Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Perkembangan

teknologi

dalam

bidang

telekomunikasi

khususnya

seluler,memungkin penyedia sarana telekomunikasi mampu menyediakan mutu


pelayanan yang terbaik, cepat dan aman serta memiliki kejernihan dalam
menyalurkan sebuah informasi.Dan dalam suatu komunikasi selluler, pastilah
diperlukan sebuah sistem dan atau perangkat yang dapat digunakan hingga
terciptanya sebuah komunikasi jarak jauh.Dalam hal ini perangkat yang diperlukan
yakni suatu perangkat transmisi yang sudah tentu menggunakan antenna dalam
perangkat tersebut. Namun pada aplikasinya tetap dihadapkan dengan tugas
pemilihan antenna yang cocok untuk komunikasi tersebut. Dengan adanya sistem
Smart Antenna, setidaknya membantu permasalahan yang terjadi dalam
pentransmisian sehingga dapat diatasi dengan menngunakan beberapa metode.

1.2.Pokok Masalah.
Berdasarkan ulasan yang ada pada latar belakang diatas, maka dapat ditarik
permasalahannya adalah Penggunaan Sistem Smart Antenna Dalam Komunikasi
Selluler.
1.3.Tujuan penulisan.
Umum
Secaraumum,adabeberapatujuanyangingindisampaikandenganadanyamakalah
ini,yaitu;
1.UntukmemahamipengertiandariSmartAntenna.

2.UntukmengetahuisistemdarisuatuSmartantenna.
Khusus.
Sedangkantujuansecaraumumyaknimengetahuiapadanbagaimanakonsepkerja
darisuatuSmartAntenna.
1.4.Manfaat Penelitian.
Manfaat penulisan diharapkan dapat membantu mengetahui fungsi dari Smart
Antennasertauntukmengetahuiteknologiyangadasehinggadapatdijadikanacuandalam
penggunaanSmartAntenna.

1.5.Sistematika Penulisan.
BAB I PENDAHULUAN
Membahas tentang latar belakang, pokok masalah, tujuan penulisan &
manfaat penulisan..
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Membahas penerian tentang Smart Antenna, konsep dasar, sistem arsitektur
dari suatu smart.
BAB III METODE
Membahas mengenai sumber data, metode pengolahan data, dan sistematika
penulisan.
BABIVPEMBAHASAN
MembahastentangaplikasidariSmartAntennayangadayangdigunakandalam
transmisiRadioFrekuensi.
BABVPENUTUP
Berisikankesimpulandansaran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Smart Antenna
Defenisi suatu smart antena adalah suatu sistem antena komunikasi wireless
digital yang difungsikan sebagai diversity dari Transmitter, Receiver, atau keduaduanya. Di dalam komunikasi wireless, pada umumnya antena tunggal digunakan
di pengirim, dan antena tunggal lain digunakan di tujuan. Hal ini disebut SISO
(Single Input, Single Output). Ketika suatu gelombang elektromagnetic dihalangi
sesuatu seperti bukit; jurang curam; bangunan; dan sebagainya, maka gelombang
terserak, dan dengan begitu gelombang RF mengambil alur lain untuk sampai ke
tujuan (Receiver). Terjadinya gelombang yang terhalanag tadi menyebabkan
permasalahan seperti cut-out ( pengaruh karang).
Penggunaan smart antenna dapat mengurangi atau menghapuskan gangguan
disebabkanolehmultipathfadding.
PenggunaanantennadalamsystemSmartantennadibagidalamtigakategoriutama,
yakni;

2.1.1 SIMO (Single Input,Multiple Output).


Di dalam SIMO teknologi, satu antena digunakan di sumber (Rx), dan dua
atau lebih antena digunakan di tujuan (Tx).

2.1.2 MISO (Multiple Input,Single Output).


Di dalam MISO teknologi, dua atau lebih antena digunakan di sumber
(Rx),dan satu antena digunakan di tujuan (Tx).

2.1.3 MIMO (Multiple Input, Multiple Output).


Di dalam MIMO teknologi, berbagai antena bekerja pada kedua-duanya
sumber (Rx) dan tujuan (Tx). MIMO telah diminati belakangan baru-baru ini sebab
teknologi ini tidak bisa hanya menghapuskan efek multipath propagasi yang
kurang baik, tetapi dalam beberapa hal memiliki keunggulan.

