Anda di halaman 1dari 22

EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI (KETEK)

SEBAGAI SARANA ALTERNATIF


DI KOTA JAMBI
M. A. Hanif1
E-mail: hanif.man7@gmail.com

ABSTRAK
Artikel ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan alat
transportasi modern dan canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat
oleh pemerintah berupa pembangunan jembatan, dengan sendirinya akan
mengancam keberadaan ketek sebagai transportasi sungai yang memiliki
nilai dan muatan lokal. Hal ini dikhawatirkan akan mematikan jalur
transportasi sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi. Tujuan artikel ini
adalah mendeskripsikan eksistensi transportasi sungai ketek secara
umum, fungsi transportasi sungai ketek dan persepsi masyarakat tentang
eksistensi transportasi sungai ketek sebagai sarana alternatif di Kota
Jambi. Artikel ini merupakan hasil penelitian budaya jenis etnografi ala
James P. Spradley dengan pendekatan emik dan perspekstif kualitatiffenomenologi. Data diperoleh dari hasil pengamatan berperanserta
(observation participant) dan wawancara mendalam (indept interview)
dengan batasan wilayah di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.
Hasilnya adalah eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi saat ini
berada pada tingkat keprihatinan, terjadinya penurunan jumlah
transportasi sungai ketek dan sistem pelaksanaan (penempatan parkir
berlabuhnya ketek) yang tidak proporsional. Secara fungsi, ketek
berfungsi sebagai sarana mata pencaharian hidup, sarana
penyeberangan sungai Batang Hari dan sarana lomba serta rekreasi.
Secara persepsi, ketek merupakan urat nadi masyarakat lokal, sebagai
roda perekonomian dan sebuah tradisi yang sudah mendarah daging.
Rekomendasi hasil penelitian, agar Pemerintah Kota dan Provinsi Jambi
memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan transportasi
sungai ketek kedepannya dengan menjadikan ketek sebagai icon Kota
Jambi atau transportasi wisata di DAS Batang Hari.
Kata Kunci: Transportasi sungai ketek, eksistensi, fungsi dan persepsi
PENDAHULUAN
1
M. A. Hanif adalah alumni Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab
dan Humaniora IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2014. Sekarang, sedang
melanjutkan studinya pada Program Magister Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya
Uuniversitas Andalas.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beribu


pulau sepanjang garis khatulistiwa yang menempati peringkat keempat
dari 10 negara berpopulasi terbesar di dunia. 2 Tanpa sarana transportasi
yang memadai maka akan sulit untuk menghubungkan seluruh daerah di
kepulauan ini. Transportasi merupakan salah satu sektor kegiatan yang
sangat penting karena berkaitan dengan kebutuhan setiap orang.
Kebutuhan ini misalnya kebutuhan untuk mencapai lokasi kerja, lokasi
sekolah, mengunjungi tempat hiburan atau pelayanan, dan bahkan untuk
bepergian ke luar kota. Transportasi tidak hanya mengangkut orang, tetapi
juga untuk memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. 3
Perkembangan transportasi memungkinkan berbagai kegiatan
dapat diangkut melalui darat, udara ataupun laut dengan jenis angkut
yang beragam. Namun yang perlu diingat, bahwa sebagai fasilitas
pendukung kegiatan kehidupan, maka perkembangan transportasi harus
diperhitungkan dengan tepat dan secermat mungkin agar dapat
mendukung tujuan pembangunan secara umum dari satu dearah. 4
Transportasi sungai di Indonesia pada umumnya digunakan untuk
melayani mobilitas barang dan penumpang, baik di sepanjang aliran
sungai maupun penyeberangan sungai. 5 Angkutan sungai sangat
menonjol di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Di Kalimantan, angkutan
sungai banyak digunakan untuk kebutuhan angkutan lokal dan perkotaan,
terutama di wilayah yang belum tersedia prasarana transportasi jalan. 6
Berkaitan dengan hal tersebut, Jambi adalah salah satu daerah
yang memiliki sungai terpanjang di pulau Sumatera yaitu Sungai Batang
Hari. Keberadaan Sungai Batang Hari di Provinsi Jambi memberikan
ruang lingkup yang luas terhadap perkembangan transportasi sungai di
Kota Jambi. Salah satu jenis transportasi sungai yang berkembang di Kota
2

Lihat CIA World Factbook Tahun 2013 (ilmupengetahuanumum.com/10-negaradengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/), tanggal akses 28 Februari 2013
pukul 10.00 WIB.
3
Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di Sungai
Martapura Kota Banjarmasin, Tesis, (Semarang, Undip, 2008), hal. 1.
4
Fidel Miro, Perencanaan Transportasi, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 2.
5
Rizki Permata Sari, Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai, hal. 54.
6
A. Taufik Mulyana, Transportasi Air. (Banjarmasin: Fakultas Teknik Universitas
Lambung M angkurat, 2005), hal. 5.

Jambi dan sesuai dengan adat serta tradisi daerahnya adalah transportasi
sungai ketek.
Saat ini, keberadaan transportasi sungai ketek di Kota Jambi sedang
mengalami diagresif sebagai akibat dari arus modernisasi yang
berkepanjangan tanpa kendali. Hal ini dapat dilihat dari berbagai ancaman
yang datang silih berganti terhadap perkembangan transportasi sungai
ketek tersebut, diantaranya yaitu:
Pertama, berdasarkan hasil survey awal peneliti dari informasi di
lapangan setelah dibangunnya Jembatan Batang Hari I (Aurduri) oleh
pemerintah Provinsi Jambi pada tahun 1986 bahwa pendapatan tukang
ketek mengalami penurunan.7 Ini membuktikan bahwa jasa transportasi
sungai mulai ditinggalkan. Dengan kata lain, terdapat penurunan dari
jumlah penumpang ketek. Hal ini menggambarkan bahwa terjadi peralihan
dalam menggunakan jenis transportasi di kalangan masyarakat, dimana
yang mulanya menggunakan transportasi sungai beralih menggunakan
transportasi darat.
Kedua, setelah

