Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Batuan Sedimen Karbonat

Batuan dan sedimen karbonat dapat didefinisikan sebagai batuan


dan sedimen yang mengandung lebih dari 50% mineral-mineral karbonat
yang tersusun oleh ion CO32- dan satu atau lebih kation. Mineral karbonat
yang paling umum dijumpai adalah kalsit (CaCO 3), yang merupakan
komponen pokok batugamping. Pada pembentukan batuan karbonat,
kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2) adalah mineral yang paling
melimpah, lebih dari 90% karbonat alami berupa batugamping dan
dolomit (Scoffin, 1987).
Dalam proses pembentukkannya, karbonat memiliki keistimewaan
yaitu hanya terbentuk dari larutan dan tidak ada ada detritus dari
daratan.

Pembentukkannya

melibatkan

proses

kimiawi

dan

selalu

melibatkan organisme (Koesoemadinata, 1987).


Jenis mineral karbonat yang biasanya menjadi penyusun batugamping,
yaitu:
1. Aragonit (CaCO3)
Mineral ini memiliki sistem ortorombik dan merupakan bentuk
mineral yang paling tidak stabil. Aragonit ini menyerupai serabut
atau seperti jarum. Jarum-jarum aragonit biasanya diendapakan
secara kimiawi langsung dari presipitasi air laut. Diagenesa lebih
lanjut akan merubah aragonit menjadi kalsit.
2. Calcite (CaCO3)
Mineral kalsit merupakan mineral yang lebih stabil dan biasanya
merupakan hasil perubahan dari aragonit. Mineral kalsit memiliki
semen dan berbentuk kristal-kristal yang jelas. Kalsit memiliki
sistem kristal yang berbentuk heksagonal
3. Dolomit CaMg(CO3)2
Mineral dolomit merupakan salah satu mineral penting dalam
ekplorasi minyak dan gas bumi karena sering berfungsi sebagai
batuan reservoir. Memiliki bentuk kristal yang sama dengan kalsit.
Dolomit terbentuk langsung dari hasil presipitasi air laut dan
sebagai hasil dolomitisasi dari mineral kalsit.
Lingkungan pengendapan karbonat
Faktor yang mempengaruhi pengendapan batuan karbonat adalah:

1. Pengaruh sedimen klasitik asal darat


Sedimen klastik dari darat dapat menghambat proses fotosintesa
ganggang gampingan.
2. Pengaruh iklim dan suhu
Batuan karbonat diendapkan di daerah perairan yang bersuhu
hangat dan beriklim tropis sampai subtropis.
3. Pengaruh Kedalaman
Pada umumnya dan kebanyakan, batuan karbonat diendapkan di
daerah perairan dangkal dimana masih terdapat sinar matahari
yang bisa menembus kedalaman air.
4. Faktor mekanik
Faktor mekanik yang mempengaruhi kecepatan pengandapan
batuan karbonat yaitu antara lain aliran air laut, percampuran air,
penguraian oleh bakteri, proses pembuatan organik pada larutan,
serta pH air laut.
Tekstur dan Struktur Batuan Karbonat
Tekstur pada batu gamping kebanyakan hampir sama dengan jenis
tekstur pada batuan detritus seperti batu pasir. Hal ini menunjukkan
bahwa proses pembentukan batuan karbonat dan batu pasir hampir sama.
Tipe laminasi yang paling banyak ditemukan dibentuk oleh organisme
seperti alga hijau/biru yang tumbuh di daerah berombak. Organisme ini
tumbuh sebagai serat-serat dan membentuk serabut dengan
memerangkap dan menyatukan mikrokristal karbonat. Adanya ombak
yang datang dan menyapu butiran pasir di pantai membuat formasi
laminasi yang terdiri atas material organik.
Diagenesa
Setelah proses pengendapan berakhir, sedimen karbonat
mengalami proses diagenesa yang dapat menyebabkan perubahan
kimiawi dan mineralogi untuk selanjutnya mengeras menjadi batuan
karbonat. Sedimen karbonat umumnya lebih rentan terhadap pelarutan
(dissolution), rekristalisasi dan replacement dibandingkan mineral-mineral
silikat.
Genesa terjadinya batu gamping
Batu gamping terjadi dengan beberapa cara, yaitu :

