Anda di halaman 1dari 12

HUTAN HANCUR MASA DEPAN KABUR

ketika bencana alam banjir dan tanah longsor menewaskan puluhan warga, orang2 pun
sadar bahwa mereka telah kehilangan semua fungsi hutan. pohon2 peindung yg sekaligus
menahan atau menangkap air hujan diperbukitan daratan tinggi pulau itu telah habis
ditebang hanya untuk memuaskan nafsu keserakahan materi sesaat.padahal, hasil jual
kayu hutan itu sama sekali tidak membuat rakyat sekitar menjadi sejahtera.
sebaliknya, tindakan penebangan kayu hutan itu justru menjadikan penduduk yang sudah
sengsaram semakin menderita karena bencana banjir dan longsor yang telah
melululantahkan perkampungan mereka. hutan alam yang sebenarnya mampu
memberikan manfaat bagi kehidupan mereka berubah menjadi murka dan menimbulkan
bencana.
terbukti, kerugian yang ditimbulkan akibat penebangan liar itu sungguh tidak ternilai.
selain harta, jiwa manusia juga plasma nutfah serta ekologi sumber daya hutan yang
sebenarnya berguna untuk kehidupan manusia juga musnah. fungsi ekonomi, ekologi,
dan sosial sumber daya hutan itu hancur sekaligus. tidak ada hutan, tidak ada masa depan.
penebangan liar yang tidak terkendali dewasa ini merupakan masalah serius yg dihadapi
sektor kehutanan. kasus ini menjadi sorotan dunia.penebangan liar berlangsung karna
didukung lemahnya penegakan hukum.
penebangan liar disertai penjarahan hutan sangat marak terutama di perbatasan
kalimantan -- serawak -- karna melibatkan berbagai pihak, mulai dari anggota masyarakat
hingga aparat. situasi telah mempercepat laju degradasi hutan tropis indonesia yang
sekaligus merupakan paru - paru dunia. penebangan liar itu sudah tidak memedulikan lagi
apakah yg mereka babat adlh hutan produksi, hutan konservasi, ataupun hutan lindung.
kondisi sumber daya hutan (SDH) yg semakin rusak dari hari ke hari tampaknya tidak
akan membaik dalam waktu dekat ini. tidak stabilnya politik dan penyelenggaraan
kehutanan sejak medio tahun 1998 yang semakin bertambah buruk pada akhir2 inmi
menjadi dorongan kuat meningkatnya degradasu dan deforestasi hutan (penurunan dan
pemusnahan hutan)
"angka penurunan hutan yang kini dinyatakan mencapai 1,6-1,8 juta hektar pertahun
sangat mungkin meningkat cepat dalam lima tahun mendatang". transtoto handari
pengamat ekonomi kehutanan memprediksi pengamat ekonomi kehutanan memprediksi.
bahkan, bank dunia telah memperkirakan bahwa seluruh hutan alami di sumatera akan
hilang pada tahun 2005 - 2010 dan di kalimantan pd tahun 2010 - 2015.
penegakan hukum yang selama ini menjadi titik lemah pengamanan hutan harus
diprioritaskan secara sungguh2. integritas moral dalam menjaga kekayaan alam hutan
harus mampu ditumbuhkan secara swadiri di setiap aparat kehutaan ataupun pihak2 yang
terkait seperti pengusaha perkayuan dan masyarakat.
hal yang tidak boleh dilupakan, tanggung jawab pelestarian pemanfaatan SDH ini bukan
hanya berada dipundak departemen kehutanan, melainkan kini justru merupakan tugas
utama pemerintah daerah dengan seluruh aparatnya. menurut transtoto, kekayaan SDH
yang sangat melimpah seharusnya dapat digunakan sebagai modal kesejahteraan dalam
pembangunan nasional dan regional.
Habis Banjir Terbitlah Asap
Belum lagi bencana banjir yang melanda beberapa daerah di Riau hilang dari
perbincangan publik, kini bencana baru datang lagi. Padahal jarak antara musim hujan
dan kemarau belum mencapai hitungan bulan. Namun siklus alam tersebut tetap saja
menorehkan kenangan pahit bagi masyarakat Riau. Akar permasalahannya tetap saja
sama, yaitu masalah kehutanan yang dewasa ini menjadi kambing hitam terhadap semua
bencana yang terjadi di Riau. Dan hal itu tetap tidak akan usai sampai semua pihak
menyadari pentingnya perlindungan kualitas hutan sebagai paru-paru dunia.