2.2 Type Smart Antenna


Terminologi saat ini itu menyimpulkan berbagai aspek dari suatu teknologi
system smart antenna, yaitu meliputi antenna intellegent, phased array, SDMA,
spatial processing, digital beamforming, adaptive antenna systems, dan lainnya.
Berikut adalah perbedaan antara kedua kategori utama dari smart antenna
mengenai pilihan dalam strategi pentransmisian:

2.2.1 Switched Beam Antennas


System ini membentuk berbagai beam yang telah ditetapkan dengan
heightened sensitivity khususnya arah. Sistem Antena ini mendeteksi kekuatan
sinyal, kemudian memilih salah satu dari beberapa beam yang ditentukan tadi.
Antena directional membentuk pola desain physical dari elemen tunggal
(seperti suatu antena sectorized), switched beam mengkombinasikan output dari
berbagai antena sedemikian rupa untuk membentuk pola beam sectorized yang
baik (directional) dengan spatial selectivity yang lebih konvensional.

Gambar2.1SwitchedBeamSystemCoveragePatterns(Sectors)

2.2.2 Adaptive Array Antennas


Teknologi
algoritma, sistem

Antena

adaptip

mengunakan

berbagai

signal-processing

adaptip berguna secara efektif sebab mampu menempatkan

berbagai jenis sinyal untuk dengan memperkecil gangguan dari interferensi dan
memaksimalkan sinyal yang iinginkan. Kedua sistem memiliki keuntungan
menurut okai dari user, namun sistem yang adaptip menyediakan keuntungan
optimal secara serempak yakni mengidentifikasi, tracking, dan meminimalisasikan
sinyal interferensi.

Gambar . Jangkauan Array Adaptip

Teknologi Antena adaptip mengunakan berbagai signal-processing


algoritma, sistem

adaptip berguna secara efektif sebab mampu menempatkan

berbagai jenis sinyal untuk dengan memperkecil gangguan dari interferensi dan
memaksimalkan sinyal yang iinginkan. Kedua sistem memiliki keuntungan
menurut okai dari user, namun sistem yang adaptip menyediakan keuntungan
optimal secara serempak yakni mengidentifikasi, tracking, dan meminimalisasikan
sinyal interferensi.
Array adaptif mirip dengan array dinamis bertahap namun lebih
'cerdas' karena array adaptif lebih mempertimbangkan banyak faktor. Array
adaptif beradaptasi dengan lingkungannya dengan memperhatikan perangkat akun
lain dan mengganggu jalur sinyal beberapa. Mengganggu perangkat dapat
'diblokir' dengan mengurangi sinyal yang diterima membentuk elemen antena ke
arah itu dan meningkatkan dalam diri orang lain. Beberapa jalur sinyal dapat
dimanfaatkan dengan membentuk balok dalam arah dari jalur sinyal yang berarti
sinyal gabungan dapat dibentuk dari beberapa balok. Ini memberikan sinyal jauh
lebih baik untuk ransum kebisingan memberikan komunikasi yang lebih jelas ke
perangkat.

Gambar . Adaptive antena array pola radiasi

2.3 Konsep Dasar Smart Antenna


Smart antenna merupakan kombinasi dari susunan elemen antena dengan
kemampuan pengolahan sinyal untuk mengoptimalkan daya pancar secara adaptif
sesuai kondisi respon lingkungan sinyal tersebut.Dilakukan beberapa metode alam
smart antenna ini, yakni ;

1. Desain fisiknya dapat dimodifikasi dengan menambahkan beberapa elemen.


2. Antena dapat menjadi suatu sistem antena yang dapat dirancang untuk
sinyal geser (shift signal) sebelum transmisi pada masing-masing
elemen,hal ini dilakukan agar antena mempunyai suatu pengaruh
kombinasi. Konsep ini dikenal sebagai antena Phased Array.

3. Geser (shift signal) sebelum transmisi pada masing-masing elemen,hal ini


dilakukan agar antena mempunyai suatu pengaruh kombinasi. Konsep ini
dikenal sebagai antena Phased Array.

BAB III
METODE PENULISAN

3.1 Sumber Data


Adapun sumber data dalam penulisan yang dibuat yakni data sekunder yang
didapat dengan menguntip dari seserapa artikel yang ada di beberapa situs internet
mengenaismart antenna dan juga referensi dari laporan KP yang telah ada.