Secara organik
Sebagian besar batu gamping di alam terjadi secara organik,
jenis ini berasal dari pengendapan cangkang atau rumah
kerang dan siput, foraminifera atau ganggang berasal dari

kerangka binatang koral/kerang


Secara mekanik/secara kimia
Untuk batu gamping yang terjadi secara mekanik, sebetulnya
bahannya tidak jauh berbeda dengan jenis batu gamping yang
terjadi

secara

organic.

Yang

membedakannya

adalah

terjadinya perombakan dari bahan batu kapur tersebut yang


kemudian terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan tidak

jauh dari tempat semula.


Secara kimia
Sedangkan yang terjadi secara kimia adalah jenis batu
gamping yang terjadi dalam kondisi iklim dan suasana
lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar.

Mata air mineral dapat pula mengendapkan batu gamping. Jenis


batu gamping ini terjadi karena peredaran air panas alam yang
melarutkan lapisan batu gamping dibawah permukaan, yang kemudian
diendapkan kembali dipermukaan bumi.
Magnesium, lempung dan pasir merupakan unsur pengotor yang
mengendap bersama-sama pada saat proses pengendapan. Keberadaan
pengotor batu gamping memberikan klasifikasi jenis batu gamping,
apabila

pengotornya

magnesium,

maka

batu

gamping

tersebut

diklasifikasikan sebagai batu gamping dolomitan. Apabila pengotornya


lempung, maka batu kapur tersebut diklasifikasikan sebagai batu gamping
lempungan, dan batu gamping pasiran apabila pengotornya pasir.
Di beberapa daerah endapan batu batugamping seringkali ditemukan di
gua dan sungai bawah tanah. Hal ini terjadi sebagai akibat reaksi tanah.
Air hujan yang mengandung CO3 dari udara maupun dari hasil
pembusukan zat-zat organik dipermukaan, setelah meresap ke dalam
tanah dapat melarutkan batugamping yang dilaluinya. Reaksi kimia dari
proses tersebut adalah sebagai berikut :
CaCO3 + 2 CO2 + H2O Ca (HCO3)2 + CO2 Ca (HCO3)2 yang larut dalam

air, sehingga lambat laun terjadi rongga di dalam tubuh batugamping


tersebut.
Fasies Lingkungan Pengendapan
Subaerial Expossure
Daerah ini merupakan daerah yang bisa berada di darat maupun di laut. Proses-proses
yang berlangsung seperti proses non-deposisi, erosi, dan jeda sekuen.
Proses alterasi yang membentuk zonasi merupakan salah satu proses yang berlangsung di
bawah subaerial surface, proses ini juga melibatkan proses pelapukan. Faktor penting
lainnya adalah iklim, intensitas, dan durasi.
Produk dari lingkungan pengendapan ini tersusun atas 2 anggota fasies karbonat yang
mengalami diagenesis, yaitu: fasies karst dan fasies soil. Kedua fasies tersebut terbentuk
akibat proses ekpos ke daratan. Salah satu proses penting lainnya pada fasies soil ialah proses
litifikasi.
Lakustrin
Batuan yang terbentuk dari sistem lingkungan pengendapan lakustrin sudah banyak
dikenal di dunia dan menjadi target dan derah yang berpotensi untuk ekplorasi hidrokarbon.
Pada umumnya, batuan karbonat lakustrin mengandung sistem air tawar dan memiliki sifat
basa atau dalam kondisi garam. Fasies lakustrin ini memiliki sifat kimia dan fisika yang
berbeda-beda karena pengaruh dari hidrologi cekungan yang berkembang di tempat tersebut.
Kenampakan struktur sedimen dan penyebaran fossil yang ada akan mencerminkan
karakteristiknya, karena keunikan dari sistem lakustrin ini.
Ada empat komponen penting yang perlu diperhatikan:
1)
2)
3)
4)

