Anda di halaman 1dari 28

PROMOSI KESEHATAN

RANCANGAN PEMBELAJARAN DENGAN SASARAN


KOMUNITAS

Oleh :
Kelompok 9
D-IV Keperawatan Tingkat 1 Semester II

1;
2;
3;

Dewa Gede Sastra Ananta Wijaya


I Wayan Yoga Adi Purnama
I Putu Dharma Partana

(P07120214005)
(P07120214025)
(P07120214038)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB

A; PENDAHULUAN
1; KONSEP-KONSEP KUNCI
2; PETUNJUK
3; TUJUAN PEMBELAJARAN
a; Tujuan Pembelajaran Umum
b; Tujuan Pembelajaran Khusus

B; PENYAJIAN MATERI

C; TUGAS DAN LATIHAN

D; PENUTUP

1; RANGKUMAN
2; TES AKHIR BAB

Soal

Kunci Jawaban
E; DAFTAR PUSTAKA

A; PENDAHULUAN

Promosi Kesehatan menurut (WHO,1984) Pendidikan Kesehatan diartikan


sebagai upaya perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungan yang
memfasilitasi perubahan perilaku tersebut. Ottawa Charter (1986) the process
of enabling people to control over and improve their health. (Proses
pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi
kesehatannya).
Promosi Kesehatan bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan
kegiatan terdepan yang harus terpadu dengan program-program kesehatan
lainnya. Pentingnya pendekatan Promosi Kesehatan untuk setiap upaya kesehatan
yang akan menjaga keberlangsungan proses pemberdayaan sehingga masyarkat
dapatmenerima dan meneruskan kegiatan dengan sumberdaya yang dimiliki".

Sekarang promosi kesehatan ditafsirkan

dan digunakan dalam berbagai macam

cara. Bisa saja didiskripsikan sebagai proses bagi individual maupun kelompok
yang terdorong untuk menggunakan gaya hidup sehat, yang sasaran utamanya
adalah perubahan perilaku.
Kesehatan didalam hidup seseorang merupakan hal yang penting, namun
banyak orang masih belum menyadari bahwa begitu pentingnya kesehatan
didalam kehidupannya. Masyarakat memiliki hak didalam memperoleh
pelayanan kesehatan hal ini berdasarkan undang-undang dasar 1945 yang
tercantum didalam pasal 28 ayat I. Untuk itu diperlukan suatu tindakan yang
harus diambil dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Tindakan yang perlu bagi masyarakat adalah salah satunya dengan promosi
kesehatan. Promosi kesehatan yang akan diberikan kepada masyarakat harus
memiliki prinsip, metode, media juga strategi dan akan diintervensikan ketika
dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarkat.Sehingga promosi
kesehatan yang diberikan kepada masyarakat dapat dimengerti masyarakat dan

ditampilkan dalam bentuk perubahan perilaku masyarakat yang lebih baik dalam
prilaku kesehatan.
Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan masyarakat, dituntut harus
mampu memperkanalkan bagaimana cara hidup sehat dengan masyarakat dalam
lingkup kelompok atau komunitas. Oleh karena itu, kami tertarik untuk membahas
tentang Promosi kesehatan pada masyarakat ,agar nantinya dapat mengemban
tugas secara professional dalam memberikan pelayanan kesehatan pada
masyarakat.
1; Konsep-konsep Kunci
a; Pengkajian Rancangan Pembelajaran dengan Sasaran Komunitas
b; Diagnosis Keperawatan
c; Perencanaan Tindakan Keperawatan (SATPEL)
2; Petunjuk
a; Pelajari materi Bab I dengan tekun dan disiplin !
b; Penyajian setiap bab meliputi: judul bab dan konsep-konsep kunci,

c;

d;
e;
f;
g;

petunjuk,kerangka isi, tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran


khusus, paparan materi, tugas dan latihan, rangkuman, dan soal-soal akhir bab
yang disertai dengan kunci jawabn dan umpan balik untuk megetahui sejauh
mana anda anda telah menguasai materi, dan di akhir bab diberikan sumber
pendukung.
Dalam uraian materi terdapat tes sambil jalan (embedded tests). Tes ini dapat
menjadi tuntutan pembaca dalam memahami uraian bahan ajar bagian-demi
bagian. Bila anda ragu terhadap jawaban tes ini, maka ulangi lagi membaca
bagan yang belum anda pahami.
Kerjakanlah soal-soal latihan dan soal-soal akhir bab dengan tekun dan
disiplin!
Bacalah sumber-sumber pendukung untuk memperdalam pengetahuan dan
wawasan anda!
Ikuti urutan penyajian setiap bab tahap demi tahap!
Selamat belajar, semoga sukses!

