Anda di halaman 1dari 51

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Karakteristik Siswa Kelas V Sekolah Dasar (SD)


Massofa menyebutkan bahwa karakteristik anak sekolah dasar (SD)
mempunyai beberapa tahapan perkembangan yaitu: Perkembangan intelektual
dan emosional, perkembangan bahasa, serta perkembangan moral, sosial, dan
sikap (2008: 35).
1) Perkembangan Intelektual
Perkembangan intelektual anak sangat tergantung pada berbagai faktor
utama, antara lain kesehatan gizi, kebugaran jasmani, pergaulan dan
pembinaan orang tua. Akibat terganggunya perkembangan intelektual,
anak kurang dapat berpikir operasional, tidak memiliki kemampuan
mental dan kurang aktif dalam pergaulan maupun dalam berkomunikasi
dengan teman-temannya.

Pada umumnya siswa kelas V SD rata-rata berusia sekitar 10-11 tahun.


Anak yang berusia 10-11 tahun termasuk dalam tahap operasional konkret.
Pada usia sekolah dasar (usia 6 12 tahun) anak sudah dapat mereaksi
rangsangan intelektual, atau melaksananakn tugas-tugas belajar yang
menuntut kemampuan dalam kaitannya dengan aspek

intelektual atau

kemampuan kogitif, seperti membaca, menulis dan menghitung (Susanto,


2013: 73).

Pada tahap operasinal konkret anak berpikir secara sistematis untuk


memecahkan

masalah.

Operasional

konkret

berkaitan

dengan

perkembangan kognitif yang berkembang dengan seiring bertambahnya


usia anak. Perkembangan kognitif berpengaruh terhadap perkembangan
commit perkembangan
to user
bahasa anak. Bruner menyatakan
bahasa berpengaruh besar
9

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

10
terhadap perkembangan kognitif. Anak belajar melalui simbol bahasa,
logika, matematika dan komunikasinya dilakukan dengan menggunakan
sistem simbolnya. Semakin anak bertambah dewasa anak sistem
simbolnya akan semakin dominan (Suprijono, 2012: 25).

2) Perkembangan Emosional
Selain perkembangan intelektual, siswa SD sebagai anak yang memiliki
proses perkembangan, juga mengalami perkembangan emosional yang
berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia,
lingkungan, pergaulan dan pembinaan orang tua maupun guru di sekolah.
Perbedaan

perkembangan

emosional

tersebut

juga

dapat

dilihat

berdasarkan ras, budaya, etnik, topografi lingkungan, dan karakteristik


bangsa.

Menurut Massofa, perkembangan emosional juga dapat dipengaruhi oleh


adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan faktor-faktor eksternal yang
sering kali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang sedang tumbuh.
Dalam artian kondisi yang dihadapi anak adalah kondisi baru dan relatif
asing karena belum pernah dijumpai sebelumnya. Namun sering kali juga
adanya tindakan orang tua yang sering kali tidak dapat mempengaruhi
perkembangan emosional anak. Misalnya sangat dimanjakan, terlalu
banyak larangan karena terlalu mencintai anaknya. Akan tetapi sikap
orang tua yang sangat keras, suka menekan dan selalu menghukum anak
sekalipun anak membuat kesalahan sepele juga dapat mempengaruhi
keseimbangan emosional anak (2008: 2).

Banyak faktor yang mampu mempengaruhi perkembangan emosional


anak, perlakuan saudara serumah (kakak-adik) juga merupakan faktor
yang amat berpengaruh pada perkembangan emosional dan kepribadian
anak, orang lain yang sering kali bertemu dan bergaul juga memegang
commit to user
peranan penting pada perkembangan
emosional anak.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

11
3) Perkembangan Bahasa
Menurut Massofa, tahap perkembangan lain yang tidak kalah pentingnya
adalah perkembangan bahasa pada anak. Bahasa telah berkembang sejak
anak berusia 4-5 bulan. Orang tua yang bijak selalu membimbing anaknya
untuk belajar berbicara mulai dari yang sederhana sampai anak memiliki
keterampilan berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena
itu bahasa berkembang setahap demi setahap sesuai dengan pertumbuhan
organ pada anak dan kesediaan orang tua membimbing anaknya.
Rangsangan bimbingan untuk memperoleh bahasa dapat menyebabkan
perkembangan bahasa anak terhambat. Terhambatnya perkembangan
bahasa anak akan mempersulit cara alami anak untuk berkomunikasi.
Berbicara adalah salah satu usaha untuk berkomunikasi (2008: 45).

4) Perkembangan Moral
Selain perkembangan intelektual, emosional dan bahasa, perkembangan
moral anak juga perlu diperhatikan dan diasah dengan baik. Moral dan
budi pekerti adalah sisi afektif yang akan menjadi pelengkap
perkembangan intelektual, emosional dan bahasa anak. Moral berkaitan
dengan rasa/sikap malu jika berbuat salah/menyimpang dari aturan, dan
juga berkaitan dengan penilaian hati nurani yang didasarkan atas dimensi
religius seseorang.
Tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg yang disarikan oleh
Hardiman (1987) adalah: (1) Tingkat pra-konvensional, (2) Tingkat
konvensional,

dan

(3)

Tingkat

pascakonvensional.

Tingkat

pra-

konfensional terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap 1: Orientasi hukuman dan


kepatuhan, tahap 2: Orientasi instrumentalistis. Tingkat konvensional
terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap 3: Orientasi kerukunan atau orientasi good
boy nice girl, sedangkan tahap 4: Orientasi ketertiban masyarakat.
Tingkat pascakonvensional terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap 5: Orientasi
kontrak sosial dan tahap 6: Orientasi prinsip etis universal (Budiningsih,
commit to user
2008: 28-31).

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

12
Kohlberg mengemukakan ada korelasi antara tingkat alasan moral dengan
tingkat kognitif. Orang sampai pada penyesuaian moral secara bebas dari
pada internalisasi dari orang tua, guru, atau teman sejawatnya. Kohlberg
melukiskan tiga tingkatan alasan moral sebagai berikut:
Tingkat 1: Pra-coventional morality (anak usia 4-10 tahun).
Anak masih di bawah pengawasan orang tua dan lain-lain, tunduk
pada peraturan untuk mendapatkan hadiah atau menghindari
hukuman.
Tingkat 2: Conventional morality (Anak berusia 10-13 tahun).
Anak-anak telah menginternalisasikan figur kekuasaan standar.
Mereka patuh terhadap peraturan untuk menyenangkan orang lain
atau mempertahankan perintah.
Tingkat 3: Post-Conventional morality (Anak berusia 13 ke atas ).
Moralitas sepenuhnya internal. Dewasa ini orang-orang telah
mengenal beberapa konflik standar moral dan memilih di antaranya
standar tersebut (Sumantri, 2012: 2. 44).
Berdasarkan tingkat alasan moral Kohlberg, anak kelas V termasuk pada
tingkat 2 yaitu : Conventional morality (Anak berusia 10-13 tahun). Anakanak telah menginternalisasikan figur kekuasaan standar. Mereka patuh
terhadap peraturan untuk menyenangkan orang lain atau mempertahankan
perintah.
Dalam perkembangan anak, seiring adanya proses sosialisasi, pendidikan
dan bimbingan dari orang tua, terkadang anak akan menemui kondisi
dimana ada perbedaan konsep moral yang dipahami, dari lingkungan yang
berbeda. Hal tersebut akan membingungkan anak dalam bertindak dan
memilih sikap. Hal tersebut juga disebut sebagai fenomena dilema moral.

Massofa menilai bahwa penting kiranya, para orang tua untuk memberikan
bimbingan, dan juga harus mengajarkan bagaimana anak bergaul dalam
masyarakat dengan tepat, dan dituntut menjadi teladan yang baik bagi
anak, mengembangkan keterampilan anak dalam bergaul dan memberikan
penguatan melalui pemberian hadiah kepada anak apabila berbuat atau
berperilaku yang positif. Pengawasan orang tua juga sangat penting
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

13
sehingga perkembangan anak dapat berjalan dengan optimal dan sesuai
dengan nilai dan moral yang baik (2008: 47).

Salah satu contoh dilema moral yang terjadi adalah sebuah kasus yang
terjadi di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, atas, dan tinggi.
Penanaman nilai kejujuran pada sekolah dasar amatlah tinggi dan
didukung dengan adanya pengawasan yang ketat dari guru, dan siswa itu
sendiri. Hal itu dapat kita amati pada siswa sekolah dasar yang selalu
menutupi pekerjaan/tulisan atau kertas lembar jawab yang sedang mereka
kerjakan. Hampir sebagian besar siswa SD adalah siswa yang bisa dibilang
anti mencontek dan diconteki. Itu merupakan budaya yang bagus yang
telah sukses ditanamkan oleh guru, melalui indoktrinasi, pengawasan dan
ganjaran.

Suatu perilaku akan menjadi kebiasaan jika diikuti oleh dukungan, dan
ganjaran. Sebaliknya, perilaku akan menghilang seiring dari rendahnya
dorongan dan apresiasi yang diterima. Dalam dunia pendidikan hal itu
dikenal dengan istilah penguatan. Penguatan adalah usaha dalam bentuk
tertentu yang dilakukan dengan tujuan untuk mengekalkan/memusnahkan
suatu perilaku. Terdapat dua jenis penguatan, yaitu penguatan positif dan
penguatan negatif. Penguatan positif dilakukan untuk mengekalkan suatu
perilaku yang dianggap baik, sedangakan penguatan negatif dilakukan
untuk mengurangi ataupun menghilangkan perilaku tertentu yang
dianggap buruk dan tidak sesuai moral. Dalam redaksi lain, dapat
dikatakan bahwa penguatan positif dan negatif bisa dilakukan dengan cara
memberikan hadiah dan hukuman. Penguatan positif dengan hadiah,
penguatan negatif dengan hukuman.

5) Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial dan kepribadian mulai dari usia prasekolah sampai
commit
to user
akhir masa sekolah, ditandai
oleh meluasnya
lingkungan sosial. Anak-anak

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

14
melepaskan diri dari keluarga, ia makin mendekatkan diri pada orang lain,
di samping anggota keluarga. Meluasnya lingkungan sosial bagi anak
menyebabkan anak menjumpai pengaruh-pengaruh yang ada di luar
pengawasan orang tua. Ia begaul dengan teman-teman, ia mempunyai
guru-guru yang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam proses
emansipasi (Monks & Knoers, trj. Haditono, 2006: 183).

Dalam proses emansipasi dan individu maka teman-teman sebaya


mempunyai peranan yang besar. Di samping itu maka perkembangan
motif prestasi dan identitas kelamin sangat penting, tetapi juga
perkembangan pengertian norma atau seperti apa yang disebut Piaget
moralitas, justru dalam periode ini mendapatkan kemajuan yang essensial.

Piaget mengemukakan adanya permulaan kerja sama serta konformisme


sosial yang bertambah pada usia antara 7 dan 10 tahun dan sehubungan
dengan hal itu adanya suatu perhatian yang lebih besar pada interaksi yang
mengandung peraturan-peraturan. Di antara usia 10 dan 14 tahun timbulah
kelompok yang ada organisasinya, dengan seperangkat aturan-aturan dan
perjanjian (Monks & Knoers, trj. Haditono, 2006:184).

