Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Cangkang Telur Ayam


Kandungan utama cangkang telur ayam adalah senyawa kalsium. Senyawa

kalsium yang terdapat pada cangkang telur ayam yaitu berupa kalsium karbonat
(CaCO3). Tabel 2.1 merupakan komposisi utama yang terdapat pada cangkang
telur ayam.
Tabel 2.1 Komposisi utama cangkang telur ayam
Komposisi Utama

Cangkang Telur Ayam (%)

Protein
Kalsium karbonat
Fosfat
Meterial organik
Magnesium karbonat
Sumber : (Prabakaran, 2005)

94
1
4
1

Gambar 2.1 Cangkang Telur Ayam


Cangkang telur ayam kering mengandung sekitar 94% kalsium karbonat
dengan berat 5,5 gram (Butcher dan Miles, 1990). Sementara itu, Hunton (2005)
melaporkan bahwa cangkang telur ayam terdiri atas 97% kalsium karbonat. Selain
itu, rerata dari cangkang telur ayam mengandung 3% fosfor dan 3% terdiri atas
magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga.

Cangkang telur ayam merupakan salah satu sumber CaCO 3 (calcium


carbonate) yang paling besar, dengan kadar yang mencapai 94%. Telur ayam
menghasilkan limbah berupa limbah Cangkang telur ayam, Salah satu alternatif
yang dapat dilakukan untuk mengatasi limbah cangkang telur ayam adalah dengan
mengolah cangkang telur ayam tersebut menjadi serbuk hidroksiapatit atau
senyawa kalsium yang selama ini dikenal sebagai pengganti tulang sintetik.
Hidroksi apatit adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah
ikatan yang mengandung ion kalsium. Ion kalsium dapat dikombinasikan dengan
orthophosphates, pyrophosphates, hidrogen, atau hidroksida. Ini adalah bahan
utama dalam pembentukan tulang dan enamel gigi, sehingga disebut juga sebagai
biomaterial (Arief Cahyanto, 2009).
Cangkang telur ayam yang sudah diolah dalam bentuk hidroksiapatit dapat
menambah kebutuhan dunia medis. Tingginya kasus kerusakan tulang dalam
medis sering terjadi sebagai akibat fraktur yang penanganannya memerlukan
pembedahan dan grafting (pencangkokan) dengan menggunakan biomaterial.
Pemenuhan kebutuhan biomaterial tulang di Indonesia masih menggunakan
material import. Adapun yang telah dikembangkan di tanah air adalah biomaterial
yang berasal dari tulang sapi yang disebut allograf. Allograf pada umumnya
hanya terdiri dari komponen mineral saja, serta mempunyai kelemahan, yakni
karakternya tidak pasti, tidak konstan dan perbedaan imunitas yang dapat
menyebabkan terjadinya karsinogenik. Dalam perkembangannya, untuk mengatasi
persoalan tersebut dilakukan pembuatan biomaterial sintetik yang diharapkan
karakter bahannya diketahui secara pasti sehingga lebih biokompatibel (Farzadi,
2010).
Nurlaela dkk 2013, menyatakan poses kalsinasi cangkang telur perlu
dilakuan sebelum cangkang telur digunakan sebagai sumber kalsium (Ca),
kalsinasi dilakukan pada temperatur 1000C selama 5 jam untuk menghilangkan
komponen organik dan mengubah kalsium karbonat (CaCO 3) menjadi kalsium
oksida (CaO), melalui reaksi:
Panas
CaCO3

CaO + CO2 ........................................................................(1)

Produk CaO diproduksi, selanjutnya direaksikan dengan diammonium


hidrogen phospat. Reaksinya yaitu:
5CaO + 3(NH4)2HPO4 + 2H2O

Ca5(PO4)3OH + 6NH4OH........................(2)

Menghasilkan hidroksiapatit murni yang dinyatakan oleh analisis XRD.


2.2

Hidroksiapatit Ca10 (PO4)6(OH)2


Hydroxylapatite, juga disebut hidroksiapatit (HA), adalah bentuk

mineral alami kalsium apatit dengan rumus Ca5(PO4)3(OH), tapi biasanya ditulis
Ca10(PO4)6(OH)2 untuk menunjukkan bahwa sel satuan kristal terdiri dari dua
entitas. Hidroksiapatit adalah hidroksil kelompok apatit kompleks. Ion OH dapat
diganti dengan fluoride, klorida atau karbonat, menghasilkan fluorapatite atau
chlorapatite. Ini mengkristal dalam sistem kristal heksagonal. Hidroksiapatit
murni berwarna putih. Alami apatit bisa, juga memiliki coklat, kuning, atau hijau
pewarnaan, sebanding dengan perubahan warna dari fluorosis gigi (wikipedia,
2015).
Hingga 50% volume dan 7% berat adalah bentuk modifikasi dari
hidroksiapatit (dikenal sebagai mineral tulang). Carbonated kalsium-kekurangan
hidroksiapatit adalah mineral utama yang terdiri dari enamel gigi. Kristal
hidroksiapatit juga ditemukan dalam kalsifikasi kecil (dalam kelenjar dan struktur
lainnya) dikenal sebagai corpora arenacea atau 'pasir otak' (wikipedia, 2015).
Hidroksiapatit adalah sebuah molekul kristalin yang intinya tersusun dari
fosfor dan kalsium dengan rumus molekul Ca 10(PO4)6(OH)2. Molekul ini menepati
posisi 65% dari fraksi mineral yang ada di dalam tulang manusia. Material ini
juga terdapat pada struktur gigi manusia terutama di dalam dentine dan enamel.
Oleh karenanya, peranan material ini dalam dunia kesehatan sangatlah penting
(McNab, 1993).
2.2.1

