Anda di halaman 1dari 33

I.

II.

IDENTITAS
Inisial pasien
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal masuk rs

: Ny. T
: Perempuan
: 68 tahun
: Islam
: Ibu rumah tangga
: Depok
: 22 Agustus 2014

ANAMNESIS
2.1 Anamnesis
Allo Anamnesis pada tanggal 22 Agustus 2014 dengan anak pasien.
2.2 Keluhan Utama
Kelemahan tubuh sebelah kanan mendadak sejak 30 menit smrs
2.3 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keadaan sadar ke UGD RSMC diantar oleh
anaknya dengan keluhan kelemahan setengah badan mendadak sebelah
kanan sejak 30 menit smrs. Anak pasien berkata bahwa pasien tidak
dapat menggerakan tangan dan kaki kanannya dan pasien menjadi tidak
bisa berjalan. Pada saat awal kejadian anak pasien mengaku bahwa
pasien hanya sedang berjalan dalam rumah lalu pasien tiba-tiba lemas
dan mau terjatuh namun pasien tidak sempat terjatuh karena sudah
ditangkap oleh suaminya. Saat kejadian akan jatuh tersebut mata pasien
masih terbuka dan sadar namun bagian tubuh kanan pasien langsung
lemah dan pasien langsung tidak bisa berbicara dan hanya mengerangngerang. Jika diajak berbicara pasien juga tidak mengerti apa yang
dibicarakan oleh lawan biacaranya. Pasien terlihat seperti kebingungan
dan tidak mengerti apa yang terjadi. Anak pasien juga mengeluh bahwa
mulut pasien menjadi mencong bersamaan dengan kejadian tersebut.
Semenjak kejadian pasien juga menjadi tidak bisa makan dan minum.
Jika diberikan air minum pasien seperti tersedak. Pasien tidak

mengalami muntah pada saat kejadian. Pasien belum mengkonsumsi
obat apapun sejak awal kejadian.
Anak pasien mengaku sebelun kejadian ini terjadi pasien tidak ada
mengeluhkan sakit pada tubuhnya seperti nyeri kepala, pusing,
penglihatan kabur, mual, muntah, demam, sesak napas, tidak bisa tidur,
dan kelemahan otot baik otot anggota tubuh ataupun otot wajah .
Anak pasien menyangkal adanya penurunan berat badan pasien selama
beberapa bulan terakhir ini. Pasien juga tidak pernah mengalami
kejang. Buang air kecil dan buang air besar pasien selama ini normal
dan teratur.
2 bulan yang lalu pasien sempat mengalami hal yang serupa tetapi
hanya mulut pasien saja yang secara mendadak mencong atau tertarik
kesebelah kanan. Tangan dan kaki pasien tidak mengalami kelemahan
yang berarti. Pasien dibawa ke rumah sakit dan diberikan obat. Muka
pasien langsung kembali normal pada hari yang sama dan tidak
mengalami gejala sisa. pasien hanya dirawat selama satu hari di rumah
sakit dan pasien tidak melakukan scan.

2.4 Riwayat Penyakit Dahulu
2.4.1. Riwayat Penyakit
Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol sejak
belasan tahun yang lalu. Pasien sudah mengkonsumsi obat
secara teratur tetapi tekanan darah pasien tetap tinggi sekitar
160/100. Anak pasien berkata pasien juga memiliki riwayat
penyakit jantung yaitu penyempitan tetapi pasien tidak berobat
untuk penyakit jantungnya. Anak pasien mengaku pasien tidak
memiliki riwayat kencing manis. Anak pasien menyatakan
bahwa fungsi pendengaran pasien sudah berkurang sejak
beberapa tahun yang lalu.
2.4.2 Riwayat Perawatan

Pasien pernah dirawat di rumah sakit 2 bulan yang lalu karena
wajah pasien mencong kearah kanan secara mendadak selama
satu hari.
2.4.3 Riwayat Pembedahan
Pasien mengaku tidak permah dioperasi sebelumnya
2.4.4 Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku mengkonsumsi obat hipertensi captopril secara
rutin
2.4.5 Riwayat Alergi
Pasiem mengaku tidak ada alaergi terhadap obat atay hal-hal
tertentu
2.5 Riwayat Keluarga
pasien tinggal serumah bersama suami dan anaknya. Anak pasien
mengaku bahwa di keluarganya tidak ada yang pernah memiliki
riwayat stroke ataupun kencing manis. Untuk riwayat hipertensi pada
keluarga pasien, anak pasien mengaku tidak mengetahui apakah ada
riwayat hipertensi dari keluarga pasien.
2.6 Riwayat Kebiasaan
Anak pasien mengaku pasien sudah tidak bekerja namun pasien
masih dapat berkegiatan secara normal di rumahnya. Pasien masih
sering menjahit dan masih dapat mengerjakan beberapa pekerjaan
rumah sendiri. pasien tidak pernah merokok ataupun memiliki
kebiasaan minum minuman beralkohol. Pola makan pasien juga
teratur dan jenis makananyang dikonsumsi pasien juga sudah dibatasi
seperti mengurangi makanan yang digoreng dan juga makananmakanan yang asin. Anak pasien mengaku bahwa pasien tidak pernah
berolah raga.
2.7 Riwayat Sosial
Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga, tinggal bersama anak
dan suaminya. Sehari-hari pasien hanya berada di dalam rumah dan
pasien jarang jalan-jalan ke luar rumah.
III.

