juga kehutanan. Sebagian besar mata
pencaharian masyarakat di Negeri Indonesia adalah sebagai petani, sehingga
sektor pertanian sangat penting untuk dikembangkan di negara kita. Sektor
pertanian menyangkut masalah ketahanan pangan. Ketahanan pangan dan energi
pada saat ini dikatakan akan menjadi syarat kedaulatan dari sebuah bangsa.
Bangsa yang tidak dapat menciptakan ketahanan pangan dan energinya secara
mandiri tidak akan bisa menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri. Oleh karena
itu pertanian semakin penting untuk menjadi perhatian pemerintah dalam
merencanakan pembangunan negeri (Paleztine, 2010).

Sektor pertanian tidak lepas dari pemanfaatan sumberdaya yang ada di alam
sekitar.

Sumberdaya

alam

adalah

keadaan

lingkungan

alam

(natural

envinronment) yang mempunyai nilai untuk memenuhi kebutuhan manusia.


Disekitar kita terdapat braneka macam sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin banyak dan beragam.
Sumberdaya alam yang biasa dimanfaatkan dalam bidang pertanian adalah
sumber daya alam dan lingkungan, sumber daya lahan, sumber daya modal,
sumber daya manusia, manajemen dan teknologi.
Permasalahan sumberdaya dalam pertanian terdiri beberapa poin berikut :
1. Semakin menurunnya kesuburan tanah akibat pemanfaatan yang intensif atau
terus menerus.
2. Terjadi pencemaran lingkungan akibat kegiatan pemupukan dan pemberantasan
3.
4.
5.
6.
7.

hama dengan menggunakan pestisida anorganik secara tidak sehat.


Tingkat pendidikan sumber daya manusia nya yang rendah.
Keterampilan petani yang kurang.
Kelangkaan sumber daya modal.
Terbatasnya lembaga peminjaman kridit.
Terbatasnya lembaga asuransi di bidang pertanian
Dari permasalahan tersebut perlu adanya solusi baik dari pemerintah

maupun dari petani itu sendiri. Sumber daya pertanian di setiap daerah
mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Dalam makalah ini dibahas
mengenai sumberdaya pertanian di Kabupaten Ciamis serta penjelasan mengenai
rumah tangga usaha tani dan perusahaan pertanian yang terdapat di Kabupaten
Ciamis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik sumberdaya pertanian yang ada di Kabupaten Ciamis
2. Bagaiman karakteristik dan penyebaran rumah tangga usaha tani serta
perusahaan pertanian di Kabupaten Ciamis
1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
2. Untuk mengetahui karakteristik sumberdaya pertanian di Kabupaten Ciamis

3. Untuk mengetahui karakteristik rumah tangga usahatani dan perusahaan


pertanian yang ada di Kabupaten Ciamis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Karakteristik Pertanian
Sebelum ada pertanian atau sebelum ada pengelolaan tanaman dan
lingkungannya oleh manusia, faktor esensial dan faktor iklim sangat
mempengaruhi tumbuh dan perkembangan bahan tumbuhan seperti apa adanya di
alam atau secara alamiah. Tetapi dengan mulai adanya pertanian, faktor-faktor
tersebut mulai diatur oleh manusia. Sehingga maju pertanian semakin banyak
faktor yang ditangani oleh manusia dan makin intensif penanganannya. Jadi,
pertanian dapat dikatakan mulai ada bersamaan dengan adanya faktor yang
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman yang diatur atau ditangani oleh
manusia. Pengaturan faktor-faktor tersebut disebut dengan teknologi. Makin
banyak faktor yang ditangani serta intensif penanganannya, makin tinggi
teknologinya. Dengan penangan manusia terhadap faktor-faktor tersebut
diharapkan tanaman yang diusahakan memberikan hasil yang optimal.
Usaha meningkatkan produksi pertanian di suatu wilayah dapat dilakukkan
dengan dua cara, yaitu meningkatkan hasil dan meningkatkan luas panen.
Meningkatkan dasil dapat dilakukan dengan mengatur semua faktor sebaik
mungkin. Misalnya dengan menekan faktor yang berkorelasi negatif dan

meningkatkan faktor yang berkorelasi positif. Meningkatkan luas panen dapat


dilakukan dengan meningkatkan luas tanaman dan menekan kegagalan panen.
Salah satunya dengan jalan meningkatkan luas lahan pertanian yang biasa disebut
dengan ekstensifikasi. Pertanian merupakan bentuk kegiatan interaksi antara
manusia dengan lingkungan. Kegiatan ini mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan kegiatan yang lain, walaupun sama-sama interaksi manusia dengan
lingkungannya. Berikut sifat dari pertanian atau karakteristik dari kegiatan
pertanian:
a. pertanian memerlukan tempat yang luas.
b. jenis usaha, potensi, dan hasil pertanian berbeda dari satu tempat dengan
tempat yang lain.
c. kegiatan dan produksi pertanian bersifat musiman.
d. suatu perubahan dalam suatu tindakan memerlukan perubahan juga dalam hal
lain.
e. pertanian modern selalu berubah.
Kelompok Faktor Iklim
(hujan, suhu udara, kelembaban
udara, angin, cahaya, dan panjang
hari)

Kelompok Faktor Gangguan


(hama, penyakit, gulma)

Kelompok Faktor Bahan Tumbuhan


(sifat keturunan, kemurnian daya)

Kelompok Faktor Esensial


(cahaya, air, unsur hara)

