Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PERCOBAAN III
PEMBUATAN GARAM KOMPLEKS TETRA AMIN TEMBAGA (II)
SULFAT MONOHIDRAT Cu(NH3)4SO4.H2O DAN GARAM RANGKAP
AMMONIUM TEMBAGA (II) SULFAT HEKSAHIDRAT
Cu(SO4)2(NH4)2.6H2O

OLEH :
NAMA

:

VICHA NUR FATANAH

STAMBUK

:

F1C1 13 039

KELOMPOK

:

IX (SEMBILAN)

ASISTEN

:

ANDRI HARDIANSYAH

LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

dan banyak diantara mereka yang memiliki ikatan yang cukup kuat. Selain itu. makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent dan solut makin cepat larut. atom. atau ion melalui ikatan kimia yang lemah. Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh usuran partikel dimana makin halus solute. PENDAHULUAN A. Salah satu fenomena yang paling umum yang muncul bila ion kompleks terbentuk adalah perubahan warna dalam larutan.I. Dulunya. kompleks atau senyawa koordinasi merujuk pada molekul atau entitas yang terbentuk dari penggabungan ligan dan ionlogam. Pengertian ini sekarang telah berubah. Latar Belakang Dalam ilmu kimia. menerangkan pembentukan kompleks terjadi karena penyumbangan suatu pasangan elektron seluruhnya oleh satu atom ligan kepada atom pusat. Suatu fenomena lain yang penting yang sering terlihat bila kompleks terbentuk adalah kenaikan kelarutan. . makin kecil usuran partikel. sebuah kompleks artinya asosiasi reversibel dari molekul. banyak endapan bisa melarut karena pembentukan kompleks. Beberapa kompleks logam terbentuk secara irreversibel. faktor suhu yakni umunya kenaikan suhu menambah kenaikan kelarutan solute. Ketika menguraikan teorinya tentang ikatan-ikatan kimia yang didasarkan atas pembentukan pasangan elektron. Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.

B.6H2O. Tujuan Tujuan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah untuk mempelajari pembuatan garam kompleks tetra amin tembaga (II) sulfat monohidrat Cu(NH3)4 SO4.H2O dan garam rangkap ammonium tembaga (II) sulfat heksahidrat Cu(SO4)2(NH4)2.Berdasarkan latar belakang diatas. TINJAUAN PUSTAKA . II.H2O dan garam rangkap ammonium tembaga (II) sulfat heksahidrat Cu(SO4)2(NH4)2.6H2O? C.oleh karena itu dilakukan percobaan garam kompleks dan garam rangkap untuk mengetahui gambaran pembuatan dan tekhnik pembuatan garam kompleks dan garam rangkap.6H2O. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada percobaan ini adalah bagaimana cara pembuatan pembuatan garam kompleks tetra amin tembaga (II) sulfat monohidrat Cu(NH3)4 SO4.H2O dan garam rangkap ammonium tembaga (II) sulfat heksahidrat Cu(SO4)2(NH4)2. Manfaat Manfaat yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah dapat mengetahui cara pembuatan garam kompleks tetra amin tembaga (II) sulfat monohidrat Cu(NH3)4SO4. D.

Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terbentuk dari ion logam yang berikatan dengan ligan secara kovalen koordinasi. 2013). Proses pembentukan dari garam rangkap terjadi apabila dua garam mengkristal bersama-sama dengan perbandingan molekul tertentu. Garam-garam itu memiliki struktur tersendiri dan tidak harus sama dengan struktur garam komponennya. Ligan merupakan zat yang memiliki satu atau lebih pasangan elektron bebas. Valensi koordinasi mengarah ke dalam ruangan mengelilingi ion logam pusat. Ionion Logam itu cenderung jenuh baik valensi utamanya maupun valensi tambahannya. Kompleks ialah suatu satuan baru yang terbentuk dari satuan- . 1995). Atom pusat yang digunakan dalam penelitian ini dalam tembaga dan kobalt. Menurut Warner senyawa kompleks. Zat-zat tertentu itu disebut ligan. Jadi proses pembentukkan senyawa kompleks koordiasi adalah perpindahan satu atau lebih pasangan elektron dari ligan ke ion logam (Rivai. fungisida dan obat-obatan antimalaria (Agustina. Ligan yang digunakan adalah 8-hidroksikuinolin karena ligan ini mempunyai fungsi sebagai antimikroba dan merupakan komponen utama dibeberapa bakterisida. Ikatan koordinasi merupakan ikatan kovalen dimana ligan memberikan sepasang elektronnya pada ion logam untuk berikatan. yang masing-masingnya dapat berdiri sendiri. merupakan gabungan beberapa ion logam yang cenderung berikatan koordinasi dengan zat-zat tertentu membentuk senyawa kompleks yang mantap.Dalam artian luas senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk karena penggabungan dua atau lebih senyawa sederhana.