PEMERIKSAAN FISIK

pembesaran KGB (-) : sianosis (-). cairan (-). lift (-).Tanggal 22 Agustus 2014 Keadaan Umum : Tampak Kesadaran : Compos Mentis Tinggi Badan : 155 cm Berat Badan : 70 kg Status Gizi : Pemeriksaan Suhu Tubuh sakit sedang tanda-tanda : 36oC vital (per axilla) Tekanan Darah : 180/110 Nadi : 86x/menit. tonsil T1/T1. sudut mulut asimetris. batas jantung kiri ics 4 midclavicula kiri) . edema septum (-). 3mm/3mm : hiperemis (-/-).  Mata o Reflek cahaya o Konjungtiva o Sklera o Pupil  Telinga  Mulut : (+/+) : anemis (-/-) : ikterik (-/-) : isokor. pucat (-).  deformitas (-) : hiperemis (-). bekas luka atau operasi (-). thrill (-). nyeri tekan (-) : Batas jantung normal (batas jantung atas ics 2 para sternal kiri. plika nasolabialis asimetris. deformitas (-). irama Laju Nafas : 20x/menit. regular irregular isi cukup equal STATUS GENERALIS  Kepala Rambut Wajah : normosefali. epistaksis (-) : pembesaran tiroid (-). deformitas (-) :hiperemis (-). hiperpigmentasi (-). deformitas (-) : distribusi baik dan kuat : bengkak (-). hipopigmentasi (-) Leher Kulit Thorax o Jantung  Inspeksi  Palpasi  Perkusi : iktus kordis (-) : iktus kordis teraba heave (-). batas jantung kanan ics 4 parasternal kanan. nyeri (-).    Hidung sekret (-) .

edema(-/-). wheezing (-/-) : deformitas (-). rhonki (-/-). murmur (-). nafas tertinggal (-).  tactile Status Neurologis  Kesadaran: kompos mentis  GCS : E4 M5 Vafasia global  Nervus kranialis o CN. o CN. bekas       Palpasi luka (-). datar. S3-S4 (-) Inspeksi : thorax mengembang baik simetris statis maupun dinamis. o Paru  Auskultasi : suara jantung normal. : suara timpani (+) : bising usus normal 6x/menit. isokor  Reflex cahaya langsung : +/+  Reflex cahaya tidak langsung : +/+  Gerak bola mata bebas ke segala arah. deformitas (-).III. pelebaran vena (-) : nyeri tekan (-). V  Motorik  Gerakan buka mulut normal  Gerakan rahang/mengunyah normal  Sensorik  V1 : sensibilitas normal  V2 : sensibilitas normal . VI  Ptosis (-/-)  Sikap kedua bola mata baik  Pupil 3mm/3mm. CRT <2detik. I  Subjektif : tidak dapat dinilai  Objektif : tidak dapat dinilai o CN. bekas luka(-). IV. bekas luka (-) Punggung Abdomen  Inspeksi  Palpasi  Perkusi  Auskultasi  Hepar  Limpa Ekstremitas : akral : lesi (-). scar (-). : suara napas vesikuler. Perkusi Auskultasi fremitu simetris : sonor di kedua lapang paru. nyeri tekan (-). traube space (-) hangat. bulat. hiper atau hipopigmentasi (-) : massa (-). bruit(-) : pembesaran (-). nyeri tekan (-) : schuffner (-). II  Visus : tidak dapat dinilai  Lapang Pandang : tidak dapat dinilai o CN.

VIII  N. XI  Angkat bahu : (-) : (+) : baik : simetris : ditengah : tidak dapat dinilai . VII  motorik  Sikap mulut istirahat  Mengangkat alis   tertinggal Mengerutkan dahi : deviasi kanan : kanan sedikit :kanan sedikit tertinggal  Menyeringai : kanan tertinggal  Mengembungkan pipi : kanan tertinggal Sensorik  Pengecapan 2/3 anterior: tidak dapat dinilai Produksi ludah  : normal o CN. X  Disfonia  Disfagia  Reflex muntah  Arkus faring  Letak uvula o CN.  Pengecapan 1/3 posterior : tidak dapat dinilai o CN. Vestibularis  Nistagmus : tidak dapat dinilai  Berdiri satu kaki: tidak dapat dinilai  Berdiri dua kaki : tidak dapat dinilai  Tandem : tidak dapat dinilai  Fukuda : tidak dapat dinilai o CN.IX  Motorik  Reflex menelan : terganggu  Sensorik.  V3 Reflex kornea : sensibilitas normal : batas normal o CN. Koklearis  bisikan : tidak dapat dinilai  gesekan jari : tidak dapat dinilai  Tes rinne: tidak dapat dinilai  Tes webber : tidak dapat dinilai  Tes swabach : tidak dapat dinilai  N.

