Anda di halaman 1dari 25

Dermatitis

Kontak Alergik
(DKA)
13.10.211.133

Definisi ...

Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan


oleh bahan atau substansi yang menempel pada
kulit.
Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu
dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak
alergik (DKA), keduanya dapat bersifat akut
maupun kronik.
Dermatitis iritan merupakan reaksi peradangan
kulit nonimunologik, sehingga kerusakan kulit
terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi.
Sebaliknya, dermatitis kontak alergik terjadi pada
seseorang yang telah mengalami sensitisasi
terhadap suatu alergen .

Epidemiologi ...

Jumlah penderita DKA << DKI, karena hanya


mengenai orang yang keadaan kulitnya sangat
peka (hipersensitif).
Inggris dan Amerika Serikat DKA akibat kerja
berkisar antara 50 60 %.
Usia tidak mempengaruhi timbulnya sensitisasi,
tetapi umumnya DKA jarang ditemui pada anakanak.
Prevalensi pada wanita dua kali lipat dibandingkan
pada laki-laki.
Bangsa kaukasian lebih sering terkena DKA dari
pada ras bangsa lain .

Etiologi ...

Penyebab DKA adalah bahan kimia


sederhana dengan berat molekul
umumnya rendah (<1000 dalton),
merupakan
allergen
yang
belum
diproses, disebut hapten, bersifat
lipofilik,
sangat
reaktif,
dapat
menembus stratum korneum sehingga
mencapai sel epidermis dibawahnya
(sel hidup).

Faktor resiko ...


Faktor eksogen potensi sensitisasi
alergen, dosis perunit area, luas daerah
yang terkena, lama pajanan, oklusi, suhu
dan kelembaban lingkungan, vehikulum,
dan pH.
Faktor individu keadaan kulit pada
lokasi kontak (keadaan stratum korneum,
ketebalan epidermis), status imunologik
(misalnya
sedang
menderita
sakit,
terpajan sinar matahari).

Manifestasi klinis ...

Utama gatal
Kondisi akut : lesi eritematosa yang
berbatas
tegas

edema
,
papulovesikel, vesikel/bula erosi dan
eksudasi ( basah ).
Kondisi kronik : kulit kering, skuama,
papul, likenifikasi , kadang fisur dengan
batas yang tidak jelas .

Pemeriksaan penunjang ...


Uji tempel
Tempat untuk melakukan uji tempel
biasanya di punggung.
Bahan
yang
digunakan
seperti
kosmetik, pelembab, sampo, pasta
gigi, pakaian, sepatu, atau sarung
tangan, detergen,
Bahan tersebut ditempelkan di kulit
dengan
memakai
Finn
chamber,
dibiarkan sekurang-kurangnya 48 jam.

Berbagai hal berikut ini perlu diperhatikan


dalam pelaksanaan uji tempel :
1. Dermatitis sudah sembuh,
2. Tes
dilakukan sekurang-kurangnya satu
minggu setelah pemakaian kortikosteroid
sistemik dihentikan ,
3. Uji
tempel dibuka setelah dua hari,
kemudian dibaca,
4. Penderita dilarang melakukan aktivitas yang
menyebabkan uji tempel menjadi longgar,
5. Uji
tempel
dengan
bahan
tidak
diperbolehkan
untuk
penderita
yang
mempunyai riwayat tipe urtikaria dadakan.

Hasilnya dicatat seperti berikut :


1. = reaksi lemah (nonvesikular) : eritema, infiltrat,
papul (+)
2. = reaksi kuat : edema atau vesikel (++)
3. = reaksi sangat kuat (ekstrim) : bula atau ulkus
(+++)
4. = meragukan : hanya makula eritematosa
5. = iritasi : seperti terbakar, pustul, atau purpura
(IR)
6. = reaksi negatif (-)
7. = excited skin
8. = tidak dites (NT=non tested)

T.R.U.E. Test
(Mekos Laboratories, Hillerod,
Denmark) patch-test.
A. Hasil uji positif
terhadap picaridin (KBR)
2,5%.
B. Hasil uji positif
terhadap methyl glucose
diolate (MGD) 10%.