Struktur Kristal
Terdapat dua struktur kristal berbeda yang dijumpai pada hidroksiapatit

yakni monoklinik dan heksaganol. Pada umumnya, hidroksiapatit yang disintesis


memiliki struktur kristal heksaganol. Struktur HA yang heksaganol memiliki

10

space group symmetry P63m dengan parameter kisi a = b = 9.432 , c = 6.881 ,


dan = 120. Struktur tersebut terdiri dari susunan gugus PO4 tetrahedra yang
diikat oleh ion-ion Ca. Ion-ion Ca berada pada dua posisi yang berbeda yakni,
posisi kolom sejajar (Ca1) dan posisi segitiga sisi (Ca2) yang berbeda pada pusat
sumbu putar. Susunan OH membentuk kolom dan berada pada sumbu putar, juga
membentuk susunan demikian dengan OH yang terdekat, seperti yang dilihat pada
Gambar 2.2 (Balamurungan, 2006).
Akan tetapi, ada juga struktur monoklinik jika kondisi benar-benar
stoikiometrik. Struktur ini adalah yang paling teratur dan stabil secara
termodinamika bahkan di suhu ruang sekalipun. Struktur monoklinik ditemukan
pertama kali dari proses pengubahan kristal tunggal chlorapatite menjadi kristal
tunggal HA memiliki space group symmetry P21/b dan parameter kisi a = 9.421 ,
b = 2a, c = 6.881 , dan = 120, seperti yang terlihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.2. Struktur heksaganol hidroksiapatit


Struktur monoklinik disebabkan karena susunan OH membentuk urutan
OH OH OH OH yang membuat parameter kisi b menjadi 2 kali a. Akan tetapi
struktur heksanagol juga dapat diperoleh pada kondisi stoikiometrik jika susunan
OH tidak teratur.

Gambar 2.3. Struktur monoklinik hidroksiapatit

11

Idealnya rasio Ca/P dari hidroksiapatit adalah 10/6 dan densitasnya 3.19
g/mL. Stabilitas hidroksiapatit lebih besar jika gugus OH digantikan dengan F
karena jarak antara atom F dengan Ca yang lebih kecil dibandingkan jarak antara
OH dengan Ca. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan ketahanan enamel
terhadap caries dengan cara fluoridation. Karena jarak kisi pada sumbu a semakin
berkurang dengan meningkatnya kandungan F di dalam struktur kristal
(Balamurungan, 2006).
2.2.2

Sifat Kimia
Hidroksiapatit memiliki sifat kimia yang penting yaitu biocompatible,

bioactive, dan bioresorbable. Biocompatible maksudnya adalah material tersebut


tidak menyebabkan reaksi penolakan dari sistem kekebalan tubuh manusia karena
dianggap sebagai benda asing. Bioactive material akan sedikir terlarut tapi
membantu pembentukan sebuah lapisan permukaan apatit biologis sebelum
langsung antarmuka dengan jaringan dalam skala atomik, yang mengakibatan
pembentukan sebuah ikatan kimia langsung ke tulang. Bioresorbable material
akan melarut sepanjang waktu (tanpa memperhatikan mekanisme yang
menyebabkan pemindahan material) dan mengijinkan jaringan yang baru
terbentuk tumbuh pada sembarang permukaan material. Akibatnya, fungi dari
material bioresorbable adalah berperan dalam proses dinamis pembentukan dan
reabsorbansi yang terjadi di dalam jaringan tulang; dengan demikian, material
bioresorbable digunakan sebagai scaffolds atau pengisi (filler) yang menyebabkan
mereka berinfiltrasi dan bersubstitusi kedalam jaringan (Santos, 2004).
Laju disolusi dari HA yang bersifat bioactive dapat bergantung pada
beragam faktor, seperti; derajat kristalinitas, ukuran kristalis, kondisi proses
(temperatur, tekanan, dan tekanan parsial air), dan porositas. HA larut di dalam
larutan asam sementara tidak larut di dalam larutan alkaline dan sedikit larut di
dalam air destilasi. Kelarutan di dalam air destilasi meningkat seiring dengan
penambhan elektrolit. Selain itu, kelarutan HA berubah karena adanya adam
amino, protein, enzim, dan senyawa organik lainnya. Sifat kelarutan tersebut
sangat berhubugan dengan sifat biocompatible dari HA dengan jaringan dan

12

reaksi-reaksi kimianya dengan senyawa lainnya. Akan tetapi, laju kelarutan


bergantung pada perbedaan; bentuk, porositas, ukuran kristal, kristalinitas, dan
ukuran kristalit. Kekurangan HA yang disinter sangat rendah. Hidroksiapatit
bereaksi aktif dengan protein, lemak, dan senyawa organik ataupun non-organik
lainnya.
2.2.3

