Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGOLAHAN PANGAN

PENGGORENGAN DENGAN PASIR

Oleh:
Yesica Fayarinda Hapsari
NIM A1H012073

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penggorengan merupakan merupakan proses pemasakan yang unik,
menarik, dan banyak dilakukan oleh kebanyakan orang. Penggorengan sudah
banyak diterapkan sejak lama sampai kini danbanyak ragam makanan yang
dimasak secara proses tersebut penggorengan merupakan salah satu aktivitas
penting dan banyak dijumpai dalam industri pengolahan pangan, baik industri
berskala kecil maupun industri pangan berskala menengah. Ditinjau dari segi
waktu proses pemasakan, penggorengan adalah salah satu cara pemasakan produk
pangan yang dilakukan secara cepat, dan cara ini dianggap paling efisien proses
transfer panasnya ke produk pangan yang dimasak. Selain menggunakan media
minyak, ada juga penggorengan yang dilakukan tanpa menggunakan minyak ,
melainkan menggunakan pasir.
Terdapat dua metode penggorengan, yaitu shallow frying dan deep fat
frying. Pada metode pertama pindah panas terjadi terutama secara konduksi dan
permukaan wajan melalui lapisan minyak. Pada metode kedua pindah panas yang
terjadi adalah kombinasi antara konveksi dalam minyak dan konduksi dalam
bahan pangan.
Saat ini penggorengan dengan minyak lebih banyak digemari dikalangan
masyarakat. Namun banyak efek samping yang ditimbulkan seperti makanan yang
digoreng dengan minyak dan beberapa gangguan kesehatan seperti kolesterol,
kanker dan lain-lain. Kini ada alternatife penggorengan selain menggunakan

Mahasiswa dapat mengetahui proses penggorengan dengan pasir. 2.minyak goreng dapat dilakukan dengan menggunakan pasir. TINAJAUAN PUSTAKA . Tujuan 1. Pada praktikum ini mempelajari tentang penggorengan krupuk dengan pasir B. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip-prinsip teknik pengolahan pangan dalam proses penggorengan dengan pasir. II.

Penggorengan juga berfungsi mengawetkan makanan karena adanya destruksi mikroorganisme dan aktivitas enzim oleh panas. Timbul flavor khas gorengan yang tidak ditemui pada cara pengolahan bahan pangan yang lain. Dibandingkan cara pengolahan yang lain. Penggorengan adalah salah satu proses pengolahan makanan yang digunakan untuk mengubah kualitas bahan pangan. aplikasi panas. penggorengan biasanya bersifat cepat karena perubahan pada bahan pangan memerlukan waktu yang lebih singkat pada suhu tinggi. Pengolahan degan aplikasi panas dengan minyak contohnya ialah penggorengan.Pengolahan bahan pangan terdapat banyak cara untuk mengolah bahan tersebut. serta karena penurunan aw pada pemukaan bahan pangan. Penggorengan merupakan suatu proses pemanasan bahan pangan menggunakan medium minyak goreng. Produk goreng umumnya mengandung proporsi resapan minyak goreng yang tinggi sebagai akibat kontak bahan pangan dengan minyak goreng selama proses penggorengan. dan post processing. jika digoreng dengan dalam bentuk irisan tipis. Di mana bahan pangan diletakkan di dalam minyak panas kemudian suhu permukaan akan meningkat dengan cepat dan air menguap karena air yang ada di permukaan telah . Salah satu cara pengolahan makanan adalah dengan menggoreng. pelepasan panas. Sifat produk hasil penggorengan juga khas. Penggorengan adalah suatu operasi yang digunakan untuk mengubah mutu makan suatu bahan pangan dengan menggunakan minyak sebagai media panas. Bahan makanan menjadi kering karena ada proses hidrasi sebagai akibat pindah panas dari minyak goreng ke bahan. diantaranya pengolahan dilakukan pada kondisi suhu ruang.

