Anda di halaman 1dari 10

Serie Ke-3.

Info Brief Kehutanan Masyarakat

HUTAN TANAMAN RAKYAT (HTR)
A.

PENGANTAR

Dalam Renstra 2010-2014, Kemenhut merencanakan kehutanan
masyarakat seluas 7.9 juta ha (diluar skema kemitraan) dan sudah
mencadangkan seluas 1.210.815 ha. Dari areal yang dicadangkan, sekitar
50% dalam tahap proses verifikasi dan baru sekitar 131.209.34 (1,66%)
yang telah diberikan ijin oleh Bupati/Gubernur sejak diterbitkan SK Menhut
tentang Hutan Kemasyarakatan (2007), Hutan Tanaman Rakyat (2007) dan
Hutan Desa (2008). Kebijakan ini dipandang sebagai salah satu upaya
untuk menekan laju deforestasi di Indonesia yang pada tahun 2007
menempatkannya sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di
dunia dan negara emitor ketiga setelah USA dan China (World Bank,
2007). Banyak pihak memandang kebijakan ini sebagai pengakuan negara
terhadap pengelolaan hutan oleh rakyat yang selama ini terabaikan,
namun mampu menjaga kelestarian alam dan memberikan kesejahteraan
bagi masyarakat. Bagi masyarakat, hutan tak hanya memiliki makna
ekologis, tetapi juga sosial, budaya dan ekonomi.
Info Brief ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi
Kehutanan Masyarakat (KM) yang diterbitkan dalam 4 seri:
1.
2.
3.
4.

tentang

Hutan Kemasyarakatan (HKm)
Hutan Desa (HD)
Hutan Tanaman Rakyat (HTR)
Mempersiapkan Komunitas Pengelola Hutan dalam REDD

Harapannya, Info Brief ini mampu menjadi jendela informasi bagi
masyarakat sekitar hutan untuk memperoleh hak kelolanya dan sekaligus
mendorong percepatan pencapaian target pengembangan KM di
Indonesia.
Info Brief Seri ke-3 ini akan mengulas tentang kerangka kebijakan dan
prosedur perizinan Hutan Tanaman Rakyat (HTR), tantangan yang
dihadapi, dan kaitannya peran hutan desa dalam memperkuat hak kelola
rakyat dan mengurangi konflik kehutanan.
B.

KERANGKA KEBIJAKAN HUTAN TANAMAN RAKYAT (HTR)

"Kebijakan Pembangunan HTR terkait dengan kebijakan pemerintah dalam
mengentaskan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja baru dan
memperbaiki kualitas pertumbuhan melalui investasi yang proporsional
antar pelaku ekonomi"(Sambutan Menteri Kehutanan dalam Workshop
Pembangunan HTR tanggal 21-22 Februari 2007).
1