Material detrital
Silica biogenik
Material organic
Mineral-mineral karbonat
Dari keempat faktor tersebut ketika suatu komponen melimpah maka tiga lainnya
akan berkurang. Akibat dari peristiwa tersebut, ketika kandungan material orgaik berkurang,
lalu diikuti oleh pengurangan klastika, dan juga silika biogenic, maka kandungan mineral
karbonat akan bertambah, dalam hal ini CaCO 3 yang dapat dikandunga bisa mencapai lebih
dari 50%. Sumber utamanya dalam batuan sedimen adalah endapan karbonat anorganik,
peningkatan fotosintesis, karbonat biogenic yang mengandung debris dari suatu tumbuhan
calcareous, dan material allochtonous.

Pertimbangan ekonomis dari daerah ini adalah kegunaanya dalam memahami


karakteristik batuan sumber dari suatu sistem minyak dan gas bumi. Karena fasies daerah
lakustrin ini ditemukan pada unit stratigrafi yang mengandung minyak dan gas cukup
berlimpah.
Eolian
Secara umum, banyak material eolian karbonat yang terendapakan pada daerah
gumuk pantai hingga ke arah pantai dengan energi yang cukup tinggi dan memiliki iklim
hangat. Hal tersebut dapat menjadi tempat akumulasi material sedimen karbonatan.
Gumuk karbonat dan batugamping eolian akan sangat mungkin memiliki pola
penyebaran yang luas. Namun hal tersebut terbatas pada daerah yang memiliki iklim hangat
dan berada di dekat pantai. Gumuk karbonat ini jarang dijumpai pada daerah gurun, namun
dapat berkembang secara setempat seperti pada kipas alluvial yang sumbernya merupakan
sedimen kaya akan karbonat.
Tidal Flat
Lingkungan pengendapan tidal flat ini merupakan suatu sistem yang terintegrasi.
Memiliki tiga dasar lingkungan penegendapan, yaitu: supratidal, intertidal, dan subtidal.
Daerah Supratidal
Berada pada kondisi kontak langsung dengan udara atau dalam kondisi subaerial.
Umumnya hanya terdapat pada beberapa musim tertentu. Lingkungan ini memiliki struktur
sedimen seperti laminasi, mudcrack, struktur ganggang, struktur mata burung, stuktur
fenestral, Intraklas, dan klastika tanah.
Daerah Intertidal
Berada di atas pasang surut normal dan pasang surut rendah. Daerah ini dapat
terekspos sekali hingga dua kali dalam sehari tergantung pada rezim pasang surutnya dan
kondisi angin lokal.
Daerah Subtidal
Lingkungan ini jarang sekali ditemui. Jika ada pun pasti terekpos terhadap udara.
Porositas dan permeabilitas pada sistem tidal flat ini memiliki perbedaan yang cukup
signifikan antara fasies yang satu dengan yang lainnya.
Pantai
Kebanyakan suatu strata batuan karbonat terendapakan pada suatu keadaan yang
hangat, laut dangkal, paparan laut, dan pada periode regressif dibandingkan dengan
sedimentasi pada saat trasgresi. Daerah panatai merupakan daerah yang didominasi oleh
gelombang yang tersusun oleh sedimen lepas, yang karakter bagian dalamnya akan
dipengaruhi oleh aktivitas pasang surutnya air laut atau longshore current.
Endapan karbonat pantai akan terdiagenesis ketika proses pegendapannya telah
berakhir. Hasil proses diagenesis pada lingkungan pantai ini akan memiliki suatu

kenampakan khusus yang nantinya akan menjadi penciri lingkungan pantai. Proses diagenesa
tersebut adalah sementasi penecontemporaneus yang berasosiasi dengan lingkungan
foreshore.