Anda di halaman 1dari 25

RESUME JURNAL 1

Judul:
Perancangan Sistem Informasi Manajemen Aset (Studi Kasus Pada PT.
Ciptakridatama)

Penulis:
Suhairi

Abstrak:
Aset merupakan salah satu bagian penting yang harus dikelola dengan
baik dan bisa didapatkan dengan cepat ketika informasinya ingin diketahui. Pada
Perusahaan yang memiliki jumlah cabang yang banyak dan jumlah Aset yang
besar tentu akan kesulitan mengelola Aset dengan cara tradisional, untuk itu
sebuah Sistem Informasi untuk mengelola Aset Perusahaan perlu dibuat. Sistem
Informasi tersebut harus meliputi Permintaan Aset, Persetujuan, Pembelian,
Register, Pengiriman, dan Penerimaan Aset.
Keywords: Aset, Sistem Informasi, Manajemen, UML.

Latar Belakang:
Jumlah Aset akan semain bertambah seiring dengan berkembangnya suatu
perusahaan. Aset adalah sebuah barang yang tidak habis pakai (non consumable)
yang dimiliki oleh perusahaan yang memiliki umur penggunaan lebih dari 12
bulan. Manajemen yang baik diperlukan untuk mengelola aset perusahaa dengan
baik. Hal ini dilakukan untuk mempermudah aset tersebut dipantau dan ditelusuri
saat diperlukan oleh manajemen untuk memperbaiki kinerja atau efesiensi dalam
perusahaan.

Saat ini PT Ciptakridatama (CK) belum memiliki Sistem untuk keperluar


pengelolaan Aset. Pengelolaa aset masih dilakukan secara tradisional yang berupa
bentuk file. Hal ini dirasakan kurang mengakomodasi pentingan perusahaan
karena mengalami kesulitan dalam melakukan penelusuran permintaan Aset, serta
memerlukan waktu yang lebih lama. Untuk itu PT. CK perlu untuk membuat
sebuah sistem untuk manajemen aset terintegrasi yang meliputi persetujuan
permintaan, pembelian, register aset, pengiriman aset, dan penerimaan aset.
Rancangan sistem ini diharapkan dapat melengkapi ketiadaan sistem sebelumnya.
Rancangan sistem ini diharapkan akan melengkapi sistem dengan fitur intergrasi
mulai dari permintaan, persetujuan, pembelian, register, pengiriman, dan
penerimaan aset.

Mengacu pada ulasan sebelumnya, PT. CK menghadapi beberapa masalah


dengan sistem tradisional yang ada sekarang, yaitu:
1. Sistem sekarang belum terkoneksi ke sistem yang sudah ada,
sehingga semua dilakukan secara tradisional dan manual, sehingga
saat diperlukan penelusuran aset menjadi sulit.
2. Adanya peraturan dari GROUP Perusahaan untuk menyimpan data
aset kedalam sistem ERP yang sudah ada.
3. Persetujuan permintaan aset yang cukup lama dan lebih sulit
ditelusuri.
4. Kurangnya efisiensi waktu dan biaya, selain itu sisi biaya
penggunaan kertas dan tinta menyebabkan biaya yang lebih tinggi.

Tinjauan Pustaka:
Aset adalah sumber daya yang memiliki manfaat ekonomik jangka
panjang, serta diperoleh ayau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas akibat
transaksi atau kejadian masa lalu. Aset mempunyai sifat sebagai manfaat
ekonomik dan bukan sebagai sumber ekonomik. Aset pada umumnya terbagi
menjadi 2 yaitu: Aset Tetap dan Aset yang tidak berwujud.

Aset tetap adalah aset yang berwujud yang memiliki masa manfaat lebih
dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan ekonomi perusahaan.
Aset tetap ini berupa tanah, gedung bangunan, jalan, dan sebagainya. Sementara
Aset tidak berwujud adalah aset yang tidak terlihat wujudnya, namun dapat
diketahui keberadaannya seperti hak cipta, hak paten, merek dagang, rahasia
dangang, dan lain-lain.
Siklus manajemen aset mempertimbangkan semua pilihan dan strategi
manajemen aset, dari masa pakai, perencanaan, sampai penghapusan aset jangka
panjang. Tujuan ini dilakukan untuk mencari biaya terendah dalam jangka
panjang, bukan penghematan dalam jangka pendek. Perencanaan aset adalah
meliputi konfirmasi tentang pelayanan yang diperlukan, dan memastikan bahawa
aset yang diajukan merupakan solusi yang paling efektif untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan.
Pengadaan aset adalah peningkatan dari aset dimana pembiayaan dapat
menjadi alasan yang diharapkan untuk menyediakan keuntungan diluar tahun
pembiayaan. Pengendalian aset dan biaya dan semua yang berhubungan dengan
hal tersebut merupakan komponen penting dalam aset yang dinamis atau berumur
pendek. Penghapusan aset adalah pilihan yang diambil ketika aset tersebut sudah
habis nilai keekonomisannya, dan tidak diperlukan lagi.