3.2 Pengolahan Data


Pengolahan data merupakam study literature, yakni pengumpulan data
melalui literature yang berhubungan engan penulisan ini, baik ari buku buku
maupun browsing via internet yang kemudian disusun sehingga dapat dimengerti
oleh pembaca.
3.3 Flow Chart Penulisan

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Umum.
Seperti dijelaskan sebelumnya tentang smart antenna, terbesit peertanyaan
kenapa dan apa yang dilakukan smart antenna sehingga bisa dikataka smart.
Karena,Suatu antena sederhana bekerja untuk suatu RF sederhana. Dan Smart
Antenna memberi solusi yang diperlukan ketika banyaknya para pemakai, terjadi
interferensi, dan kompleksitas propagsi. Dan Smart Antenna memiliki fasilitas
pemrosesan sinyal digital.
Dengan kemajuan jaman modern dalam elektronika, format digital digunakan
untuk menggerakkan RF data yang menawarkan banyak keunggulan dalam kaitan
dengan ketelitian dan fleksibilitas operasional.
4.2 Implementasi Smart Antenna.
Dalam

implementasi

sebuah

antenna

transmisi,

pada

umumnya

menggunakan sistem diversity. Salah satu metode diversity adalah dengan


menggunakan dua kanal penerima yang bebas dari fading. Kemungkinan keduanya
terpengaruh oleh fading dalam waktu yang bersamaan adalah kecil.
Metode ini membutuhkan 2 antenna Receiver pada Base Station untuk
menerima signal yang sama (SIMO), oleh karena itu tidak terpengaruh perbedaan
yang disebabkan oleh fading. Dengan memilih yang terbaik dari 2 signal, akibat
fading bisa dikurangi.Ada dua cara untuk melakukan ini, yaitu :

4.2.1 Space Diversity


Jarak antara antena harus seperti hubungan signal di dua antenna, yaitu

rendah.Hubungan adalah batas statistik yang menggambarkan persamaan dari


signal.

4.2.2 Polarization Diversity


Antenna Dual Polarisasi adalah : sebuah perangkat antenna dengan 2 baris
dengan unit fisik yang sama. Kedua baris itu bisa diatur dan diarahkan dengan
berbagai cara selama rencana 2 polarisasi mempunyai performasi yang sama
dengan penguatan dan contoh radiasi.
Dua bentuk yang biasa digunakan bersama yaitu : baris Vertikal dan
Horizontal dan baris dalam kemiringan 45.

Gbr 4.2 Antenna Dual Polarization


4.3. Sistem Sectorized
Sistem Antena Sectorized mencangkup suatu area/sector dan membagi lagi

dalam sektor yang dicakup oleh antena directional., masing-masing sektor


diperlakukan sebagai suatu sel berbeda, Antena Sektoral meningkatkan reuse dari
suatu frekwensi dalam sistem selular dengan mengurangi gangguan intrferensi
potensial yang melintasi sel yang asli.

Gambar 4.2 Sectorized Antenna dan Coverage Patterns

4.4 Sistem Arsitektur Smart Antenna


Diasumsikan arah sinyal datang (DOA-Directional of Arrival) berasal dari
sudut (,) relatif terhadap sumbu susunan. Implementasi perangkat di BTS
algoritma smart antenna, salah satunya, eigenbeamforming algorithm dapat dilihat
pada gambar berikut:

Gambar 4.3 Sistem Smart Antenna dengan Beigenbeamforming algoritma


4.5. Prinsip Dasar Smart Antena
Suatu susunan antena (array) yang identik dapat di atur arah radiasinya
dengan mengubah parameter antara lain fasa dan/atau amplitude gelombang yang
menuju ke tiap elemennya. Dengan mempergunakan pemroses sinyal dapat
dihasilkan pola radiasi maximum kearah yang di ingini dan sekaligus membuat
pola nol pada arah yang tidak di ingini. SmartAntena mempergunakan suatu
susunan antena yang elemen-elemennya di hubungkan dengan suatu rangkaian
terintegrasi.berikut ini memperlihatkan suatu susunan sembarang elemen antena
dimana f merupakan sudut azimuth dan adalah sudut elevasi dari suatu
gelombang datar yang mengenai antena. Dengan demikian berarti posisi
horizontal pada = /2.

Untuk menyederhanakan analisis suatu susunan antena, di buat beberapa


asumsi, antara lain;
Jarak antar elemen cukup kecil sehingga tidak terjadi perbedaan ampitudo
dari sinyal yang di terima pada masingmasing element.
Tidak timbul kopling bersama antar element.
Semua gelombang datang di anggap terdiri dari gelombang datar.