6) Perkembangan Sikap
Menurut Kartono, sebagai makhluk susila atau bermoral, anak didik itu
pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila,
dan mampu membedakan hal-hal yang baik dari yang buruk sesuai dengan
norma-norma tertentu yang didasarkan pada filsafat hidup atau ajaran
agama tertentu. Manusia sebagai makhluk susila juga berarti manusia itu
memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai tersebut dalam
perbuatan. Pemahaman anak tentang kesusilaan itu tidak serta merta
dipahami oleh anak didik. Oleh karena itu anak didik harus diarahkan,
dibimbing, dan dididik ke arah tujuan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai
user
kesusilaan yang dijunjungcommit
tinggito(Suharjo,
2006: 36). Sedangkan Eiser

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

15
dalam Sobur, menyebutkan bahwa sikap berkaitan dengan melibatkan
pertimbangan yang bersifat menilai (2009: 356).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anak kelas V


sekolah dasar (SD) secara kognitif sudah mampu mengerjakan tugas seperti
membaca pemahaman, logika, pemahaman simbol,

menulis pengalaman,

berhitung matematika terapan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan kelas rendah, anak kelas tinggi memiliki pemahaman
dan pengetahuan yang lebih luas pula, seiring dengan muatan pengetahuan
yang dipelajarinya di sekolah dan di rumah.
Secara emosional mencerminkan perkembangan emosional yang
cenderung lebih stabil, tetapi untuk kasus-kasus tertentu emosional anak
memang dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, perlakuan saudara, dan teman,
juga dipengaruhi oleh penerimaan orang lain terhadap dirinya. Anak kelas V
SD yang sering mencari perhatian dan berkelahi biasanya orang tuanya kurang
memberikan perhatian, lebih sering membebaskan dan cuek, sehingga anak
mencari pelampiasan dan begitu juga sebaliknya.
Berdasarkan perkembangan bahasanya, anak kelas V SD berada pada
posisi perbendaharaan kata yang banyak dan kaya, itu karena secara kognitif
siswa kelas V SD telah belajar banyak hal, lingkup pergaulannya meluas dan
aspek bimbingan orang tua dan teman sebaya juga mempengaruhi semakin
kayanya penguasaan bahasa anak kelas V SD.
Berdasarkan perkembangan moralnya, anak kelas V SD berada pada
Berdasarkan tingkat alasan moral Kohlberg, anak kelas V termasuk pada
tingkat 2 yaitu : Conventional morality (Anak berusia 10-13 tahun). Anakanak telah menginternalisasikan

figur kekuasaan standar. Mereka patuh

terhadap peraturan untuk menyenangkan orang lain atau mempertahankan


perintah. Perkembangan moral anak kelas V SD relatif stabil namun masih
riskan jika mendapatkan pengaruh buruk yang terus menerus tanpa adanya
penguatan negatif. Anak kelas V yang tumbuh pada keluarga yang selalu
to negatif
user atas setiap perilaku anaknya,
memberikan peguatan positifcommit
maupun

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

16
akan menumbuhkan perkembangan moral secara baik sehingga anak akan
mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk. Perilaku anak yang
buruk jika tidak segera ditegur maka akan terus berkelanjutan hingga dewasa.
Oleh karena itu pengawasan orang tua perlu ditingkatkan, mengingat
karakteristik anak SD masih suka meniru-niru hal yang baru dan menarik.
Berdasarkan perkembangan sosialnya, anak kelas V sekolah dasar
(SD) berada pada perkembangan sosial yang semakin meluas, dimana anak
kelas V telah melewati tahapan panjang dalam bersosialisasi, baik di
lingkungan sekolah, rumah maupun di lingkungan sekitar rumahnya. Anak
kelas V memiliki banyak teman dari teman taman kanak-kanak (TK), teman
kelas I-IV SD, mengenal guru, mengenal penjaga sekolah, mengenal teman
bermain di rumah dan memiliki kenalan sahabat pena. Maka dari itu
perkembangan sosial anak kelas V SD mulai meluas dan akan semakin
meluas.
Berdasarkan perkembangan sikapnya, diketahui bahwa anak kelas V
sekolah dasar (SD) berada pada perkembangan sikap yang lebih terarah jika
dibandingkan dengan siswa kelas rendah. Anak kelas V sekolah dasar sudah
memasuki tahap oprasional kongkret, sehingga pemikirannya mulai mampu
digunakan secara lebih dewasa untuk mempertimbangkan sesuatu yang
dihadapi, sehingga mampu mengambil keputusan dan bersikap secara bijak.
Tetapi juga perlu adanya bimbingan yang terus menerus dari pendidik dan
orang tua, karena bimbingan sangat membantu perkembangan sistem sikap
pada siswa sekolah dasar, sebagai bekal mengembangkan potensi diri.

2. Pembentukan Ranah Afektif Kejujuran dalam Kehidupan Sosial Siswa


a. Pembentukan Ranah Afektif Kejujuran
1) Pengertian Ranah Afektif
Menurut KBBI, ranah adalah suatu cakupan atau rambu-rambu
yang membatasi suatu kategori atau kawasan tertentu yang memiliki
ciri dan bahasan yang sama, berkaiatan dengan perasaan manusia.
commituntuk
to user
Adanya suatu ranah adalah
membedakan antara suatu kategori

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

17
dengan kategori yang lain, wilayah yang satu dengan wilayah yang
lainnya. Ranah afektif berarti suatu wilayah yang membatasi
bahasannya pada suatu yang hanya berhubungan dengan sikap, emosi
dan perasaan manusia. Ranah afektif berbeda dengan ranah kognitif
dan psikomotor. Secara sempit, ranah juga bisa diartikan sebagai zona,
batasan, wilayah, domain atau istilah lain yang sejenis.
Ranah afektif menurut (Karthwohl dan Bloom, dkk.) yang
dikutip Mardapi terdiri dari lima perilaku-perilaku sebagai berikut: (1)
Penerimaan, mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan
memperhatikan hal tersebut, (2) Partisipasi, mencakup kerelaan,
kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan, (3)
Penilaian dan penentuan sikap, mencakup menerima suatu nilai,
menghargai, mengakui, dan menentukan sikap, (4) Organisasi,
mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai
pedoman dan pegangan hidup, (5) Pembentukan pola hidup, mencakup
kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai
kehidupan pribadi. Siswa yang belajar akan memperbaiki kemampuankemampuan internalnya yang afektif. Siswa mempelajari kepekaan
tentang sesuatu hal sampai pada penghayatan nilai sehingga menjadi
suatu pegangan hidup (2011: 8-10).
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ranah
afektif merupakan suatu kawasan tertentu dalam mendefinisikan suatu
hal yang berkaitan dengan tipikal perasaan manusia, meliputi perilaku
yang didasari oleh perasaan menerima, partisipasi, penilaian,
organisasi, dan pada akhirnya berperan pada pembentukan pola hidup.
Ranah afektif berkaitan dengan penempatan empati seseorang pada
posisi orang lain, kepekaan perasaan dalam merespon suatu hal,
sebagai akibat penerimaan nilai-nilai dan norma hidup masyarakat
yang dipercayai atau diyakini.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

18
2) Karakteristik Ranah Afektif
Depdiknas menyebutkan 5 (lima) tipe karakteristik afektif
yang penting, yaitu: sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
Menurut Depdiknas, sikap merupakan suatu kecenderungan untuk
bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap
dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang
positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal.
Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan
yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu.
Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui
sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran,
pendidik, dan sebagainya (2008: 4-6).
Lebih jauh lagi, Depdiknas mengutip pendapat Fishbein dan
Ajzen (1975) mengenai sikap, yang di dalamnya menegaskan bahwa
sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara
positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang.
Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah
atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk
ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata
pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta
didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum
mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator
keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk
pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif (2008: 4-6).
Menurut pendapat Getzel (1966), yang dikutip oleh Depdiknas,
menyebutkan bahwa minat adalah suatu disposisi yang terorganisir
melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh
objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan
commitSedangkan
to user menurut kamus besar bahasa
perhatian atau pencapaian.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

19
Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan
hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah
intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang
memiliki intensitas tinggi (2008: 4-6).
Menurut Depdiknas, penilaian minat dapat digunakan untuk:
(a) mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan
dalam pembelajaran, (b) mengetahui bakat dan minat peserta didik
yang sebenarnya, (c) pertimbangan penjurusan dan pelayanan
individual peserta didik, (d) menggambarkan keadaan langsung di
lapangan/kelas, (e)

mengelompokkan peserta didik yang memiliki

minat sama, (f) acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara
keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian
materi, (g) mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran
yang diberikan pendidik, (h) bahan pertimbangan menentukan program
sekolah, (i) meningkatkan motivasi belajar para peserta didik (2008:
4-6).
Berkaitan dengan konsep diri, menurut pendapat Smith, dalam
buku Depdiknas, disebutkan bahwa konsep diri adalah evaluasi yang
dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki.
Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah
afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga
institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan
intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu
mulai dari rendah sampai tinggi. Konsep diri ini penting untuk
menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui
kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang
tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi
sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat
(2008: 4-6).
Mengenai penilaian konsep diri, Depdiknas (2008), telah
commit toyang
user didapat melalui dilakukannya
mengidentifikasi kelebihan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

20
penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri tersebut meliputi

(1)

Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik,


(2) Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah
dicapai, (3) Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya,
(4) Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta
didik, (5) Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses
pembelajaran, (6) Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar
dan mengetahui standar input peserta didik, (7) Peserta didik dapat
mengukur kemampuan untuk mengikuti pem-belajaran, (8) Peserta
didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya, (9) Melatih kejujuran
dan kemandirian peserta didik, (10) Peserta didik mengetahui bagian
yang harus diperbaiki, (11) Peserta didik memahami kemampuan
dirinya, (12) Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya
serap peserta didik, (13) Mempermudah pendidik untuk me-laksanakan
remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang
dilakukan, (14) Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain, (15)
Peserta didik mampu menilai dirinya, (16) Peserta didik dapat mencari
materi sendiri, (17) Peserta didik dapat berkomunikasi dengan
temannya (hlm: 4-6).
Definisi nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu
keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap
baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap
mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek
spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan
(Depdiknas, 2008: 4-6).
Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7)
dalam Depdiknas, menyebutkan bahwa nilai adalah suatu objek,
aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan
minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia
belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini
commit
to user
menjadi pengatur penting
minat,
sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

21
satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan
menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik
untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi
positif terhadap masyarakat (2008: 4-6).
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan
moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara
judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip
moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema
hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya
seseorang bertindak (Depdiknas, 2008: 4-6).
Dalam redaksi lain dapat disimpulkan bahwa moral berkaitan
dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau
perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya
menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain
baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan
keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang
berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan
keyakinan seseorang.
Depdiknas menyatakan bahwa ada ranah afektif lain yang
penting, yaitu: (1) Kejujuran, peserta didik harus belajar menghargai
kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain, (2) Integritas, peserta
didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan
artistik, (3) Adil, peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang
mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan, (4)
Kebebasan, peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis
memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada
semua orang (2008: 4-6).
Menurut Darmadji yang mengutip pendapat Anderson (1981)
mengenai karakteristik ranah afektif, karakteristik afektif setidaknya
memiliki tiga kriteria, yakni: (1) melibatkan perasaan dan emosi
user(3) memiliki intensitas, arah dan
seseorang; (2) bersifatcommit
khas; todan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

