Anda di halaman 1dari 11

LEVEL F

BAB 1
KEMATIAN SESEORANG YANG PENTING

Suara tembakan yang keras terdengar kira-kira pukul 17.00 waktu setempat, sebuah
rifle berkaliber kira-kira 8 mm terdengar ditembakkan selama tiga kali, dengan jeda yang
cukup lama setiap tembakanya, sekitar 10 detik kira-kira. Seketika orang-orang yang ketika
itu sedang melaksanakan aktifitasnya, mulai dari bertani, memanaskan besi, berdagang dan
yang lain, menampakkan wajah yang begitu suram, wajah yang tampak seperti orang yang
seakan-akan takut akan suatu ancaman. Dengan cekatan mereka semua berlari satu persatu
menuju tempat tinggal mereka, atu paling tidak tempat yang aman untuk bersembunyi.
Keributan dan kegaduhan pun terjadi, lalu lalang orang-orang yang ketakutan akan suara
tembakan membuat jalan raya frost yang berada di dekat pasar itu jadi tumpah oleh puluhan
bahkan ratusan manusia yang ketakutan saat itu, dan beberapa menit berselang jalan itu
pun sepi, sangat sepi. Tidak ada satu orang pun ditempat itu sekarang, ketika itu aku juga
ikut bersembunyi bersama sekawanan orang di semak-semak di selatan pasar. Tak lama
kemudian, terdengar suara langkah kaki banyak orang yang terdengar seirama, seperti suara
prajurit perang. Seseorang disampingku pun saling berbisik kepada teman didekatnya.
Tidak diragukan lagi, suara itu pasti datang dari pasukan kementrian keamanan, dan suara
tembakan tadi pasti pertanda bahwa ada pejabat Negara lain atau mentri yang mau lewat
sini. Lalu seseorang disamping orang tadi menjawab. Benar sekali kau, tapi jarang-jarang
mereka lewat sini, biasanya mereka lewat tengah kota. Untung saja kita tadi bergegas
sembunyi, kalau tidak bisa mati ditempat kita ditembaki pasukan yang tak berbelas kasihan
itu. Jawab orang tadi.
Suara kaki-kaki yang seirama tadi itupun semakin lama semakin dekat. Benar saja
itu para prajurit keamanan yang biasa mengawal pemerintah atau pejabat yang akan

berkunjung ke Negara.dan dari iring-iringan prajurit keamanan terlihat sebuah kereta kuda
yang agak panjang dan ditarik satu kusir. Didalamya terlihat dua orang laki-laki memakai
setelan kemeja yang rapi. Ku dengar salah seorang didekatku mengatakan menteri
perdagangan, mungkin itu iring-iringan yang mengawal mentri perdagangan dari negara
seberang, saoalnya dari wajahnya belum pernah kulihat sebelumnya. Iring-iringan itu pun
menuju kearah istana Negara, mungkin akan ada sebuah pertemuan untuk mengadakan
perjanjian atau semacamnya. Lama kelamaan iring-iringan itu jauh meninggalkan pasar.
Perlahan pasar dan sekitarnya pun menjadi ramai dengan orang-orang yang ketakutan dan
bersembunyi tadi. Pasar dan jalan disekitar pun kini kembali sibuk dengan beragam
aktifitas orang, aku pun keluar dari semak-semak tempatku bersembunyi tadi. Ketika
perlahan berjalan di tengah pasar, terkejut sambil tak percaya aku melihat seseorang di
depanku, agak jauh memang. Tapi aku yakin kalau seseorang itu adalah teman dekatku dulu
sewaktu di pendidikan wajib militer. Aku dekati dia perlahan dan mengikutinya pergi
kearah belakang pasar, dari cara berjalanya pun aku yakin kalau dia itu seno. Cara berjalan
layaknya seorang perempuan yang lemah gemulai, tetapi agak sedikit berbeda dari yang
dulu, kelihatan seperti pincang. Dengan nada sedikit keras aku memanggilnya sambil
berlari. Dan dia pun menoleh ke arahku. ada apa? katanya. Ternyata benar dugaanku, dia
adalah seno, aku pun menghampirinya, seno, kamu masih ingat aku atau tidak, aku jegar,
teman mu sewaktu di pelatihan wajib militer dulu, masih ingat kan. Kataku sambil
mendekatinya.
jegar? Kamu Abdul jegar? . sudah lama ya kita tidak bertemu. Tapi muka mu jauh
berbeda dari 3 tahun lalu sejak kita berpisah, kamu masuk pasukan penjaga benteng istana
sedangkan aku di pasukan pengintai. Kata seno.
iya ya sudah lama kita tidak bertemu, aku terkejut melihatmu tadi, ternyata kamu
masih hidup,syukurlah kalau begitu, aku membaca berita di Koran enam bulan lalu kalau
tidak salah, dikabarkan bahwa pasukan pengintai telah gugur di jalur malaka, saat akan
pergi menuju pulau sumatera setelah perjalanan dari Negara Malaya. Aku meneruskan
kata-kataku. Aku benar-benar tidak menyangka kamu bisa ada disini, sungguh suatu
keajaiban.

