Anda di halaman 1dari 17

Pengolahan Limbah Cair Pabrik Pupuk Urea Menggunakan Advanced Oxidation

Processes
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Teknik Pengolahan Limbah

Oleh :
Siti Nurdiani Puji Astuti (3211131034)
Rindu Anggita (3211131037)
Indriani F Gunawan (3211131036)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2015

Pe-ngolahan limbah cair urea. pada penelitian ini menggunakan metode oksidasi. kekuatan oksidatornya juga dapat diatur sesuai ke-butuhan. Oleh karena itu. Untuk memproduksi setiap ton urea dibutuhkan air sebanyak 12 m3 dan menghasilkan limbah cair sebesar 2. Limbah cair yang dihasilkan ini mengandung amonium. kandungan amonium berkisar antara 2–9% berat limbah. Pengolahan yang selama ini dilakukan oleh PT. 1996) dalam Rahimpour dan Mottaghi. 2012). diperlukan pengolahan yang tepat untuk mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh limbah industri khususnya industri pupuk urea.5% berat limbah (Van Baal. Selain urea. Oksidasi yang dilakukan adalah metode oksidasi konvensional (menggunakan H2O2) dan Advanced Oxidation Processes (AOP). karbon dioksida 0.1 Latar Belakang Urea adalah senyawa kimia berbasis nitrogen yang disintesis dari reaksi antara ammonia dengan karbon dioksida pada kisaran temperatur dan tekanan tertentu.BAB I PENDAHULUAN 1. Hidro-gen peroksida telah banyak digunakan pada pengolahan limbah industri karena pe-nguraian hidrogen peroksida hanya meng-hasilkan air dan oksigen sehingga lebih ramah lingkungan.3 m3 (Swaminathan dkk. Proses pengolahan limbah meng-gunakan hidrogen peroksida mengikuti mekanisme reaksi sebagai berikut: H2O 2OH* H2O2 + OH* OOH* + H 2O (1) (2) ..3–1. 2010).8–6% berat limbah dan urea 0. 2005). Biasanya dalam aliran limbah. kandungan ammonia berlebih dalam limbah dapat menyebabkan kematian organisme air. Keberadaan urea dalam konsentrasi tertentu dapat menyebabkan peningkatan partumbuhan alga (blooming algae) (Hassani dkk. Pupuk Iskandar Muda (PIM) berupa netralisasi dan aerasi.. Selain itu. Limbah ini membutuhkan pengolahan agar tidak mencemari lingkungan dan dapat digunakan sebagai reuse fresh water pada urea plant (Rahimpour dan Mottaghi. 2010). Limbah ini berasal dari sejumlah unit yang terdapat dalam plant urea yang dibuang ke tempat penampungan dan pengolahan limbah. karbon dioksida dan urea. Aerasi bertujuan untuk melepaskan sejumlah amonium terlarut ataupun bebas dalam limbah cair ke udara bebas menggunakan aerator.

Mengetahui hasil dari pengolahan limbah dengan menggunakan Advanced Oxidation Processes. Radikal hidroksil (·OH) memiliki sebuah elektron tidak berpasangan yang membuatnya sangat reaktif. 3. 2. Mengetahui cara pengolahan limbah dengan menggunakan Advanced Oxidation Processes. Reaksi-reaksi tersebut dapat ditulis sebagai berikut (Guedes.OOH* + OH* H2O + 2On (3) Pemakaian hidrogen peroksida (H2O2) sebagai pengoksidasi dalam pengolahan air sering ditambahkan FeSO4 atau FeCl3 sebagai katalis. 2003): Fe2+ + H2O2 Fe3+ + ·OH + OH 3+ 2+ 2- + (4) Fe + H2O2 Fe + ·O + 2H (5) Fe3+ + · O2- Fe2+ + O2(g) + 2H+ (6) ·OH + kontaminan hasil samping (7) ·OH + H2O2 · HO2+ H2O (8) Penggunaan kedua jenis metode oksidasi ini untuk menurunkan kadar urea yang terkandung di dalam limbah cair PT PIM. Ion Fe3+ bereaksi dengan H2O2 membentuk ion Fe2+. Masing-masing larutan ini disebut reagen fenton dan fenton like. Radikal superoksida (·O-O-) bereaksi dengan ion Fe3+ membentuk Fe2+ dan oksigen (O2-). radikal superoksida (·O-O-) dan ion hidrogen (H+).2 Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk: 1. 1. Dalam larutan ini terjadi reaksi antara ion Fe2+ dengan hidrogen peroksida (H2O2) mem-bentuk ion Fe3+ dan radikal hidroksil (·OH). . Menurunkan kadar urea pada limbah cair pabrik pupuk urea.