3; Tujuan Pembelajaran
a; Tujuan Pembelajaran Umum

Mahasiswa mampu memahami materi tentang Rancangan Pembelajaran


dengan Sasaran Komunitas.
b; Tujuan Pembelajaran Khusus

Mahasiswa mampu memahami :


a; Menjelaskan Pengkajian Rancangan Pembelajaran dengan Sasaran
Komunitas
b; Menjelaskan Diagnosis Keperawatan
c; Menjelaskan Perencanaan Tindakan Keperawatan (SATPEL)

B; PENYAJIAN MATERI
1; Pengkajian Rancangan Pembelajaran dengan Sasaran Komunitas

Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan


sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah
kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok
yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial elkonomi,
maupun spiritual dapat ditentukan. Dalam tahap pengkajian ini terdapat 5
kegiatan, yaitu : pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, perumusan
atau penentuan masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masalah (Mubarak,
2005).
1; Tujuan Pengkajian

Tujuan Pengkajian adalah diperolehnya informasi dari individu, keluarga,


atau kelompok tentang kondisi kesehatan dan berbagai hal yang dapat
memengaruhi proses pelaksanaan pendidikan kesehatan. Informasi
tersebut diperlukan karena akan memengaruhi pemilihan materi, metode,,
dan media pendidikan kesehatan.
2; Metode
Pengamatan langsung dan wawancara serta mempelajari data yang telah
ada (medical record atau kartu rawat jalan)
3; Aspek yang dikaji
a; Riwayat Keperawatan, Informasi yang diperlukan melalui
pengkajian riwayat keperawatan merupakan hal-hal yang dapat
memengaruhi kebutuhan belajar, meliputi :
a; Usia, misalnya cara penyampaian informasi pada lansia secara
lambat dan berulang;
b; Pemahaman dan persepsi klien tentang masalah kesehatan,
misalnya tuberculosis bukan merupakan penyakit keturunan;
c; Keyakinan dan praktik tentang kesehatan, misalnya lebih
memilih dukun daripada dokter.
b; Faktor budaya. Misalnya kebiasaan makan makanan berlemak tinggi
pada suku tertentu.
c; Faktor ekonomi, Pemberian contoh dalam penyusunan menu
makanan disesuaikan dengan keadaan ekonomi klien.
d; Gaya belajar. Misalnya, beberapa klien hanya dapat menerima
informasi dengan baik jika menggunakan alat bantu atau demonstrasi

e; Faktor pendukung pada klien. Contohnya, adanya keterlibatan

keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) pada keluarga


dengan klien tuberculosis dalam kepatuhan pengobatan.
f; Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat juga digunakan untuk
mengkaji kebutuhan belajar klien antara lain:
a; Status mental, contohnya klien yang sedang tegang atau
bersedih akan sulit menerima informasi yang akan diberikan;
b; Tingkat energy dan status gizi, contohnya pada keadaan kurang
asupan makanan (malnutrisi), klien akan sulit menerima
informasi;
c; Kapasitas fisik klien untuk belajar dan untuk melakukan
aktivitas sehari-hari;
d; Kemampuan penglihatan, pendengaran, dan koordinasi otot.
4; Hasil Pengkajian
a; Ketidaksiapan untuk belajar. Beberapa klien sering tidak siap untuk
belajar. Untuk itu, perawat perlu mengkaji penyebab ketidaksiapan
belajar tersebut yang meliputi:
a; Ketidaksiapan fisik, seperti adanya kelelahan, nyeri, dan
keterbatasan pergerakan;
b; Ketidaksiapan emosi, seperti adanya kecemasan, bersedih, dan
marah;
c; Ketidaksiapan kognitif, seperti adanya pengaruh dari obat-obat
yang diminum.
b; Motivasi, Motivasi yang ada pada diri klien sangat berpengaruh
dalam kebutuhan klien untuk belajar dan mendapatkan informasi.
Perawat dapat meningkatkan motivasi klien untuk belajar dengan
cara:
a; Melakukan pendekatan persuasive kepada klien;
b; Memberikan pemahaman sesuai dengan tingkat pengetahuan
klien.
c; Tingkat kemampuan membaca. Tingkat kemampuan mambaca sangat
berpengaruh terhadap kemampuan untuk menerima informasi selama
ini. Untuk itu, perawat perlu mengkaji tingkat kemampuan membaca
klien untuk menetapkan strategi pembelajaran yang tepat.
Beberapa teori yang membahas tentang pengkajian komunitas:
1; Sanders Interactional Framework

Model ini menekankan pada proses interaksi komunitas. Model ini juga
dikenal sebagai model tiga dimensi dengan komponen pengkajian:
1; Komunitas sebagai system sosial (dimensi system)
2; Masyarakat sebagai tempat (dimensi tempat)
3; Masyarakat sebagai kumpulan/kelompok manusia (dimensi populasi)
2; Kliens interactional framework
1; Masyarakat sebagai system social
a; Pola komunikasi
b; Pengambilan keputusan
c; Hubungan dengan system lain
d; Batas wilayah
2; Penduduk dan lingkungannya
a; Karakter penduduk (demografi)
b; Faktor lingkungan, biologi dan social
c; Lingkungan psikis (nilai-2, agama, kepercayaan)
3; Community assessment wheel (community as client model)
Pada model ini terdapat 8 komponen yang harus dikaji, ditambah dengan data
inti dari masyarakat itu sendiri (community core)
1; Community core (data inti)