pola kemitraan. Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan dirubah menjadi PP 6/2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. P. koperasi atau badan usaha.64/Menhut-II/2008 tentang Standar Biaya Pembangunan HTI dan HTR. Dimana pemberian ijin tergantung dari bentuk usulan dan pengelolaan HTR secara individu.14/Menhut-II/2009 tentang perubahan permenhut No. Di dalam konsep HTR. P. 62/Menhut-II/2008 tentang Rencana Kerja Usaha Hasil Pemanfaatan Hutan Kayu HTI dan HTR Permenhut No. P.23/Menhut-II/2007 tentang Cara Permohonan Izin Usaha Pemanfatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Rakyat Dalam Hutan Tanaman. dengan tujuan agar masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan hutan mengelola sendiri sumber daya hutan yang ada demi meningkatkan kesejahteraannya. Pada tahun yang sama pemerintah kemudian mengeluarkan permenhut tentang HTR. P.23/Menhut-II/2007). Pemerintah telah menyediakan dana hingga RP 43. P. kelompok. Bagi keluarga diberi ijin hingga 15 ha hutan tanaman dan koperasi ditentukan berdasarkan kemampuannya (Pasal 8 Permenhut No. Kebijakan yang dikeluarkan terhadap HTR lebih lengkap meliputi :         Permenhut No.06/VI-BPHT/2007 tentang Petunjuk Teknis Pembangunan HTR Perdirjen BPK No. Permenhut No. Permenhut No. dan pola developer.06/VI-BPHT/2007 Keluarga. HD dan Hutan Kemitraan sebagai salah satu skema pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.Seiring dengan desakan masyarakat sipil terhadap pengakuan hak dan akses masyarakat di dalam dan sekitar hutan terhadap sumberdaya hutan tersebut kemudian PP 34/2004 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan.P. koperasi.2 triliun untuk program ini.5/Menhut-II/2008 tentang perubahan Permenhut No.23 Menhut-II/2007 Permenhut No. Selain menetapkan HKm. Bentuk HTR juga bisa dengan pola mandiri. P.06/VI-BPHT/2008 tentang perubahan Perdirjen BPK No. P. P.9/Menhut-II/2008 tentang Persyaratan Kelompok Tani Untuk Mendapatkan Pinjaman Dana Bergulir Pembangunan HTR Permenhut No. pemerintah memberi akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya yang dilindungi. Serta Pemanfaatan Hutan.P. Badan Usaha Milik Negara/Daerah/Swasta dapat melakukan penanaman kayu dan mendapatkan perijinan dari hutan negara dengan waktu hingga 100 tahun. 2 .P. menyediakan kredit melalui BLU (Badan Layanan Umum) dan peluangpeluang pasar.62/Menhut-II/2008 Kemudian Perdirjen Bina Produksi Kehutanan (BPK) No. kelompok. HTR hanya akan dikembangkan pada kawasan hutan produksi yang tidak dibebani hak (dimungkinkan dikembangkan di hutan konservasi kecuali Cagar Alam dan Zona Inti Taman Nasional). PP ini juga memberikan akses bagi masyarakat untuk memanfaatkan hutan secara legal dimana dalam hal ini terbuka pula kesempatan yang lebih luas untuk memanfaatkan hasil hutan kayu pada hutan tanaman melalui HTR atau Hutan Tanaman Rakyat.

Pemerintah menerbitkan SK IUPHHK-HTR ke individu dan menetapkan mitra. Persyaratan penerimaan dana bergulir kepada pemegang IUPHH-HTR juga telah diatur dalam P. dan pendampingan dari pemerintah. pasar. input/modal.9/Menhut-II/2008 dan standar pembiayaan pembangunan HTR berdasarkan P. namun jika pola yang dipakai adalah Pola Kemitraan atau Pola Developer maka perlu masih perlu penilaian terhadap otoritas pengelolaan hutannya antara masyarakat dan 3 . Sementara terdapat pola pengembangan HTR yang direncanakan yaitu : 1. pengajuan dan pengembalian kredit. Masyarakat lokal membentuk kelompok dan pemerintah mengalokasikan areal dan SK IUPHHK-HTR untuk setiap individu maupun kelompok. Berdasarkan Pasal 1 ayat 19 bahwa Hutan Tanaman Rakyat (HTR) adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan. BUMN/S sebagai developer membangun HTR dan selanjutnya diserahkan oleh pemerintah kepada masyarakat. 2. PROSEDUR PERIZINAN DAN PELAKSANAAN HUTAN TANAMAN RAKYAT Konsep HTR didesain dalam kerangka revitalisasi sektor kehutanan untuk meningkatkan kontribusi kehutanan terhadap pertumbuhan ekonomi. Mitra bertanggung jawab atas pendampingan. Jadi HTR lebih kepada pemberian hak kelola kepada individu/kelompok tani/koperasi dan bagaimana melibatkan mereka dalam bisnis perkayuan layaknya perusahaan dalam konsep HTI. Seharusnya ada pelimpahan ke gubernur atau ke kepala UPT/KPH di daerah. Namun karena BLU berada di Pusat (Kemenhut). HTR yang dimaksud adalah yang menggunakan Pola Mandiri. Sehingga efisiensi dan akses akan lebih mudah dijangkau oleh pemohon dana bergulir tersebut. Pola Kemitraan dengan HTI BUMN/S. Kemenhut telah membentuk Badan Pembiayaan Pembangunaan Kehutanan (BP2H) yang merupakan satuan kerja di Kementrian Kehutanan yang menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan pasal 18 Permenhut P. sangat sulit dan mahal biaya aksesnya bagi masyarakat desa hutan /koperasi.23/Menhut-II/2007. mengurangi pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Pemerintah memberikan SK IUPHHK-HTR yang selanjutnya biaya pembangunannya diperhitungkan sebagai pinjaman pemegang SK dan dikembalikan bertahap sesuai perjanjian. Pola Mandiri. Dalam konteks Kehutanan Masyarakat. C. 3. pelatihan dan pasar. Pola Developer.64/Menhut-II/2009. Masyarakat membentuk kelompok diajukan oleh Bupati dan Menhut. Badan ini yang akan memberikan pelayanan berupa penyediaan pembiayaan pembangunan hutan kepada peserta HTR. Masing-masing ketua kelompok bertanggung jawab atas pelaksanaan HTR.Dalam rangka mendorong percepatan pembangunan HTR.