Produksi Tumbuhan

Gambar 1. Skema Hubungan yang Mempengaruhi Tumbuhan


Berproduksi Secara Alami
Bila terdapat keterlibatan manusia
untuk
tujuan budidaya (pertanian) yang
Tindakan
manusia
(teknologi)
berorientasi produk hubungannya dengan
ruang dan waktu, adalah sebagai

berikut.
Kelompok Faktor
Iklim

Kelompok Faktor
Gangguan

Kelompok Faktor
Esensiil

Kelompok Faktor
Bahan Tambah
Hasil tanaman atau
pertanian

Gambar 2 Skema Tindakan Manusia Mempengaruhi Hasil Pertanian


Pada gambar di atas, tampak bahwa sasaran akhir pertanian seakan-akan
adalah hasil tanaman yang maksimal. Hal ini tidak dibenarkan dalam pertanian
modern sekarang ini karena kebutuhan manusia termasuk petani sangat banyak
macamnya dan tidak dapat dipenuhi langsung dari tanaman yang diusahakannya.
Pemenuhan kebutuhan manusia sekarang hanya dapat dipenuhi apabila
mempunyai uang. Selain itu kedua upaya yang telah digambarkan di atas
nampaknya belum mengarah pada manusia untuk menyelamatkan sumber daya
genetika yang secara alami tersebar dan pernah hidup di kondisi fisik suatu
tempat. Sumber daya genetika segera hilang berarti laboratorium alam dan
pengetahuan manusia juga semakin miskin meskipun nampaknya banyak temuan
teknologi yang mampu mengatasi permasalahn keterbatasan kualitas dan kuantitas
produk pertanian (Banowati, 2010).
Berikut ini penjelasan karakeristik produk pertanian
a. Produksi yang diperoleh dari usaha secara kecil-kecilan (small scale
production).
Produksi secara kecil-kecilan ini adalah akibat dari usaha yang dilakukan
petani secara kecil-kecilan pula. Padi atau beras, misalnya, dihasilkan oleh
berjuta-juta petani. Dengan demikian petani-petani tidak dapat mempengaruhi
permintaan atas jenis barang yang dihasilkannya. Mereka sulit untuk saling
berkomunikasi dalam hal penjualan, penyimpanan dan sebagainya, karena
terbatasnya kemampuan dan pengetahuan akan hal tersebut. (Anonimous A,
2010)

b. Produksi bersifat musiman.


Karena bersifat musiman, maka hasil produksi akan diperoleh pada waktuwaktu tertentu, sesuai dengan umur tanaman yang bersangkutan. Kita tidak
bisa memaksakan tanaman padi berbuah pada umur satu bulan, karena
kebetulan pada saat itu persediaan beras telah habis atau harga beras terlalu
tinggi karena terlalu banyak permintaan. Sifat produksi yang demikian inilah
sering menimbulkan kesulitan dalam proses pengimbangan. (Anonimous A,
2010)
c. Produksi terpencar.
Tempat produksi pertanian tidak terpusat, tetapi letaknya terpencar. Hal ini
disebabkan petani itu selalu mencari tempat yang keadaan tanah dan iklimnya
cocok untuk tanamannya, tanpa memperhitungkan apakah dekat atau jauh dari
kota atau pasar. Karena keterpencaran ini maka dapat dibayangkan kesulitan
dalam proses pengumpulan agar menjadi suatu jumlah yang besar.
(Anonimous A, 2010)
d. Produk hasil-hasil pertanian bersifat berat, mengambil banyak tempat
dan cepat atau musah rusak.
Kebanyakan hasil-hasil pertanian timbangannya adalah berat dan memerlukan
banyak tempat. Hal ini berarti nilai per satuan berat dan per satuan volume
adalah lebih kecil dibandingkan nilai barang-barang industri. Jelas dalam hal
ini bahwa akan terjadi perbedaan dalam hal pengangkutan dan penyimpanan.
Selain itu sifat hasil pertanian juga mudah rusak atau busuk, sehingga
diperlukan perawatan dan penyimpanan yang baik dan pengangkutan yang
cepat ke tempat konsumen. (Anonimous A, 2010)
e. Penawaran Produknya relative Kecil
Secara perorangan petani pada umumnya merupakan suplier kecil yang tidak
memiliki posisi tawar dalam menentukan harga. Penetapan harga umumnya
dikuasai oleh pelaku pasar lain, yang biasanya adalah pengepul dari petani.
(Anonymous B. 2010.)
f. Ketidakseragaman

Kualitas produk pertanian cenderung tidak seragam, ketidak seragaman ini


bisa dalam bentuk ukuran, tingkat kematangan, dan lain-lain. (Anonymous B.
2010.)
g. Ketergantungan pada alam
Produk hasil pertanian bersifat spesifik dalam kaitannya dengan faktor
klimatologi. Seluruh aspek alamiah memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap produk hasil pertanian. Produk tertentu hanya dapat ditanam pada
kondisi alam tertentu dan dipanen hanya di musim-musim tertentu.
(Anonymous B. 2010.)
h. Memiliki banyak produk substitusi
Produk hasil pertanian bersifat substitusi satu sama lain. Kebutuhan akan satu
jenis produk hasil pertanian jika tidak tersedia maka dapat digantikan dengan
jenis produk agronomi yang lain. Produk hasil pertanian baik sebagai produk
yang langsung dikonsumsi maupun sebagai input produksi (Anonymous B.
2010.)
i. Harga produk relatif murah
Harga produk pertanian di petani relative rendah karena produsen sebagai
price taker dan efek dari asimetri informasi, bargainning potition yang rendah
di produsen (Anonymous B. 2010.)
j. Produk bersifat generic
Memasuki pasar yang cenderung bersifat monopsoni atau oligopsoni,
monopsoni adalah keadaan dimana satu pelaku usaha menguasai penerimaan
pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu
pasar komoditas, sdangkan oligpsoni adalh pasar di mana penawaran satu
jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan
lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. (Anonymous B. 2010.)
2.2 Sumber Daya Pertanian
A. Macam-macam sumberdaya pertanian berikut berdasarkan literatur
yang berbeda
1. Ada 4 macam sumberdaya pertanian yang utama yaitu:

Sumber daya lahan

Sumber daya air dan perairan umum

Sumber daya kelautan

Sumber daya hayati

2. Ada 5 macam sumber daya pertanian, antara lain:

Sumber daya alam dan lingkungan

Tenaga kerja

Modal

Manajemen

Teknologi

3.