maka bahan mentah yang akandigoreng dibuat dalam bentuk kecil-kecil seperti dipotong dadu atau diiris tipis-tipis.1996) Ada dua macam metode frying yang dapat digunakan. daging. Minyak goreng yang digunakan berguna sebagai penghantar panas. dan penambah nilai kalori bahan pangan. penambah rasa gurih. Perpindahan panas ditransfer secara konveksi yaitu di dalam minyak goreng dan jugaterjadi perpindahan panas secara konduksi yaitu di dalam bahan pangan itu sendiri. maka air pada bagian dalam bahan pangan akan ikut teruapkan seluruhnya sehingga bahan menjadi kering.diuapkan semua. Deep Fat Frying Penggorengan dengan minyak melimpah. ayam. Contoh bahan pangan yang cocok untuk metode ini adalah pisang. (Gould. (Winarno dkk. dan lainsebagainya. yaitu: a. dan bahan pangan terbenam di dalam minyak panas. cahaya dan panas. 1980) Untuk mempercepat proses frying ini. maka permukaan bahan menjadi kering dan terbentuk lapisan kulit. Keuntungannya yaitu lebih sukar terjadi oksidasi pada bahan pangan dan panaslebih cepat merata. Namun dengan adanya minyak yang digunakan untuk menggoreng kerupuk terdapat kontak terhadap bahan pangan dengan minyak sehingga ada sebagian minyak yang tertinggal pada bahan pangan dan minyak yang tertinggal pada bahan pangan akan dapat memacu terjadinya oksidasi bila pengemasan tidak dilakukan di ruang yang kedap oksigenatau hampa udara. Bila penggorengan terus dilakukan panas akan mencapai bagian dalam dari bahan pangan tersebut. Kelemahannya adalah uap air yang keluar dari .

beberapa jenis makanan yang mudah rusak dengan panas maka harus dilakukan penggorengan dalam waktu yang singkat. Ukuran. semakin besar ukuran bahan (tebal) yang digoreng maka semakin lama waktu penggorengannya dan sebaliknya.bahan tidak bisa keluar langsung ke udara bebas tapi terjebak di dalam minyak panas sehingga menunjang terjadinyahidrolisis. Kelemahannya adalah panas yang kurang merata dan tidak cepat mencapai suhu yangdiinginkan. seperti misalnya krupuk atau telur dengan konduktivitas tinggi maka waktu penggorengan perlu dikurangi. . 3. 4. Jenis bahan atau makanan yang digunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggorengan antara lain: 1. Keuntungannya adalah lebih efisien dan tidak banyak minyak yang kontak dengan bahan. Panas ditansfer ke bahan pangan secara konduksi dari permukaan wajan melaluilapisan tipis minyak (Fellows. kelembapan dan karakteristik permukaan bahan. Suhu dan waktu penggorengan. untuk deep fat frying yang lebih cepat merata panasnya maka akan butuh waktu yang lebih singkat daripada shallow contact frying. 2. minyak yang digunakan sudah dipanaskan terlebih dahulu atau belum. sehingga bahan pangan lebih mudah teroksidasi. Makin tinggi suhu penggorengan maka makin cepat penggorengan bahan pangan. Kondisi minyak.1990). Shallow Contact Frying Penggorengan bahan pangan ini dilakukan dengan menggunakan minyak yang terbatas jumlahnya dan biasanya digunakan untuk bahan pangan seperti burger atau pastel. bila terlalu tinggi suhu penggorengan dapat mendukung terjadinya oksidasi danhidrolisis. b. Metode penggorengan.namun mudah kontak dengan oksigen.

METODOLOGI A. Stopwatch 12. III. Sumber listrik . Kerupuk 3. Alat Penggorengan Dengan Pasir (hot and frying)/ HSF D-50 2. Pengaduk/serok kerupuk 10.1990). Korek api 8. Alat dan Bahan 1. Alat ukur suhu/temometer infrared 6. Perlakuan sebelum penggorengan. Macaroni 4. Tabung gas 7. perlakuan sebelum penggorengan misalnya direndam di larutan air garam atau air kapur terlebih dahulu (Fellows. Penyaring kerupuk 11.5. Pasir kali Logawa 5. Timbangan 9.

Memasukkan macaroni dan kerupuk ke dalam silinder penggorengan.1. Memanaskan pasir selama 15 menit hingga suhu 150oC. 5. Mengatur gas (regulator) dan mengatur putaran. . B. 6. Prosedur Kerja Menyiapkan alat dan bahan. 2. Menyalakan kompor dengan korek api. Setelah matang memutar tuas penggerak berlawanan jarum jam untuk mengeluarkan bahan dan pasir. 4. 3. 7. Memutar tuas penggerak searah jarum jam hingga bahan matang.