aku juga sangat tekejut sekaligus bersyukur aku bisa selamat dari kejadian maut
itu, saat itu kami baru kembali dari pengintaian di Negara seberang, disinyalir disana ada
operasi pembuatan senjata biologis untuk pemusnahan masal, lalau kami dikirim untuk
menyelidikinya karena mungkin pemerintah khawatir jika itu benar bisa menjadi ancaman
serius bagi Negara, setelah kami memeriksa nya ternyata tidak terbukti kebenaran berita itu.
Dan kami pun kembali ke Negara, tetapi lewat jalur malaka, karena jarak yang begitu dekat
dari Malaya ke Negara kita cuman lewat Sumatra. Kami pun berangkat menggunakan kapal
kecil waktu itu, dan ketika akan sampai di tepian pulau, kejadian itu pun terjadi. Pusaran air
yang sangat besar pun tiba-tiba menelan kapal kecil kami dan seluruh awak kapal. Setelah
itu aku tidak ingat apa lagi yang terjadi, yang aku ingat aku bangun dan terbaring si rumah
sakit. Para pengintrogasi seolah tidak henti-hentinya menodongkan pertanyaan-pertanyaan
mengenai kejadian hari itu, aku menceritakan apa yang kulihat waktu itu. Dan semua
semua orang agak ragu dengan pernyataan yang aku ungkapkan, mereka mengatakan tidak
mungkin kalau pusaran air yang menenggelamkan kapal, pasalnya kalau pusaran air pasti
sisa-sisa kapal itu mengapung atau paling tidak ada bagian kecil dari kapal itu yang tersisa
yang kelihatan. Sementara itu di tempat kejadian perkara taka da satupun bekas dari
tenggleamnya kapal itu, dan regu penyelam pun suda mencari sampai kebawah dan tidak di
temukan tanda-tanda dan bagian-bagian dari kapal tersebut. Dan akhirnya setelah beberapa
hari aku sembuh tetapi kaki kanan ku ini agak sedikit pincang, mungkin karena tertabrak
sesuatu waktu kejadian itu.. eh bagaimana dengan mu, jam kerja begini malah berkeliaran
tidak jelas di pasar haha.
ah ternyata begitu ceritanya, malang juga nasibmu, tapi setidaknya jabatanmu
tidak dicopot dan kau masih bekerja seperti biasa, aku berkeliaran begini karena jabatanku
sudah dicopot dari pasukan penjaga. Aku sekarang tidak bekerja sebagai pasukan penjaga,
jabatanku di turunkan jadi juru masak para pasukan, dan tiap jam segini biasnya aku
belanja bahan makanan unruk masakan yang akan dimakan oleh para penjaga yang
kelaparan waktu jam istirahat. Ucapku kepada seno.
Dia pun menunjukan rasa simpatinya sebagai seorang teman seperjuangan di
pelatihan militer dulu. Dengan wajahnya dan gerakan yang lemah gemulai seperti