Suatu gelombang datar yang mengenai susunan antena dari arah(,f),


mempunyai beda fasa antara elemen ke m dan elemen yang berada pada titik asal
adalah:
m = dm = (xm cossin + ym sinsin + cos ) .(1)
Dimana: = /2
Sistem antena smart terdiri dari beberapa bentuk sistem yaitu susunan
antena, pengatur fasa dan suatu processor adaptive untuk penentuan
bobot,digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. Gambar geometri untuk penentuan arah datangnya sinyal

Secara umum susunan antena terdiri dari sejumlah elemen yang dapat
didistribusikan dalam bentuk berbagai pola, biasanya susunan tersebut terdiri dari
antena linear yang mempunyai jarak sama (linear equally spaced), uniform, copolarized, penguatan elemen rendah dandiorientasikan pada satu arah yang sama.
Suatu susunan antena yangmempunyai jumlah elemen M yang seragam, di
orientasikan sepanjang sumbu x dengan jarak antar elemen x di gambarkan
seperti gambar pada halaman berikut :

Gambar 2. Konfigurasi model antena linear serta mempunyai jarak sama

Yang mana, di letakkan pada sumbu x, menerima gelombang datar dari arah
(,f). Tiap cabang dari susunan antena mempunyai elemen bobot, wm yang
masing-masing mempunyai besaran dan fasa. Misalkan suatu gelombang datar s(t)
mengenai susunan antena dari sudut (q,f) relative terhadap sumbu dari susunan
antena. Di asumsikan semua elemen susunan antena adalah isotropic yang
mempunyai penguatan kesegala arah (Joseph, 1999:87). Dengan mempergunakan
persamaan (1), dengan xm = m x, signal yang di terima pada elemen antena yang
ke m adalah:

Sehingga faktor susunan antena menjadi:

Dalam hal ini gelombang mengenai susunan antena seperti pada gambar
adalah pada bidang x-y (horizontal) sehingga = /2. Ini adalah pendekatan yang
umum dilakukan untuk antena sistem selular dan PCS (Zhigang, 1997: 15).
Gambar 3.dibawah ini merupakan plot faktor susunan antena dengan susunan
seperti pada gambar 2. dengan mempergunakan bobot seperti yang di uraikan
pada persamaan (4).

Gambar 3. Plot faktor susunan antenna


Faktor susunan antena yang diperlihatkan pada gambar ialah untuk o =
45 dan
0

80 ,
0

dengan

mengubah-ubah

parameter,

,
o

berkas

gelombang

elektromagnetik dapat di arahkan sesuai dengan ke inginan. Yang terpenting


adalah membuat substitusi sebagai berikut :

Cos = cos sin


Dimana adalah sudut datang dari gelombang yang diukur dari sumbu x,
dengan cara yang sama diukur dari sumbu z. Umum nya pola radiasi dari faktor
susunan antena merupakan fungsi dan . Bila pola medan radiasi dari dari tiap
elemen susunan antena adalah ga(,) dan tiap elemen adalah identik serta di

orientasikan kearah yang sama, maka pola medan total dari susunan antena
adalah:
F (,) = f (,) ga (,) (7)
Di asumsikan gelombang yang mengenai tiap elemen antena mempunyai
polarisasi yang sama sehingga tidak terjadi polarization loss(Balanis,..................).
Untuk memudahkan pekerjaan di gunakan notasi vektor bobot:

w = w0 .........wM-1H

(8)

Sinyal-sinyal dari tiap elemen antena di kumpulkan dalam vektor data sbb:
u = u0 (t).........uM-1(t)T

(9)

Dengan demikian output dari susunan antena z(t) dapat dinyatakan sebagai inner
product dari vektor bobot, w dan vektor data, dimana:

u(t), z(t) = wH u(t) (10)


Faktor susunan antena pada arah (,) menjadi :

f (,) = wH a(,)

(11)

Vektor a(,) di sebut steering vektor pada arah (,) Bila gelombang datang dari
arah seperti pada gambar 2., maka steering vektor, menyatakan fasa dari sinyal
yang berada pada masing-masing elemen relatif terhadap fasa dari sinyal pada
elemen referensi (elemen 0). Dengan persamaan 3., steering vektor menjadi:

a(,) = 1 a1 (,) ..........a M-1(,)T (12)

dimana:
am (,) =

e -j(xm cos()sin () + ym sin () sin () + zm cos ()) (13)