Ligan bidentat dapat mendonorkan dua pasang elektron yang dimilikinya ke logam. Sifat paramagnetik suatu senyawa dapat berupa feromagnetik dan antiferomagnetik (Swastika.9 Bohr magneton (BM). 1993). Senyawa-senyawa kompleks dari unsur-unsur di blok d memiliki kelebihan dibanding senyawa lain karena memiliki orbital d yang kosong. Pengembangan sintesis senyawa kompleks masih terus berkembang hingga saat ini. tetapi membentuk ikatan baru dalam kompleks itu.7-5. Orbital d inilah yang umunya berperan dalam proses katalisis. kompleks yang terbentuk masing-masing berisi sebuah komponen. Ligan-ligan multidentat ini pula yang dapat membentuk . Senyawa kompleks dilaboratorium dapat disintesa dengan mereaksikan ligan yang merupakan suatu basa dan mempunyai pasangan elektron bebas dengan logam yang merupakan penerima pasangan elektron yang didonorkan oleh ligan. Sifat magnetik suatu material dapat dirancang melalui pembentukan senyawa kompleks. Dalam hal ini. ligan bidentat dan ligan multidentat.satuan yang dapat berdiri sendiri. Senyawa kompleks mononuklir umumnya bersifat paramagnetik dan momen magnetik yang rendah yaitu 1. Kebutuhan aplikasi senyawa kompleks terutama sebagai katalis terus dikembangkan. Ligan monodentat hanya dapat mendonorkan sepasang elektron yang dimilkinya ke logam. sedangkan banyak elektron yang bisa didonorkan ke logam pada ligan multidentat. Senyawa kompleks dapat bersifat diagmetik atau paragmetik. 2012). Berdasarkan banyaknya elektron yang didonorkan oleh ligan maka ligan dapat diklasifikasikan menjadi ligan monodentat. tetapi ada pula yang terjadi dari lebih banyak komponen (Harjadi.

III. METODOLOGI PRAKTIKUM . 2012).struktur kelat dalam kimia koordinasi oleh karena banyaknya pasangan elektron yang bisa didonorkan ke logam (Saria.

H2O dan Garam Rangkap Ammonium Tembaga(II) Sulfat Heksahidrat Cu(SO4)2(NH4)2.A. Waktu dan Tempat Praktikum Kimia Anorganik I tentang Pembuatan Garam Kompleks Tetra Amin Tembaga(II) Sulfat Monohidrat Cu(NH3)4SO4. gelas ukur 50 mL.6H2O dilaksanakan pada hari Kamis. etanol (C2H5OH). corong. Pembuatan garam kompleks Cu(NH3)4SO4. pipet tetes. 9 April 2015 bertempat di Laboratorium Kimia Anorganik Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo. kertas saring dan alumunium foil.H2O a. Alat dan Bahan 1. dan neraca analitik. aquadest (H2O). B. Persiapan bahan . batang pengaduk.5H2O). C. 2. Bahan Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah tembaga (II) sulfat pentahidrat (CuSO4. Kendari. Alat Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas kimia 100 mL dan 1000 mL. pemanas listrik. desikator. lemari asam. Prosedur Kerja 1. amonia pekat (NH3). ammonium sulfat ((NH4)2SO4).

