Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH PENDINGINAN AIR ASIN DAN TEMPERATUR

TERHADAP PERPATAHAN DAN FATIK DAERAH HAZ

Disusun oleh
Adolvin Arnol Mahadiputra (5212412017)
teknik mesin s1 Unnes
untuk memenuhi tugas akhir perpatahan dan fatik dosen pengampu Bapak Heri Yudiono

Universitas Negeri Semarang
Teknik Mesin
2014

\

KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Semoga Allah Swt memberikan pahala berlipat ganda atas bantuan dan kebaikannya. sehingga penulis dapat mengusulkan penelitian dalam bentuk proposal skripsi yang berjudul “Pengaruh Suhu Pada Perpatahan Dan Fatik Daerah Lasan Pada Pengelasan Baja Dibawah Air Laut” Penulis juga menyadari bahwa dalam proposal ini masih banyak kekurangannya. baik moril maupun materil. sehingga skripsi peneliti dapat diselesaikan dengan baik. Nabi Muhammad SAW. Semarang. oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam perbaikan proposal ini. November 2014 Penulis BAB I PENDAHULUAN . Penulis sangat berterimakasih atas partisipasi dan dukungan dari berbagai pihak. Sholawat serta salam peneliti panjatkan kepada Nabi besar junjungan kita. Amin. yang kita nantikan syafaatnya di dunia dan di akhirat nanti.

maka akan langsung diperbaiki dan disambung didalam laut seperti uraian pengelasan bawah laut diatas. Pada era sekarang ini banyak teknologi yang diperlukan dan berada dalam cangkupan wilayah laut. Perlu kita ketahui bahwa las merupakan cara untuk menyambung dua komponen atau lebih menggunakan panas atau pelelehan sebuah material lai. Untuk itu. Contohnya elektroda. Pada umumnya mesin-mesin yang berada dilaut jika rusak akan di perbaiki tanpa mengangkatnya dari laut. bangunan bawah laut dan lain sebagainya.A. kilang minyak. Untuk membuat bangunan yang kokoh maka diperlukan bahan yang tahan asam dan tahan karat. Seiring berkembangnya zaman maka teknologi juga berkembang. yang mempunyai kadar garam tinggi dan suhu sangat bervariasi. Perbedaan suhu ini nanti akan menyebabkan adanya perpatahan. maka dapat menyebabkan perbedaan suhu di daerah lasan. Teknologi tidak lepas juga dari sebuah komponen-komponen pendukungnya yang nantinya akan membentuk suatu rangkaian system yang disebut mesin. Jika dalam pengelasan biasa maka kita tahu bahwa beberapa titik yang terpengaruh las. Dalam proses pengelasan sangatlah rentan dengan yang namanya perbedaan suhu antara daerah lasan dan daerah lain. Sama halnya jika ada lubang maupun komponen yang terputus. Identifikasi Masalah Berdasarkan dari latar belakang diatas di temukan masalah bahwa pada era modern ini dalam konstruksi mesin-mesin yang berada dilaut disambung dan di perbaiki langsung . dan pembebanan yang berulang. B. Latar Belakang Dewasa ini teknologi merupakan hal yang sangat penting dan sering digunakan oleh manusia untuk melakukan pekerjaan. mempunyai panas suhu yang berbeda dari titik lainnya. Sedangkan pengelasan bawah laut akan lebih ekstrim lagi karena dapat menyebabkan pendinginan tiba-tiba pada suhu yang rendah. dan aluminium. peneliti akan meneliti mengenai pengaruh pendinginan air asin dan temperatur Terhadap perpatahan dan fatik daerah lasan. Perpatahan sendiri merupakan hal yang pasti ada dalam suatu konstruksi mesin karena beberapa kondisi seperti adanya konsentrasi tegangan. Dalam perkembangannya juga ditemukan banyak teknologi. Selain itu. termasuk bahan-bahan pembentuknya . Seperti kapal. untuk penyambungannya menggunakan teknologi yang sangat modern yaitu dengan keeling ataupun pengelasan dalam laut.

Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai ataupun diharapkan adalah 1. Mn. Oleh karena itu selesainya mengelas akan menimbulkan tegangan sissa yang di akibatkan adanya pendinginan langsung oleh air laut. Sedangkan proses penyambungannya biasanya menggunakan metode las.45 sampai 1.70%. Untuk mengetahui proses perpatahan daerah lasan. karena itu baja ini dikelompokkan berdasarkan kadar karbonnya. 2.45% karbon dan baja karbon tinggi berisi karbon antara 0. Bila kadar . C.30 sampai 0. Rumusan Masalah Berdasarkan di atas. baja karbon sedang mengandung 0.tanpa mengangkat nya dari dalam laut. BAB II Kajian Pustaka Baja karbon adalah panduan antara besi dan karbon dengan sedikit Si. Baja karbon rendah adalah baja dengan kadar karbon kurang dari 0. Untuk menganalisa proses dan fenomena perpatahan yang terjadi pada daerah lasan. Bagaimana hubungan temperatur dengan perpatahan pada daerah lasan? 2. Bagaimana proses perpatahan berlangsung pada daerah lasan yang langsung dingin akibat air asin? D. S dan Cu. rumusan permasalahan yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut: 1. P.sifat baja karbon sangat tergantung pada kadar karbon.30%.

