Anda di halaman 1dari 5

1

BAB I V
PEMBAHASAN

Diagnosis atresia esofagus pada neonatus perempuan, usia 3 hari ditegakkan


berdasarkan gejala klinis yang ditemukan yaitu sesak napas, keluar air liur terusmenerus serta tidak mau menyusu (rewel, kembung). Pemeriksaan fisik
didapatkan hipersalivasi, abdomen terlihat distensi, dan venektasi yang jelas. Pada
pemeriksaan rontgen tampak OGT hanya sampai dibagian proksimal esofagus
serta terlihat gambaran udara memenuhi bagian dari lambung dan usus, ini
menunjukkan bahwa pasien mengalami atresia esofagus tipe C. Atresia esofagus
pada neonatus ini tidak disertai oleh kelainan kongenital seperti kelainan jantung
ataupun atresia rektum. 2,3
Tanda pertama dari atresia esofagus pada fetus biasanya berupa
polihidramnion pada ibu, namun pada neonatus ini dari hasil anamnesis yang
dilakukan terhadap orang tua pasien tidak didapatkan keterangan bahwa pada
kehamilan ibu pasien mengalami polihidramnion, walaupun selama hamil ibu
pasien pernah melakukan 1x USG namun hasil yang didapatkan hanya keterangan
bahwa keadaan janin dalam keadaan baik. Secara keseluruhan sensifitas dari USG
sekitar 42 %. Polihidraminon merupakan indikasi yang lemah dari atresia
esofagus (insiden 1%). Tanda ini bukanlah diagnosa pasti, tetapi jika ditemukan
harus dipikirkan kemungkinan atresia esofagus. Pada atresia esofagus /fistula
atresia esofagus, cairan amnion yang ditelan dikeluarkan kembali karena

menumpuknya cairan pada kantong esofagus sehingga meningkatkan jumlah


cairan amnion.
Pada pasien pembedahan dilakukan pada usia 8 hari atau hari ke 6
perawatan di IPN, ini di sebabkan karena diagnosis atresia esofagus ditegakkan
pada usia 3 hari atau pada hari pertama perawatan di IPN dan langsung di konsul
ke bagian bedah, namun karena BBLR, dan kelaianan pada paru operasi ditunda
pada hari ke 6 perawatan. Sehingga pada pasien ini mempunyai prognosis yang
jelek karena neonatus yang terdiagnosis atresia esofagus segera mungkin
dilakukan pembedahan.
Pada pasien setelah diagnosis atresia esofagus ditegakkan perlu dipikirkan
kelainan lain yang dihubungankan dengan VACTERL yang biasanya menyertai
atresia esofagus, namun dari pemeriksaan yang dilakukan sebelum tindakan
pembedahan pada pasien tidak ditemukan adanya kelainan lain.
Risiko terjadinya infeksi nasokomial pada pasien dapat meningkat karena
pasien termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap infeksi nosokomial,
pasien merupakan anak yang baru lahir, berada di ruangan NICU, dan tinggal
lama diperawatan.11 Pada pasien selama perawatan di IPN telah dilakukan 3 kali
pemeriksaan kultur, dan 2 dari 3 pemeriksaan didapatkan hasil Pasteurella
pneumotropica dan Staphylococus capitis, sehingga kematian pada pasien ini
kemungkinan bisa dikarenakan sepsis yang dialami pasien.
Pada kasus atresia esofagus hanya terjadi pada pasien dan tidak ada
riwayat dalam keluarga sebelumnya. Pasien merupakan anak pertama dan perlu di
waspadai pada ibu pasien untuk kehamilan selanjutkan karena terdapat 2 % risiko
untuk kehamilan selanjutnya apabila kehamilan sebelumnya sudah ada yang

terdiagnosis atresia esofagus. Dianjurkan pada ibu pasien untuk kehamilan


berikutnya melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur untuk mencari
kemungkinan kelainan kongenital seperti atresia esofagus yang biasanya ditandai
dengan polihidramnion

s
DAFTAR PUSTAKA

1. Blair G. Esophageal Atresia with or without trakheoesophageal fistula. [cited


2015 Mar 01] Available from: http://www.emedicine.com
2. Sjamsuhidayat R and De Jong W. Fistel dan atresia. Buku ajar ilmu bedah,
Edisi ke-2. Jakarta, EGC. Penerbit Buku Kedokteran, 2004. p.502-3.
3. Behrman, Kliegman, Arvin. Atresia dan fistula trakeoesofagus. Buku ajar ilmu
kesehatan anak. Vol:2, Edisi ke-15. Jakarta, EGC. Penerbit Buku Kedokteran,
2001.p. 1296-1297.
4. Kronemer

KA,

tracheosophageal

Warwick

AS.

fistula.

[cited

Imaging
2015

in

Marc

esophageal
01]

atresia

Available

and

from

http://emedicine.medscape.com/ article/414368-overview.
5. Clark, Dwayne C. Esophagealatresia and tracheosophageal fistula. [cited 2015
Marc 01] Available from : http://www.aafp.org/afp/910/html.
6. Hardy, Maryan, Boynes S. Paediatric radiography. Blackwell Science.
University of Bradford. Australia. 2003.p.109-110.
7. University Of Michigan Health System, Departement Of Surgery. Esophageal
atresia. [cited 2015 Marc 01] Available from : http:// surgery.med
.umich.edu/pediatric/clinical/patient_content/am/esophageal_atresia_patient.sht
ml
8. Barksdale, Edward M, Holly WD. Atlas of pediatric physical diagnosis.Edisi
ke-5. Elvesier Health. Philadelphia. 2007.p.623-628.

9. Sinha P, Inam L, Gupta HP, Gupta U, et al. Esophageal atresia with


tracheoesophageal fistula in a neonate of mother with polyhydramnios. [cited
2015 Marc 20] Available from : http: //www.researchgate.net/ publication/
270646952_
International_Journal_of_Health_Sciences_and_Research_Esophageal_Atresia
_with_Tracheoesophageal_Fistula_in_a_Neonate_of_Mother_with_Polyhydra
mnios.
10. Pinheiro PF, Silva AC, Pereira RM. Current knowledge on esophageal atresia.
World Journal of Gastroenterology. [cited 2015 Marc 20]. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22851858.
11. Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, et al.Kelainan kongenital. Buku ajar
neonatologi, Edisi ke-1. Jakarta. 2008.p. 41-70.
12. Infeksi nosokomial [homepage on the internet]. [cited in 2015 Mar 14].
Available from: http: http:// repository. usu.ac.id/ bitstream/ 123456789/
21521/4/Chapter%20II.pdf