Aspek yang dikaji:


a; Historis dari komunitas, kaji sejarah perkembangan komunitas
b; Demografi : umur, jenis kelamin, ras, type keluarga, status
perkawinan
c; Vital statistik : angka kelahiran, angka kematian, angka kesakitan
d; Sistem nilai/norma/kepercayaan dan agama
2; Phisical environment pada komunitas
Sebagaimana mengkaji fisik pada individu. Pengkajian lingkungan
dilakukan dengan metode winshield survey atau survey dgn mengelilingi
wilayah komunitas
3; Pelayanan kesehatan dan social
Pelayanan kesehatan :
a; Hospital
b; Praktik swasta
c; Puskesmas
d; Rumah perawatan

e; Pelayanan kesehatan khusus

Perawatan di rumah
g; Counseling support services
h; Pelayanan khusus (social worker)
f;

Dari tempat pelayanan tersebut aspek yg didata:


a; Pelayanannya (waktu, ongkos, rencana kerja)
b; Sumber daya (tenaga, tempat, dana & perencanaan)
c; Karakteristik pemakai (penyebaran geografi, gaya hidup, sarana

transportasi)
d; statistik, jumlah pengunjung perhari/ minggu/bulan
e; Kecukupan dan keterjangkauan oleh pemakai dan pemberian
pelayanan
4; Ekonomi
Aspek/komponen yang perlu dikaji:
a; Karakteristik pendapatan keluarga/RT
@ rata-2 pendapatan keluarga/rumah tangga
% pendapatan kelas bawah
% keluarga mendapat bantuan social
% keluarga dengan kepala keluarga wanita
@rata-2 pendapatan perorangan
b; Karakteristik pekerjaan

@ status ketergantungan
Jumlah populasi secara umum (umur > 18 th)
% yg menganggur

% yg bekerja
% yg menganggur terselubung
Jumlah kelompok khusus
@ kategori yang bekerja, jml dan %
5; Keamanan transportasi
a; Keamanan

-Protection service
-Kwalitas udara, air bersih
b; Transportasi (milik pribadi/umum)
6; Politik & Government

-Jenjang pemerintahan
-Kebijakan Dep.Kes
7; Komunikasi
-Formal
-In formal
8; Pendidikan
a; Status pendidikan (lama sekolah, jenis sekolah, bahasa)
b; Fasilitas pendidikan (SD, SMP dll) baik di dalam maupun di luar

komunitas
9; Recreation
Menyangkut tempat rekreasi
Kerangka pengkajian profile masyarakat (modifikasi) Pengkajian ini
merupakan hasil modifikasi dari beberapa teori sebelumnya tentang pengkajian
komunitas
1; Pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai
masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat ditentukan tindakan yang
harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik,

psikologis, sosial ekonomi dan spiritual serta faktor lingkungan yang


mempengaruhi (Mubarak, 2005).
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1; Wawancara atau anamnesa

Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk tanya


jawab antara perawat dengan pasien atau keluarga pasien, masyarakat
tentang hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan pasien. Wawancara
harus dilakukan dengan ramah, terbuka, menggunakan bahasa yang
sederhana dan mudah dipahami oleh pasien atau keluarga pasien, dan
selanjutnya hasil wawancara atau anamnesa dicatat dalam format proses
keperawatan (Mubarak, 2005).
2; Pengamatan
Pengamatan dalam keperawatan komunitas dilakukan meliputi aspek fisik,
psikologis, perilaku dan sikap dalam rangka menegakkan diagnosa
keperawatan. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan panca indera
dan hasilnya dicatat dalam format proses keperawatan (Mubarak, 2005).
3; Pemeriksaan fisik
Dalam keperawatan komunitas dimana salah satunya asuhan keperawatan
yang diberikan adalah asuhan keperawatan keluarga, maka pemeriksaan
fisik yang dilakukan dalam upaya membantu menegakkan diagnosa
keperawatan dengan cara Inspeksi, Perkusi, Auskultasi dan Palpasi
(Mubarak, 2005).
2; Pengolahan data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data
dengan cara sebagai berikut :
1; Klasifikasi data atau kategori data
2; Penghitungan prosentase cakupan
3; Tabulasi data
4; Interpretasi data
3; Analisis data

Analisis data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan


menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga
dapat diketahui tentang kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh

masyarakat apakah itu masalah kesehatan atau masalah keperawatan


(Mubarak, 2005).
4; Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan

Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan


keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan
yang selanjutnya dilakukan intervensi. Namun demikian masalah yang
telah dirumuskan tidak mungkin diatasi sekaligus. Oleh karena itu
diperlukan prioritas masalah (Mubarak, 2005)
5; Prioritas masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan
keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria
diantaranya adalah (Mubarak, 2005):
1; Perhatian masyarakat
2; Prevalensi kejadian
3; Berat ringannya masalah
4; Kemungkinan masalah untuk diatasi
5; Tersedianya sumberdaya masyarakat
6; Aspek politis

Seleksi atau penapisan masalah kesehatan komunitas menurut format


Mueke (1988) mempunyai kriteria penapisan, antara lain:
1; Sesuai dengan peran perawat komunitas
2; Jumlah yang beresiko
3; Besarnya resiko
4; Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan
5; Minat masyarakat
6; Kemungkinan untuk diatasi
7; Sesuai dengan program pemerintah
8;
9;
10;
11;
12;