dibangunnya

Jembatan

Batang

Hari

II

oleh

Pemerintah pada tahun 2010 di ujung Timur Kota Jambi bahwa alih
penggunaan transportasi sungai ke transportasi darat mengalami
peningkatan hingga mencapai 30-50%.8 Pembangunan jembatan ini juga
mengakibatkan berkurangnya jumlah ketek yang ada di Kelurahan
Tanjung Johor, dari jumlah awal sebanyak 30 buah ketek hanya
menyisakan 8 buah ketek dan tidak menyisakan satu pun ketek di
Kelurahan Tahtul Yaman Seberang Kota Jambi.9
Ketiga, dengan semakin tingginya animo masyarakat seberang
dewasa ini yang cenderung lebih tertarik menggunakan jenis transportasi
darat yang lebih canggih dan modern daripada menggunakan jenis
transportasi sungai yang masih tergolong tradisional. Hal ini membuat
7

Hasil wawancara dengan Bapak Senang. Salah seorang tukang ketek di


Kelurahan Tengah. Selasa, 11 Maret 2014. Pukul 10.00 s/d 10.05 WIB.
8
Baca Yosephine, Kajian Penggunaan Moda Transportasi Sungai di Kota Jambi,
hal. 310.
9
Hasil Wawancara dengan Bapak Ilyas. Salah satu tukang ketek yang ada di
kelurahan Tanjung Johor. Selasa, 15 Maret 2014 pukul 20.15 s/d 20.45 WIB di Rumah
kediamannya.

peran dan fungsi transportasi darat lebih banyak diminati oleh masyarakat
Seberang Kota Jambi, sehingga transportasi sungai ketek mulai
ditinggalkan dan berada pada level bawah.
Hingga pada tahun 2013 lalu, Pemerintah Provinsi Jambi kembali
berhasil membangun Jembatan yang ketiga, yaitu Jembatan Gantung
(Gentala Arasy), yang dibangun khusus untuk para pejalan kaki sebagai
peningkatan mutu pariwisata Provinsi Jambi. Bangunan jembatan ini
dikhawatirkan akan memarginalkan tingkat penggunaan transportasi
sungai ketek di Kota Jambi karena letaknya yang tepat berada di tengahtengah kawasan sungai penyeberangan ketek.
Sementara itu, kehadiran transportasi sungai ketek di Kota Jambi
sangat penting. Karena ketek merupakan satu-satunya transportasi
penyeberangan sungai di DAS Batang Hari, yang hingga saat ini masih
dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat kota khususnya di Seberang
Kota Jambi. Disamping memiliki nilai dan muatan lokal, perlu diketahui
bahwa ketek juga merupakan sarana transportasi sungai utama pada
masa lalu yang sudah ada sejak tahun 1970-an.10
Dengan demikian, perkembangan alat transportasi yang modern dan
canggih serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah berupa
pembangunan jembatan, dengan sendirinya akan mengancam eksistensi
transportasi sungai ketek. Bahkan, akan mematikan jalur transportasi
sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi.
Secara teoritis, konsep modernisasi pada umumnya membawa
kepada perubahan sosial dan pembangunan yang berlangsung menuju ke
arah kemajuan dan pembaruan yang bermakna dan bernilai positif. 11
Namun dalam perakteknya, mengapa modernisasi di Kota Jambi sendiri
memberikan dampak negatif bagi perkembangan transportasi sungai
ketek di Kota Jambi? dan mengapa transportasi sungai ketek sebagai

10

Hasil wawancara dengan Bapak Abduk Kadir. Salah seorang tukang ketek di
Kelurahan Tengah. Kamis, 22 November 2012 pukul 09.30 s/d 10.00 WIB di Rumah
kediamannya.
11
Nursid Sumaatmadja, Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan
Hidup. (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 67.

transportasi utama masa lalu justru tidak mengalami kemajuan di masa


kini?
Berangkat dari latar belakang tersebut, artikel ini akan memaparkan
tentang bagaimana eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi
secara umumnya, fungsi transportasi sungai

ketek dan persepsi

masyarakat tentang eksistensi transportasi sungai ketek di Kota Jambi.


Adapun manfaat dari hadirnya artikel ini diharapkan agar transportasi
sungai ketek di Kota Jambi mendapatkan perhatian dan kebijakan dari
pemerintah

Kota

Jambi

maupun

Provinsi

Jambi

terkait

dengan

kelangsungan masa depan ketek sebagai ikon transportasi sungai di DAS


Batang Hari, sehingga kelangsungan transportasi sungai ketek lebih
menjanjikan ke depannya.
METODE PENELITIAN
Artikel ini adalah hasil dari penelitian budaya jenis etnografi ala
James P. Spradley dengan pendekatan emik dan perspekstif kualitatiffenomenologi. Data diperoleh dari hasil pengamatan berperanserta
(observation participant) dan wawancara mendalam (indept interview)
dengan batasan wilayah di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.
Informan yang dijadikan sebagai sasaran dalam penelitian ini adalah
tukang ketek dan penumpang ketek. Tukang ketek yang akan dijadikan
sebagai informan adalah tukang ketek yang berpengalaman, yang sudah
lama berkecimpung di dalam dunia ketek, karena dianggap memiliki
pengetahuan yang banyak tentang perkembangan transportasi sungai
ketek. Penumpang ketek yang akan dijadikan sebagai informan dalam
penelitian ini terdiri dari para pedagang, pemuda/pemudi, tuo tengganai,
anak-anak sekolahan yang mayoritas adalah masyarakat di Kecamatan
Pelayangan Seberang Kota Jambi.
Untuk mencapai tingkat kredibilatas yang absah, maka ada beberapa
teknik yang digunakan dalam penelitian ini, baik secara analisis, maupun
keabsahan data. Secara analisis, penelitian ini menggunakan teknik
analisis: (a) Domain, (b)Taksonomi, (c) Komponen, dan (d) Tema.