Aplikasi Hidroksiapatit
Hidroksiapatit banyak diaplikasian pada dunia medis karena sifatnya yang

sangat mirip dengan komponen pada organ-organ tertentu dari tubuh manusia
seperti tulang dan gigi. Akan tetapi, dikarenakan kekuatan mekanik yang kurang
baik dalam menahan beban maka aplikasinya terbatas pada implan yang tidak
sepenuhnya menahan beban (non-load-bearing implanti), seperti; implan untuk
operasi telingan bagian tengah, pengisi tulang yang rusak pada operasi ortopedik,
serta pelapis (coatingi) pada implan untuk dental dan proshesis logam.
Senyawa kalsium fosfat berbentuk kristal dalam empat fase, yaitu
dikalsium fosfat, okta kalsium fosfat, trikalsium fosfat dan hidrokasiapatit.
Hidroksiapatit merupakan senyawa yang tersusun dari kalsium, fosfat, oksigen
dan hidrogen. (Aoki, 1991).
Penyusun utama tulang adalah kolagen (20% berat), kalsium fosfat (69%
berat) dan air (9% berat). Bahan organik lain seperti protein, polisakarida dan
lemak terdapat dalam jumlah yang kecil. Kalsium fosfat terdapat dalam bentuk
kristal hidroksiapatit (HAp) dan kalsium fosfat amorf (amorphus calcium
phosphate/ ACP). Kristal HAp hadir dalam bentuk plat atau bentuk jarum yang
panjang 40-60 nm, lebar 20 nm dan tebal 1.5 5 nm. Keberadaan HA pada tulang
tidak diskrit, melainkan mengisi tulang secara kontinu sehingga memberikan
kekuatan yang baik pada tulang (Sari dkk, 2008).
Tulang merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting bagi
manusia. Betapa vitalnya fungsi tulang dalam tubuh, sehingga apabila terjadi
kerusakan maka fungsi tubuh otomatis terhambat. Namun demikian, pada
kenyataannya kasus kerusakan tulang banyak terjadi di dunia termasuk di
Indonesia. Kerusakan tulang dapat dipicu oleh usia maupun faktor pola makan

13

yang tidak sehat, selain itu kasus kerusakan tulang juga dipicu oleh maraknya
kasus kecelakaan dan bencana alam, faktor kelahiran, infeksi dan tumor (sari dkk,
2008).
Menghadapi permasalahan diatas, maka berkembang berbagai riset
terutama berkaitan dengan biomaterial substitusi tulang. Beberapa teknik
substitusi tulang yang dikenal selama ini antara lain autograft, substitusi tulang
menggunakan bagian tulang yang lain dari orang yang sama. Metode ini dapat
menimbulkan kerugian pada pasien seperti rasa sakit berlebih pasca operasi,
meningkatkan jumlah darah yang hilang, menimbulkan luka akibat adanya
pembedahan kedua serta dapat beresiko pada thrombosit. Allograft, substitusi
dengan memanfaatkan biomaterial yang berasal dari tulang manusia lain, metode
ini dapat mengatasi kelemahan metode sebelumnya, tetapi berpeluang untuk
menimbulkan transmisi berbagai penyakit apabila tulang donor tidak sehat.
Xenograft, implantasi bagian tubuh dari spesies yang berbeda, misalnya tulang
yang berasal dari sapi. Metode ini dikenal mudah, murah, serta ketersediannya
tidak terbatas. Namun demikian perbedaan karakter mineral tulang menjadi salah
satu kelemahan metode ini (Magdalena, 2007). Biomaterial sintetis merupakan
alternatif yang dapat mengatasi keterbatasan beberapa metode di atas. Penggunaan
bahan sintetis pada substitusi tulang tidak akan menimbulkan peradangan serta
tidak menyebabkan respon iritasi. Para peneliti meyakini bahwa penggunaan
bahan alami dalam pembuatan biomaterial substitusi tulang lebih dapat diterima
oleh tubuh, karena kesamaan sifat fisiko kimia dengan tulang sebenarnya
(Sivakumar dkk, 1996 dan Garetta dkk, 2002). Beberapa penelitian di negara lain
telah memanfaatkan bahan alam seperti batu koral, ganggang laut dan cangkang
telur ayam (Prabakaran dkk, 2005). Pada penelitian ini, peneliti memanfaatkan
limbah cangkang telur ayam dan bebek sebagai sumber kalsium (Ca) karena
cangkang telur mengandung 94-97% CaCO3. Selain itu, karena ketersediannya
sangat melimpah serta harganya yang sangat murah.
Serbuk biomaterial substitusi tulang perlu dikompositkan dengan matriks
organik, untuk memenuhi syarat sebagai material substitusi tulang, mengingat
tulang itu sendiri merupakan komposit alami yang terdiri dari bahan organik dan