misalnya pengecatan. Limbah cair industri merupakan limbah cair yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan di suatu industri. Kegiatan domestik. 3. Limbah cair merupakan buangan cair yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi untuk jenis kegiatan penghasilnya. dsb. Penggunaan bahan baku. salah satunya adalah masalah polusi. Kandungan dalam limbah cair tidak selalu harus berupa zat cair. cair ataupun gas yang dipandang sudah tidak memiliki nilai ekonomis sehingga cenderung untuk dibuang. 2. pabrik-pabrik memproduksi bahan polutan yang dapat mencemari lingkungan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berkembangnya dan bertambahnya pusat industri di suatu negara di satu sisi menguntungkan manusia. dsb. Oleh sebab itu. Beberapa sumber penghasil limbah cair di dalam suatu industri adalah : 1. Penggunaan bahan pendukung. tapi biasanya dalam proporsi yang jauh lebih kecil daripada zat cair. Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci utama untuk memelihara kelestarian lingkungan. dsb. 2. pencampuran bahan kimia. tapi di sisi lain dapat menyebabkan suatu masalah yang sangat serius jika tidak ditanggulangi. Kegiatan utilitas. diperlukan suatu instansi pengolahan limbah agar limbahlimbah tersebut tidak terlalu berbahaya jika disalurkan ke lingkungan. menara pendingin (cooling tower). kantin industri. Setiap hari bahkan setiap detik. Proses produksi. misalnya ketel uap (boiler). misalnya pembersihan lantai. Limbah adalah sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia baik berupa padat. Karakteristik limbah cair dari suatu industri umumnya lebih dipengaruhi oleh limbah cair dari proses produksi. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus . Limbah cair dapat juga mengandung gas dan padatan. pencucian bahan baku. Penggunaan air. Teknologi pengolahan air limbah yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. di antaranya : 1. 3.

flokulasi. yaitu : 1. Kombinasi sinar UV dengan katalis ion besi dan H2O2 (Fenton’s reagent : UV/H2O2/Fe2+) juga dapat digunakan untuk pengolahan air limbah. Rotating Bio Contractor) Saat ini penggunaan teknologi oksidasi atau yang sekarang dikenal dengan Advanced Oxidation Processes (AOP) mendapat perhatian yang cukup besar. Karena teknologi ini dapat menguraikan serta membersihkan senyawa-senyawa organik yang selama ini sulit atau tidak dapat diuraikan dengan menggunakan mikroba atau membran filtrasi. hidroksil dapat dihasilkan dari sistem yang . Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan. 1988). Dengan adanya sinar UV. trickling filter. Pengolahan secara biologi (lagoon. activated sludge. maka ion besi (Fe2+) yang dihasilkan dari reaksi tersebut dapat diubah menjadi ion Fe 3+ dengan menghasilkan radikal hidroksi Teknologi Oksidasi lanjutan yang lebih dikenal dengan istilah Advanced Oxidation Technologies (AOT). ·OH merupakan sebuah radikal bebas yang memiliki potensial yang sangat tinggi (2. Pengolahan secara kimia (koagulasi. oxidation ditch. maupun katalis adalah untuk menghasilkan hydroxyl radical (·OH). grit removal. suatu pereduksi oksidasi yang tinggi dengan merusak sebagian besar organik polutan di dalam air. Dengan bermacam teknologi. Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. flotasi. dkk. Kombinasi sinar UV dengan H2O2 telah terbukti berhasil memutuskan ikatan O-O dalam H2O2 dan menghasilkan hidroksi radikal (Buxton. Fungsi dari kombinasi sinar ultraviolet (UV) dengan suatu oksidator seperti ozon. Pengolahan secara fisika (screening. dan Peroksida (H2O2).8 V). klorinasi) 3. Tujuan dari semua Teknologi Oksidasi Lanjutan (AOT) adalah untuk memproduksi radikal hidroksil (OH). dengan mengkombinasikan hydrogen peroksida dan sinar ultraviolet dalam menurunkan kadar warna dan COD dalam limbah.sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan. Konsep sistem AOP ialah dengan menggunakan sinar Ultraviolet sebagai komponen utama system yang dikombinasikan dengan suatu oksidator maupun katalis. sehingga sangat mudah bereaksi dengan senyawa lain disekitarnya. sedimentasi) 2.