Sedangkan secara keabsahan, penelitian ini menggunakan teknik


triangulasi dengan pemanfaatan penggunaan sumber.
TRANSPORTASI DAN KEBUDAYAAN
C. Kluckhohn dalam karangannya berjudul Universal Categories Of
Culture (1953) dengan mengambil intisari dari berbagai kerangka yang
ada

mengenai

unsur-unsur

kebudayaan

universal.

Unsur-unsur

kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia


berjumlah tujuh buah, yang dapat disebut sebagai isi pokok dari setiap
kebudayaan diantaranya yaitu: (a) Bahasa, (b) Sistem Pengetahuan, (c)
Organisasi Sosial, (d) Sistem Mata Pencaharian Hidup, (e) Sistem Religi,
dan (f) Kesenian.12 Berdasarkan pandangan ini, peneliti mengkategorikan
transportasi sebagai salah satu bentuk unsur universal kebudayaan
Sistem Mata Pencaharian Hidup.
Secara fungsional, ketujuh unsur kebudayaan itu memiliki fungsi
sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam karangan buku Malinowski
tentang teori fungsionalisme yang berjudul A Scientific Theory of Culture
and Other Essays (1944). Dalam buku itu Malinowski mengembangkan
teori tentang fungsi unsur-unsur kebudayaan yang sangat Komplex. Tetapi
inti dari teori itu adalah pendirian bahwa segala aktivitas kebudayaan itu
sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah
kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh
kehidupannya.13 Karena itu menurut Malinowski, unsur kesenian
misalnya, berfungsi untuk memuaskan hasrat naluri manusia akan
keindahan; unsur system pengetahuan, berfungsi memuaskan hasrat
untuk tahu.14 Begitu juga dengan unsur system mata pencaharian hidup,
berfungsi untuk memuaskan hasrat naluri manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidup.

12

Lihat Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996),

13

Ibid., hal. 171.


Ibid., hal. 88.

hal. 80.
14

Sebagai produk manusia, kebudayaan adalah ekspresi eksistensi


manusia sebagai makhluk historis. Sebagai ekspresi eksistensi manusia,
kebudayaan pun berwujud sesuai dengan corak dasar keberadaan
manusia. Menurut koentjaraningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai
tiga wujud, yakni wujud ideal, sistem sosial, dan kebudayaan fisik.15
Transportasi sungai ketek yang ada di Seberang Kota Jambi merupakan
salah satu bentuk wujud kebudayaan yang ketiga sebagai objek fisik hasil
karya manusia masa lalu. Walaupun bentuk dari transportasi sungai ketek
tersebut telah mengalami perkembangan, Namun secara penampilannya
ketek masih bisa mempertahankan identitas dirinya sebagai transportasi
tradisional, dikatakan tradisional karena ketek tersebut masih terbuat dari
bahan kayu dan diolah serta dibentuk secara manual tradisional oleh
manusia.
TRANSPORTASI, KEARIFAN LOKAL DAN MODERNISASI
Transportasi sungai ketek adalah salah satu produk budaya masa
lalu yang sudah lama berkembang dan mentradisi dalam aktivitas
masyarakat seberang di Kota Jambi. Tradisi ini telah dilakukan secara
terus-menerus serta turun-temurun dari waktu ke waktu sebagai sarana
penyeberangan sungai di DAS Batang Hari Kota Jambi. Hal ini
menggambarkan bahwa transportasi sungai ketek di Kota Jambi
merupakan salah satu bagian dari hasil kearifan lokal masyarakat
setempat (masyarakat seberang). Kearifan lokal merupakan perwujudan
dari daya tahan dan daya tumbuh yang dimanifestasikan melalui
pandangan hidup, pengetahuan, dan pelbagai strategi kehidupan yang
berupa aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal untuk menjawab
berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, sekaligus
memelihara kebudayaannya. 16 Untuk itu, kehadiran transportasi sungai
ketek di Kota Jambi sebagai hasil kearifan lokal masyarakat seberang
15

Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya
Dasar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 47.
16
Ibid., hal. ix.

yang

tertanam

nilai

budaya

di

dalamnya

adalah

merupakan

pengejawantahan dari budaya masa lalu untuk menjawab salah satu


persoalan vital masyarakat seberang dalam pemenuhan kebutuhan hidup
mereka sehari-hari, yaitu dalam hal penyeberangan sungai Batang Hari
dan hingga saat ini masih menjadi dinamika social-modern.
Dinamika social-modern tersebut dapat dibuktikan dengan berbagai
pengaruh yang disebabkan oleh arus modernisasi itu sendiri, sehingga
menimbulkan perubahan sosial di Kota Jambi secara eksplisit. Kita bisa
menyaksikan bahwa modernisasi di Kota Jambi telah memberikan
imensitas dan imperfeksi terhadap eksistensi transportasi sungai ketek di
Kota Jambi. Imensitas terjadi karena pengaruh positif dari modernisasi,
sedangkan imperfeksi terjadi karena pengendalian modernisasi yang tak
terkendali, sehingga memberikan pengaruh negatif terhadap transportasi
sungai ketek di Kota Jambi.
Salah

satu

imensitas

dari

modernisasi

terkait

dengan

perkembangan transportasi sungai di Kota Jambi adalah terjadinya


transformasi transportasi sungai yang dahulunya hanya berupa perahu
dayung dan masih menggunakan tenaga manusia, sekarang telah
menjadi perahu bermesin yang oleh pemilik budayanya (masyarakat
seberang) dikenal dengan istilah ketek. Hal ini sesuai dengan pendapat
Prof. Koentjaraningrat yang mengatakan bahwa modernisasi tidak lain
adalah Usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia
sekarang. Ungkapan tersebut mensyaratkan bahwa modernisasi tidak
akan datang dan terjadi begitu saja, melainkan harus diusahakan,
diupayakan.17 Jadi, jelas lah bahwa transportasi sungai ketek merupakan
salah satu bukti real dari akselerasi modernisasi di Kota Jambi yang
secara langsung penerapannya diusahakan sekaligus diupayakan oleh
masyarakat lokal itu sendiri yang diperoleh berdasarkan hasil interpretasi