perempuan itu, dari dulu sampai sekarang begitu menjijikkan bagiku, kupikir kita sudah
tidak bertemu beberapa tahun, kelakuanya yang memuakkan itu berubah, ternyata berada di
pasukan militer pun tidak membuatnya berubah. Kami pun mengobrol sekitar satu jam an,
sampai seseorang yang berpakaian prajurit dan membawa sebuah senapan kokkang berjalan
kearah kami. Sambil mengokang senapanya, orang itu berbicara bahasa aneh, aku tidak
begitu mengerti seperti bahasa timur tengah, dan sepertinya wajah orang tersebut tidak
senang melihat percakapan kami. Seno merasa tidak terganggu sedikit pun dengan kelakuan
pria aneh yang berjalan kearah kami, masih agak jauh sebenarnya jaraknya. Tapi kelakuan
pria itu dengan mengokang senjatanya membuatku semakin terganggu. Tatapanya pun
seolah tertuju pada aku dan seno yang sedang bercakap..
Kami pun melanjutkan percakapan kami, aku pun seolah menghiraukan orang yang
sedari tadi membuatku terganggu. Aku heran kenapa seno begitu tidak terganggu dengan
kehadiran orang tersebut, padahal kelakuan pria itu begitu mencolok, orang-orang pun
menaruh perhatian pada pria itu, walaupun orang-orang tersebut tidak menaruh perhatian
begitu mendalam terhadap pria bersenapan itu. Lambat laun pria bersenapan itu berjarak
lebih dekat sekarang, sekitar 50 an meter, cara berjalanya lambat sekali, aku pun sesekali
menghiraukan percakapan ku dengan seno karena terganggu dengan keberadaan pria
bersenapan itu. Jarak priaitu dengan kami pun semakin dekat tiap detik kami melakukan
percakapan. Aku pun semakin panik dengan kokangan senjata yang dilakukan pria itu.
Akhirnya aku pun mengambil keputusan untuk mengajak seno berpindah ke tempat lain,
alasanku kepada seno untuk bercakap yang lebih mendalam, kalau di tempat yang seramai
ini kan tidak enak raasanya bercakap masalah yang seharusnya menjadi rahasia. Aku
mengajaknya pergi dari pasar itu dengan seno.kami pun berjalan melewati kerumunan para
penjual dan pembeli yang sedang melakukan transaksi. Hari itu cukup ramai, seolah tadi
tidak ada yang terjadi waktu suara senapan yang berbunyi sebanyak tiga kali itu cukup
membuat mereka kaget dan lari bersembunyi. Kami pun sampai di belakang pasar, tepat
didekat tempat aku bersembunyi tadi. Sekarang tempat itu agak sepi, Karena orang-orang
sibuk bertransaksi disekitar pasar. Seno pun menghentikan langkahku yang kelihatan
tergesa-gesa. Dia pun menanyakan kenapa aku berjalan tergesa-gesa dan seolah menjauhi