Banyaknya kawasan hutan lindung di Riau yang mengalami alih fungsi dan status
menyebabkan provinsi ini selalu dilanda banjir sejak beberapa tahun terakhir. Karena
memang kawasan hutan yang mengalami kondisi kritis dari tahun ke tahun semakin
meluas. Hal ini secara paralel akan menambah tingkat kerusakan daerah kabupaten/kota
akibat banjir yang disebabkan penurunan luas kawasan hutan. Nah melihat ini apakah
pemerintah akan tutup mata hingga terjadi bencana yang maha dahsyat seperti di Bahorok
atau tsunami Aceh?

Secara ekonomis bencana alam pasti menyebabkan dampak buruk bagi kehidupan
masyarakat. Karena kerugian juga menimpa seluruh aspek kehidupan termasuk tulang
punggung perekonomian. Tak terhitung lagi luas lahan pertanian yang rusak akibat
banjir, termasuk lahan strategis di beberapa daerah seperti Rokanhilir, Rokanhulu,
Kampar, Indragiri Hulu dan sebagainya. Hal itu belum termasuk relokasi terhadap korban
bencana yang menelan APBD hingga triliunan rupiah. Jika hal ini terus berlanjut tanpa
ada penanganan yang komprehensif tidak mustahil anggaran pembangunan Riau hanya
terkuras untuk pemulihan kerusakan akibat banjir.

Kerawanan ekologis di daerah yang kaya sumber daya alam ini bila terus dibiarkan
berlarut tentu akan merusak ekosistem lingkungan hutan. Greenomics Indonesia bahkan
pernah membuat skenario terburuk bahwa pada tahun 2004 lalu hutan Riau yang tersisa
tinggal 229.000 hektar. Hal itu diasumsikan menurut data tahun 2001 luas hutan Riau
sekitar 4 juta hektar dengan 79 persen dalam kondisi buruk dan terus mengalami
deforestasi hingga 100.000 – 200.000 hektar per tahun. Lalu bagaimana kondisi tahun
2005 ini bila restrukturisasi kawasan hutan tidak segera dilakukan. Maka bencana banjir
niscaya akan menambah daftar panjang penderitaan masyarakat dan memperluas
‘lingkaran setan’ yang bernama kemiskinan dan keterbelakangan.

Asap Datang Kembali


Bila beberapa hari ini kita rajin bangun pagi dan melihat hamparan semesta di sekitar
kita, maka yang tampak hanyalah warna kelabu dengan bau yang menyesakkan dada.
Persis dengan tahun-tahun lalu, kali ini pun datang di awal musim kemarau dengan suhu
udara yang panasnya melebihi kondisi normal. Fenomena ini menyebabkan penurunan
kualitas kesehatan masyarakat dengan timbulnya gejala infeksi saluran pernafasan atas
(ISPA) dan Pneomenia (radang paru-paru), menyusul kondisi udara yang tidak sehat.
Lalu kenapa hal ini selalu terjadi setiap tahun dan seperti menjadi siklus yang tiada
terputus?