75 mL ammonia pekat dan 4. Proses kristalisasi Ketika terbentuk endapan halus.5 gram Cu(SO4).65 ml etanol -diaduk -didinginkan dengan es batu .Menyerapkan sampel dengan mengambil dan menimbang sebnayak 4.65 mL etanol untuk menetralisasi uap dan bau yang dikeluarkan oleh larutan ammonia pekat dan mengaduknya secara perlahan-lahan samapai semua bahan tercampur merat dan mendinginkan larutan dalam es batu yang ada pada gelas kimia ukuran 1000 mL.5 gram -ditimbang -dimasukkan kedalam gelas kimia 100 mL -dicampurkan 5. CuSO4.5H2O (terusi) . lalu mengeringkan larutan dalam desikator samapai kristal yang diinginkan terbentuk. disaring larutan dengan menggunakan kertas saring biasa.sebanyak 4.75 mL larutan ammonia pekat dan 4.5 mL aquades secara bersama dan mengaduk larutan secara perlahan. b. mengukur ammonia pekat dengan gelas ukur sebanyak 5. aquades sebanyak 4.65 mL.5 mL aquades -ditambahkan perlahan-lahan 5.5 mL dan etanol sebanyak 5.75 mL.5H2O (terusi) menggunakan aluminium foil. Menambahkan perlahan-lahan 5. c. Pengerjaan bahan Memasukkan terusi kedalam gelas kimia ukuran 100 ml dengan mencampurkan 5. Setelah terbentuk maka kita mulai menghitung rendamennya.

6H2O a. Persiapan bahan Menyiapakn sampel dengan mengambil dan menimbang sebnayak 4. Pengerjaan bahan Memasukkan terusi dan ammonia sulfat kedalam gelas kimia. kemudian melarutkan dengan aquades secukupnya.Terbentuk kristal -disaring dengan kertas saring biasa kristal filtrat -di timbang % rendamen-dihitung = 106% rendamennya 2. Pembuatan garam rangkap Cu(SO4)2(NH4)2. dan 2.5 gram terusi. mengaduk larutan dan .5 gram ammonium sulfat dengan menggunakan kertas aluminium foil. b.

c.sebanyak 4.5H2O (terusi) .memanaskannya. Proses kristalisasi Mendinginkan larutan semalam lalu menyimpan ke dalam desikator untuk mendapatkan endapan kristal.5 gram -ditimbang -dimasukkan kedalam gelas kimia 100 ml -dilarutkan dengan aquades sebnyak 25 ml -ditambahkan ammonium sulfat 2. menguapkannya samapi volumenya 25 mL dan melakukannya dilemari asam.5 gram -diaduk -diuapkan sampai volumenya 20 ml Terbentuk kristal -diamkan selama kertas 1 malam -disaring dengan saring biasa kristal-di timbang -dihitung rendamennya % rendamen = 58. setelah terbentuk kristal maka kristalnya harus ditimbang untuk menghitung rendamennya.64% filtrat . CuSO4.

6H2O 3.5 gram terusi + dipanaskan sampai volume 20 mL Pembuatan Garam Kompleks 4.5 gram terusi + 4.Pembuatan Garam Kompleks Massa CuSO4.5 g = 5. Analisis Data Perhitungan .IV.5H2O + (NH4)2SO4 + H2O Cu(SO4)2(NH4)2.75 mL = 6.5 mL akuades + 5.75 mL amonia pekat + 5.65 mL etanol + didinginkan dengan es batu Larutan Berwarna Biru Larutan Berwarna Biru Pekat 2. Hasil Pengamatan 1. 5H2O Volume Amonia Massa kristal Cu(NH3)4SO4.80 g .H2O = 4. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data Pengamatan No 1 2 Perlakuan Hasil Pengamatan Pembuatan Garam Rangkap 1 gram amonium sulfat + 20 mL akuades + 4. Reaksi Pembentukan garam kompleks CuSO4.5H2O + 4NH3 Cu(NH3)4SO4 + 4H2O Pembentukan garam rangkap CuSO4.

018 0.91 kg /L .04185 0. 249.H2O + 4H2O 0.5 g/mol = 0.75 mL = 19.0.11385 mol CuSO4.77 g Massa kristal secara teoritis Mol CuSO4. 5H2O = = massa Mr 4. 1000 g /kg 17 g /mol = 19.018 0.018 mol .V = 19. 5.8 mol/L .03 g = 4.80 g – 2.berat kertas saring = 6. 5.= berat kristal .8 mol/L Mol NH3 = M.018 0.5 g 249.072 0.10-3 mol = 0.8 mol/L .85 .10-3 L = 113. Mr = 0. 6H2O = mol .11385 0.75.018 - - Massa Cu(SO4)2(NH4)2.37 . ρ. 1000 g /kg Mr = 0.018 mol M NH3 = 37 .5 g/mol . 5H2O + 4NH3 Cu(NH3)4SO4.

