Anda di halaman 1dari 5

INVESTASI JANGKA PANJANG

A. INVESTASI JANGKA PANJANG


Investasi jangka panjang adalah penanaman sebagian kekayaan suatu perusahaan
pada perusahaan lain dalam jangka waktu lebih dari satu tahun dengan maksud untuk
memperoleh pendapatan tetap dan atau untuk menguasai atau mengendalikan
perusahaan tersebut .
Tujuan Investasi Jangka Panjang :
1. Untuk memperoleh pendapatan yang tetap dalam setiap periode, antara lain seperti
bunga, royalti, deviden, atau uang sewa dan lain-lainnya.
2. Untuk membentuk suatu dana khusus, misalnya dana untuk kepentingan ekspansi,
kepentingan sosial.
3. Untuk mengontrol atau mengendalikan perusahaan lain, melalui pemilikan sebagian
ekuitas perusahaan tersebut.
4. Untuk menjamin tersedianya bahan baku dan mendapatkan pasar untuk produk yang
dihasilkan.
5. Untuk mengurangi persaingan di antara perusahaan-perusahaan yang sejenis.
6. Untuk menjaga hubungan antar perusahaan.
B. PENGHASILAN SERTA BESARNYA PAJAK
INVESTASI PADA ENTITAS DALAM NERACA
Pada umumnya, nilai yang dibukukan untuk investasi dalam saham adalah nilai
perolehannya. Namun, adakalanya nilai saham yang dimiliki akan berkurang. Apabila
terjadi pengurangan nilai yang cukup material dan sifatnya permanen, maka selisihnya
dapat diperhitungkan sebagai kerugian yang dibebankan ke laba rugi dan akun
cadangan penurunan investasi.
Investor harus mengukur investasi pada entitas asosiasi dengan menggunakan
metode biaya (cost method). Dalam metode biaya, investasi diukur pada biaya
perolehan dikurangi akumulasi kerugian penurunan nilai. Biaya perolehan investasi
tersebut meliputi harga pembelian, biaya broker, pajak, dan biaya lain-lain sehubungan
dengan perolehan.
Investor harus mencatat investasi pada entitas anak dengan menggunakan metode
ekuitas (equity method). Dalam metode ini, investasi pada entitas anak awalnya diakui
pada biaya perolehan termasuk biaya transaksi. Selanjutnya disesuaikan untuk
mencerminkan bagian investor atas laba rugi dan pendapatan serta beban dari entitas
anak. Entitas anak tidak dikonsolidasikan dalamlaporan keuangan investor (sebagai
entitas induk).
Untuk tujuan perpajakan, tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyebut
metode pembukuan investasi jangka panjang saham, selain yang tersebut dalam
Penjelasan Pasal 10 ayat (6) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008. Penjelasan tersebut
menyatakan bahwa investasi saham, sama halnya dengan persediaan, dibukukan
berdasarkan harga perolehan tanpa memperhatikan persentase kepemilikan. Jadi,

Tugas Akuntansi Perpajakan Pertemuan ke-6 Investasi Jangka Panjang

dalam ketentuan perpajakan tidak memperkenankan pengurangan nilai tersebut


sebagai biaya.
INVESTASI PADA ENTITAS DALAM LAPORAN LABA RUGI
Penghasilan dalam investasi dalam saham dapat berupa dividen (tunai, saham atau
harta), saham bonus (dari revaluasi aset atau kapitalisasi agio), dari hak membeli emisi
saham perusahaan (stock warrants, preemptive rights, right issues), dan keuntungan
karena pelepasan saham (capital gain).
Penerimaan dividen saham merupakan penghasilan lain-lain. Hasil ini dicatat dalam
perhitungan laba rugi dengan jumlah neto. Dividen yang diperoleh/diterima adalah
objek pajak yang diperkenankan PPh karena dividen sebagai penghasilan dari investasi
saham. Dividen yang diterima/diperoleh dipungut oleh si pemberi penghasilan.
Pembayaran pajak yang dipungut itu dapat dikreditkan pada akhir tahun pajak.
Berdasarkan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 17 ayat (2c) dan PP 19 Tahun 2009,
dividen yang dikenakan pajak adalah dividen yang diterima oleh WP orang pribadi
dalam negeri. Atas penghasilan dividen tersebut dikenakan pajak yang bersifat final
dengan tarif 10% dari penghasilan bruto. Menurut UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 4
ayat (3), dividen yang dikecualikan dari objek PPh 23 adalh dividen yang diterima oleh
PT sebagai WP dalam negeri, koperasi, BUMN/D dari penyertaan modal pada badan
usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia, dengan syarat : dividen
yang dibagikan berasal dari cadangan saldo laba dan untuk PT, BUMN/D kepemilikan
saham paling rendah 25 % dari jumlah modal saham.
Menurut PP 138 Tahun 2000, saham bonus yang diterima oleh pemegang saham,
yang berasal dari konversi agio saham, tidak termasuk dalam pengertian dividen
sebagaimana diatur dalam Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf g UU PPh Nomor 36 Tahun
2008, karena merupakan bagian keuntungan yang diterima oleh pemegang saham.
Dengn demikian, penerimaan saham bonus yang berasal dari konversi agio saham tidak
termasuk sebagai objek pemotongan PPh 23. Sedangkan saham bonus yang berasal
dari retained earning adalah merupakan bagian keuntungan sehingga termasuk
pengertian dividen sebagaimana dimaksud dalam Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf g
dan Pasal 23 ayat (1) huruf a angka 1 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008. Penghasilan
berupa saham bonus tersebut harus dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh, dengan
ketentuan bahwa pengakuan penghasilan atas saham bonus yang berasal dari konversi
agio adalah pada saat dijual, karena belum dimasukkan sebagai penghasilan saat
diterima/diperoleh.
Contoh :
WP Alain adalah pemegang saham PT XYZ, pada tahun 2010 memiliki 5000 lembar
saham dengan harga perolehan Rp 3.000/lembar saham. Pada tahun 2012 PT XYZ
membagikan