HASIL DAN PEMBAHASAN A.IV. HSF D-50 Tampak Samping dan Belakang Tuas Pemutar Silinder Penggorengan Penyaring Corong Pengeluaran Gambar 2. Hasil Silinder Penggorengan Poros. HSF D-50 Tampak Depan . Rantai dan Gear Selang Gas dan Regulator Rangka Alat Gambar 1.

Silinder penggorengan Silinder ini berfungsi sebagai tempat penggorengan berlangsung yang mana didalamnya terdapat pasir dan bahan yang akan di goreng. . Lubang Pemasukan pada HSF D-50 Bagian-bagian dari alat tersebut adalah sebagai berikut: 1. Gear dan rantai Gear dan rantai digunakan untuk mentransmisikan daya dari putaran tuas secara manual. 2. Apabila tuas ini diputar searah jarum jam maka proses penggorengan berlangsung dan apabila tuas diputas berlawan dengan arah jarum jam maka proses pengeluaran pasir dan bahan. Tuas penggerak Tuas penggerak ini berfungsi untuk memutar mesin secara manual dimana masih menggunakan tenaga manusia. 5. Termometer Termometer ini digunakan untuk mengukur dinding peggorengan selama proses berlangsung. Pengatur gas Pengatur gas ini digunakan untuk mengatur banyak sedikitnya gas LPG yang digunakan untuk penggorengan. 3. 6.Lubang Pemasukan Gambar 3. Lubang exhaust Lubang exhaust berfungsi untuk mengeluarkan uap selama penggorengan. 4.

suhu dan waktu. Faktor ini akan memberikan hasil yang berbeda baik pada sifat fisiknya maupun kandungan zatnya. 5. Proses penggorengan kerupuk dan makaroni pada praktikum ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. 4. Menyalakan kompor dengan korek api. 6. . Memutar tuas penggerak searah jarum jam hingga bahan matang. Menyiapkan alat dan bahan. Setelah matang memutar tuas penggerak berlawanan jarum jam untuk mengeluarkan bahan dan pasir. Memasukkan macaroni dan kerupuk ke dalam silinder penggorengan. mempermudah proses pencernaan. Gas LPG Gas LPG merupakan sumber panas atau api 8. 7. meningkatkan penampilan dan mematikan bakteri. 3. Pembahasan Menggoreng merupakan proses pemanasan makanan yang berfungsi untuk meningkatkan rasa. 2. Proses pemanasan dipengaruhi oleh jenis alat. Memanaskan pasir selama 15 menit hingga suhu 150oC. Wadah atau penampung Digunakan untuk menampung hasil penggorengan.7. Pemanasan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. B. Mengatur gas (regulator) dan mengatur putaran. Pemanasan langsung dilakukan dengan memanaskan di atas api langsung atau dengan zat perantara seperti air dan minyak. sedangkan pemanasan tidak langsung dilakukan dengan menggunakan udara panas atau uap air.

Keuntungan yang diperoleh antara lain : 1. cara seperti ini dikenal dengan istilah goreng pasir panas (hot sand frying) Pada umumnya penggorengan dilakukan dengan menggunakan minyak. Produk dapat dilakukan rekondisi jika mengalami penurunan kerenyahan yaitu dengan dijemur di bawah sinar matahari atau dengan pemansan pada suhu yang tidak terlalu tinggi (350C-450C) (Siswantoro et al. Penggorengan dapat dilakukan dengan menggunakan zat penghantar panas seperti pasir. Cara melalui media penghantar panas dapat dilakukan menggunakan butiran padat yang biasanya digunakan pasir. Produk menjadi lebih tahan lama dibandinkang dengan digoreng dengan minyak goreng. 2008). 2. Produk yang digoreng tidak mengandung minyak goreng sehingga tidak mudah mengalami ketengikan. Mengurangi ketergantungan penggorengan menggunakan minyak goring. Cara konduksi terjadi antara dinding pemanas dengan produk. Kekurangan dari penggorengan dengan media penghantar panas antara lain sebagai berikut: . 3. Pasir yang digunakan sebgai penghantar panas mudah didapatkan karena pasir banyak tersedia disekitar kita. penggorengan tanpa minyak dapat dilakukan melalui kontak langsung secara konduksi dan melalui media pengantar panas. 4. Penggorengan menggunakan pasir memiliki beberapa keuntungan.Ditinjau dari proses transfer panasnya. Ini termasuk dalam proses penggorengan langsung. Produk akan menyerap minyak selama proses penggorengan sehingga akan menyebabkan produk tersebut menjdi tengik.

