Anda di halaman 1dari 2

Anak Pribadi Kata

Apakah mungkin kata-kata mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang? Kalau seseorang


menggunakan kata-kata tertentu untuk berekspresi jelas menunjukkan siapa dirinya, tetapi apa
keadaannya bisa berbalik ketika seseorang membiasakan menggunakan kata-kata tertentu, untuk
berekspesi, kemudian mengubah bentuk pribadinya?

Kedengarannya hal sepele ketika coba mengasumsikan bahwa kata-kata mengubah bentuk pribadi
manusia. Tapi apakah tidak mungkin?

Saya mengenal seorang anak kecil di pojokan jawa tengah sana yang dikenalkan sehari-harinya
dengan bahasa jawa alus. Kedua orangtuanya dan kakeknya selalu berbicara padanya menggunakan
kata-kata yang halus, begitu juga akhirnya para tetangga menjaga kata-kata yang digunakan ketika
berbicara dengan anak itu. Sampai-sampai para pemuda di desa itu kadang kalah bahasa dengan si
anak. Misalnya, si anak pernah minta mainan berwarna .... kata .... cukup asing didengar oleh para
pemuda-pemudi, mereka lebih akrab dengan kata abang, yang memiliki arti yang sama, tetapi beda
level. Tersambungkankah perangai kata-kata itu kepada perangai si anak?

Sang anak memang memiliki karakter yang baik, meminta ijin bila ingin meminjam mainan orang
lain, berbicara jelas bila ingin minta minum, dan apa yang ingin disampaikan kepada ayah ibu atau
orang-orang di sekitarnya ia katakan dengan jelas dan tenang. Bagaimanapun ini belum jadi bukti
kata-kata berpengaruh pada karakter anak, tetapi si anak memang menunjukkan karakter yang
relatif lebih adaptif dibanding anak seusianya, sekitar 3-4 tahun. Saya berpikir bahwa si anak
memang memiliki karakter baik karena pergaulan di sekitarnya yang baik, bukan secara langsung
karena bahasa. Ada jalan memutar hingga akhirnya kata-kata yang digunakan berdampak positif
terhadap perkembangan anak itu. Si anak tampaknya, menurut pemahaman saya, belum mengenal
adanya gradasi bahasa dari baik sampai kasar. Apalagi memahami konteks sosial pemakaian bahasa
itu. Ia tidak mengenal bahwa bahasa gradasi tertentu biasa dipakai oleh kalangan tertentu dan
memiliki skema perilaku sosial tertentu. Orang-orang dewasa di sekitarnya lah yang memahami
kaitan bahasa dengan konteks sosial dan perilaku pemakainya. Orang dewasa paham bahwa bahasa
tingkat alus merupakan representasi dari strata sosial tinggi yang dipersepsikan memiliki skema
perilaku yang berbudi baik, menjunjung tata krama, dan nilai-nilai kesopanan yang tinggi. Orang
dewasa lah yang memahami bahwa bahasa kasar merepresentasikan konteks sosial yang lebih
rendah dan seringkali dipakai oleh kalangan sosial tertentu yang memiliki skema perilaku yang
cenderung kasar.

Sehingga, menurut saya, orang dewasa lah yang lebih menanggapi konteks keselarasan tingkat
bahasa dengan skema perilaku yang relevan. Hal ini memberi jalan bagi si anak tadi untuk
mendapatkan lingkungan yang terkondisi baik oleh bahasa. Karena setiap orang dewasa di
sekitarnya akan memakai bahasa yang baik kepada si anak, dan ketika orang dewasa memakai itu,
dengan sendirinya akan menyelaraskan perilakunya dengan bahasa yang sedang dipakainya. Jadi,
akhirnya bahasa yang dipakai si anak menemukan jalan memutar yang memberi perlindungan sosial
melalui skema perilaku baik yang sesuai dengan bahasa komunikasinya.

Ini mungkin salah satu fenomena antara anak dengan kata-kata yang digunakannya.
Fenomena lain yang justru bagi saya cukup membuat mata tertunduk dan bertopang dagu adalah
penggunaan satu kata spesifik yang biasa dipakai ketika terjadi kemarahan alam karena lingkungan
yang telah dihabisi manusia. Orang-orang yang terkena bencana alam secara serentak kita sebut
sebagai korban bencana alam.

Korban. Kata ini memiliki asosiasi yang mendalam dan homogen di negeri kita. Istilah korban
mengandung makna yang cenderung negatif, dalam arti ketidakmampuan (bukan dalam arti negatif
secara normatif). Korban berarti tidak berdaya. Korban berarti perlu di-tolong. Korban perlu
dikasihani. Korban adalah manusia yang dikenai kemalangan. Korban tidak dapat berbuat banyak.
Korban itu tidak bisa apa-apa.

Saya khawatir, istilah Korban adalah bencana kedua bagi para manusia yang tertimpa musibah.
Setelah malang menimpa mereka, kini mereka didorong secara tidak sadar untuk mempersepsikan
diri mereka sendiri sebagai sesuatu yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tertekan,
trauma, setelah kehilangan kepercayaan diri bahwa mereka masih bisa berusaha dan mencoba
untuk ikhlas. Tidak sedikit dari sahabat-sahabat yang pulang dari lokasi bencana bercerita bahwa
mereka bertemu dengan orang-orang yang akhirnya memilih untuk menunggu bantuan datang,
daripada berusaha sendiri. itu pun yang saya alami ketika menjadi relawan, orang-orang yang
tertimpa musibah menggunakan secara maksimal rasa kasihan dari berbagai penjuru untuk meminta
dan menunggu bantuan datang. Duduk ditenda seharian, dan memasang wajah tak berdaya. Ketika
malam tiba, tenda ditinggalkan dan kembali esok paginya. Tenda itu persis seperti kantor pribadi
mereka untuk bekerja menunggu nafkah.

Kita sering melihat, media massa yang mengekspos kejadian bencana lebih menaruh sorotan pada
kesedihannya, ketidakmampuannya, kehilangannya, tangis dan keputusasaannya. Hati kita begitu
terpusat pada suasana hati yang begitu melemahkan dan begitu membutuhkan orang lain, bantuan
lain. Ketika kita melihat korban, sering kita abai terhadap potensi kebangkitannya. Ekspos media
massa biasanya selesai ketika suasana menyedihkan mulai diobati. Jarang sekali, mungkin tidak
pernah, sorotannya sampai mengungkap pada semangat yang timbul untuk bangkit kembali, bahkan
untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Adakah skema kognitif kita tentang korban yang menjadi acuan bagi tanggapan kita terhadap
mereka yang tertimpa musibah? Dengan menggunakan kata korban, kita langsung berpikir tentang
kelemahannya tadi, dan tergerak untuk mengatasi kelemahan itu. Skema kognitif kita mengatakan
bahwa korban adalah tidak berdaya, pasif.

Apakah kata survivor yang digunakan orang barat lebih menguntungkan ketika dilekatkan pada
mereka yang tertimpa musibah di belahan barat sana? Korban dalam kata inggris berarti victim.
Survivor memiliki arti mereka yang berjuang mempertahankan hidup, arti yang berbeda dengan
pengertian korban, walaupun kata survivor sering diterjemahkan sebagai korban. Ada perbedaan
yang kentara antara victim dan survivor. Pertanyaannya, apakah perbedaan istilah itu juga akan
berarti ada perbedaan skema kogntif, pemahaman situasi yang berbeda, dan menimbulkan gerakan
yang berbeda pada penggunanya?