14

inorganik, yaitu 30% bahan organik, 55% bahan inorganik dan 15% air
(Prabakaran dkk, 2005 dan Sari dkk, 2008). Substansi inorganik tulang dikenal
sebagai fase mineral tulang dengan komponen utamanya adalah kristal
hidroksiapatit (HA) (Schnettler dkk, 2005). Secara stoikiometri, rumus kimia
HA adalah Ca10(PO4)6(OH)2 dengan struktur kristal padat heksagonal dan rasio
perbandingan Kalsium terhadap Posfat (Ca/P) sama dengan 1,67 (Sari dkk,
2008).
Mineral tulang dalam jaringan makhluk hidup disebut apatit biologi. Apatit
dalam jaringan makhluk hidup ini mengandung banyak karbonat (CO 32-). Ion
CO32- dapat menggantikan gugus posfat (PO4)3- atau hidroksil (OH-) pada HA,
sehingga menghasilkan mineral apatit yang nonstoikiometri (Sari dkk, 2008 dan
Pleshko dkk, 1991). Senyawa kalsium posfat yang memiliki karakteristik yang
sama dengan mineral tulang, seperti HA inilah yang disintesis pada penelitian ini
dengan menggunakan cangkang tekur ayam dan bebek sebagai sumber kalsium
(Ca) dan KH2PO4 sintetis sebagai sumber Posfat (PO 4)3-. Senyawa kalsium posfat
ini memiliki sifat kimia yang sama dengan senyawa kalsium posfat yang
ditemukan dalam tulang, sehingga dapat digunakan sebagai bahan substitusi
tulang (Deepak dkk, 2005).
Sementara itu, material yang akan digunakan sebagai matriks dalam
pembuatan biomaterial komposit substitusi tulang haruslah memiliki sifat antara
lain tidak beracun, osteokonduktif, biocompatible, biodegradable dan tidak
karsinogenik. Salah satu bahan alam yang melimpah di Indonesia serta memiliki
karakter yang telah disebutkan adalah kitosan. Dalam penelitian ini kitosan yang
digunakan adalah kitosan yang berasal dari limbah kulit udang.
2.3

Metode Sintesis Hidroksiapatit (HA)


Beberapa metode telah dipergunakan untuk mensintesis hidroksiapatit

(HA) meliputi; teknik pengendapan (precipitation technique), pendekatan sol-gel


(sol-gel approach), teknik hidrotermal (hydrothermal technique), teknik emulsi
beragam (multiple emulsion technique), teknik deposisi biomimetik (biomimetic

15

deposition technique), teknik elektrodeposisi (electrodeposition technique).


Berikut ini adalah penjelasan dari beberapa metode tersebut:
2.3.1

Teknik Pengendapan
Metode pengendapan adalah metode yang paling terkenal dan teknik yang

banyak dipergunakan untuk sintesis hidroksiapatit (HA). Hal ini karena dengan
terknik ini dapat disintesis HA dalam jumlah besar tanpa menggunakan pelarutpelarut organik dan juga dengan biaya tidak begitu mahal. Kalsium hidroksida
[Ca(OH)2] dan asam fosfat (H3PO4) digunakan sebagai prekursor untuk reaksi
tersebut seperti pada persamaan ketiga. Reaksi sintesis HA dengan prekursor
tersebut telah banyak dilakukan oleh beberapa penelitian. Hal ini sampingan yang
dihasilkan oleh reaksi ini hanyalah air dan reaksi tidak melibatkan elemen-elemen
asing.
10Ca(OH)2 + 6H3PO4

Ca10(PO4)6(OH)2 + 18H2O....................................(3)

Ukuran, bentuk, dan permukaan dari partikel HA yang diperoleh dengan


reaksi ini sangat sensitif terhadap laju penambahan asam fosfat dan temperatur
reaksi. Laju penambahan asam fosfat erat hubungannya dengan pH yag diperoleh
pada akhir sintesis dan juga pada kestabilan suspensi. Temperatur reaksi
menentukan apakah kristal HA sintesis adalah monokristalin atau polikristalin.
HA yang disintesis pada temperatur rendah (<60C) adalah monokristalin.
Telah banyak penelitian yang menggunakan teknik pengendapan ini untuk
mensintesis HA dengan jenis-jenis prekursor yang berbeda-beda. Santos (2004),
telah menyatakan dua reaksi yang lain untuk sintesis HA dengan teknik
pengendapan. Pada salah satunya, dipergunakan diammonium fosfat [(NH 4)2
HPO4] dan Ca(OH)2 sebagai prekusor seperti pada persamaan 4. Sedangkan dalam
salah satu reaksi yang lain dipergunakan kalsium hidrogen fosfat [Ca(H2PO4)2
H2O] dan Ca(OH)2 sebagai prekursor seperti persamaan 5. Pada reaksi pertama,
temperatur sintesis dijaga pada 40C dan pada reaksi yang kedua, sintesis
dilakukan pada temperatur ruang.
10Ca(OH)2 + 6(NH4)2 HPO4
7Ca(OH)2 + 3Ca(H2PO4)2 H2O

Ca10(PO4)6(OH)2 + 6H2O +12NH4OH...........(4)


Ca10(PO4)6(OH)2 + 15H2O.......................(5)