000 yang ditembuskan kepada Dirjen BPK dan Kepala Baplan. provinsi atau kabupaten/kota. Kepala Baplan melakukan verifikasi peta usulan lokasi HTR lalu menyiapkan lokasi pencadangan areal HTR dan hasilnya disampaikan kepada Dirjen BPK. program pembangunan daerah kepada Bupati/Walikota dilampiri dengan peta lokasi HTR Skala 1: 50. Pemohon Perorangan/Kelompok tani (melalui Kepala Desa) dan Koperasi mengajukan permohonan IUPHHK-HTR kepada 4 . dengan demikian otoritas penanaman hingga pasar berada pada perusahaan. Kepala BPKH memberikan asistensi teknis kepada Dinas Kehutanan provinsi/kabupaten/kota berdasarkan petunjuk teknis dari Kepala Baplan. Sekjen DepHut melaksanakan sosialisasi tentang Pembiayaan Pembangunan HTR melalui BLU cq. Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota dan Kepala Balai BPKH. Menteri Kehutanan menerbitkan pencadangan areal untuk pembangunan HTR dan disampaikan kepada Bupati/Walikota dengan tembusan Gubernur 11. bisa melalui LSM pusat. Sekjen. RAPP di sektor Langgam. Alokasi dan Penetapan Areal Pembangunan HTR dilakukan oleh Menteri Kehutanan dengan Kriteria: Kawasan HP yang tidak produktif. Pusat Pembiayaan Pembangunan Kehutanan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota. semua aktifitas penyiapan lahan hingga pemanenan dilakukan perusahaan. Dirjen BPK melakukan sosialisasi program Pembangunan HTR dan peta arahan indikatif lokasi HTR kepada Gubernur dan Bupati/Walikota. oleh karena itu belum dapat dikatakan sebagai KM. Gubernur.perusahaan/developer. Dirjen BPK melakukan verifikasi administrasi dan teknis lalu menyiapkan konsep keputusan Menteri Kehutanan tentang penetapan lokasi pencadangan areal HTR dan dilampiri peta pencadangan areal HTR serta mengusulkannya kepada Menteri Kehutanan. Sementara masyarakat hanya mendapatkan hasil bersih keuntungan. Sedangkan mekanisme penetapan perizinan pembangunan HTR. 2. 5. dapat dilakukan oleh perorangan. kelompok tani maupun koperasi 1. Contohnya saja beberapa bentuk HTR yang ada di konsesi perusahaan PT. Adapun mekanisme penetapannya adalah sebagai berikut: 1. rehabilitasi dan reboisasi. 8. tidak dibebani izin/hak dan diutamakan dekat dengan Industri Hasil Hutan. 4. 9.000 7. Bupati/Walikota menyampaikan usulan rencana pembangunan HTR kepada Menteri Kehutanan dilampiri peta usulan lokasi HTR Skala 1: 50. Kepala DinasKehutanan Provinsi. 6. Kepala Dinas Kehutanan kabupaten/kota menyampaikan pertimbangan teknis kawasan areal tumpang tindih perizinan. Bupati/Walikota menyampaikan sosialisasi ke desa/masyarakat. Kepala Baplan atas nama Menteri Kehutanan menyampaikan peta arahan indikatif lokasi HTR per provinsi kepada Bupati dengan tembusan kepada : Dirjen BPK. 10. Untuk pembangunan HTR. 3.