Namun kondisi saat ini masyarakat sudah jarang yang menggunakan tungku karena lebih memilih menggunakan kompor gas. sehingga untuk masyarakat kecil memilih minyak goring untuk menggoreng karena lebih mudah didapatkan dan lebih murah daripada pasir. Produk hasil gorengan pasir tidak mendapat tambahan rasa gurih yang diakibatkan dari penyerapan minyak goring ke dalam produk. 4. Ketika pasir tidak tersedia maka harus membeli.1. Produk yang dihasilkan setelah penggorengan perlu dilakukan pembersihan karena pasir-pasir masih menempel pada produk dan membahayakan bila termakan. 3. 5. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak yang dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan. Tempat pemanasan haruslah kuat. 7. 6. Mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan minyak goreng dan dapat mencegah terjadinya penyakit kolesterol. . 2. seperti tungku. 2. sehingga pasir tidak mudah lengket pada produk hasil gorengan. Ada beberapa manfaat yang diperoleh dari penggorengan dengan menggunakan pasir diantaranya sebagai berikut: 1. Apabila hanya menggunakan wajan seperti biasa tidaklah kuat. Waktu penggorengan yang lama dan memerlukan tenaga yang lebih besar saat pengadukan karena pasir juga ikut teraduk. Produk yang digoreng harus produk yang bersifat kering. diabetes karena kandungan pada minyak goreng. dan harga pasir tidaklah murah. Selain mudah di dapat juga praktis. jantung. Dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap produk hasil gorengan yang menggunakan minyak yang digunakan secara berulang kali. Peralatan yang digunakan untuk penggorengan berpasir ini harus kokoh untuk menahan beban pasir dan produk. 3.

m2. Jika produk yang digoreng merupakan produk yang masih berkulit maka direkomendasikan untuk menggunakan pasir dengan diameter antara 0.5 78. Sebagai alternative penggunaan sumber daya alam yang murah dan mudah didapat.4 0.75 mm-2. Sedangkan . Tabel 1.15-0.00 67. 2008 Tabel 1 merupakan nilai rata-rata koefisien kontak panas permukaan (h) pasir yang digunakan Jenis Pasir Diameter Pasir (mm) Nilai h rata-rata (J/dt. Manfaat dalam mengatasi masalah pembangunan yaitu untuk pengembangan agro-industri. sebaiknya menggunakan pasir dengan diameter antara 0.75 mm.0C) Pasir sungai 0.3.00 mm karena pasir akan mudah menempel pada produk yang digoreng jika ukurannya semakin kecil.00-2. Untuk produk yang tidak berkulit saat dilakukan penggorengan.4.25-0.5-1. Artinya bahwa metode ini dapat menumbuh kembangkan sentra-sentra industri berskala kecil dan menengah yang bergerak dalam bidang penggorengan dengan menggunakan pasir sebagai media penghantar panas yang murah dan mudah didapat di lingkungan pedesaan. 5.00 69. Diameter pasir mempengaruhi proses penggorengen. Semakin kecil ukuran diameter pasir yang digunakan nilai kontak panas permukaan (h) akan semakin besar. Nilai rata-rata koefisien kontak panas permukaan (h) pasir yang digunakan. Sumber: Siswantoro.2 1.