Ada 5 macam sumber daya pertanian,yaitu:

Lahan dan air

Sumber daya genetik

Tenaga Kerja

Modal

Teknologi

4.

Ada 5 macam sumber daya pertanian,yaitu:

Lahan

Modal

Pasar

Teknologi

Informasi

B. Peran Sumber Daya Pertanian

Tanah, sebagai lahan pertanian untuk pangan

Tenaga Kerja, merupakan faktor produksi dimana sumber daya


manusia yang dapat ditinjau dari feminim (tenaga kerja wanita dan
pria),kualitas

(terdidik,

terampil,ahli,kasar),

lapangan

kerja (pertanian,

perikanan, lain-lain)

Modal, merupakan sarana yang dapat dimanfaatkan untuk


menghasilkan barang lain.

Teknologi, membantu

dalam

aktivitas

pertanian

seperti

pengolahan, penyiangan dan lain-lain untuk meninggkatkan produktivitas


dengan untuk menghemat waktu dan tenaga.
Manajemen, mengatur jalanya produksi pertanian secara baik

untuk kesejahteran petani


C. Kendala Sumber Daya Pertanian
Tanah, persediaan tanah dalam masyarakat jumlahnya terbatas

akibat pertumbuhan penduduk tidak seimbang dengan ketersediaan tanah


sehingga penngunaan lahan pertanian berkurang akibat pembangunan atau
harganya sangat mahal walaupun harganya kadang-kadang naik-turun
persediaan tanah tidak dapat ditambah,transformasi lahan pertanian produktif
menjadi lahan kritis,lahan marginal, lahan tidur, fragmentasi lahan.
Tenaga Kerja,banyakanya petani yang masih bukan pekerja tetap

akibat lahan yang minim serta pengetahuan yang rendah serta jumlah petani
yang sedikit aibat upah yang kecil.
Modal, petani kecil relatif lebih memiliki akses terhadap lembaga

perkreditan informal yang menawarkan modal riil karena mudah dijangkau.


Teknologi, minimnya teknologi dan belum tersosialisai secara

sempurna dalam hal pengetahuan dan penggunaan teknologi tersebut.


Manajemen, kurangnya pengetahuan petani dalam memanajemen.

D. Solusi
Tanah, memfungsikan kembali lahan tidur dan mengendalikan alih

fungsi lahan pertanian dan serta status kepemilikan lahan yang jelas.
Tenaga Kerja, petani harus memiliki ilmu pengetahuan yang cukup

agar dapat diperkerjakan secara tetap dan imbasnya gaji juga cukup karena
kualitas yang dimiliki.
Modal, menyediakan akses terhadap perkreditan formal karena

memberi patokan harga yang ditentukan lembaga formal pada pasar persaingan
sempurna.

Teknologi,

mensosilisasikan

canggihnya

teknologi

dalam

membantu meningkatkan produksi.

Manajemen, memberi pengarahan betapa pentingnya petani


sebagai pelaku manajemen untuk meningkatkan keejahteraan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Karakteristik Sumberdaya Pertanian Kabupaten Ciamis
Sektor Pertanian di Kabupaten Ciamis masih menjadi penggerak roda
Perekonomian, sehingga pengaruhnya terhadap laju Pertumbuhan ekonomi sangat
signifikan. Kondisi ini juga menggambarkan bahwa pemerintah Kabupaten
Ciamis masih concern terhadap pengembangan potensi sektor Pertanian.
Cakupan sektor Pertanian meliputi Pertanian tanaman pangan, Perikanan,
Peternakan, Kehutanan dan Perkebunan.
1. Pertanian Tanaman Pangan
Produksi padi sawah merupakan komoditas utama sektor Pertanian di
Kabupaten Ciamis. Pada Tahun 2012 produksi padi sawah di Kabupaten Ciamis
mengalami penurunan dibanding dengan keadaan Tahun 2011 dengan luas panen
sebesar 104.178 Ha, untuk Padi Sawah yang menghasilkan rata rata 65,35
kwintal/Ha. Pada Tahun 2012 luas panen padi sawah tercatat sebesar 104.178 Ha,
sedangkan pada Tahun 2011 luas panen sebesar 120.212 ha, sehingga mengalami
penurunan 13,30 %. Lain halnya dengan kondisi padi ladang mengalami
kenaikan. Begitu juga Palawija seperti, ubi kayu, ubi jalar dan kacang hijau
selama Tahun 2012 mengalami kenaikan produksi. Sedangkan palawija seperti,
jagung dan kacang kedele selama Tahun 2012 mengalami penurunan produksi.

Produksi sayuran umumnya mengalami penurunan dibanding Tahun 2011.


