Anda di halaman 1dari 11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Pengaruh pembelajaran
a. Pengertian pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperti usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa yang
merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan
pembelajaran yanga sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode,
strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suattu hal yang utama.
Menurut Eggen dan kauchak dalam wardhani (2005). Model pembelajaran merupakan
pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar atau merancang untuk
mencapai suatu pembelajaran. Pembelajaran itu memuat tanggung jawab guru dalam
merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok
kecil, yang secara sadar dan sistematis akan dapat mengembangkan interaksi untuk
mencapai tujuan pembelajaran dengan pengalaman belajar yang dapat terlihat baik
individu maupun dalam kelompok itu sendiri.
Menurut Anita Lie (2004 : 31) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatakan kepada anak didik untuk
bekerja sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur. Sedangkan menurut Muslimim
Ibrahim model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tujuan
pembelajaran penting yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman,
dana pengembangan keterampilan sosial.
B. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Kolaboratif
Sato (2007) menawarkan suatu model pembelajaran sebagai solusi, yang ia sebut
dengan pembelajaran kolaboratif. Menurutnya, pembelajaran haruslah melampaui
batas dan melompat melalui kolaborasi. Untuk mencapai target pembelajaran yang
lebih tinggi, dan juga untuk memberi kesempatan bagi setiap siswa untuk belajar secara
mendalam, terdapat satu kunci yang penting: siswa berlatih mengajukan pertanyaan pada
teman, Bagaimana saya bisa memecahkan masalah ini?. Untuk dapat menciptakan
keadaan yang membuat seorang siswa perlu bertanya kepada siswa lainnya, tingkat
materi pelajaran (masalah) yang diberikan haruslah lebih tinggi dari biasanya. Makin
mudah masalahnya menjadikan makin jarang siswa yang bertanya kepada temannya.

Untuk mereka yang berada pada kelompok bawah (kemampuan dibawah rata-rata kelas),
jika mereka tidak dapat menyelesaikan soal/masalah yang dianggap mudah untuk
kelompok atau siswa lain, mereka akan lebih cenderung untuk berusaha memecahkan
masalah dan menghadapi kesulitannya tanpa bantuan orang lain. Kalau mereka gagal,
maka mereka akan selalu tersisih dari yang lain, dan semakin tertinggal di belakang.
Terdapat cukup banyak persamaan diantara model pembelajaran kooperatif dan
kolaboratif, namun demikian terdapat juga beberapa perbedaan yang mendasar. Menurut
Choy (1999) keduanya sering dikaitkan dengan pembelajaran aktif, konstruktivisme,
pembelajaran kontekstual, dan pembelajaran sosial.
Menurut John Myres, yang dikutip oleh Ted Panitz (1996), pembelajaran
kooperatif berasal dari Amerika dari tulisan philosofi John Dewey yang menekankan sifat
dasar sosial dari pembelajaran, sedangkan pembelajaran kolaboratif berasal dari Inggris,
berdasarkan model kerja dari guru-guru Inggris dalam mengeksplorasi cara untuk
membantu siswa merespon terhadap tugas kepustakaan, dengan memberi lebih banyak
peran dalam belajar mereka sendiri.
Pendapat Matthews, et. al., yang dikutip Choy (1999) menyebutkan perbedaan
antara pembelajaran kooperatif dan kolaboratif antara lain terdapat dalam: (a) Gaya,
fungsi, dan derajat pelibatan pengajar, (b) Isu hubungan wewenang (hak dan kewajiban)
antara pengajar dan pelajar, (c) Sejauh mana pelajar perlu dilatih untuk bekerja dalam
kelompok, (d) Bagaimana pengetahuan dibangun (dibina) dan diasimilasikan, ( e) Isu-isu
implementasi yang lain, seperti pembentukan kelompok, pemberian tugas, akuntabilitas
individu dan kelompok, dan penilaian yang tepat. Sedangkan Menurur Panitz (1996)
Kolaborasi adalah falsafah dari interaksi dan gaya hidup perorangan/pribadi sedangkan
kooperasi adalah struktur dari interaksi yang dirancang untuk memfasilitasi penyelesaian
pencapaian hasil akhir atau suatu tujuan tertentu.
Sato (2007) menyebutkan pembelajaran kolaboratif berbeda dari pembelajaran
kooperatif. Perbedaan terbesar antara pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran
kooperatif adalah sebagai berikut; pembelajaran kooperatif berfokus pada kesatuan dalam
kelompok, sedang pembelajaran kolaboratif, unit yang ditekankan adalah pada setiap
individu. Tujuan dari kegiatan kelompok adalah bukan untuk mencapai kesatuan yang
didapat melalui kegiatan kelompok, namun, para siswa dalam kelompok didorong untuk
menemukan beragam pendapat atau pemikiran yang dikeluarkan oleh setiap individu

