Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kulkas yang kita kenal selama ini mempunyai beberapa komponen utama
seperti Kompressor, Kondensor, Filter, Evaporator, Thermostat, Heater, Fan Motor,
dan Bahan Pendingin yakni Freon. Biasanya alat ini terdapat di bagian bawah di
belakang kulkas. Penggunaan kulkas dimana Freon digunakan sebagai bahan
pendingin adalah tidak ramah lingkungan. Maka dari itu inovasi terus dilakukan
untuk menciptakan sebuah kulkas dengan bahan pendingin. Keramik peltier
merupakan bahan semikonduktor yang memiliki keunikan bila diberi tegangan dan
arus. Dingin yang dihasilkan dari keramik peltier dapat dimanfaatkan sebagai
pendingin dalam kulkas. Meskipun dalam skala ukuran kecil/mini, kulkas ini dapat
digunakan layaknya kulkas biasa yanitu untuk mendinginkan makanan/minuman.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana membuat sebuah kulkas dengan bahan pendingin yang ramah
lingkungan?
2. Bagaimana prinsip bahan pendingin ramah lingkungan sehingga dapat
menghasilkan dingin ?
1.3 Tujuan
1. Terciptanya kulkas mini dengan bahan pendingin keramik peltier
2. Mengidentifikasi prinsip kulkas mini dengan bahan pendingin keramik peltier

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Prinsip Termodinamika
Hukum Termodinamika pertama menyatakan bahwa energi tidak dapat
dimusnahkan, melainkan dapat berpindah menjadi energi dalam bentuk lain.
Persamaan dalam hukum termodinamika pertama dapat dinyatakan sebagai berikut :
dQ = dU + dW ....................................................................(2.1)
dengan harga dQ dan dW bergantung pada proses yang terjadi. Hukum pertama
termodinamika yang menyatakan energi berpindah bentuk dari energi mekanik
menjadi panas, atau sebaliknya energi panas menjadi mekanik. Namun kenyataannya
energi mekanik dapat diubah menjadi energi panas, tetapi tidak semua energi panas
dapat diubah menjadi energi mekanik. Maka dari itu hukum teromdinamika pertama
ini disempurnakan dengan hukum termodinamika kedua. Dimana hukum
termodinamika kedua memberi batasan- batasan tentang arah yang dijalani suatu
proses yang sekaligus memberi kriteria apakah proses tersebut dapat berpindah secara
bolak- balik (reversible) atau tidak bolak balik, melainkan hanya terjadi satu arah
(irreversible). Perubahan entropi dapat dipakai untuk menentukan arah yang dijalani
suatu proses.
2.2 Keramik Peltier
Keramik Peltier atau lebih dikenal dengan lempengan Peltier adalah
lempengan berbahan dasar keramik yang memiliki fungsi sangat unik. Peltier ini
adalah modul Thermo-Electric, umumnya dibungkus oleh keramik tipis yang
berisikan batang-batang Bismuth Telluride di dalamnya. Ketika disupply tegangan
DC 12volt-15volt salah satu sisi akan menjadi panas dan sisi lainnya menjadi dingin.
Karena Peltier memiliki 2 bagian yang berbeda, yakni

1. Cool Side (Heat Absorbed) yang bekerja menyerap kalor (panas) sehingga
bagian ini merupakan lempengan yang dingin
2. Hot Side (Heat Released) yang bekerja melepas kalor (panas) sehingga bagian
ini merupakan lempengan panas
Perbedaan suhu antara kedua bagian adalah sekitar 30 derajat celcius. Sehingga
apabila bagian Hot Side bersuhu 45 derajat C maka Cool Side akan bersuhu sekitar
15 derajat C. Jadi semakin dingin Hot Side maka Cold Side akan semakin dingin pula
dan bisa sampai dibawah 0 derajat celcius.

Gambar 1. Susunan Keramik Peltier

Gambar 2. Keramik Peltier


Efek ini biasanya digunakan untuk menghasilkan listrik, dan mengukur
temperatur sebuah objek. Prinsip kerja pendinginan adalah dengan mengalirkan panas
dari pendingin menuju heatsink menggunakan tenaga listrik, kemudian heatsink
membuang panas yang terkumpul ke udara menggunakan kipas. Tentu saja efektifitas
prinsip ini tidak sebesar pendinginan menggunakan freon, hanya sekitar 5 - 10 % dari
mesin ideal (Carnot Cycle) sedangkan kulkas 40 - 60 % mesin ideal. Namun
kelemahan Peltier adalah Arus yang dibutuhkan cukup besar, hingga 5-7 ampere agar
bisa bekerja optimal.