86. Penurunan nilai COD dengan menggunakan sinar ultraviolet terbukti optimal bekerja pada pH 2.3 sedangkan pada kondisi basa yaitu 6.3-11 penurunan COD berlangsung lambat.8-11. Kemampuan untuk merusak kontaminan adalah keuntungan utama dari oksidasi lanjutan dibandingkan proses lainnya. Radikal yang dihasilkan dari ini merusak senyawa organik dengan kemampuan yang sama seperti pada penggunaan UV/Peroksida yang telah ada sebelumnya.menggunakan sinar UV sebagai sumber energi untuk menimbulkan reaksi. BAB III . Penurunan COD yang paling cepat terjadi pada pH asam yaitu pH 2. atau sistem AOT gelap yang tidak tergantung pada sinar UV untuk melengkapi pengolahan.0.

Labu ukur 6. Centrifuge 15.1 Alat dan Bahan 3.1. Beaker glass 2. Magnetic stirrer 5. Cuvet 11. pH Meter Metrohm 7.1 dan 1 N 3. H2O2 30% 4. Vacuum filter 14. NaOH 0.2 Diagram Alir . Oven 12. Jar test 9.7H2O 500 ppm 3. Limbah inlet kolam penampungan dan pengolahan limbah (KPPL) PT PIM 2. Hot plate 13.1 dan 1 N 4. Stirrer plate 8. HCl 0. Desikator 3.1 Alat 1.METODOLOGI PERCOBAAN 3. Spec-trophotometer Shimadzu UV-1601 10. FeSO4. Erlenmeyer 4. Gelas ukur 3.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1.1.

dan 8000 ppm . 5000.1N dan 1N.5000.1N + Fe2+ 500 ppm pada berbagai konsentrasi H2O2 (3000. Metode oksidasi konvensional Limbah 100mL .Masukkan masing-masing ke dalam 4 beaker glass .Masukkan ke dalam beaker glass 100mL .saring dengan kertas saring dan vacuum filter Residu Filtrat .Aduk manggunakan jar test . 4000. dan nitrat Hasi l b. amonium.Analisis kandungan urea. nitrit.saring dengan kertas saring dan vacuum filter Filtrat Residu .1N dan 1N + H2O2 ke dalam masing-masing beaker glass dengan konsentrasi masing-masing (3000.Analisis kandungan urea. Metode AOP (Advanced Oxidation Processes) Limbah . dan NaOH 0. dan 8000 ppm .Tetapkan pH menggunakan HCl 0. dan nitrat Hasi l .diamkan selama 2 jam .pH limbah ditetapkan pada pH 5 dengan menambahkan HCl 1N dan 0.Diamkan selama 2 jam . Nirit. 4000. amonium.a.aduk dengan jar test .