 Memalingkan kepala kiri o CN. XII  Deviasi lidah   : dominan memaling ke : lidah deviasi kearah kanan saat dijulurkan  Atrofi  Artikulasi Rangsang meningeal o Kaku kuduk :o Laseque :o Kernig :o Brudzinski 1 :o Brudzinski 2 :Motorik o Massa otot :: terganggu eutrofi eutrofi eutrofi eutrofi o Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus o Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Sensorik o Ekstremitas atas  Raba  Nyeri  Getar  Suhu  Propioseptif  Diskriminasi 2 titik o Ekstremitas bawah  Raba  Nyeri  Getar : tidak dapat dinilai / + :+/+ : tidak dapat dinilai / + : tidak dapat dinilai / + : tidak dapat dinilai : tidak dapat dinilai : tidak dapat dinilai / + :+/+ : tidak dapat dinilai / + .

3 202 247 EKG 12-14 37-43 5-10 ribu 150-400 ribu <200 (terlampir) Atrial Fibrilation with rapid ventricular response RBBB V./ Saraf autonom o BAB : normal o BAK : normal o Keringat :normal Fungsi luhur : tidak dapat dinilai Koordinasi : tidak dapat dinilai Tambahan : afasia global PEMERIKSAAN PENUNJANG LAB: CBC (22 Agustus 2014) Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit GDS 13.      IV. RESUME Pasien wanita umur 68 tahun datang ke UGD RSMC dengan keluhan hemiparesis dextra secara tiba-tiba.  Suhu : tidak dapat dinilai / +  Propioseptif : tidak dapat dinilai  Diskriminasi 2 titik : tidak dapat dinilai Refleks fisiologis o Bisep : + / tidak dapat dinilai o Trisep : + / tidak dapat dinilai o Brachioradialis : + / tidak dapat dinilai o Patella : + / tidak dapat dinilai o Achiles : + / tidak dapat dinilai Reflex patologis o Babinski :-/o Chadok :-/o Gordon :-/o Oppenheim :-/o Schaffer :-/o Stransky :-/o Hoffman tromer : . mulut mencong/tertarik kearah kiri. sejak 30 menit smrs. gejala muncul secara mendadak pada saat pasien sedang berjalan di dalam rumah. Kesadaran kompos mentis dengan afasia .5 41 11.

Pasien memiliki riwayat hipertensi grade II tidak terkontrol walaupun sudah meminum obat secara rutin (captopril). Nyeri kepala (-). Pemeriksaan Fisik Kesadaran Kompos mentis GCS E4M6Vafasia global Tekanan Darah 180/110 nadi 84 irreguler CN VIII Sikap mulut istirahat : deviasi kanan Mengangkat alis : kanan sedikit tertinggal Mengerutkan dahi : kanan sedikit tertinggal Menyeringai : Mengembungkan pipi : kanan tertinggal CN. Pasien memiliki riwayat penyakit jantung yang tidak tertangani. trauma normotonus hipotonus (-). XII Deviasi lidah : lidah deviasi Atrofi : Artikulasi Kekuatan : terganggu Tonus Refleks Patologis Negatif Refleks Fisiologis Dextra (+) kanan kearah tertinggal kanan saat dijulurkan - . disfagia (+). normotonus Pasien pernah mengalami stroke dengan gejala pada muka yaitu mulut tertarik kearah kiri tanpa hemiparesis sekitar 2 bulan yang lalu. penurunan berat badan (-). muntah (-).2 2 2 2 5 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 5 hipotonus global. IX Refleks menelan : terganggu CN. pasien dirawat di rumah sakit selama satu hari dan kembali normal pada hari yang sama.

1 x 110) – (3 x 1) . Hemiparese dextra et causa suspek stroke non hemoragik Didapati defiisit neurologis fokal sisi kanan mendadak tanpa keluhan sakit kepala dan juga muntah proyektil. DIAGNOSA BANDING 1. HDL.Sinistra tidak dapat dinilai VI. penurunan kesadaran (-). nadi. Berdasarkan siriraj score (2. Hipertensi grade II 3. Trigliserida dan kolesterol      total Pemerikssan gula darah Pemeriksaan EKG Pemasangan NGT dan catheter Rehabilitasi medik pasif untuk fase akut Monitoring tanda-tanda vital (tekanan darah.12 = -4 (SNH) berdasarkan score gajah mada nyeri kepala(-). berdasarkan skor siriraj dan juga skor gajah mada tanda dan gejala pada pasien lebih mengacu pada diagnosis stroke non hemoragik. TATALAKSANA Non medikamentosa  Pemeriksaan CT-Scan tanpa kontras  Pemeriksaan profil lipid: LDL. reflex Babinski (-)  SNH 2. laju nafas) dan juga perkembangan gejala pada pasien. hemparese dextra et cause stroke hemoragik tidak ditemukan adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial seperti nyeri kepala muntah proyektil dan juga penurunan kesadaran. Tetapi untuk dapat menyingkirkan diagnosis stroke hemoragik dengan pasti diperlukan pemeriksaan penunjang berupa ct scan. Medikamentosa  Terapi fase akut o IVFD RL 20 tpm . tempratur.5 x 0) + (2 x 0) + (2 x 0) + (0. DIAGNOSIS Diagnosis neurologis o Diagnosis klinis : hemiparese dextra o Diagnosis topis : hemisfer serebri sinistra o Diagnosis etiologis : infark intraserebral karena riwayat atrial fibrilasi o Diagnosis patologis : sumbatan pada arteri serebri media sinistra VII. Terdapat riwayat hipertensi tidak terkontrol serta gangguan jantung berupa atrial fibrilasi. IX. DIAGNOSIS KERJA 1. Aritmia (atrial fibrilasi) VIII.