Beberapa tanaman pada tahun 2012 mengalami penurunan diantaranya lobak,
buncis, bayam, ketimun, tomat, terong dan kangkung. Sementara komoditas yang
mengalami kenaikan produksi di tahun 2012 adalah bawang daun, kacangkacangan, sawi, labu siam, cabe dan kubis. Begitu juga dengan buahbuahan, pada
Tahun 2012 pada umumnya mengalami penurunan.
2. Perikanan
Luas areal tempat pemeliharan ikan pada Tahun 2012 tidak mengalami
perubahan dibanding Tahun 2011 yaitu untuk tambak sebesar 75,50 Ha, kolam
2.636,78 Ha, sawah 115.64 Ha dan kolam air deras sebesar 131 Ha. Begitu pula
dengan penggunaan sarana penangkapan ikan, tidak terjadi perbedaan dengan
keadaan Tahun 2011 yaitu menggunakan motor tempel hanya 1.863. Ditinjau dari
jumlah produksi ikan pada Tahun 2012 untuk produksi ikan dari tempat
pemeliharaan kolam air deras, dan kolam mengalami kenaikan masing-masing
192 % dan 15,72 % sedangkan produksi ikan dari tambak dan sawah mengalami
penurunan sebesar 3,87 % dan 28,22 %. Produksi dari hasil penangkapan para
nelayan di laut yang masuk ke tempat pelelangan ikan mengalami kenaikan
sebesar 192 %. Nilai Produksi ikan laut yang masuk Tempat Pelelangan Ikan
(TPI) pada Tahun 2012 mencapai 43,03 milyar, berarti ada kenaikan sebesar 262
Persen dari nilai produksi Tahun 2011. Rata-rata konsumsi ikan Per kapita Per
Tahun di Kabupaten Ciamis mencapai 16,92 kg, atau mengalami kenaikan sebesar
5,88 % dibanding Tahun 2011. Masyarakat yang mengkonsumsi ikan tertinggi
berada di Kecamatan Cijulang mencapai 45,06 kg/kapita/Tahun. Selanjutnya
masyarakat Kecamatan Cidolog mengkonsumsi ikan ratarata mencapai 41,90
kg/kapita/Tahun. Namun di sebagian besar kecamatan konsumsi ikan masih di
bawah rata rata angka kabupaten. Konsumsi ikan terendah berada di Kecamatan
Padaherang dan Mangunjaya masing-masing 2,65 kg/kapita/Tahun dan 4,28
kg/kapita/Tahun.
3. Peternakan
Populasi ternak sapi sepanjang Tahun 2012 terjadi kenaikan sebesar 5,52 %.
Umumnya masyarakat memelihara ternak sapi sebagai penyediaan daging bagi
konsumsi masyarakat dan Hari Raya Idul Adha. Kenaikan populasi ternak sapi

seirama dengan peningkatan produksi daging sapi. Tahun 2012 produksi daging
sapi mengalami peningkatan sebesar 4.50 % dibanding Tahun 2011. Diindikasikan
ternak sapi banyak yang dipotong karena permintaan masyarakat yang naik.
Sementara produksi daging ternak lainnya mengalami peningkatan. Selama Tahun
2012 populasi ayam ras pedaging naik sedikit dibawah 1 %. Tahun 2012 populasi
ayam buras mengalami peningkatan sebesar 1.427 ekor atau naik dibawah 1 %
dibanding Tahun 2011.
4.

Kehutanan
Luas hutan Kabupaten Ciamis tersebar di beberapa BKPH/RPH meliputi

Ciamis (Madati, Cikoneng, Panjalu, Kawali); Banjar Utara (Gadung, Bunter,


Rancah);

Banjar

Selatan

(Pamarican,

Cicapar,

Banjarsari);

Pangandaran(Kalipucang, Pangandaran, Cisaladah) dan Cijulang (Parigi, cigugur,


Langkap). Luas kawasan hutan baik yang sudah dikukuhkan maupun yang belum
seluas 28.327.92 Ha. PKPH/RPH wilayah Cijulang memiliki luas hutan terluas
yaitu sebesar 9.299,28 Ha yang tersebar di kecamatan Cijulang, Parigi, Cigugur
dan Langkaplancar. Hutan terluas berada di Gn, Gadung, Cigugur yang mencapai
3.168,9 Ha. Selain hutan yang dikelola oleh BKPH/RPH, terdapat pula hutan
rakyat sebesar 31.707,44 Ha yang tersebar di 36 Kecamatan. Hutan rakyat terluas
berada di kecamatan Kalipucang yaitu sebesar 3.599 Ha. Produksi kehutanan,
kayu albasia mengalami peningkatan panen hampir 2 kali lipat. Sementara kayu
Jati mengalami peningkatan sebesar 1,7 persen.
5.

Perkebunan
Produksi Perkebunan rakyat pada Tahun 2012 mengalami fluktuasi yang

bervariasi untuk semua komoditi. Beberapa komoditi mengalami kenaikan namun


demikian ada juga komoditi yang turun. Produksi paling banyak ada pada
komoditi kelapa sebesar 37 890.22 ton, sedangkan kopi menduduki urutan kedua
dengan total produksi sebesar 951,93 ton.
6.

Ketahanan Pangan
Guna mendukung ketahanan pangan pada musim paceklik di Kabupaten

Ciamis telah dibentuk kelompok lumbung pangan sebanyak 330 lumbung dengan
jumlah anggota sebanyak 12.578 orang. Lumbung pangan terbanyak berada di

Kecamatan Sidamulih mencapai 37 lumbung dengan jumlah anggota 1.314 orang.