Sumber daya tempat


Sumber daya waktu
Sumber daya dana
Sumber daya peralatan
Sumber daya manusia

2; Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan baik


yang aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah masalah yang diperoleh
pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah yang
mungkin timbul kemudian. Jadi diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan
yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan yang dapat
diatasi dengan tindakan keperawatan. Dengan demikian diagnosis keperawatan
ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa keperawatan akan
memberi gambaran masalah dan status kesehatan masyarakat baik yang nyata
(aktual), dan yang mungkin terjadi (Mubarak, 2009).
a; Tujuan: dirumuskannya masalah yang dihadapi klien dengan pendidikan

kesehatan yang diberikan


b; Metode: analisis data (informasi) berdasarkan hasil pengkajian.
c; Rumusan diagnosis keperawatan: berkaitan dengan kebutuhan belajar
secara umum, dapat dikelompokkan dalam kategori diagnosis yang
didasarkan pada respons klien dan etiologi.
Diagnosis keperawatan mengandung komponen utama yaitu :
1; Problem

atau masalah : problem merupakan kesenjangan atau


penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya terjadi
2; Etiologi atau penyebab : menunjukkan penyebab masalah kesehatan atau
keperawatan yang dapat memberikan arah terhadap intervensi
keperawatan, yang meliputi :
a; Perilaku individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
b; Lingkungan fisik, biologis, psikologis, dan social
c; Interaksi perilaku dan lingkungan
3) Symptom atau gejala :
a; Informasi yang perlu untuk merumuskan diagnose
b; Serangkaian petunjuk timbulnya masalah

Perumusan diagnosis keperawatan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :


1) Dengan rumus PES

Rumus : DK = P + E + S
DK : Diagnosis keperawatan
P : Problem atau masalah
E : Etiologi
S : Symptom atau gejala
2) Dengan rumus PE
Rumus : DK = P + E
DK : Diagnosis keperawatan
P : Problem atau masalah
E : Etiologi
Jadi, menegakkan diagnosis keperawatan minimal harus mengandung 2
komponen tersebut diatas, disamping mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut :
1) Kemampuan masyarakat untuk menanggulangi masalah
2) Sumber daya yang tersedia dari masyarakat
3) Partisipasi dan peran serta masyarakat
Sedangkan diagnosis keperawatan komunitas menurut Mueke, 1984 terdiri
dari :
1) Masalah sehat sakit
2) Karakteristik populasi
3) Karakteristik lingkungan (epidemiologi triangle)
Logan & Dawkins, 1986. Dalam bukunya : Family centered Nursing in the
COMMUNITY
6; Diagnosis resiko

:.(masalah)
7; Diantara
:.(community)
8; Sehubungan dengan :.(karakteristik community
dan lingkungan)
9; Yang dimanifestasikan oleh/didemonstrasikan oleh.. :(indikator kesehatan/
analisa data)
3. PERENCANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1) Pengertian Perencanaan Keperawatan

Perencanaan

keperawatan

adalah

penyusunan

rencana

tindakan

keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan


diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya
kebutuhan pasien (Pusdiklat DJJ Keperawatan). Jadi perencanaan asuhan
keperawatan kesehatan masyarakat disusun berdasarkan diagnosa keperawatan
yang telah ditetapkan dan rencana keperawatan yang disusun harus mencakup
perumusan tujuan, rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan dan
kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2005).
Rencana tindakan keperawatan komunitas dirumuskan bersama-sama
dengan warga setempat pada waktu pelaksanaan Musyawarah Masyarakat Desa
(MMD) di tingkat RT dan tingkat Desa. Pada proses ini diperoleh kesepakatan
dengan warga yang meliputi waktu, tempat dan penanggung jawab setiap
kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan yang direncanakan untuk mengatasi
masalah kesehatan yang muncul antara lain : upaya meningkatkan pengetahuan
masyarakat melalui pelaksanaan pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang
masalah yang muncul di masyarakat, selain itu juga dilakukan upaya
pemberdayaan masyarakat melalui pelaksanaan kegiatan kebersihan lingkungan
yang akan dilaksanakan di setiap RT.
Dalam proses perencanaan tindakan keperawatan komunitas ini
mahasiswa masih mendapatkan beberapa faktor pendukung dan penghambat
antara lain:
1. Faktor pendukung.
Faktor pendukung yang dalam hal ini yaitu sebagian besar warga sudah
mempunyai kegiatan yang terjadwal sehingga dapat digunakan untuk tempat
memberikan penyuluhan kesehatan, antusias warga yang baik untuk melakukan
kegiatan kebersihan lingkungan dapat mempermudah proses perencanaan
kegiatan, selain itu jadwal kegiatan Posyandu yang ada dapat mempermudah
dalam menentukan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan yang akan
dilaksanakan.
2. Faktor penghambat.
Kurangnya pemahaman warga tentang pendanaan kegiatan yang akan
dilaksanakan membuat warga kurang termotivasi untuk menyampaikan pendapat