Citicholine 2 x 500 mg (i. kerutan dahi pasif simetris. tidak bisa minum.v) Inj. datar. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. SI -/-. Neulin 2 x 500mg (i. VII : nasolabialis kanan menghilang. gallop (-) Abd : supel. warna coklat tua Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN.o) Clipodogrel 1 x 75 mg Digoxin 1 x 0. BU(+). . Ranitidine 2 x 1 amp Drip neurobion 5000 1 x 1amp Inj. Rh (-).25 (p.. murmur(-). edema (-) CRT <2 Terpasang DC: produksi (+). gelisah.4 Kepala : normosefali Mata : CA -/. RC+/+. Wz (-) Cor : S1. Suhu : 36. HR : 85x/menit. RR : 18x/menit. irregular. mulut asimetris saat menyeringai. Fisioterapi rutin FOLLOW UP 23 Agustus 2014 S: Tidak bisa tidur. kalau diberikan minum seperti tersedak O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 180/100 mmHg.o) Edukasi  Menjelaskan kepada pasien pengertian dari penyakit yang diderita pasien jdan juga faktor resiko apa saja yang dapat mempengaruhi penyakit pasien  Penjelaskan perjalanan penyakir dan juga prognosis dari penyakit yang diderita pasien  Menjelaskan komplikasi dan juga gejala sisa yang mungkin terjadi dari stroke  Memberikan pengertian kepada pasien untuk rutin mengkonsumsi obat anti hipertensi dan juga mengontrol tekanan darah secara rutin  X. NT(-) Ext : akral hangat. S2.v) Aspilet 1 x 80 mg (p.o o o o o o o Inj.

belum bisa makan minum O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 200/120 mmHg. gelisah.25 mg  Sucralfat 2 x 1c  CG tiap 6 jam  Dipuasakan  Periksa lab ureum dan kreatinin 24 Agustus 2014 S: Tidak bisa tidur.v)  Drip neurobion 5000 1 x 1amp  Aspilet 1 x 80 mg (p. (terlampir) Pemeriksaan GDS  115 A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  IVFD RL 20 tpm  Inj. Kepala : normosefali Suhu : 36. Neulin 2 x 500mg (i.o)  Digoxin 1 x 0. Citicholine 2 x 500 mg (i. HR : 90x/menit. sinistra tidak dapat dinilai Refleks Patologis : negatif Pemeriksaan Penunjang CT-SCAN  infark dengan awal enchelapomalacia kortikalsubkortikal lobus temporoparietal kanan. VIII : pendengaran terganggu CN IX : reflex menelan terganggu CN XII : lidah deviasi kanan saat dijulurkan Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik : nyeri + Refleks Fisiologis : dextra (+).8 . Ranitidine 2 x 1 amp  Inj.v)  Inj. RR : 20x/menit.CN.

Neulin 2 x 500mg (i. (terlampir) GDS :120 HDL/LDL: 58 / 111 Chl. Citicholine 2 x 500 mg (i. RC+/+. Rh (-).v)  Drip neurobion 5000 1 x 1amp  Amlodipine 1 x 5 mg . isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. Total : 186 TG : 86 Ureum: 26 Kreatinin : 0. Ranitidine 2 x 1 amp  Inj. datar. BU(+).. irregular. sinistra tidak dapat dinilai Refleks Patologis : negatif Pemeriksaan Penunjang CT-SCAN  infark dengan awal enchelapomalacia kortikalsubkortikal lobus temporoparietal kanan. CN. NT(-) Ext : akral hangat.83 A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  IVFD RL 20 tpm  Inj. VIII : pendengaran terganggu CN IX : reflex menelan terganggu CN XII : lidah deviasi kanan saat dijulurkan Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik : nyeri + Refleks Fisiologis : dextra (+). VII : nasolabialis kanan menghilang. S2. mulut asimetris saat menyeringai. SI -/-. Wz (-) Cor : S1. murmur(-). edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. kerutan dahi pasif simetris.v)  Inj. gallop (-) Abd : supel.Mata : CA -/.

isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. gelisah.. Rh (-).3 Kepala : normosefali Mata : CA -/. NT(-) Ext : akral hangat.    Aspilet 1 x 80 mg (p. RR : 21x/menit. kerutan dahi pasif simetris. VIII : pendengaran terganggu CN IX : reflex menelan terganggu CN XII : lidah deviasi kanan saat dijulurkan Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik : nyeri + Refleks Fisiologis : dextra (+). edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. SI -/-. gallop (-) Abd : supel. datar. S2. Suhu : 36. VII : nasolabialis kanan menghilang. mulut asimetris saat menyeringai. pasien mengamuk dan ingin duduk terus. sinistra (+) Refleks Patologis : negatif Pemeriksaan Penunjang GDS  124mg/dl A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi . Wz (-) Cor : S1. murmur(-). RC+/+. irregular.o) Digoxin 1 x 0. HR : 84x/menit.25 mg Sucralfat 2 x 1c Diet cair 25 Agustus 2014 S: Tidak bisa tidur. CN. BU(+). O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 180/120 mmHg.