Hasil Pembahasan:
Berdasarkan hasil diskusi yang Penulis lakukan, sistem yang akan
dikembangkan adalah sistem yang terintegrasi dari manajemen user, menajemen
permintaan, hingga barang diterima oleh pemohon. Sehingga membuat sistem ini
memiliki tiga bagian utama, yaitu: Manajemen user, Permintaan Aset, dan
Administrasi Aset.
Yang dapat dijabarkan pada bagian manajemen aset adalah sebagai
berikut:
1. Pembuatan user dan pengaturan approval oleh administrator.

2. Pembuatan dokumen permintaan atau pemindahaan oleh user


3. Penentuan strategi pengandaan barang oleh aset manager
4. Persetujuan dari manajemen perusahaan.
5. Proses register aset oleh aset admin
6. Pengiriman barang oleh aset admin
7. Dan Proses penerimaa barang oleh pemohon.
Perancangan Use Case pada sistem ini melibatkan 5 aktor yang berperan
dan delapan proses yang terdapat dalam sistem. Aktor-aktor tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Administrator
2. Requester
3. Asset Admin
4. Asset Manager
5. Top Managemen
Sedangkan 8 proses yang ada pada sistem adalah sebagai berikut:
1. Administrasi User
2. Setting Approval Flow
3. Request Aset
4. Purchase Strategi
5. Approval
6. Register
7. Create Delevery Instruction
8. Dan Aset Received.
Sistem yang dibangun akan dikelompokkan dalam beberapa kelas (Class)
agar memudahkan dalam pencarian kelas, baik level lebih tinggi maupun menuju
level yang lebih detail. Kelas- kelas tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sub User
a. com_user
b. com_ApprovalSetting

2. Sub Permintaan Aset


a. com_PembuatanPermintaan
b. com_StrategiPenggandaan
c. com_PersetujuanManajemen
d. com_InstruksiPengiriman
3. Dan Sub Asset
a. com_Aset.
Pada 3 kelas utama tersebut masing-masing memiliki komponen yang
berhubungan satu dengan lainnya. Untuk menginput data permintaan aset
diperlukan antar muka form untuk keperluan tersebut. Selain untuk permintaan
aset baru, form ini juga dapat digunakan untuk permintaan pemindahan aset. Pada
tampilan form ini terdapat dua bagian, yaitu bagian General yang berisi detail
aset, dan bagian historis yang berisi historis pemindahan aset.
Sistem lama semenarnya sudah cukup memadai untuk fungsi manajemen
aset dasar, namun hal tersebut masih dilakukan secara manual yaitu belum
menggunakan sistem yang terkomputerisasi, sehingga mengalami kesulitan saat
akan dilakukan pelacakan aset. Pada sistem yang dikembangkan ini kendala pada
sistem lama dapat diatasi, karena sistem ini dikembangkan saling terintegrasi satu
dengan lainnya. Selain itu data aset yang dimiliki juga lebih lengkap mulai dari
aset dengan harga termurah sampai aset dengan harga tertinggi. Laporan
permintaan aset dan aset yang telah dimiliki juga sudah dapat terakomodasi juga
dalam sistem ini.

Kesimpulan:
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sistem yang dibuat adalah sebuah sistem informasi aset yang
terintegrasi.
2. Sistem Harus bisa diintegrasikan dengan sistem ERP yang sudah
ada di Perusahaan CK terutama dengan module sistem pembelian.
3. Persetujuan permintaan aset menjadi lebih cepat.
4. Penelusuran dan pembuatan laporan lebih cepat.