tentang rencana yang akan dilakukan. Masih banyak warga yang kurang bisa
menggunakan bahasa Indonesia yang baik sehingga mahasiswa sulit memahami
arah pembicaraan warga, dan begitu pula sebaliknya, hal ini disebabkan.
2) Strategi intervensi dan Pengorganisasian Masyarakat
Strategi intervensi keperawatan komunitas adalah:
1; Kemitraan (partnership)
Kemitraan memiliki definisi hubungan atau kerja sama antara dua pihak
atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau
memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Perawat spesialis komunitas perlu
membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu mekanisme
peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi implementasi PKP. Anderson dan McFarlane (2000)
dalam hal ini mengembangkan model keperawatan komunitas yang memandang
masyarakat sebagai mitra (community as partner model). Fokus dalam model
tersebut menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan komunitas,
yaitu (1) lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan
anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan, dan (2)
proses keperawatan.
Asumsi dasar mekanisme kolaborasi perawat spesialis komunitas dengan
masyarakat tersebut adalah hubungan kemitraan yang dibangun memiliki dua
manfaat sekaligus yaitu meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dan
keberhasilan program kesehatan masyarakat (Kreuter, Lezin, & Young, 2000).
Mengikutsertakan masyarakat dan partisipasi aktif mereka dalam pembangunan
kesehatan dapat meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi
profesi kesehatan dengan masyarakat (Schlaff, 1991; Sienkiewicz, 2004).
Dukungan dan penerimaan tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatnya
sumber daya masyarakat yang dapat dimanfaatkan, meningkatnya kredibilitas
program kesehatan, serta keberlanjutan kemitraan perawat spesialis komunitas
dengan masyarakat (Bracht, 1990).
Kemitraan dalam PKP dapat dilakukan perawat komunitas melalui upaya
membangun dan membina jejaring kemitraan dengan pihak-pihak yang terkait
(Robinson, 2005) dalam upaya penanganan pada baik di level keluarga,
kelompok, maupun komunitas.

Pihak-pihak tersebut adalah profesi kesehatan lainnya, stakes holder


(Puskesmas, Dinas Kesehatan Kota, Departemen Kesehatan, Departemen Sosial,
Pemerintah Kota), donatur/sponsor, sektor terkait, organisasi masyarakat (TPPKK, Lembaga Indonesia/LLI, Perkumpulan , atau Klub Jantung Sehat Yayasan
Jantung Indonesia), dan tokoh masyarakat setempat.
2; pemberdayaan (empowerment)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses
pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif
kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide
baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru (Hitchcock,
Scubert, & Thomas, 1999). Pemberdayaan, kemitraan dan partisipasi memiliki
inter-relasi yang kuat dan mendasar. Perawat spesialis komunitas ketika menjalin
suatu kemitraan dengan masyarakat maka dirinya juga harus memberikan
dorongan kepada masyarakat.
Kemitraan yang dijalin memiliki prinsip bekerja bersama dengan
masyarakat bukan bekerja untuk masyarakat, oleh karena itu perawat spesialis
komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat
agar muncul partisipasi aktif masyarakat (Yoo et. al, 2004). Membangun
kesehatan masyarakat tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan
kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi masyarakat (Nies & McEwan, 2001).
Kemandirian

agregat

dalam

PKP

berkembang

melalui

proses

pemberdayaan. Tahapan pemberdayaan yang dapat dilalui oleh agregat


(Sulistiyani, 2004), yaitu:
a; Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan
peduli sehingga merasa membutuhkan kemampuan dalam mengelola secara
mandiri. Dalam tahap ini, perawat komunitas berusaha mengkondisikan
lingkungan yang kondusif bagi efektifitas proses pemberdayaan agregat .
b; Tahap transformasi kemampuan berupa pengetahuan dan ketrampilan dalam
pengelolaan secara mandiri agar dapat mengambil peran aktif dalam
lingkungannya. Pada tahap ini agregat memerlukan pendampingan perawat
komunitas.
c; Tahap peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sehingga terbentuk inisiatif
dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemandirian mengelola.
Pada tahap ini dapat melakukan apa yang diajarkan secara mandiri.

3; Pendidikan kesehatan
Strategi utama upaya prevensi terhadap kejadian adalah dilakukannya
kegiatan

pendidikan

meningkatkan

derajat

kesehatan.
kesehatan

Pendidikan
dan

kesehatan

mengurangi

bertujuan

untuk

disabilitas

serta

mengaktualisasikan potensi kesehatan yang dimiliki oleh individu, keluarga,


kelompok, dan masyarakat (Swanson & Nies, 192011).
Pendidikan kesehatan dapat dikatakan efektif apabila dapat menghasilkan
perubahan pengetahuan, menyempurnakan sikap, meningkatkan ketrampilan, dan
bahkan mempengaruhi perubahan di dalam perilaku atau gaya hidup individu,
keluarga, dan kelompok (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002). Pendidikan
kesehatan diharapkan dapat mengubah perilaku untuk patuh terhadap saran
pengelolaan secara mandiri.
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan secara individu, kelompok,
maupun komunitas. Upaya pendidikan kesehatan di tingkat komunitas penting
dilakukan dengan beberapa alasan, yaitu: individu akan mudah mengadopsi
perilaku sehat apabila mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya terutama
dukungan keluarga, intervensi di tingkat komunitas dapat mengubah struktur
sosial yang kondusif terhadap program promosi kesehatan, unsur-unsur di dalam
komunitas dapat membentuk sinergi dalam upaya promosi kesehatan (Meillier,
Lund, & Kok, 1996).
Intervensi keperawatan melalui pendidikan kesehatan untuk menurunkan
risik dan komplikasinya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: (1)
pencegahan primer, (2) pencegahan sekunder, dan (3) pencegahan tersier.
Pendidikan kesehatan dalam tahap pencegahan primer bertujuan untuk
menurunkan risiko yang dapat mengakibatkan . Pendidikan kesehatan dalam
tahap pencegahan sekunder bertujuan untuk memotivasi kelompok berisiko
melakukan uji skrining dan penatalaksanaan gejala yang muncul, sedangkan pada
tahap pencegahan tersier, perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan yang
bersifat readaptasi, pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi terulang
dan memelihara stabilitas kesehatan .
4; Proses kelompok
Proses kelompok merupakan salah satu strategi intervensi keperawatan
yang dilakukan bersama-sama dengan masyarakat melalui pembentukan sebuah
kelompok atau kelompok swabantu (self-help group). Intervensi keperawatan di