Wz (-) Cor : S1. mulut asimetris saat menyeringai. VII : nasolabialis kanan menghilang. datar. kerutan dahi pasif simetris. NT(-) Ext : akral hangat. RC+/+. VIII CN IX CN XII Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik Refleks Fisiologis : nyeri + : dextra (+).. RR : 17x/menit. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. Suhu : 36. SI -/-.25 mg  Sucralfat 2 x 1c  Diet cair 26 Agustus 2014 S: sudah dapat minum air .v)  Inj. gallop (-) Abd : supel. Neulin 2 x 500mg (i. murmur(-).o)  Amlodipine 1 x 5mg  Digoxin 1 x 0.v)  Drip neurobion 5000 1 x 1amp  Aspilet 1 x 80 mg (p. HR : 97x/menit. gelisah. Ranitidine 2 x 1 amp  Inj. BU(+). pasiem mengamuk O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 170/100 mmHg.7 Kepala : normosefali Mata : CA -/. sinistra tidak dapat dinilai . Rh (-). edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. Citicholine 2 x 500 mg (i. irregular. S2.P (Planning)  IVFD RL 20 tpm  Inj. : pendengaran terganggu : reflex menelan terganggu : lidah deviasi kanan saat dijulurkan CN.

VII : nasolabialis kanan menghilang. gelisah. edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. RR : 18x/menit. RC+/+. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. NT(-) Ext : akral hangat. S2. mulut asimetris saat menyeringai. kerutan dahi pasif simetris.v)  Inj. gallop (-) Abd : supel. Ranitidine 2 x 1 amp  Inj. Neulin 2 x 500mg (i. Rh (-). HR : 85x/menit. : pendengaran terganggu : reflex menelan terganggu : lidah deviasi kanan saat dijulurkan CN.. O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 180/100 mmHg. VIII CN IX CN XII Motorik  Kekuatan .Refleks Patologis : negatif Pemeriksaan Penunjang EKG  atrial fibrilasi with rapid ventricular response RBBB (terlampir) A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  IVFD RL 20 tpm  Inj.25 mg  Sucralfat 2 x 1c  diet cair  fisioterapi 27 Agustus 2014 S: Tidak bisa tidur. irregular.4 Kepala : normosefali Mata : CA -/.o)  Amlodipine 1 x 5mg  Digoxin 1 x 0. Suhu : 36. murmur(-). BU(+). Wz (-) Cor : S1. SI -/-. Citicholine 2 x 500 mg (i.v)  Drip neurobion 5000 1 x 1amp  Aspilet 1 x 80 mg (p. datar.

HR : 80x/menit. irregular. Ranitidine 2 x 1 amp  Inj.25 mg  Sucralfat 2 x 1c  Diet cair  fisioterapi 28 Agustus 2014 S: pasien sudah bisa makan sedikit2. datar. RR : 20x/menit. Citicholine 2 x 500 mg (i. edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis . NT(-) Ext : akral hangat. SI -/-. BU(+).o)  Amlodipine 1 x 5mg  Digoxin 1 x 0. batuk berdahak O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 160/100 mmHg.v)  Inj. sinistra tidak dapat dinilai Refleks Patologis : negatif Pemeriksaan Penunjang A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  IVFD RL 20 tpm  Inj. murmur(-). Suhu : 36.. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. Rh (-). Neulin 2 x 500mg (i. S2. 2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik : nyeri + Refleks Fisiologis : dextra (+). gallop (-) Abd : supel. Wz (-) Cor : S1.4 Kepala : normosefali Mata : CA -/.v)  Drip neurobion 5000 1 x 1amp  Aspilet 1 x 80 mg (p. RC+/+.

sinistra tidak dapat dinilai Refleks Patologis : negatif A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  IVFD RL 20 tpm  Inj. : pendengaran terganggu : normal : lidah deviasi kanan saat dijulurkan CN.5 . mulut asimetris saat menyeringai. Kepala : normosefali HR : 82x/menit. Citicholine 2 x 500 mg (i. RR : 17x/menit. VIII CN IX CN XII Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik : nyeri + Refleks Fisiologis : dextra (+). Ranitidine 2 x 1 amp  Inj.v)  Inj.o)  Amlodipine 1 x 5mg  Digoxin 1 x 0. kerutan dahi pasif simetris.v)  Drip neurobion 5000 1 x 1amp  Aspilet 1 x 80 mg (p. Suhu : 36.CN. makan/minum (+) O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 160/90 mmHg. Neulin 2 x 500mg (i. VII : nasolabialis kanan menghilang.25 mg  Sucralfat 2 x 1c  Bisolvon syr 3 x 1c  Aff NGT  Diet per oral bertahap  fisioterapi 29 Agustus 2014 S: batuk berdahak.

: pendengaran terganggu : normal : lidah deviasi kanan saat dijulurkan CN.v)  neurobion 1 x 1 tab  Aspilet 1 x 80 mg (p. datar. Rh (-). Wz (-) Cor : S1. kerutan dahi pasif simetris. S2. SI -/-. murmur(-). NT(-) Ext : akral hangat. irregular.25 mg  Sucralfat 2 x 1c  Bisolvon 3 x 1c  Diet per oral  fisioterapi . RC+/+. Neulin 2 x 500mg (i. Citicholine 2 x 500 mg (i.o)  Amlodipine 1 x 5mg  Digoxin 1 x 0. edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. sinistra tidak dapat dinilai : negatif A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  Aff infus  venvlon  Inj.Mata : CA -/.. gallop (-) Abd : supel. VII : nasolabialis kanan menghilang. BU(+).v)  Inj. mulut asimetris saat menyeringai. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. VIII CN IX CN XII Motorik   Kekuatan 2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik Refleks Fisiologis Refleks Patologis : nyeri + : dextra (+).

