Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: An. A

Umur

: 2 tahun 3 bulan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

:-

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Rowo Sari kec Tembalang Semarang

Nama Ayah

: Tn. S

Umur

: 32 tahun

Pekerjaan

: Buruh

Pendidikan

: SD

Nama Ibu

: Ny. R

Umur

: 29 tahun

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Bangsal

: Parikesit

Masuk RS

: 22 April 2013

No. RM

: 238960

B. DATA DASAR
Anamnesis
Dilakukan allo-anamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 23 April 2013 pukul 13:00
WIB di ruang Parikesit dan didukung dengan catatan medis.
Keluhan utama

: Sesak nafas

Keluhan Tambahan

: Batuk, pilek, demam

Riwayat Penyakit Sekarang


Sebelum Masuk Rumah Sakit
Tiga hari sebelum masuk rumah sakit pasien batuk berdahak, dahaknya tidak bisa
dikeluarkan, tidak berdarah, tidak ngekel, tidak begitu sering dan waktunya tidak
menentu, bisa pagi, siang, sore atau malam. Pasien juga pilek.Tidak panas, tidak sesak
napas, hidung tidak kembang kempis, tidak muntah, makan dan minum seperti biasa,
berak dan kencing tidak ada keluhan.
Dua hari sebelum masuk rumah sakit demam tinggi terus-menerus tetapi tidak
menggigil, tidak mengigau dan tidak kejang. Batuk bertambah parah, ngekel, tapi dahak
sulit dikeluarkan, pilek dengan sekret kuning kental. Pasien juga mengalami sesak napas,
hidung pasien tampak kembang-kempis dan berbunyi grok-grok saat bernapas. Sesak
tidak dipengaruhi oleh aktifitas anak, tidak terlihat kebiruan di bibir dan ekstremitas.
Diberi obat penurun panas dan batuk oleh orangtuanya tetapi keluhan tidak berkurang.
Makan dan minum berkurang, berak dan kencing tidak ada keluhan.
Tiga jam sebelum masuk RS, batuk dan sesak nafas bertambah parah,tampak megapmegap dan hidung pasien kembang kempis, pasien masih demam (37,8oC axilla), Tidak
muntah, tidak mencret, Anak terlihat gelisah dan rewel ,tidak mau makan minum lagi
maka oleh orang tuanya dibawa ke RSU kota Semarang dan oleh dokter disarankan untuk
rawat inap

Setelah masuk rumah sakit :


Setelah 1 hari perawatan di RS Panas masih tinggi, ,Sesak napas sudah berkurang,
hidung tidak terlalu kembang kempis seperti kemarin,napas grok-grok mulai
berkurang, namun pasien masih batuk dan pilek dengan dahak yang sulit keluar.
Mau makan dan minum walaupun sedikit.
Riwayat Penyakit Dahulu

Ibu pasien mengaku pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya

Riwayat tersedak disangkal

Riwayat terpapar dengan asap rokok ayah pasien diakui

Riwayat sesak napas sebelumnya disangkal, sesak napas dengan bunyi ngik-ngik
disangkal

Riwayat batuk-batuk lama dan minum obat selama 6 bulan disangkal ibu pasien

Penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien adalah batuk, pilek tetapi tidak
sesak dan tidak sampai dirawat di rumah sakit atau balai pengobatan.

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat batuk-batuk lama yang tidak sembuh-sembuh dan dalam pengobatan 6

bulan didalam keluarga, disangkal


Riwayat penyakit asma dalam keluarga disangkal

Riwayat Persalinan dan Kehamilan


Anak laki-laki lahir dari ibu G2 P2 A0 hamil 39 minggu, lahir secara spontan
ditolong oleh bidan, anak lahir langsung menangis, berat badan lahir 2700 gram,
panjang badan, lingkar kepala saat lahir dan lingkar dada saat lahir ibu lupa.
Kesan: neonates aterm, lahir spontan, vigorous baby