dalam kelompok. Dalam melaksanakan pembelajaran kolaboratif dalam kelompok kecil,


guru tidak boleh berusaha untuk menyatukan pendapat dan ide para siswa dalam
kelompok kecil tersebut, serta tidak boleh meminta mereka untuk menyatakan pendapat
mereka sebagai perwakilan pendapat dari kelompok, seperti yang dilakukan dalam
pembelajaran kooperatif.
Beberapa penulis menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah
satu aspek dalam pembelajaran kolaboratif, Gerlach yang dikutip oleh Dennen (2000)
menyatakan bahwa, Pengertian pembelajaran kolaboratif yang demikian menekankan
pentingnya interaksi sosial antar individu dalam kelompok untuk membangun
pemahaman atau pengetahuan setiap anggota kelompok, senada dengan pendapat Sato
dalam hal pentingnya setiap individu dalam kelompok mengajukan pertanyaan kepada
temannya.
Pada dasarnya pembelajaran kolaboratif merujuk pada suatu metoda pembelajaran
dimana siswa dari tingkat performa yang berbeda bekerja bersama dalam suatu kelompok
kecil. Setiap siswa bertanggung jawab terhadap pembelajaran siswa yang lain, sehingga
kesuksesan seorang siswa dapat membantu siswa lain untuk menjadi sukses.
Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa model
pembelajaran kolaboratif adalah suatu model pembelajaran kelompok, dimana para siswa
dalam kelompok didorong untuk saling berinteraksi dan belajar bersama untuk
meningkatkan pemahaman masing-masing. Alat yang digunakan untuk mendorong
adanya interaksi tersebut adalah materi atau masalah yang menantang. Bentuk interaksi
yang dimaksud adalah diskusi, saling bertanya dan menyampaikan pendapat atau
argumen. Langkah-langkah dalam metode pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok-kelompok.
2) Guru mengatur posisi peserta didik sedemikian rupa sehingga peserta didik
berhadap-hadapan.
3) Guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok untuk merumuskan
argumentasi-argumentasi sesuai dengan perspektif yang dikembangkannya.
4) Usai tiap-tiap kelompok berdiskusi secara internal, maka mulailah para peserta didik
dari masing-masing kelompok berdebat.
5) Setelah seorang peserta didik dari suatu kelompok menyampaikan argumentasi sesuai
pandangan yang dikembangkan kelompoknya, guru meminta peserta didik dari
kelompok lain untuk memberikan tanggapan, bantahan atau koreksi dari kelompok
lain prihal isu yang sama.

6) Melanjutkan proses ini sampai waktu yang memungkinkan.


7) Di penghujung waktu pelajaran, guru membuat evaluasi sehingga peserta didik dapat
mencari jawaban sebagai titik temu dari argumentasi-argumentasi yang telah mereka
munculkan (Agus Suprijono, 2009) dalam (Dewi Manda 2006).
Adapun beberapa kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran kooperatif menurut
Imansyah adalah sebagai berikut :
Kelebihan Pembelajaran Kooperatif
1) Kegiatan melalui sistem pengelompokkan siswa-siswa yang dilakukan secara
tepta dan wajar, akan meningkatkan kualitas secara tepat dan wajar, akan
meningkatkan kulitas kepribadian anak-anak dalam hal bekerja sama, saling
menghargai pendapat orang lain, toleransi berfikir kritis.
2) Menumbuhkan semangat persaingan yang positif dan konstruktif karena dalam
kelompoknya masing-masing siswa akan lebih giat dan sungguh-sungguh
bekerja.
Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
1) Metode ini memerlukan persiapan yang agak rumit bila dibandingkan dengan
metode-metode yang lain.
2) Bilamana terjadi persaingan yang negative baik antara individu dalam
kelompok maupun antara kelompok dengankelompok, maka hasilnya akan
menjadi lebih buruk.
3) Bila terdapat anak-anak malas yang ingin berkuasa dalam kelompok, besar
kemungkinan akan mempengaruhi peranan kelompok sehingga usaha
kelompok tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

C. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Kolaboratif Terhadap Berfikir Kritis Siswa


Berfikir kritis adalah kegiatan penggabungan antara persepsi dan unsure-unsur
yang ada dalam pikiran untuk menghasilkan pengetahuan. Berfikir dapat terjadi pada
seseorang bila ia mendapatkan rangasangan dari luar dan melalui berfikir inilah
seseorang mengatasi masalah yang dihadapinya (gede putra adyana, 2013).
Tyiler (1949 dalam henik sugyarti 2005) berpendapat bahwa pengalaman atau
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh
ketrampilan-ketrampilan dalam pemecahan masalah dapat merangsang ketrampilan

berfikir kritis siswa. Berfikir kritis merupakan suatu aktivitas evaluatife untuk
menghasilkan simpulan.
Strategi pembelajaran kolaboratif yang berbasis masalah sangat cocok digunakan
untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis, kemampuan pemecahan masalah dan
kemampuan komunikasi matematis siswa/mahasiswa dikarenakan:
1) Dalam PBL, basis dari perkuliahan adalah masalah, dan siswa/mahasiswa belajar
dalam kelompok-kelompok kecil untuk memecahkan masalah. Dalam proses
menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru/dosen, para siswa/mahasiswa
akan mengklarifikasi pemahaman mereka, mengkritisi ide/gagasan teman dalam
kelompoknya,

membuat

menyelesaikan

masalah

siswa/mahasiswa

dalam

konjektur,
yang

memilih

diberikan.

kelompoknya

strategi

penyelesaian,

Apa

yang

akan

tersebut,

akan

berakibat

dan

dilakukan
pada

meningkatnya kemampuan mahasiswa untuk berfikir kritis, menyelesaikan


masalah, dan berkomunikasi secara matematis.
2) Menggunakan strategi pembelajaran kolaboratif, mahasiswa belajar dalam
kelompok kecil untuk melampaui batas dan melompat melalui masalah atau
pertanyaan yang diberikan oleh dosen. Belajar dalam kelompok ditekankan pada
terjadinya interaksi sosial melalui diskusi/dialog, saling bertanya dan memberi
pendapat untuk meningkatkan pemahaman masing-masing. Interaksi yang
demikian ini merupakan bagian dari cara untuk meningkatkan pemahaman,
penalaran, kemampuan berfikir kritis, kemampuan pemecahan masalah, dan
kemampuan dalam komunikasi.
D. Kampuan Berfikir Kritis Siswa
Siswa sudah mampu membuat tahapan-tahapan pemecahan masalah secara
sistematis seperti yang dirumuskan dalam penelitian ini, yaitu memvisualisasi masalah,
membuat deskripsi kimia, merencanakan solusi, melaksanakan rencana, melakukan
pengecekan dan evaluasi.
Siswa memberikan respon yang sangat positif terhadap pembelajaran kooperatif
dengan strategi pemecahan masalah yang diterapkan. Siswa berpendapat bahwa
pembelajaran ini dapat menumbuhkan kerjasama, meningkatkan tanggung jawab,

menumbuhkan kesetiakawanan, memupuk sikap saling tolong menolong, mendorong dan


membantu siswa mengemukakan pendapat, memecahkan masalah secara terstruktur dan
bertahap, memudahkan memahami konsep-konsep kimia, memotivasi siswa belajar lebih
aktif baik di sekolah maupun di rumah, melatih siswa berpikir kritis, mendorong proses
belajar lebih teratur dan terstruktur, meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan
masalah, dan memudahkan memecahkan masalah. Namun demikian, siswa juga
menunjukkan kekurangan dari pembelajaran ini, antara lain memerlukan cukup banyak
waktu. Siswa berharap agar pembelajaran kooperatif dengan strategi pemecahan masalah
ini dapat diteruskan untuk mengajarkan konsep-konsep kimia yang lainnya dengan
mengadakan perbaikan terhadap-kekurangan-kekurangan yang masih dijumpai.
Aktivitas belajar siswa dalam diskusi kelompok sudah berlangsung dengan baik
dan ada peningkatan sebelumnya,. Kerjasama siswa dalam kelompok dan interaksi di
antara siswa sudah berlangsung dengan baik. Jumlah siswa yang bertanya maupun yang
menjawab pertanyaan sudah lebih banyak dan lebih merata dari siklus sebelumnya. Siswa
yang pintar sudah terlibat secara aktif membimbing temannya yang mempunya
kemampuan akademik kurang. Pada diskusi kelompok muncul beragam pendapat.
Pendapat-pendapat setiap anggota kelompok ada yang sejalan dan ada yang bertentangan.
Setiap anggota kelompok berusaha untuk memadukan pendapat-pendapat yang muncul
untuk menghasilkan pendapat terbaik bagi kelompoknya. Pada kegiatan diskusi kelas,
siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan diskusi. Hal ini tampak dari jumlah siswa yang
bertanya maupun yang menjawab pertanyaan jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
Siswa sudah berani mengemukakan pendapat dan berbeda pendapat dengan siswa
lainnya.
E. Analisis Materi Laju Reaksi
a. Pengertian Laju Reaksi
Adalah besarnya perubahan konsentrasi reaktan atau produk dalam satu satuan
waktu. Perubahan laju konsentrasi setiap unsur dibagi dengan koefisiennya dalam
persamaan yang seimbang/stoikiometri. Laju perubahan reaktan muncul dengan tanda
negatif dan laju perubahan produk dengan tanda positif.
b. Hukum Laju