SI -/-.v)  neurobion 5000 1 x 1 tab  Aspilet 1 x 80 mg (p.. S2.30 Agustus 2014 S: batuk. Suhu : 36.o) . NT(-) Ext : akral hangat. murmur(-). RR : 18x/menit. gallop (-) Abd : supel.v)  Inj. HR : 81x/menit. irregular. mulut asimetris saat menyeringai. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. VIII : pendengaran terganggu CN IX : normal CN XII : lidah deviasi kanan saat dijulurkan Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik Refleks Fisiologis Refleks Patologis : nyeri + : dextra (+). sinistra tidak dapat dinilai : negatif A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  Inj. Wz (-) Cor : S1. RC+/+. VII : nasolabialis kanan menghilang. Citicholine 2 x 500 mg (i. CN. edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. kerutan dahi pasif simetris. datar.4 Kepala : normosefali Mata : CA -/. BU(+). Neulin 2 x 500mg (i. makan minum normal O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 150/90 mmHg. Rh (-).

VIII : pendengaran terganggu CN IX : normal CN XII : lidah deviasi kanan saat dijulurkan Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik Refleks Fisiologis Refleks Patologis : nyeri + : dextra (+). gallop (-) Abd : supel. NT(-) Ext : akral hangat. Suhu : 36. Wz (-) Cor : S1.4 Kepala : normosefali Mata : CA -/.     Amlodipine 1 x 5mg Digoxin 1 x 0. kerutan dahi pasif simetris. irregular. SI -/-. VII : nasolabialis kanan menghilang. datar. mulut asimetris saat menyeringai. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. RR : 18x/menit. S2. edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. HR : 88x/menit. RC+/+. CN.. sinistra tidak dapat dinilai : negatif A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi . murmur(-).25 mg Sucralfat 2 x 1c Bisolvon 3 x 1c Fisioterapi 31 Agustus 2014 S: batuk O: KU / Kes : tampak sakit sedang/CM Tanda vital : TD : 150/100 mmHg. BU(+). Rh (-).

Wz (-) Cor : S1. SI -/-. Neulin 2 x 500mg (i.25 mg  Sucralfat 2 x 1c  Bisolvon 3 x 1c  fisioterapi 1 Agustus 2014 S: batuk O: KU / Kes Tanda vital : tampak sakit sedang/CM : TD : 140/80 mmHg.P (Planning)  Inj. Rh (-). irregular. RR : 18x/menit. isokor Leher pembesaran KGB (-) Pulmo : Vesikuler. mulut asimetris saat menyeringai.4 Kepala : normosefali Mata : CA -/. edema (-) CRT <2 Status neurologis GCS : E4 M6 VAfasia global Saraf Kranialis CN. gallop (-) Abd : supel. murmur(-). kerutan dahi pasif simetris.o)  Amlodipine 1 x 5mg  Digoxin 1 x 0. Suhu : 36. Citicholine 2 x 500 mg (i. CN. NT(-) Ext : akral hangat. HR : 80x/menit.v)  Inj. RC+/+. sinistra tidak dapat dinilai : negatif . VII : nasolabialis kanan menghilang.. BU(+). datar. VIII : pendengaran terganggu CN IX : normal CN XII : lidah deviasi kanan minimal Motorik  Kekuatan  2 2 2 2 5 5 5 2 2 2 2 5 5 5 Tonus hipotonus normotonus hipotonus normotonus Sensorik Refleks Fisiologis Refleks Patologis : nyeri + : dextra (+).v)  Drip neurobion 5000 1 x 1amp  Aspilet 1 x 80 mg (p. S2.

25 mg  neulin XI. PROGNOSIS Ad vitam Ad fuctionam Ad sanationam : ad bonam : dubia ad bonam : ad bonam .A (Assessment): Stroke Non Hemorrhagik dengan hemiparese dextra Hipertensi grade II Atrial Fibrilasi P (Planning)  Rawat jalan  Aff DC  Aff venvlon  Clopidogrel 1 x 75 mg  Aspilet 1 x 80mg  Neulin 2 x 500mg  Neurobio 1 x 1 tab  Amlodipine 1 x 5mg  Digoxin 1 x 0.