H 2 O eksperimen MassaCu( NH 3)4 SO 4 .23 g – 2. 100 % = 106 % .010 Massa Cu(NH3)4SO4 H2O - Cu(SO4)2(NH4)2. 5H2O 4. 485 g = .= 4.018 mol x 399.018 0.5 g/mol Mol (NH4)2SO4 = 0.5 g 2.018 -0.491 g % Rendamen = Massa Cu(NH 3) 4 SO 4 . 5H2O Massa Amonia Sulfat Massa kristal Cu(NH3)4SO 4 H2O = = = = Massa kristal secara teoritis Mol CuSO4. Mr = 0.5 g 6.77 g 4.5 g = 249.21 g massa Mr = 4.018 0.018 0.491 . H 2 O teori 4.191 g .00757 mol CuSO4 5H2O + (NH4)2SO4 + H2O 0.018 = mol .02 g 4.Pembuatan Garam Rangkap Massa CuSO4.018 mol massa = Mr 1g = 132 g/mol = 0.6H2O 0.5 g/mol = 7.00757 0.

Endapan mungkin berupa kristal (kristalin) atau koloid.5H2O dengan ammonium sulfat ((NH4)2SO4) serta aquades. 100 % = 58. dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau pemusingan (sentrifuge).6H 2 O teoritis % Rendamen = 4.6H 2 O Berat Cu(NH 4 ) 2 (SO 4 ) 2 .Berat ekperimen Cu(NH 4 ) 2 (SO 4 ) 2 .21 g = 7.5 % B.5H2O melalui beberapa tahapan reaksi sampai akhirnya menghasilkan endapan berupa kristal. Pembuatan garam rangkap diawali dengan mereksikan CuSO4.5H2O dengan garam ammonium sulfat dan garam kompleks ini dihasilkan dengan mereaksikan larutan ammonia dengan CuSO4.191 g . Pembahasan Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis anorganik kualitatif melibatkan pembentukkan endapan. . Garam rangkap adalah garam yang dalam kisi kristalnya mengandung dua kation yang berbeda dengan proporsi tertentu. Percobaan ini dilakukan pembuatan dua bentuk garam yakni garam rangkap dan garam kompleks. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Garam rangkap biasanya lebih mudah membentuk kristal besar dibandingkan dengan garam-garam tunggal penyusunnya. dimana garam rangkap dihasilkan dengan mereaksikan CuSO 4. seperti yang dilakukan pada percobaan ini yakni pembuatan garam kompleks tetra amin tembaga (II) sulfat monohidrat Cu(NH3)4SO4H2O dan garam rangkap ammonium tembaga (II) sulfat heksahidrat Cu(SO4).

Reaksi antara senyawa-senyawa ini menyebabkan timbulnya gas yang menyengat. dan disaring untuk memisahkan kristal dari cairannya. Sama halnya dengan pembentukan . Larutan ammonium berfungsi untuk melarutkan CuSO4. Etanol adalah pelarut yang baik untuk senyawa ionik karena tetapan dielektrik rendah dan mengurangi energi solvasi ion-ion. Bau menyengat tersebut berasal dari larutan amoniak pekat. Garam rangkap yang diperoleh berbentuk monoklin dan berwarna biru.5 %.21 gram.5H2O dengan ammonium sulfat ((NH4)2SO4) adalah sebanyak 4. Hanya saja pada pembuatan garam kompleks ini ditambahkan dengan etanol. sama halnya dengan sifat alkohol lainnya. Berat rendamen garam rangkap ini adalah sebesar 58. Larutan segera ditutupi dengan kaca arloji sehingga dapat mencegah menguapnya beberapa ion yang diinginkan untuk dapat membentuk kristal monoklin sempurna. pencampuran kedua bahan tersebut dihasilkan larutan biru tua.5H2O) dengan sempurna.5H2O dan digunakannya pelarut air karena kedua garam yang bereaksi dapat larut dalam air dan tetap berupa satu spesies ion. Hampir sama dengan pembuatan garam rangkap.5H2O dengan larutan ammonia dengan melakukan pengadukkan sehinggga semua kristal larut sempurna. Etanol tergolong sebagai pelarut yang mudah menguap. Kebanyakan garam anorganik lebih dapat larut dalam air murni daripada dalam pelarut organik. pada pembuatan garam kompleks juga diawali dengan mereaksikan CuSO4. berat rendamen ini artinya banyaknya garam rangkap yang terkandung dari campuran antara CuSO4.yang kemudian dilakukan pemanasan dan didingninkan pada suhu kamar sampai terbentuk kristal. Pemanasan bertujuan untuk melarutkan semua garam (CuSO4.

