Anda di halaman 1dari 26

KONSEP DASAR KETOASIDOSIS DIABETIKUM

A.

Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
Ketoasidosis diabetikum adalah dokumpensasi metabolik akibat
defisiensi insulin absolut atau reaktif dan merupakan komplikasi
akut DM yang serius.
2. Insiden
-

Angka kematian yang dilaporkan oleh Dresch Feld tahun


1986 tahun 1922 = 100%.
Angka tersebut menurun hingga 29% sampai tahun 1932.
Angka tersebut menurun hingga 5% sampai tahun 1960.

Angka kematian yang dilaporkan oleh NIH (National


Institute Of Health) sebelum tahun 1983 adalah 10%.

Dan kini dengan bertambah baiknya pengertian tentang


patogenesis KAD angka kematian menurun sampai dibawah
5%.

3. Penyebab
-

Defisiensi insulin

Stresor hormon

4. Patofisiologi
Defisiensi insulin baik relatif

maupun mutlak diakibatkan oleh

kegagalan sekresi insulin endogen dan kekurangan pemberin insulin


eksogen atau peningkatan berapa infeksi, trauma kehamilan stress
emosional akibat defisiensi insulin akan terjadi gangguan pada
metabolisme (karbohidrat, protein, lemak) dalam keadaan defisiensi
terjadi penurunan penggunaan insulin oleh otot, hati, jaringan
diposa. Sementara dihati sendiri terjadi produksi yang berlebihan.
Keadaan

ini

mengakibatkan

tubuh

mengalami

keadaan

hiperglikemia. Hiperglikemia bertambah berat ginjal akan berusaha


mensekresikan glukosa bersama air dan elektrolit urin bercampur

dengan glukosa (glukosauria). Peristiwa


diuresis osmotik yang ditandai
mengakibatkan

tubuh

ini disebut sebagai

oleh poliuria. Diuresis osmotik

mengalami

dehidrasi

dan

kehilangan

elektrolit. Akibat defisiensi yang lain adalah terjadi peningkatan


pemecahan lemak (lipolisis) terjadi asam lemak bebas dan gliserol.
Asam lemak bebas akan diubah menjadi badan keton oleh
produksi

badan

keton

menjadi

berlebihan

sehingga

hati

terjadi

katonemia. Selanjutnya terjadi ketouria penumpukan badan keton


menimbulkan keadaan asidosis metabolik. Keadaan ketoasidosis
ini dapat mengakibatkan penurunan status mental (sadar, letargi,
coma) dan pernafasan kussmaul (pernafasan berbau seperti buah)
cepat dan dalam. Ketonemia juga mengakibatkan anoreksia, mual,
muntah, nyeri abdomen. Selain ntu defisiensi insulin merangsang
peningkatan pemecahan protein ( proteiolisis ) yang mengkibatkan
peningkatan pembentukan asam amino dan peningkatan kehilangan
nitrogen. Pemecahan protein untuk menghasilkan asam amino
sebagai prekusor glikosa disebut sebagai glukoneogenesis. Selain
itu terjadi pula glikogenolisis ( pemecahan glikogen menjadi
glukosa ). Hal ini juga merangsang terjadinya hiperglikemia.
Ketoasidosis juga disebabkan karena stresor hormon yang dapat
menimbulkan hiperglikemia

5. Gejala Klinis :
-

Hiperglikemia

Glukosuria

Hiperosmolaritas

Penipisan volume intra vaskuler

Asidosis metabolik

Penumpukan keton bodies

Letargi, kelelahan, koma

Hiperventilasi, nafas kussmaul

6. Pemeriksaan Fisik
-

Kepala, rambut, hidung telinga dan leher : dalam batas


normal

Mata : penglihatan pasien kabur

Mulut : nafas berbau keton

Thorax
Inspeksi

: terjadi peningkatan frekuensi nafas

Palpasi

: gerakan dinding thorax cepat dan dalam

Auskultasi : bunyi paru hilang dan timbul


-

Abdomen
Inspeksi

: abdomen tampak tegang

Auskutasi : bunyi usus tidak normal


Palpasi

: ada nyeri tekan

Perkusi

: ada distensi pada abdomen

7. Pemeriksaan diagnostik / penunjang


Glukosa darah > 300 mg/dl
Keton serum : positif secara mendadak
Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya < 330 mosm/L
AGD : PH < 7,3
HCO3 < 15 MEQ / L
PaCO2 10 30 mmHg

Kadar natrium dan kalium : bisa rendah, normal atau tinggi


Uriner : gula dan keton positif.
Selain itu defisiensi insulin merangsang peningkatan pemecahan
protein (proteolisis) yang mengakibatkan peningkatan kehilangan
nitrogen. Pemecahan protein untuk menghasilkan asam amino
sebagai prekusor glukosa disebut sebagai glukoneogenisis. Selain
itu terjadi pula glikogenolisis (pemecahan glikogen menjadi
glukosa. Hal ini juga akan merangsang terjadinya hiperglikemia.
8. Pengobatan
a.

