Anda di halaman 1dari 15

ASB,Anggaran Belanja, dan

Standar Pelayanan Minimal


Untuk Memenuhi Nilai Tugas Matakuliah
Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik
Dosen : Dr. Lilik Purwanti, M.Si., Ak., CA

Oleh:
Gomgom DarwinA

(115020300111088)

Yahdi Furqon B

(115020307111060)

AloysiusAdi S

(125020300111101)

JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
ASB muncul karena di dalam sektor publik tidak akan lepas dari penganggaran dan
dalam penganggaran pemerintah ASB sangat dibutuhkan untuk menentukan standar biaya
yang dapat dianggarkan. Digunakannya ASB ini bertujuan untuk menekan anggaran yang
dikeluarkan pemerintah agar anggaran tersebut memenuhi prinsip 3E (efektif, efisien dan
ekonomis). Selain itu ASB juga berfungsi sebagai kendali bagi pemerintah agar tujuan
organisasi dapat tercapai.
Pada pertemuan pertama mengenai ASB telah dibahas pengertian dari ASB. Dimana
Analisis Standar Belanja (ASB) muncul dalam ranah perundangan Pemerintah Daerah
pada tahun 2004 ketika terbit Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah. Peraturan ini merupakan pengganti dari peraturan lawas yaitu Undang-Undang
No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam UU no.32 tersebut ASB
dijelaskan sebagai penilaian atas kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan
untuk melaksanakan suatu kegiatan.
Dalam penentuannya ASB sering dikaitkan dengan Belanja Modal, Belanja
Langsung dan Tidak Langsung serta Standar Pelayanan Minimal(SPM). Untuk itu
makalah kelompok kami akan mencoba menjelaskan keterkaitan antara ketiga hal
tersebut dengan ASB itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang di atas, kami merumuskan beberapa hal yang menjadi
rumusan masalah, yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan belanja modal?
2. Bagaimana hubungan ASB dan belanja modal?
3. Apa yang dimaksud dengan belanja langsung dan tidak langsung?
4. Bagaimana hubungan ASB dan belanja langsung dan tidak langsung?
5. Apa yang dimaksud dengan SPM?
6. Bagaimana hubungan ASB dan SPM?

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 1

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ASB danAnalisis Penganggaran Belanja Modal
Belanja modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang
sifatnya menambah aset tetap atau aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari 1 (satu) periode
akuntansi, termasuk didalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya
mempertahankan atau menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas aset. Aset
tetap mempunyai ciri-ciri berwujud, akan menambah aset pemerintah, mempunyai masa manfaat
lebih dari 1 (satu) tahun, dan nilainya relatif materianl. Sedangkan ciri-ciri aset lainnya adalah tidak
berwujud, akan menambah aset pemerintah, mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dan
nilainya relatif material.
Belanja modal meliputi antara lain :
a.

Belanja modal tanah, adalah seluruh pengeluaran yang dilakukan untuk pengadaan/
pembelian/pembebasan penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan,
pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat, dan pengeluaran lainnya
sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi
siap pakai.

b.

Belanja modal peralatan dan mesin, adalah pengeluaran untuk pengadaan peralatan dan mesin
yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan antara lain biaya pembelian, biaya
pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya langsung lainnya untuk memperoleh dan
mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap digunakan .

c.

Belanja modal gedung dan bangunan, adalah pengeluaran yang digunakan untuk
pengadaan/penambahan/penggantian gedung dan bangunan sampai dengan bangunan
dan gedung dimaksud dalam kondisi siap digunakan.

d.

Belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan, adalah pengeluaran yang digunakan untuk
pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatan

pembangunan/pembuatan

serta

perawatan yang menambah kapasitas sampai jalan, irigasi dan jaringan dimaksud dalam
kondisi siap digunakan.

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 2

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

e.

Belanja modal fisik lainnya, adalah pengeluaran yang digunakan untuk pengadaan/
penambahan/penggantian/peningkatan pembangunan/pembuatan serta perawatan terhadap
fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan kedalam belanja modal diatas. Termasuk
dalam belanja ini adalah belanja yang menambah kapasitas sampai jalan, irigasi dan
jaringan dimaksud dalam kondisi siap digunakan.