kekuatan dan kekerasannya juga bertambah tinggi tetapi perpanjangannya menurun. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa logam lasan yang mempunyai ukuran butir lebih besar mengakibatkan permukaan patahan yang kasar sehingga meningkatkan ketahanan terhadap fatik dibanding dengan logam induk. dan pertumbuhan retak tidak stabil [6]. Perlakuan permukaan shoot peening menghasilkan tegangan sisa tekan yang mengakibatkan ketahan lelah yang meningkat (Collins.karbon naik. sehingga luasan patahan semakin besar untuk panjang retak terukur yang sama. . Fatik atau kelelahan menurut (Zulhanif. Dalam pengujian ini digunakan spesimen compact tension yang terbuat dari baja tahan karat austenitik 316L. Hal ini mengakibatkan lintasan patahan yang berliku-liku / zig-zag. yaitu ΔK dan Kmax [7]. bainit dan perlit. Triyono dkk (2005) meneliti struktur mikro dari sambungan las baja tahan karat AISI 304 dengan baja karbon rendah SS 400 yang di PWHT dengan semburan air. retak awal terjadi setelah adanya kondisi kritis [8]. petumbuhan retak stabil. 2002) didefinisikan sebagai proses perubahan struktur permanen progressive localized pada kondisi yang menghasilkan fluktuasi regangan dan tegangan dibawah kekuatan tariknya dan pada satu titik atau banyak titik yang dapat memuncak menjadi retak (crack) atau patahan (fracture) secara keseluruhan sesudah fluktuasi tertentu. Ketahanan fatik suatu bahan tergantung dari perlakuan permukaan atau kondisi permukaan dan temperatur operasi. Untuk luasan patah yang lebih besar maka juga akan dibutuhkan energi yang lebih besar pula.Perambatan retak terjadi dalam waktu yang lama dalam kondisi operasi normal. Pada awalnya. Perlakuan permukaan merubah kondisi permukaan dan tegangan sisa di permukaan. Pertumbuhan retak lelah ditentukan oleh 2 (dua) parameter mekanika kepecahan. karbida dan ferit d. Peningkatan ukuran butir logam las akan meningkatkan DKth dan menghasilkan permukaan patah yang kasar pada pembukaan retak. Struktur mikro yang terjadi di HAZ baja tahan karat dihasilkan struktur mikro berupa austenit.1981). Kusko dkk (2004) meneliti pengaruh ukuran butir dalam pengelasan baja tahan karat austenitik terhadap karakteristik laju perambatan retak fatik. Sedangkan struktur mikro yang terbentuk di HAZ baja karbon adalah ferit. Proses kepecahan memperlihatkan 3 fase yaitu pertumbuhan retak tanpa pembebanan.

dan tegangan operasi. Sebagai contoh. kemungkinan kerusakan berdasar pada pengendalian ilmu kimia fisika dengan memperbandingan antara corrosion fatigue (CF) dan stress corrosion crack (SCC). yang merupakan fungsi dari tegangan. (hakim dkk:178) Pada dasarnya kegagalan fatik dimulai dengan terjadinya retakan pada permukaan material uji. 1991). laju perambatan retak dinyatakan dengan da/dN yang merupakan fungsi dari sifat material. yang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kekasaran permukaan. logam pengisi mengalami pencairan akibat pemanasan dari busur listrik yang timbul antara ujung elektroda dan permukaan benda kerja. Magnin. panjang retak. Secara umum las dapat didefinisikan sebagai ikatan metalurgi pada sambungan logam atau paduan yang terjadi dalam keadaan cair. las dapat diartikan sebagai sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas (Wiryosumarto. Prasetyo (2007:6) menyatakan bahwa Pengelasan logam berbeda (dissimilarmetal welding) dapat diartikan sebagai penyambungan dua logam yang berbeda jenis dan karakteristiknya dengan cara dilas.. Sifat mekanik kedua logam yang akan dilas harus diketahui secara pasti. Dari batasan tersebut. sehingga dalam proses pengelasan tidak terjadi kegagalan dan dihasilkan lasan yang baik. perubahan sifat-sifat permukaan dan tegangan sisa permukaan (Dieter. ditunjukkan dengan parameter stress intensity faktor (K). Dan mengenai las GMAW Prasetyo (2007:7) juga mengatakan Dalam pengelasan ini. Dalam pengelasan logam berbeda banyak faktor yang harus diketahui dan diperhitungkan. Dari konsep fracture mechanics. Konduktifitas termal. pengelasan antara baja tahan karat dan baja karbon.1992). Busur listrik yang ada dibangkitkan dari suatu mesin las. Hal ini membuktikan bahwa sifat-sifat fatik sangat peka terhadap kondisi permukaan. Elektroda ini selama pengelasan akan mengalami pencairan bersama-sama dengan logam induk yang menjadi bagian .Perambatan retak akibat medan tegangan dan regangan di sekitar ujung retak. titik cair dan koefisien ekspansi termal akan menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis pengelasan yang akan dilakukan. geometri dan dimensi retak. (1995) memprediksikan mekanisme-mekanisme kelelahan karat berdasar pada suatu analisis yang terperinci.