5 % atau 125. emboli. serta penyebab kecacatan jangka panjang nomor satu di dunia. jenis kelamin. pendarahan subarakhnoid . permanen lesi otak. hipertensi. Klasifikasi a. genetik. Proyeksi hingga 2020 nanti menunjukan bahwa setiap tahun sekitar 61 juta orang akan mengalami kecacatan akibat stroke. Jumlah ini merupakan 3. tanpa ditemukannya penyebab lain selain gangguan vaskuler. dan sisanya cacat ringan maupun berat.TINJAUAN PUSTAKA Saat ini stroke dikategorikan sebagai penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung dan keganasan. infeksi.000 penduduk terkena serangan stroke. hiperhomocysteinemia. Berdasarkan waktu terjadinya  Transient Ischemic Attack (TIA) : < 24 jam  Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND) : 24 jam – 1 minggu  Stroke In Evolution (SIE) : gejala makin memburuk dibandingkan  awal Completed stroke : gejala menetap. dyslipidemia. sindorma metabolik. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi: usia. ras/etnis. diperkirakan setiap tahun terjadi 500.5 % dari seluruh penderita cacat. penyalahgunaan alkohol. diabetes mellitus. Di Indonesia. b. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi: inaktivitas fisik. baik fokal maupun menyeluruh (global). yang berlangsung dengan cepat. Faktor Resiko a. 50 juta orang telah mengalami kecacatan akibat stroke. diet yang buruk. Definisi Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral. sekitar 2. Epidemiologi Stroke merupakan satu masalah kesehatan yang besar dalam kehidupan modern saat ini. .000 orang meninggal. Berdasarkan kelainan patologis  Stroke hemoragik: perdarahan  intra serebral. hipoperfusi sistemik b. obesitas. Pada 1999. dll. selama lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut. Stroke non-hemoragik: thrombosis serebri.

pendarahan terjadi di ruang subaraknoid. kecuali lesi di batang otak Sering kali Tidak ada dari Permulaan tidak Sering dari awal awal Gangguan bicara Sering ada Liquor Berdarah Parese / gang N.Gangguan fungsi luhur : afasia.III Tidak ada ada Jarang Berdarah Bisa ada Sering Jernih Tidak ada . Gambaran Klinis Gejala klinis yang terjadi bergantung pada neuroanatomi dan vaskularisasinya. parestesia .Gangguan visual : hemianopsia homonim.c.Sensorik : hemihipestesi kontralateral. diplopia Etiologi Pada stroke hemorrhagik. Defisit neurologis yang ditemukan berguna untuk menilai lokasi iskemi. disartria . Selain itu.Sensorik : hemihipestesi alternans. setiap proses yang mengganggu aliran darah menuju otak menyebabkan timbulnya kaskade iskemik yang berujung pada terjadinya kematian neuron dan infark serebri. penyebab utamanya adalah pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak. parestesia . Selain itu.Motorik : hemiparese alternans.Motorik : hemiparese kontralateral.Gangguan lain : gangguan keseimbangan. Pendarahan intraserebral ditemukan 10% dari seluruh kasus stroke. Pada stroke non-hemmorhagic palinf sering disebabkan oleh emboli atau thrombus. Berdasarkan lokasi lesi vaskuler  Sistem karotis (anterior) . ruang cairan serebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya. disartria . agnosia  Sistem vertebrobasiler (posterior) . stroke non hemoragik juga dapat diakibatkan oleh penurunan aliran serebral. Gejala Klinis Defisit fokal Onset Nyeri kepala Muntah pada PIS Berat Menit/jam Hebat Sering PSA Ringan 1-2 menit Sangat hebat Sering awalnya Hipertensi Penurunan Hampir selalu Biasanya tidak Ada Ada kesadaran Hemiparesis Sering Non Hemoragik Berat ringan Pelan (jam/hari) Ringan Tidak. vertigo. Pada tingkatan seluler. amaurosis fugaks .

5 + x2 + x2 + Tekanan Darah x 10% + Ateroma: (1) Tidak  DM x (-3) (2) Ya  Angina Pektoris Klaudikasio Intermiten 6 Konstanta -12 -12 Hasil SSS Bila SSS > 1 : Stroke Hemoragik SSS < -1 : Stroke Non Hemoragik. 1 Kesadaran (1) Kompos Mentis (2) Mengantuk (3) Semi koma/koma (1) Tidak (2) Ya (1) Tidak (2) Ya Diastolik 2 Muntah 3 Nyeri Kepala 4 5 Indek Skor x 2. Skor antara 1 dan -1 menunjukkan hasil yang ekuivokal dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis.  Algoritma Stroke Gajah Mada . Selain itu ada yang disebut Siriraj Stroke Score dan alogaritma Gajah Mada yang sering digunakan untuk membantu membedakan stroke berdasarkan etiologinya. maupun pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan manifestasi klinis yang telah disebutkan di atas. pemeriksaan fisik.Diagnosis ditegakkan melalu anamnesis.  Siriraj Stroke Score No Gejala/Tanda Penilaian .

. Batas penurunan TD maksimal 20-25%.Rehabilitasi medik dilakukan sedini mungkin pada stroke ischemic dan dilakukan setelah melewati fase akut pada stroke hemorrhagic (1-2minggu).Mengendalikan faktor risiko .TD tidak boleh segera diturunkan kecuali sistolik > 220 mmHg.1. Terapi umum 5B : o Breating . o Brain . posisi kepala 20-30 derajat. diastolik > 120 mmHg.1.stabilisasi jalan nafas dan pernafasan. o Blood . mencegah kontraktur sendi. rehabilitasi sosial. Penatalaksanaan  Non Farmakologis . - agar penderita dapat mandiri. Stabilisasi hemodinamik dengan pemberian cairan kristaloid atau koloid.Bila didapatkan kenaikan TIK maka diberikan manitol. dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi motoric.