16

Seperti yang sebelumnya telah disinggung bahwa pH, laju penambahan,


pengadukkan, dan temperatur sinter berpengaruh pada HA yang sedang disintesis.
Menurut de-Aza (1997), kenaikan kristalinitas ditunjukkan oleh adanya kenaikan
intensitas puncak dan secara langsung bervariasi dengan kenaikan temperatur.
Laju penambahan asam yang rendah akan menyebabkan dihasilkannya ukuran
kristalit yang besar seperti ynag dilaporkan seari (2003). Laju pengadukkan juga
dilaporkan mempengaruhi sintesis HA, perlu dilakukan pengadukan yang kuat
(vigorous) untuk menghasilkan endapan HA yang homogen.
Pengadukan yang tidak cukup akan menyebabkan terbentukkanya fasa
yang tidak diinginkan yaitu monetite [CaHPO4] dan brushite [CaHPO4 H2O). Juga
pengadukan yang cukup akan berkontribusi pada kontrol pH campuran yang lebih
baik dan menyebabkan interaksi yang lebih baik antar reagen. Kontrol terhadap
pH sangatlah penting karena merupakan parameter yang sangat mempengaruhi
nilai rasio Ca/P/. Nilai pH harus dikontrol secara efektif, jika tidak, pada pH yang
lebih rendah dari 7 akan terjadi pembentukan calcium monophosphate dan
dehydrated calcium yang cukup mudah larut di dalam medium air. Hal yang
penting adalah mempertahankan nilai pH di atas 9, karena penurunan pH akan
menyebabkan pembentukkan struktur apatit yang kekurangan kalsium (calcium
deficient apatit). Derajat pH juga mempengaruhi tingkat kemurnian dan juga
morfologi dan kristal HA yang terbentuk. Menurut Wang (2010), partikel
berbentuk seperti bola dengan ukuran 20-30 nm akan terbentuk pada pH 10,
sedangkan kebanyakan HA yang disintesis pada pH 8 terbentuk seperti jarum
dengan ukuran panjang 0.25 m. HA murni dapat disintesis pada pH 10, dimana
pada pH 9 akan terbentuk campuran -TCP dan HA. Pada pH 8 kebanyakan
terbentuk adalah Ca2P2O7 (-TCP).
2.3.2

Teknik Hidrotermal
Merupakan teknik yang memanfaatkan tekan uap air dan tekanan dalam

sintesis suatu meterial keramik. Di abad ke-20, teknik hidrotermal untuk sintesis
meterial merupakan teknologi yang paling penting sekali dan dengan teknologi ini
dapat disintesis berbagai macam material keramik termasuk hidroksiapatit.

17

Sintesis hidrotermal adalah suatu proses yang mempergunakan reaksi-reaksifasa


tunggal atau heterogen di dalam larutan air pada temperatur tinggi (T>25C) dan
tekanan (P>100 kPa) untuk mengkristalisasi material keramik langsung dari
larutan. Bagaimanapun, dengan perlakuan hidrotermal, rasio Ca/P dari endapan
meningkat seiring dengan penigkatan tekanan atau temperatur hidrotermal.
Manafi (2009), telah mensintesis HA dengan melarutkan CaHPO4
2H2O/NaOH/air distilat, diikuti dengan penambahan 2-3 mg cetyl trimerhyl
ammonium bromide (CTAB). Sintesis hidrotermal dilakukan pada 150C selama 2
jam di dalam sebuah oven listrik. Felicio-Fernandes (2000), telah melakukan
sintesis HA dengan memanfaatkan sumber alam berupa alga laut (marine algae)
dari pantai Brazil memakai proses hidrotermal. Pada penelitiannya, struktur
berpori dari phycogenic CaCO3 tidak mengalami perubahan, dan HA yang
dihasilkan tidak stoikiometrik serta mengandung karbonat. Hal tersebut sangat
mirip dengan tulang manusia karena HA yang menyusun tulang manusia tidak
stoikiometrik dan mengandung karbon tipe AB. Proses hidrotermal dapat
menghasilkan partikel dengan kristalinitas yang baik dan tidak mengalami
aglimerasi, ukuran, bentuk dan komposisi yang homogen pada temperatur yang
rendah. Dengan proses ini dapat dipakai bahan-bahan baku seperti calcite,
brushite, monetite untuk sintesis hidroksiapatit.
2.3.3 Pendekatan sol-gel
Pendekatan sol-gel adalah sebuah metode efektif untuk sintesis HA fasanano, karena memungkinkan kendali yang ketat terhadap parameter-parameter
proses. Metode ini menawarkan suatu pencampuran pada tingkat molekul dari
kalsium dan fosfor, yang mampu meningkatkan sifat kimia dari HA yang
dihasilkan. Hanya sedikit penelitian yang melaporkan mengenai sol-gel process
untuk material HA. Telah dilaporan bahwa material HA yang disintesis dengan
sol-gel process efisien untuk meningkatkan kontak dan stabilitas pada antarmuka
tulang alami/buatan di dalam lingkungan in vitro dan juga in vivo.
Sejumlah kombinasi prekursor kalsium fosfat dipergunakan untuk sintesis
HA menggunakan sol-gel process. Lagi, aktivitas kimia dan temperatur diperlukan

18

untuk membentu struktur apatit sangat bergantung pada sifat kimia dari msingmasing prekursor. Balamurungan (2006), menggunakan Ca(NO 3)2 4H2O dan
triethyl phospate sebagai prekursor untuk kalsium dan fosfor, ketika rasio
stoikiometrik Ca/P dipertahankan pada 1.67. Serbuk HA yang telah dikeringkan
dan disintesis pada temperatur berbeda mencapai 900C. Brendel et al, telah
mensintesis HA pada temperatur rendah (400C) menggunakan Ca(NO3)2 4H2O
dan phnyl diclorophosphite (C6H5PCl2) sebagai prekursor. Tetapi, HA yang
dihasilkan memiliki kemurnian yang rendah dan kristalinitas yang buruk.
Peningkatan lebih lanjut dalam temperatur hingga mencapai 900C
menghasilkan fasa HA yang murni dengan kristalinitas yang lebih baik.
Kristalinitas ditingkatkan dengan menaikkan temperatur hingga 1100C. Pada
suatu pendekatan lain, Vijayalakshmi (2006) telah mensintesis serbuk HA
monokristalin dari kalsium asetat dan triethyl phospate di dalam media air dan
ethanol. Haddow (1996), telah menggunakan calcium acetate bersama dengan
berbagai macam preksursor fosfor, contohnya phosphoric acid (H3PO4),
phosphorus pentaxide (P2O5) dan triethyl phospate, untuk HA coating. Diantara
mereka, HA coating menggunakan calcium acetat dan triethyl phospate
memperhatikan hasil yang terbaik. Temperatur yang dibuthkan untuk membentuk
fasa apatite adalah >600C.
2.3.4