Suatu belanja dikategorikan sebagai belanja modal apabila :


1.

Pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya perolehan aset tetap atau aset lainnya yang
menambah masa umur, manfaat, dam kapasitas;

2.

Pengeluaran tersebut melebihi batasan minimum kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang
telah ditetapkan oleh pemerintah;

3.

Perolehan aset tetap tersebut diniatkan bukan untuk dijual atau dibagikan.

Pengeluaran setelah PerolehanAset


Belanja untuk pengeluaran-pengeluaran sesudah perolehan aset tetap atau aset lainnya yaitu
belanja pemeliharaan yang dikapitalisasi dapat dimasukkan sebagai belanja modal jika memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. Pengeluaran tersebut mengakibatkan bertambahnya masa manfaat, kapasitas, kualitas, dan
volume aset yang dimiliki;
b. Pengeluaran tersebut melebihi batasan minimum kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya;
Pertambahan masa manfaat adalah bertambahnya umur ekonomis yang diharapkan dari aset
tetap yang sudah ada, misalnya sebuah gedung semula diperkirakan mempunyai umur ekonomis 10
tahun, pada tahun ke-7 dilakukan renovasi dengan harapan gedung tersebut masih dapat digunakan
8 tahun lagi. Dengan adanya renovasi tersebut maka umur gedung berubah dari 10 menjadi 15
tahun.
Peningkatan kapasitas adalah bertambahnya kapasitas atau kemampuan aset tetap yang sudah
ada, misalnya sebuah generator listrik yang mempunyai output 200 kw dilakukan renovasi sehingga
kapasitasnya meningkat menjadi 300 kw.
Peningkatan kualitas aset adalah bertambahnya kualitas dari aset tetap yang sudah ada misalnya,
jalan yang masih berupa tanah ditingkatkan oleh pemerintah menjadi jalan aspal.
Pertambahan volume aset adalah bertambahnya jumlah atau satuan ukuran aset yang sudah
ada, misalnya penambahan luas bangunan suatu gedung dari 400m2 menjadi 500m2.

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 3

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

HubunganASB danAnalisis Penganggaran Belanja Modal


Untuk

kewajaran suatu anggaran belanja dinilai berdasarkan kesesuaian antara target kinerja

pelayanan yang diusulkan dengan sumber dananya.Pendekatan ini merupakan suatu konsep Grant
Related Expenditture Assesment (GREA)dalam analisis standar belanja. Jika suatu sumber dana tertentu
jumlahnya diestimasikan tidak mencukupi untuk membiayai anggaran belanja suatu program atau
kegiatan dengan target tertentu, maka pemerintah daerah dapat :
1. Mendanai dari anggaran sumber pendapatan atau pembiayaan yang lain berdasarkan target
pelayanan yang diharapkan atau
2. Menyesuaiakan target pelayanan dengan tersedianya sumber dana
Kewajaran biaya yang dianggarkan dengan demikian berkaitan dengan tiga aspek,yaitu:
1. Kaitan antara biaya yang dianggarkan dengan target pencapaian kinerja.
2. Kaitan antara anggaran biaya dengan harga standar yang berlaku.
3. Kaitan antara biaya yang dianggarkan dengan sumber dananya.

2.2 ASB dan Analisis Biaya Langsung


Pengertian Biaya Langsung
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58

Tahun 2005 yang kemudian

dijabarkan dalam Permendagri 13 Tahun 2006,

belanja diklasifikasikan berdasarkan

jenis belanja sebagai belanja tidak langsung

dan belanja langsung. Kelompok

belanja tidak langsung merupakan belanja yang

dianggarkan tidak terkait secara

langsung dengan pelaksanaan program dan

kegiatan. Kelompok belanja langsung

merupakan belanja yang dianggarkan terkait

secara langsung dengan pelaksanaan

program dan kegiatan. Selanjutnya, kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut
jenis belanja yang terdiri dari :
1. belanja pegawai;
2. belanja bunga;
3. belanja subsidi;
4. belanja hibah;
5. belanja bantuan sosial;