Kepala Baplan dan Gubernur. Pemanfaatan hutan alam dalam memenuhi kebutuhan industri kehutanan saat ini sudah tidak dapat diharapkan lagi. 4. Sedangkan untuk Koperasi yakni Foto copy Akte Pendirian koperasi. Surat Keterangan dari Kepala Desa bahwa benar pemohon berdomisili di desa tersebut dan Sketsa areal yang dimohon dilampiri dengan susunan anggota Kelompok. Kepala BP2HP melakukan verifikasi persyaratan administrasi dan sketsa/peta areal yang dimohon hasilnya disampaikan kepada Bupati sebagai pertimbangan teknis. menyebabkan kurangnya suplai kayu untuk industri kehutanan. 5. menciptakan lapangan kerja baru (pro-job) dan memperbaiki kualitas pertumbuhan 5 .000 serta dilampiri dengan susunan anggota Koperasi. 7. Dirjen BPK. sejak tahun 2007 Pemerintah. Untuk mendukung kebijakan tersebut. khususnya Kementerian Kehutanan menggiatkan program Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang menangani bidang kehutanan melaporkan kepada Menteri kehutanan. Pengembangan hutan tanaman. 3. verifikasi lahan dan perpetaan dan hasilnya disampaikan kepada Bupati sebagai pertimbangan teknis. Kepala BPKH atau pihak lain yang mewakili melakukan pengukuran. Kebijakan HTR merupakan kebijakan Pemerintah yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan (pro-poor). pada areal yang telah dialokasikan dan ditetapkan oleh Menteri Kehutanan Persyaratan permohonan yang diajukan oleh Pemohon Perorangan/Kelompok Tani yakni Foto copy KTP.000 dengan tembusan Menteri Kehutanan. HUTAN TANAMAN RAKYAT: Hak Kelola Rakyat dan penyelesaian konflik kehutanan HTR dan Hak Kelola Rakyat Salah satu dari enam kebijakan prioritas pembangunan kehutanan tahun 2010-2014 adalah Revitalisasi Pemanfaatan Hutan dan Industri Kehutanan. Surat Keterangan dari Kepala Desa bahwa benar Koperasi dibentuk di desa tersebut dan Peta areal yang dimohon dilampiri dengan Skala 1:5000 atau 1:10. rekapitulasi penerbitan Keputusan IUPHHK-HTR secara periodik tiap 3 (tiga) bulan. D. Kondisi hutan alam yang terdegradasi akibat illegal logging dan kebakaran hutan. 6. Bupati/ Walikota menerbitkan Keputusan IUPHHK-HTR kepada Pemohon atas nama Menteri Kehutanan yang dilampiri peta areal kerja skala 1: 50. Bupati/Walikota. baik hutan tanaman industri maupun hutan tanaman rakyat merupakan salah cara untuk memenuhi kebutuhan industri kayu nasional. Kepala Desa melakukan verifikasi keabsahan persyaratan permohonan oleh Pemohon dan membuat rekomendasi kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Camat dan Kepala BP2HP.2.

663 hektar. Kebijakan HTR memberikan akses lebih kepada masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan. maka diperlukan sebuah konsep tentang HTR agar hal ini dapat diantarkan dengan mudah kepada masyarakat. HTR merupakan hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh perorangan atau kelompok masyarakat dan koperasi untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan.827 IUPHHK-HTR perorangan dengan total areal seluas 126. memanfaatkan secara maksimal dan lestari lahan-lahan yang tidak produktif. Dari hal diatas maka HTR dibangun dalam kerangka pengelolahan hutan yang berbasis masyarakat. Kementerian Kehutanan mentargetkan HTR seluas 5. mempercepat usaha rehabilitasi lahan. 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan. sayuran dan pakan ternak. dengan sangat pentingnya HTR ini. Yang nantinya dapat dijadikan sebagai suatu program pemberdayaan hutan masyarakat yang dapat memberikan peranan antara lain. umbi-umbian. Dimana hutan tanaman rakyat merupakan suatu lahan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok untuk produksi dengan luasan tertentu. Rencana Pengelolaan serta Pemanfaatan Hutan. dan penetapan harga dasar kayu HTR untuk melindungi dan memberikan akses pasar kepada masyarakat. Untuk itu. Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan. Peraturan Pemerintah No. meningkatkan pendapatan petani. Dengan adanya suatu pengelolahan HTR maka dapat dijadikan suatu tonjakan awal pembangunan hutan di Indonesia.4 juta hektar. Implementasi program HTR dalam 4 tahun ini tergolong masih rendah. menghasilkan kayu kayu bahan bangunan dan bahan baku industry. Pada tahap pertama pembangunan hutan tanaman rakyat sebaiknya dipusatkan pada kawasan hutan produksi yang sudah disediakan untuk pembangunan HTI namun dalam kondisi terlantar atau tidak lagi dimanfaatkan.melalui investasi yang proporsional antar pelaku ekonomi (pro-growth).menghasilkan buah-buahan. serta telah diterbitkan IUPHHK-HTR di 30 kabupaten dengan 49 IUPPHHK HTR koperasi dan 11. menghasilkan kayu bakar. oleh karena itu untuk mencapai target yang diharapkan diperlukan upayaupaya untuk mempercepat implementasi program HTR tersebut. Untuk itu Departemen Kehutanan perlu melakukan kajian dan penilaian ulang secara lebih rinci terhadap status serta kondisi kawasan hutan produksi yang sudah ditetapkan atau dicadangkan untuk pembangunan HTI. khususnya pasal 40 dan 41 mengatur mengenai penetapan areal untuk HTR.5%). Kementerian Kehutanan mencatat bahwa sejak diluncurkan pada tahun 2007 sampai dengan saat ini telah 103 kabupaten yang memperoleh pencadangan HTR dari Menteri Kehutanan dengan total tareal seluas 650. Dengan demikian kebijakan HTR juga merupakan salah satu upaya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk mengatasi kemiskinan melalui pemberian akses yang lebih luas ke hukum. bahan obat-obatan. lembaga keuangan dan pasar. akses ke lembaga keuangan.978 hektar (19. Dari sekitar 9 juta hektar 6 .