Riwayat Pemeliharaan Pre-natal


Ibu memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan puskesmas secara teratur,
mulai saat mengetahui kehamilan hingga usia kehamilan 8 bulan, dilakukan rutin
pemeriksaan satu bulan sekali. Saat usia kehamilan 8 bulan hingga lahir pemeriksaan
dilakukan 2 minggu sekali.
Selama ibu hamil, ibu mendapat imunisasi TT sebanyak 2 kali dibidan. Ibu tidak
pernah menderita penyakit selama kehamilan. Riwayat perdarahan saat hamil dan
mengkonsumsi obat tanpa resep dari dokter maupun jamu-jamuan saat hamil
disangkal. Ibu hanya minum obat penambah darah dan vitamin yang diberi oleh bidan
puskesmas
Kesan : Riwayat pemeliharaan prenatal baik

Riwayat Pemeliharaan Post-natal


Pemeliharaan post natal dilakukan di posyandu dan anak dalam keadaan sehat.
Kesan: riwayat pemeliharaan post natal baik
Riwayat perkembangan dan pertumbuhan anak
Pertumbuhan :
Berat badan lahir 2700 gram, berat badan sekarang 10,5 kg. panjang badan lahir ibu
lupa, panjang badan sekarang 83 cm.
Perkembangan
Senyum
: ibu lupa
Miring
: ibu lupa
Tengkurap : 4 bulan
Gigi keluar : ibu lupa
Duduk
: 6 bulan
Merangkak : 6 bulan
Berdiri
: 10 bulan
Berjalan
: 12 bulan
Berlari
: ibu lupa
Bicara
: 12 bulan
4

Melompat

: ibu lupa

Saat ini anak berusia 2 tahun 2 bulan, tidak ada gangguan dalam mental dan emosi.
Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan umur
Riwayat Makan dan Minum Anak :
Ibu mengaku anak masih diberi ASI sampai sekarang usia 15 bulan. Anak mendapat
ASI ekslusif sampai umur 6 bulan. Setelah usia 6 bulan ibu memberi ASI dan bubur
susu. Mulai usia 12 bulan, anak diberi nasi dan sayur sop serta lauk (ikan, telur,
tempe, tahu, dll).
Kesan : Kualitas dan kuantitas makanan dan minum baik.

Riwayat Imunisasi
Hep B

: 3x, usia 0, 1, 6 bulan

BCG

: 1x, usia 1 bulan, scar (+)

DPT

: 3x, usia 2, 4, 6 bulan

Polio

: 4x, usia 0, 2, 4, 6 bulan

Campak

: 1x, usia 9 bulan

Kesan : imunisasi dasar sesuai dengan umur dan tepat waktu

Riwayat KB
Ibu pasien mengikuti program KB suntik setiap 3 bulan sekali

Riwayat Sosial Ekonomi

Ayah pasien bekerja sebagai buruh dengan penghasilan tiap bulan kurang lebih
1.00.000 sedangkan Ibu pasien adalah ibu rumah tangga. Menanggung 2 orang anak.
Biaya pengobatan menggunakan Jamkesmas.
Kesan: sosial ekonomi kurang.
Data Keluarga
DATA KELUARGA

AYAH

IBU

Perkawinan ke

Umur saat menikah

24 tahun

21 tahun

Agama

Islam

Islam

Pendidikan terakhir

SD

SD

Keadaan kesehatan

sehat

sehat

Data Perumahan
Kepemilikan rumah : rumah sendiri
Keadaan rumah : dinding rumah tembok, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi di dalam
rumah, dekat dengan kamar dan dapur. Setiap ruangan terdapat jendela,namun jarang
dibuka, pencahayaan dan sirkulasi udara kurang. Limbah dibuang ke septic tank dan
selokan sekitar. Aliran air selokan lancar. Ayah seorang perokok, sering merokok di
dalam rumah. Sumber air minum adalah air sumur yang direbus terlebih dahulu,
sumber air untuk mencuci juga dari air sumur
Keadaan lingkungan : jarak antar rumah berdekatan dan cukup padat.
C.

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 23 April 2013, pukul 13.30 WIB.
Anak laki-laki, usia 2 tahun 2 bulan, BB 10,5 kg, PB 83 cm.