22
target atau sasaran. Intensitas merupakan tingkat atau kekuatan
perasaan. Misalnya beberapa perasaan dianggap lebih kuat dari
perasaan lain, seperti "cinta" bagi sebagian orang dianggap tingkat
yang lebih kuat dari sekadar "sayang". Arah perasaan bisa positif
(perasaan baik) atau sebaliknya (negatif). Misalnya, 'senang' dianggap
perasaan yang positif, sedangkan 'benci' merupakan perasaan negatif.
Sedangkan target atau sasaran mengacu pada objek, aktivitas, atau ide
sebagai arah dari perasaan. Arah dan intensitas perasaan dapat
digambarkan sebagai sesuatu yang kontinum (2011: 3).
Menurut Darmadji, bila 'sikap' dikaitkan dengan kebutuhan
individu misalnya, maka setiap individu memiliki kebutuhan yang
berbeda tingkatannya. Glare W. Grave (diadaptasi dari Harsey dan
Blanchard, 1993) mengembangkan hirarki kebutuhan individu pada
lima tingkat sebagai berikut: (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan
keselamatan, (3) kebutuhan sosial, (4) kebutuhan harga diri, dan (5)
kebutuhan aktualisasi diri. Terdapat individu yang mengutamakan
tingkat kebutuhan tertentu kendati bagi individu lain kebutuhan
tersebut berada pada tingkat yang lebih rendah. Ilustrasi ini
menunjukkan struktur kebutuhan sosial lebih besar dari kebutuhan
lainnya. Pada perkembangan dan kondisi yang lain, struktur kebutuhan
harga diri dan aktualisasi diri biasanya menjadi kebutuhan yang paling
besar. Hal ini terjadi bila tiga kebutuhan di bawahnya sudah relatif
terpenuhi (2011: 3).
Dalam

laporan

penelitiannya,

Darmadji

mencantumkan

beberapa teori penting mengenai perkembangan afektif salah satunya


adalah teori perkembangan afektif yang diformulasikan oleh Dupont
pada tahun 1976-an dimana dasar teori perkembangan afektif yang
dikembangkannya sesuai dengan model perkembangan kognitif dari
Piaget (Lecapitaine, 1980). Konsep utama teori tersebut menyatakan
bahwa afeksi merupakan getaran refleksi disertai perubahan psikologis
commit
to user
dan tendensi bertindak,
perkembangan
afektif memiliki komponen

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

23
struktur dan organisasional dimana hal ini menimbulkan respon afektif
yang tidak dapat diulang karena merupakan sesuatu yang alami, dan
meyatakan bahwa perkembangan afektif terdiri dari enam tahap
sebagai berikut: (1) Impersonal pribadi yang tidak jelas (afek yang
masih menyebar). (2) Heteronomi pribadi yang jelas (afek unilateral).
(3) Antar pribadi-pribadi teman sejawat (afek mutual). (4) Psikologispersonal Afek yang dapat dibedakan satu sama lain (afek interaktif
yang kompleks). (5) Otonomi pusat afek di sekitar konsep abstrak
tentang otonomi diri dan orang lain (afek yang didominasi oleh sifat
otonomi). (6) dan Integritas pusat afek di sekitar konsep abstrak
integritas diri dan orang lain (2011: 4).
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
karakteristik ranah afektif terdiri dari lima hal pokok yaitu: sikap,
minat, konsep diri, nilai, dan moral yang kesemuanya merupakan ciri
mendasar dalam tipikal perasaan seseorang, yang memiliki kekhasan
tertentu dan memiliki intensitas tertentu. Dimana seseorang memiliki
kebutuhan-kebutuhan bagi dirinya, salah satu kebutuhan selain
kebutuhan fisik, juga kebutuhan akan afeksi, seperti perasaan kasih
sayang, pengakuan dari orang lain, dan aktualisasi diri.

3) Tingkatan Ranah Afektif


Ranah

afektif

memiliki

tingkatan

atau

jenjang

yang

kedudukannya berbeda dari satu tahap dengan tahap berikutnya. Ada


yang bersifat lebih rendah dan lebih tinggi jika dilihat dari urutan
jenjang/tahapannya. Tingkatan tersebut ibarat anak tangga. Tangga
yang paling bawah adalah tingkatan yang paling rendah jika
dibandingkan dengan tangga yang ada di atasnya. Tangga yang
pertama sebagai titik tolak untuk melangkah ke tingkatan berikutnya.
Untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi, harus terlebih dahulu
melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

24
Menurut pemikiran Krathwohl (1961) yang dikutip Depdiknas,
menyatakan bahwa hampir semua tujuan kognitif mempunyai
komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya
ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif.
Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu:
receiving

(attending),

responding,

valuing,

organization,

dan

characterization (2008: 1-3).


Tingkatan

ranah

afektif

yang

dikutip

Darmadji,

dari

Taksonomi Tujuan Afektif Krathwohl, Bloom & Masia, 1964,


menyebutkan bahwa taksonomi tujuan afektif terdiri dari 5 tingkatan,
yaitu

Receiving,

Responding,

Valuing,

Organizing,

dan

Characterization (2011: 5).


Tingkatan terendah dari taksonomi tersebut adalah tingkatan
Receiving,

sedangkan

tingkatan

tertingginya

adalah

tingkatan

Characterization atau pembentukan karakter/kepribadian.


Secara singkat digambarkan bahwa pada tingkat Receiving,
merupakan tingkatan dimana seseorang anak cenderung menerima,
ingin menghadiri, dan sadar akan suatu situasi objek fenomena. Pada
tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan
memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas,
kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan
perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek
pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik
agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya.
Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan,
yaitu kebiasaan yang positif.
Pada tingkatan

Responding, seseorang berperan

dalam

pemberian resspon seperti aktif untuk hadir pada suatu acara, dan
partisipasi yang tinggi. Responding merupakan partisipasi aktif peserta
didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta
commit to userfenomena khusus tetapi ia juga
didik tidak saja memperhatikan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

25
bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada
pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan
dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah
minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan
kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku,
senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan
dan kerapian, dan sebagainya.
Pada tingkat Valuing, seseorang cenderung mulai memberi
penghargaan terhadap nilai, menerima nilai-nilai, dan setia kepada
nilai-nilai, serta memegang teguh nilai-nilai yang diyakini. Valuing
melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan
derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari
menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan
keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian
berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil
belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten
dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran,
penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
Pada

tingkat

Organizing,

seseorang

akan

melakukan

pengorganisasian dengan menghubung-hubungkan nilai yang dipilih


dengan sistem nilai yang ada dan mulai mengintegrasikan nilai-nilai
tersebut ke dalam hidupnya, dan yang terakhir. Pada tingkat
organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai
diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang
konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi
nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat
hidup.
Pada
tingkatan

tingkatan

tertinggi

dari

Characterization,

seseorang

tingkatan-tingkatan

memasuki

sebelumnya, yaitu

tingkatan pengamalan, yang merupakan tahap penginternalisasian


commit
to userdan menjadi pola hidup. Tingkat
nilai-nilai menjadi suatu
kebiasaan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

26
ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini
peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku
sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil
pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan
sosial.
Menurut (Andersen, 1981:4), pemikiran atau perilaku harus
memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif.
Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua,
perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk
ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target (Darmadji, 2011: 3).
Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan.
Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat
dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki
perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Dengan kata lain
intensitas berhubungan dengan kuat lemahnya suatu perasaan, atau
bisa juga berhubungan dengan sering tidaknya suatu perasaan muncul.
Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif
dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk.
Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan
dimaknai negatif. Dari arah perasaan, dapat diketahui wujud perasaan
tersebut merupakan emosi positif yang baik atau emosi negatif yang
buruk.
Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah
dari perasaan yang dituju dan menjadi sasaran akhir suatu perasaan.
Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada
beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi
terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap
unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target
ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui.
Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas.
to user
Peserta didik tersebutcommit
cenderung
sadar bahwa target kecemasannya

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

27
adalah tes, atau pertanyaan dan perintah yang di berikan oleh guru,
terlalu sulit dan susah untuk dikerjakan (Mardapi, 2011: 8-10).
Dari semua pendapat di atas dapat diketahui bahwa tingkatan
ranah afektif dimulai dari tigkatan yang paling rendah yaitu tingkat
Receiving, Responding, Valuing, Organizing, dan Characterization
dalam kata lain tingkatan yang paling rendah adalah tahap penerimaan,
merespon, menilai, organisasi, dan yang tertinggi adalah aktualisasi
diri. Semua tingkatan tersebut merupakan kesatuan yang saling
melengkapi, tahap yang pertama merupakan pijakan atau dasar bagi
perilaku/tindakan pada tingkatan selanjutnya, yang bersifat lebih tinggi
kedudukannya.

4) Penilaian dan Evaluasi Ranah Afektif


Sesuatu akan berharga jika memiliki kadar nilai tertentu. Nilai
bersifat terikat dengan kriteria-kriteria yang disepakati bersama. Nilai
berfungsi sebagai indikator tercapai atau tidaknya suatu tujuan atau
target tertentu. Penilaian akan menggambarkan sejauh mana hasil
belajar, atau sebagai tolak ukur keberhasilan program tertentu,
sehingga nilai dapat berfungsi sebagai alat refleksi.
Hasil belajar menurut Bloom (1976) mencakup prestasi belajar,
kecepatan belajar, dan hasil afektif. Andersen (1981) sependapat
dengan Bloom bahwa karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal
dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan
ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan
tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau
nilai, ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai
hasil belajar dalam bidang pendidikan (Darmadji, 2011: 2).
Menurut uraian (BNSP, 2006) mengenai cakupan ranah afektif
yang dikutip Darmadji, menyebutkan bahwa ranah afektif mencakup
to minat,
user sikap, emosi, atau nilai. Ketiga
watak perilaku seperti commit
perasaan,

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

28
ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar
dalam bidang pendidikan. Secara nasional ditetapkan cara penilaian
kelompok pelajaran agama dan akhlak mulia dilakukan dengan
pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai
perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik; dan Ujian,
dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
Sementara teknik penilaiannya dilakukan dengan: (a) tes tertulis, (b)
tes praktik, (c) pengamatan, (d) penugasan individual atau kelompok,
(e) tes lisan, (f) portofolio, (g) jurnal inventori, (h) penilaian diri, dan
(i) penilaian antarteman. Hasil penilaian berupa skor (kuantitatif)
untuk aspek kognitif, dan bentuk deskripsi naratif (kualitatif) untuk
aspek afektif dan kepribadian (2011: 6).
Menurut Anderson (1981) setidaknya terdapat dua metode
yang dapat digunakan untuk mengukur ranah afektif, yaitu metode
observasi dan metode laporan diri. Penggunaan metode observasi
berdasarkan pada asumsi bahwa karakteristik afektif dapat dilihat dari
perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau reaksi psikologis.
Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afeksi
seseorang adalah dirinya sendiri. Namun hal ini menuntut kejujuran
dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri (Darmadji, 2011:
6).
Darmadji menyebutkan bahwa pengembangan spesifikasi
instrumen afeksi dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan
definisi konseptual yang berasal dari teori-teori yang sesuai.
Selanjutnya

mengembangkan

definisi

operasional

berdasarkan

kompetensi dasar, yaitu kompetensi yang dapat diukur. Definisi


operasional ini kemudian dijabarkan menjadi sejumlah indikator.
Indikator merupakan pedoman dalam menulis instrumen. Tiap
indikator bisa dikembangkan dua atau lebih butir pertanyaan atau
pernyataan. Penilaian dan evaluasi pada ranah afektif, setidaknya
commit
user yaitu sikap, minat, konsep diri,
terkait dengan lima (5)
tipe to
afektif

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

29
nilai, dan moral. Kelima tipe ini yang biasanya dilakukan penilaian
dan/atau pengukuran dikaitkan dengan materi tertentu (2011: 6).
Dari beberapa pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa penilaian ranah afektif dapat diukur dan diamati dalam bentuk
reaksi psikologis, yang dapat diobservasi, dan dapat dilihat dari
laporan diri, angket, portofolio, wawancara, tes tertulis, angket, dan
sosiometri. Penilaian ranah afektif dapat dilakukan dengan instrumen
dalam bentuk pernyataan, maupun pertanyaan yang disusun sesuai
karakteristik afektif mana yang akan diukur.
Instrumen penilaian afektif meliputi lembar pengamatan sikap,
minat, konsep diri, nilai, dan moral. Ada 11 (sebelas) langkah dalam
mengembangkan instrumen penilaian afektif, yaitu: (1) Menentukan
spesifikasi instrumen, (2) Menulis instrumen, (3) Menentukan skala
instrumen, (4) Menentukan pedoman penskoran, (5) Menelaah
instrumen, (6) Merakit instrumen, (7) Melakukan uji coba, (8)
Menganalisis hasil uji coba, (9) Memperbaiki instrumen, (10)
Melaksanakan pengukuran, (11) Menafsirkan hasil pengukuran
(Depdiknas, 2008: 7).