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 4

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

6. belanja bagi basil;


7. bantuan keuangan; dan
8. belanja tidak terduga
Sedangkan berdasaran Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006
sebagaimana telah diubah dengan Permendagri No.59 Tahun 2007 dan adanya
perubahan kedua dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.21 Tahun 2011 tentang
perubahan kedua, belanja langsung dibagi menjadi 3, yaitu:
1. belanja pegawai;
2. belanja barang dan jasa; dan
3. belanja modal.
Untuk jenis belanja langsung yang pertama adalah belanja pegawai. Belanja
pegawai tersebut dimaksudkan

untuk pengeluaran honorarium/upah dalam

melaksanakan program dan kegiatan

pemerintahan daerah. Belanja jenis ini antara

lain untuk menampung honorarium


pembelian/pembangunan untuk memperoleh

panitia pengadaan dan administrasi


setiap aset yang dianggarkan pada

belanja modal sebagaimana dianggarkan pada belanja pegawai dan/atau belanja


barang dan jasa.
Selanjutnya ada belanja barang dan jasa. Jenis belanja ini digunakan untuk
pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (dua
belas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan
pemerintahan daerah.
Belanja barang dan jasa ini mencakup belanja barang pakai

habis,

bahan/material, jasa kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor,


cetak/penggandaan, sewa rumah/gedung/gudang/parkir, sewa sarana

mobilitas,

sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman,
pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari- hari tertentu,
perjalanan dinas, perjalanan dinas pindah tugas, dan pemulangan

pegawai.

Dan untuk jenis belanja langsung yang terakhir ada belanja modal. Belanja
modal

digunakan

untuk

pengeluaran

yang

dilakukan

dalam

rangka

pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai


nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 5

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan
bangunan,

jalan,

irigasi

dan

jaringan

dan

aset

tetap

lainnya.

Nilai

pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang dianggarkan


dalam belanja modal hanya sebesar harga beli/bangun aset.
ANALISIS BELANJA LANGSUNG
Analisis Belanja Langsung terdapat 3 macam analisis, yaitu :
1. Varians Belanja Langsung
Varians Belanja Langsung Analisis varians merupakan analisis terhadap
perbedaan atau selisih antara realisasi belanja dengan anggaran. Berdasarkan
Laporan Realisasi Anggaran yang disajikan, pembaca laporan dapat mengetahui
secara langsung besarnya varians anggaran dengan realisasinya yang bisa dinyatakan
dalam bentuk nilai nominalnya atau persentase. Selisih anggaran belanja
dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu: 1) Selisih wajar (favourable variance) dan 2)
selisih tidak wajar (unfavourable variance) Mahmudi (2010:157).Dalam hal realisasi
belanja lebih kecil dari anggarannya maka disebut favourable variance, sedangkan
jika realisasi belanja lebih besar dari anggarannya maka dikategorikan unfavourable
variance. Manfaat varians anggaran belanja yaitu:
1. Untuk menyelidiki varians antara hasil sesungguhnya pada periode berjalan
dan sebelumnya.
2. Untuk menyelidiki varians antara hasil sesungguhnya dan biaya standar.
3.Untuk

menyelidiki

varians

hasil

sesungguhnya

dengan

tujuan

yang

direncanakan.
Analisis varians belanja dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
Analisis Varians Belanja = Realisasi Belanja Anggaran Belanja
2. Pertumbuhan Belanja Langsung
Analisis pertumbuhan belanja langsung dilakukan untuk mengetahui
kecendrungan baik berupa kenaikan atau penurunan belanja selama kurun waktu
tertentu. Mahmudi, (2010:160) Analisis pertumbuhan belanja bermanfaat untuk
mengetahui perkembangan belanja dari tahun ke tahun.