Kesan umum: compos mentis, tampak sakit sedang, tampak kurang aktif, tampak sesak
dan gizi baik
6

Tanda Vital

Tekanan darah

: tidak dilakukan

HR (Nadi)

: 138x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup

RR (Laju Nafas) : 44x/menit, reguler


: 36,8 o C (axilla)

Suhu

Status Lokalis
Kepala

mesocephale, UUB teraba datar

Mata

sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), cowong (-/-)

Telinga

discharge (-/-)

Hidung

Pernafasan cuping hidung (+/+), secret (+/+) warna kuning


kehijauan kental

Mulut

bibir kering (-), sianosis (-)

Leher

simetris, pembesaran kelenjar getah bening (-)

Thorak
Paru
o

Inspeksi

: Pergerakan hemithorax kanan dan kiri simetris

Retraksi dinding dada (-) suprasternum dan intracosta


o

Palpasi

: Stem fermitus hemithorax kanan dan kiri tidak dapat

dinilai (pasien rewel)


o Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru
o Auskultasi

: Suara dasar

: suara napas vesikuler

Suara tambahan: rhonki basah halus nyaring di seluruh lapang paru (+/
+), wheezing (-/-), hantaran (+/+)
7

Jantung
o Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak tampak
o Palpasi : Ictus cordis tidak melebar, tidak kuat angkat
o Perkusi : Batas jantung sulit dinilai (pasien rewel)
o Auskultasi : Bunyi jantung I-II regular, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen
o Inspeksi

: Cembung

o Auskultasi

: Bising usus (+) normal

o Perkusi

: Tympani

o Palpasi

: Supel

Genitalia

: laki-laki, fimosis (-), parafimosis (-)

Anus

: (+), tidak ada kelainan

Ekstremitas:
Ektremitas
Akral dingin
Sianosis
Capilarry refill

Superior
(-)/(-)
(-)/(-)
<2 detik

Inferior
(-)/(-)
(-)/(-)
<2 detik

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal

22 April 2013

DARAH RUTIN
3

Leukosit (/mm )
3

12.700

Trombosit (/mm )

364.000

Hb (gr/dL)

10,7

Ht (%)

32,4

SEROLOGI-IMUNOLOGI
Widal S. typhi O

(-)
8

Widal S. typhi H

(-)

Kesan : Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis

2.

Foto thorax AP (23/4/2013)


Cor

: Letak, bentuk, dan ukuran normal

Pulmo : Corakan bronkovaskular meningkat, tampak bercak-bercak di perihilerperikardial paru kanan dan kiri. Tak tampak penebalan hilus
Diafragma & sinus costophrenicus kanan dan kiri normal
Kesan : Cor normal, pulmo bronkopneumonia

D. PEMERIKSAAN KHUSUS
1.

Status Gizi
Data Antropometri
Anak laki-laki, usia 26 bulan
Berat badan

: 10,5 kg

Panjang badan : 83 cm
Pemeriksaan status gizi (Z score) :
WAZ = BB median = 10,5-13,0 = -1,78 ( gizi normal)
SD

1,40

HAZ = TB median = 83 89,2 = -1,82 (Normal)


SD

3,40

WHZ = BB median = 10,5 11,5 = -1,11 (Normal)


SD

0,9

Kesan : status gizi baik dan perawakan normal seusianya.

2.

Screening TB
9

Parameter
Kontak TB
Uji Tuberkulin
BB/Keadaan Gizi
Demam Idiopatik 2 minggu
Batuk kronik 3 minggu
Limfadenopati colli, axilla, inguinal: 1 cm, jumlah > 1, tidak nyeri
Bengkak tulang/sendi panggul, lutut, phalang
Foto thorax
TOTAL