disisi lain tidak adanya partisipasi dan kurangnya akurasi dalam skala peta. sekitar 2. Walaupun ada peta padu serasi antara TGHK dan RTWRP. dapat ditawarkan ulang kepada perusahaan (asing.67%).628 ha (11. Sampai saat ini masalah utama dalam pengajuan HTR adalah tumpang tindih dengan kawasan konsesi perusahaan. kawasan pertanian masyarakat termasuk masyarakat adat termasuk dalam kawasan hutan. HTR dan Penyelesaian Konflik Kehutanan Berdasarkan Permenhut HTR. Selebihnya. Beberapa tantangan yang masih ditemui dalam pengembangannya. Hal ini mengakibatkan banyaknya kawasan permukiman. saat ini ada beberapa peluang dalam pemberian akses dan kelola hutan oleh negara ke masyarakat dengan skema yang ada walaupun statusnya masih pada hutan negara. dari luas 6 juta hektar tersebut sekitar 60 % atau sekitar 3. Sedikitnya 13. Hutan tanaman rakyat juga sebaiknya dikembangkan dalam bentuk atau sebagai bagian dari hutan desa atau hutan adat.414. Penunjukan kawasan hutan melalui TGHK yang dibuat secara politik dan administrasi menghasilkan banyak distorsi.6 juta hektar dapat disediakan bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk membangun hutan tanaman.000 desa yang masuk dalam kawasan hutan dimana dulunya kawasan tersebut merupakan kawasan hutan negara yang dikelola oleh perusahaan maupun ditetapkan sebagai HL.4 juta hektar. pencapaian target HTR masih jauh dari yang direncanakan dimana hingga tahun 2014 sekitar 5. Padahal desa-desa tersebut sudah hadir terlebih dahulu sebelum adanya penetapan kawasan hutan sejak tahun 1979. belum ada penyelesaian peta secara nasional tentang tumpang tindih antara kawasan hutan dan kepemilikan masyarakat.89 ha (1. KSA dan KPA.7%) dan baru mendapat menetapkan hanya 90. E. diantaranya: 7 . pertanian bahkan pengusaan lahan oleh pihak lain. namun hasilnya tidak memperlihatkan kondisi riil di lapangan. Hingga saat ini. nasional ataupun lokal) yang benar-benar berminat dan mempunyai kemampuan membangun HTI. Pada umumnya kawasan hutan yang diusulkan bagi HTR berada dalam situasi berkonflik dengan kawasan permukiman.4 juta ha. TANTANGAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN RAKYAT Sampai saat ini.kawasan hutan produksi yang sudah disediakan untuk membangun HTI. Saat ini Kemenhut baru mencadangkan areal HTR seluas 631. Redistribusi asset dan tenurial hutan bagi masyarakat ini harus dianggap sebagai tahap awal reformasi tenurial hutan dan menjadi sebuah langkah pragmatis. Oleh sebab itu. termasuk koperasi masyarakat. Hutan tanaman rakyat tersebut dapat dikembangkan melalui pemberian hak pengusahaan atau ijin pemanfaatan hutan tanaman kepada perorangan maupun kelompok. sekitar 6 juta hektar belum ditanami atau tidak berhasil penanamannya.