Pengobatan umum
Sasaran pengobatan KAD adalah memperbaiki volume sirkulasi
dan perfusi jaringan, menurunkan kadar glukosa darah,
memperbaiki asam keto diserum dan urine keadaan normal dan
mengoreksi gangguan elektrolit.
1) Penderita

dirawat dirung rawat darurat catat data-data

tentang kadar glukosa darah, keton serum, elektrolit, BUN,


kreatinin serum, kalsium, fosfat, gas darah, glukosa urine
dan keton urine catat cairn keluar dan masuk.
2) Pasang NGT dan chateter urine

jika pasien mengalami

penurunan kesadaran
b.

Pengobatan cairan, elektrolit dan insulin


1) Cairan
NaCI 0,9% diberikan + 1-2 pada jam pertama, lalu 1 L pada
jam kedua, lalu 0,5L pada jam ketiga dan keempat, dan 0,25
L pada jam kelima dan keenam, selanjutnya

sesuai

kebutuhan.
-

Jumlah cairan yang diberikan dalam 15 jam sekitar 5 L

Jika Na+>155 mEq/L-ganti cairan dengan NaCI 0,45%

Jika GD<200 mg/dl-ganti cairan dengan dextrose 5%

2) Insulin (regular insulin = RI) :

Diberikan setelah 2 jam rehidrasi cairan

RI bolus 180 mU/KgB IV, dilanjutkan;

RI drip 90 mU/KgBB/jam dalam NaCI 0,9%

Jika GD<200 mg/dL kecepatan dikurangi RI drip


45 mU/kgBB/jam dalam
&&&
NaCI0,9%

Jika GD stabil 200-300 mg/dL selama 12 jam RI


drip 1-2 U / jam IV, disertai slinding scale setiap 6 jam

Jika kadar GD ada yang < 100 mg/dL; drip RI


dihentikan

Setelah

sliding

scale

tiap

jam,

dapat

diperhitungkan kebutuhan insulin sehari.


Dibagi 3 dosis

sehari

subkutan, sebelum makan (bila

pasien sudah makan).


3) Elektrolit
Kalium

Kalium (KCI) drip dimulai bersamaan dengan drip


RI, dengan dosis 50 mEq/6
ginjal,

jam, syarat ada gagal

tidak ditemukan gelombangT yang lancip

dantinggi pada EKG, dan jumlah urine cukup adekat.

Bila kadar K + pada pemeriksaan elektrolit kedua :


< 3,5........ drip KCI 75 mEq/6 jam
3,0 ... 4,5 .....drip KCI 50 mEq/6 jam
4,5 ....6,0 .....drip KCI 25 mEq/6 jam
> 6,0 ...... drip dihentikan

Bila

sudah

sadar,

diberikan

K+

oral

selama

seminggu.
Natrium bikarbonat
~ Drip 100 mEq bila pH < 7,0, disertai KCI 26 mEq drip

~ 50 mEq bila pH 7,0 7,1, disetai KCI 13 mEq drip


~ Juga diberikan pada asidosis laktat dan hiperkalemi yang
mengancam
B.

Konsep Dasar Askep KAD


1. Pengkajian
a.

Pengkajian
Pasien mengeluh : mual, muntah, sakit perut, sesak nafas
merasa mengantuk, sering kencing

b.

Data obyektif
- Pasien muntah
- Bau mulut khas (keton)
- Nafsu makan menurun
- Dehidrasi
- Kadar kalium total tubuh menurun karena poliuria
- Penurunan berat badan

2. Diagnosa keperawatan
a.

Pola

nafas

tidak

efektif

berhubungan

dengan

peningkatan badan keton ditandai dengan respirasi cepat dan


dalam.
b.