Teknik Emulsi Beragam


Emulsi beraga didefinisikan sebagai emulsi dimana dua macam emulsi

sperti w/o dan o/w ada secara bersamaan. Teknik ini menggabungkan sifat-sifat
dari kedua jenis emulsi tersebut. Merupakan sistem heterogen dari sebuah cairan
tak dapat bercampur (immiscible) yang didispersikan kedalam cairan lain dalam
bentuk droplet, yang biasanya berdiamter > 1m. Teknik ini dapat dimanfaatkan
untuk berbagai bidang aplikasi dalam dunia farmasi seperti untuk drug delivery
system, juga bisa untuk diaplikasikan pada bidang kosmetik. Hughes (1989), telah
mengembangkan sebuah pendekatan alternatif untuk sintesis HA dengan reaksi
antarmuka didalam suatu emulsi beragam. Emulsi beragam merupakan suatu
elmusi air/minyak/air (w/o/w emulsion), dibuat dari larutan dipotassium hydrogen

19

phosphate (K2HPO4) sebagai sebuah fasa larutan air bagian dalam, benzene
sebagai sebuah fasa minyak, dan Ca(NO3)2 4H2O sebagai sebuah fasa larutan air
bagian luar. Reaksi-reaksi antarmuka dilakukan pada 323 K selama 24 jam. Fasa
kristalin divariasikan dengan sebuah pH awalan dari larutan air bagian dalam, dan
sebuah HA tunggal disintesis pada sebuah pH awalan 12. Produk hasil sintesis
tersusun atas porous microsphere (bola-mikro berpori) dengan ukuran dari 3m.
Metode ini memiliki beberapa keuntungan. Sebuah tangki berpengaduk yang
umum cukup untuk digunakan sebagai reaktor, dan karenanya, tidak diperlukan
peralatan khusus. Sintesis dapat dilakukan pada temperatur rendah sekitar
temperatur ruang.
2.3.5

Teknik Deposisi Biomimetik


Cairan tubuh sintetik metastabil metastable synthetic body fluid (SBF)

dengan suatu komposisi garam-garaman organik yang mirip dengan cairan tubuh
manusia (plasma darah), memfasilitasi nukleasi spontan dan pertumbuhan dari
HA berkarbon dan berukuran nano mirp-tulang pada pH dan temperatur fisiologis.
Thamaraiselvi (2006), telah mensintesis HA biomimetik dari Ca(NO 3)2 4H2O dan
(NH4)2 HPO4, dilarutkan di dalam SBF pada 37C. SBF disiapkan berdasarkan
pada komposisi kimia dari larutan tubuh manusia, dengan variasi konsentrasi ion
yang benar-benar mirip dengan konsituten non-organik dari plasma tubuh
manusia. Metastabil SBF telah terbukti memicu pertumbuhan dan apatit bonemimetic berkarbon pada berbagai macam ortopedik dan biomaterial untuk gigi
seperti silika, titania, bioglass, dan lain-lain pada pH dan temperatur fisiologis.
Pembentukkan lapisan apatite dengan proses deposisi biomimetik ini pada
beberapa biomaterial untuk gigi dan ortopedik telah terbukti memicu diferensiasi
sel in vitro di dalam sistem kultur sel kondrosit termineralisasi dan mempengaruhi
diferensiasi sel osteogenik dengan tambahan matriks-tulang yang berikutnya,
yang memberikan sebuah ikatan kuat dengan tulang. Menggunkan metode ini,
berbagai macam implan berpori dapat dilapisi dengan HA biomimetik berkabon
ukuran nano dengan merendam implan di dalam SBF. Sifat dari lapisan HA,
melalui mikrostrukturnya, laju disolusinya, dan interaksi spesifikasinya dengan

20

cairan tubuh, dapat mempengaruhi osteogenisitas dari lapisan (coating) seperti


proses re-modeling tulang.
2.3.6

Teknik Elektrodeposisi
Lapisan HA fasa nano dengan butir ultra-halus dapat disintesis memakai

teknik elektrodeposisi dari elektrolit encer [Ca+] = 6.1 10 4 M, [PO4] = 3.6


104 M pada pH fisiologis. Prekursor yang dipergunakan untuk proses
elektrodeposisi lapisan HA adalah Ca(NO3)2 dan NH4H2PO4. Sodium nitrate
digunakan untuk meningkatkan kekuatan ionik larutan elektronik. Manso (2000),
telah menyelidiki pertumbuhan dari lapisan HA yang dipengaruhi oleh tegangan
anodik konstan (2-4 V) di dalam suatu larutan elektrolit alkil.
2.3.7

