Anda di halaman 1dari 3

Pengukuran Detil Situasi dan Garis Pantai

Detil situasi yang dimaksud disini adalah unsur-unsur yang terdapat di sepanjang
pantai, yang sering kali ikut tergambarkan pada peta-peta laut. Untuk keperluan pelayaran,
detil situasi dibutuhkan oleh pelaut untuk melakukan navigasi secara visual. Artinya, detil
tersebut dibutuhkan oleh pelaut untuk membantunya dalam penentuan posisi kapal.
Seberapa jauh detil yang harus diukur untuk keperluan pembuatan peta laut sangat
tergantung dari tujuan pembuatan peta lautnya. Semakin besar skala peta yang akan dibuat,
akan semakin rapat detil situasi yang harus diukur.
a) Garis Pantai
Garis pantai merupakan garis pertemuan antara pantai (daratan) dan air (laut).
Walaupun secara periodik permukaan air laut selalu berubah, suatu tinggi muka
air tertentu yang tetap harus dipilih untuk menjelaskan fisik garis pantai. Pada peta
laut biasanya digunakan garis air tinggi (high water line) sebagai garis pantai.
Sedangkan untuk acuan kedalaman biasanya digunakan garis air rendah (low
water line).
b) Pengukuran Detil Situasi dan Garis Pantai
Pengukuran detil situasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data detil pada
permukaan bumi (unsur alam maupun buatan manusia) yang diperlukan bagi
pelaksanaan pemetaan situasi yang bertujuan memberikan gambaran situasi secara
lengkap pada suatu daerah di sepanjang pantai dengan skala tertentu untuk
berbagai keperluan. Sedangkan pengukuran garis pantai dimaksudkan untuk
memperoleh garis pemisah antara daratan (permukaan bumi yang tidak tergenang)
dan lautan (permukaan bumi yang tergenang). Pada dasarnya pengukuran detil
situasi dan garis pantai juga merupakan kegiatan penentuan posisi titik-titik detil
sepanjang topografi pantai dan teknik-teknik yang terletak pada garis pantai.
Salah satu metode untuk melakukan pengukuran garis pantai dapat digunakan
metode tachimetri. Metode tachimetri merupakan metode yang paling sering
digunakan untuk pemetaan daerah yang luas dengan detil yang tidak beraturan.
Kerangka dasar merupakan titik yang diketahui koordinatnya dalam sistem
tertentu yang mempunyai fungsi sebagai pengikat dan pengontrol ukuran baru.
Mengingat fungsinya, titik-titk kerangka dasar harus ditempatkan menyebar

maka jarak mendatar (D) dapat dihitung dengan rumus: .2 Prinsip Dasar Metode Tachimetri Sebelum menghitung jarak mendatar (D).merata diseluruh daerah yang akan dipetakkan dengan kerapatan tertentu. terlebih dahulu dihitung jarak kiring (Dm). Dengan adanya titik-titik kerangka dasar maka koordinat titi detil untuk pengukuran garis pantai dapat dihitung dengan sistem koordinat yang sama dengan kerangka dasar tersebut. atau Dm = 100 (BA-BB)sin z Setelah jarak miring (Dm) dihitung. dan bacaan benang pada rambu ukur. yaitu kerangka dasar horisontal dan kerangka dasar vertikal. Dm = 100 (BA-BB)cos m. Terdapat dua macam titik kerangka dasar. tinggi alat. Besaran-besaran yang diukur dalam pengukuran detil dengan menggunakan metode tachimetri adalah: sudut horisontal. Prinsip dasar yang digunakan untuk pengukuran detil dengan menggunakan metode tachimetri adalah sebagai berikut: m r i s p a n t a i Z r i s Ta r i s p a n t a i p a n t a i D BA BT r BB i rs i s p a p n a t n a ti a i T r i s p a ΔHab n t r a i i s p a n t a i Gambar 2. sudut vertikal.

D = Dm cos m atau D = Dm sin z Sedangkan untuk penentuan beda tinggi (ΔHAB) adalah sebagai berikut: ΔHAB = Ta + TPA + D tan m – BT – TPB dimana: Ta = Tinggi alat TPA = Tinggi patok di titik A D = Jarak mendatar m = Jarak miring BT = Bacaan benang tengah pada rambu TPB = Tinggi patok di titik B Sehingga koordinat titik B dapat diperoleh dengan rumus: XB = XA + Dsinα YB = YA + Dcosα HB = HA + ΔHAB .