minggu kelima oral 2x2.Perhatikan kebutuhan cairan dan kalori. agitasi. Cilostazol 2x50 mg. Clopidogrel 1x75 mg.4cc subkutan. sebaiknya dengan kateterisasi intermiten. memperbaiki membrane sel. mengurangi viskositas  pentoxifilin 15 mg/kgBB/hari. - pemberian harus kurang dari 3 jam onset. Farmakologis  stroke iskemik .  Piracetam: bolus 12 gr/hari.reperfusi : trombolisis – penghilang sumbatan akibat stroke  rt-PA 0.mengosongkan kandung kemih yang penuh. .4 gr – mencegah hipoksia dan memperbaiki integritas sel. bila ada). Antikoagulan: untuk pasien stroke yang beresiko emboli otak  Heparin – 1000 u/jam. Naftidroufuril 600 mg/hari IV selama 10 hari dilanjutkan oral 300 - mg/hari. Nutrisi oral hanya boleh diberikan bila  fungsi menelan baik. nyeri. kejang. hari ketiga oral  LMWH – 2 x 0. o Bowel .hari selama 14 hari – meningkatkan oksigen ke otak. Hemorheologi – memperbaiki aliran darah. cek trombosit hari ke- - - 1 dan ke-3  Warfarin – 8 mg hari ke-1. 6 mg hari ke-2. jika terdapat kesulitan menelan pasang NGT. o Bladder . hindari obstipasi.Aktivitas metabolisme otak harus diturunkan (mengatasi hipertermia. cek INR Anti agregasi trombosit:  Aspirin 80 – 120 mg/hari.9 mg/kgBB maksimal 90 mg (10% diberikan bolus & sisanya infus kontinyu dalam 60 menit). Ticlopidin 2x250 mg Neuroproteksi:  Citicoline: 500-2000 mg. dan menghasilkan asetilkolin untuk fungsi kognitif. cek aPTT 6 jam kemudian.

inflamasi. nimodipine 60-90 md oral tiap 4 jam selama 21 hari atau 15-30 mg/kg/jam selama 7 hari. dan nekrosis. Cerebrosilin: 30-50 cc selama 21 hari – protein otak penghambat  caspase yang berfungsi dalam apoptosis. GCS >7 pendarahan cerebellum pendarahan ventricular / terjadi hydrocephalus letak lobar/kortikal dengan peningkatan TIK atau ancaman herniasi .  PSA: bed rest total 3 minggu. asam traneksamat 6x1 gr untuk mencegah lisis bekuan darah. stroke hemoragik . Diberikan pula agen neuroproteksi dan antikoagulan. Operatif Indikasi:  pendarahan > 30 cc / diameter > 3cm pada fossa     posterior. baru dilanjutkan oral 360 mg/hari selama 14 hari untuk - mencegah terjadinya vasospasme global.Konservatif  PIS: anti pendarahan: epsilon aminocaproat 30-36 gr/hari. morphine 15 mg IM pada pasien sadar untuk menghilangkan nyeri.

New York : Mc Graw-Hill.gov/pubmed/7780882. 8. Aliah A. 3. Gejala. Ginsberg L.DAFTAR PUSTAKA 1. Brown RH. Ropper AH. 2007. Erlangga. Goetz Christopher G. Cerebrovascular Diseases. Dalam Neurologi.nlm. Wang PY. 2007.B Saunders Company: 1999. Hal: 81-115. Limoa A. Stroke. Cerebrovascular Diseases. Chin-Sang. In : Adam and Victor’s Priciples of Neurology. 2. Peter.ncbi. Fisiologi. 2005. Goetz. McGraw-Hill Proffesional. LY. 9. Wang Y. Eight edition. Cerebrovasculer diseases in Principles of Neurology 8 th Edition. 2006. Duus. . Yogyakarta. Tanda. Neurovascular Disorder in Textbook of Clinical Neurology editor Christopher G. Victor’s.nih. Chung. Jakarta: EGC. 2005. Jakarta: PERDOSSI. Philadelphia : Saunders. Gambaran umum tentang gangguan peredaran darah otak dalam Kapita selekta neurology cetakan keenam editor Harsono. Buku Ajar Neurologi Klinis. Kuswara F F. Hal: 10-3 4. 2008. Tersedia pada: http://www. 3rd ed. In : Goetz: Textbook of Clinical Neurology. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi. Jakarta. Adams. 7. Chia LG. Hal: 660-67 5. Edisi 8. 2007 6. D. Harsono. Hung. Wuysang G. W. Gadjah Mada university press. Clinical distinction between acute hemorrhagic and acute ischemic stroke by Siriraj stroke score [online].

Snell. Gofir. Neuroanatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran . Wibowo. Gangguan peredaran darah otak. Samekto. 11.10. Abdul. Pekanbaru. Jakarta : EGC. . Richard S. Farmakoterapi stroke prevensi primer dan prevensi sekunder dalam Farmakoterapi dalam Neurologi. 2006. 12. 2007. Pekanbaru : SMF Saraf RSUD Arifin Achmad/FK UNRI. Hal: 53-73. Rumantir CU. Penerbit Salemba Medika.

LAMPIRAN 22 Agustus 2014 .

26 Agustus 2014 .