sesuatu. Aku pun menjawab pertanyaanya dengan nada yang begitu rendah. sebenarnya
dari tadi kita bercakap, ada yang mengganggu pikiranku, ada orang yang tak bersahabat
yang mencoba untuk mendekati kita. Aku sih belum tahu pasti apakah orang itu mau
berniat jahat atau tidak, tetapi dari tatapanya aku sekilas melihat, wajahnya tampak tidak
senang dengan keberadaan kita disini. Yang terpenting kita sekarang harus menjauhi tempat
ini dan mencari tempat lain. Aku pun mulai mengajak seno untuk kembali berjalan,
setidaknya bisa jauh dari pria tadi untuk sementara waktu, atau mungkin kita tidak bertemu
lagi dengan pria yang berparas menakutkan itu. Sekitar 10 menit kami berjalan, dan kami
sampai ke stasiun, tepatnya di stasiun tugu, stasiun di selatan pasar tempat kami berada
tadi, yaitu pasar beringinharjo. Kami sampai tepat di depan stasiun, di depan sebuah plang
nama besar yang bertuliskan STASIUN TOEGOE sebuah tulisan jamn dulu, padahal ini
sudah tahun 2004. Berhenti ke sebuah warung sekita stasiun, sebuah warung kecil yang
menjajakan berbagai makanan yang sekiranya untuk bekal para pengunjung stasiun yang
hendak naik kereta atau mengantar kerabatnya ke stasiun.
Kami pun beristirahat di depan warung sambil memakan roti isi yang kami beli dai
warung tadi, seno tampak kelaparan. Dia memakan roti itu seperti orang kesetanan.tidak
sampai satu menit roti itu tinggal plastik nya. Dan setelah minum karena mungkin tersedak
roti yang dia makan secara brutal tadi, seno menepuk pundak ku. Dan berkata sesuatu
kepadaku. Gar, aku baru ingat orang yang kamu ceritakan yang membuatmu gelisah tadi.
Dia adalah orang pemerintahan Negara Malaya, aku sempat melihat orang itu ketika
penyelidikan di Malaya. Aku melihat orang itu sebenarnya pas kita bercakap tadi, dan kamu
pun tampak gelisah kelihatanya juga tadi, aku sebenarnya tau itu tadi, tapi aku
mengabaikanya saja seolah tidak mengerti apa-apa, ini sebuah keberuntungan yang diatur
oleh tuhan mungkin kita bisa bertemu. Aku mau menitipkan sesuatu padamu gar, tadinya
aku berniat menitipkan ini ke ketua pasukan penjaga, Caesar british, tetapi tadi aku lihat
iring-iringan yang aku dengar membawa menteri perdagangan dari Negara Malaya, jadi aku
tidak jadi menitipkanya kepada Caesar, ini dokumen rahasia dari pemerintahan Negara
Malaya yang telaha aku selidiki, orang yang tadi itu pasti mengincar ini, mereka pasti sudah
mengetahuinya bahwa tim penyelidik telah mengetahui beberapa rahasia dari pemerintahan

mereka. Singkatnya aku ini sekarang menjadi buronan Negara seberang, kamu sebaiknya
lari dari sini gar, sebelum mereka menemukan kita, pria itu belum begitu tahu tentang
dirimu. Jadi bisa jadi kamu masih aman. Aku liat juga pria tadi belum begitu mengenali
wajahmu. Jadi aku mohon untuk menjaga apa yang aku titipkan ini. Nah kita berpisah dari
sini, kita ambil jalur dua arah biar setidaknya bisa menjauhi kau dari mereka. Aku
berusaha mengatakan bahwa aku tidak sanggup untuk menerima ini dan berusaha untuk
menyelamatkan seno, tetapi setiap aku ingin mengatakan sesuatu, seno malah meneruskan
kata-katanya seolah dia dalam keadaan yang tergesa-gesa, dan dari tatapan matanya, aku
pun tak tega melihat wajahnya yang sekarang beralih menjadi kelihatan putus asa. Seno
meneruskan perkataanya. jaga dirimu baik-baik gar, aku masih belum percaya kalau bisa
ketemu kau disini, dan mungkin ini terakhir kita bercakap, nah aku kearah barat, kau kearah
timur ya, jangan sampe keliatan mencurigakan didepan orang banyak. Senang sekali bisa
bertemu dengan mu. Seno mengakhiri perkataanya itu. Aku pun tak berdaya dan terpaksa
menerima perintah yang dimintanya. kuharap kamu bisa selamat sen, dan kita bisa
bertemu lagi. Akan aku sampaikan sesuai permintaan mu ini kepada kapten marvel pasti
kusampaikan. Kata ku pada seno.
Seno pun menganggu dan kita berpisah di persimpangan jalan setelah stasiun tadi.
Aku mengambil arah timur dan seno mengambil arah barat. Tidak sampai 2 menit aku
berjalan. Tiba-tiba aku terkejut mendengar suara tembakan, asalnya dari sebelah stasiun,
tepatnya di arah barat persimpangan tempat seno mengambil jalan yang berseberangan
dengan aku tadi. Aku dengar tembakan itu berusuara sekitar lima kali. Aku pun kemudian
berlari mendekati asal suara tembakan itu. Kira-kira sepanjang 50 meter aku berlari dan
kemudian semakin dekat, aku mendengar suara orang bergemuruh, suaranya berasal dari
arah suara tembakan tadi. Aku pun lalu berhenti di sebelah tikungan da nada sebuah drum
kaleng besar dekat tikungan itu, lalu aku bersembunyi di baliknya dan bermaksud melihat
apa yang sedang terjadi. Aku pun mengintip dari belakang drum kaleng besar itu dan
melihat dari celah kecil apa yang sebenarnya terjadi. Terkejut sekali aku sampai-sampai
drum yang ada di depan ku jatuh. Aku pun tak bisa bergerak sesaat terhadap apa yang aku
lihat barusan. Dan sesaat kemudian aku tersadar da nada suara kaki yang menuju ke arahku