Skor
0
0
0
0
0
0
0
1
1

Kesan : TB score belum dapat dinilai

E. RESUME
Telah diperiksa seorang anak laki-laki berusia 26 bulan, BB 10,5 kg, PB 83 cm
dengan keluhan utama sesak sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, hidung pasien
tampak kembang-kempis dan berbunyi grok-grok saat bernapas. Sesak tidak
dipengaruhi oleh aktifitas anak, tidak terlihat kebiruan di bibir dan ekstremitas.
Demam tinggi terus-menerus sepanjang hari, tidak menggigil, tidak mengigau dan
tidak kejang. Pasien juga mengalami batuk dan pilek.Batuk ngekel tapi dahak sulit
dikeluarkan,lendir pilek berwarna kuning kental. Tidak ada batuk darah. Terdapat
riwayat terpapar asap rokok, tidak ada riwayat tersedak makanan atau minuman.
Dari pemeriksaan fisik tgl 23 April 2013, pukul 13.30 WIB
Kesan umum: compos mentis, tampak sakit sedang, tampak kurang aktif, tampak
sesak dan gizi baik
Tanda vital

HR

(Nadi)

RR

(Laju Nafas) : 44x/menit, reguler

Suhu

: 138x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup

: 36,8 o C (axilla)
10

Status internus :
Hidung

Pernafasan cuping hidung (+/+), secret (+/+) warna kuning


kehijauan kental

Auskultasi : suara napas vesikuler


Suara tambahan: rhonki basah halus nyaring di seluruh lapang paru (+/
+), wheezing (-/-), hantaran (+/+)
Pemeriksaan penunjang:
Laboratorium

: leukositosis

Rontgent thorax

: corakan bronkovaskuler meningkat


tampak bercak-bercak di perihiler-perikardial paru
kanan dan kiri.
Diafragma & sinus costophrenicus kanan dan kiri
normal

kesan : gambaran bronkopneumonia

Pemeriksaan antropometri didapatkan status gizi normal

F. DIFERENSIAL DIAGNOSIS
I.

Observasi Sesak
1. Ekstra pulmonal
a. Penyakit jantung bawaan
b. Hipertermi
c. Gangguan elektrolit
d. anemia
2. Intra pulmonal
a. Bronkiolitis
b. Bronkopneumonia
i. Simplek
1. Spesifik
2. Non spesifik
ii. Duplek
11

1. Spesifik
2. Non spesifik
II. Status Gizi Baik
G. DIAGNOSIS SEMENTARA
Bronkopneumonia duplek non spesifik
Status gizi baik

H. PENATALAKSANAAN
-

O2

2 L/mnt

Inf. 2A1/2 N

8 tpm

Inj. Cefotaxim

3 x 350 mg

Inj. Gentamicin

2 x 30 mg

Inj. Dexamethasone

3 x 1/2 amp

Nebulaizer ventolint + pulmicort 1/3 ( 2x) /hr

PO:
-

Ambroxol syr

3 x 3/4 cth

PCT syr

3 x 1 cth

Diet:
Kalori

1050 kkal/hari

Protein

24 gram/hari

I. PROGRAM
Evaluasi KU dan TTV
12

Evaluasi pernapasan
Suction teratur

J. USULAN

Fisoterapi
Pemeriksaan mikrobiologis (kultur sputum) dan sensitivitas test
X-foto Thorax
Pemeriksaan lab darah rutin

K. PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanam

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

L. EDUKASI
Di Rumah
1. Jika Sesak, minum obat untuk sesak, jika tidak berhenti, segera bawa ke
pelayanan kesehatan
2. Sediakan thermometer dirumah untuk mengukur suhu tubuh pada saat anak panas
3. Sediakan obat penurun panas di rumah
4. Jika anak panas, segera berikan obat penurun panas dan di kompres dengan air
biasa. Jika tidak turun segera bawa ke pelayanan kesehatan.
5. Hindari anak dari asap rokok dan polusi
6. Buka jendela setiap hari

TINJAUAN PUSTAKA
BRONCHOPNEUMONIA
13

DEFINISI
Bronkopneumoni atau pneumonia lobaris merupakan bagian dari pneumonia
berdasarkan kriteria pembagian secara anatomis. Bronkopneumoni adalah peradangan
atau inflamasi saluran pernafasan akut yang mengenai jaringan peribronchial. Dalam
hal ini proses radang mengenai lobulus paru. Lobulus paru merupakan bagian segmen
paru, sedangkan segmen paru merupakan bagian dari lobus paru.

EPIDEMIOLOGI
Insiden penyakit ini pada Negara berkembang hamper 30% pada anak anak
di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di Anerika
pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di
bawah umur 2 tahun.