17

Baca Nursid Sumaatmadja, Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya dan


Lingkungan Hidup, (Bandung: Alfabeta, 2010), hal. 67.

dari pengetahuan, pengalaman dan kondisi alam di sekitarnya melalui


proses belajar.
Sedangkan imperfeksi dari modernisasi (globalisasi) terhadap
transportasi sungai ketek di Kota Jambi yaitu terjadinya globalophobia.
Globalophobia ini sedikitnya telah menjejali transportasi sungai ketek di
Kota Jambi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhitungan yang
tepat dan cermat dalam pengendalian modernisasi itu sendiri, sehingga
berpengaruh negatif bagi perkembangan transportasi sungai ketek di Kota
Jambi. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, pengaruh negatif
ini dapat dibuktikan dengan berbagai ancaman dari modernisasi di Kota
Jambi

selama

beberapa

rentang

tahun

yang

lalu,

baik

berupa

perkembangan transportasi darat yang cenderung modern dan canggih


maupun pembangunan-pembangunan jembatan oleh pemerintah daerah
Provinsi Jambi. Dalam hal Ini, perlu kita pikirkan bersama-sama tentang
bagaimana kearifan lokal transportasi sungai ketek di Kota Jambi agar
tetap dapat hidup dan berkembang tetapi tidak ketinggalan zaman.
Bagaimana kearifan lokal dapat mengikuti arus perkembangan global
sekaligus tetap dapat mempertahankan identitas local, sehingga akan
menyebabkan ia hidup terus dan mengalami penguatan. Kearifan lokal
sudah semestinya dapat berkolaborasi dengan aneka perkembangan
budaya yang melanda dan untuk tidak larut dan hilang dari identitasnya
sendiri.18
EKSISTENSI TRANSPORTASI SUNGAI KETEK DI KOTA JAMBI
SECARA UMUM
Secara historis, sebelum adanya ketek masyarakat seberang pada
waktu itu masih menggunakan perahu tradisional (perahu kecik). Perahu
tersebut dijalani oleh tenaga manusia dengan bantuan alat kecil yang
terbuat dari kayu atau istilah lainnya yang sering disebut dengan
pengayuh. Perahu ini memiliki panjang 3-5 meter dengan ukuran lebar
18

Lihat Sartini, Menggali Kearifan Lokal, hal. 117.

1 meter. Bentuk perahu dayung ini memiliki bagian depan yang tidak jauh
berbeda dengan bagian belakangnya. Tujuan perahu tersebut adalah
untuk mengangkut penumpang yang hendak melintasi sungai Batang
Hari.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi memberikan
kemajuan dalam segala bidang. Salah satu wujud dari perkembangan itu
adalah kemajuan mesin dalam bidang transportasi. Hal ini memberikan
nilai yang solutif terhadap para penambang perahu waktu itu, di samping
kemudahan pekerjaan juga memberikan efisiensi waktu yang produktif
dalam proses penyeberangan. Mulai tahun 70-an, perahu tradisional ini
berkembang menjadi perahu mesin. Awalnya, perahu mesin ini digunakan
oleh masyarakat Pulau Pandan di bagian selatan Sungai Batang Hari.
Tujuannya adalah sebagai sarana untuk mencari ikan. Sebagian besar
masyarakat Pulau Pandan itu adalah masyarakat yang berasal dari
Palembang.19
Ada beberapa sarana yang menjadi alat penyeberangan sungai
masyarakat seberang di DAS Batang Hari Kota Jambi sebelum dikenalnya
ketek, yaitu:
Pertama,

perahu

kecik

(perahu

tradisional).

Perahu

Kecik

merupakan transportasi sungai pertama yang digunakan oleh masyarakat


Seberang Kota Jambi. Perahu Kecik ini sering juga disebut oleh
masyarakat setempat dengan istilah perahu jalur kecik.20 Perahu kecik ini
dikembangkan oleh orang-orang pendatang yang berasal dari Jawa Timur
di Kelurahan Arab Melayu. 21
Kedua, perahu jukung. Perahu jukung adalah perahu yang terbuat
dari kayu yang utuh, dalam arti kata tidak disambung-sambung dari
sebatang pohon kayu yang besar. Perahu Jukung merupakan salah satu
perahu yang juga berkembang di Seberang Kota Jambi setelah perahu
19

Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman. (Senin, 17 Maret 2014).


Wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi, salah satu tukang ketek yang paling
dituai di kelurahan Arab Melayu. (Senin, 14 April 2014).
21
Wawancara dengan Bapak Jamil, salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Tengah. (Senin, 31 Maret 2014).
20

10

kecik. Perahu ini digunakan oleh masyarakat seberang sebagai angkutan


sungai untuk membawa orang yang hendak menuju ke Pasar Kota Jambi.
Ketiga,

perahu

mesin.

Perahu mesin adalah perahu


dayung

yang

menggunakan

mesin.

Perahu

dikembangkan
orang
tinggalnya

mesin

ini

oleh

orang-

Palembang

yang

di

daerah

Pulau

Pandan dan terletak di bagian

Sumber: Hasil Observasi

Selatan Sungai Batang Hari.