Bila diamatai lebih jauh, penyebab utama terjadinya kebakaran hutan yang menimbulkan
kabut asap ini sebenarnya akibat ulah manusia itu sendiri baik secara perorangan atau
kolektif (perusahaan). Karena pembersihan lahan dengan cara pembakaran mungkin
secara ekonomis dianggap lebih menguntungkan karena relatif efektif dan efisien. Karena
itulah bila musim kemarau titik api akan muncul secara sporadis di beberapa kawasan
yang menjadi langganan kebakaran lahan. Hanya dalam empat hari saja sudah ditemukan
36 titik api yang diperkirakan merupakan akibat pembakaran lahan secara sengaja oleh
masyarakat. Titik api terbanyak terdapat di daerah Bukit Kapur Dumai, yang jumlahnya
mencapai 30 titik, sementara sisanya, terdapat di Kecamatan Bukit Batu Duri XIII di
areal milik anak perusahaan dari PT Arara Abadi yang sementara diduga sengaja dibakar
oleh kelompok masyarakat (Riau Pos, 26 Januari 2005).

Ketua Yayasan Konservasi Borneo Dr Gusti Z Anshari dalam artikel Mengapa Lahan dan
Hutan Terbakar dan Dibakar? menyebutkan bahwa kekacauan sistem politik ekonomi
pengelolaan hutan dan rendahnya penegakan hukum di Indonesia telah menyediakan
peluang besar bagi perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) ––tentu bekerja
sama dengan oknum aparatur pemerintah––dalam melakukan kegiatan penghancuran
habitat hutan tropika. Lebih dari 90 persen kebakaran hutan dan lahan di Indonesia
disebabkan oleh manusia yang melakukan pembakaran pada lahan gambut, pembakaran
untuk membuka areal perkebunan (termasuk areal kelapa sawit dan hutan tanaman
industri/HTI), pembakaran pada sisa-sisa kayu dan ranting kering pada areal HPH yang
rusak, serta pembakaran vegetasi pada sistem perladangan gilir balik (berpindah).

Tanpa kita sadari, di Riau yang kondisi hutannya sudah memprihatinkan ini penertiban
praktik illegal logging atau penebangan liar masih “jauh panggang dari api”. Padahal
kejahatan hutan ini berpotensi menjadi bom waktu yang setiap saat dapat menyebabkan
kebakaran hutan dan lahan secara besar-besaran. Sebab areal hutan yang mengalami
intensitas penebangan liar cukup tinggi akan menyebabkan kawasan hutan tersebut porak
poranda dan menyisakan volume hutan yang sangat sedikit. Kemudian apabila hal itu
diperparah dengan banyaknya dahan dan ranting kering sisa penebangan yang berserakan
di mana-mana, maka bisa dipastikan dahsyatnya kebakaran hutan tinggal menunggu
waktu saja.

Mungkin kita bisa membayangkan akibatnya bila kebakaran hutan terjadi hampir di
seluruh wilayah Indonesia. Kemungkinan terburuk semua aktivitas perekonomian dan
transportasi akan terganggu. Sebab kabut asap dengan jarak pandang yang sangat pendek
akan menyebabkan masyarakat enggan keluar rumah untuk melakukan kegiatan
perekonomian. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kegiatan belajar mengajar juga
pernah diliburkan selama beberapa hari ketika bencana kabut asap mencapai titik
kulminasi. Begitu juga dengan aktivitas penerbangan yang lumpuh total, sementara arus
transportasi di darat dan laut juga terganggu dan menyebabkan beberapa kecelakaan lalu
lintas yang terjadi karena terbatasnya jarak pandang. Apakah kita semua hanya akan
tinggal diam melihat kerugian yang disebabkan oleh segelintir orang tidak
bertanggungjawab itu?

Penanganan Terpadu
Penanggulangan dampak buruk dari kerusakan alam berupa banjir dan kebakaran hutan
memang bukan perkara mudah. Diperlukan kebijakan yang mengikat dengan sanksi yang
tidak bisa ditawar-tawar lagi. Terutama pemerintah harus melakukan kebijakan yang
meliputi pencegahan (prevention), pemantauan (monitoring), dan penanggulangan
(mitigation) secara komprehensif dengan melibatkan aparat dan masyarakat. Sebab
selama ini yang sering dilakukan hanyalah penanggulangan terhadap banjir atau
kebakaran hutan yang telah terjadi. Sehingga setiap saat akan selalu berulang bila tidak
dilakukan pencegahan dan pemantauan titik rawan kerusakan hutan.