Urutan kedua Kecamatan Purwadadi dengan jumlah mencapai 32 lumbung.
Karakteristik sumber daya pertanian Kabupaten Ciamis diantaranya sebagai
berikut :
1) Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan
Potensi Sumber daya alam dalam bidang pertanian di Kabupaten Ciamis
dapat di bilang sangat pesat pertumbuhannya, ini ditandai dengan beberapa tempat
di daerah di Kabupaten Ciamis yang merupakan produsen hasil tanaman pangan
dan holtikultura. Adapun Contoh sumber daya alam dalam bidang pertanian yaitu
tanah atau lahan. Kabupaten Ciamis terletak pada lahan dengan keadaan
morfologi datar - bergelombang sampai pegunungan. Kemiringan lereng berkisar
antara 0 - > 40% dengan sebaran 0 - 2% terdapat di bagian tengah timur laut ke
selatan dan 2 - > 40% tersebar hampir di seluruh wilayah kecamatan. Jenis
tanahnya didominasi oleh jenis latosol, podsolik, alluvial dan grumusol.
Untuk penggunaan lahan di Kabupaten Ciamis pada Tahun 2013 adalah
sebagai berikut

Sawah
: 51.688 Ha (21,14%)
Pekarangan
: 29.926 Ha (12,24%)
Tegal/Kebun/ladang
: 76.676 Ha (31,36%)
Padang Rumput
: 1.777 Ha (0,73%)
Perkebunan Negara/Swasta : 16.188 Ha (6,62%)
Tambak
: 43 Ha (0,02%)
Kolam
: 2.716 Ha (1,11%)
Lain-Lain
: 9.324 Ha (3,81%)
Sedangkan untuk penggunaan lahan berdasarkan komoditas di Kabupaten

Ciamis pada Tahun 2013, dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1. Luas panen Padi dan Palawija di Kabupaten Ciamis Tahun 2009 2013

Tabel 2. Rata-rata Per Hektar Padi dan Palawija di Kabupaten Ciamis


Tahun 2007 - 2013

Tabel 3. Luas Panen dan produksi Sayur-Sayuran Tahun 2012-2013

Tabel 4. Luas Panen Buah-Buahan Menurut Jenisnya Tahun 2013

2) Modal Pertanian
Dalam kegiatan pertanian terdiri dari tiga sektor yang saling tergantung
secara ekonomis yaitu sektor masukan (input), produksi (farm) dan
keluaran (output). Modal merupakan salah satu faktor produksi yang
termasuk dalam sektor masukan.
Dalam produksi pertanian, modal adalah peringkat ke 2 sumberdaya
pertanian terpenting setelah sumber daya alam (tanah atau lahan). Bahkan
kadang-kadang orang menyebut modal adalah satu-satunya milik petani
yaitu tanah disamping tenaga kerja yang dinilai murah. Dalam ekonomi

pertanian disebutkan pula modal adalah barang atau uang yang bersamasama faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang
baru atau komoditi pertanian (Mubyarto, 1993). . Modal petani yang
berupa barang di luar tanah adalah ternak beserta kandangnya, cangkul,
bajak, dan alat-alat pertanian lain, bibit, pupuk dan hasil panen yang belum
dijual, tanaman yang masih di sawah dan lainnya.
Petani di Kabupaten Ciamis memperoleh modal dapat berasal dari modal
pribadi maupun modal pinjaman. Modal pinjaman dapat diperoleh dari
lembaga pengkreditan (bank) yang ada di Kabupaten ciamis. Tetapi pada
umumnya petani di Kabupaten Ciamis masih kesulitan dalam meminjam
modal usaha bertani dari perbankan. Selain itu juga adanya program
Kredit Usaha rakyat (KUR) di Kabupaten Ciamis ini kurang sosialisasi
sehingga sebagian besar petani tidak tahu adanya KUR.
Sementara petani yang ingin menyerap dana KUR pun justru terkesan
dipersulit bahkan pernah diminta jaminan pinjaman apabila KUR ingin
dikucurkan kepada para petani. Karena tidak memiliki jaminan yang
diminta pihak perbankan, akhirnya petani tidak dapat menikmati program
KUR tersebut untuk pengembangan usaha bertani. Oleh sebab itu banyak
petani yang memperoleh pinjaman kepada tengkulak ,hal ini berimbas
pada harga jual menjadi tinggi.
Berikut di bawah ini tabel yang menunjukan jumlah nasabah pertanian :

Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa jumlah nasabah yang bermata
pencaharian pertanian lebih sedikit dibandingkan jumlah nasabah yang
bermata pencaharian di sektor perdangangan, karyawan dan lain-lain. Hal
ini membuktikan bahwa petani sulit untuk memperoleh pinjaman modal
dari perbankan.
3) Sumber Daya Manusia Pertanian
Sumber daya manusia/tenaga kerja dalam bidang pertanian merupakan
sumber daya yang terpenting dalam pertanian. Oleh sebab itu perlu adanya
peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian apalagi
sektor pertanian merupakan penggerak roda perekonomian di Kabupaten
ciamis. Tenaga kerja di Kabupaten Ciamis masih didominasi oleh tenaga
kerja dari sektor pertanian. Berikut dapat dilihat komposisi tenaga kerja Di
Kabupaten Ciamis :

Dari tabel diatas dapat dilihat tenaga kerja di sektor pertanian merupakan
tenaga kerja dengan supply terbanyak dibandingkan dengan tenaga kerja pada
sektor industri, perdangangan, jasa, dan lainnya.
Jika dilihat dari kualitas SDM pertanian di Kabupaten Ciamis masih
tergolong rendah. Rendahnya kualitas SDM ini dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan yang rendah. Rata-rata petani di Kabupaten Ciamis adalah petani yang
hanya lulusan SD atau lulusan SMP.
Kondisi ini semakin diperparah dengan rendahnya minat generasi muda
yang notabene memiliki pendidikan yang relatif lebih tinggi untuk berprofesi
sebagai petani. Mereka banyak berbondong-bondong untuk bekerja di sektor lain
sebagai buruh. Agaknya memang pendidikan yang bersifat link and match banyak
diarahkan ke arah dunia industry sehingga support dan motivasi lulusan ke sektor
pertanian relatif rendah.
Sementara itu dalam tingkat penyuluh di Kabupaten Ciamis ditemui bahwa
jumlah penyuluh yang ada sangat terbatas jumlah dan kualitasnya. Rata-rata usia
penyuluh juga sudah lebih dari 45 tahun. Sistem dan kelembagaan penyuluhan