dengan cepat. Aku pun mulai berdiri dan lari sambil ketakutan. Sekitar tiga orang mengejar
ku, jaraknya masih cukup jauh memang. Tapi tampaknya aku lihat dari kejauhan orang itu
memegang pistol di tangan. Aku pun semakin ketakutan ketika orang itu menembakkan
pistol itu kearahku dari jarak sekitar 30meter an. Tembakan pertama yang di lepaskan pria
itu mleset kearah kanan ku dan menancap di tembok. Aku semakin panik, dan aku pun
memepercepat langkah ku berlari. kau pikir kau bisa lari dari incaran kami, jangan
bercanda. Teriak pria yang pertama sambil kemudian melepaskan tembakan keduanya.
Aku kaget dan semakin mempercepat langkah sampai nafasku tersengal-sengal. Tak peduli
apapun yang terjadi dibelakang aku berlari ketakutan, kemudian suara dari kedua pria yang
mengejar ku itu lambat laun menghilang. dan aku tidak mendengar langkah kaki dari kedua
pria sialan itu sekarang. Aku berhenti sejenak dan mengatur nafasku yang tersengal-sengal
ndak karuan. Aku berhenti di sebuah tempat yang kumuh di pinggiran sungai code yang
berada sekitar tiga kilometer dari stasiun tugu. Sambil duduk di pinggiran sungai aku
memakan sisa makanan yang aku beli bersama seno tadi, aku masih tidak menyangka
kejadian selama seharian ini, kejadian yang begitu cepat dan seperti halnya mimpi. Ya aku
masih berfikir saja seolah ini hanyalah mimpi burukku waktu aku tidur di dapur dekat pos
penjaga, aku mencubit pipi kanan ku meyakinkan kalau itu hanya mimpi, tapi pipi ku terasa
sakit setelah ku cubit. Ini kejadian yang nyata, pertemuan dengan seno, pria yang
berseragam pasukan militer Negara seberang, kematian temanku yang baru saja ku temui,
dua pria yang membunuh seno dan mengejarku, semua ini nyata dan aku tidak bisa
menghindar sekarang.