5. Dan sistem ini mendukung visi perusahaan untuk membuat bumi


tetap hijau dengan mengurangi penggunaan kertas.
Saran-saran yang dapat diberikan terkait dengan perancangan sistem
informasi aset ini adalah sebagai berikut:
1. Sistem dapat dikembangkan menjadi aplikasi mobile agar lebih
mudah dan fleksibel saat diakses.
2. Rancangan sistem bisa dikembangkan lagi ke arah BI (Business
Intelligence) untuk membantu manajemen mengambil keputusan.
3. Sistem dapat dikembangkan lagi menjadi lebih lengkap dengan
fitur pengawasan umur keekonomisan aset.

RESUME JURNAL 2

Judul:
Rancang Bangun Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Aset Perusahaan (Studi
Kasus Pada STIKOM Surabaya)

Penulis:
Franstia Wira Sukma Susilo

Abstrak:
Sebagai Department yang memberikan informasi tentang Aset di STIKOM
Surabaya, Department Inventaris kerap menemukan masalah, masalah tersebut
terjadi karena kurangnya informasi detail, lokasi, daftar aset, dan umur
keekonomian aset yang diperlukan untuk operasional Perusahaan.
Ketidakpedulian Perusahaan tentang manajemen Aset juga menjadi masalah
yang paling umum. Selain itu nilai penyusutan terhadap Aset juga sulit untuk
diketahui dengan menggunakan cara yang tradisional. Berdasarkan
permasalahan tersebut, maka akan dibuat sebuah Sistem Informasi Manajemen
Aset yang akan memberikan informasi secara rinci yang meliputi data detail aset,
umur keekonomian, dan nilai buku aset akibat penyusutan. Metode perhitungan
penyusutan Aset yang digunakan adalah metode saldo menurun. Dalam
operasionalnya Department Inventaris akan diminta untuk mengisi data biaya,
persentase penyusutan, masa manfaat, dan nilai residu Aset. Dengan demikian
Department Inventaris dapat melakukan pendataan Aset dengan lebih informatif
dan dapat menemukan informasi tentang nilai buku Aset akibat penyusutan.
Department Inventaris juga akan dapat menangani masalah operasional dengan
benar dan cepat.
Keywords: assets, fixed assets, asset managment, asset management
information system.

Latar Belakang:
Sebagai Perguruan tinggi Swasta komputer terbaik di Surabaya, STIKOM
adalah sebuah perguruan tinggi yang sepatutnya sudah menerapkan sebuah sistem
informasi untuk mengelola aset yang dimiliki. Namun hal tersebut belum dimiliki

berdasarkan wawancara dengan bagian administrasi umum dan berniat akan


membangun sistem informasi Aset tersebut. Sistem ini akan digunakan untuk
pengelolaan aset / inventory, implementasi sistem ini pada hakekatnya adalah
upaya untuk tertib administrasi yang sedang digiatkan pada STIKOM Surabaya.

Landasan Teori:
Pada Landasan teori ini Penulis menyampaikan berbagai macam teori
yang berkaitan dengan aset, yang meliputi pengertian Aktiva, Aktiva Tetap,
Pengertian Harta, Kelompok Harta, Metode perhitungan penyusutan aset
berdasarkan Undang-Undang RI No. 17 Tahun 2000.
Dijelaskan juga bahwa semua aktiva tetap akan mengalami penyusutan
karena semakin berkurangnya waktu dan berkurangnya kemampuan untuk
memberi jasa. Hal ini berlaku untuk semua aktiva tetap kecuali tanah. Karena nilai
tanah seiring dengan berlalunya wakti tidak pernah turun, bahkan sebaliknya
harga tanah makin lama makin naik.
Metode perhitungan yang digunakan ada dua buah metode, yaitu:
1. Metode Garis Lurus atau Straight-Line Method
2. Dan Metode Saldo Menurun atau Declining Balance Method.
Untuk harta yang berwujud yang berupa bangunan hanya dapat disusutkan
dengan metode pertama, yaitu metode garis lurus. Sedangkan selain bangunan
bisa digunakan keduanya, baik itu metode garis lurus maupun metode saldo
menurun.
Contoh penggunaan metode garis lurus:
Sebuah gedung yag harga perolehannya Rp. 100.000.000,- dan masa
manfaatnya 20 (dua puluh) tahun. Maka penyusutannya setiap tahun adalah
sebesar Rp. 100.000.000,- : 20 tahun = Rp. 5.000.000,Contoh penggunaan metode saldo menurun:

Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan januari 2000
dengan harga perolehan Rp. 150.000.000,- masa manfaat dari mesin tersebut
adalah 4 (empat) tahun. Kalo tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50% (lima
puluh persen) maka perhitungan penyusutannya adalah seperti tabel dibawah ini:
Tahun

Tarif

Harga Perolehan

Penyusutan

Nilai sisa buku

150.000.000

2000

50%

75.000.000

75.000.000

2001

50%

37.500.000

37.500.000

2002

50%

18.750.000

18.750.000

2003

Disusutkan sekaligus

18.750.000

Manajemen aset adalah proses inti dari bisnis yang mencakup proses
pengelolaan aset seperti pemilihan, pemeliharaan, inspeksi, dan pembaharuan aset
(The Institute of Asset Management, 2010).
Siklus manajemen aset mempertimbangkan semua pilihan dan strategi
menajemen sebagai bagian dari aset masa pakai, dari perencanaan sampai
penghapusan aset. Tujuannya adalah untuk mencari biaya terendah dalam jangka
panjang (bukan penghematan dalam jangka pendek), menurut Suhairi(2010, h.4).
Perencanaan aset meliputi konfirmasi layanan yang dibutuhkan oleh pelanggan
dan memastikan aset yang diajukan adalah solusi yang paling efektif untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pengoperasian aset memiliki fungsi yang berhubungan dengan kerja,
pengendalian aset. Menurut penelitian tentang manajemen aset (Sudrajat, 2007)
keuntungan dari manajemen aset berhubungan dengan akuntabilitas, manajemen
layanan, manajemen resiko, dan efisiensi keuangan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pengurusan aset terhadap kepemilikan, dan layanan
yang dihasilkan yang efektif dan efesien.
2. Menyediakan dasar pijakan untuk evaluasi dan penyeimbang
layanan, harga dan kualitas.

3. Peningkatan akuntibalitas untuk penggunaan sumber daya dengan


perhitungan kinerja dan keuangan
4. Meningkatkan komunikasi yang menyeluruh dengan pengguna aset
ataupun layanan.
5. Meningkatkan kenyamanan pelanggan dan citra perusahaan.
6. Meningkatkan manajemen resiko terhadap pembelian aset.

Sistem Informasi Manajemen Aset:


Implementasi Sistem Informasi manajemen aset (Hartono, 2010) pada
hakekatnya adalah upaya untuk tertib dokumentasi dan tertib administrasi
pengelolaan aset. Gambaran umum dari sistem informasi aset ini dapat dijabarkan
secara ringkas sebagai berikut:
System Flow Penerimaan barang yang meliputi:
1. Bagian pembelian
a. Proses validasi kelompok barang
b. Proses maintenance kelompok barang
c. Dan Proses Penyimpanan data aset tersebut ke dalam
basisdata.
2. Penggantian Barang, System flow pada bagian ini meliputi:
a. Adanya data penggantian dari bagian penggantian
b. Mendapatkan surat penggantian Barang
c. Dan proses pembaharuan tabel data di basis data.
3. Peminjaman Barang, system flow bagian ini meliputi hal-hal
sebagai berikut:
a. Peminjaman barang ini akan dicatat kedalam tabel barang
b. Membuat surat pengantar barang kepada bagian yang akan
meminjamkan barang.

10

4. Pemeliharaan Barang, System Flow bagian ini meliputi hal-hal


sebagai berikut:
a. Pemberiaan data pembaharuan untuk dicatat di tabel basis
data.
b. Setelah data tercatat, bagian inventaris akan memberikan
data kepada maintenance untuk diperbaiki.
c. Selanjutnya

menampilkan

form

maintanance,

dan

dilakukan pengecekahan apakah aset tersebut rusak atau


tidak.
d. Jika tidak rusak, maka dimasukan ke jadwal maintenance,
jika rusak maka cukup pada laporan maintenance saja.
5. Penghapusan Barang, Pada sistem penghapusan barang ini bagian
memberikan data barang yang akan dihapus kepada bagian
inventaris. Data yang dihapus adalah barang yang telah rusak dan
tidak dapat digunakan lagi.
6. Penyusutan Barang, Pada bagian ini sistem akan melakukan
perhitungan penyusutan terhadap umur barang secara otomatis, dan
akan membuat laporan penyusutan kepada bagian inventarisasi.
7. Pembuatan Laporan, Pada bagian ini semua laporan yang berkaitan
dengan aset akan dilaporkan, ada 4 buah laporan yang dihasilkan
oleh sistem, yaitu: laporan jumlah aset, laporan detail aset, laporan
penyusutan aset, dan laporan kebutuhan daya listrik.
Diagram Context Sistem dapat digambarkan sebagai berikut:

11

Sedangkan Diagram Level 0 dari sistem yang dibagun adalah sebagai


berikut:

12

Sedangkan Gambar Conceptual Data Modelnya seperti gambar dibawah


ini:

13

Sedangkan Physical Data Model dapat digambarkan seperti gambar


sebagai berikut:

14

Dari berbagai diagram yang telah dipaparkan diatas, sistem ini dapat
diimplementasikan dengan baik, sesuai dengan antarmuka form-form yang dibuat,
seperti untuk mengentry kelompok aset baru, entry data aset, perubahan aset,
pemindahan aset, penyusutan, peminjaman, dan fitur-fitur lain yang telah
disebutkan sebelumnya.

Kesimpulan:
Setelah serangkaian proses yang telah penulis paparkan sebelumnya, pada
akhirnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Sistem dapat berjalan seperti yang diharapkan, yaitu dapat
memberikan detail, lokasi, daftar aset, penyusutan, dan proses

15

penghapusan

aset

yang

sudah

tidak

memiliki

nilai

keekonomisannya lagi.
2. Sistem dapat memberikan informasi tentang penggunaan daya
listrik dari aset yang digunakan di STIKOM Surabaya berdasarkan
jumlah daya yang dimiliki setiap aset.
Saran-saran yang dapat diberikan berkenaan dengan sistem ini adalah
sebagai beikut:
1. Mengembangkan tampilan yang berbasis web, sehingga dapat
diakses lebih luas.
2. Aplikasi mendatang sebaiknya menggunakan enkripsi data.
3. Aplikasi mendatang dikembangkan lebih bagus lagi di bagian
komunikasi dengan bagian Maintenance.
4. Sistem dapat dikembangkan berdasarkan historis pembelian aset,
sehingga diketahui merk-merk yang bagus berdasarkan historis
tersebut.
5. Dan Sistem dapat memberikan informasi lokasi aset secara
geografis dengan adanya sistem pemetaan yang baik.

16

RESUME JURNAL 3

Judul:
Pembangunan Sistem Informasi Aset Di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia
(PERSERO) Berbasis Web

Penulis:
Utami Dewi Widianti

Abstrak:
Laporan yang dibuat secara langsung saat laporan itu diperlukan di PT.
INTI akan membuat sistem pelaporannya belum restruktur, dan akan cenderung
lambat karena harus mengumpulkan informasi Aset yang tersebar di mana-mana.
Hal ini akan menyebabkan lambatnya operasional Perusahaan dan ini
merupakan sebuah permasalahan yang menyebabkan tujuan dari Perusahaan
yaitu dapat beroperasi dengan cepat, dan tepat. Untuk itu Sub Divisi Adrus
meminta untuk dibuatkan sebuah Sistem Informasi Aset yang akan digunakan
untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan Aset Perusahaan. Sistem
Informasi yang akan dibuat menggunakan model waterfall, metode aliran data
yang terstruktur yang terdiri dari Data Flow Diagram (DFD) untuk
menggambarkan model fungsional program, dan Entity Relation Diagram (ERD)
untuk menggambarkan model data.
Keywords: Sistem, Informasi, Sistem Informasi, Aset Perusahaan,
PT.INTI.

Latar Belakang:
Sub Divisi Sekper & SDM Adrus PT. INTI sebenarnya sudah memiliki
sistem yang berbasis web, dimana sistem tersebut memuat dokumentasi properti
atau aset yang dimiliki perusahaan, namun pada kenyataannya hal tersebut hanya
untuk pendeskripsian aset saja, belum termasuk data detail aset yang diperlukan.
Sementara itu untuk keperluan detail aset masih digunakan cara tradisional yang
berbentuk berkas yang dapat saja tercecer sehingga dapat menghambat dan

17

mengalami kesulitan atas kebutuhan informasi mengenai aset perusahaan yang


dinilai lambat.
Berdasarkan masalah tersebut, dan berdasarkan wawancara penulis yang
telah dilakukan dengan Divisi Sekper & SDM Adrus PT. INTI. Maka dibutuhkan
sebuah sistem informasi aset perusahaan yang dapat mengakomodir semua
kekurangan yang ada pada sistem sebelumnya.