Satu set steering vektor, untuk semua harga q dan f disebut array manifold.
Pasangan sudut (q,f) disebut Direction of Arrival (DOA) dari sinyal. Untuk
memudahkan biasanya komponen-komponen sinyal banyak jalur (multipath) yang
menuju Base Station di asumsikan pada bidang horisontal, q = p/2 , sehingga
dengan demikian , hanya f yang menyatakan arah dari datangnya sinyal (DOA)
(Ryuji, 1998: 89).
a. Penentuan harga w (faktor bobot).
Suatu cara yang sederhana berikut ini menunjukkan bagaimana
menghitung faktor bobot, dimana sinyal dari suatu arah tertentu dapat di di terima
dan pada saat yang bersamaan sinyal multipath dari arah yang lain di hindari.
Gambar 4. halaman berikut memperlihatkan konfigurasi susunan antena untuk
mendapatkan sinyal yang diingini dan menghindari sinyal yang tidak diingini
(sinyal multipath). Misalkan sinyal yang di ingini datang dari arah sudut = 0 dan
0

dinyatakan dengan persamaan p(t) = P sin t, dan sinyal yang lain berupa sinyal
0

multipath datang dari sudut = /6 radians dan dinyatakan dengan n(t) = N sin t
0

Pada suatu titik di tengah antara kedua antena sinyal diingini dan sinyal
multipath dianggap mempunyai fasa yang sama. Antena pada contoh berikut,
mempergunakan dua buah antena omnidirectional yang disusun dengan jarak /2.

Kedua sinyal yang diterima oleh tiap elemen di kalikan dengan suatu faktor bobot
variable, w, dimana tiap satu faktor bobot di delay sebesar T/4, keempat sinyal
yang telah di kalikan dengan faktor bobot kemudian di jumlahkan sehingga
didapat output dari susunan antena tersebut. Sehingga output dari susunan antena
yang disebabkan oleh sinyal yang diingini adalah;

P[(w1+ w3) sin t + (w2 + w4) sin( t - /2)]. (14)


0

Untuk membuat output menjadi sama dengan output yang diinginkan p(t) = P sin
t, maka perlu dibuat:
0

w1+ w3 = 1

(15)

w2 + w4 = 0

(16)

Dengan titik referensi di tengah antara kedua antena, maka time delay relatif dari
sinyal yang stidak di ingini (multipath) pada kedua antena adalah T/4 sin /6 =
T/8, yang merupakan pergeseran fasa sejauh /4 padafrekuensi f 0 .
Output susunan antena yang disebabkan oleh sinyal yang tidak di ingini
(multipath) pada sudut = /6 adalah:

N[w1 sin ( t - /4) + w sin ( t - 3/4) + w sin ( t + /4) + w sin ( t - /4)] (17)
0

Oleh karena output ini tidak di kehendaki maka output harus memberikan hasil =
0 sehingga didapat;
w + w = 0 (18)
1

w w = 0 (19)
2

Dari ke empat persamaan ini dapat dicari w, sehingga di dapat:

w1 = ; w2 = ; w3 = ; w4 = -

Gambar 5. Pola radiasi untuk 20 elemen antena


Dengan sejumlah faktor bobot ini, susunan antena akan mempunyai
karakterisitik yang diingini, yaitu menerima sinyal dari arah yang di inginidan
menghindari sinyal dari arah yang tidak di ingini (multipath). Perhitungan bobot
selanjutnya untuk membuat sistem ini menjadi adaptive dengan f mempergunakan
algorithma LMS (least mean square) (Widrow, 1985: 78). Dimana error di
perkecil terus menerus dengan membandingkan output terhadap suatu response
yang diingini.

e(t) = d(t) s(t)

(20)

Teknologi smart antenna yang telah dikembangkan,Switched Beam dan Adaptive


Array:

Gambar 2.3 Perbandingan antara (a) Switched Beam (b) Adaptive Array
4.7.Susunan Antena
Dalam perencanaan, yang sering digunakan adalah susunan antena sejenis
karena elemen-elemen susunan merupakan antena yang sama/identik yaitu dengan
diagram arah pada variasi dan . Susunan dari sejumlah n antena-antena sejenis
dapat diperhatikan sebagai susunan sejumlah n sumber isotropik dengan catuan
arus dan fasa tertentu, sehingga memiliki diagram arah dan fasa yang terkoreksi
dari diagram susunan isotropiknya. Pada susunan antena yang sejenis dapat
dipergunakan prinsip perkalian diagram sedangkan untuk nonisotropis atau tak
sejenis berlaku pada prinsip perkalian diagram.