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 6

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

Pertumbuhan belanja dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:


Realisasi Thn t - Realisasi Thn t-1
Pertumbuhan belanja thn t =
Realisasi Belanja Thn t-1

3. Efisiensi Belanja Langsung


Efisiensi adalah hubungan antara barang dan jasa (output) yang dihasilkan
sebuah kegiatan atau aktivitas dengan sumberdaya (input) yang digunakan. Suatu
organisasi,

program

atau

kegiatan

dikatakan

efisien

apabila

mampuh

menghasilkan output tertentu dengan input serendahnya, atau dengan input


tertentu mampuh menghasilkan output sebesar-besarnya Deddi dan Ayuningtyas
(2010:161). Mahmudi, (2010:160) Analisis pertumbuhan belanja bermanfaat
untuk mengetahui perkembangan belanja dari tahun ke tahun. Karena pada
umumnya belanja memiliki kecendrungan untuk selalu naik, adapun alasan
kenaikan belanja biasanya dikaitkan dengan penyesuaian terhadap inflasi,
perubahan kurs rupiah, perubahan jumlah cakupan layanan dan penyesuaian
dengan faktor ekonomi makro ekonomi.Efisiensi bertujuan untuk menentukan (1)
apakah suatu entitas telah memperoleh, melindungi dan menggunakan sumber
dayanya (seperti karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor) secara ekonomi
dan efisiensi, (2) terjadinya praktik-praktik yang tidak ekonomis atau tidak
efisien, termasuk ketidakmampuan organisasi dalam mengelola sistem informasi
prosedur administrasi, dan struktur organisasi.
Berikut ini ialah rumus dari analisis efisiensi belanja :
Realisasi belanja
Rasio Efisiensi Belanja =

x 100%
Anggaran belanja

Hubungan ASB dan Belanja Langsung


Menurut Kementrian Keuangan, salah satu hal yang harus dipertimbangkan
dalam penetapan belanja daerah adalah Analisa Standar Biaya (ASB). Alokasi
belanja ke dalam aktivitas untuk menghasilkan output seringkali tanpa disertai alasan

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 7

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

dan justifikasi yang kuat. ASB mendorong penetapan biaya dan pengalokasian
anggaran kepada setiap aktivitas unit kerja menjadi lebih logis dan mendorong
dicapainya

efisiensi

secara

terus-menerus

karena

adanya

pembandingan

(benchmarking) biaya per unit setiap output dan diperoleh praktek-praktek terbaik
(best practices) dalam desain aktivitas. Untuk melakukan perhitungan ASB, unit
kerja terkait perlu terlebih dahulu mengidentifikasi belanja yang terdiri dari :
o

Belanja Langsung

Belanja Tidak Langsung


Alasan mengapa perlu mengidentifikasi belanja langsung dan tidak langsung

tersebut dikarenakan formula dari ASB itu sendiri. Formula ASB ialah menghitung
total biaya (biaya langsung + biaya tidak langsung) Dimana ASB itu sendiri
merupakan bahan pembanding pemerintah dalam membuat anggaran untuk tahun
selanjutnya. Maka dalam penyusunan ASB tersebut perlu ada perhitungan mengenai
total biaya langsung dan tidak langsung. Dengan kata lain ASB merupakan hasil
penjumlahan belanja langsung setiap program atau kegiatan dengan belanja tidak
langsung yang dialokasikan pada program atau kegiatan yang bersangkutan.
Perhitungan ASB tidak dapat distandarisasi antara propinsi/kabupaten/kota
dengan propinsi/kabupaten/kota lainnya karena standarisasi harga antara suatu tempat
dengan tempat lainnya dapat berbeda. Misalnya harga obat di Jawa Barat dengan
Papua sangat berbeda. Demikian juga, tarif perjalanan dinas, honor-honor dll dapat
berbeda antara Jawa Barat dan Papua.
3.3ASB dan StandarPelayanan Minimal
Standar Pelayanan Minimal menurut Undang - Undang 32 Tahun 2004 pasal 11 ayat
(4), menyatakan bahwa penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang Bersifat Wajib yang
berpedoman

pada Standar Pelayanan Minimal dilaksanakan secara bertahap dan

ditetapkan oleh Pemerintah. Di lain pihak Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58


tahun 2005 pasal 39 ayat (2) menyebutkan bahwa Standar Pelayanan Minimal
merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan pencapaian jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah.