BAB II
ASRAMA MILITER YANG MENYENANGKAN

Terdengar jelas suara lonceng yang menggema di telingaku, suara lonceng gereja
diseberang sisi sungai code yang aku singgahi sekarang, sambil sebisa mungkin melupakan
kejadian aneh dan mengerikan yang terjadi baru saja ini, aku teringat benar sudah empat
tahun sejak aku mendengar suara lonceng yang indah ini. Suara yang mirip sekali dengan
lonceng tanda berakhirnya pelajaran atau mungkin lebih tepatnya penyiksaan di sekolah.
Sudah lama benar ternyata, tiba-tiba aku merindukan penyiksaan yang begitu hebat yang
dilakukan para mentor di masa sekolah militer dulu. Kira-kira usia ku waktu itu lima belas
tahun, aku dikirim kesekolah militer itu oleh orang tua tiri ku yang mengadopsi ku dari
panti asuhan. Aku tidak tahu sebab detailnya mengapa, mungkin mereka tidak tahan
melihat tingkah laku ku yang begitu sangar, mungkin Karen aku di besarkan di panti asuhan
yang kurang memberikan pendidikan yang begitu layak sehingga orang tua palsuku
mengirimku ke sekolah militer itu.
Sekolah militer itu awal mula kubayangkan begitu menyenangkan, mungkin karena
aku belum pernah mendapat pendidikan sekolah ketika di panti asuhan sementara orang
normal yang berada di luar dan diurus orang tua mereka bisa merasakan pendidikan sekolah
yang layak. Bangunan yang kulihat ketika aku diantar kesana, bangunan yang megah dan
bagus sekali pikirku. Penuh dengan hiasan-hiasan dan pernak-pernik yang cantik dan
berwarna warni, aku berfikir jadi ini yang namanya sekolah, kelihatanya menyenangkan.
Aku tidak sabar untuk mengikutinya.
Hari pertama sekolah militer saat itu pun dimulai, kalau tidak salah aku masih
mengingatnya yaitu tanggal 12 juli 2004, aku pagi-pagi sekali menggunakan kamar mandi
asrama yang masih sepi karena pada jam akan berangkat sekolah pasti akan mengantri
lama. aku sudah tidak sabar merasakan sekolah militer yang menarik itu, pikirku. Aku pun
selesai mandi dan sudah selesai melakukan persiapan untuk berngkat sekolah, tas, buku,

seragam yang berwarna merah putih karena hari senin saat itu dan sepatu sudah kupakaikan
ke badanku. Aku pun berangkat bersama anak-anak yang lain, mereka kelihatan juga begitu
bersemangat, tetapi tidak dengan yang berjalan didekatku, wajahnya tampak murung dan
tidak begitu bersemangat. Aku pun mendekatinya mencoba mengajaknya mengobrol. hari
pertama sekolah ya, aku sudah tidak sabar menunggu hari ini, pastti menyenangkan ya..
ucapku di dekatnya. Dia pun kaget.mmm. iya benar, tapi aku agak sedikit gelisah
dengan apa yang teman sekolah ku katakan. Aku pun menanyakan nya kenapa, dan dai
meneruskan kata-katanya.. Umm. Teman SD ku mengatakan bahwa sekolah militer ini
mengerikan, sekolah yang bertujuan menjadikan siswa yang di didik menjadi seorang
penjaga keamanan negar, dengan kata lain menjadi pasukan penjaga Negara. dan kudengar
dari temanku latihan dan pelajaran yang diterapkan sangat keras, aku jadi agak sedikit takut
hehe.
tidak usah dipikirkan, kamu lihat sendiri bangunan sekolah ini menarik dan begitu
menyenangkan, tidak menyeramkan seperti markas tentara yang aku pernah lihat. Kita buat
senang saja, ini kan hari pertama masuk jadi kalau ada semacam tindakan agak sedikit
keras wajar karena aku dengar dari orang tuaku hari pertama diadakan masa orientasi,
biasanya di kerjai oleh kakak kelas kita, jadi persiapkan mental mu, kata mereka. Jadi
tenang saja. O iya aku belum tahu nama kamu, nama mu siapa? kataku sambil
mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
Wah jadi begitu, aku jadi lebih lega sekarang, namaku Senosius Herman kamu
bisa memanggilku Seno. Dan kamu.. nama mu siapa? Dia berbalik bertanya padaku, aku
pun menjawabnya. Oh seno, Perkenalkan namaku Jegar, Abdul jegar, senang bertemu
denganmu, semoga kita bisa betah di sini ya. Begitulah pertama kalinya aku kenal dengan
lelaki lemah gemulai bernama Senosius Herman.
Tak sampai lima menit rasanya percakapan antara aku dan seno, dan kita tak terasa
sudah sampai didepan pintu gerbang perbatasan antara sekolah dan asrama. Di depan
gerbang, tepatnya di bagian samping dalam gerbang ada pos penjaga. Aku masih ingat ada
dua orang penjaga yang