pertanian, perikanan, dan kehutanan belum baik sehingga belum mampu


memberikan jaminan kesejahteraan bagi profesi seorang penyuluh.
4) Teknologi
Teknologi dalam pertanian saat ini menjadi hal yang penting, karena dari
teknologi tersebut akan menghasilkan metode metode baru baik dalam
teknik pembibitan, budidaya, panen, pasca panen. Selain itu, teknologi
dapat menghasilkan nilai tanmbah untuk hasil petanian. Contohnya
penggunaan teknologi SRI (System of Rice Intensification) adalah matan
cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses
management sistem perakaran dengan berbasis pada pengelolaan: Tanah,
Tanaman dan Air.
Cara tanam ini pertama di kaji di Jaringan IPPHTI yaitu di Kelompok
Studi Petani (KSP) Tirtabumi Desa Budiasih Kecamatan Cikoneng Kab
Ciamis Provinsi Jawa Barat, mulai bulan Pebruari 2000 oleh : Enceng
Asikin, Euis Holisoh, Iik Mudrikah, Kuswara, Acep Koswara, Dede, Lili,
dan Khoer. dengan memadukan praktek pemahaman Pembelajaran
Ekologi Tanah (PET).
Informasi tentang SRI diterima dari penggagas SRI di Madagascar melalui
FAO-IPM, sebagai bahan kajian dalam rangka meningkatkan kualitas
sains petani. Saat ini SRI berkembang cukup baik. Pengkajian dan
sosialisasi dilanjutkan oleh KSP: Tirtabumi, Cinta Alam, Turangga,
Bunirasa, Alam Sejati, Tirtamukti dan Bumisejati.
Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa petani Kabupaten Ciamis sudah
mulai menggunakan teknologi dalam pertanian (kelompok tani di desa
budiasih, kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis). Diharapkan teknologi
yang dipakai di dalam sektor pertanian terus berkembang dan
menghasilkan dampak yang diharapkan, yakni dampak positif.
5) Manajemen
Manajemen (pengelolaan) usahatani adalah kemampuan petani dalam
merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasikan dan
mengawasi faktor produksi yang dikuasai/dimiliknya sehingga mampu
menghasilkan output (produksi) seperti yang diharapkan. Manajemen

usahatani yang baik sangat diperlukan untuk meningkatkan pertanian di


Kabupaten Ciamis.
Kemampuan manajerial dan style manajerial oleh petani akan diwarnai
oleh beberapa hal. Salah satunya adalah tingkat pendidikan. Tingkat
pendidikan ini akan berafilasi dengan pola pikir dan kualitas SDM.
Pendidikan yang tinggi tentunya akan membentuk pola pikir dengan
wawasan yang luas dan memiliki tingkat kualitas SDM yang baik.
Sedangkan tingkat pendidikan yang rendah akan mencetak petani-petani
yang sulit menerima inovasi baru bahkan cenderung laggard (menolak dan
menghalangi) serta rendah dalam penguasaan teknologi yang berujung
pada rendahnya kualitas SDM-nya.

Rata-rata pendidikan petani di

Kabupaten Ciamis yaitu lulusan SD atau SMP. Oleh karena itu petani di
Kabupaten Ciamis masih kurang dalam penyerapan informasi dan
teknologi.
Petani di Kabupaten Ciamis memiliki cara yang berbeda-beda dalam
mengelola usahataninya tergantung pada faktor-faktor produksi yang
mereka kuasai. Petani yang memiliki lahan yang luas membutuhkan sarana
produksi pertanian yang lebih banyak dibandingkan petani dengan lahan
sempit. Petani berlahan luas akan menggunakan alat dan mesin pertanian
yang dapat memudahkan mereka dalam pengolahan tanah, pemeliharaan
tanaman, pemanenan serta pengolahan hasil. Mereka membutuhkan tenaga
kerja dan modal yang lebih besar untuk menjalankan kegiatan usahatani
yang mereka usahakan.
Selayaknya

sebuah

usaha,

usahatani

juga

sangat

membutuhkan

perencanaan yang matang. Mulai dari jenis tanaman yang akan ditanam,
pola budidaya yang akan dijalankan, tenaga kerja yang dibutuhkan, sampai
kepada kegiatan-kigiatan panen dan pasca panen. Semua rencana
seharusnya tersusun rapi tercatat.
Di Kabupaten Ciamis, petani yang telah tergabung dalam kelompok tani
menuangkan perencanaan mereka dalam wujud RDKK (Rencana Definitif