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 8

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman dan


Penyusunan Standar Pelayanan Minimal, dalam Pasal 9 dinyatakan bahwa:
penyusunan rencana lima tahunan pencapaian SPM di tingkat Pemerintah
Daerah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) dan Rencana Strategi Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD).
Selanjutnya rencana lima tahunan pencapaian target SPM ini dituangkan menjadi
rencana tahunan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), serta Rencana
Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD).
Dalam proses penganggaran, dengan menggunakan instrumen pendukung
anggaran yang lain seperti standar satuan harga dan Analisa Standar Belanja (ASB)
selanjutnya target tahunan pencapaian SPM yang telah dimuat dalam dokumen
RKPD dan Renja SKPD dituangkan dalam Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA) dan
Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). Tingkat
pencapaian target SPM di daerah ditetapkan dengan mempertimbangkan batas waktu
pencapaian SPM sesuai dengan Peraturan Menteri dan kemampuan keuangan di
masing-masing daerah.
Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) oleh Pemerintah Pusat adalah cara
untuk menjamin dan mendukung pelaksanaan urusan wajib oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota dan sekaligus merupakan akuntabilitas daerah kepada Pemerintah
Pusat dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Disamping itu, SPM juga dapat
dipakai sebagai alat pembinaan dan pengawasan Pemerintah Pusat kepada
Pemerintah Daerah.
Pengertian SPM dapat dijumpai pada beberapa sumber, antara lain:
a. Undang-Undang 32 Tahun 2004 penjelasan pasal 167 (3), menyatakan bahwa
SPM adalah standar suatu pelayanan yang memenuhi persyaratan minimal
kelayakan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, pasal 20 ayat (1) menyatakan bahwa
APBD yang disusun dengan pendekatan kinerja memuat standar pelayanan yang
diharapkan dan perkiraan biaya satuan komponen kegiatan yang bersangkutan;
Pasal 20 ayat (2) menyatakan bahwa untuk mengukur kinerja keuangan

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal | 9

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

Pemerintah Daerah dikembangkan Analisa Standar Belanja (ASB), Tolok Ukur


Kinerja dan Standar Biaya.
c. Lampiran Surat Edaran Dirjen OTDA Nomor 100/757/OTDA tanggal 8 Juli 2002

menyatakan Standar Pelayanan Minimal adalah tolok ukur untuk mengukur


kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan
pelayanan dasar kepada masyarakat. Dari berbagai pengertian tersebut, secara
umum dapat diikhtisarkan bahwa SPM merupakan standar minimal pelayanan
publik yang harus disediakan oleh Pemerintah Daerah kepada masyarakat.
Adanya SPM akan menjamin minimal pelayanan yang berhak diperoleh
masyarakat dari Pemerintah Daerah. Dengan adanya SPM maka akan terjamin
kuantitas dan atau kualitas minimal dari suatu pelayanan publik yang dapat
dinikmati oleh masyarakat, sehingga diharapkan akan terjadi pemerataan
pelayanan publik dan menghindari kesenjangan pelayanan antar daerah.
Seperti telah diuraikan di atas, bahwa pelaksanaan urusan wajib merupakan
pelayanan minimal sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.
Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa, SPM ditetapkan oleh Pemerintah Pusat
dalam hal ini departemen teknis, sedangkan pedoman penyusunan SPM ditetapkan
oleh Menteri Dalam Negeri sesuai dengan penjelasan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 pasal 167 (3).
2. Manfaat Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65
Tahun 2005, tentang Penyusunan dan Penerapan SPM disebutkan bahwa SPM
mempunyai beberapa manfaat, antara lain:
a. Memberikan jaminan bahwa masyarakat akan menerima suatu pelayanan publik
dari Pemerintah Daerah sehingga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat
dan terjaminnya hak masyarakat untuk menerima suatu pelayanan dasar dari
Pemerintah Daerah setempat dengan mutu tertentu.
b. Dengan ditetapkannya SPM akan dapat ditentukan jumlah anggaran yang
dibutuhkan untuk menyediakan suatu pelayanan publik, sehingga SPM dapat
dijadikan dasar untuk penentuan kebutuhan pembiayaan daerah