dalam tatanan komunitas menjadi lebih efektif dan mempunyai kekuatan untuk
melaksanakan perubahan pada individu, keluarga dan komunitas apabila perawat
komunitas bekerja bersama dengan masyarakat. Berbagai kelompok di
masyarakat dapat dikembangkan sesuai dengan inisiatif dan kebutuhan
masyarakat setempat, misalnya Posbindu, Bina Keluarga , atau Karang . Kegiatan
pada kelompok ini disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai
oleh agar dapat mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan
produktif selama mungkin (Depkes RI, 1992).
Menurut penelitian, yang mengikuti secara aktif sebuah kelompok sosial
dan menerima dukungan dari kelompok tersebut akan memperlihatkan kondisi
kesehatan fisik dan mental yang lebih baik daripada yang lebih sedikit
mendapatkan dukungan kelompok (Krause, 192011). Bentuk dukungan kelompok
ini juga terkait dengan rendahnya risiko morbiditas dan mortalitas (Berkman,
Leo-Summers, & Horwitz, 1992). Meskipun penjelasan risiko morbiditas dan
mortalitas tersebut tidak lengkap dikemukakan, beberapa laporan menekankan
bahwa dukungan yang diterimadapat meningkatkan pemanfaatan dan kepatuhan
individu terhadap pelayanan yang diinginkan dengan mengikuti informasi yang
diberikan, ikut serta dalam kelompok dan meningkatkan perilaku mencari
bantuan kesehatan (Cohen, 1988).
Berdasarkan strategi intervensi yang telah ditentukan oleh perawat
komunitas seperti tersebut di atas, selanjutnya dilakukan pengorganisasian
masyarakat. Pengorganisasian masyarakat sebagai suatu proses merupakan
sebuah perangkat perubahan komunitas yang memberdayakan individu dan
kelompok berisiko (agregat) dalam menyelesaikan masalah komunitas dan
mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Menurut Helvie (1998), terdapat tiga
model pengorganisasian masyarakat yaitu:
a; Model pengembangan masyarakat (locality development)
Model pengembangan masyarakat didasarkan pada upaya untuk
memaksimalkan perubahan yang terjadi di komunitas, di mana masyarakat
dilibatkan dan berpartisipasi aktif dalam menentukan tujuan dan pelaksanaan
tindakan. Tujuan dari model pengembangan masyarakat adalah (1) agar individu
dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan-serta aktif dalam setiap
tahapan proses keperawatan, dan (2) perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan
tindakan) dan kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya
peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatannya di masa

mendatang (Nies & McEwan, 2001; Green & Kreuter, 1991). Sejalan dengan
Mapanga dan Mapanga (2004) tujuan dari proses keperawatan komunitas pada
adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional agregat melalui
pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri.
Pengembangan kognisi dan kemampuan agregat difokuskan pada
dayaguna aktifitas kehidupan, pencapaian tujuan, perawatan mandiri, dan
adaptasi terhadap permasalahan kesehatan sehingga akan berdampak pada
peningkatan partisipasi aktif .
b; Model perencanaan sosial (social planning)
Model perencanaan sosial dalam pengelolaan agregat lebih menekankan
pada teknik menyelesaikan masalah kesehatan agregat dari pengelola program di
birokrasi, misalnya Dinas Kesehatan atau Puskesmas. Kegiatan bersifat kegiatan
top-down planning. Tugas perencana program kesehatan adalah menetapkan
tujuan kegiatan, menyusun rencana kegiatan, dan mensosialisasikan rencana
tindakan kepada masyarakat. Perencana program harus memiliki kemampuan dan
ketrampilan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks termasuk
kemampuan untuk mengorganisasikan lintas sektor terkait.
c; model aksi sosial (social action)
Model aksi sosial menekankan pada pengorganisasian masyarakat untuk
memperjuangkan isu-isu tertentu terkait dengan permasalahan yang sedang
dihadapi agregat , misalnya kampanye gaya hidup sehat untuk mencegah
penyakit diabetes. Tingkat dan bentuk intervensi keperawatan komunitas.
(Hitchcock, Schubert, & Thomas 1999; Helvie, 1998).

3) Bentuk intervensi keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat


komunitas terdiri dari:
1. Observasi.
Observasi diperlukan dalam pelaksanaan keperawatan . Observasi
dilakukan sejak pengkajian awal dilakukan dan merupakan proses yang
terus menerus selama melakukan kunjungan (Hitchcock, Schubert &
Thomas, 1999). Lingkungan yang perlu diobservasi yaitu keadaan, kondisi
rumah, interaksi antar keluarga, tetangga dan komunitas. Observasi
diperlukan untuk menyusun dan mengidentifikasi permasalahan yang
terjadi.