Landasan Teori:
Sistem Informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang
mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi,
bersifat manajerial dan kegiatas suatu oraganisasi, dengan menyediakan laporanlaporan tertentu (Robert A. Leithdan K. Roscoe).
Evolusi perangkat lunak itu sendiri meliputi dari: Pembangunan Perangkat
Lunak yang meliputi daur hidup perangkat lunak yang dimilai dari permintaan,
spesikasi, perancangan, testing, dan sebagainya. Kemudian yang kedua adalah
Perawatan perangkat lunak yang merupakan proses untuk memperpanjang waktu
penggunaan sistem. Dan yang ketiga adalah Migrasi perangkat lunak, yaitu proses
memindahkan sistem yang ada ke sistem yang baru dikarenakan kebutuhan
pengembangan sistem.
Metode perancangan sistem dapat menggunakan beberapa pendekatan,
yaitu struktural ataupun Berorientasi Objek. Jika menggunakan pendekatan
struktural makan Diagram Konteks lazim digunakan, diagram ini digunakan untuk
mengambarkan hubungan antara sistem dengan entitas luarnya. Diagram ini
berfungsi sebagai transformasi dari suatu proses yang melakukan transformasi
data input menjadi output. Entitas luar disini adalah entitas yang ada hubungan
langsung dengan sistem.
Selain Diagram Konteks, dalam mengembangkan sistem juga diperlukan
juga Entity Relation Diagram (ERD), diagramnya ini fokusnya hanya pada data,

18

dimana menggambarkan jaringan data dengan sistem. ERD sangat berguna bagi
aplikasi dimana data dan hubungan yang mengatur data yang sangat kompleks.
ERD ini diperkenalkan pertama kalinya oleh Peter Chec yang komponennya
terdiri dari: Objek Data, Attribut, hubungan dengan beberapa indikator. ERD ini
dibuat untuk mewakili objek data dan hubungan antar data tersebut.
Setelah itu ada juga yang namanya Data Flow Diagram (DFD), yang
memperlihatkan hubungan fungsional dari nilai yang dihitung oleh sistem.
Termasuk nilai masukan (input) dan nilai keluaran (output), serta tempat
penyimpanan external. DFD ini adalah gambaran bagaimana sistem berjalan
melewati bagian-bagian proses yang telah ditentukan.
Kamus data adalah katalog fakta tentang data dan kebutuhan-kebutuhan
informasi dari suatu sistem informasi, dengan adanya kamus data ini analisis
sistem dapat didefinisikan dengan lengkap. Kamus data ini digunakan pada saat
analisis sistem maupun saat pada tahap perancangan sistem.
PHP dan MYSQL, PHP adalah bahasa pemrograman untuk script web
yang bersifat server side. PHP ini diciptakan pertama kali oleh Rasmus Lerdorf,
seorang pemrogram C yang handal yang penggunaannya hanya untuk mencatat
seberapa jumlah pengunjung ke websitenya. Rasmus adalah seorang pendukung
Open Sources, untuk itu PHP dikembangkan juga dalam bentuk Open Sources.
PHP memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:

Tidak memerlukan kompilasi seperti bahasa pemrograman C atau


C++

Didukung oleh banyak Webserver.

Lebih mudah dikembangkan, dan terus berkembang ke arah yang


lebih lengkap karena lisensinya yang Open Sources

Banyak referensi yang dapat digunakan dalam membuat program


dengan PHP ini.

Mendukung multi platform, yaitu bisa berjalan pada hampir semua


sistem Operasi Komputer saat ini.

19

Sementara MySQL adalah sistem RDBMS yang sangat terkenal, dan


mendapat dukungan penuh oleh PHP. MySQL ini adalah sebuah RDBMS yang
mengggunakan bahasa query standart, dan bahasa yang dihasilkan oleh PHP ini
dapat dikenal juga oleh sistem RDBMS yang lain seperti Oracle, PostgreSQL, dan
MsSQL.