40 119.9 Dari data dapat dilihat bahwa semakin kecil diameter pasir yang digunakan nilai h semakin besar. biji kakao. kopi. dan biji kacangkacangan. kakao. dan kacang.untuk pasir besi memiliki 0. 2008). Bahan yang diolah menggunakan penyangraian adalah biji kopi. Untuk proses penggorengan tanpa minyak selain menggunakan media pasir sebagai media penghantar panas ada beberapa cara lain yang sejenis dengan penggorengan dengan pasir antara lain: 1. Penyangraian secara manual menggunakan wajan baik yang terbuat dari besi maupun wajan yang terbentuk dari tanah. Contohnya penyangraian kerupuk.25-0.10-0. Dilihat dari transfer pansnya nilai h yang besar menghasilkan laju panas yang lebih baik dalam proses penggorengan (Siswantoro. Proses penyangraian dengan menggunakan wajan yaitu terjadi perpindahan panas dari permukaan pemanas ke dalam bahan. Pengolahan bahan pangan dengan cara penyangraian dapat dilakukan baik secara manual maupun menggunakan mesin. pasir besi memiliki nilai h lebih besar dari pasir sungai. Sehingga penyangraian dapat di artikan sebagai proses menggoreng bahan tanpa menggunakan minyak.6 0. Penyangraian Penyangraian menurut bahasa berasal dari kata sangrai yang artinya menggoreng tanpa minyak. Panas yang menyebabkan perubahan trmperatur tersebut disebut dengan panas . Banyak metode pengolahan makanan yang dilakukan tanpa menggunakan minyak. Panas yang masuk ke bahan menyebabkan perubahan suhu dalam bahan. Penyangraian adalah proses pindah panas baik tanpa media maupun mengunakan pasir dengan tujuan mendapatkan cita rasa tertentu.25 137.

ukuran media. 2. Apabila tuas ini diputar searah . tekanan. Prinsip-prinsip keteknikan pada penggorengan dengan pasir ini adalah adanya perpindahan panas seperti suhu. Bagian-bagian dari alat tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tuas penggerak Tuas penggerak ini berfungsi untuk memutar mesin secara manual dimana masih menggunakan tenaga manusia. Jadi penerapan ini berhubungan dengan mencari inovasi baru untuk teknik-teknik pengolahan makanan. Silinder penggorengan Silinder ini berfungsi sebagai tempat penggorengan berlangsung yang mana didalamnya terdapat pasir dan bahan yang akan di goring. Praktikum tentang penggorengan dengan pasir ini menggunakan mesin penggoreng pasir HSF TIPE D-50 manual. Selain itu untuk pengembangan mesin-mesin baru dalam hal pengolahan makanan terutama penggorengan dengan pasir ini.sensible. melalui media pasir sebagai pengganti minyak. koefisien pindah panas. 2. Kondisi ini akan berakhir ketika keadaan mulai jenuh yaitu bila suhu bahan semakin meningkat sampai mendekati suhu penyangraian. karakteristik bahan. terutama untuk penggorengan. Pemanggangan Pemanggangan adalah suatu operasi yang digunakan untuk mengubah mutu makan suatu bahan pangan dengan menggunakan udara panas sebagai media penghantar panas. kadar air bahan. Keadaan seperti ini diakibatkan oleh adanya panas latent penguapan yang menyebabkan terjadinya proses perubahan massa air yang terkandung dalam bahan.

7. 5. 3. Selain itu perlunya kapasitas ruang yang besar untuk . Kemudian memanaskan pasir yang ada di dalam silinder selama 15 menit hingga suhu pasir tersebut mencapai 150oC. Wadah atau penampung Digunakan untuk menampung hasil penggorengan. Termometer Termometer ini digunakan untuk mengukur dinding peggorengan selama proses berlangsung. Penggorengan dengan pasir sebagai media penghantar panas menggantikan minyak goring belum banyak dilakukan di Indonesia karena prosesnya dirasa cukup ribet di masyarakat. Lubang exhaust Lubang exhaust berfungsi untuk mengeluarkan uap selama penggorengan. Gear dan rantai Gear dan rantai digunakan untuk mentransmisikan daya dari putaran tuas secara manual. Setelah itu bahan yang akan digoreng dimasukkan melalui lubang pada silinder. 6. Cara kerja dari alat penggorengan HSF TIPE D-50 manual adalah dengan mengatur gas pada regulator dan menyalakan kompor pada bagian bawah silinder dengan korek api.jarum jam maka proses penggorengan berlangsung dan apabila tuas diputas berlawan dengan arah jarum jam maka proses pengeluaran pasir dan bahan. Gas LPG Gas LPG merupakan sumber panas atau api 8. Memutar tuas penggerak searah jarum jam hingga bahan matang (lama penggorengan tergantung bahan yang digunakan). Apabila telah matang tuas diputar berlawanan jarum jam untuk mengeluarkan bahan yang telah matang dan pasir. 4. Pengatur gas Pengatur gas ini digunakan untuk mengatur banyak sedikitnya gas LPG yang digunakan untuk penggorengan.