disisi lain tidak adanya partisipasi dan kurangnya akurasi dalam skala peta. belum ada penyelesaian peta secara nasional tentang tumpang tindih antara kawasan hutan dan kepemilikan masyarakat. Namun dalam kenyataannya tenaga kerja dan penyuluh tersebut tidak ada hingga saat ini. Sampai saat ini masalah utama dalam pengajuan HTR adalah tumpang tindih dengan kawasan konsesi perusahaan. Terkesan bahwa LSM atau organisasi 8 . Belajar dari pengalaman pembangunan HTI. Hingga saat ini. Penunjukan kawasan hutan melalui TGHK menghasilkan banyak distors. namun hasilnya tidak memperlihatkan kondisi riil di lapangan. pertanian bahkan pengusaan lahan oleh pihak lain. Padahal desa-desa tersebut sudah hadir terlebih dahulu sebelum adanya penetapan kawasan hutan sejak tahun 1979.23/2007 tersebut dan pasal 1 ayat 7 Permenhut P. kawasan pertanian masyarakat termasuk masyarakat adat termasuk dalam kawasan hutan. kecuali apabila kelompok masyarakat tersebut sudah mampu memiliki industri dan membangun jaringan pasar secara mandiri.Pada umumnya kawasan hutan yang diusulkan bagi HTR berkonflik dengan kawasan permukiman. tetapi berada pada dinas lain dan hanya bersifat koordinasi dengan dishut. organisasi peduli lingkungan dan LSM yang bersifat teknis untuk penguatan kelembagaan dan pendampingan masyarakat yang ditunjuk oleh Bupati. KSA dan KPA. Kelemahannya adalah tidak terfokus dan terdukungnya tenaga pendamping kehutanan dalam memfasilitasi ketiga bentuk KM ini. namun tidak ada disebutkan pembiayaan terkait fasilitasi dan pendampingan tersebut.000 desa yang masuk dalam kawasan hutan dimana dulunya kawasan tersebut merupakan kawasan hutan negara yang dikelola oleh perusahaan maupun ditetapkan sebagai HL. Ketiga ada proses penunjukkan LSM dalam pendampingan HTR dan penguatan organisasi.9/Menhut-II/2008 disebutkan bahwa dalam pengembangan HTR diperlukan tenaga penyuluh lapangan kehutanan. Demikian juga dalam proses fasilitasi HTR berdasarkan P. tenaga kerja sarjana terdidik. Walaupun ada peta padu serasi antara TGHK dan RTWRP. Sementara itu kendala yang akan menghambat atau menggagalkan pengembangan hutan tanaman oleh rakyat adalah ketersediaan modal untuk membangun hutan tanaman dan kemungkinan sulitnya pemasaran hasil tanaman. Seharusnya perekrutan tenaga sarjana terdidik dan pendamping bisa juga dilakukan oleh pemerintah pusat dan ditempatkan di kabupaten dibawah koordinasi KPH atau UPT terkait. tenaga kerja sarjana kehutanan dan pertanian dalam arti luas. Sedikitnya 13. Ada beberapa kabupaten seperti Kabupaten Lampung Barat telah menyediakan tenaga penyuluh kehutanan. koperasi/LSM. ternyata HTI yang berhasil adalah HTI yang dibangun secara swadana oleh perusahaan dan siap dengan industri yang akan menampung hasilnya. Hal ini mengakibatkan banyaknya kawasan permukiman. Yang kedua penunjukkan tenaga kerja oleh Bupati pada saat ini masih terkendala pada pemahaman dan terbatasnya anggaran perekrutan. Untuk itu masyarakat yang membangun hutan tanaman harus membentuk kelompok untuk bermitra dengan industri pengolahan atau pemasaran kayu. tenaga kerja sosial.