5) Delapan Belas Nilai Pendidikan Karakter


Delapan belas nilai dalam pengembangan pendidikan karakter
oleh Depdiknas, menyebutkan bahwa mulai tahun ajaran 2011, seluruh
tingkatan pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan
karakter dalam proses KBM. Ke-18 nilai tersebut adalah nilai: (1)
Religius; (2) Jujur; (3) Toleransi; (4) Disiplin; (5) Kerja keras; (6)
Kreatif; (7) Mandiri; (8) Demokratis; (9) Rasa ingin tahu; (10)
Semangat kebangsaan; (11) Cinta tanah air; (12) Menghargai prestasi;
(13) Bersahabat/Komuniktif; (14) Cinta damai; (15) Gemar membaca;
(16) Peduli Lingkungan; (17) Peduli sosial; (18) Tanggung-jawab.
Dari 18 nilai pendidikan karakter tersebut dapat dilihat bahwa jujur
commityang
to user
menduduki urutan 2 teratas
ini berarti begitu pentingnya sikap

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

30
jujur untuk dimiliki oleh setiap orang, baik pelajar maupun masyarakat
umum, untuk membentuk anak-anak bangsa yang berkualitas unggul
(Apakah Anda, 2013: 40-41).
Senada dengan hal itu, menteri pendidikan Muhammad Nuh,
menyatakan Di antara karakter yang ingin kita bangun adalah karakter
yang berkemampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik
sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran (Aqib, 2011:
3).
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa karakter
kejujuran merupakan karakter utama yang sangat diperlukan untuk
ditanamkan sejak dini pada anak, sebagai modal dan pengiring
kesuksesan dalam pencapaian prestasi diri. Selain itu sikap jujur
merupakan salah satu dari 18 nilai yang harus ditanamkan pada peserta
didik melalui pendidikan karakter. Karena untuk membentuk pribadi
unggul adalah dengan membentuk karakter baik pada diri seseorang
melalui pembiasaan dan internalisasi nilai.

6) Pengertian Kejujuran
Jujur merupakan sebuah karakter yang kami anggap dapat
membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bebas dari korupsi, kolusi
dan nepotisme. Jujur dalam kamus Bahasa Indonesia dimaknai dengan
lurus hati; tidak curang. Dalam pandangan umum, kata jujur sering
dimaknai Adanya kesamaan antara realitas (kenyataan) dengan
ucapan, dengan kata lain Apa adanya (Kesuma, dkk., 2012: 16).
Jujur atau shidiq adalah sebuah kenyataan yang benar,
tercermin dalam perkataan, perbuatan, atau tindakan, dan keadaan
batinnya. Jujur merupakan sistem keyakinan yang mantap, stabil,
dalam berbicara, bertindak, dan berkata hati (Aqib, 2011: 81).
Adapun cara-cara untuk menumbuhkan makna kejujuran dan
tanggung jawab itu adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
commit
to user
dengan bertakwa kepada
Tuhan
Yang Maha Esa, berarti: (1) Belajar

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

31
untuk memperoleh kebersihan dan kemerdekaan batin; (2) Belajar
untuk mementingkan orang banyak atau keutamaan batin; (3)
Mendidik diri sendiri sehingga memiliki moral yang baik; (4) Belajar
untuk mematuhi hukum yang berlaku; (5) Meningkatkan doa dan
bekerja (Waspada, 2004: 16).
Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa jujur
sebagai

sebuah

nilai

merupakan

keputusan

seseorang

untuk

mengungkapkan kebenaran (dalam bentuk perasaan, kata-kata dan/atau


perbuatan) bahwa realitas yang ada tidak dimanipulasi dengan cara
berbohong atau menipu orang lain untuk keuntungan dirinya.
Kata jujur identik dengan benar yang lawan katanya adalah
bohong. Makna jujur lebih jauh direalisasikan dengan kebaikan
(kemaslahatan). Kemaslahatan memiliki makna kepentingan orang
banyak, bukan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya, tetapi
semua orang yang terlibat. Jujur juga sering diartikan sebagai lurus
hati. Menumbuhkan kejujuran juga dapat dilakukan dengan mawas diri
dan memperkuat dimensi religius seseorang. Jujur juga butuh latihan
dan pembiasaan untuk mencapainya.

7) Sikap Jujur
Merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan
diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya. Hal ini diwujudkan
dalam hal perkataan, tindakan dan pekerjaan, baik terhadap diri
sendiri, maupun pada pihak lain. Kejujuran merupakan perilaku yang
didasarkan pada upaya menjadikan diri sebagai orang yang selalu
dapat dipercaya, baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain (Asmani,
2013: 37).
Kejujuran dalam penyelenggaraan sekolah saat ini dapat kita
identifikasi ketika sekolah menghadapi ujian nasional (UN). Banyak
dugaan

bahwa

pelaksanaan UN banyak dimanipulasi oleh


to user
penyelenggara sekolahcommit
itu sendiri,
bahkan beberapa kepala sekolah dan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

32
guru mengakui akan hal ini. Jika anak berasumsi bahwa proses
ketidakjujuran dalam UN ini sebagai hal biasa, maka telah terbentuk
dalam diri anak karakter toleran terhadap kebohongan, bahkan
menganggap Harus berbohong. Tentu saja hal ini sangat berbahaya
untuk penguatan karakter anak (Kesuma, dkk., 2012: 16-17).
Orang-orang yang selalu ingat kepada Alloh di mana pun dan
kapan pun adalah orang-orang yang jujur, tenang, sabar, serta teratur
dalam melaksanakan pekerjaannya. Untuk mencapai kebahagiaan lahir
dan batin tidaklah mudah kita ucapkan. Untuk mendapatkannya
diperlukan kejujuran dalam perjuangan dan pengorbanan (Waspada,
2004: 11).
Pembinaan sikap jujur positif yang dihasilkan dapat diperoleh
melalui: (1) Menyayangi hubungan antara manusia dengan TuhanNya; (2)

Berbuat jujur terhadap diri sendiri dan orang lain; (3)

Mengenal pribadi diri sendiri; (4) Saling percaya mempercayai; (5)


Menyayangi dan mengenal lingkungannya; (6) Mengembangkan
keinginan luhur pada diri kita masing-masing; (7) Bergaul dengan
luwes dengan siapapun juga; (8) Menyayangi kepada setiap orang; (9)
Bersedia bekerja sama dengan orang lain (Waspada, 2004: 39).
Dari beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa sikap
jujur adalah sikap dimana seseorang menunjukkan hal yang sama
dalam perkataan, tindakan dan apa yang ada di dalam hati. Jujur
merupakan kunci ketenangan jiwa dan kunci suksesnya pendidikan,
dimana pendidikan akan membentuk peserta didik yang unggul yang
mampu menghasilkan individu yang bisa dipercaya dalam segala hal
dan dapat mengoreksi diri. Mengupayakan pembentukan sikap jujur
salah satunya adalah dengan mempertajam dimensi religius dan mawas
diri seseorang.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

33
8) Ciri-Ciri Orang Jujur
Ciri-ciri orang yang jujur/tidak jujur dapat dilihat dari beberapa
tanda yang ditunjukkan oleh gerak dan tatapan mata, air muka, gerakgerik (bahasa tubuh), kebiasaan seseorang, teman dekat, kejanggalan
kalimat yang tidak rasional atau terlalu berlebihan dan intonasi
ataupun getar suara yang dihasilkan tidak santai dan banyak
menggumam.
Makna kejujuran dapat diukur dengan indikator sebagai
berikut: (1) agama; (2) logika; (3) peraturan; (4) norma dan nilai; dan
(5) perjanjian yang disepakati (Waspada, 2004: 9).
Secara umum orang yang tidak jujur menunjukkan air muka
yang gelisah dan cemas, mata yang tatapannya tak fokus, dan suara
yang tidak stabil jika dibandingkan dengan kebiasaannya. Gerak-gerik
orang yang sedang tidak jujur juga terlihat salah tingkah dan tidak
senatural biasanya, tangannya memainkan sesuatu untuk mengalihkan
perasaan cemas dan gugup akibat rasa takut yang muncul akibat
kebohongan yang sedang diceritakan.
Tetapi

ciri-ciri

tersebut

tidak

sepenuhnya

dapat

digeneralisasikan pada orang-orang tertentu yang pemalu yang


cenderung gugup ketika berbicara dengan seseorang yang lebih
disegani atau seseorang yang asing bagi dirinya. Mengidentifikasi
kejujuran seseorang bukanlah sesuatu yang mustahil, namun hal itu
juga tidak dapat dimutlakkan dan tidak bisa dibuat kesimpulan secara
sepihak.
Secara teoretis, orang yang memiliki karakter jujur dicirikan
oleh perilaku berikut: (1) Jika bertekad (inisiasi keputusan) untuk
melakukan sesuatu, tekadnya adalah kebenaran dan kemaslahatan; (2)
Jika berkata tidak berbohong (benar apa adanya); (3) Jika adanya
kesamaan

antara

yang

dikatakan

hatinya

dilakukannya (Kesuma, dkk., 2012:16-17).


commit to user

dengan

apa yang

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

34
Dari beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa ciri-ciri
orang jujur, dapat diukur dari segi agama, logika, norma, dan peraturan
yang disepakati. Selain itu orang jujur dapat diketahui jika berkata
tidak berbohong, tidak memanipulasi dan antara hati dan ucapannya
sama. Seseorang yang memiliki karakter jujur akan diminati orang
lain, baik dalam konteks persahabatan, bisnis, rekan/mitra kerja, dan
sebagainya. Karakter ini merupakan salah satu karakter pokok untuk
menjadikan seseorang cinta kebenaran, apapun resiko yang akan
diterima dirinya dengan kebenaran yang ia lakukan.

b. Kehidupan Sosial Siswa Kelas V SD


1) Pengertian Kehidupan Sosial
Robert

K.

Merton,

mendefinisikan

kelompok

sebagai

sekumpulan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang


telah mapan, sedangkan menurut Mac Iver dan Charles H. berpendapat
bahwa kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan manusia
yang hidup bersama. Hubugan antarmanusia dalam himpunan itu
bersifat saling mempengaruhi dan dengan kesadaran untuk saling
menolong (Maryati & Suryawati, 2012: 136).
Menurut Soerjono Soekanto, himpunan manusia baru dapat
dikatakan sebagai kelompok sosial apabila memiliki beberapa
persyaratan, yaitu: (1) Adanya kesadaran sebagai bagian dari
kelompok yang bersangkutan; (2) Ada hubungan timbal balik antara
anggota yang satu dengan yang lain dalam kelompok itu; (3) Adanya
suatu faktor pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota
kelompok, sehingga di antara mereka bertambah erat; (4) Memiliki
struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama; (5) Bersistem dan
berproses (Maryati & Suryawati, 2012:137).
Menurut pendapat-pendapat di atas, dapat diketahui bahwa
kelompok sosial yang mencerminkan kehidupan sosial dapat diartikan
to userdengan kehidupan dengan orang
sebagai segala yang commit
berhubungan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

35
banyak dalam lingkungan masyarakat yang berbudaya dan memiliki
pola komunikasi tertentu serta memiliki aspek-aspek kehidupan yang
kompleks. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan
dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar
untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan
tradisi;

meleburkan

diri menjadi suatu

kesatuan

dan saling

berkomunikasi dan bekerja sama.


Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses
perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan
berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan
bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada
anaknya bagaimana menerapkan

norma-norma tersebut dalam

kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan orangtua ini lazim disebut


sosialisasi.
Sosialisasi adalah proses belajar yang membimbing anak ke
arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota
masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. Kemampuan anak
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, penerimaan lingkungan
serta berbagai pengalaman yang bersifat positif, merupakan modal
dasar yang penting bagi anak untuk mencapai kehidupan yang sukses
dan menyenangkan pada waktu yang akan datang atau meningkat
dewasa. Sosialisasi dari orangtua ini sangatlah penting bagi anak,
karena dia masih terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk
membimbing perkembangannya sendiri ke arah kematangan.