Pada temperatur yang tinggi. Pada pengelasan GMAW elektroda dan gas pelindung berasal dari satu moncong pistol las.sifat baja karbon sangat tergantung pada kadar karbon. Mn. S dan Cu. Sebagai pelindung oksidasi dipakai gas pelindung yang berupa gas mulia yaitu 97% Argon untuk pelat tipis dan 100% Helium untuk pelat tebal. Baja Karbon Baja karbon adalah panduan antara besi dan karbon dengan sedikit Si. Siklus tegangan dapat menghasilkan pembentukan rangkaian intrusi dan ekstrusi pada permukaan bebas berdasar pergerakan searah logam sepanjang bidang slip. Hal ini akan meningkatkan level oksigen pada pengelasan dan menghindarkan cacat yang berupa retak. dengan busur diselimuti oleh butiran yang dinamakan fluks di atas daerah pengelasan (Kou. dan patah. karena itu baja ini dikelompokkan berdasarkan kadar karbonnya. BAB 3 METODE PENELITIAN A. perkembangan retak. Arah perkembangan retak sepanjang bidang slip pada permulaannya dan menjadi normal secara makroskopis menuju tegangan tarik maksimum. 1987). sehingga hasil pengelasan tidak terdapat kerak. CO2 akan menguap dan terurai menjadi gas CO dan O yang bebas. Bahan Bahan yang diperlukan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. P. Intrusi dan ekstrusi menjadi semakin banyak dan retak awal terbentuk sepanjang bidang slip. Butiran penyelimut merupakan material yang dapat ikut bergabung dengan logam las. Prasetyo (2007:9) Kegagalan yang terjadi pada pengelasan. dapat disebabkan oleh pembebanan berulang. Kegagalan ini disebut fatik yang mempunyai tiga fase: inisiasi retak. Sebagai campuran biasanya ditambahkan gas CO2. Baja karbon rendah .kampuh las. Budi (2008:2) mengatakan Las Busur Terendam (Submerged Arc Welding/ SAW) Las busur terendam merupakan salah satu proses pengelasan busur di mana logam-logam disatukan dengan cara pemanasan dengan sumber panas dari busur antara logam elektroda dengan logam dasar.

Tegangan dinamis yang dikenakan dapat bervariasi seperti tarik-tarik. Alat – alat yang Digunakan 1. Prosedur Penelitian 1. Kabel elektroda membentuk aliran arus pada satu sisi dan kabel massa membentuk aliran pada sisi lainnya. kekuatan dan kekerasannya juga bertambah tinggi tetapi perpanjangannya menurun.70%. Desain mulai Persiapan alat dan bahan Pembuatan spesimen . Kabel primer adalah kabel yang menghubungkan sumber tenaga dan mesin las. sedangkan kabel sekunder adalah kabel elektroda dan kabel massa.30 sampai 0. Elektroda Elektroda yang digunakan mengacu pada klasifikasi AWS yaitu E6013 yang tahan air. Tenaga mesin las diperoleh dari tenaga listrik tegangan tinggi yang dialirkan ke bengkel melalui transformator. 3. 220 volt. Jika terjadi kebocoran pada isolator dan air menyentuh penghantar logam. tarik-tekan ataupun tekan-tekan. Kabel sekunder digunakan untuk mengantar arus dari sumber tenaga ke busur las. Sumber tenaga menyediakan tenaga listrik dengan arus dan regangan yang sesuai untuk mempertahankan kestabilan busur las. Keduanya dihubungkan ke mesin las.45 sampai 1. Selain itu pada kabel tembaga akan cepat rusak terutama pada titik awal kebocoran. arus akan bocor dan tidak mampu menghasilkan busur cahaya.30%. 2. B. Alat Uji lelah Pengujian fatik pada umumnya dilakukan dengan memberikan tegangan atau beban dinamis uniaksial. Sehingga karakteristik output sumber tenaga adalah jenis arus konstan dengan interval arus antara 25 – 500 A dan tegangan antara 15– 35 V.45% karbon dan baja karbon tinggi berisi karbon antara 0. Peralatan Las Pada mesin las SMAW terdapat kabel primer dan kabel sekunder. Tegangan listrik yang biasanya digunakan umumnya bertegangan 110 volt.adalah baja dengan kadar karbon kurang dari 0. baja karbon sedang mengandung 0. Bila kadar karbon naik. C. Aliran yang terjadi harus melalui isolator sehingga tidak ada kontak antara air dan bagian logam. 380 volt.