Keuntungan-keuntungan Metode Pengendapan


Metode pengendapan (precipitation), jika dibandingkan dengan beberapa

metode yang telah disebutkan sebelumnya, memiliki beberapa keuntungan yang


membuatnya banyak dipergunakan di dalam sintesis HA. Beberapa keuntungankeuntungan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Hidroksipatit yang didapat disintesis relative banyak tanpa mengeluarkan
pelarut organik (dengan biaya yang tidak terlalu besar).
2. Proses yang sederhana dengan hasil yang besar (87%) sehingga cocok
untuk produksi skala besar (industri).
3. Tidak adanya elemn kontaminan asing dan hasil sampingnya adalah air.
4. Membutuhkan reagen-reagen yang tidak mahal dan prosuk Ca/P dengan
komposisi fasa yang bervariasi dapat diperoleh.
5. Meskipun proses ini bergantung pada variabel-variabel seperti; pH, waktu
penuaan (aging), temperatur, dan lain-lain, tapi proses ini efektif dan tidak
mahal dibandingkan dengan proses sol-gel.
2.4 Karakteristik Material Hidroksiapatit (HA)
Beberapa teknik karakteristik digunakan untuk mengetahui karakteristik
dari material yang dihasilkan pada penelitian ini. Pengujian dilakukan untuk
memastikan apakah material yang dihasilkan adalah HA dengan sifat-sifat yang

21

sebelumnya ingin diketahui. Beberapa pengujian tersebut adalah X-Ray


Diffraction(XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), Fourier Transform
Infrared (FTIR) Spectroscopy, dan Spektrofotometri ultraviolet visible (UV-Vis).
2.4.1

X-Ray Diffraction(XRD)
Metoda XRD berdasarkan sifat difraksi sinar-X, yakni hamburan cahaya

dengan panjang gelombang saat melewati kisi kristal dengan sudut datang dan
jarak antar bidang kristal sebesar d (Gambar 2.3). Data yang diperoleh dari
metode karakterisasi XRD adalah sudut hamburan (sudut Bragg) dan intensitas
(Notonegoro, 2003).
Berdasarkan teori difraksi, sudut difraksi bergantung kepada lebar celah
kisi sehingga mempengaruhi pola difraksi, sedangkan intensitas cahaya difraksi
bergantung dari berapa banyak kisi kristal yang memiliki orientasi yang sama.
Metode dapat digunakan untuk menentukan sistem kristal, parameter kisi,
derajat kristalinitas dan fase yang terdapat dalam suatu sampel.

Gambar 2.3 Skema sinar datang dan sinar terdifraksi oleh kisi ristal
Sumber : (Prabakaran, 2005)
XRD dapat memberi informasi secara umum baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif tentang komposisi fasa-fasa (misa dalam campuran). Hal
yang perlu diperhatikan pada metode ini adalah tiga hal berikut, yang pertama
posisi difraksi maksimum, kedua intensitas puncak dan yang ketiga distribusi
intensitas sebagai fungsi dari sudut difraksi. Tiga informasi tersebut dapat
digunakan untuk mengidentifikasi fasa-fasa yang terdapat dalam suatu bahan.
Setiap bahan memiliki pola difraksi yang khas seperti sidik jari manusia. Polapola difraksi sinar-X berbagai bahan telah dikumpulkan dalam data JCPDS (Joint
Committee of Powder Difraction Standard). Salah satu analisis komposisi fasa

22

dalam suatu bahan adalah dengan membandingkan pola XRD terukur dengan data
tersebut (Notonegoro, 2003).
Puncak-puncak pola difraksi sinar-X berhubungan dengan jarak antar
bidang. Terlihat pada Gambar 2.3 jalannya sinar-X yang melalui kisi-kisi kristal.
Syarat terjadinya difraksi harus memenuhi hukum Bragg :
2d sin = n................................................................................(6)
Jika atom-atom tersusun periodik dalam kristal, gelombang terdifraksi
akan terdiri dari interferensi maksimum tajam (peak). Parameter kisi kristal HAp
telah diketahui memiliki sistem kristal hexagonal, yakni dengan menggunakan
persamaan:

1 4 h hk +k
l
+ 2 (7)
2
2
d 3
a
c
Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan, diketahui bahwa parameter
kisi kristal HAp adalah a= 9.423 dan c = 6.875 .
Ukuran kristal dihitung menggunakan persamaan Scherrer yaitu:
D=

k
..(8)
Cos

adalah FWHM, adalah panjang gelombang yang digunakan yaitu


0,15406 nm dan k adalah konstanta yang nilainya bervariasi, untuk material
sintesa nilainya adalah 0,9.
a.