Untuk itulah ke depan perlu dirumuskan program-program penanganan kerusakan hutan


secara terpadu dan sistemik dengan melibatkan semua departemen, instansi pemerintah,
perusahaan swasta dan LSM. Di tingkat pelaksana juga harus mengikutsertakan
masyarakat peduli hutan atau tinggal di sekitar hutan agar melakukan pengawasan
terhadap lingkungan sekitar secara berkelanjutan. Dengan melakukan koordinasi secara
terpadu semua pihak merasa ikut dilibatkan dan ikut bertanggungjawab terhadap semua
kemungkinan yang terjadi (bencana).

Menurut penulis, setelah merangkum dari beberapa bahan bacaan ada lima hal yang
seharusnya dilakukan pemerintah untuk mengatasi dan mengantisipasi siklus bencana
banjir dan asap yang sering terjadi di Riau. Pertama, pemerintah provinsi Riau dan
kabupaten/kota se-Riau tidak lagi melakukan perubahan fungsi dan status kawasan
lindung menjadi kawasan budidaya kehutanan dan nonkehutanan. Kedua, pemerintah
harus segera menyusun rencana tindak yang konkret menyangkut pemberantasan praktik
kejahatan hutan, seperti illegal logging, konversi kawasan lindung dan pembakaran
hutan. Ketiga, melakukan pemantauan secara rutin terhadap perkembangan kebakaran
hutan dan lahan, baik melalui satelit maupun patroli di lapangan dan melakukan
pengecekan terhadap kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan peralatannya sebelum
bencana terjadi. Keempat, membina masyarakat untuk mencegah kebakaran dalam
menyiapkan lahan yang sesuai dengan nilai-nilai kearifan tradisional masyarakat dan
menyosialisasikan dampak kebakaran terhadap tatanan kehidupan masyarakat termasuk
timbulnya bencana lingkungan. Kelima, membangun kelembagaan dan mekanisme untuk
menjalankan fungsi pengendalian kerusakan hutan sesuai dengan kemampuan daerah dan
tuntutan masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan
perundang-undangan.

Dengan melakukan kelima hal di atas diharapkan bencana banjir dan kabut asap yang
menjadi siklus tahunan pengiring musim hujan dan kemarau, ke depan tidak terjadi lagi.
Perusahaan perkebunan/ kehutanan serta sebagian masyarakat yang selama ini kurang arif
dalam pengelolaan hutan dan lahan diharapkan sadar akan pentingnya menjaga
kelestarian lingkungan hidup. Karena kualitas kehidupan manusia tidak terlepas dari
pengaruh lingkungan.
Hentikan Kerusakan Lingkungan, di Darat dan Laut Bangka Belitung Sekarang
Juga

Akibat pengerukan timah di lepas pantai terjadi perubahan topografi pantai dari yang
sebelumnya landai menjadi curam. Hal ini akan menyebabkan daya abrasi pantai semakin
kuat dan terjadi perubahan garis pantai yang semakin mengarah ke daratan. Aktivitas
pengerukan dan pembuangan sedimen akan menyebabkan perairan di sekitar
penambangan mengalami kekeruhan yang luar biasa tinggi. Radius kekeruhan tersebut
akan semakin jauh ke kawasan lainnya jika arus laut semakin kuat. Karenanya, meskipun
pengerukan tidak dilakukan di sekitar daerah terumbu karang, namun sedimen yang
terbawa oleh arus bisa mencapai daerah terumbu karang yang bersifat fotosintetik sangat
rentan terhadap kekeruhan.
Menurut data 2006, cadangan bijih timah di Indonesia mencapai 355.870 ton. Angka itu
terdiri atas 106.068 ton di darat dan 249.802 ton di lepas pantai dan sebagian besar
cadangan timah tersebut terletak di Pulau Bangka, tempat dimana kita berpijak. Tahun
lalu, produksi bijih timah PT Timah Tbk mencapai 58.086 ton. Mayoritasnya, yakni
46.078 ton ditambang di darat dan hanya 12.008 ton yang digali dari lepas pantai.
Karenanya, di tahun-tahun mendatang PT Timah Tbk akan mengkonsentrasikan
penambangan di daerah lepas pantai. Apalagi biaya produksi pertambangan di lepas
pantai jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pertambangan di darat. Tahun 2007
saja, PT Timah Tbk mengeluarkan Rp 724 miliar untuk biaya produksi pertambangan di
darat (inilah.com, 2008). Selain itu, dari segi dampak lingkungan penambangan lepas
pantai yang timbul tidak terlalu parah karena dilakukan minimal dua mil dari pantai.