2) Peran Kehidupan Sosial


Kehidupan sosial akan berpengaruh pada pembentukan
karakter dasar seseorang, walaupun tidak begitu mempengaruhi secara
signifikan tetapi pada kenyataannya kehidupan sosial menyumbangkan
peran dalam pembentukan pribadi, karakter, pola pikir, persepsi dan
to user
idealisme seseorang. commit
Kehidupan
sosial meliputi kehidupan sosial

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

36
dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat, yang masingmasingnya memiliki peran dalam pendidikan.
Dalam membangun karakter sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan, baik lingkungan kecil di rumah, di masyarakat dan
selanjutnya meluas di kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan di
kehidupan global (Aqib, 2011: 28). Berkaitan dengan penghambat
pendidikan karakter Aqib (2011) menyebutkan bahwa pendidikan
karakter memiliki predator yaitu pengaruh negatif televisi, pergaulan,
dampak buruk internet, game, tempat bermain, dan tempat wisata yag
tercemar (hlm. 97-108).
Menurut Monks, dkk., 1985; Gerungan, 1991 sesungguhnya
individu mematuhi norma-norma kelompok sebagai normanya sendiri
sudah

dialami

sejak

dini.

Pada

mulanya

seseorang

anak

mengidentifikasi dirinya dengan orang-orang tertentu seperti orang tua,


juga dengan orang-orang lain yang dianggap ideal seperti gurunya,
kawannya, atau tokoh-tokoh masyarakat yang ia kagumi. Lambat laun
ia memperoleh kerangka norma dan pedoman hidup yang cukup luas.
Perkembangan selanjutnya ia akan mengidentifikasi dirinya dengan
norma-norma kelompok sosialnya. Ia mematuhi norma-norma
kelompok tanpa dipaksa, dengan kesadaran sendiri ia mematuhinya
sebagai normanya sendiri (Budiningsih, 2008: 65).
Keluarga, masyarakat dan sekolah adalah tiga elemen krusial
dalam suksesnya pendidikan karakter. Keluarga bertugas menanamkan
dasar-dasar pendidikan karakter pada anak, seperti kejujuran, tanggung
jawab, nilai-nilai agama, kepedulian, persaudaraan, dan

lain

sebagainya. Masyarakat harus mendidik mereka untuk menghargai


keberagaman,

persaudaraan,

kerja

sama,

pentingnya

prestasi,

perjuangan, dan berkarya demi kemajuan negeri (Asmani, 2013: 191).


Sekolah adalah tempat anak mendapat pelajaran yang diberikan
oleh guru-guru, jika mungkin guru-guru yang berijazah; pelajaran
commitpedagogi
to user dan didaktik; tujuannya untuk
hendaknya diberikan secara

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

37
mempersiapkan anak-anak menurut bakat dan kecakapannya masingmasing supaya mencapai kedudukan yang tepat di dalam masyarakat.
Sekolah ialah badan yang mempersiapkan terdidik dengan jalan
mendidik dan mengajar agar mereka berkembang menjadi dewasa baik
jasmani maupun rokhaninya. Sekolah yaitu lembaga tempat angkatan
tua menyerahkan pengetahuan kepada angkatan muda.
Peran sekolah adalah sebagai salah satu tripusat pendidikan
yang berperan sebagai lembaga yang bertugas mentransformasikan
budaya, pengoptimal potensi peserta didiknya dan membantu
manjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya yang cerdas, cakap,
terampil berwawasan, religius dan memberikan keterampilan untuk
bekal mencari pekerjaan.
Sedangkan

lembaga

pendidikan

bertugas

memberikan

pencerahan intelektual dan pejernihan hati untuk membangkitkan


semangat mengejar ketertinggalan dan menyeleksi segala sesuatu yang
datang dari luar, khususnya dari peradaban barat yang terkenal dengan
westernisasi. Selain itu sekolah bertugas memberikan pondasi kokoh
dalam membangun karakter anak didik di tengah globalisasi dan
modernisasi (Asmani, 2013: 191).
Sehubungan dengan fungsi sekolah sebagai lembaga yang
dinamis, Suharjo, 2006 merumuskan fungsi sekolah sebagai berikut :
(1) Pewarisan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya;
(2) Penyiapan lulusan agar dapat menjadi warga negara yang baik; (3)
Penyiapan tenaga kerja; (4) Pengembang ide-ide inovatif dalam
berbagai aspek kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan, harkat
dan martabat manusia; (5) Pendorong terjadinya perubahan sosial yang
menyangkut perubahan struktur dan fungsi sistem sosial (hlm. 32).
Menurut pernyataan Dirjen Mandikdasmen, Bapak Prof.
Suyanto Suyanto, PhD. pendidikan karakter tidak cukup hayna melalui
sekolah. Masyarakat, pemerintah, dan keluarga harus mempunyai visi
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

38
yang sama. Tayangan televisi juga harus men-support pendidikan
karakter (Asmani, 2013: 13).
Dari beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa peran
kehidupan sosial sangatlah berpengaruh pada tumbuh kembang
individu sebagai pribadi yang utuh sekaligus makhluk sosial.
Masyarakat adalah sejumlah manusia dan kebudayaannya dalam arti
seluas-luasnya dengan pola hubungan budaya yang relatif sama atau
homogen. Masyarakat sebagi salah satu dari tripusat pendidikan
(keluarga, sekolah, dan

masyarakat) berperan dalam memberikan

pendidikan dan nilai-nilai hidup dalam tatanan masyarakat.

3) Sosialisasi dan Interaksi Sosial


Sosialisasi adalah cara manusia dalam upaya mengetahui,
memahami norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Sosialisasi
membuat seseorang dapat menjalin hubungan dengan lingkungan.
Dalam sosialisasi terjadi pengenalan-pengenalan lingkungan dalam
konteks tertentu, dengan jalan interaksi sosial. Sosialisasi juga kerap
diartikan sebagi proses belajar seumur hidup dalam mempelajari nilai
dan norma yang terdapat dalam masyarakat.
Sherif mengartikan kelompok sosial sebagai suatu kesatuan
sosial yang terdiri dari 2 atau lebih individu yang mengadakan
interaksi sosial cukup intensif dan teratur, di antara mereka sudah
terdapat pembagian tugas, stuktur, dan norma-norma tertentu yang
khas bagi kesatuan sosial tersebut (Budiningsih, 2008: 57).
Merujuk

pada

tulisan

(Budiningsih:

2008)

menuliskan

pengertian interaksi sosial menurut Bonner (dalam Gerungan, 1991)


yaitu suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana
perilaku

individu

yang satu

mempengaruhi, mengubah, atau

memperbaiki, perilaku individu yang lain, atau sebaliknya. Interaksi


ini dalam bentuknya yang sederhana merupakan proses yang
commit
to user
kompleks, karena didasari
oleh
beberapa faktor, baik secara sendiri-

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

39
sendiri maupun gabungan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah
faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati (hlm. 56).
Dari pendapat-pendapat di atas dapat diketahui bahwa pada
umumnya seseorang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik, sosial, maupun psikis sebagai
usaha agar selaras dengan lingkungan, dapat diterima dan dapat diakui
sebagai anggota dari sebuah komunitas. Penyesuaian seseorang dengan
lingkungan dan seperangkat nilai yang ada di dalamnyalah yang
disebut dengan sosialisasi. Sosialisasi tidak terlepas dari komunikasi
dan hubungan antarindividu yang disebut interaksi sosial.

3. Implementasi Pendidikan Karakter


a. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah pola interaksi dua arah antara guru yang
bertindak sebagai fasilitator dengan peserta didik yang merupakan subjek
belajar sebagai usaha dalam membelajarkan peserta didik untuk tahu
sesuatu, memahami sesuatu, dengan jalan pembelajaran yang di dalamnya
memuat proses penting dalam sosialisasi nilai, pengetahuan, dan wacanawacana keilmuan, sehingga yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dan
menjadi paham, yang tadinya tidak beradab menjdi lebih beradab. Dari
bekal tersebut diharapkan peserta didik akan mampu menggali potensi dan
mengasah potensi yang dimiliki secara mandiri.
Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
pada bab 1, pasal 1 disebutkan :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara (Chumdari, dkk., 2005: 43).
Dari pengertian pendidikan menurut UU No.20 tahun 2003
tersebut jika dicermati, sebenarnya
pendidikan memiliki empat tujuan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

40
pokok yang ingin dicapai melalui proses pendidikan, yaitu sikap spiritual,
keterampilan sosial, pengetahuan dan keterampilan. Keempat hal yang
ingin dicapai tersebut merupakan penjabaran dari kompetensi attitude
(sikap), skill (keterampilan), dan knowledge (pengetahuan).
Pada kurikulum pendidikan terdahulu, aspek pembelajaran yang
diprioritaskan

adalah

dengan

urutan

KAS

yaitu

mengutamakan

knowledge atau pengetahuan, diikuti attitude atau sikap dan skill


atau keterampilan, namun pada kurikulum 2013 menjadi ASK yaitu
mengutamakan attitude atau sikap kemudian diikuti skill atau
keterampilan dan knowledge adalah yang terakhir yaitu pengetahuan.
Usaha untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang mampu
menyeimbangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor adalah dengan
adanya proses mendidik dengan sungguh-sungguh. Sehubungan dengan
makna mendidik itu sendiri, Trisno memiliki pandangan bahwa mendidik,
dalam arti luas mengandung pengertian yang mencakup tiga aspek, yaitu
mendidik dalam artian sempit, mengajar, dan melatih keterampilan anak
didik. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang dilakukan dengan
sengaja, penuh kesadaran dan bertanggung jawab untuk membimbing anak
didik agar memiliki watak dan kepribadian yang baik, cepat menangkap
situasi dan memecahkan masalah serta menyesuaikan diri dengan
perkembangan (1979: 15).
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa guru atau pendidik
yang baik dan unggul adalah guru yang mampu melaksanakan tugas
mendidik dalam artian luas yaitu meliputi mengajar, mendidik, dan
melatih keterampilan peserta didiknya. Guru yang biasa saja adalah guru
yang hanya mengajar saja tanpa mendidik dan mengajarkan keterampilan.
GBHN menggariskan bahwa pendidikan adalah proses yang
berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luar sekolah. Lebih
tegas lagi adalah keterangan tertulis mantan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI (Syarif Thayib) dalam Trisno kepada Komisi IX DPR RI,
to user
yang menyatakan bahwacommit
konsepsi
pendidikan Indonesia ialah bahwa

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

41
pendidikan itu tidak hanya menjadi sebuah proses yang terjadi di sekolah
saja, tetapi terjadi pula dalam keluarga dan masyarakat pada umumnya,
dan bahwa pendidikan informal, nonformal, dan formal itu memang ada
dan harus diakui eksistensinya, baik secara masing-masing maupun
bersama-sama, karena masing-masing mempunyai jasa dan makna bagi
perkembangan dan kematangan individu maupun masyarakat (1979: 22).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan berlangsung
sepanjang hayat, dan bisa terjadi di mana pun tidak hanya terbatas pada
sekolah saja, tidak dapat dipungkiri keberadaan tripusat pendidikan yang
menggambarkan bahwa pendidikan terjadi pada keluarga, sekolah, dan
lingkungan atau masyarakat. Dan setiap pusat pendidikan tersebut
memiliki kontribusi masing-masing dalam proses pendidikan pada anak.
Mengenai unsur-unsur yang mempengaruhi tercapainya tujuan
pendidikan, Darmadji memaklumi bahwa pendidikan merupakan proses
yang melibatkan sejumlah unsur. Unsur-unsur tersebut antara lain: unsur
insani dan unsur noninsani. Unsur insani berhubungan dengan subyek
(peserta didik dan pendidik) serta orang lain di sekitarnya, sedangkan
unsur noninsani berhubungan dengan tujuan, materi, media pendidikan,
sarana prasarana pendukung dan lingkungan di mana proses pendidikan
dilakukan. Di sisi lain, ketercapaian tujuan dan hasil pendidikan
dipengaruhi banyak faktor, mulai faktor proses hingga faktor lain
sebagaimana disebutkan di atas. Tercapai atau tidaknya tujuan tersebut
juga perlu diketahui banyak pihak, mulai pendidik dan peserta didik
hingga masyarakat luas. Ketercapaian tujuan dan hasil pendidikan tersebut
antara lain diketahui melalui proses penilian dan evaluasi yang dilakukan
secara berkala dan holistik (2011: 1).
Menurut pendapat tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan
memiliki unsur yang tidak dapat diabaikan baik siswa dan guru sebagai
subjek dan objek pendidikan, maupun media, alat dan bahan pelajaran
yang mampu mendukung proses pendidikan dan kegiatan belajar
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