4. e. 2. Data Penelitian Penulis melakukan teknik pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penyusunan tugas akhir ini antara lain dengan cara : 1. Mengumpulkan data-data dari internet. Study literature. kemudian langsung didinginkan dengan air asin b. Pengujian Pengujian dilakukan dengan metode eksperimental dengan pengujian destruktif yaitu pengujian lelah dan Tarik. d. D. Melakukan studi lapangan dengan mengamati mesin-mesin dan alat rancangan yang ada dan yang berkaitan.Pemotongan spesimen Pengelasan Pengujian lelah Hasil + analisis 2. Pengambilan data Pengambilan data pada saat terjadinya pembebanan dan di amati terus menerus. c. specimen di buat dari bahan yang sudah di las tadi. Bahan Baja dipilih kemudian diambil sampel dan di las oleh welder. . Proses Penelitian end a. 5. Di las dengan dengan metode wet welding atau dengan pengelasan. Mengadakan konsultasi kepada Dosen. Spesimen Setelah itu. yaitu membaca buku referensi yang berhubungan dengan tugas akhir yang penulis susun. Melakukan pengujian langsung secara eksperimental. 3. Analisis data Analisis data ini menggunakan rumus dari perambatan retak akibat tegangan.

Tabel Hasil Data Uji lelah spesimen α b β mm mm k w a s mm mm kg p maks p min kg/mm kg/mm 1 2 3 E. Secara umum faktor intensitas tegangan (K) dapat dihitung dari persamaan P. Dua retak dengan geometri yang berbeda yang mempunyai harga K yang sama akan memiliki distribusi tegangan yang identik. 1986) . Daerah tegangan atau jangkauan tegangan adalah selisih antara tegangan maksimum dan tegangan minimum (Fuchs. Faktor K merupakan cara yang sangat mudah untuk membahas distribusi tegangan di sekitar retak. Analisis Data Dari data hasil pengujian maka dilakukan analisis dengan menggunakan. Sedangkan daerah jangkauan tegangannya disebut Sr. Paris dan G.C.C. Sih (Dieter. Siklus tegangan bervariasi terdiri Dari 2 komponen yaitu : tegangan rata-rata Sm. dan tegangan bolak-balik Sa. 1980).

1986) sebagai berikut : da/ dN =C(DK)m .C. Paris dan G. Sih (Broek.C.Secara umum persamaan karakteristik laju perambatan retak dinyatakan oleh rumus P.

Com Haryadi. Jurnal Teknik Its Vol.2012.Surakarta : UNS Sriyanto.2007. ROTASI – Volume 9 Nomor 1 diakses tanggal 23 desember 2014 Prasetyo.2008.Perilaku perambatan retak fatik di udara Dan 3. Hari. Analisa Kerusakan Hasil Pengelasan Bawah Air Pada Lambung Kapal Dengan Bahan Elektroda Rb 26 Terseloti.Up Dengan Mudmat Pada Maleo Mopu Dengan Pendekatan Fracture Mechanics. dkk. Abi L Dkk. Analisa Umur Kelelahan Sambungan Kaki Jack.Google. Gunawan D.2007.5% nacl pada sambungan las busur rendam baja Astm a572 grade 50.DAFTAR PUSTAKA Hakim. Nanang budi. Seminar Nasional Iv Sdm Teknologi Nuklir Yogyakarta. 25-26 Agustus 2008 Issn 1978-0176 diakses tanggal 23 desember 2014 . “Karakteristik laju perambatan retak fatik dan retak korosi Tegangan sambungan las baja tahan karat aisi 304 dan baja karbon rendah ss 400 yang diflame heating dengan pendinginan air”. 1 Diakses Pada 26 Oktober 2014 Dari Scholar.

Zhiwei Yu. Fracture and Wear Failure of a Locomotive Turbocharger-Bearing Sleeve. and Preven. 2011.Xu. Yuzhen Chen. Xiaolei. J Fail. Anal. (2011) 11:672–678 diakses dari springer-link pada 6 November 2014 .