Sejak Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Keputusan
Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan
timah sebagai komoditas strategis, Bupati Bangka saat itu, Eko Maulana Ali, sekarang
Gubernur ke-3 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memberikan izin aktivitas
penambangan skala kecil atau tambang inkonvensional (TI). Hanya dalam kurun waktu
beberapa tahun, jumlah TI darat membabi buta di Pulau Bangka lalu menular hingga ke
bumi laskar pelangi, Pulau Belitung. Selain itu beroperasi pula beberapa perusahaan
peleburan (smelter) timah sekala menengah di Pulau Bangka membuat persaingan
pertambangan timah di darat semakin tinggi.
Foto/Gambar Kapal Hisap PT TIMAH di perairan laut Bangka Belitung

Tak heran jika PT Timah Tbk menyiapkan pos peningkatan kapasitas produksi dari
belanja modal sebesar Rp 551 miliar antara lain untuk menambah jumlah kapal hisap 8
buah menjadi 20 buah dan sedang menyiapkan pembangunan kapal keruk hisap untuk
laut dalam yang bisa mengambil pasir timah sampai kedalaman hingga 60 meter
(republika, 2008). Menurut informasi, kapal keruk tersebut akan selesai pada tahun 2009
dan memiliki kapasitas 1000 hingga 1500 meter kubik per jam. Atau dua hingga tiga kali
kapasitas kapal keruk yang ada sekarang yang sebesar 600 meter kubik perjam. Menurut
data dari kompas, 2005, di kawasan Kabupaten Bangka saja, PT Timah Tbk
mengoperasikan delapan kapal keruk yang aktif menambang timah, dengan mengerahkan
sekitar 100 pekerja di setiap kapal : Kapal Keruk Kebiyang, Tempelan, Rambat, Duyung,
dan Peri. Sementara Kapal Keruk Singkep I, Riau, dan Merantai. Kapal-kapal besar itu
mengeruk timah dari kedalaman 25 meter sampai dengan 50 meter di dasar laut, dengan
produksi antara 20 ton sampai dengan 80 ton timah setiap delapan jam. Pengerukan itu
sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu, rata-rata jaraknya sekitar lima kilometer dari
bibir pantai. Penambangan dilakukan dengan berpindah-pindah. Jika kandungan
timahnya sudah tipis, akan beralih ke tempat lain. Tahun depan PT Timah Tbk
mentargetkan kontribusi produksi timah dari lepas pantai menjadi 50 persen. Tahun ini,
perseroan akan membangun tujuh kapal keruk, masing-masing senilai Rp 150 miliar dan
satu kapal keruk berukuran besar senilai Rp 200 miliar. Saat ini PT Timah Tbk sudah
mengoperasikan 14 kapal, empat diantaranya berukuran besar dan 10 sedang.
Foto/Gambar Akitivitas Tambang Inkonvensional (TI) Apung di perairan laut Bangka
Belitung