2. Terapi modalitas.
Terapi modalitas adalah suatu sarana penyembuhan yang
diterapkan pada dengan tanpa disadari dapat menimbulkan respons tubuh
berupa energi sehingga mendapatkan efek penyembuhan (Starkey, 2004).
Terapi modalitas yang diterapkan pada, yaitu: manajemen nyeri, perawatan
gangren, perawatan luka baru, perawatan luka kronis, latihan peregangan,
range of motion, dan terapi hiperbarik.
3. Terapi komplementer (complementary and alternative medicine/
CAM).
Terapi komplementer adalah penyembuhan alternatif untuk
melengkapi atau memperkuat pengobatan konvensional maupun biomedis
(Cushman & Hoffman, 2004; Xu, 2004) agar bisa mempercepat proses
penyembuhan.

Pengobatan

konvensional

(kedokteran)

lebih

mengutamakan penanganan gejala penyakit, sedangkan pengobatan alami


(komplementer) menangani penyebab penyakit serta memacu tubuh
sendiri untuk menyembuhkan penyakit yang diderita (Sustrani, Alam &
Hadibroto, 2005).
Ranah terapi komplementer dan bentuk-bentuk terapi komplementer
(Cushman & Hoffman, 2004):
1. Pengobatan alternative : Terapi herbal, akupunktur, pengobatan
herbal Cina
2. Intervensi tubuh dan pikiran : Meditasi, hipnosis, terapi perilaku,
relaksasi Benson, relaksasi progresif, guided imagery, pengobatan
mental dan spiritual
3. Terapi bersumber bahan organik : Terapi diet , terapi jus, pengobatan
orthomolekuler (terapi megavitamin), bee pollen, terapi lintah, terapi
larva
4. Terapi pijat, terapi gerakan somatis, dan fungsi kerja tubuh : Pijat
refleksi, akupresur, perawatan kaki, latihan kaki, senam

5. Terapi energi : Qigong, reiki, terapi sentuh, latihan seni pernafasan


tenaga dalam, Tai Chi
6. Bioelektromagnetik : Terapi magnet
Bentuk intervensi terapi modalitas dan komplementer memerlukan
kajian dan pengembangan yang disesuaikan dengan peran dan fungsi
perawat, terutama pada agregat .
4) Contoh perencanaan keperawatan
1. Perumusan Tujuan
Dalam perumusan tujuan harus memenuhi criteria sebagai berikut:
a. berfokus pada masyarakat
b. jelas dan singkat
c. dapat diukur dan diobservasi
d. realistic
e. ada target waktu
f. melibatkan peran serta masyarakat
Dalam pencapaian tujuan dengan menggunakan formulasi criteria yang
mencakup:
T= S + P + K.1 + K.2
Keterangan:
S : subjek
P : predikat
K.1 : kondisi
K.2 : kriteria
Selain itu dalam perumusan tujuan:
Dibuat berdasarkan goal = sasaran dibagi hasil akhir yang
diharapakan
Perilaku yang diharapkan berubah

S : spesifik
M : measurable atau dapat diukur
A : attainable atau dapat dicapai
R : relevant / realistic atau sesuai
T : time-bound atau waktu tertentu
S : sustainable atau berkelanjutan
Contoh:
Goal dan Tujuan
Nama komuniti :
Masalah :
Goal :
No Tanggal diterapkan Tujuan Tanggal dicapai
Contoh kasus:
Mahasiswa poltekkes Denpasar melaksanakan praktek keperawatan
komunitas di desa sraya kabupaten Karangasem membuat jamban umum
melalui swadaya masyarakat secara gotong royong dalam waktu 1,5 bulan
Jadi kaitan dengan rumus di atas dapat diketahui bahwa:
Subjek : mahasiswa akper gersik
Predikat : membuat jamban umum
Kondisi : swdaya dan gotong royong
Criteria : waktu 1,5 bulan
2. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan kesehatan masyarakat:
a; Identifikasi alternatif tindakan keperawatan

b; Tetapkan teknik dan prosedur yang akan digunakan


c; Melibatkan peran serta masyarakat dalam menyusun perencanaan

melalui kegiatan musyawarah masyarakat desa atau lokakarya mini


d; Pertimbangkan sumberdaya masyarakat dan fasilitas yang tersedia
e; Tindakan yang akan dilaksanakan harus dapat memenuhi
kebutuhan yang sangat dirasakan masyarakat.
f; Mengarah kepada tujuan yang akan dicapai
g; Tindakan harus bersifat realistic
h; Disusun secara berurutan
3. Kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan
Penentuan kriteria dalam perancanaan keperawatan komunitas
adalah sebagai berikut:
a. Menggunakan kata yang tepat
b. Dapat dimodifikasikan
c. Bersifat spesifik
Siapa yang melakukan?
Apa yang dilakukan?
Di mana dilakukan?
Kapan dilakukan?
Bagaimana melakukan?
Frekuensi melakukan?
Contoh kasus:
Mahasiswa Poltekkes Denpasar melakukan praktek keperawatan
komunitas di Desa Seraya Kabupaten Karangasem membuat jamban
umum melalui swadaya masyarakat secara gotong royong dalam waktu 1,5
bulan.
Dari contoh di atas, maka rencana tindakan yang dibuat adalah:
a; Mahasiswa memberikan penyuluhan kesehatan masyarakat
dengan topic Pentingnya Jamban Bagi Kesehatan Masyarakat
sebanyak 4 kali sesuai dengan schedule kegiatan (setiap hari senin
di balai desa).
b; Mahasiswa melakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh
masyarakat baik formal maupu informal untuk mengalang
dukungan.
c; Mahasiswa melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat
dalam menggalang dana untuk pembuatan jamban umum melalui