Gangguan
berhubungan

dengan

keseimbangan
diuresis

cairan

osmotik

dan

elektrolit

ditandai

dengan

dehidrasi, poliuria, mual, muntah, turgor kulit menurut.


c.

Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan penurunan masukan oral ; anoreksia,
mual, lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran
ditandai oleh penurunan berat badan.

d.

Nyeri akut berhubungan dengan asidosis yang


ditandai
abdomen.

dengan pasien meringis, mengeluh nyeri dibagian

e.

Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan


dengan

perubahan

metabolik

ditandai

oleh

perubahan

kesadaran.
f.

Risiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori


berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa.

WOC
Etiologi
Defisiensi
Stresor
hormon

Insulin
Lipolisis

Proteolosis

Penggunaan glukosa /
otot, jaringan adiposa,
dan hati peningkatan
produksi glukosa oleh hati

Asam amino
Gliserol
Glukoneogenisis

Asam
Lemak Bebas

Glikogenolisis
Hiperglikemia

Penglihatan
kabur

Resti
perubahan
persepsi
sensoris

Bdan
keton

Glukosuria
diuresis ostomotik
ditandai
Poliuria
Polidipsi

Dehidrasi dan
kehilangan
elektrolit

Ketouria

Ketonemia
Asidosis
metabolik
Pernafasan
kussmaul

Pola nafas
tidak efektif
Gangguan
keseimbangan
cairan dan
elektrolit

Anoreksia
Mual
Muntah

Nyeri abdomen

Perubahan
perfusi jaringan
cerebral

Nyeri akut

Perubahan
pemenuhan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan

3. 3.Intervensi
No
1
1.

Diagnosa
Keperawatan
2
Pola nafas tidak
efektif
berhubungan
dengan
peningkatan
badan keton
ditandai dengan
respirasi

Tujuan
3
1.
Menunjuk
kan pol
pernapasan
norml/efektif.
2.
Respirasi
dalam batas
normal.

Intervensi

Rasional

4
5
1.
Kaji pola 1. Paru-paru
napas seperti
mengeluarkan
adanya
asam karbonat
pernapasan
melalui
Kussmaul
pernapasan
atau
yang
pernapasan
menghasilkan
yang berbau
kompensasi
keton.

2.

Frekuensi
dan kualitas
pernapasan,
penggunaan

alkalosis
respiratoris
terhadap
keadaan
ketoasidosis.
Pernapasan
yang berbau
aseton
berhubungan
pemecahan
asam asetoasetat dan
harus
berkurang bila
ketosis harus
terkoreksi.
2. Koreksi
hiperglikemia
dan asidosis
akan

4
otot bantu
napas, dan
adanya
Periode
apnea dan
munculnya
sianosis

5
menyebabkan
pola dan
frekuensi ;
pernapasan
mendekati
norml. Tetapi
peningkatan
kerja
pernapasan;
pernapasan
dangkal,
pernapasan
cepat; dan
munculnya
sianosis
mungkin
merupakan
indikasi dari
kelelahan
pernapasan
dan/atau
mungkin psien
itu kehilangan
kemampuannya
untuk
melakukan
kompensasi
pada asidosis.

2.

Gangguan
1. Mendemonkeseimbangan
trasikan
cairan dan
hidrasi
elektrolit
adekuat
berhubungan
dibuktikan
dengan diuresis
oleh tanda
osmotik ditandai
vital stabil,
dengan
nadi perifer
dehidrasi,
dapat dirasa,
poliuria, mual,
turgor kulit
muntah, turgor
dan pengisian
kulit menurun.
kapiler baik,
haluaran
urine tepat
secara
individu dan
kadar

3. Beri posisi
yang
nyaman
menurut
pasien (semi
fowler)

3. Posisi yang
nyaman (semi
fowler )
membantu
melancarkan C 2
masuk sehingga
sesak
berkurang.

4. Kolaborasi
dalam
pemberian
O2

4. Dengan
penambahan O 2
meningkatkan
penghilangan
distres respirasi

1. Pantau
1. Hipovolemia
tanda-tanda
dapat
vital, catatan
dimanifestasi
adanya
kan oleh
perubahan
hipotensi dan
TD
takikardia.
ortostatik
2. Suhu, warna 2. Meskipun
kulit, atau
demma,
kelembabanmenggigil dan
nya
diaforesis
merupakan
hal umum
terjdi pada
proses
infeksi,
demam

2.

3
elektrolit
dalam batas
normal.