Akibat pengerukan timah di lepas pantai terjadi perubahan topografi pantai dari yang
sebelumnya landai menjadi curam. Hal ini akan menyebabkan daya abrasi pantai semakin
kuat dan terjadi perubahan garis pantai yang semakin mengarah ke daratan. Aktivitas
pengerukan dan pembuangan sedimen akan menyebabkan perairan di sekitar
penambangan mengalami kekeruhan yang luar biasa tinggi. Radius kekeruhan tersebut
akan semakin jauh ke kawasan lainnya jika arus laut semakin kuat. Karenanya, meskipun
pengerukan tidak dilakukan di sekitar daerah terumbu karang, namun sedimen yang
terbawa oleh arus bisa mencapai daerah terumbu karang yang bersifat fotosintetik sangat
rentan terhadap kekeruhan.
Foto/Gambar Akitivitas Tambang Inkonvensional (TI) Apung di perairan laut Bangka
Belitung

Tidak ada pertambangan yang tidak merusak lingkungan, baik di darat maupun di laut.
Kerusakan itu akan memberikan dampak untuk beberapa puluh tahun ke depan bahkan
bisa bersifat permanen. Penambangan timah lepas pantai yang membabi buta jelas-jelas
telah merusak terumbu karang, mengotori pantai, dan mengganggu perkembangan
perikanan. Penambangan di sekitar pantai obyek wisata akan memberangus pesona pantai
yang bernilai jual tinggi. Potensi besar dalam jangka panjang akan habis, hanya untuk
memenuhi nafsu mengeruk keuntungan yang sesaat.

Sebagai daerah kepulauan, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi yang
sangat besar di sektor ekosistem pesisir terutama ekosistem terumbu karang. Namun
sangat disayangkan, hingga saat ini belum jelas informasi sebaran dan kondisi ekosistem
terumbu karang yang terdapat di kawasan Pulau Bangka. Kekeruhan perairan yang tinggi
akibat penambangan timah dilepas pantai akan menyebabkan penutupan polip-polip
karang oleh sediment yang terbawa ke pesisir. Hal ini akan menyebabkan kondisi karang
menjadi merana dan akhirnya mengalami kematian massal. Tak dapat dipungkiri,
pertambangan timah lepas pantai merupakan penyebab utama kerusakan ekosistem
terumbu karang di Pulau Bangka. Tidak hanya akibat aktivitas dari kapal keruk, tetapi
juga oleh kapal hisap dan TI Apung yang semakin marak.

Terumbu karang yang sehat menyediakan tempat tinggal, tempat berlindung (Spawning
ground), tempat berkembang biak (Nursery ground) dan sumber makanan (Feeding
ground) bagi ribuan biota laut yang tinggal di dalam dan di sekitarnya, seperti di laut
lepas, hutan mangrove, dan padang lamun. Tidak ada wilayah laut lain yang mempunyai
begitu banyak jenis kehidupan dengan rantai makanan yang sangat produktif seperti
terumbu karang. Terumbu karang mampu mendukung kehidupan ribuan penduduk Pulau
Bangka, khususnya dalam sektor perikanan dan pariwisata. Dari 1 km2 terumbu karang
yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di
wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002). Kerusakan terumbu karang akan
kembali pulih seperti semula setidaknya membutuhkan waktu sekitar 50 tahun tanpa ada
lagi aktivitas pengrusakan di lingkungan ekosistem terumbu karang tersebut.

Tak heran jika degradasi terumbu karang yang parah ini memberikan dampak pada
turunnya produksi perikanan tangkap, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap,
semakin jauhnya daerah penangkapan (fishing ground). Hal ini mendorong meningkatnya
biaya produksi sehingga mengurangi rente sumberdaya (resource rent) yang
menyebabkan rendahnya pendapatan nelayan khususnya nelayan skala kecil. Jika hal ini
terus terjadi maka kesejahteraan masyarakat nelayan akan terancam. Tentu saja pihak
yang paling dirugikan oleh aktivitas pertambangan lepas pantai adalah nelayan.
Karenanya, banyak nelayan yang mengajukan protes terhadap pertambangan lepas pantai
yang terjadi di sekitar daerahnya. Hal ini wajar terjadi karena aktivitas pertambangan
membuat hasil tangkapan nelayan berkurang yang berakibat menurunnya pendapatan
nelayan. Perairan pantai menjadi keruh dan ekosistem terumbu karang rusak parah.

