Anda di halaman 1dari 20

SURVEILANS AFP

(ACUTE FLACCID
PARALYSIS)

Oleh
Kelompok_1
Surveilance_PD3I

Surveilans AFP

Surveilans AFP merujuk pada penyakit Polio


dengan Kelumpuhan yang bersifat flaccid
(layuh) yang dinyatakan sebagai Penyakit
atau Wabah Wajib Lapor sesuai dengan isi
UU No. 6 Tahun 1962 Tentang Wabah
Surveilans AFP merupakan salah satu
program ERAPO (Eradikasi Polio) yang
dilaksanakan oleh pemerintah sebagai upaya
dalam mewujudkan Indonesia Bebas Polio
yang dirangkaikan dengan Pelaksanaan PIN
(Pekan Imunisasi Nasional)

Pentingnya
Surveilans
AFP
Sekitar tahun 1980 angka insidens tahunan polio

diperkirakan paling sedikit 37,24 per 100.000


Balita, dan 61% dari penderita terkena lumpuh
pada umur 3 tahun, dengan attack rate
mencapai 1-2%
Di Indonesia tercatat beberapa kali wabah polio,
misalnya di Belitung tahun 1948, di Semarang
tahun 1954, dan di Medan tahun 1957
Bahkan, ketika Indonesia telah mendapatkan
predikat Bebas Polio ternyata pada tahun 2005
wabah polio kembali muncul di daerah Sukabumi.

Tujuan Surveilans AFP

1.

2.

3.

Umum

Mengidentifikasi
daerah risiko
tinggi
Memantau
kemajuan
program
eradikasi polio
Untuk
membuktikan
Indonesia bebas
polio

1.

2.

3.

Khusus

Menemukan dan
Melacak semua kasus
AFP yang ada di
suatu wilayah,
Mengumpulkan dua
spesimen semua
kasus AFP selambatlambatnya 14 hari
setelah kelumpuhan,
dan
Mengidentifikasikan
kemungkinan adanya
virus-polio liar di
suatu wilayah melalui
pemeriksaan
spesimen tinja

Fakta tentang Penyakit


Polio

Polio merupakan penyakit yang disebabkan virus


polio yang tergolong dalam Picornavirus. Suatu
mikro organisme berukuran kecil, namun dapat
melumpuhkan tubuh secara permanent karena
kerusakan motor neuron pada cornu anterior dari
sumsum tulang belakang
Satu dari 200 infeksi berkembang menjadi
kelumpuhan. Sebanyak 5-10 persen pasien
lumpuh meninggal ketika otot-otot pernapasannya
menjadi lumpuh. Kebanyakan menyerang anakanak di bawah umur tiga tahun (lebih dari 50
persen kasus), tapi dapat juga menyerang orang
dewasa. Pencegahan dengan vaksinasi secara
berkala, idealnya pada masa kanak-kanak.

VIRUS POLIO LIAR (VPL)


Type 1,2,3

Ciri Khas:
Tidak mati dg
sabun, deterjen,
alcohol, ether,
chloroform

Mati dengan
formaldehyde,
chlorine,
pemanasan,
ultraviolet

Berkembang biak
dalam usus
manusia, keluar
melalui tinja (3 -6
minggu)

Di alam
sementara (2
14 hr)

Siklus Hidup Virus Polio

Satu virus polio mendekati sebuah sel saraf


melalui aliran darah.
Reseptor-reseptor sel saraf menempel pada virus.
Capsid (kulit protein) dari virus pecah untuk
melepaskan RNA (materi genetik) ke dalam sel.
RNA polio bergerak menuju sebuah ribosomstasiun perangkai protein pada sel.
RNA polio menduduki ribosom dan memaksanya
untuk membuat lebih banyak RNA dan capsid
polio.
Capsid dan RNA polio yang baru bergabung untuk
membentuk virus polio baru.
Sel inang membengkak dan meledak, melepaskan
ribuan virus polio baru kembali ke aliran darah.

Masa Inkubasi

Inapparent infection, merupakan periode tanpa


gejala klinik
Infeksi klinik ringan (gejala; panas, lemas,
malaise, pusing, mual, muntah, tenggorokan
sakit dan gejala kombinasi)
Abortive poliomyelitis, merupakan tanda klinik
pertama
Paralytic Poliomyelitis (gejala; nyeri otot, kaku
otot dan demam)
Post polio syndrome/PPS (gejala; nyeri otot luar
biasa, paralysis rekuren atau paralisis baru,
terjadi setalah 15-40 tahun)

Jalur Penularan Virus


Polio

Virus masuk ke tubuh melalui mulut, bisa


dari makanan atau air yang tercemar virus.
Virus ditemui di kerongkongan dan
memperbanyak dirinya di dalam usus.
Menyerang sel-sel saraf yang
mengendalikan otot, termasuk otot yang
terlibat dalam pernapasan.