Kerupuk dan makaroni setelah penggorengan memilki tekstur agak keras daripada kerupuk yang digoreng dengan pasir. Alat penggorengan ini dinamakan HSF tipe D-50 yang mana merupakan modifikasi alat sebelumnya taitu HSF tipe D-56. Apalagi kini banyak masyarakat yang waktunya lebih banyak untuk bekerja. Pengetahuan tentang teknik penggorengan berpasir ini juga masih minim dikalangan masyarakat. karena kapasitas ruang dan waktu dapat terjangkau dan terpenuhi disbanding dengan dikalangan rumah tangga. Praktikum kali ini melakukan penggorengan terhadap kerupuk dan makaroni yang telah dijemur dan menggunakan pasir sungai logawa sebagai media penghantarnya. Penggorengan ini cocok diterapkan pada usaha-usaha home industry maupun usaha-usaha makanan yang cukup besar. dan silinder diputar secara manual dengan tenaga manusia. Penggorengan ini berlangsung selama kurang lebih 16 menit hingga bahan matang. jadi dikalangan rumah tangga pun akan sulit menerapkan metode ini. dan aromanya agak gosong dan rasa kurang guring bila dibandingkan dengan penggorengan dengan minyak. sehingga untuk pemenuhan konsumsi sehari-hari lebih memilih dengan cara yang cepat. Kecepatan putaran alat ini dealnya adalah 30 rpm. Silinder penggorengan ini memiliki dimensi panjang 55 cm dan diameter 50 cm.proses penggorengan ini. . Suhu pasir dapat diukur menggunakan termometer infrared yaitu sebesar 159oC dan suhu dinding silinder sebesar 220oC. Pada awalnya pasir perlu dipanaskan hingga suhunya mencapai 150 oC pada waktu sekitar 15 menit. Pasir yang digunakan untuk sekali penggorengan ini sekitar 2-5 liter. Setelah pemanasan kerupuk dan makaroni dimasukkan ke dalam silinder.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan . V. Kendala pada praktikum ini adalah pada saat praktikum berlangsung praktikan kurang kondusif dan saling berdesak-desakan sehingga ada beberapa praktikan yang kesulitan melihat proses.Kerupuk kurang mengembang mungkin dikarenakan penggorengan yang kurang lama.

Food Processing Technology : Principles and Practise. maksudnya adalah hingga kerupuk benar-benar matang dan mengembang. Prinsip ketiknikan pada proses penggorengan dengan media pasir ini adalah proses perpindahan panas (heat transfer) dari api menuju pasir sebagai media penghantar panas menuju bahan. Teknologi Pengolahan Pangan Hewani Tepat Guna. 1990. M. B. Proses penggorengan ini menggunakan alat HSF (Hot Sand Frying) tipe D-50. Saran Saran untuk praktikum ini adalah sebaiknya praktikum dilaksanakan sampai optimal. .1. Fellows. Penggorengan dilakuka dengan cara memutar tuas maka silinder penggorengan akan berputar dan panas dari api akan ditransfer ke bahan melalui pasir. Jakarta. W. 2. New York: Ellis Horwood Limited. P. & Astawan. DAFTAR PUSTAKA Astawan. Akademika Pressindo. Penggorengan dengan pasir merupakan metode penggorengan dengan media penghantar panas berupa pasir. M. Selain itu praktikan diharapkan kondusif dan tidak bercanda saat praktikum berlangsung. 1991.

2008. Model Matematik Transfer Panas pada Penggorengan Menggunakan Pasir. & Fardiaz. Penggorengan dengan Pasir Sebagai Media Penghantar Panas. G. Fakultas Teknologi Pertanian. UGMYogyakarta. CTI Publication Inc. D. 2009. Fardiaz. Pengantar Teknologi Pangan. W. S. Siswantoro. F. . Yogyakarta. Laporan Penelitian Hibah Mahasiswa Program Doktor. Siswantoro.Gould. Unit Operations for the Food Industry. 1980. Jakarta: PT Gramedia. UGM. Makalah Seminar Nasional PERTETA. Maryland. Winarno. (1996).