Foto/Gambar Kerusakan Lingkungan akibat Akitivitas Penambangan Timah di Bangka


Belitung

Parahnya, tidak seperti kerusakan di darat, kerusakan di laut sulit dikontrol karena
lobang-lobang bekas galian tersembunyi di dasar perairan. Namun, kerusakan alam
terutama ekosistem terumbu karang akibat pertambangan lepas pantai sangat mudah
dijelaskan secara ilmiah. Jika hal ini terus dibiarkan, pada titik klimaksnya, bukan
mustahil akan terjadi pertikaian atau penjarahan yang dilakukan oleh nelayan yang
merasa dirugikan kepada pihak penambang. Dibutuhkan win-win solution untuk masalah
ini dimana kedua belah pihak akan merasa saling diuntungkan minimal tidak saling
merugi, sayangnya alam akhirnya selalu menjadi pihak yang dirugikan.

Ternyata bukan hanya PT Timah Tbk yang mulai memindahkan prioritas


penambangannya ke daerah lepas pantai Pulau Bangka. Beberapa perusahaan swasta
skala menengah yang telah membuka smelternya di Pulau Bangka atau di Pulau Belitung
pun mulai jenuh dengan carut marut penambangan timah di darat. Mereka pun mulai
membidik potensi timah di laut Pulau Bangka. Beberapa perusahaan smelter mulai
mengadakan kapal hisap untuk mengeruk timah di Propinsi ini. Kapal hisap yang
dioperasikan hanya berjarak kurang dari 4 mil laut dari bibir pantai dan kedalaman 5 – 20
meter.

Foto/Gambar Akitivitas Tambang Inkonvensional (TI) Apung di perairan laut Bangka


Belitung

Semakin bergairahnya harga timah di dunia membuat perusahaan-perusahaan swasta


berpacu mengeruk timah di Propinsi ini. Dapat diramalkan beberapa tahun ke depan,
kegiatan penambangan timah di pantai akan semakin marak dilakukan mulai dari PT
Timah Tbk (kapal keruk dan kapal hisap), perusahaan-perusahaan swasta skala menengah
(kapal hisap) dan masyarakat (TI Apung). Memang setiap kegiatan pertambangan skala
menengah hingga besar di daerah lepas pantai harus melalui tahap analisis mengenai
dampak lingkungan (AMDAL), namun sayangnya kontrol terhadap aktivitas
pertambangan di lapangan sangat lemah oleh pihak terkait.
Foto/Gambar Akitivitas Tambang Inkonvensional (TI) Apung di perairan laut Bangka
Belitung

Terbukti!!! Dari hasil pantauan satelit yang dimiliki Badan koordinasi Keamanan Laut
(Bakorkamla) 100% kapal hisap yang beroperasi di perairan Babel beroperasi diluar
wilayah yang sudah ditentukan (Bangkapos, 9 November 2008). Tak dapat dipungkiri,
yang menjadi acuan dalam pertambangan adalah ada tidaknya "timah" di lokasi tersebut,
bukan karena ada tidaknya "ekosistem terumbu karang". Jika di suatu lokasi ditemukan
banyak bijih timahnya dan banyak karangnya pemanambangan tetap dilakukan.

Jika tidak ada ketegasan dari pemerintah daerah kita untuk mengatur sumberdaya alam
ini dengan bijaksana, propinsi ini akan menunggu detik-detik kehancuran ekosistem
pesisirnya setelah ekosistem di darat kita luluh lantak oleh penambangan timah darat.
Laut kita kini menunggu gilirannya.
Di susun oleh : wulan sari
Kelas : X-3

Sma bina dharma 2


bandung