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Keramik Peltier
Termometer
Heatsink
Kabel Penghubung
Mur
Kipas (Fan)

3.2 Prosedur Percobaan

1. Merangkai rangkaian seperti gambar diatas.


2. Meletakan kipas dibawah heatsink agar panas dari heatsink dapat dialirkan ke
udara.
3. Meletakan rangkaian dalam ruang tertutup.
4. Memberi tegangan dan arus kepada heatsink dan keramik peltier
5. Mencatat perubahan suhu yang terjadi untuk setiap 1 menit dengan
menggunakan termometer.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengamatan

4.1.1 Grafik Perubahan Suhu Terhadap Waktu Pada Kulkas Mini

4.2 Pembahasan
Kulkas mini dengan bahan pendingin keramik peltier bekerja dengan cara
mengalirkan dingin dari cool side peltier ke makanan/minuman. Sedangkan
mengalirkan panas dari hot side peltier ke lingkungan dengan menggunakan kipas.
Ketika diberi tegangan dan arus pada kipas dan keramik peltier, maka terdapat
perbedaan suhu 35C pada kedua sisi keramik peltier. Pada saat diberikan tegangan
butuh waktu 30 detik untuk rangkaian dapat bekerja. Setelah 30 detik mulai muncul
perbedaan suhu pada kedua sisi keramik peltier. Pada percobaan yang dilakukan

menunjukan bahwa pada suhu awal yang dimiliki kulkas mini sebelum diberikan
tegangan adalah sebesar 30.1 derajat celcius. Ketika diberikan tegangan sebesar 12
volt/ 5 Ampere pada kulkas mini terjadi perubahan temperature. Kami mencatat
perubahan temperature untuk tiap selang waktu 1 menit. Data pengamatan yang
didapatkan menunjukan untuk tiap selang waktu 1 menit perubahan suhu yang terjadi
adalah antara 3 derajat celcius - derajat celcius. Pada menit ke 5 kami tidak lagi
mendapatkan perubahan suhu pada kulkas mini. Hal ini menunjukan bahwa kulkas
mini hanya bisa mencapai suhu terndahnya pada menit ke 5 dengan besar suhu 12.5
derajat celcius. Dengan suhu sebesar 12.5 derajat celcius maka minuman atau
makanan dapat menjadi dingin. Pada grafik 4.1.1 menunjukan bahwa perubahan
suhu terjadi ketika waktu penggunaan kulkas mini semakin lama. Namun perubahan
suhu ini hanya terjadi sampai waktu 5 menit dan setelah itu konstan. Kelemahan dari
kulkas mini adalah memerlukan arus yang besar. Keramik peltier yang merupakan
komponen utama dalam kulkas mini ini memerlukan arus 5 7 ampere untuk dapat
bekerja optimal. Arus yang besar menyebabkan besar daya yang diperlukan kulkas
mini ini juga besar. Untuk kedepannya akan dilakukan penelitian lebih lanjut agar
kulkas mini ini dapat bekerja dengan daya yang rendah dan dapat digunakan untuk
skala besar.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Setelah melakukan percobaan, didapatkan kesimpulan :


1. Keramik peltier merupakan bahan semikonduktor yang memiliki keunikan
bila diberi tegangan. Sisi dingin dari keramik peltier dapat dimanfaatkan
sebagai bahan pendingin.
2. Prinsip kerja kulkas mini dengan keramik peltier sebagai bahan pendingin
adalah memanfaatkan sisi dingin dari keramik peltier. Waktu yang diperlukan
untuk suhu terendah adalah 5 menit dengan suhu terendah yang dapat dicapai
adalah 12.5 derajat cecius.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.chillersurabaya.com/2013/07/mini-chiller-dengan-menggunakankeramik.html

2. http://utek-quantum.blogspot.com/2012/04/kulkas-mini-benarkah-bisamendinginkan.html

LAPORAN AWAL
PRAKTIKUM FISIKA ENERGI II
KULKAS MINI DENGAN PENDINGIN KERAMIK PELTIER

Nama

: Albert Agung Y H

NPM

: 140310100034

Hari / Tanggal

: Selasa, 5 Mei 2015

Waktu

: 10.30 13.00

LABORATORIUM FISIKA ENERGI


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

LEMBAR PENGESAHAN
KULKAS MINI DENGAN PENDINGIN KERAMIK PELTIER

Nama

: Albert Agung Y H

NPM

: 140310100034

Hari / Tanggal

: Selasa, 5 Mei 2015

Waktu

: 10.30 13.00

Jatinangor, 5 Mei 2015


L.AWAL

PRESENTASI

L.AKHIR

LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM FISIKA ENERGI II
KULKAS MINI DENGAN PENDINGIN KERAMIK PELTIER

Nama

: Albert Agung Y H

NPM

: 140310100034

Hari / Tanggal

: Selasa, 12 Mei 2015

Waktu

: 10.30 13.00

LABORATORIUM FISIKA ENERGI


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

LEMBAR PENGESAHAN
KULKAS MINI DENGAN PENDINGIN KERAMIK PELTIER

Nama

: Albert Agung Y H

NPM

: 140310100034

Hari / Tanggal

: Selasa, 12 Mei 2015

Waktu

: 10.30 13.00

Jatinangor, 12 Mei 2015


L.AWAL

PRESENTASI

L.AKHIR