Gangguan
3. Mendemonkeseimbangan
trasikan
cairan dan
hidrasi
elektrolit
adekuat
berhubungan
dibuktikan
dengan diuresis
oleh tanda
osmotik ditandai
vital stabil,
dengan
nadi perifer
dehidrasi,
dapat dirasa,
poliuria, mual,
turgor kulit
muntah, turgor
dan pengisian
kulit menurun.
kapiler baik,
haluaran
urine tepat
secara
individu dan
kadar
elektrolit
dalam batas
normal.

1. Pantai tandatanda vital,


catat adanya
perubahan
TD
ortostatik
2. Suhu, warna
kulit, atau
kelembabannya

5
dengan kulit
yang
kemerahan,
kering mungkin
sebagai
cerminan dari
dehidrasi.
1. Hipovolemia
dapat
dimanifestasi
kan oleh
hipotensi dan
takikardia.
2. Meskipun
demam,
menggigil dan
diaforesis
merupakan hal
umum terjadi
pada proses
infeksi, demam
dengan kulit
yang
kemerahan,
kering mungkin
sebagai
cerminan dari
dehidrasi.

4
5
3. Kaji nadi
3. Merupakan
perifer,
indikator dari
pengisian
tingkat
kapiler,
dehirasi, atau
turgor kulit,
volume
dan
sirkulasi yang
membran
adekuat.
mukosa
4. Pantau
4. Memberikan
masukan dan
perkiraan
pengeluaran,
kebutuhan akan
catat berat
cairan
jenis urine.
pengganti,
fungsi ginjal,
dan keefektifan
dari terapi yang
diberikan.
5. Ukur berat
5.Memberikan
badan setiap
hasil
hari
pengkajian
yang terbaik
dari status
cairan yang
sedang
berlangsung
dan selanjutnya
dalam
memberikan
cairan
pengganti

6. Pertahankan
6. Mempertahan
untuk
kan
memberikan
hidrasi/volume
cairan paling
sirkulasi
sedikit 2500
ml/hari
dalam batas
yang dapat
ditoleransi,
jantung jika
pemasukan
cairan
melalui oral
sudah dapat
diberikan.
7. Tingkatkan
7. Menghindari
lingkungan
pemanasan
yang dapat
yang
menimbulberlebihan
kan rasa
terhadap pasien
nyaman.
lebih lanjut
Selimuti
akan dapat
pasien
menimbulkan
dengan
kehilangan
selimut
cairan.
tipis.
8. Kaji adanya 8. Perubahan
perubahan
mental dapat
mental/
berhubungan
sensori.
dengan glukosa
yang tinggi

atau yang
rendah
(hiperglikemi
atau
hipoglikemia),
elektrolit yang
abnormal,
asidosis,
penurunan
perfusi
serebral, dan
berkembangnya
hipoksia.
Penyebab yang
tidak
tertangani,
gangguan
kesadaran
dapat menjadi
predisposisi
(pencetus)
aspirasi pada
pasien.
4.

9. Catat hal-hal 9. Kekurangan


yang
cairan dan
dilaporkan
elektrolit
seperti mual,
mengubah
nyeri
motilitas
abdomen,
lambung, yang
muntah dan
seringkali akan
distensi
menimbulkan
lambung.
muntah dan
3

5
secara

potensial
akan
menimbulkan
kekurangan
cairan atau
elektrolit
3.

Perubahan
pemenuhan
nutrisi kurang
dari kebutuhan

1. Mencerna
jumlah
kalori/
nutrien yang

1. Timbang
berat badan
setiap hari
atau sesuai

berhubungan
dengan
penurunan
masukan oral
anoreksia, mual
muntah, lambung
penuh, nyeri
abdomen,
perubahan
kesadaran
ditandai oleh
penurunan berat
badan.

tepat.
2. Menunjukkan
tingkat energi
biasanya
3. Mendemontra
sikan berat
badan stabil
atau
penambahan
kearah
rentang
biasanya /
yang
diinginkan
dengan nilai
laboratorium
normal

dengan
indikasi.

2. Tentukan
program diet
dan pola
makan
pasien dan
banding-kan
dengan
makanan
yang dapat
dihabiskan
pasien.
3. Auskultasi
bising usus,
catat adanya
nyeri
abdomen /

1.

Mengkaji
pemasukan
makanan yang
adekuat
(termasuk
absorpsi dan
utilisasinya)

2.

Mengident
ifi kasi
kekurangan
dan
penyimpangan dari
kebutuhan
terapeutik.