Pada masanya, perahu mesin
ini

oleh

orang

Palembang

Gambar 1
Bentuk dan Struktur Perahu Mesin
di Pulau Pandan

digunakan sebagai alat untuk


mencari ikan di bagian hilir Sungai Batang Hari.22 Perahu mesin inilah
yang menjadi cikal bakal munculnya ketek. Lihat Gambar 1 di atas.
Keempat, kapal tempek. Kapal tempek atau sering juga dibilang
oleh masyarakat setempat sebagai PMP.23 Kapal tempek dikenal sudah
cukup lama oleh masyarakat setempat, perkembangan kapal tempek
sudah ada sebelum berkembangnya Ketek. Kapal tempek memiliki ukuran
yang lebih besar dari ketek dan memiliki atap. Kapal tempek memiliki
kapasitas muatan penumpang sekitar 20 orang. 24 dikatakan kapal tempek
karena kapal ini menggunakan mesin tempek atau mesin cangkuk/mesin
40.25
Kelima, ketek. Ketek adalah satu-satunya transportasi sungai yang
masih diamanfaatkan oleh sebagian masyarakat di Seberang Kota Jambi
hingga saat ini, yang sudah ada sejak tahun 1970-an. Ada 3 jenis Ketek

22

Wawancara dengan Bapak Abdurrahman. (Senin 17 Maret 2014).


Wawancara dengan bapak Abdul Kadir. (Kamis, 22 November 2013).
24
Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. (Senin, 31 Maret 2014).
25
Wawancara dengan Bapak Nurdin Khalidi. (Senin, 14 April 2014).
23

11

yang dikategorikan berdasarkan jenis mesinnya, yaitu mesin robin, TS


(turbine ship) dan dompeng.26 Lihat Gambar 2 di bawah ini.
Ketek Mesin Robin

Ketek Mesin TS

Ketek Mesin Dompeng

Sumber: Hasil Observasi

Gambar 2
Jenis-Jenis Transportasi Sungai Ketek di Kota Jambi

Secara istilah, ketek memiliki 2 istilah lain sebelum dikenalnya


istilah ketek. Pendapat pertama mengatakan bahwa istilah lain sebelum
ketek itu adalah motor kecik. Ketek tu sebenarnyo iolah motor kecik,
karena ditingok dari bentuknyo tu yang kecik.27 Dan pendapat kedua
mengatakan bahwa ketek itu dahulu dikenal dengan istilah boat. Boat itu
maksudnya bagian dalam Ketek yang berfungsi sebagai tempat duduknya
penumpang, sehingga orang-orang sering menyebutnya boat.28
Secara kuantitas, berdasarkan informasi dari buku yang diterbitkan
oleh BPS Kota Jambi dengan judul Kecamatan Pelayangan dalam Angka
2013, bahwa jumlah transportasi sungai ketek adalah sebanyak 150
buah. Masing-masing terdiri dari 24 buah di Kelurahan Tengah, 8 buah di
Kelurahan Jelmu, 28 buah di Kelurahan Mudung Laut, 69 buah di
Kelurahan Arab Melayu, 12 buah di Kelurahan Tahtul Yaman dan 9 Buah
di Kelurahan Tanjung Johor. Dan pada tahun 2014 adalah sebanyak 139
26

Pengkategorian ketek ini dilakukan berdasarkan hasil wawancara dengan


Bapak Nurdin Khalidi di Kelurahan Arab Melayu dan Ilyas di Kelurahan Tanjung Johor.
27
Lihat Transkripsi wawancara dengan Bapak Abdurrahman. (Senin 17 Maret
2014 pukul 10.00 s/d 11.30 WIB di Rumah kediamannya).
28
Hasil wawancara dengan Bapak Jamil. (Senin, 31 Maret 2014 pukul 20.00 WIB
s/d 20.30 WIB di Rumah kediamannya).

Buah.29 Masing-masing terdiri dari 11 buah di Kelurahan Tengah, 11 buah


di Kelurahan Jelmu, 9 di Kelurahan Mudung Laut, 100 buah di Kelurahan
Arab Melayu, 8 buah di Kelurahan Tanjung Johor dan tidak ditemukan lagi
keberadaan ketek di Kelurahan Tahtul Yaman. Dari data tersebut
memberikan

keterangan

bahwa

jumlah

transportasi

sungai

ketek

mengalami penurunan di tahun 2014. Penurunan jumlah ketek ini


disebabkan karena penghasilan sebagai

tukang ketek itu sudah

berkurang,30 sehingga beberapa tukang ketek mengurungkan niatnya


untuk melanjutkan profesinya. Akhirnya, ketek-ketek yang ada dijual oleh
sebagian tukang ketek ke berbagai tempat di Seberang Kota Jambi dan
mengganti profesi lain yang lebih menguntungkan.
Secara sistem, penempatan parkir/berlabuh nya ketek di Seberang
Kota Jambi terlihat tidak tertata dengan baik antara kelurahan yang satu
dengan kelurahan lain sehingga terlihat tidak proporsional. Sistem
penempatan parkir/berlabuhnya ketek ini hanya dilakukan atas dasar
pertimbangan karena jarak pelabuhan dekat dari rumah. Hal ini seperti
yang

terjadi

di

Kelurahan

Arab

Melayu.

Sistem

penempatan

parkir/berlabuhnya ketek di Kelurahan Arab Melayu tidak sama dengan


sistem penempatan parkir di kelurahan-kelurahan lainnya. Sistem
penempatan parkir/berlabuhnya ketek di kelurahan ini cenderung bersifat
deliveransi (bebas). Karena jumlah ketek yang ada di Kelurahan Arab
Melayu ini lebih banyak daripada jumlah pelabuhannya, sehingga ketek
yang ada di kelurahan itu memiliki tempat berlabuh sendiri-sendiri dan
terlihat tidak tertata dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan ketek
nya yang berlabuh dimana-mana dengan hanya beberapa kayu yang
ditancapkan sebagai tiang pengikat ketek-ketek tersebut. Sedangkan
penempatan parkir/berlabuhnya ketek di kelurahan-kelurahan lain terlihat
tertata dengan baik. Hal ini didasari karena jumlah ketek yang ada di
kelurahan-kelurahan tersebut masih dapat terjangkau dengan jumlah
29
30

Berdasarkan hasil observasi lapangan.


Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).

pelabuhan/rakit yang ada. Sehingga tidak ditemui ketek yang berlabuh di


sembarangan tempat.
FUNGSI TRANSPORTASI SUNGAI KETEK DI KOTA JAMBI
Ketek sebagai Sarana Mata Pencaharian Hidup. Pada masa lalu
sekitar tahun 80-an, ketek

menjadi solusi bagi sebagian masyarakat

Seberang Kota Jambi, karena transportasi ini dianggap sebagai salah satu
peluang untuk mencari nafkah keluarga. Dengan uang sebesar 175 ribu,
masyarakat setempat sudah bisa memiliki transportasi ketek. Ketika itu,
harga minyak hanya senilai 35 rupiah dan ongkos Ketek baru 25 rupiah.31
Sekarang, transportasi sungai ketek sudah mencapai 3 Juta/satuannya,
belum dengan mesinnya.32 Namun, transportasi ketek masih menjadi
salah satu alternatif sebagai alat teknologi untuk memenuhi kebutuhan
hidup keluarga di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi.
Sehingga sebagian dari masyarakat seberang tetap menggantungkan
hidup mereka dengan transportasi ini. Karena mereka menganggap
bahwa Ketek adalah salah satu usaha yang cukup menguntungkan untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Ketek sebagai Sarana Transportasi Penyeberangan Sungai.
Transportasi sungai ketek adalah salah satu hasil dari kebudayaan masa
lalu masyarakat seberang sebagai sarana transportasi penyeberangan
Sungai Batang Hari untuk mengangkut penumpang dari Seberang Kota
menuju Kota Jambi atau dari Kota menuju Seberang Kota Jambi. Tujuan
utama transportasi ini adalah untuk mengantar orang-orang dahulu yang
hendak pergi ke pasar dengan keperluan yang bermacam-macam. Ada
yang ke pasar dengan keperluan untuk membeli kebutuhan rumah tangga.
Ada juga ke pasar dengan tujuan berjualan. Ada juga untuk membeli
sayur-sayuran di Pasar Angso Duo.33 Hal ini seperti yang terjadi di
31

Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).


Wawancara dengan Bapak Bujang, salah seorang tukang pembuat ketek di
Kelurahan Mudung Laut. (Selasa, 25 Maret 2014).
33
Pasar Angso duo adalah pasar tradisional terbesar di Provinsi Jambi. Di pasar
ini terdapat aneka ragam barang dagangan mulai dari sayu-mayur, lauk-pauk, pakaian,
perabot rumah tangga dan masih banyak lagi. Pasar tradisional ini telah menjadi
32

Kelurahan Tengah, Jelmu, Mudung Laut dan Arab Melayu, hingga


sekarang pun masih banyak ditemui penumpang yang menggunakan
ketek sebagai transportasi penyeberangan sungai ke Pasar Angso Duo
dan termasuk Ramayana/WTC, namun tidak se-intensif dahulu. Dahulu
transportasi ini juga digunakan untuk mengantar anak-anak sekolahan
yang hendak belajar di Seberang Kota Jambi maupun yang dari Seberang
belajar ke Kota Jambi34 serta para pemuda yang hendak pergi menonton
bioskop.35 Transportasi ini juga digunakan untuk mengantar para pekerja
pabrik-pabrik dari arah Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi menyebrang
sungai menuju Kelurahan Tanjung Johor. Ketika itu, terdapat 2 pabrik di
kawasan seberang Kota Jambi, yaitu Pabrik Remco dan Jambi Waras.
Sekarang, pabrik-pabrik itu masih berfungsi dengan baik.
Ketek sebagai Sarana Lomba dan Rekreasi. Sebagai sarana
lomba, ketek dimanfaatkan dalam pelaksanaan lomba peringatan HUT RI
17 Agustus dan HUT Provinsi Jambi di Sungai Batang Hari. Lomba yang
dilakukan di area Sungai Batang Hari ini biasanya adalah lomba perahu
yang melibatkan peserta dari seluruh kabupaten dan kota yang ada di
Provinsi Jambi. Dalam rangka untuk memeriahkan pelaksanaan lomba
perahu ini, sehingga ada sebagian dari masyarakat seberang yang tidak
segan-segan untuk mencatar ketek. Peran ketek di sini adalah sebagai
sarana untuk menonton lomba dari jarak dekat sehingga lebih berkesan.
Biasanya, kalangan muda-mudi yang berantusias untuk mencarter ketek
tersebut. Pelaksanaan lomba perahu ini dilakukan oleh pemerintah daerah
sebanyak 3 kali dalam setahun, yaitu pelaksanaan Peringatan HUT RI,
Peringatan HUT Provinsi Jambi dan Peringatan HUT Kota Jambi.
Pelaksanaan lomba perahu ini biasanya dilaksanakan pada siang hari dan
dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dan diakhiri pada pukul 17.00 WIB.
sandaran hidup lebih dari 5.000 pedagang dan punya sejarah panjang sebagai pasar
yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain (Nomaden). Di ambil dari
http://ronalsaputra.blogspot.com. (Akses Minggu, 20 April 2014 Pukul 09.41 WIB).
34
Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).
35
Wawancara dengan Bapak Senang, salah seorang tukang ketek di Kelurahan
Tengah. (Selasa, 11 Maret 2014).

Sebagai

sarana

rekreasi,

ketek

sering

dimanfaatkan

oleh

wisatawan dalam kota. Ketek yang berfungsi sebagai sarana wisata ini
disebut ketek wisata. Biasanya, ketek wisata ini menarik wisatawanwisatawan yang berkunjung di Taman Tanggo Rajo (Ancol) Kec. Pasar
Kota Jambi. Tanggo Rajo (Ancol) merupakan kawasan yang sering
dikunjungi sebagai tempat rekreasi keluarga untuk dapat menikmati
panorama Sungai Batang Hari, memancing, ketek wisata dan jajanan di
sepanjang jalan raya di pinggir Sungai. Bagi wisatawan yang sedang
berwisata di Taman Tanggo Rajo (Ancol) Pasar Kota Jambi ini akan
menemui 2 pelabuhan ketek yang difungsikan sebagai sarana untuk
rekreasi. 2 pelabuhan tersebut ialah pelabuhan yang ada di pangkalan
ketek wisata Ancol-Pelayangan dan pangkalan ketek wisata Tanjung Johor
dan Tahtul Yaman. Selain itu, ada sebuah informasi yang mengatakan
bahwa ternyata transportasi sungai ketek ini juga pernah menjadi ketek
wisata bagi waisatawan yang hendak berkunjung ke Kawasan Candi
Muaro Jambi dengan keliling menyusuri DAS Batang Hari. 36
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG TRANSPORTASI SUNGAI
KETEK DI KOTA JAMBI
Ketek sebagai Roda

Perekonomian.