43 6.43 *konsentrasi H2O2 (ppm) Tabel 1.15 697.17 557.01 852.93 7. Pengolahan lombah menggunakan metode AOP (Fe2+ 500 ppm + H2O2) Sampel Awal 3000* 4000* 5000* 6000* 8000* NO3 (ppm) 10.42 7. Disamping itu. .72 209. dan nitrit dalam limbah setelah treatment baik menggunakan metode konvensional maupun AOP (reagen fenton).02 Konsentrasi NO2 (ppm) NH4 (ppm) 7.73 141.95 5.24 798.20 Urea (ppm) 2566.97 6.63 5.57 9. dekomposisi urea juga semakin meningkat dengan semakin me-ningkatnya konsentrasi oksidator.32 13.80 13.60 10.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis dari pengolahan limbah dengan menggunakan metode konvensional ditunjukkan pada Tabel 1.36 709. Pengolahan lombah menggunakan metode oksidasi secara konvensional Sampel Awal 3000* 4000* 5000* 6000* 8000* NO3 (ppm) 10.90 11.30 NO2 (ppm) 7.68 15.08 Urea (ppm) 2566.37 5.24 12.98 605.60 12.34 442.28 472. Peningkatan konsentrasi tersebut disebabkan oleh dekomposisi urea menjadi amonium yang dilanjutkan dengan dekom-posisi amonium menjadi nitrit dan nitrat.36 887.23 362. sedangkan pe-ngolahan dengan menggunakan metode AOP dapat dilihat pada Tabel 2.20 215. nitrat.97 720.53 606.34 8.28 6.00 *konsentrasi H2O2 (ppm) Hasil analisis yang terdapat pada Tabel 1 dan 2 menunjukkan adanya penurunan konsentrasi urea dan meningkatnya konsentrasi amonium.13 1108.77 952.40 13.32 Konsentrasi NH4 (ppm) 472.32 421.93 549. Peng-gunaan oksidator yang berbeda memberikan perubahan terhadap konsentrasi urea.20 10.15 788. Tabel 1.94 0.20 11.

yaitu asam piruvat.77 V (Kommineni dkk. Asam piruvat memiliki ikatan rangkap C=O yang juga dimiliki oleh urea dan ikatan rangkap ini yang akan diputuskan oleh H2O2 dalam bentuk radikal hidroksil yang membentuk asetat (Schone dan Hermann. 2009): Fe2+ + H2O2 Fe3+ + OH. demikian juga pada penggunaan reagen fenton yang akan menghasilkan radikal hidroksil untuk mendegradasi urea menjadi senyawa amonium..Kemampuan dekomposisi urea oleh H2O2 pada penelitian ini mengikuti teori pendekatan reaksi antara H2O2 dengan senyawa asam monokarboksilat. Reaksi dekomposisi urea oleh radikal hidroksil yang dihasilkan reagen fenton dapat dilihat pada reaksi menurut per-samaan 1-4 (Chu dkk. dan orde satu terhadap amonium. 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan senyawa urea . 2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan fenton lebih mampu mendegradasi urea. Dari reaksi di atas dapat dilihat bahwa H2O2 membentuk radikal hidroksil dengan adanya katalis Fe.8 V dan 1. Lucas dan Peres.1 Kinetika Reaksi Laju kinetika reaksi dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan reaksi seri irre-versible orde satu terhadap urea dan ammonium. orde nol terhadap urea. 3. Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 2 dekomposisi urea menggunakan fenton mampu menurunkan konsentrasi urea hingga 0 ppm dari konsentrasi urea sekitar 2600 ppm pada pemakaian konsentrasi fenton H2O2 8000 ppm dan Fe2+ 500 ppm. Hal ini disebabkan radikal hidroksil yang dihasil-kan dari masing-masing oksidator fenton dan hidrogen peroksida memiliki bilangan potensial oksidasi 2.+ Fe3+ Fe2+ + O2 (11) ·OH + (NH2)2CO NH4++OCN-+OH. 2006)..+ 2H+ (10) ·O2.(12) Reaksi Fenton secara konvensional menggunakan hidrogen peroksida yang digabung dengan besi pada kondisi asam. Peningkatan pembentukan radikal hidroksil akan meningkatkan reaksi dekomposisi urea oleh radikal seperti ditunjukkan oleh reaksi pada persamaan 912. Radikal hidroksil yang terbentuk akan bereaksi dengan urea sehingga menghasilkan amonium dan ion sianat.+ ·OH (9) Fe3+ + H2O2 Fe2+ + ·O2.