3.

Hiperglike
mia dan
gangguan
keseimbangan
cairan dan
elektrolit

4
perut
kembung,
mual,
muntahan
makanan
yang belum
sempat
dicerna,
pertahankan
keadaan
puasa sesuai
dengan
indikasi.

5
dapat
menurunkan
motilitas/
fungsi
lambung
(distensi atau
ileus
paralitik)
yang akan
mempengaruhi pilihan
intervensi.

4. Berikan
4.
Pemberian
makanan cair
makanan
yang
melalui oral
mengandung
lebih baik jika
zat makanan
pasien sadar
(nutrien)
dan fungsi
dan elektrolit
gastrointestidengan
nal baik.
segera jika
pasien sudah
dapat
mentoleransi
nya melalui
pemberian
cairan
melalui oral.

4
5. Libatkan
keluarga
pasien pada
pencernaan
makan ini
sesuai
dengan
indikasi.

5
5.
Meningkat
kan rasa
keterlibatan
nya;
memberikan
informasi
pada keluarga
untuk
memahami
kebutuhan
nutrisi pasien.

6. Observasi
6.
Karena
tanda-tanda
metabolisme
hipoglikemia
karbohidrat
Seperti
mulit terjadi
perubahan
(gula darah
tingkat
akan
kesadaran,
berkurang,
kulit lembab/
dan sementara
dingin,
tetap
denyut nadi
diberikan
cepat lapar,
insulin maka
peka
hipoglikemi
rangsang,
dapat terjadi
cemas, sakit
jika pasien
kepala,
dalam
pusing,
keadaan
sempoyokoma,
ngan.
hipoglikemia
mungkin
terjadi tanpa

7. Lakukan
konsultasi
dengan ahli
diet.

5
memperlihatkan
perubahan
tingkat
kesadaran.
7.

Sangat
bermanfaat
dalam
perhitungan
dan
penyesuaikan
diet untuk
memenuhi
kebutuhan
nutrisi pasien;
menjawab
pertanyaan
dan dapat pula
membantu
pasien atau
orang terdekat
dalam
mengembangk
an
perencanaan
makan.

1
4.

2
Nyeri
berhubungan
dengan asidosis
yang ditandai
dengan pasien
meringis,
mengeluh nyeri
dibagian
abdomen.

3
1. Melaporkan
nyeri
berkurang
atau
terkontrol
2. Menunjukkan
atau
menggunakan
prilaku untuk
mengurangi
kekambuhan

4
1. Kaji keluhan
nyeri, catat
intensitasnya,
karakteristik
nya, lokasi
dan lamanya
nyeri.

5
1. Nyeri
merupakan
pengalaman
subyektif dan
harus
dijelaskan
oleh pasien
dan untuk
mengevaluasi
keefektifan
dari terapi
yang
diberikan

2. Gunakan
2. Memberikan
teknik
pasien
sentuhan
sejumlah
yang
pengendali
terapeutik
nyeri dan/atau
visualisasi
dapat
(teknik
mengubah
distraksi dan
mekanisme
relaksasi.
sensasi nyeri
dan mengubah
persepsi
nyeri.

3. Kolaborasi
dalam
pemberian
analgetik.

5.

Perubahan
perfusi jaringan
serebral
berhubungan
dengan
perubahan
metabolik
ditandai oleh
perubahan
kesadaran.

1. Mempertahan
kan tingkat
kesadaran
biasanya/
membaik,
fungsi
kognitif dan
motorik/
sensori
2. Mendemontra
sikan tandatanda vital
dalam
keadaan
normal.

3. Analgetik
merupakan
obat yang
dapat
mengurangi/
menghilang
kan rasa
nyeri.

1. Tentukan
1. Mempengafaktor-faktor
ruhi
yang
penetapan
berhubungan
intervensi.
dengan
keadaan/
penyebab
khusus
selama
penurunan
perfusi
serebral.
2. Pantau
2. Variasi
tanda-tanda
mungkin
vital
terjadi oleh
karena
tekanan /
trauma
serebral pada
daerah
vasomotor
otak.

6.

Risiko tinggi
terhadap
perubahan
persepsi sensori
berhubungan
dengan
ketidakseimbangan glukosa

1. Mempertahan
kan tingkat
mental
biasanya.
2. Mengenali
dan
mengkompens
asi adanya
kerusakan
sensori

4
3. Letakkan
kepala
dengan
posisi agak
ditinggikan
dan dalam
posisi
anatomis
4. Kolaborasi
dalam
pemberian
O2

5
3. Menurunkan
tekanan arteri
dengan
meningkatkan
sirkulasi/
perfusi
serebral.