ETIOLOGI
Bronkopneumonia lebih sering ditimbulkan oleh invasi bakteri. Bakteribakteri ini menginvasi paru melalui 2 jalur, yaitu dengan :
1. Inhalasi melalui jalur trakeobronkial.
2. Sistemik melalui arteri-arteri pulmoner dan bronkial.
Bakteri-bakteri yang sering menyebabkan ataupun didapatkan pada kasus
bronkopneumonia adalah :

Bakteri gram positif

a. Pneumococcus

14

Merupakan bakteri patogen yang paling sering ditemukan yang bertanggung


jawab atas lebih dari 90% kasus bronkopneumonia pada masa kanak-kanak.
Pneumococcus jarang yang menyebabkan infeksi primer, biasanya menimbulkan
peradangan pada paru setelah adanya infeksi atau kerusakan oleh virus atau zat
kimia pada saluran pernafasan.
Angka kejadiannya meningkat atau paling sering terjadi pada akhir musim dingin
dan awal musim semi. Insidens tertinggi pada masa kanak-kanak usia 4 tahun
pertama kehidupan. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyebarannya yang
cenderung meningkat di dalam suatu populasi yang relatif tertutup (seperti taman
kanak-kanak, rumah penitipan anak).
b. Staphylococcus aureus
c. Streptococcus hemolyticus

Bakteri gram negatif

a. Haemophilus influenzae
b. Klebsiella pneumonia

MANIFESTASI KLINIS
Bronkopneumonia merupakan bagian dari pneumonia, biasanya didahului oleh
peradangan saluran nafas bagian atas seperti batuk, pilek selama beberapa hari disertai
15

kenaikan suhu tubuh yang tiba-tiba. Batuknya mula-mula kering kemudian produktif.
Anak umumnya gelisah, dispneu, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan
cuping hidung. Bila keadaan terus berlanjut akan terdapat sianosis di sekitar mulut
dan hidung. Peningkatan nafas dibarengi dengan retraksi dari intercostal, subkostal,
dan suprasternal, dan penggunaan otot pernafasan aksesorius. Batuk biasanya tidak
ditemukan pada awal penyakit, mungkin terdapat batuk setelah beberapa hari. Pada
stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisis, tetapi dengan
adanya nafas cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut
dan hidung, harus dipikirkan kemungkinan pneumonia.
Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisis tergantung daripada luas
daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada
auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah nyaring halus atau sedang. Bila
sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi terdengar
keredupan dan suara pernafasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada stadium
resolusi, ronki terdengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi
sesudah 2-3 minggu.
Gejala klinis antara pneumonia virus dan bakteri kadang dapat dibedakan,
meski perbedaan tersebut tidak selalu jelas pada setiap pasien. Pada keduanya dapat
ditemukan takipnea, batuk dan retraksi. Pneumonia virus lebih banyak didapatkan
batuk, wheezing, atau stidor, dan demam lebih menonjol pada pneumonia bakterial.
Sedangkan pada pneumonia bakterial biasanya batuk, demam tinggi, dyspnea, dan
pada auskultasi adanya konsolidasi paru ( penurunan suara napas, pada perkusi
terdengar redup).

16

DIAGNOSIS
Secara umum, pemeriksaan leukosit dapat digunakan membedakan antara
pneumonia virus dan pneumonia bakteri. Pada pneumonia virus, leukosit dapat
normal atau meningkat (biasanya tidak lebih dari 20.000/mm3) dengan predominan
limfosit. Sedangkan pada pneumonia bakterial, terjadi peningkatan leukosit antara
15.000 40.000/mm3 dan predominan granulosit.
Pada foto rontgen dada terlihat infiltrat alveolar yang dapat ditemukan di
seluruh lapangan paru. Luasnya kelainan pada gambaran radiologis biasanya
sebanding dengan derajat klinis penyakitnya, kecuali pada infeksi mikoplasma yang
gambaran radiologisnya lebih berat daripada keadaan klinisnya. Gambaran lain yang
dapat dijumpai :
-

Konsolidasi pada satu atau lebih lobus pada pneumonia lobaris

Penebalan pleura pada pleuritis

Komplikasi

pneumonia

seperti

atelektasis,

pneumomediastinum

pneumo-thoraks, abses, pneumatokel atau perikarditis.