Analisa dan Perancangan:


Setelah diadakan pengamatan langsung terhadap sistem lama yang hanya
melakukan pengdokumentasian terhadap aset baru saja dalam bentuk berkas yang
manual yang mudah sekali tercecer dan sulit untuk dicari. Maka dari itu dapat
dirancang sebuah sistem baru dengan Analisis Basis Data berdasarkan diagram
Entity Relation (ER) berikut:

Analisis kebutuhan non teknis dilakukan untuk menghasilkan spesifikasi


kebutuhan non fungsional. Analisis ini digunakan untuk menganalisa hal-hal yang
bersifat tidak teknis pada saat dilakukan sistem ketika diimplementasikan, analisa
ini diperlukan untuk menentukan hasil keluaran dari sistem (Output).
Analisa kebutuhan fungsional adalah analisa yang digunakan untuk
menentukan hal-hal fungsional dari sistem yang akan dibangun, yaitu dengan
mengambarkannnya menjadi diagram konteks seperti gambar berikut ini:

20

Gambar 1. Diagram Konteks

Gambar 2. DFD Level 0

21

Gambar 3. DFD Level 1 Proses 1.0

Gambar 4. DFD Level 1 proses 2.0

22

Gambar 5. DFD Level 1 Proses 3.0

Setelah

pada

diimplementasikan

tahap

serta

perancanan

dilakukan

selesai,

pengujian

sistem

terhadap

yang

sistem

dibuat
tersebut.

Implemntasi adalah sebuah proses menerapkan sistem yang sudah dibuat ke dunia
nyata, sehingga sistem tersebut dapat digunakan. Pada proses ini juga akan dapat
dilakukan pengujian terhadap sistem, apa saja yang dapat dilakukan dan terdapat
kekurangan yang dapat diperbaiki, baik secara langsung maupun pada
pengembangan sistem selanjutnya.

23

Kesimpulan:
Berdsarkan uraian pembahasan sebelumnya, maka dapat diambil
kesimpulan terhadap sistem yang dibuat sebagai berikut:
1. Sistem Informasi Aset Perusahaan yang berbasis web dapat
membantu pengelolaan aset perusahaan dengan baik.
2. Dapat mengelola detail aset, jadi tidak hanya sebatas dokumentasi
saja.
3. Membantu mempermudah pencarian data.
4. Mudah dipelajari dan diimplementasi dimana saja karena dibuat
berbasiskan web.
5. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah Water Fall,
karena metode ini melakukan pendekatan pengembangan secara
skuen atau berurutan.
Adapun saran yang ditulis oleh penulis adalah pengembangan sistem ke
arah yang lebih user frendly, sehinggan semakin mudah digunakan, dan
penambahan sistem verifikasi, sehingga konsistensi data yang diinput dapat
terjamin.

24

Kesimpulan dari Peresume


Dari ketiga jurnal diatas memiliki sebuah tema yang sama, yaitu
membangun sebuah sistem informasi Aset. Dimana diantara ke tiga jurnal tersebut
memiliki kelebihan dan kekurangan dari pendekatan yang diambil.
Kelebihan Jurnal yang ke 1 adalah pendekatan pembuatan sistem yang
sudah menggunakan metodelogi OOP (Object Oriented Programing) sehingga
pengembangan sistem kedepannya akan semakin mudah. Sementara kekurangan
dari Jurnal pertama adalah kurang memasukannnya faktor perhitungan akuntansi
untuk perhitungan penyusutan terhadap nilai buku aset.
Kelebihan Jurnal yang

ke 2 adalah lengkapan landasan teori yang

digunakan, sehingga karena sangat lengkapnya landasan teori tersebut


menyebabkan Jurnal tersebut bukan lagi seperti Jurnal tentang ilmu komputer tapi
lebih ke jurnal ilmu akuntansi. Sementara pendekatan pembangunan sistem yang
digunakan adalah pendekatan prosedural yang cenderung sudah ditinggalkan pada
masa sekarang ini. Hal tersebut menjadi kelemaahan dari Jurnal yang ke 2 ini.
Kelebihan Jurnal yang ke 3 adalah pemaparan tentang pengembangan
sistem yang sangat jelas dan langsung ke pokok pembahasan, serta pemberian
gambar antar muka dari sistem yang dibuat membuat pembaca dapat
membanyangkan sistem rillnya. Kelemahan Jurnal ke 3 ini sama seperti Jurnal ke
2, yaitu masih digunakan pendekatan prosedural dalam membangun sistem yang
saat ini cenderung sudah ditinggalkan, dan mulai mengadopsi pendekatan OOP
untuk kemudahan pengembangan sistem di masa yang akan datang.

25