Dana Upaya Kesehatan Masyarakat (DUKM) yang ada atau iuran


desa.
d; Mahasiswa menetapkan waktu peresmian pembuatan jamban
umum oleh kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat yang lain.
e; Melalui tokoh-tokoh masyarakat formal maupun informal
menghimbau dan mengajak masyarakat secara gotong-royong
membangun jamban umum
Kerjasama dengan instansi terkait untuk mendapatkan bantuan teknis pembuatan
jamban umum yang emnuhi syarat kesehatan (tenaga sanitarian)

C; TUGAS DAN LATIHAN


1; Mubarak membagi tahap pengkajian yaitu, kecuali ?
a; Pengumpulan data
b; Pengolahan data
c; Analisis data

d; Penulisan Masalah
e; Penentuan masalah
2; Pemeriksaan fisik yang digunakan untuk mengkaji kebutuhan belajar klien

antara lain, kecuali ?


a; Pemahaman
b; Status Mental dan Status Gizi
c; Penglihatan
d; Pendengaran
e; Koordinasi Otot
3; Teori yang membahas tentang pengkajian komunitas mengenai Komunitas
sebagai system sosial (dimensi system),Masyarakat sebagai tempat (dimensi
tempat) dan Masyarakat sebagai kumpulan/kelompok manusia (dimensi
populasi) adalah teori?
a; Community assessment wheel (community as client model)
b; Kliens interactional framework
c; Sanders Interactional Framework
d; Community core (data inti)
e; Phisical environment pada komunitas
4; Aspek yang dikaji pada Community core (data inti) adalah, kecuali ?
a; Historis
b; Hukum
c; Demografi
d; Vital Statistik
e; Nilai Agama
5; Perumusan diagnosis keperawatan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu ...
a; PES dan PAK
b; PAK DAN PE
c; PES dan PE
d; PAB dan PES
e; PES dan PEB
6; Menurut Mubarak (2009) diagnosa keperawatan akan memberi gambaran

masalah dan status kesehatan masyarakat baik jika berupa?


a; Aktual, dan yang mungkin terjadi
b; Nyata dan tidak mungkin terjadi
c; Mungkin terjadi dan opini
d; Opini dan aktual
e; Semua jawaban salah

7; Seleksi atau penapisan masalah kesehatan komunitas menurut format Mueke

(1988) mempunyai kriteria penapisan yang berjumlah..


a; 11
b; 12
c; 13
d; 14
e; 15
8; Model pengembangan masyarakat didasarkan pada upaya untuk...
a; memaksimalkan perubahan yang terjadi di komunitas
b; memaksimalkan seluruh keluarga yang ada di suatu desa
c; memaksimalkan bantuan bantuan yang disalurkan ke desa itu
d; membuat pengembangan terhadap sumberdaya kesehatan
e; semua benar
9; Terapi komplementer adalah penyembuhan alternatif untuk...
a; melengkapi atau memperkuat pengobatan konvensional maupun

biomedis
b; memperbaiki sistem pengorganisasian di desa yang terbelakang
c; memantau perkembangan suatu desa
d; memperbaiki struktural desa
e; meningkatkan keselamatan bayi
10; Dalam perumusan tujuan harus memenuhi criteria sebagai berikutkecuali..
a; berfokus pada masyarakat
b; jelas dan singkat
c; dapat diukur dan diobservasi
d; realistic
e; mudah di terapkan

DAFTAR PUSTAKA
Efendi,Ferry.2009.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Erna,Fauziana. Makalah Pendekatan Dalam Promosi Kesehatan. (Online).


Available:http://www.academia.edu/7857490/MAKALAH_PENDEKATAN
_DALAM_PROMOSI_KESEHATAN (diakses pada tanggal 28 April 2015
pukul 21.00 WITA)
Endah Nurhidayah, Rika. 2009. Pendidikan Keperawatan. (online). Available :
http://usupress.usu.ac.id/files/Pendidikan
%20Keperawatan_Final_Normal_Web.pdf (diakses pada tanggal 28 April
2015 pukul 20.25 WITA)
Soerya,

2012.

Rencana

keperawatan

komunitas.

(Online).

Available

http://soeryaciputra.blogspot.com/2012/09/rencana-keperawatan-komunitas.html
Sinta,

2011.

Perawat

komunitas.

(online).

Available : http://andaners.wordpress.com/2010/11/16/perawat-komunitas-sebagaiperawat-edukator-diabetes/. Diakses 20 Januari 2011

Beri Nilai