saham

bonus

yang

berasal

dari

konversi

agio

saham

dengan

perbandingan 1:1 yaitu setiap satu lembar saham memperoleh satu saham bonus. Pada
bulan Agustus 2013 WP Alain menjual 1.000 lembar saham dengan harga Rp
5.000/lembar saham.
2

Tugas Akuntansi Perpajakan Pertemuan ke-6 Investasi Jangka Panjang

Dengan demikian penghasilan yang harus dimasukkan dalam SPT Tahunan PPh tahun
2013 dari keuntungan atas penjualan saham adalah sebagai berikut :
1. Harga perolehan setiap lembar saham :
5.000 lembar yang diperoleh tahun 2010 @ Rp 3.000

Rp

15.000.000
5.000 lembar yang diperoleh tahun 2012 @ Rp 0
= Rp
0
2. Jumlah saham 10.000 lembar
= Rp 15.000.000
3. Harga perolehan rata-rata per lembar saham
= Rp
1.500
4. Harga penjualan = 1.000 lembar x Rp 5.000
= Rp 5.000.000
5. Harga perolehan 1.000 lembar saham @ Rp 1.500
= Rp 1.500.000
6. Keuntungan
= Rp 3.500.000
Untuk mempertahankan proporsi pemilikan saham persero (pemegang saham), pada
umumnya apabila perusahaan akan menerbitkan saham baru kepada persero lama
diberikan hak membeli terlebih dahulu (pre-emptive rights). Kelaziman dalam akuntansi
untuk mengalokasikan harga perolehan saham kepada rights tersebut. Penjualan rights
diatas harga alokasi itu merupakan keuntungan.
Sementara itu, kalau hak itu dimanfaatkan untuk membeli saham baru (dengan
harga lebih rendah dari harga pasar) maka harga perolehan (alokasi)

rights

ditambahkan pada pembelian dan diakui sebagai harga perolehan saham baru. Apabila
rights tidak dimanfaatkan, alokasi biaya umumnya dianggap sebagai kerugian. Dalam
ketentuan perpajakan, alokasi tersebut tidak dilakukan sebagai hasil penjualan rights
merupakan PhKP seluruhnya.
Laba/rugi dari penjualan investasi pada entitas asosiasi dan pada entitas anak,
biasanya dilaporkandalam perhitungan laba rugi. Penghasilan dari penjualan investasi
tersebut umumnya dipisahkan dari penghasilan yang diterima dari kegiatan usaha.
Berbeda dengan dividen, keuntungan pengalihan saham dikenakan pajak.
Keuntungan itu secara umum dimengerti sebagai kelebihan harga jual diatas harga
perolehan yang dianggap sebagai penghasilan (Penjelasan Pasal 4 ayat (1) bagian d UU
PPh Nomor 36 Tahun 2008).
Apabila penjualan saham dilakukan di bursa efek, sama halnya dengan investasi
dalam sekuritas saham yang berisfat lancar, penghasilan dari penjualan itu dikenakan
PPh. Sementara itu, kalau penjualan dilakukan tidak melalui bursa efek, maka
keuntungan dari penjualan tersebut harus diakui sebagai penghasilan di luar usaha
yang harus digabungkan dengan penghasilan lain untuk dilaporkan SPT Tahunan PPh
Badan. Kedua tempat tata cara penjualan memberikan perlakuan yang berbeda
terhadap biaya penjualan. Sementara penjualan di bursa efek tidak memperkenankan
pengurangan biaya penjualan terhadap penghasilan bruto kena pajak, penjualan di luar
bursa memperbolehkan pengurangan dimaksud dengan cara mengakui biaya di luar
usaha pada saat laporan SPT Tahunan PPh Badan.
Dalam PP 14 Tahun 1997 jo. KMK-282/KMK.04/1997 jo. SE-06/PJ.4/1997 jo. SE15/PJ.42/1997, besarnya PPh yang dipungut dari transaksi penjualan saham di bursa
3