1. Pantau
tanda-tanda
vital dan
status
mental.

1. Sebagai dasar
untuk
membanding
kan temuan
abnormal,
seperti suhu
yang
meningkat
dapat
mempengaru
hi fungsi
mental.

4. Menurunkan
hipoksia yang
dapat
menyebabkan
vosodilatasi
serebral dan
tekanan
meningkat/
terbentuknya
edema.

2. Panggil
pasien
dengan
nama,
orientasikan
kembali
sesuai
dengan
kebutuhan
nya. Berikan
penjelasan
yang singkat
dengan
bicara
perlahan dan
jelas.

2. Menurunkan
kebingungan
dan membantu
untuk
mempertahan
kan kontak
dengan
realitas.

3. Jadwalkan
intervensi
keperawatan
agar tidak
mengganggu
waktu
istirahat
pasien.

3. Meningkatkan
tidur,
menurunkan
rasa letih, dan
dapat
memperbaiki
daya pikir.

4. Pelihara
aktivitas
rutin pasien
sekonsisten
mungkin,
dorong

4. Membantu
memelihara
pasien tetap
berhubungan
dengan
realitas dan

4
5
untuk
mempertahan
melakukan
kan orientasi
kegiatan
pada
sehari-hari
lingkungan
sesuai
nya.
kemampuan
nya.
5. Lindungi
5. Pasien
pasien dari
mengalami
cedera
disorientasi
(gunakan
merupakan
pengikat)
awal
ketika
kemungkinan
tingkat
timbulnya
kesadaran
cedera,
pasien
terutama
terganggu.
malam hari
Berikan
dan perlu
bantalan
pencegahan
lunak pada
sesuai
pagar tempat
indikasi.
tidur dan
Munculnya
berikan jalan
kejang perlu
napas buatan
diantisipasi
yang lunak
untuk
jika pasien
mencegah
kemungkin
trauma fisik,
kan
aspirasi dsb.
mengalami
kejang.

4
6. Evaluasi
lapang
pandang
penglihatan
sesuai
dengan
indikasi.

5
6. Edema/lepas
kan retina,
hemoragis,
katarak, atau
paralisis otot
ekstraokuler
sementara
mengganggu
penglihatan
yang
memerlukan
terapi korektif
dan/atau
perawatan
penyokong.

7. Selidiki
7. Neuropati
adanya
perifer
keluhan
dapatmengaki
parestesia,
batkan rasa
nyeri, atau
tidak nyaman
kehilangan
yang berat,
sensori pada
kehilangan
paha/ kaki.
sensasi
Lihat adanya
sentuhan/
ulkus, daerah
distorsi yang
kemerahan,
mempunyai
tempatrisiko tinggi
tempat
terhadap
tertekan,
kerusakan
kulti dan

4
kehilangan
denyut nadi
perifer.

5
gangguan
keseimbangan.

8. Berikan
8. Meningkatkan
tempat tidur
rasa nyaman
yang lembut.
dan
Pelihara
menurunkan
kehangatan
kemungkinan
kaki/ tangan,
kerusakan
hindari
kulit karena
terpajan
panas.
terhadap air
panas atau
dingin atau
penggunaan
bantalan/
pemanas.
9. Bantu pasien 9. Meningkatkan
dalam
keamanan
ambulasi
pasien
atau
terutama
perubahan
ketika rasa
posisi
keseimbangan
dipengaruhi
10. Berikan
pengobatan
sesuai
dengan obat

10. Gangguan
dalam proses
pikir/
potensial

4
yang
ditentukan
untuk
mengatasi

11. Pantau nilai


laboratorium
seperti
glukosa
darah,
osmolaritas
darah,
Hb/Hi,
ureum
kreatinin.

5
terhadap
aktivitas
kejang
biasanya
hilang bila
keadaan
hiperosmolaritas teratasi.
11. Ketidakseim
bangan
nilailabora
torium ini
dapat
menurunkan
fungsi mental.
Catatan : Jika
cairan diganti
dengan cepat,
kelebihan
cairan dapat
masuk ke sel
otak dan
menyebabkan
ganggun pada
tingkat
kesadaran
(intoksikasi
air).