Kebutuhan Kelompok). Namun sayangnya RDKK yang dibuat, oleh petani


belum diartikan sebagai sebuah perencanaan dalam usaha tani. RDKK
hanya digunakan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah
saja.
3.2 Karakteristik Sosial Ekonomi Rumah Tangga Petani dan Perusahaan
Pertanian
Rumah tangga usaha pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau
lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan
sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri,
secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini
termasuk jasa pertanian. Sedangkan perusahaan pertanian adalah setiap bentuk
usaha yang menjalankan jenis usaha di sektor pertanian yang bersifat tetap, terus
menerus yang didirikan dengan tujuan memperoleh laba yang pendirian
perusahaan dilindungi hukum atau izin dari instansi yang berwenang minimal
pada tingkat kabupaten/kota, untuk setiap tahapan kegiatan budidaya pertanian
seperti penanaman, pemupukan, pemeliharaan, dan pemanenan. Contoh bentuk
badan hukum: PT, CV, Koperasi, Yayasan, SIP Pemda.
Adapun karakteristik rumah tangga petani diantaranya :
Umur petani
Umur Petani Rata-rata umur kepala keluarga petani di desa Simpang Jaya dan
Karya Makmur sebesar 44,95 tahun. Umur termuda 17 tahun dan umur
responden tertua berumur 70 tahun. Jika dilihat dari rata-rata umur seluruh
kepala rumah tangga petani berada dalam usia produktif. Hal ini menunjukkan
bahwa karakteristik rumah tangga petani relatif mendukung terhadap tingkat
ketahanan pangan rumah tangga petani.
Tingkat Pendidikan Petani
Tingkat pendidikan formal petani sangat penting, karena berkaitan dengan
kapasitas petani dalam menghitung, menilai dan menganalisis suatu usaha.
Tingkat pendidikan yang lebih baik, kemampuan untuk menganalisis suatu
usaha akan lebih baik pula. Tingkat pendidikan formal petani di Kabupaten
Ciamis relatif masih rendah, dimana petani di Kabupaten Ciamis ini hanya
lulusan SD dan lulusan SMP bahkan terdapat petani yang tidak tamat SD.

Jumlah anggota keluarga


Sebagaimana diketahui bahwa jumlah anggota keluarga seperti dua sisi mata
uang yang berbeda. Salah satu sisinya sebagai salah satu sumber pendapatan
jika berada dalam usia produktif dan bekerja, sehingga dapat membantu
keuangan keluarga dan akan berdampak terhadap ketahanan pangan rumah
tangga petani. Sementara pada sisi yang lain sebagai beban bagi keluarga
petani jika dalam usia yang tidak produktif. Jumlah tanggungan keluarga petani
di Kabupaten Ciamis yaitu antara 3-5 orang per rumah tangga petani.
Kepemilikan Lahan
Rata-rata kepemilikan lahan usahatani mencapai 0,3 ha per rumah tangga
petani, dengan skala terluas mencapai 1,00 ha per rumah tangga petani. Bagi
petani yang tanahnya relatif kecil, agar kebutuhan pangan keluarganya dapat
dipenuhi, melalui penyewaan lahan-lahan yang pemiliknya berada di luar
daerah dengan cara bagi hasil, proporsi bagi hasil yang berlaku bertahun-tahun
di kabupaten tersebut sebesar 1: 3, pemilik mendapat satu bagian, sementara
penyewa mendapatkan 3 bagian dengan catatan seluruh biaya produksi
ditanggung oleh pihak penyewa.
Pemasaran produk pertanian
Hasil yang mereka panen biasanya digunakan untuk konsumsi keluarga,jika
hasil panen mereka lebih banyak dari jumlah yang mereka konsumsi mereka
akan menjualnya ke pasar tradisional.
Tidak adanya spesifikasi dan spesialisasi.
Mereka biasa menanam berbagai macam komoditi. Dalam satu tahun musim
tanam petani dapat memutuskan untuk menanam tanaman bahan pangan atau
tanaman perdagangan. Keputusan petani untuk menanam bahan pangan
terutama didasarkan atas kebutuhan pangan keluarga,sedangkan bila mereka
memutuskan untuk menanam tanaman perdagangan faktor-faktor determinan
yang mempengaruhi pengambilan keputusan tersebut antara lain adalah
iklim,ada tidaknya modal, tujuan penggunaan hasil penjualan tanaman tersebut
dan ekspektasi harga.
Sedangkan karakteristik perusahaan pertanian di Kabupaten Ciamis
diantaranya :

o Jika perusahaan pertanian wawasan usahanya adalah komersial


o Target pemasaran yang dituju selain lokal yaitu dengan melakukan
ekspor
o Dari segi bidang, perusahaan pertanian lebih luas daripada usahatani
keluarga, karena mencakup subsistem pertanian di samping subsistem
yang lain.
o Penggunaan alat/teknik/hasil pengt yg maju,
o Profesional & jelas struktur organisasi, bentuk badan usahanya formal
(PT, CV, Firma, UD, Koperasi).
o Mekanisasi dan otomatisasi produksi yang baik.
Penggunaan seluas-luasnya ilmu kimia dalam produksi
Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian
2013, jumlah usaha pertanian di kabupaten Ciamis sebanyak 275.212 dikelola
oleh rumah tangga, sebanyak 34 dikelola oleh perusahaan pertanian berbadan
hukum dan sebanyak 48 dikelola oleh selain rumah tangga dan perusahaan
berbadan hukum. Kecamatan Banjarsari, Pamarican, dan Langkaplancar
merupakan tiga kecamatan dengan urutan teratas yang mempunyai jumlah
rumah tangga usaha pertanian terbanyak, yaitu masing-masing 19.412 rumah
tangga, 13.101 rumah tangga, dan 12.990 rumah tangga. Sedangkan kecamatan
Cimaragas merupakan wilayah yang paling sedikit jumlah rumah tangga usaha
pertaniannya, yaitu sebanyak 2.941 rumah tangga.
Sementara itu jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum dan usaha
pertanian selain perusahaan dan rumah tangga di Ciamis sebanyak 62 unit
untuk perusahaan sebanyak 21 unit dan lainnya 41 unit. Jumlah perusahaan
pertanian berbadan hukum terbanyak berlokasi di kecamatan Panumbangan
yaitu sebanyak 5 perusahaan kemudian disusul Kecamatan Banjarsari 4
perusahaan dan lainnya menyebar di 9 kecamatan. Sedangkan jumlah
perusahaan tidak berbadan hukum atau bukan usaha rumah tangga

usaha

pertanian terbanyak terdapat di Kecamatan Baregbeg, yaitu sebanyak 16 unit;


urutan kedua adalah Kecamatan Cijeunjing sebanyak 6 unit; Kecamatan
Banjarsari 5 unit dan lainnya sebanyak 1 atau 2 unit menyebar di 10
kecamatan.

Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian


2013, jumlah rumah tangga usaha pertanian di kabupaten Ciamis mengalami
penurunan sebanyak 58.141 rumah tangga dari 249.602 rumah tangga pada
tahun 2003 menjadi 191.461 rumah tangga pada tahun 2013, yang berarti
menurun sebesar 23,29 persen per tahun. Penurunan terbesar terjadi di
Kecamatan Ciamis dan penurunan terendah terjadi di Kecamatan Jatinegara,
yaitu masingmasing sebesar 57,53 persen dan 7,78 persen selama sepuluh
tahun. Komposisi jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kecamatan Ciamis
dan di luar Kecamatan Ciamis selama sepuluh tahun terakhir juga tidak banyak
berubah. Berdasarkan hasil ST2003, 0,04 persen rumah tangga usaha pertanian
berada di Kecamatan Ciamis dan sisanya menyebar relative merata di seluruh
Kabupaten Ciamis. Sementara menurut hasil ST2013, Rumah tangga tani di
Kecamatan Ciamis turun menjadi 0.02 persen. Berikut diagram perbandingan
jumlah rumah tangga usaha pertanian dan jumlah perusahaan pertanian
berbadan hukum pada tahun 2003 dan tahun 2013.

Diagram 1. Perbandingan Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian


Dan Jumlah Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum Pada Tahun 2003
dan Tahun 2013.

Tabel 05. Jumlah Usaha Pertanian Berdasarkan Hasil Sensus


Pertanian 2003 dan 2013

Penyebaran Rumah Tangga Usaha Pertanian di Ciamis Tahun 2013

Penyebaran Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum


Di Ciamis Tahun 2013

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sektor Pertanian di Kabupaten Ciamis masih menjadi penggerak roda
Perekonomian, sehingga pengaruhnya terhadap laju Pertumbuhan ekonomi sangat
signifikan. Cakupan sektor Pertanian meliputi Pertanian tanaman pangan,
Perikanan, Peternakan, Kehutanan dan Perkebunan.
Petani di Kabupaten Ciamis memperoleh modal dapat berasal dari modal
pribadi maupun modal pinjaman. Modal pinjaman dapat diperoleh dari lembaga
pengkreditan (bank) yang ada di Kabupaten ciamis. Selain itu, jika dilihat dari
kualitas SDM pertanian di Kabupaten Ciamis masih tergolong rendah. Rendahnya
kualitas SDM ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang rendah. Rata-rata
petani di Kabupaten Ciamis adalah petani yang hanya lulusan SD atau lulusan
SMP.
Petani di Kabupaten Ciamis memiliki cara yang berbeda-beda dalam
mengelola usahataninya tergantung pada faktor-faktor produksi yang mereka
kuasai. Petani yang memiliki lahan yang luas membutuhkan sarana produksi
pertanian yang lebih banyak dibandingkan petani dengan lahan sempit.

Petani di Kabupaten Ciamis memiliki rata-rata umur kepala keluarga petani


sebesar 44,95 tahun. Umur termuda 17 tahun dan umur responden tertua berumur
70 tahun. Tingkat pendidikan formal petani di Kabupaten Ciamis relatif masih
rendah, dimana petani di Kabupaten Ciamis ini hanya lulusan SD dan lulusan
SMP bahkan terdapat petani yang tidak tamat SD. Jumlah tanggungan keluarga
petani di Kabupaten Ciamis yaitu antara 3-5 orang per rumah tangga petani. Ratarata kepemilikan lahan usahatani mencapai 0,3 ha per rumah tangga petani,
dengan skala terluas mencapai 1,00 ha per rumah tangga petani.
4.2 Saran
Pemerintah sebaiknya memberikan penyuluhan yang berkaitan dengan
peningkatan kualitas SDM dikarenakan Kabupaten Ciamis merupakan pusat
perekonomian yang cukup tinggi
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2013.

Pertanian

Kabupaten

Ciamis.

Available

online

at.

http://st2013.bps.go.id/st2013esya/booklet/st3207.pdf (Diakses tanggal 4


Februari 2015 pkl 08.30)
Anonim.

2013.

Perusahaan

pertanian.

available

online

at.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30758/4/Chapter
%20II.pdf (Diakses tanggal 4 Februari 2015 pkl 08.40)
Anonim A. 2010. http://berusahatani.blogspot.com/2010/01/sifat-dan-ciri-produkpertanian.html. diakses pada tanngal 4 februari 2015 pukul 20.00
Anonim

B.

2010. http://docs.google.com/viewer?

a=v&q=cache:HQ2u7gZzXIQJ:masud.lecture.ub.ac.id/files/2010/03/02Karakteristik-Produk-Hasil-Pertanian.pdf. diakses pada 4 februari 2015


pukul 20.00
Badan Agribisnis. 1997. Rencana Strategis Badan Agribisnis Repelita VII. Badan
Agribisnis Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Baharsyah, S. 1993. Pendayagunaan Sumberdaya Manusia, IPTEK dan Faktor


Penunjang lainnya dalam Pengembangan Agroindustri.
Iskandar, 2011. Peran manajemen dalam mempengaruhi usahatani. Available
online

at.

http://iskandarpenyuluh.blogspot.com/2011/01/peran-

manajemen-dalam-mempengaruhi.html (Diakses tanggal 4 Februari 2015


pkl 08.45)