42
mengajar. Keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh faktor tersebut atau
bahkan faktor lain yang belum disebutkan di atas.
Dari semua pendapat di atas dapat diketahui bahwa pendidikan
adalah suatu proses yang dilakukan dengan sadar dan terencana, yang di
dalamnya terdapat proses pengajaran dari pendidik kepada peserta didik
dengan jalan sebuah interaksi untuk mencapai tujuan yang tinggi yaitu
kebaikan sifat, keterampilan, pengetahuan yang luas dan mendalam.
Pendidikan memiliki unsur manusia dan benda yang bisa jadi
mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses pendidikan itu sendiri.
Pendidikan bisa terjadi secara fleksibel dan bisa berlangsung dimana saja
baik lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat.

b. Tujuan Pendidikan
Pada dasarnya, semua tingkat pendidikan dari SD sampai
perguruan tinggi memiliki tujuan khusus, tetapi dari semua tingkat tersebut
pada dasarnya memiliki muara tujuan yang sama, seperti UU No. 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, sebagaimana dikutip
oleh Hidayatullah yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab (2007: 40).
Dari pernyataan di atas dapat diidentifikasi bahwa pendidikan
harus bisa berfungsi untuk membentuk watak baik, mengajarkan manusia
untuk senantiasa mengingat Tuhan, cakap dan berakhlak yang baik,
cerdas, kreatif dan sehat karena semua kriteria tersebut akan membentuk
pribadi unggul yang nantinya akan menjadi warga negara yang baik,
bertanggung jawab dan ikut berpartisipasi membangun bangsa yang besar
commit to user
dan berbudi luhur.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

43
Selain itu dimaklumi juga bahwa tujuan dan hasil pendidikan
setidaknya diharapkan mencakup tiga ranah penting, lebih lanjut Darmadji
mengungkapkan bahwa ketiga ranah penting tersebut adalah kognitif,
psikomotorik dan afektif sebagaimana lebih sering dikenal dengan istilah
taksonomi Bloom (Bloom, 1956). Sependapat dengan Bloom, Anderson
(1981) menyatakan bahwa ketiga ranah tersebut sesuai dengan
karakteristik atau tipikal manusia dalam berpikir, berbuat dan berperasaan.
Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif yaitu yang berhubungan
dengan cara berfikir yang khas, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah
psikomotor, yaitu yang berhubungan dengan cara bertindak yang khas dan
tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif (2011: 1).
Kutipan

sebelumnya

sebenarnya

telah

membahas

tujuan

pendidikan yang meliputi tiga ranah, namun belum diklasifikasikan, tetapi


pada intinya merujuk pada ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
Didukung dengan

kutipan berikutnya yang menyebutkan bahwa

pendidikan mencakup tiga ranah penting yang saling melengkapi yaitu


ranah kognitif yang berhubungan dengan cara berpikir sehubungan dengan
pengetahuan yang dimiliki. Ranah afektif yang berhubungan dengan
perasaan, sikap, ekspresi dan emosi. Psikomotor yang berhubungan
dengan cara bertindak yang didasarkan atas sikap (afektif).
Mengenai domain ranah afektif, Darmadji mengutip pendapat
(Zuchdi, 2008) yang menyebutkan bahwa ranah afektif yaitu cara yang
khas dalam merasakan atau mengungkapkan emosi, dan mencakup watak
perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga ranah
tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dan proses
pendidikan pada umumnya. Pada konteks ini, karakteristik tersebut
dipahami sebagai kualitas yang menunjukkan cara khusus manusia dalam
berfikir, bertindak dan merasakan dalam berbagai suasana (2011: 1).
Dari semua pendapat di atas dapat diketahi bahwa tujuan
pendidikan adalah untuk mengasah potensi yang ada pada setiap orang
commit to user
yang menempuh proses pendidikan
itu sendiri untuk mampu mengasah

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

44
ranah kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang, sehingga nantinya
akan membentuk kepribadian yang seimbang, cerdas, memiliki watak,
sikap dan pengetahuan yang baik.

c. Pengertian Karakter
Karakter merupakan suatu ciri khusus yang bersifat sangat kuat,
sehingga melekat dan mendarah daging menjadi pensifatan dari sesuatu.
Karakter biasanya mengarah pada pembawaan watak seseorang, yaitu
watak baik dan watak yang buruk. Karakter juga dapat diartikan sebagai
bentuk/gambaran wajah yang menggambarkan kondisi emosi seseorang,
seperti marah, menagis, sedih, kecewa dan bahagia. Karakter bisa diartikan
secara fleksibel sesuai konteks yang dirujuk.
Dalam sebuah bukunya yang berjudul Buku Panduan Internalisasi
Pendidikan Karakter di Sekolah Asmani mengutip sebuah pendapat
mengenai bahasan karakter, di dalamnya Nursalam Sirajudin menyebutkan
bahwa istilah karakter baru dipakai secara khusus dalam konteks
pendidikan pada akhir abad ke-18. Pencetusnya adalah FW. Foerster.
Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis-spiritualis dalam
pendidikan, yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Lahirnya
pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan
kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang
positivisme yang dipelopori oleh filusuf Prancis Auguste Comte (2013:
26-27).
Selain itu, lebih khusus lagi, masih berkaitan dengan karakter,
dalam pidatonya Presiden SBY menyampaikan tentang batasan orang yang
berkarakter, menurut beliau Mereka yang disebut berkarakter kuat dan
baik adalah perseorangan, masyarakat atau bahkan bangsa yang memiliki
akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik (Aqib, 2011: 3).
Dari beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa istilah
karakter termasuk sebuah ide atau istilah yang baru dalam dunia
to user
pendidikan yang baru sajacommit
lahir belum
lama ini yaitu pada akhir abad ke-

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

45
18, namun secara praktik sebenarnya karakter sudah dapat tergambar
dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia, apalagi di masyarakat
Indonesia yang dikenal memiliki adat ketimuran yang memiliki nilai
karakter yang tinggi. Jika mempelajari sejarah maka kita akan tahu bahwa
pendidikan Indonesia di masa lalu justru telah melaksanakan pendidikan
karakter, hal itu tercermin dari masyarakat zaman dahulu yang lebih
mudah dikendalikan dan minimal dalam tindakan yang berhubungn
dengan watak, kepribadian dan akhlak yang buruk. Namun seperti yang
dijelaskan pada pendapat di atas bahwa lama-lama pendidikan karakter
hilang dengan adanya dampak negatif arus globalisasi dan westernisasi
dalam dunia pendidikan.
Dari uraian di atas mengenai pengertian pendidikan, tujuan
pendidikan dan pengertian karakter, dapat disimpulkan bahwa pendidikan
karakter merupakan segala sesuatu yang dilakukan oleh guru/pendidik
untuk mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu dalam
membentuk watak peserta didik dengan cara memberikan keteladanan,
cara berbicara yang persuasif, atau menyampaikan materi yang baik,
toleransi, dan berbagai hal yang terkait lainnya.
Banyak orang terjebak dalam mengartikan karakter. Karakter
hanya diartikan sebagai sopan santun dan budi pekerti, padahal karakter
itu sangat luas lebih dari sekedar sopan santun. Yang harus dibangun
adalah karakter budaya yang mampu menumbuhkan kepenasaranan
intelektual yang dapat digunakan sebagai modal dalam mengembangkan
kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai oleh nilai kejujuran, kesopanan
dan kesantunan.
Pendidikan karakter menurut Megawangi (2004: 95) merupakan
usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan
bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya
(Kesuma, dkk., 2012: 5).
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

46
Secara singkat, pendidikan karakter bisa diartikan sebagai sebuah
bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dalam menghayati
kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain dalam dunia.
Pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan
yang berkeutamaan (Aqib, 2011: 38).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
pendidikan karakter merupakan bentuk pendidikan yang diusahakan untuk
membentuk/mempengaruhi/memperbaiki watak seseorang khususnya
peserta didik, memperkenalkan dengan nilai, sikap baik, tata krama,
dimensi ketuhanan dan cara bertindak yang selaras dengan lingkungan.
Pendidikan karakter juga membantu seseorang untuk menjalani hidup
sesuai prinsipnya masing-masing, yang didasarkan atas kebebasan
individu dalam memilih perilaku yang diyakininya namun tetap secara
bertanggung jawab.
Pendidikan karakter dapat diinternalisasikan melalui keteladanan,
kalimat persuasif yang mempengaruhi, mendukung toleransi secara wajar
dan sikap empati sehingga mengena pada hati peserta didik dan mampu
membentuk dan menanamkan nilai-nilai baik pada nurani peserta didik,
sehingga sampai menjadi pribadi yang dewasa akan tetap mengingat dan
mengaplikasikan nilai sehingga menjadi nilai yang mendarah daging, dan
secara otomatis akan membentuk manusia dengan kepribadian yang baik.

d. Tujuan Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter bukanlah pendidikan khusus yang arahnya
bertentangan dengan tujuan pendidikan, justru pendidikan karakter
memiliki tujuan yang memperkuat tujuan pendidikan, serta meluruskan
keadaan pendidikan yang dinilai kurang tepat dengan kebutuhan
masyarakat.
Zuchdi, Prasetya & Masruri (2013) mengutip beberapa teori
mengenai pendidikan karakter dari pemerintah RI, yang ternyata
commit
to user
alhamdulillah pemerintah
telah
membuat Kebijakan Nasional

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

47
Pembangunan Karakter bangsa tahun 2010-2025 yang menyatakan bahwa
tujuan

kebijakan

nasional

tersebut

adalah

untuk membina dan

mengembangkan karakter warga negara sehingga mampu mewujudkan


masyarakat yang berketuhanan YME, berkemanusiaan yang adil dan
beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (2010: 4).
Jika dicermati pandangan tersebut mengacu pada tujuan kebijakan
nasional pendidikan karakter adalah untuk membentuk watak manusia
sesuai dengan watak dan nilai-nilai dalam pancasila. Adapun berkaitan
dengan fungsinya, Zuchdi, dkk., mengutip penjelasan Pemerintah RI yang
menyatakan bahwa fungsi tujuan kebijakan nasional mengenai pendidikan
karakter adalah untuk: (1) Mengembangkan potensi dasar agar berhati
baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, (2) Perbaikan perilaku yang
kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah baik, (3) Penyaring
budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila. Ruang
lingkupnya meliputi: keluarga, satuan pendidikan, pemerintah, masyarakat
sipil, masyaraat politik, dunia usaha, industri, dan media masa. Ini
menunjukan bahwa semua elemen masyarakat diminta berpartisipasi
dalam gerakan pembangunan bangsa. Dalam hal ini, satuan pendidikan
terutama pendidikan formal sangat sentral posisi dan peranannya (2013:
5-7).
Fungsi yang muncul pada paparan di atas adalah sebagai usaha
untuk mengembangkan potensi peserta didik, perbaikan perilaku dan
penyaringan budaya-budaya yang mulai tidak sesuai dengan nilai agama
dan pancasila. Karena mengingat telah terjadi krisis nilai dan moral
belakangan ini.
Mengacu pada Kebijakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa
Zuchdi, dkk., menginformasikan melalui kutipannya, bahwa: Kementrian
Pendidikan Nasional telah menyusun desain induk pendidikan karakter
commit
to user
(2010) yang isinya mencakup
antara
lain kerangka dasar, pendekatan, dan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