Tugas Akuntansi Perpajakan Pertemuan ke-6 Investasi Jangka Panjang

efek ditentukan atas penghasilan yang diterima/diperoleh orang pribadi atau badan dari
transaksi penjualan saham (bukan saham pendiri) di bursa efek dipungut PPh yang
bersifat final sebesar 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham.
Karena pungutan pajak diperlakukan sebagai pungutan final, maka untuk akuntansi
pajak, penghasilan dari penjualan saham tidak dapat dikreditkan dalam SPT Tahunan
dan dikonsolidasikan dengan penghasilan lainnya yang tidak dikenakan pajak final.
Sebagai akibat pengenaan final itu, semua pengeluaran dan biaya tidak dapat
dikurangkan kepada penghasilan baik yang berasal dari saham itu maupun penghasilan
yang lain.
Penghasilan atas transaksi penjualan saham dipotong langsung oleh penyelenggara
bursa efek pada saat transaksi jual beli saham. Pihak penyelenggara bursa efek yang
akan membayar/ menyetor PPh final tersebut ke Kas Negara dengan menggunakan SSP
dan melaporkannya ke KPP dengan menggunakan SPT Masa PPh Final Pasal 4 ayat (2 ).
Penyetoran pajak dilakukan oleh pemotong paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya
setelah bulan terjadinya transaksi penjualan saham. Pelaporan dilakukan paling lambat
tanggal 20 bulan berikutnya setelah bulan terjadinya transaksi penjualan saham.
Jurnal akuntansi perpajakan untuk transaksi investasi dalam saham pada entitas
asosiasi dengan menggunakan metode biaya (cost method) adalah sebagai berikut :
Transaksi
Pembelian
saham

Metode Biaya (Cost Method)


Investasi pada entitas asosiasiRp
PT...
xxx
Kas/Bank

Pengakuan
laba/rugi

Tidak ada jurnal

Pembagian
dividen

Kas/Bank
PPh 23 dibayar dimuka
Pendapatan dividen

Rp
xxx

Rp xxx
Rp xxx
Rp
xxx

Kas/Bank
Rp
PPh Pasal 4 ayat (2)
xxx
Laba/rugi penjualan investasi
Rp
Penjualan saham
saham
xxx
Rp
Investasi pada entitas
Rp
xxx
asosiasi-PT...
xxx
Sedangkan, jurnal akuntansi perpajakan untuk transaksi investasi dalam saham pada
entitas anak dengan menggunakan metode ekuitas (equity method) adalah sebagai
berikut :
Transaksi
Pembelian
saham
Pengakuan laba
Pengakuan rugi
Pembagian
dividen
4

Metode Biaya (Cost Method)


Rp
Investasi pada entitas anak-PT...
xxx
Kas/Bank
Investasi pada entitas anak-PT...
Pendapatan investasi
Pendapatan investasi
Investasi pada entitas anakPT...
Kas/Bank
PPh 23 dibayar dimuka

Rp
xxx
Rp
xxx

Rp
xxx
Rp
xxx
Rp
xxx

Rp
xxx

Tugas Akuntansi Perpajakan Pertemuan ke-6 Investasi Jangka Panjang

Pendapatan dividen

Penjualan saham

Kas/Bank
PPh Pasal 4 ayat (2)
Laba/rugi penjualan investasi
saham
Investasi pada entitas anakPT...

Transaksi
Pembelian saham
Pengakuan laba/rugi
Pembagian dividen
Penjualan saham

Rp
xxx
Rp
xxx
Rp
xxx
Rp
xxx

Rp
xxx

Rp
xxx

Metode Ekuitas (Equity Method)


Apabila kepemilikan saham 25%
Sama dengan di atas
Sama dengan di atas
Kas/Bank
Rp
Investasi pada entitas
Rp
xxx
anak-PT..
xxx
Sama dengan di atas

DAFTAR PUSTAKA
Agoes,Sukrisno dan Estralita Trisnawati.Akuntansi Perpajakan.Edisi 3. 2013.Jakarta :
Salemba Empat.

Tugas Akuntansi Perpajakan Pertemuan ke-6 Investasi Jangka Panjang