Dalam membahas reaksi kesetimbangan kimia telah ditekankan bahwa reaksi ke


kanan maupun ke kiri dapat terjadi begitu produk terbentuk, produk ini dapat bereaksi
kembali menghasilkan reaktan semula. Laju bersih ialah:
Laju bersih = laju ke kanan laju ke kiri
Dapat dikatakan, pengukuran konsentrasi memberikan laju bersih, bukannya
sekedar laju ke kanan. Bagaimanapun, sesaat sebelum reaksi yang dimulai dari
reaktan murni, konsentrasi reaktan jauh lebih tinggi dibandingkan produknya
sehingga laju ke kiri dapat diabaikan. Selain itu, banyak reaksi berlangsung sempurna
(K>>1) sehingga laju yang terukur hanyalah reaksi ke kanan atau eksperimen dapat
diatur agar produknya dapat dialihkan jika terbentuk. Dalam subbab ini, persamaan
diberikan pada laju ke kanan saja.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
1) Luas Permukaan
Salah satu syarat agar reaksi dapat berlangsung adalah zat-zat pereaksi
harus bercampur atau bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen,
reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran. Bidang batas campuran
inilah yang dimaksud dengan bidang sentuh
2) Berkosentrasi
Reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar.
Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih
banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat dibanding zat yang
konsentrasinya rendah. Partikel yang susunannya lebih rapat akan lebih sering
bertumbukan dibanding dengan partikel yang susunannya renggang, sehingga
kemungkinan terjadinya reaksi makin besar. Konsentrasi mempengaruhi laju
reaksi, karena banyaknya partikel memungkinkan lebih banyak tumbukan,
seperti pada fenomena pentas musik, maka peluang untuk bersentuhan atau
bertabrakan semakin besar, dan itu membuka peluang semakin banyak
tumbukan efektif yang menghasilkan perubahan karena dalam laju reaksi
hanya tumbukan yang efektif yang menghasilkan reaksi.
Hubungan kuantitatif perubahan konsentrasi dengan laju reaksi tidak dapat
ditetapkan

dari

persamaan

reaksi,

tetapi

harus

melalui

percobaan.

Dalam penetapan laju reaksi ditetapkan yang menjadi patokan adalah laju
perubahan konsentrasi reaktan.
Orde Reaksi
Pangkat perubahan konsentrasi terhadap perubahan laju disebut
orde reaksi Ada reaksi berorde O, dimana tidak terjadi perubahan laju
reaksi berapapun perubahan konsentrasi pereaksi. Ada reaksi berorde
1, dimana perubahan konsentrasi pereaksi 2 kali menyebabkan laju
reaksi lebih cepat 2 kali. Ada reaksi berorde 2, dimana laju perubahan
konsentrasi pereaksi 2 kali menyebabkan laju reaksi lebih cepat 4
kali.
Suhu
Setiap partikel selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur,
energi gerak atau energi kinetik partikel bertambah, sehingga
tumbukan lebih sering terjadi. Dengan frekuensi tumbukan yang
semakin besar, maka kemungkinan terjadinya tumbukan efektif yang
mampu menghasilkan reaksi juga semakin besar. Suhu atau temperatur
ternyata juga memperbesar energi potensial suatu zat. Zat-zat yang
energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar menghasilkan
tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut tidak mampu
melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini
akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan
akan menghasilkan reaksi. Alasan kenaikan suhu suatu reaksi
menyebabkan nilai energi aktivasi (Ea) menjadi turun dijelaskan oleh
Svante Arheniusdengan menggunakan persamaan hubungan suhu
dengan energi aktivasi.
Pada umumnya untuk setiap kenaikan suhu 1o maka laju reaksi
menjadi 2 kali lebih cepat. Berdasarkan hal tersebut maka kecepatan
laju reaksi dapat dicari dengan cara:

Pada umumnya untuk setiap kenaikan suhu 1o maka laju reaksi


menjadi 2 kali lebih cepat. Berdasarkan hal tersebut maka kecepatan
laju reaksi dapat dicari dengan cara:

Sedangkan untuk membandingkan lama reaksi pada T2 dan T1


adalah sebagai berikut:

Katalis
Katalis dapat mempengaruhi terjadinya reaksi, tetapi pada akhir
reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan
energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan
katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan

karena zat- zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi
aktivasi.
Katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi, tetapi tidak
mengalami perubahan kimia secara permanen, sehingga pada akhir
reaksi zat tersebut dapat diperoleh kembali. Katalis mempercepat
reaksi dengan cara menurunkan harga energi aktivasi (Ea). Sedangkan
zat yang dapat memperlambat laju reaksi disebut inhibitor. Meskipun
katalis

menurunkan

energi

aktivasi

reaksi,

tetapi

ia

tidak

mempengaruhi perbedaan energi antara produk dan pereaksi. Dengan


kata lain, penggunaan katalis tidak akan mengubah entalpi reaksi.
F. Kerangka Berfikir
Ilmu Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan
eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejalagejala yang berkaitan dengan laju reaksi. Sebagian aspek kimia bersifat kasat mata
(visible), artinya dapat dibuat fakta kongkritnya dan sebagian aspek yang lain bersifat
abstrak atau tidak kasat mata (invisible), artinya tidak dapat dibuat fakta kongkritnya.
Namun demikian, aspek kimia yang tidak dapat dibuat fakta kongkritnya harus bersifat
kasat logika, artinya kebenarannya dapat dibuktikan dengan logika matematika
sehingga rasionalitasnya dapat dirumuskan atau diformulasikan (Depdiknas, 2003).
Kondisi seperti ini didasarkan pada kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar yang
selama ini rendah. Kesulitan belajar ini berpengaruh langsung terhadap hasil belajar
siswa. Untuk itu, perlu adanya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah agar
terlahirnya siwa yang memiliki daya nalar dan daya fikir yang baik, kreatif, kritis, cerdas
dalam mengomunikasikan gagasannya dan mampu memecahkan masalah-masalah yang
ada. Hal itu tentunya dapat dilakukan oleh guru sebagai pengajar dalam meningkatkan
kualitas pendidikan kimia dengan berbagai cara. Salah satunya adalah penerapan strategi
pembelajaran yang tepat agar tercipta pembelajaran yang efektif, efisien serta tercapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional


ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student center) memang tidak mudah,
terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak
perubahan/inovasi). Salah satu alternatife untuk mengatasi masalah diatas dengan
menggunakan metode pembelajaran kooperatif kolaboratif. Dalam hal ini metode
pembelajaran kooperatif kolaboratif dapat dijadikan salah satu alternatif guna mendorong
terjadinya perubahan menuju yang lebih baik yaitu untuk meningkatkan hasil belajar
siswa dan ketrampilan berfikir. model pembelajaran kolaboratif adalah suatu model
pembelajaran kelompok, dimana para siswa dalam kelompok didorong untuk saling
berinteraksi dan belajar bersama untuk meningkatkan pemahaman masing-masing. Alat
yang digunakan untuk mendorong adanya interaksi tersebut adalah materi atau masalah
yang menantang. Bentuk interaksi yang dimaksud adalah diskusi, saling bertanya dan
menyampaikan pendapat atau argumen.
G. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ho : Ada pengaruh pembelajaran kooperatif kolaboratif terhadap berpikir kritis siswa pada
materi laju reaksi
Ha : Tidak ada pengaruh pembelajaran kooperatif kolaboratif terhadap berpikir kritis siswa
pada materi laju reaksi
Ho : Ada pengaruh pembelajaran kooperatif kolaboratif terhadap pemecahan masalah pada
materi laju reaksi
Ha : Tidak ada pengaruh pembelajaran kooperatif kolaboratif pemecahan masalah siswa pada
materi laju reaksi