37/2007. Proses administrasi dan perijinan tata usaha kayu bagi HTR sama dengan proses adminsitrasi dan perijinan tata kelola bagi perusahaan HPH/HTI. pengamanan areal. kopi dan lain-lainnya jelas konsep HTR kalah menarik dan kurang menguntungkan. padahal setelah mendapat ijin.pendamping memiliki sumber pendanaan. Perguruan Tinggi dan pemerintah daerah. Karena pemberian akses pengelolaan hutan dengan jenis HTR bersifat izin selayaknya izin HTI. Yang menjadi sulit dalam pembiayaan jika pemerintah telah memberi status ijin baik kepada HTR. Hal ini terlihat dari kewajiban-kewajian yang dibebankan kepada pemegang hak HTR serta provisi yang dibebankannya. Proses penanaman hingga pemanenan dan adminstrasi HTR cukup rumit karena berlaku seperti layaknya pemegang Ijin HTI. harus ada penyederhanaan dan kemudahan. Pembatasan pemanfaatan hasil hutan non kayu yaitu sebanyak 20 ton dan hasil kayu tidak boleh melebihi dari 50 m3 per pemegang hak (berdasarkan pasal 17 ayat 6 dan 7 Permenhut P. kalau niatannya pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. jika tidak ada dukungan dan fasilitasi dari pihak ketiga seperti LSM. rencana umum dan rencana operasional yang sangat rumit. Beberapa kendala di masyarakat saat ini seperti kasus HKm di Lampung Barat adalah sulitnya pengisian terhadap rencana umum dan rencana operasional. serta pasal 32 dan 33 Permenhut P. masih banyak kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan seperti tata batas. Oleh karena itu. pengisian rencana umum dan rencana operasi HTR tidak dapat dilakukan oleh masyarakat pemegang hak. Sehingga tidak ada kebijakan khusus dan unsur pemberdayaannya. Jika dibandingkan dengan proses administrasi dan tata kelola perkebunan kelapa sawit. Yang membedakannya dengan HKm dan HD adalah bahwa kemenhut menyediakan dana bergulir dengan bunga rendah bagi proses pengembangan HTR. penataan tata usaha pemanfaatan hasil hutan. Dengan kata lain. Serta adanya rencana pemanfaatan kayu pada kawasan HP jika masyarakat ingin memanfaatkannya. seharusnya bentuk perizinan HTR baik itu secara administrasi dan perpajakan tidak disamakan dengan perusahaan HPH/HTI.49/2008) sangat tidak sebanding dengan upaya yang dilakukan dalam mendapatkan ijin pemanfaatan kayu yang prosesnya rumit hingga ke menteri kehutanan. oleh karena itu sangat berat bagi kelompok atau koperasi untuk melakukannya tanpa ada pendampingan intensif pada proses ini. Beberapa tantangan lainnya. Proses yang demikian rumit dan panjang tidak memberi insentif pengembangan HTR dan peluang bagi kelompok petani miskin hutan. maka kemenhut dan pemerintah daerah tidak dapat menggangarkan pembiayaan untuk proses fasilitasi setelah izin keluar. dan laporan kerja pemanfatan hasil hutan kepada pemberi ijin. Seharusnya pemerintah menyiapkan pendanaan untuk organisasi tersebut layaknya seperti PNPM. karet. diantaranya: 9 .

atau kayu hasil tanaman sulit dipasarkan. Penetapan lokasi yang keliru dan tapaknya tidak sesuai dengan jenis yang ditanam menyebabkan tanaman berdaya hasil. 7. jangka waktu pemanfaatan maupun pengalihan ijin pemanfaatan.4/Februari. Daftar Bacaan Andri Santosa dan Mangarah Silalahi. (2011). Bogor. Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan 10 . biaya pembangunan tanaman menjadi mahal. Warta Tenure No. 5. (2011). 2. maupun pembiayaan untuk pembangunan tanaman. (2007). FKKM.1. Kementerian Kehutanan. Laporan Kajian Kebijakan Kehutanan Masyarakat dan Kesiapannya dalam REDD+. Kawasan yang ditetapkan menjadi areal hutan tanaman tidak menjamin kepastian usaha. 6. Emilia dan Suwito. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan. Kemampuan masyarakat untuk membangun dan mengelola hutan tanaman umumnya rendah. 4. Serangan hama-penyakit akibat pengembangan hutan tanaman sejenis dan kebakaran hutan akibat pembukaan lahan menggunakan cara pembakaran. Hutan Tanaman Rakyat: Agenda baru untuk pengentasan kemiskinan?. Ketidakpastian pasar dan harga jual dari kayu hasil tanaman masyarakat. 3. ditinjau dari sisi mutu sumberdaya manusia. ditinjau dari sisi penguasaan lahan. Pendampingan Hutan Tanaman Rakyat (HTR). peralatan. Kelembagaan masyarakat untuk melakukan usaha hutan tanaman masih lemah bahkan di banyak desa belum tersedia. Minat masyarakat untuk mengembangkan hutan tanaman umumnya rendah karena tanaman hutan memerlukan waktu cukup lama untuk siap dipanen.