Kita

ketahui

bahwa

transportasi sungai ketek merupakan sarana penyeberangan sungai yang


sudah lama berkembang mulai tahun 1970-an, dimana perkembangan
alat transportasi darat yang canggih dan modern belum begitu dirasakan
oleh sebagian besar masyarakat Seberang Kota Jambi. Dan kebijakankebijakan pemerintah berupa jembatan pun belum ada pada waktu itu.
Sehingga keberadaan transportasi sungai ketek benar-benar dibutuhkan
oleh masyarakat Kota Jambi khususnya masyarakat di Seberang Kota
Jambi sebagai sarana penyeberangan sungai Batang Hari, terutama bagi
pedagang sayur yang hampir setiap harinya menggunakan jasa
transportasi ketek untuk tujuan ke Pasar Angso Duo. Keberadaan
transportasi sungai ketek di Sungai Batang Hari Kota Jambi juga
36

Hasil Wawancara dengan Bapak Ilyas. (Selasa, 15 April 2014).

merupakan urat nadi dalam kehidupan masyarakat Seberang Kota Jambi.


Hal ini dikarenakan transportasi sungai ketek telah memberikan manfaat
yang besar dalam membantu masyarakat seberang untuk melakukan
penyeberangan di DAS Batang Hari menuju Pasar Kota Jambi. Salah satu
bukti

lapangannya

adalah

ketek

memberikan

kemudahan

dalam

penyeberangan sungai dan menjadi sarana alternatif untuk memenuhi


kebutuhan hidup serta tujuan penumpang ke Pasar. Hal ini tidak
sebanding dengan pengguna transportasi darat melalui jembatan, karena
membutuhkan waktu perjalanan yang jauh dan cukup lama untuk menuju
Pasar Angso Duo. Penggunaan transportasi darat harus menuju jembatan
Aurduri terlebih dahulu, kemudian baru menuju Pasar Angso Duo.
Ketek sebagai Tradisi Masyarakat Lokal. Keberadaan transportasi
sungai ketek sudah tidak asing lagi bagi masyarakat kota Jambi
khususnya masyarakat di Seberang Kota Jambi. Penyeberangan melalui
Sungai Batang Hari untuk tujuan ke Pasar sudah menjadi kebiasaan atau
tradisi yang sudah mendarah daging bagi masyarakat seberang. Sehingga
masyarakat seberang akan tetap selalu menggunakan ketek untuk
penyeberangan sungai ke Pasar. Tradisi itu kian berlanjut dan masih
dibudayakan oleh masyarakat seberang hingga saat ini. Salah satu faktor
yang menyebabkannya adalah kepraktisan yang dimiliki oleh transportasi
sungai ketek tersebut. Dengan kepraktisannya tersebut masyarakat
seberang lebih tertolong dalam melakukan penyeberangan sehingga bisa
sampai ke tempat tujuan dengan waktu yang cepat dan singkat. Begitu
pentingnya transportasi sungai ketek dalam memudahkan masyarakat
seberang untuk melakukan penyeberangan Sungai Batang Hari, sehingga
mereka beranggapan bahwa transportasi sungai ketek itu adalah sebuah
tradisi yang sudah mendarah daging dan akan selalu menggunakannya
sebagai sarana penyeberangan sungai alternatif yang memiliki nilai
praktis.
KESIMPULAN

Ketek merupakan transportasi sungai yang patut dipertahankan,


karena merupakan akumulasi dari budaya masa lalu dan masa modern
saat ini. walaupun ada unsur kemoderenannya sebagai perahu motor
karena telah menggunakan mesin, tetapi jangan dilupakan bahwa ketek
juga memiliki unsur ketradisionalannya yaitu: Pertama, ketek terbuat dari
bahan kayu. Kedua, ketek diolah dan dibentuk secara manual tradisional
oleh manusia.
Secara eksistensi, transportasi sungai ketek dapat dikatakan
sebagai jantungnya kehidupan masyarakat Seberang Kota Jambi, karena
selalu memberikan kemudahan dan kelancaran terhadap aktivitas
masyarakat Seberang Kota Jambi sehari-hari, baik pada masa lalu
maupun sekarang. Masyarakat seberang akan mengalami masa paceklik,
jika tanpa keberadaan transportasi sungai ketek. Hal ini disebabkan
karena kehidupan masyarakat seberang tidak terlepas dari keberadaan
Pasar Kota Jambi (yang merupakan destinasi utama sebagai pusat
perbelanjaan umum Kota Jambi) dalam memenuhi kebutuhan hidup
mereka sehari-hari. Sehingga kondisi ini menuntut mereka untuk harus
melakukan penyeberangan sungai agar bisa sampai ke tempat tujuan
tersebut untuk mencari berbagai kebutuhan hidup mereka. Salah satu
sarana alternatif yang digunakan masyarakat seberang dalam melakukan
penyeberangan sungai adalah dengan menggunakan transportasi sungai
ketek yang ada di Kota Jambi.
Secara fungsi, ketek di Kota Jambi merupakan sarana transportasi
sungai yang interesan karena memiliki disjeksi dalam fungsi (fungsi
rangkap). Hal ini lah yang membuat eksistensi transportasi sungai ketek di
Kota Jambi hingga saat ini masih bertahan, sehingga patut untuk
dikembangkan dan dilestarikan eksistensinya. Oleh karena itu, tidak
menutup kemungkinan bahwa transportasi sungai ketek bisa dijadikan
sebagai icon Kota Jambi.
Secara persepsi, transportasi sungai ketek juga dianggap oleh
mereka sebagai sebuah roda perekonomian dan tradisi yang sudah