PELAKSANAAN SISTEM
SURVEILANS AFP &
KOMPONEN-KOMPONENNYA

Advokasi (Dukungan Pemerintah)


Pemasaran Sosial (Dukungan Masyarakat)
Pelatihan bagi Para Petugas Surveilans AFP
Penemuan Kasus, yang dilakukan dengan 2
pendekatan yaitu Pendekatan SARS dan SAM
Pelacakan dan Pengumpulan Spesimen Kasus AFP
Analisa dan Penyajian Data
Pelaporan, Penyebarluasan Informasi dan Umpan
Balik
Bimbingan Teknis

SALAH SATU
UPAYA
PELAKSANAAN
SISTEM
SURVEILANS
AFP SEBAGAI
LANGKAH AWAL
PEMASARAN
SOSIAL DALAM
RANGKA
MENARIK
DUKUNGAN
DARI
MASYARAKAT
UMUM AGAR
MEREKA LEBIH
PEKA DAN
WASPADA

TINDAKAN DALAM
PELAKSANAAN SISTEM
SURVEILANS AFP

Mengadakan laporan secepat mungkin


Mengadakan pemeriksaan terhadap kasus-kasus
tersangka polio paralitik beserta kontak
penderitanya.
Mengadakan identifikasi secara cepat strain
virus penyebab penyakit.
Melakukan penyelidikan terhadap sumber
penularan dan seberapa jauh penyebaran
penyakit telah terjadi di suatu daerah.
Menyebarluaskan informasi tentang data
poliomyelitis baik untuk konsumsi nasional
maupun internasional

MANFAAT SISTEM
SURVEILANS AFP

Untuk mendapatkan informasi sedini mungkin


mengenai penyebaran penyakit AFP yang
mencakup etiologi, pelayanan, dan jumlah kasus.
Untuk memperkirakan besarnya suatu kesakitan
atau kematian yang terjadi sehubungan dengan
kejadian KLB AFP.
Untuk mengidentifikasi faktor resiko yang
berhubungan dengan penyakit AFP.
Sebagai referensi dalam melakukan penilaian
terhadap tindakan penanggulangan.
Mengawali upaya untuk meningkatkan tindakantindakan praktek klinis oleh petugas-petugas
kesehatan yang terlibat dalam system Surveilans
AFP.

SUMBER DATA SISTEM


SURVEILANS AFP
Sumber data dapat diperoleh melalui
Beberapa jenjang wilayah yakni:
Tingkat Desa
Tingkat Kabupaten
Tingkat Kecamatan
Tingkat Provinsi

SISTEM SURVEILANS AFP


MENURUT ATRIBUT

KESEDERHANAAN (SIMPLICITY)
FLEKSIBILITAS
AKSEPTABILITAS
SENSITIFITAS
NILAI PREDIKSI POSITIF
KEREPRESENTATIFAN
KETEPATAN WAKTU

Tingkat Desa

Petugas kesehatan,
kader gizi, KB, PKMD
dan sebagainya.
PKK, Guru, Pamong
Desa
Penyuluh Pertanian
Lapangan
Pencatatan pada
Puskesmas Pembantu
(Pustu)

Tingkat Kecamatan

Hasil pencatatan/laporan di
Puskesmas
Praktek-praktek swasta (dokter,
bidan, perawat, dan sebagainya)
Rumah Sakit, Laboratorium, dan
sarana lainnya (perusahaan dan
lainnya)
Pencatatan/Laporan dari Kantor
Kecamatan atau instansi-instansi
lainnya.

Tingkat Kabupaten

Data/Laporan Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kodya
Rumah
Sakit/Laboratorium/Apotik
Praktek Swasta, pusat
rehabilitasi, klinik akupuntur,
dan sebagainya
Laporan/Data Pemda
Kabupaten dan Instansi
lainnya (misalnya: Kepolisian)

Tingkat Provinsi

Data/Laporan di Dinas
Kesehatan/Kantor Wilayah
Provinsi
Rumah Sakit/Laboratorium
Provinsi/Apotik
Instansi-instansi lain
misalnya media massa
Data dari Provinsi lain/Pusat

TERIMA KASIH