berada di pos itu. Dengan senyumnya yang aneh seperti

dipaksakan, mereka menyapa kami. Aku pun dan para siswa yang lain membalas senyum
nya yang serasa di paksakan itu dan masuk ke dalam area sekolah. Di lapangan area
sekolah para guru dan instruktur pengajar sudah menunggu, untuk memberi sambutan
kepada siswa yang sudah di terima di sekolah ini mungkin. Kulihat hanya kita para siswa
baru yang berada di sekolah, siswa-siswa lain yang senior seperti di sekolah-sekolah yang
lain tidak kelihatan, sunyi dan sepi sampai-sampai dari kejauhan pun samar-samar suara
percakapan-percakapan pun terdengar, percakapan para guru yang sedang memepersiapkan
penyambutan siswa baru mungkin, tetapi samar-samar kedengaranya percakapan yang
serius, sampai salah satu dari suara itu kelihatan seperti membentak.
Sepi sekali, hanya kita kayaknya yang ada di sini dan kerumunan orang yang ada
di lapangan sana. Apa para kakak senior libur dan tidak masuk hari ini? salah seorang dari
kami menyeletuk mengeluarkan suara itu seolah memecah suasana yang kaku antara siswa
yang lain. Kemudian dimulai dari celetukan tadi gumaman siswa yang lain pun mulai
bergemuruh, menanggapi dan memebicarakan hal itu satu sama lain. Aku meneruskan
obrolan ku dengan seno, membicarakan tentang dari mana asalnya dan pertanyaan basabasi yang garing tetapi menjadi menarik lantaran aku tidak ada bahan omongan yang lain
dan seno pun menanggapinya dengan seru. Kami sekarang berada di dalam lapangan,
lapangan bola mungkin karena berumput tetapi tidak selebar lapangan sepak bola
kebanyakan, lebih seperti lapangan sepak bola Tarkam, gawangnya pun hanya dari bamboo
yang di cat putih dan berjaring-jaring tali rafiah yang di susun sedemikian rupa sehingga
membentuk jaring berwarna warni. Kami berada tepat didepan para guru yang aku anggap
akan memeberi sambutan kepada kami, siswa-siswa baru.
Siaappp .. Grakkk!! Teriak salah seorang dari guru tersebut sesudah berjalan dan
berhenti tepat di depan kerumunan kami, siswa-siswa yang masih segar. Air muka yang
kelihatan kejam itu mengiringi suasana yang kini teridiam setelah semua siswa
membariskan dan menepatkan diri mereka sesuai barisan yang tersusun. Kini barisan sudah
benar-benar tersusun rapi dalam posisi istirahat di tempat setelah menerima beberapa
teriakan aba-aba.

Suasana mulai sepi senyap setelah beberapa teriakan aba-aba yang sangat
mengejutkan tadi. Tak heran memang jadi senyap begini. Aku perhatikan sekelilingku,
seperti ada yang kurang, berpikir sejenak. Ah ternyata kenalan yang beberapa menit lalu
aku ajak ngobrol tidak ada di dekatku, aku memang tidak begitu memperhatikanya sejak
teriakan yang membuat para siswa terkejut dan mencari-cari barisan sehingga
menyebabkan keramaian sejenak dan kami terpisah. Pidat pun di mulai, pidato tentang
penyambutan siswa kurasa. Dan ternyata memang benar, kepala sekolah sendiri yang
menyampaikan, dia memeperkenalkan diri lalu mengucapkan berptah-patah kata meskipun
bilangnya hanya sepatah dua patah kata.
Setelah sekitar satu jam pidato pun selesai. Pidato yang terasa lama sekali sampaisampai kaki ku terlalu lelah untuk berdiri, dan begitu menginjak acara selanjutnya, tubuh
ku seolah tidak mau menurutiku untuk tetap berdiri.
Teringat aku tiba-tiba terbangun dengan terkejut, dan terkejutnya lagi berada
dimana aku pikirku. Sebuah tempat yang serba putih dan di sebelah tempat tidur aku
terbangun ada sebuah tirai, selang beberapa menit aku memikirkan tempat itu, ada suara
ketukan pintu.