Prinsip Kerja
Dasar dari prinsip pendifraksian sinar X yaitu difraksi sinar-X terjadi

pada hamburan elastis foton-foton sinar-X oleh atom dalam sebuah kisi periodik.
Hamburan monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut memberikan interferensi
yang konstruktif. Dasar dari penggunaan difraksi sinar-X untuk mempelajari
kisi kristal adalah berdasarkan persamaan Bragg:
n. = 2.d.sin ; n = 1,2,

........................................................(9)

Berdasarkan persamaan Bragg, jika seberkas sinar-X di jatuhkan pada


sampel kristal,maka bidang kristal itu akan membiaskan sinar-X yang memiliki
panjang gelombang sama dengan jarak antar kisi dalam kristal tersebut. Sinar

23

yang dibiaskan akan ditangkap oleh detektor kemudian diterjemahkan sebagai


sebuah puncak difraksi. Makin banyak bidang kristal yang terdapat dalam
sampel, makin kuat intensitas pembiasan yang dihasilkannya. Tiap puncak
yang muncul pada pola XRD mewakili satu bidang kristal yang memiliki
orientasi tertentu dalam sumbu tiga dimensi. Puncak-puncak yang didapatkan
dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi sinar-X
untuk hampir semua jenis material. Standar ini disebut JCPDS.
Prinsip kerja XRD secara umum adalah sebagai berikut : XRD terdiri dari
tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, tempat objek yang diteliti, dan
detektor sinar X. Sinar X dihasilkan di tabung sinar X yang berisi katoda
memanaskan filamen, sehingga menghasilkan elektron. Perbedaan tegangan
menyebabkan percepatan elektron akan menembaki objek. Ketika elektron
mempunyai tingkat energi yang tinggi dan menabrak elektron dalam objek
sehingga dihasilkan pancaran sinar X. Objek dan detektor berputar untuk
menangkap dan merekam intensitas refleksi sinar X. Detektor merekam dan
memproses sinyal sinar X dan mengolahnya dalam bentuk grafik.
b.

Penggunaan
1. Membedakan antara material yang bersifat kristal dengan amorf
2. Mengukur macam-macam keacakan dan penyimpangan kristal.
3. Karakterisasi material Kristal
4. Identifikasi mineral-mineral yang berbutir halus seperti tanah liat
penentuan dimensi-dimensi sel satuan

c.

Aplikasi
1. Menentukan struktur kristal dengan menggunakan Rietveld refinement
2. Analisis kuantitatif dari mineral
3. Karakteristik sampel film

d.

Kelebihan dan Kekurangan


Kelebihan penggunaan sinar-X dalam karakterisasi material adalah

kemampuan penetrasinya, sebab sinar-X memiliki energi sangat tinggi akibat


panjang gelombangnya yang pendek.

24

Sedangkan kekurangannya adalah untuk objek berupa kristal tunggal


sangat sulit mendapatkan senyawa dalam bentuk kristalnya. Sedangkan untuk
objek berupa bubuk (powder) sulit untuk menentukan strukturnya.
2.4.2

Scanning Electron Microscopy (SEM)


SEM digunakan untuk mengamati morfologi dari suatu bahan. Prinsipnya

adalah sifat gelombang dari elektron yakni difraksi pada sudut yang sangat kecil.
Elektron dihamburkan oleh sampel yang bermuatan (karena sifat listriknya). Jika
sampel yang digunakan tidak bersifat konduktif, maka sampel terlebih dahulu
harus dilapisi (coating) dengan emas. Citra yang terbentuk menunjukkan struktur
dari sampel yang diuji.
Prinsip kerja SEM mirip dengan mikroskop optik, hanya saja berbeda
dalam perangkatnya. Pertama berkas elektron disejajarkan dan difokuskan oleh
magnet yang didesain khusus berfungsi sebagai lensa. Energi elektron biasanya
100 keV, yang menghasilkan panjang gelombang kira-kira 0,04 nm. Spesimen
sasaran sangat tipis agar berkas yang dihantarkan tidak diperlambat atau
dihamburkan terlalu banyak. Bayangan akhir diproyeksikan ke dalam layar pendar
atau film. Berbagai distorsi yang terjadi akibat masalah pemfokusan dengan lensa
magnetik membatasi resolusi hingga sepersepuluh nanometer.
Energy Dispersive X-Ray (EDXA) merupakan satu perangkat dengan
SEM. Pengukuran EDXA merupakan perangkat analisa secara kuantitatif untuk
menentukan kadar unsur dalam sampel (Notonegoro, 2003).
2.4.3

Fourier Transform Infrared (FTIR) Spectroscopy


Spektrometer infrared dapat mengidentifikasi kandungan gugus kompleks

dalam senyawa tetapi tidak digunakan untuk menentukan unsur-unsur


penyusunnya. Pita serapan energi untuk gugus karbonat dapat diamati pada
bilangan gelombang disekitar 1450 cm-1dan 875cm-1(Notonegoro, 2003).

25

2.4.4

Spektrofotometri ultraviolet visible (UV-Vis)


Spektrofotometri Ultraviolet-Visible digunakan untuk mengukur kadar

fosfor, cara kerjanya dengan memanfaatkan panjang gelombang pada daerah


ultraviolet dan cahaya tampak. Panjang gelombang ini dihasilkan oleh sumber
lampu yang memiliki panjang gelombang spesifik, sebagai contoh lampu hidrogen
dan deuterium (160-375 nm), atau tungsten (350-2500 nm). Spektrofotometri ini
digunakan untuk mengukur kandungan molekul atau gugus yang terdapat dalam
senyawa hidroksiapatit. Prinsip kerja alat ini adalah dengan menghitung
transmitansi dari sinar yang dilewatkan oleh larutan yang ingin diukur kadarnya.
Besar transmitansi dari larutan akan menunjukkan kadar penyusun senyawa
tersebut sesuai dengan panjang gelombang yang digunakan (Notonegoro, 2003).