dan NO3-. di mana reaksinya: A k1 R k2 S (13) Keterangan: A = urea R = amonium S = nitrit-nitrat k1= konstanta laju reaksi perubahan urea-amonium k2= konstanta laju reaksi perubahan amo-nium-(nitrit-nitrat) Pemodelan reaksi dekomposisi pada penelitian ini adalah reaksi seri irreversible. yaitu reaksi seri irreversible. 1999).dan amonium yang ter-kandung dalam limbah selama treatment dalam range waktu tertentu adalah urea didekomposisi menjadi amonium yang dilanjutkan dengan dekomposisi amonium menjadi NO2. (15) . Untuk reaksi orde nol: A – A0 = – k1 t (14) Untuk reaksi orde satu: [A] = [A0] e-k1t di mana A = konsentrasi zat pada waktu t A0 = konsentrasi zat pada waktu t = 0 K1 = konstanta laju reaksi pada masing-masing orde. Perhitungan orde reaksi urea dilakukan dengan menggunakan penurunan persamaan berikut (Levenspiel. reaksi orde nol dan satu terhadap urea yang diperoleh dijadikan dasar kemungkinan untuk penentuan orde reaksi amonium-nitrit. Reaksi dekomposisi urea menjadi amonium dan amonium menjadi nitrit-nitrat dimodelkan sebagai reaksi multi.

Orde reaksi dengan nilai SSEterkecil dan konstanta laju reaksi yang secara teori kinetika reaksi kimia memenuhi syarat dipilih sebagai orde reaksi yang tepat. plot hasil perhitungan untuk kinetika reaksi dekomposisi urea-ammonium-nitrit mengikuti orde satu–nol dan orde satu-satu dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2 serta Tabel 4. untuk degradasi urea menjadi ammonium adalah orde satu dengan nilai konstanta laju reaksi k1 = 0.29 Dari hasil penurunan secara matematis untuk kinetika reaksi seri irreversible pada persamaan (13). Hasil estimasi konstanta kecepatan reaksi dekomposisi urea K1 (min-1) 29.42 0. = + (16) Hasil pengolahan data dengan menggunakan persamaan (6)-(9). Pemilihan orde reaksi didasarkan pada nilai SSE dan nilai konstanta reaksi yang diperoleh.062067 min-1 dengan SSE = 0.Hasil dari estimasi menggunakan Solver dari fasilitas Microsoft Excel nilai konstanta kecepatan reaksi dekomposisi urea menjadi amonium diperlihatkan pada Tabel 3. diperoleh masing-masing persamaan. Tabel 3.06207 Orde reaksi Orde nol Orde satu SSE 1. yaitu (Levenspiel. Hasil pengolahan data orde reaksi dekomposisi urea-amonium-nitrit Orde k1 (min-1) Kestimasi (solver) k2 (min-1) SSE . 1999). = - - t (15) A-R orde satu dan R-S orde satu. Berdasarkan hasil pengolahan data yang ditunjukkan pada Tabel 3.29. A-R orde satu dan R-S orde nol. Tabel 4.9869 0.

935 0. Gambar 1. Kinetika reaksi seri urea amonium orde satu-nol (CA/CA0 = konsentrasi urea.023 0.852 Gambar 1 menunjukkan hasil plot antara rasio konsentrasi dan t sebagai fungsi waktu (menit) yang nilai konstanta kecepatan reaksi pada persamaan 13 dan 15 diestimasi secara simultan dengan menggunakan Solver untuk reaksi order satu-nol dengan pendekatan persamaan non-linear. CR/CA0 = konsentrasi amo-nium) ( estimasi (solver).Orde satu-nol Orde satu-satu 0.022 1. amoniak data) . urea data. Sedangkan Gambar 2 menunjukkan hasil yang lebih baik dari Gambar 1.247 0. Kurva yang diperoleh tidak memberikan hasil yang sangat baik dengan nilai SSE yang ditunjukkan pada Tabel 4.019 6.