Histopatologi

Epidermis :
Hiperkeratosis, serum sering terjebak dalam
stratum korneum.
Hiperplastik, akantosis yang luas.
Spongiosis, yang kadang vesikuler. Manifestasi
dini ditandai dengan penonjol dari jembatan
antar sel di lapisan spinosus.
Kemudian ada epidermotropism dari limfosit
yang muncul normal.
Dermis :
Limfosit perivesikuler
Eosinofil: bervariasi, muncul awal dan karena
sebab alergi
Edema

Diagnosis banding ...

DKI, yaitu tidak ada alergen yang dapt dikenali.


Sering keadaan ini hanya dapat dibedakan dari
dermatitis
kontak
alergi
dengna
uji
tempel.Dermatitis kontak dapat memperparah
eksema tangan yang sudah ada sebelumnya
Dermatitis numularis, yaitu ditandai dengan
plak
diakret,
terskuama,
kemerahan,
berbentuk uanga logam, dan gatal, serupa
dengan dermtitis kontak tetapi tanpa riwayat
paparan terhadap alergen dan lesinya bundar,
tidak ada konfigurasi lainnya.

Dermatofitosis, yaitu biasanya berbatas


tegas pinggir aktif dan bagian tengah
agak menyembuh
Kandidiasis,
yaitu
biasanya
dengan
lokalisasi yang khas.Efloresensi berupa
eritema,erosi, dan ada lesi satelit.

Tatalaksana ...

1.

2.
3.

4.

Non medikamentosa
Memotong kuku kuku jari tangan dan jaga
tetap bersih dan pendek serta tidak menggaruk
lesi karena akan menimbulkan infeksi
Memberi edukasi mengenai kegiatan yang
berisiko untuk terkena dermatitis kontak alergi
Gunakan perlengkapan/pakaian pelindung saat
melakukan aktivitas yang bersentuhan dengan
alergen
Memberi edukasi kepada pasien untuk tidak
mengenakan perhiasan, aksesoris, pakaian atau
sandal yang merupakan penyebab alergi

Medikamentosa
Simptomatis
Diberi antihistamin yaitu Chlorpheniramine Maleat (CTM)
sebanyak 3-4mg, sehari 2-3kali untuk dewasadan 0,09 mg,
sehari 3 kali untuk anak anak
Sistemik
1. Kortikosteroid yaitu prednison sebanyak 5 mg, sehari 3 kali
2. Cetirizine tablet 1x10mg/hari
3. Bila terdapat infeksi sekunder diberikan antibiotika
(amoksisilin atau eritromisin) dengan dosis 3x500mg/hari,
selama 5 hingga 7 hari
. Topikal
Krim desoksimetason 0,25%, 2 kali sehari

Prognosis ...

Prognosis dermatitis kontak alergi


umumnya
baik,
sejauh
bahan
kontaknya dapat disingkirkan

Kompikasi ...

Rasa gatal yang berkepanjangan serta


perilaku menggaruk dapat dapat mendorong
kelembaban
pada
lesi
kulit
sehingga
menciptakan lingkungan yang ramah bagi
bakteri Staphylococcus aureus, jamur, atau
oleh virus misalnya herpes simpleks.
Selain itu dapat pula menyebabkan eritema
multiforme (lecet) dan menyebabkan kulit
berubah warna, tebal dan kasar atau disebut
neurodermatitis (lichen simplex chronicus)

Referensi :

Ilmu penyakit kulit dan kelamin UI


Kapita selekta jilid II
Saripati penyakit kulit
Medline
Refarat dermatitis kontak alergik
(Universitas Jenderal Soedirman)

... Terima kasih ...