48
strategi impementasi pendidikan karakter. Lebih lengkapnya disebutkan
bahwa konfigurasi katakter ditetapkan berdasarkan empat proses
psikososial, yaitu olah pikir, olah hati, olah raga, dan olah rasa/ karsa.
Nilai-nilai yang bersalal dari olah pikir meliputi: cerdas, kritis, kreatif,
inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi iptek dan
reflektif. Yang berasal dari olah hati adalah: jujur, beriman dan bertakwa,
amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko,
rela berkorban dan berjiwa patriotik. Selanjutnya yang berasal dari olah
raga meliputi: tangguh, bersih dan sehat, disiplin, sportif, andal, berdaya
tahan, bersahabat, kooperatif, kompetitif, dan ceria. Yang terakhir yang
berasal dari olah rasa/karsa meliputi: peduli, ramah, santun, rapi, nyaman,
saling menghargai, toleran, suka menolong, gotong royong, nasionalis,
kosmopolis, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan
bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, beretos kerja dan gigih
(2013: 9).
Dari setiap uraian yang telah diuraikan sebelumnya pada dasarnya
semua nilai yang terdapat pada konfigurasi pendidikan karakter adalah
nilai-nilai yang bersifat positif yang jika dikelompokkan menurut sifatsifat yang mendasarinya maka akan diketahui bahwa setiap nilai yang ada
sebenarnya berasal dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, dan olah
karsa.
Berkaitan dengan tema pendidikan karakter, Zuchdi, dkk., berhasil
mengutip tema tersebut dari pemerintah RI, tahun 2010. Tema dari
pembangunan

karakter

Membangun

genersi

bangsa
yang

dan

jujur,

pendidikan
cerdas,

karakter

tangguh,

dan

adalah
peduli

(jurdastangli). Seperti tampak pada konfigurasi nilai-niali di atas, keempat


nilai ini masing-masing dipilih dari olah hati, olah pikir, olah raga dan olah
rasa/karsa,

berdasarkan

pertimbangan

bahwa

kondisi

masyarakat

Indonesia saat ini sangat membutuhkan pengembangan karakter dengan


empat nilai utama tersebut. Dengan kata lain, pengembangannya dijadikan
commit(2013:
to user
prioritas utama secara nasional
40).

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

49
Para pemerhati sosial dan pendidikan telah menyadari adanya
krisis kepribadian dan watak bangsa Indonesia yang diketahui dari
munculnya kasus-kasus yang mencengangkan, bahwa saat ini yang
dibutuhkan Indonesia adalah manusia dengan karakter yang jujur, karena
semakin langka budaya jujur baik dikalangan pelajar, pedangang, sampai
para pemimpin rakyat baik pusat maupun daerah, selanjutnya adalah
cerdas, tangguh dan memiliki kepedulian terhadap nasib sesama dan nasib
orang lain sebagai perwujudan peduli sosial dan lingkungan hidup.
Sedangkan untuk wujud pendidikan karakternya Zuchdi, dkk., menyatakan
bahwa

pendidikan

karakter

dalam

satuan

pendidikan

meliputi

pembelajaran di kelas, kegiatan sehari-hari di sekolah/kultur sekolah, dan


kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Pendidikan karakter dalam satuan
pendidikan

formal perlu

didukung oleh

kegiatan

sehari-hari di

rumah/kultur keluarga dan masyarakat/kultur masyarakat (2013: 41).


Pada dasarnya pendidikan karakter bisa dilakukan di mana saja,
dengan cara apa saja dan metode apa saja (fleksibel), namun pendidikan
karakter juga tidak mampu untuk berdiri sendiri secara mandiri karena
pada dasarnya pendidikan karakter perlu dukungan dari semua pusat
pendidikan, agar terjadi kesamaan nilai dan kesamaan pemahaman dalam
pembelajaran agar terjadi sinkronisasi antara yang siswa dapatkan di
keluarga, sekolah dan di lingkungan masyarakat maupun lingkungan
bermainnya.
Terkait dengan upaya khusus dalam memberdayakan satuan
pendidikan dalam melaksanakan pendidikan karakter Zuchdi, dkk.,
mengutip aturan dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Bangsa 20102015: 35) yang menyatakan bahwa satuan pendidikan merupakan wahana
pembinaan dan pengembangan karakter siswa yang dilakukan secara
formal di lingkungan sekolah. Adapun pemberdayaannya dapat dilakukan
melalui (a) Regulasi tentang pengintegrasian pembelajaran karakter dalam
semua mata pelajaran, (b) Meningkatkan kapasitas sekolah sebagai
commit
to user
wahana pendidikan karakter
melalui
pelatihan para guru, (c) Penyediaan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

50
sumber-sumber belajar yang terkait dengan upaya pengembangan karakter
siswa, dan pemberian penghargaan kepada satuan pendidikan yang telah
berhasil mengembangkan budaya karakter (2013: 41).
Mengutip pengertian tujuan pendidikan karakter (Doni Koesoema,
2010) menyebutkan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah penanaman
nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih
mengahargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain
adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas
impuls natural, sosial yang diterimanya, yang pada gilirannya semakin
mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pembentukan diri
secara terus menerus (on going formation). Tujuan jangka panjang ini
merupakan pendekatan dialektis yang semakin mendekatkan dengan
kenyataan yang ideal, melalui proses refleksi dan interaksi secara terus
menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil langsung yang dapat
dievaluasi secara objektif (Asmani, 2013: 26-27).
Taksonomi Bloom sebagaimana

dinyatakan Ahmad Sudrajat

(2010) merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan.


Taksonomi ini pertama kali disebut oleh Benjamin S. Bloom pada tahun
1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain
(ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam
pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Tujuan pendidikan
dibagi ke dalam tiga domain, yaitu: (1) Cognitive Domain (Ranah
Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir, (2)
Affective Domain

(Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang

menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan
cara penyesuaian diri, (3) Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti
tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin (3).
Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama
commit
to user seperti yang diungkapkan oleh
dengan ketiga domain tersebut
di antaranya

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

51
Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal
istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan. Dari setiap ranah
tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang
berurutan secara hierarki (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang
sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam
setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat
yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai
pemahaman yang berada di tingkatan

kedua juga diperlukan

pengetahuan yang ada pada tingkatan pertama.


Dari semua pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk watak manusia sesuai
dengan watak nilai-nilai yang baik dalam pancasila, nilai-nilai yang
berhubungan dengan olah pikir, olah hati, olah raga dan olah karsa,
melalui pembentukan diri secara terus menerus. Tujuan pendidikan
karakter lebih mengacu dan merujuk pada domain ranah afektif dari pada
psikomotor dan kognitif. Karena pendidikan karakter ditujukan untuk
mengasah kecerdasan ranah afektif yang berhubungan dengan dimensi
sikap, apresiasi, emosi dan nurani dengan dasar pengetahuan dan
pemahaman yang memadai.

e. Model Pendidikan Karakter


Sasaran pendidikan karakter dewasa ini memiliki karakteristik
yang berbeda dengan sasaran pendidikan karakter beberapa tahun silam
sebelum Mega Trend 2000 dan globalisasi. Hal tersebut dikuatkan oleh
Zuchdi, Prasetya & Masruri yang menyatakan bahwa kondisi masa kini
sangat berbeda dengan kondisi masa lalu. Pendekatan pendidikan karakter
yang dahulu cukup efektif, tidak sesuai lagi untuk membangun generasi
sekarang dan yang akan datang. Pada generasi masa lalu, pendidikan
karakter yang bersifat indoktrinatif sudah cukup memadai untuk
membendung

terjadinya perilaku menyimpang dari norma-norma


commit
to user
kemasyarakatan, meskipun
hal itu
tidak mungkin dapat membentuk

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

52
pribadi-pribadi yang memiliki kemandirian. Sebagai gantinya diperlukan
pendekatan pendidikan karakter yang memungkinkan subjek peserta didik
mampu mengambil keputusan secara mandiri dan memilih nilai yang
saling bertentangan, seperti yang terjadi pada kehidupan pada saat ini.
Strategi tunggal tampaknya sudah tidak cocok lagi, apalagi yang
bernuansa indoktrinasi. Pemberian teladan saja juga kurang efektif
diterapkan, karena sulitnya menentukan yang paling tepat untuk dijadikan
teladan. Dengan kata lain, diperlukan multipendekatan atau yang oleh
Kirschenbaum (1995) disebut sebagai pendekatan komprehensif (2013:
31- 40).
Menurut pendapat tersebut karakteristik manusia pada abad 21 ini
sudah sangat berbeda jauh dengan keadaan masyarakat beberapa puluh
tahun lalu yang karakteristiknya cenderung patuh norma, mudah diatur dan
cukup efektif jika diterapkan pendidikan karakter dengan metode
indoktrinasi. Melihat kenyataan tersebut maka untuk mewujudkan
pendidikan karakter pada masa sekarang diperlukan usaha yang cukup
gigih, dengan terus mencari cara, metode, strategi serta teknik khusus yang
lebih jitu, mengingat karakteristik manusia yang sudah berubah dan
semakin heterogen.
Zuchdi, dkk., mengutip pendapat Kirschenbaum (1995) berkaitan
dengan metode pendidikan karakter yang dirasa solutif terhadap
permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan di atas adalah metode
komprehensif. Dari segi metode pendekatan komprehensif meliputi:
inkulkasi, keteladanan, fasilitasi, pengembangan keterampilan berpikir
kritis, dan memecahkan masalah (2013: 40).
Menurut kutipan tersebut metode komprehensif adalah metode
yang menyeluruh mencakup metode inkulkasi atau penanaman nilai,
keteladanan, memberikan fasilitas lingkungan kondusif, mengembangkan
cara berpikir kritis dan mencari solusi atas setiap masalah yang ditemui.
Setidaknya ada dua pendekatan dalam pendidikan karakter. Pertama
commit to user
habituasi atau pembiasaan-pembiasaan
dan intervensi (Aqib: 2011: 8).

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

53
Kirschenbaum (1995) menyebutkan empat pendekatan sebagai
gerakan utama pendidikan karakter, yaitu meliputi realisasi nilai,
pendidikan kewarganegaraan, pembentukan watak, dan moral (Zuchdi
dkk., 2013: 15-28).
Jadi pendidikan karakter bisa disiasati dengan diadakannya
realisasi nilai dengan penanaman nilai-nilai kebaikan, melalui mata
pelajaran pendidikan kewarganegaraan, pendidikan agama, pembentukan
watak, moral dan budi pekerti yang luhur.
Berkaitan dengan model pelaksanaan pendidikan karakter dapat
dilakukan

dengan

pendidikan

karakter

secara

terpadu

melalui

pembelajaran; Pendidikan karakter secara terpadu melalui manajemen


sekolah; Pendidikan karakter secara terpadu melalui ekstrakurikuler
(Asmani, 2013: 58-62).
Pendidikan karakter selayaknya dikembangkan melalui pendekatan
terpadu dan menyeluruh. Efektivitas pendidikan karakter tidak selalu harus
dengan

menambah

program

tersendiri,

melainkan

bisa

melalui

transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Melalui


pendidikan karakter semua berkomitmen untuk menumbuhkembangkan
peserta didik menjadi pribadi utuh yang menginternalisasi kebajikan (tahu
dan mau), dan terbiasa mewujudkan kebajikan itu dalam kehidupan seharihari (Aqib, 2011: 9).
Berkaitan dengan jenis-jenis pendidikan karakter, pendidikan
karakter dibedakan menjadi: Pendidikan karakter berbasis nilai religius;
Pendidikan karakter berbasis nilai budaya; Pendidikan karakter berbasis
lingkungan; dan Pendidikan karakter berbasis potensi diri (Asmani, 2013:
64-65).
Pada