Juga dari biakan kuman yang berasal dari biopsi paru atau aspirasi nasal.

PEMERISAAN PENUNJANG DAN LABORATORIUM


Secara laboratorik ditemukan leukositosis, biasanya 15.000-40.000/mm3
dengan pergeseran ke kiri. LED meningkat. Pengambilan sekret secara bronkoskopi
dan pungsi paru untuk preparat langsung; biakan dan tes resistensi dapat menentukan
atau mencari etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. Pada
pungsi misalnya dapat terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari luar. Analisa
gas darah (Astrup) dapat ditemukan asidosis respiratorik.

17

Foto rontgen dilakukan untuk melihat:


-

Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis.

Luas daerah paru yang terkena.

Evaluasi pengobatan.

Pada bronkopneumonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada satu atau


beberapa lobus. Pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau
beberapa lobus. Foto rontgen dapat juga menunjukkan adanya komplikasi seperti
pleuritis, atelektasis, abses paru, pneumotokel, pneumotoraks, pneumodiastinum atau
perikarditis.

PENATALAKSANAAN
1. bersihkan jalan nafas. Oksigenasi adekuat.
2. cairan yang cukup, bila perlu IV
3. Diet tinggi kalori tinggi protein, selama masih sesak hati-hati pemberian
peroral, lebih baik melalui sonde drip.
4. bila ada asidosis, koreksi dengan Na-bicarbonat 1 meq/KgBB atau
berdasarkan hasil analisi AGD dengan rumus : BB (Kg) x 0,3 x base excess
5. Antibiotik
Terapi empirik, berdasarkan jenis kuman terbanyak, umumnya S. Penumonia
& H. Influenzae
Berdasarkan kelompok usia :
-

< 3 bulan : penisilin + aminoglikosida (gentamisin)

> 3 bulan : ampisilin + kloramfenikol

18

Sefalosporin (jika berat/ada empiema) secara IV sampai 48-72 jam


setelah panas turun, Kemudian dilanjutkan per-oral 7-10 hari
Jika penyebabnya S. Aureus diberikan : kloksasilin; jika alergi penisilin
diganti cefazolin, klindamisin atau vankomisin 3 4 minggu.
Dosis : Ampisilin 100 mg/KgBB/hari
Kloramfenikol 100 mg/KgBB/hari
Gentamisin 5 mg/KgBB/hari
6. Mukosilier kliren
Bila perlu, dapat diberikan agonis atau teofilin inhalasi/per oral
Fisioterapi, bila perlu untuk membersihkan saluran nafas.

KOMPLIKASI
Dengan menggunakan antibiotika dalam pengobatan, maka komplikasi
pneumonia bakterial telah jarang ditemukan. Komplikasi yang mungkin terjadi seperti
empiema, pneumothoraks atau abses paru sering terjadi pada fase akut pneumonia
yang disebabkan oleh staphylococcus. Sementara H.influenzae sering menyebabkan
pleural effusi. Komplikasi lain seperti meningitis, perikarditis, osteomielitis,
peritonitis lebih jarang ditemukan.

PROGNOSIS
Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat
diturunkan sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan
yang datang terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.

19

DAFTAR PUSTAKA

Behrman RE, Kliegman RM, Jenson B. Nelson textbook of Pediatrics, 17th ed.
Philadelphia: WB Saunders, 2004: 1432-35.
Behrman RE, Kliegman RM, Jenson B. Nelson Essentials of of Pediatrics, 17th ed.
Philadelphia: WB Saunders, 1990: 433-35.
Staf pengajar FKUI. Buku Kuliah IKA 3. Cetakan ke empat. Jakarta: BPFKUI, 1985.
Matondang. C, Wahidiyat. I, Sastroasmoro. S, Diagnosis Fisis pada Anak. Edisi
kedua. Jakarta, 2003. Sagung Seto
Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM, Jakarta, 2005.
Tjokronegoro. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, edisi ketiga. Balai penerbit
FKUI, Jakarta. 2001.

20