AP=AF x SP

(2.1)

Gambar 2.2 Perkalian Diagram Arah (a) Single Pattern, (b) Array Factor,
(c) Array Pattern
4.7.Manfaat Teknologi Smart Antena
Ada pun manfaat teknologi smart antenna adalah sebagai berikut :
1. Pengurangan co-channel interferensi
Pintar antena memiliki properti spasial filtering untuk fokus memancarkan
energi dalam bentuk sempit balok hanya dalam arah yang diinginkan
pengguna mobile dan tidak ada arah lain. Tambahan mereka juga memiliki

nulls dalam pola radiasi mereka ke arah pengguna ponsel lain di sekitarnya.
Oleh karena itu sering ada diabaikan co-channel interferensi.
2. Rentang peningkatan
Karena antena cerdas mempekerjakan koleksi elemen individu dalam bentuk
array mereka menimbulkan balok sempit dengan keuntungan meningkat bila
dibandingkan dengan antena konvensional menggunakan kekuatan yang
sama. Peningkatan laba menyebabkan peningkatan jangkauan dan cakupan
dari sistem. Oleh karena itu BTS lebih sedikit diperlukan untuk mencakup
wilayah tertentu.

3. Peningkatan kapasitas
Antena cerdas memungkinkan pengurangan co-channel interferensi, yang
menyebabkan peningkatan faktor frekuensi reuse. Itu adalah antena cerdas
memungkinkan lebih banyak pengguna untuk menggunakan frekuensi yang
sama spektrum pada saat yang sama membawa tentang peningkatan luar
biasa dalam kapasitas. 4. Pengurangan daya yang ditransmisikan
Biasa antena memancarkan energi ke segala arah mengarah ke pemborosan
listrik.Relatif pintar antena memancarkan energi hanya dalam arah yang
diinginkan. Oleh

karena itu kurang daya diperlukan untuk radiasi pada base

station. Pengurangan daya yang ditransmisikan juga menyiratkan pengurangan


gangguan terhadap pengguna lain.
5. Pengurangan handoff
Untuk meningkatkan kapasitas dalam jaringan selular ramai, padat sel
lebih lanjut rusak ke dalam sel mikro untuk memungkinkan peningkatan

faktor reuse frekuensi. Hal ini menyebabkan sering handoffs, karena


ukuran sel lebih kecil. Menggunakan antena cerdas di base station, tidak
ada kebutuhan untuk membagi sel karena kapasitas ditingkatkan dengan
menggunakan balok tempat independen. Oleh karena itu, handoffs jarang
terjadi, hanya ketika dua balok menggunakan frekuensi yang sama saling
silang.
6.Mitigasi efek multipath
Antena cerdas dapat menolak komponen multipath sebagai gangguan,
sehingga mengurangi nya Efek dari segi memudar atau dapat
menggunakan komponen multipath dan menambahkannya konstruktif
untuk meningkatkan kinerja sistem.
7. Kompatibilitas
Teknologi antena cerdas dapat diterapkan ke berbagai teknik multiple access
seperti TDMA, FDMA, dan CDMA. Hal ini kompatibel dengan hampir
semua metode modulasi dan bandwidth atau pita frekuensi.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan.
Berdasarkan penjelasan yangada, maka ada beberapa hal yang dapat
disimpulkan,antara lain ;
1. Konsep

penggunaan

multiple

antenna

dan

pengolahan

sinyal

inovatifberfungsiuntuk melayani sel dengan cermat dan dengan adanya Digital


Signal Processors ( DSPS), general-purpose processors( dan ASICS), dan teknik
software-based inovatif signal-processing ( algoritma) maka didesain sebuah
sistem yang dinamakan Smart Antenna yang praktis untuk sistem komunikasi
selular.
2. Ketika spektral solution terus meningkat dalam suatu bisnis sangat mendesak,
sistem ini menyediakan coverage lebih besar untuk masing-masing lokasi sel,
dan interferensi apat iminimaliskan, serta peningkatan kapasitas substansiil.

5.2 Saran.
Saransaranyangdiambildalamkesimpulaniniadalah:
1. HaruslahmemahamiSmartAntenna,sehinggateknologidalampentransmisiandapat
diketahui.
2. SistemSmartAntennamerupakansistemyangtelkahdigunakandalampentransmisian,
makakegunaanharuslahimbangenganfungsisehinggadapatmenghemat.