urea data. amoniak data) Nilai konstanta laju reaksi dekomposisi urea-ammonium (k1) dan konstanta laju reaksi dekomposisi amonium-nitrit (k2) dari hasil estimasi masing-masing adalah 0. Kinetika reaksi seri urea-amonium orde satu-satu (CA/CA= konsentrasi urea. CR/CA0= konsentrasi amonium) ( estimasi (Solver).Gambar 2.019 min-1 dan 0. .022 min-1.

019 min-1 dan 0.022 min-1. . Reagen Fenton mampu menurunkan konsentrasi urea dari 2566. Kinetika reaksi degradasi urea-amonium dan amonium-nitrit mengikuti kinetika reaksi seri irreversible orde satu-satu.7H2O 500 ppm dan H2O2 8000 ppm.1 ppm menjadi 0 ppm dengan variasi FeSO4. Nilai koefisien laju reaksi k1dan k2 yang diperoleh masing-masing adalah 0.BAB V KESIMPULAN Metode oksidasi baik kovensional menggunakan H2O2 maupun AOP dengan menggunakan reagen fenton pada pH 5 dapat mendegradasi konsentrasi urea yang terkandung dalam limbah cair industri pupuk.

Belaid... C.. Chemical Engineering Journal.. L. M. (1999) Chemical Reaction Engineering. amonia and carbon dioxide removal from industrial wastewater using a cascade of hydrolyser–Desorber Loops. Journal of Hazar-dous Materials. 391–395.S. 16/3. Chemical Engineering Journal. (2009) Removal of COD from olive mill wastewater by fenton’s reagent: kinetic study.191. (2012). (2003) Fenton oxidation of cork cooking wastewater-ovekinetic analysis... Guedes. M. Elleuch. M. Liu. Boussahel. (2012) The relationship between the Harmful Alga Blooms (HABs) phenol-menon with nutrients at shrimp farms and fish cage culture sites in pesawaran district Lampung Bay. A. Mechichi. O.. Treatment of coking wastewater by an advanced Fenton oxidation process using iron powder and hydrogen peroxide. J..J. 168. Makara Journal of Science. Rahimpour. (2009b) Olive mill wastewater degradation by fenton oxidation with zero-valent iron and hydrogen peroxide. (2013) Kinetic measurement on the reactivity of hydrogen peroxide and ozone towards small atmospherically relevant alde-hydes. 1253–1259. 86. New York.. Sun.. Ksibi.. (2009a) Removal of organic load and phenolic compounds from olive mill wastewater by fenton oxidation with zerovalent iron. Chemosphere. M. Hassani. C. Montiel. Peres. L. Pratiwi. H. Chu.M. 409-414. Adiwilaga. Dong. A.. N. 163. Elleuch B. Lucas.3069.M. B. 594–606.F... Wang. T. Kallel. ketones. R. X. H. M. Ksibi. H. 3061.. R. Proceeding of Eighth Stamicarbon Urea Symposium.. 550–554.. H. J. Levenspiel. Q. Journal of Hazardous Materials. John Wiley & Sons. R. (2010) Enhancement of urea. and . (1996) The environmental impact of a stamicarbon 2000 mtd urea plant. Pupuk Iskandar Muda (2006) Prosedur Standar Analisa Method. Water Research.DAFTAR PUSTAKA Baal van.. 160. Mottaghi. A. Belaid. Hermann. 37. Schone. 4-7.. E.M. 150. 183. 3rd Edition. Kallel M..

Atmospheric Chemistry and Physics. 4503-4514. IFA Technical Committee Meeting. B.organic acid in aqueous solution.. Singh. K. (2005) Water conservation in Indian fertilizer industry. . Leibniz-Institute for Tropospheric (TROPOS). M. 11-13 April. A. Swaminathan. Egypt. Goshwani.. 14.