dimana empat ligan bertetangga dalam bidang segi empat membentuk struktur oktahedral . maka kompleks tembaga (II) mempunyai bilangan koordinasi enam. Pada logam tembaga (ion Cu2+) jika membentuk senyawa kompleks. Hal ini dapat terjadi mungkin karena adanya kesalahan pada saat praktikum yaitu seharusnya kristal yang terbentuk didiamkan terlebih dahulu selama beberapa menit. Faktor lainnya yang menyebabkan persen rendamen yang didapatkan melebihi berat teori adalah yaitu pada saat penyaringan masih banyaknya zat pengotor yang terdapat pada kristal sehingga berat rendamen yang dihasilkan sangat besar. Setelah kristal terbentuk kemudian dilakukan penyaringan untuk memisahkan kristal dari cairannya. Ion logam menyediakan orbital kosong yang akan diisi oleh elektron dari ligan.garam rangkap. Penambahan etanol ini berfungsi membantu melarutkan kristal CuSO4. Tembaga akan menerima pasangan elektron bebas dari ligan pengompleks yaitu tetra amin . Ion kompleks terdiri dari ion logam (atom pusat) yang dikelilingi sejumlah ligan yang dapat berupa molekul atau ion yang mempunyai pasangan elektron bebas. Kristal yang dihasilkan pada percobaan berwarna biru tua dan massa kristal garam garam kompleks ini diperoleh sebesar 4. proses pembentukan garam tersebut sangat lambat sehingga larutan dibiarkan semalaman agar kristal terbentuk dengan sempurna.77 gram dan persen rendamen yang telah didapatkan adalah sebesar 106%. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan persen rendamen yang cukup besar. Dalam proses pembuatan garam kompleks ini yang bertindak sebagai atom pusat adalah tembaga sedangkan yang menjadi ligannya adalah tetra amin.5H2O.

Garam kompleks yang diperoleh yaitu berwarna biru muda dan berbentuk kristal. V.sehingga terbentuk senyawa kompleks melalui ikatan koordinasi. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks Cu(II)-8-Hidroksikuinolin dan Co(II)-8-Hidroksikunolin.. L. 1 (1). KESIMPULAN Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Garam kompleks Cu(NH3)4SO4.5H2O dan (NH4)2SO4 dengan berat yang diperoleh sebesar 4. 2013.6H2O dapat dibuat dari garam CuSO 4. DAFTAR PUSTAKA Agustina. Sriatun. .5H2O dan larutan NH3 dengan berat yang diperoleh 4.H2O dapat dibuat dari garam CuSO 4.Garam rangkap CuSO4(NH4)2SO4. Jurnal Chem.5%. Suhartana..21 gram dan rendemenya sebesar 58.77 gram dan rendemen 106%.

Asas Pemeriksaan Kimia. Jurnal Penelitian Sains..Gramedia. Sintesis dan Sifat Magnetik Kompleks Ion Logam Cu(II) dengan Ligan 2-Feniletilamin. Sintesis Senyawa Kompleks Kobalt dengan Asetilasetonato. 15 (3). Lesbani. Jurnal Sains dan Seni Pemits. 1995. 1 (1)... H. 1993. Lucyanti. Universitas Indonesia Press. Ilmu Kimia Analitik Daso. 2013.. Saria.Harjadi. A. Y. Hidayati. Jakarta..N. F. . Martakk. Semarang. N.. PT. 2012. L. Rivai.. Swastika.