dasarnya memang

banyak

cara

untuk mewujudkan

pendidikan karakter, baik dari segi pendekatan, strategi, metode, maupun


tekniknya, namun kembali pada konteks pendidikan yang ada. Bagaimana
latar

belakang

siswanya, kehidupan sosialnya, dan keadaan


commit to
lingkungannya. Karena kesemua
ituuser
memang memiliki pengaruh dalam

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

54
menentukan cara pelaksanaan pendidikan karakter yang tepat dan yang
dinilai lebih tepat dan efektif.
Strategi dalam penanaman budi pekerti/akhlak dapat dilakukan
melalui antara lain: keteladanan, pembiasaan, penanaman kedisiplinan,
menciptakan suasana yang kondusif, dan integrasi dan internalisasi
(Hidayatullah, 2007: 40-44).
Mengenai langkah-langkah pengintegrasian pendidikan budi
pekerti/akhlak ke dalam mata pelajaran, Hidayatullah, menyebutkan
bahwa pengintegrasian pendidikan budi pekerti dan akhlak ke dalam mata
pelajaran dapat dilakukan dengan: (1) Mendeskripsikan kompetensi dasar
tiap mata pelajaran, (2) Mengidentifikasi aspek-aspek atau materi materi
pendidikan budi pekerti/akhlak yang akan diintegrasikan ke dalam mata
pelajaran, (3) Mengintegrasikan butir-butir pendidikan budi pekerti/akhlak
ke dalam kompetensi dasar (materi pembelajaran) yang dipandang relevan
atau ada kaitannya, (4) Melaksanakan pembelajaran, (5) Menentukan
metode, (6) Menentukan evaluasi, dan (7) Menentukan sumber belajar
(2007: 40).
Jika dibandingkan dengan beberapa pendapat di atas yang lebih
membahas tentang metode, gerakan utama dan model pendidikan karakter,
Hidayatullaah lebih menyoroti bagaimana strategi dan langkah-langkah
dalam mengintegrasikan pendidikan karakter sebagai bahan pertimbangan
dalam melakukan pengintegrasian pendidikan karakter dengan mata
pelajaran. Langkah tersebut memberikan acuan atau contoh dalam
membuat perencanaan pelaksanaan pengintegrasian pendidikan karakter.
Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
(Mendikdasmen), Prof. Suyanto, PhD. mengakui bahwa karakter bangsa
yang dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini dalam kondisi
yang lemah. Untuk itu, diperlukan kerja sama antar para pendidik, tokoh
agama, dan orang tua dalam menanamkan karakter bangsa yang mulia
tersebut pada generasi penerus bangsa. Beliau juga menandaskan bahwa
commit
user tugas guru, tetapi juga orang tua
penanaman karakter bangsa
bukantosemata

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

55
dan masyarakat lainnya. Setiap anggota masyarakat harus bergabung
(Aqib, 2011: 5).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model
pendidikan karakter yang seharusnya digunakan saat ini berbeda dengan
pendidikan karakter yang diterapkan pada pendidikan yang lalu, di mana
memang karakteristik manusianya yang lebih kompleks dan heterogen.
Pendidikan karakter dapat dilakukan secara fleksibel bisa menggunakan
metode yang menyeluruh atau metode komprehensif, atau dapat pula
dengan pendidikan watak, integrasi bidang studi, pendidikan agama, moral
dan kewarganegaraan. Kaitannya dengan lembaga, pendidikan karakter
dapat diaplikasikan dalam managemen sekolah, dan program habituasi
sekolah. Pendidikan karakter juga harus mendapat dukungan dari semua
pihak, tidak hanya menjadi tugas guru atau pendidik, tapi juga harus
didukung oleh keluarga, masyarakat/lingkungan.

B. Penelitian Relevan

Penelitian yang relevan adalah tesis Danu Eko Agustinova dengan


judul Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Islam Terpadu (Studi Kasus Sdit
Al Hasna, Klaten). Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa (1) SDIT
Al Hasna telah memiliki budaya sekolah yang unggul dan kokoh. Budaya
sekolah SDIT Al Hasna terbagi menjadi tiga kelompok yaitu: budaya
keagamaan, budaya kepemimpinan dan budaya kerjasama/sosial. Pengamalan
budaya sekolah dilakukan oleh semua warga sekolah pada saat kegiatan
pembelajaran maupun di luar KBM. (2) Perencanaan pendidik dalam
menanamkan karakter ketika kegiatan pembelajaran dengan membuat
perangkat pembelajaran (silabus dan RPP berkarakter). Pada tahap ini
pendidik mempersiapkan metode pembelajaran yang bisa mempermudah
proses internalisasi nilai-nilai karakter. (3) Pelaksanaan pembelajaraan
pendidikan karakter terintegrasi di dalam pembelajaran. Proses pembelajaran
commit
to user
yang dilakukan pendidik dengan
menggunakan
metode pembelajaran yang

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

56
variatif, dan inovatif. (4) Bentuk penilaian yang dilakukan pendidik
mempertimbangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Dalam
menilai afektif SDIT Al Hasna mempunyai instrumen buku akhlaq dan
penilaian kepribadian. (5) Hambatan yang dialami dalam proses penanaman
karakter berasal dari dalam dan dari luar. Hambatan dari dalam meliputi
pendidik yang kurang bisa memahami karakteristik masing-masing siswa.
Kurangnya sarana penunjang dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, sistem
full day itu sendiri yang ternyata memiliki beberapa kelemahan. Sedangkan,
hambatan dari luar adalah kurang partisipasi aktif orang tua dalam proses
penanaman karakter.
Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini, adalah penelitian
yang dilakukan oleh Ahmad Darmadji yang berjudul Urgensi Ranah Afektif
dalam Evaluasi Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Pada
penelitian tersebut dihasilkan kesimpulan bahwa terabaikannya ranah afektif
pada evaluasi PAI di PTU disebabkan sejumlah faktor. Pertama, perbedaan
persepsi tentang batasan materi yang tidak dapat dievaluasi seperti masalah
keimanan. Kedua, perumusan tujuan PAI terlalu ideal dan kurang jelas
sehingga sulit diukur. Ketiga, kurangnya kemampuan sebagian besar dosen
PAI dalam mengembangkan instrumen PAI pada ranah afektif. Keempat,
tingginya rasio dosen dengan jumlah mahasiswa. Untuk mengatasi persoalan
tersebut, diperlukan pendalaman terhadap pemahaman ranah afektif pada PAI.
Di samping itu, diperlukan juga pengayaan teknik dan mekanisme
pelaksanaan evaluasi PAI dengan memperhatikan mahasiswa sebagai peserta
didik dewasa.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian Ahmad Darmadji adalah
sama-sama menjadikan ranah afektif sebagai bahasan yang penting dalam
penelitian, dan perlu untuk dikembangkan. Perbedaannya terletak pada fokus
penelitian. Fokus penelitian pada penelitian ini adalah salah satu karakteristik
ranah afekktif, kejujuran yang termasuk pada karakteristik afektif moral pada
siswa sekolah dasar, sedangkan pada penelitian Ahmad Darmadji, fokus
penelitiannya adalah pada commit
evaluasito user
dan penilaian ranah afektif pada

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

57
mahasiswa di perguruan tinggi umum. Sedangkan Persamaan penelitian ini
dengan penelitian Danu Eko Agustinova adalah sama-sama mengangkat
implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar, sehingga karakteristik
siswanya sama. Perbedaannya terletak pada status sekolah yang di teliti yaitu
Sekolah Dasar Islam Terpadu dengan sekolah dasar yang peneliti jadikan
tempat penelitian yaitu Sekolah Dasar Negeri, Sehingga ada perbedaan kultur
da basis sekolah dalam pengimplementasian pendidikan karakter.

C. Kerangka Berpikir
Pendidikan merupakan sebuah bentuk usaha nyata dan terencana
dalam

memberikan

pengajaran,

penanaman

nilai,

pengetahuan

dan

keterampilan untuk membantu peserta didik menemukan, mengarahkan dan


mengembangkan potensi diri secara optimal dalam usaha mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengusung muatan ilmu
pengetahuan, keterampilan, dan dilengkapi dengan pendidikan nilai, moral,
budi pekerti, pembentukan kepribadian dan kematangan individu dalam
rangka mewujudkan tujuan pendidikan secara menyeluruh, yaitu mendidik
dan mengembangkan potensi intelegensi, sikap, perilaku dan tindakan siswa
mengarah pada konsep tahu, paham dan mau mengaplikasikan ilmu
pengetahuan yang telah dipelajari.
Salah satu tujuan khusus dalam pendidikan karakter adalah
membentuk ranah afektif siswa yang berhubungan dengan sikap, perasaan,
nurani seseorang dalam mewujudkan nilai-nilai karakter yang unggul, salah
satunya yaitu karakter jujur. Jujur sebagai karakter yang unggul, merupakan
karakter yang sangat penting

untuk dibentuk pada setiap peserta didik.

Permasalahan terdekat yang paling sering ditemukan di sekolah adalah


rendahnya karakter kejujuran dan sportivitas yang tertanam pada diri siswa.
Hal itu dapat tercermin pada kehidupan sehari-hari, yaitu pada pelaksanaan
commit to
user
ulangan harian, ujian, dan pengerjaan
tugas.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

58
Selama ini pendidikan yang diutamakan adalah ranah kognitif padahal
urgensi ranah afektif sangatlah tinggi untuk mewujudkan kecerdasan yang
seimbang. Ranah afektif berkaitan dengan cara seseorang untuk bertindak,
berperilaku, atau merespon stimulus dengan pertimbangan wilayah perasaan,
hati nurani, dan kesucian ajaran agama yang diyakininya. Jika ranah kognitif
menjelaskan cara berbuat secara logika berpikir, maka ranah afektif adalah
mencerna dan menyeimbangkan rasionalnya berpikir dengan pertimbangan
hati nurani. Sedangkan ranah psikomotor berhubungan dengan pengkoordinasian tindakan hasil pengolahan ranah kognitif dan afektif yang sudah
dalam proporsi yang seimbang.
Kejujuran dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya dipengaruhi
oleh pendidikan di sekolah, melainkan dipengaruhi juga oleh fungsi afeksi dan
edukasi keluarga, pengawasan dan keadaan lingkungan sosial serta pengaruh
dari teman sebaya. Karakter kejujuran dipengaruhi oleh kehidupan sosial.
Mengingat bahwa sejak lahir, manusia dihadapkan pada lingkungan
sosial/kehidupan sosial, yang mau tidak mau melalui proses sosialisasi atau
bergaul dalam suatu lingkungan dengan karakteristik tertentu dan memiliki
pola interaksi tertentu, mampu memberikan pengalaman mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh pemikiran, nilai yang diyakini, dan prinsip hidup masingmasing individu. Dalam proses inilah terkadang akan menjadi faktor penentu
kepribadian dan karakter seseorang. Pembentukan karakter kejujuran dapat
dilakukan melalui pendidikan di sekolah, dan ditunjang dengan adanya
lingkungan yang mendukung serta keluarga yang mendidik kejujuran pula.
Pendidikan karakter akan berpengaruh/memberikan pengaruh pada
pembentukan ranah afektif kejujuran pada siswa jika lingkungan sosial siswa
juga mendukung pelaksanaan pendidikan karakter. Namun, pendidikan
karakter

tidak

akan

berpengaruh/tidak

memberikan

pengaruh

pada

pembentukan ranah afektif kejujuran pada siswa, jika lingkungan sosial siswa
tidak mendukung pelaksanaan pendidikan karakter. Dengan kata lain ranah
afektif kejujuran akan dipengaruhi oleh pendidikan karakter dan kehidupan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

59
sosial siswa. Kehidupan sosial siswa akan mempengaruhi pendidikan karakter
dalam membentuk ranah afektif kejujuran siswa.
Untuk memperjelas uraian di atas, berikut ini diberikan skema
kerangka berpikir yang diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas
mengenai uraian di atas.

Gambar 1. Bagan Alur Kerangka Berpikir

commit to user