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal |10

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

c. SPM dapat dipakai sebagai landasan dalam menentukan perimbangan keuangan


dan/atau bantuan lain yang lebih adil dan transparan
d. Menjadi dasar dalam menentukan anggaran berbasis kinerja.
e. Dalam hal ini SPM dapat dijadikan dasar dalam menentukan alokasi anggaran
daerah dengan tujuan yang lebih terukur. Disamping itu SPM dapat dijadikan
sebagai alat untuk meningkatkan akuntabilitas Pemerintah Daerah terhadap
masyarakat, sebaliknya masyarakat dapat mengukur sejauh mana Pemerintah
Daerah memenuhi kewajibannya dalam menyediakan pelayanan publik.
f. Sebagai alat ukur bagi kepala daerah dalam melakukan penilaian kinerja yang telah
dilaksanakan oleh unit kerja penyedia suatu pelayanan.
g. Sebagai pembanding (benchmark ) untuk mengukur tingkat keberhasilan
Pemerintah Daerah dalam pelayanan publik .
h. Menjadi dasar bagi pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh institusi
pengawasan.
i. SPM akan dapat memperjelas tugas pokok Pemerintah Daerah dan mendorong
terwujudnya pengawasan dan keseimbangan (check and balances) yang lebih
efektif .
j. Mendorong transparansi dan partisipasi masyarakat dalam proses penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah.
Dasar Hukum SPM

UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah.

Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan


Penerapan Standar Pelayanan Minimal.

Peraturan Pemerintah No. 3 tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan


Pemerintah Daerah.

Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan


Pemerintahan.

Peraturan

Pemerintah

No.

tahun

2008

tentang

Pedoman

Evaluasi

Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal |11

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknik
Penyusunan dan Penetapan SPM.

Peraturan

Menteri Dalam Negeri No. 79 tahun 2007 tentang Pedoman

Penyusunan Rencana Pencapaian SPM.

Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 100.05-76 tahun 2007 tentang


Pembentukan Tim konsultasi penyusunan SPM.

Posisi SPM dalam Urusan Pemerintahan


Urusan pemerintah dalah fungsi fungsi pemerintah yang menjadi hak dan
kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintah untuk mengatur dan
mengurus fungsi fungsi tersebut menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi,
melanyani, memberdayakan, dan mensejahterakan masyarakat.Dalam pembagian
urusan pemerintah yang menjadi kewenangan pemerintah daerah terdiri dari 2 jenis
yaitu :
1. Urusan wajib, dan
2. Urusan pilihan.
Posisi SPM dalam Perencanaan

Pemerintah daerah dalam membuat rancangan kerja pemerintah daerah (RKPD)


harus berpedoman pada rencana kerja pemerintah (RKP) pusat.

Kebijakan pemerintah yang harus di jadikan pedoman oleh Pemda adalah


kebijakan tentang perencanaan dan penganggaran Standar Pelayanan Minimum
(SPM).

Pedoman serta rencana dan target pencapaian standar pelayanan minimum yang di
laksanakan oleh pemda telah diatur dalam PP no.65 tahun 2005, Pasal 9 ayat 2
sampai ayat 5.

SPM merupakanbagian penting dalam proses perencanaan daerah.

Rencana Pencapaian SPM


Target pencapaian SPM yang dituangkan dalam dokumen perencanaan daerah
yang dijabarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD),
RKPD, Renstra-SKPD, dan Renja-SKPD untuk digunakan sebagai dasar perhitungan
kebutuhan biaya dalam penyelenggaraan pelayanaan dasar. Rencana pencapaian SPM
memiliki 4 lingkup, yaitu:

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal |12

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

1. Batas waktu pencapaian SPM nasional dan daerah,


2. Integrasi rencana pencapaian yang dituangkan dalam dokumen perencanaan,
3. Integrasi SPM ke dalam dokumen penganggaran, dan
4. Sosialisasi rencana dan realisasi pencapaian target SPM.
Rencana Pencapaian SPM
Dalam membentuk rencana pencapaian dan penerapan SPM, Pemerintah Daerah
harus mempertimbangkan:
1. Kondisi awal tingkat pencapaian pelayanan dasar.
2. Target pelayanan dasar yang akan dicapai.
3. Kemampuan, potensi, kondisi, karakteristik, prioritas daerah, dan komitmen
nasional.
Pengintegrasian Rencana Pencapaian SPM dalam Dokumen Perencanaan
Pemerintah Daerah menyusun rencana pencapaian SPM yang dinyatakan dalam
RPJMD dan dijabarkan dalam target tahunan pencapaian SPM.Mekanisme tahapan
perencanaan SPM dalam RPJMD adalah sebagai berikut:
1. Menyelaraskan antara SPM yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan
Pernyataan Misi dan Tujuan Kepala Daerah.
2. Pemerintah Daerah menetapkan batas waktu pencapaian SPM untuk daerahnya.
3. Pemerintah Daerah menetapkan kondisi awal tingkat pencapaian pelayanan dasar
yang sudah dicapai oleh daerah sampai saat RPJM tersebut dibuat.
4. Pemerintah daerah menetapkan target tahunan pencapaian SPM mengacu pada
batas waktu yang sudah ditentukan oleh masing-masing daerah.
Pengintegrasian Rencana Pencapaian SPM dalam Dokumen Penganggaran
Nota kesepakatan tentang KUA dan PPA yang disepakati antara Kepala Daerah
dengan DPRD wajib memuat target pencapaian dan penerapan SPM setiap jenis
pelayanan dasar dan nota tersebut menjadi dasar penyusunan RKA-SKPD yang
menggambarkan secara rinci dan jelas program dan kegiatan yang akan dilakukan
dalam rangka pencapaian dan penerapan SPM. Selanjutnya RKA-SKPD yang sudah
memuat berbagai program dan kegiatan terkait SPM menjadi bahan penyusunan
Raperda APBD hingga penetapan Perda APBD.
Pengintegrasian Rencana Pencapaian SPM dalam Dokumen Penganggaran

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal |13

Penganggaran dan Evaluasi Kinerja Sektor Publik

Mekanisme penganggaran kegiatan untuk tercapainya SPM adalah sebagai berikut:


1. Menyelaraskan antara capaian SPM yang terdapat di RPJMD dengan
prgram-program urusan wajib pemerintah ke dalam KUA dan PPAS.
2. Pemda menyusun rincian kegiatan untuk masing-masing program dalam rangka
pencapaian SPM dengan mengacu pada indikator kinerja.
3. Pemda menentukan urutan prioritas kegiatan-kegiatan untuk mencapai SPM.
4. Pemda menentukan besarnya plafon anggaran untuk masing-masing kegiatan
dengan menggunakan ASB.
Penganggaran SPM
Salah satu elemen penting dari implementasi SPM di daerah adalah melakukan
perhitungan anggaran. Tanpa anggaran yang memadai dan mencukupi, Pemerintah
Daerah

tidak

dapat

melaksanakan

SPM

sesuai

dengan

yang

telah

ditetapkan.Meskipun pendekatan pembiayaan dengan menggunakan pembiayaan


berbasis kegiatan namun juga harus memperhatikan prinsip-prinsip perhitungan
anggaran pada SPM, sebagai berikut :
1. Pembiayaan mengacu kepada program/langkah kegiatan.
2. Investasi fisik hanya untuk saran/prasarana yang terkait langsung dengan
penerapan SPM.
3. Menghitung seluruh kebutuhan biaya untuk pencapaian SPM tanpa memandang
sumber biaya.
4. Perhitungan kebutuhan biaya dengan memperhatikan capaian tahun sebelumnya.
5. Tidak menghitung kebutuhan belanja per SKPD.
Keterkaitan ASB dan SPM
SPM mempunyai indikator-indikator capaian, dilihat apakah indikator capaian
dalam kegiatan tersebut sudah tercapai atau belum. Jika belum tercapai maka dicari
apa saja hal yang kurang untuk mencapai

indikator capaian dalam SPM, setelah

sudah mengetahui apa-apa saja hal yang kurang kemudian hitung berapa biaya
kekurangannya dan gunakan ASB untuk menghitung tambahan biaya yang
diperlukan agar dapat memenuhi indikator capaian SPM.

ASB, Anggaran Belanja, dan Standar Pelayanan Minimal |14