mendarah daging, sehingga keberadaan transportasi sungai ketek sulit


untuk dihilangkan. Hal ini ditambah dengan faktor kepraktisan yang dimiliki
oleh ketek tersebut, yang bisa memberikan kemudahan dalam melakukan
penyeberangan Sungai Batang Hari. Di samping itu, masyarakat seberang
juga lebih tertolong dalam melakukan penyeberangan sungai karena bisa
sampai ke tempat tujuan dengan waktu yang cepat dan singkat.
Berdasarkan penjelasan tersebut, secara tegas menyiratkan bahwa
gencatnya modernisasi yang terjadi di Kota Jambi ternyata tidak
sedikitpun mengubah persepsi masyarakat lokal terhadap eksistensi
transportasi sungai ketek di Kota Jambi dewasa ini. Hal ini disebabkan
karena kehadiran transportasi sungai ketek memang benar-benar
memberikan solusi terhadap kehidupan masyarakat lokal terutama dalam
hal penyeberangan sungai Batang Hari.
Bahkan, solusi tersebut telah datang jauh sebelum dibangunnya
jembatan-jembatan yang ada di Kota jambi. Saat itu lah, transportasi
sungai ketek hadir dan berani menawarkan solusi dalam realitasnya,
sehingga solusi tersebut benar-benar dimanfaatkan dan dibudayakan oleh
masyarakat lokal dalam keseharian mereka. Salah satu bukti yang bisa
dijadikan referensi terkait dengan hal tersebut adalah bahwa eksistensi
transportasi sungai ketek telah berkembang cukup lama dan hadir di
dalam kehidupan masyarakat lokal selama 40-an tahun lamanya. Usia
yang cukup tua sebagai transportasi sungai yang memiliki keunikan
tersendiri, yaitu sebagai transportasi sungai yang modern-tradisional.
REKOMENDASI
Rekomendasi yang disarankan oleh peneliti dalam artikel ini
berdasarkan hasil penelitian yaitu: (a) Kepada pihak pemerintah Provinsi
maupun Kota Jambi untuk memberikan perhatian khusus terhadap
perkembangan transportasi sungai ketek kedepannya dengan menjadikan
ketek sebagai icon kota Jambi atau sebagai transportasi wisata di DAS
Batang Hari, dan (b) Kepada masyarakat Kota Jambi khususnya
masyarakat

Seberang

Kota

Jambi

agar

selalu

membudayakan

transportasi sungai ketek sebagai sarana penyeberangan sungai di DAS


Batang Hari dan menjadikan keberadaan transportasi sungai ketek
sebagai salah satu simbol kehidupan sosial mereka.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU
A. Taufik Mulyana. Transportasi Air.
Banjarmasin: Fakultas Teknik
Universitas Lambung M angkurat, 2005.
Fidel Miro. Perencanaan Transportasi. Jakarta: Erlangga, 2005.
James P. Spradley. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi 1. Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press, 2009.
Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana,
2003.
Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2013.
Rafael Raga Maranl. Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu
Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Suwardi Endraswara. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan:
Ideologi, Epistimologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka
Widyatama, 2006.
JURNAL, LAPORAN PENELITIAN, KORAN
Agus Maryono dan Danang Parikesit. Transportasi Sungai Mulai
Ditinggalkan. Kompas, 01 Mei, 2003.
Bondan Seno Prasetyadi, dkk. Transportasi Sungai dan Masyarakat
Melayu Jambi. ISSN:18582559. Depok: Jurnal Universitas
Gunadarma, 2005.
Rizki Permata Sari. Tesis: Pergeseran Pergerakan Angkutan Sungai di
Sungai Martapura Kota Banjarmasin. Semarang: Undip, 2008.
Sartini. Menggali Kearifan Lokal.
Agustus,2004.

Jurnal Filsafat Jilid 37, Nomor 2.

Yosephine H. K, Djarot Sadharto W. Kajian Penggunaan Moda


Transportasi Sungai Di Kota Jambi. Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada, 2013.
INTERNET
CIA World Factbook Tahun 2013 (ilmupengetahuanumum.com/10-negaradengan-jumlah-penduduk-populasi-terbanyak-di-dunia/).
http://ronalsaputra.blogspot.com
WAWANCARA
Abdurrahman. Tukang Ketek dan Pembuat Ketek dari Kelurahan Arab
Melayu Kecamatan Pelayangan, Seberang Kota Jambi.
Abdul Kadir. Tukang Ketek Kelurahan Kampung Tengah Kecamatan
Pelayangan, Seberang Kota Jambi.
Eha. Pedagang Sayur Pasar Kelurahan Arab Melayu Kecamatan
Pelayangan, Seberang Kota Jambi.
Idris. Tukang Ketek Kelurahan Mudung Laut Kecamatan Pelayangan,
Seberang Kota Jambi.
Ilyas. Tukang Ketek Kelurahan Tanjung Johor Kecamatan Pelayangan,
Seberang Kota Jambi.
Sagaf. Pemuda Kelurahan Arab
Seberang Kota Jambi.
Jamil.

Melayu

Kecamatan Pelayangan,

Tukang Ketek Kelurahan Kampung


Pelayangan, Seberang Kota Jambi.

Tengah

Kecamatan

Senang. Tukang Ketek Kelurahan Jelmu Kecamatan Pelayangan,


Seberang Kota Jambi.
Nurdin Khalidi. Tukang Ketek Senior Kelurahan Arab Melayu Kecamatan
Pelayangan, Seberang Kota Jambi.
Bujang. Pembuat ketek dari Kelurahan Jelmu Kecamatan Pelayangan,
Seberang Kota Jambi.