Anda di halaman 1dari 26

Metode Analisis Karbohidrat ada 2 jenis, yaitu:

Analisis Kualitatif

Analisis Kuantitatif

1.

Metode Analisis Kualitatif Karbohidrat


Test Molish
Prinsip:
Karbohidrat akan didehidrasi oleh asam sulfat pekat membentuk senyawa furfural
atau turunannya. Furfural dan turunannya akan berkondensasi dengan alfanaftol
(molish) menghasilkan senyawa kompleks berwarna merah ungu pada bidang batas
antara larutan karbohidrat dan H2SO4 pekat.

Cara Kerja :
1. Sediakan tabung reaksi sebanyak 4 buah yang telah berisi label masing-masing
sampel.
2. Tuang 5 ml masing-masing sampel ke tabung reaksi tadi.
3. Tambahkan 2 tetes pereaksi Molish ke masing-masing sampel.
4. Tambahkan 3 ml H2SO4 pekat ke masing-masing sampel secara berhati-hati melalui
dinding tabung.
5. Amati perubahan yang terjadi.
Test Moore
Prinsip:
Uji Moore menggunakan NaOH (alkali) yang berfungsi sebagai ion OH - yang akan
berikatan dengan rantai aldehid yang membentuk aldol aldehid (aldehida dengan
cabang gugus alkanol) yang berwarna kekuningan. Pemanasan bertujuan untuk
membuka ikatan karbon dengan hydrogen dan menggantikannya dengan gugus OH.
Cara Kerja :
1. Siapkan 4 tabung reaksi yang telah berisi label masing-masing sampel.
2. Masukkan sampel ke tabung sesuai dengan labelnya sebanyak 5 ml.
3. Isi masing-masing tabung dengan 1 ml NaOH.
4. Panaskan kedalam panic yang telah berisi air mendidih.
5. Tunggu selama 5 menit kemudian angkat.
6. Amati perubahan yang terjadi.
Test Benedict
Prinsip:

Larutan CuSO4 dalam suasana alkali akan direduksi oleh gula yang mempunyai
gugus aldehid sehingga CuO atau kupri tereduksi menjadi Cu 2O yang berwarna
merah bata (endapan).
Cara Kerja :
1. Siapkan 4 tabung reaksi yang telah berisi label masing-masing sampel.
2. Tuang 5 ml larutan Benedict ke masing-masing tabung reaksi yang telah berisi
sampel tadi.
3. Tambahkan 1 ml sampel ke masing-masing tabung reaksi tersebut.
4. Panaskan selama 3 sampai 5 menit, kemudian angkat.
5. Amati perubahan yang terjadi.
Test Selliwanof
Prinsip:
Perubahan fruktosa oleh HCl panas menjadi levulinat dan hidroksimetil furfural,
selanjutnya kondensasi hidroksimetil dengan resorsinol akaan menghasilkan
senyawa sukrosa yang mudah dihidrolisa menjadi glukosa akan member reaksi
positif berwarna oranye.
Cara Kerja :
1. Siapkan 4 tabung reaksi yang telah berisi label masing-masing sampel.
2. Tambahkan 5 ml larutan Selliwanof ke masing-masing tabung yang telah berisi
sampel tadi.
3. Tuangkan 1 ml sampel ke masing-masing sampel sesuai dengan labelnya.
4. Panaskan selama 3 sampai 5 menit, kemudian angkat.
5. Amati perubahan yang terjadi.
Test Barfoed
Prinsip:
Monosakarida akan mereduksi Cu2+ dalam suasana asam lemah (CH3COOH),
menghasilkan endapan yang berwarna merah bata dari Cu2O.
Cara Kerja :
1. Sediakan 4 tabung reaksi yang telah berisi label masing-masing sampel.
2. Tambahkan 5 ml larutan Barfoed ke masing-masing tabung reaksi yang telah berisi
sampel tadi.
3. Tuangkan 1 ml larutan sampel ke masing-masing tabung sesuai dengan label.
4. Panaskan selama 3 sampai 5 menit, kemudian angkat.
5. Amati perubahan yang terjadi
f

Metode Fehling

Prinsip dari metode fehling yaitu menggunakan gugus aldehid pada gula untuk
mereduksi senyawa Cu2SO4 menjadi Cu2O (enpadan berwarna merah bata) setelah
dipanaskan pada suasana basa (Benedict dan Fehling) atau asam (Barfoed) dengan
ditambahkan agen pengikat (chelating agent) seperti Na-sitrat dan K-Na-tatrat.
Cara Kerja:
1. Disiapkan pada tabung reaksi masing-masing 2 ml larutan 0.5% glukosa, 1.0%
glukosa, dan 2.0% glukosa.
2. Disiapkan larutan fehling (6 ml), mencampurkan antara Fehling A (3 ml) dan Fehling
B (3 ml) dengan volume yang sama.
3. Memasukkan 2 ml larutan Fehling kedalam masing-masing tabung reaksi, kocok dan
panaskan dengan air mendidih.
4. Mengamati perubahan (warna) yamg terjadi pada masing-masing tabung reaksi.
5. Memasukkan sepotong irisan tipis dari pisang mantah kedalam tabung reaksi, dan
sepotong irisan tipis dari pisang yang telah masak sempurna kedalam tabung reaksi
lain.
6. Menghancurkan irisan tipis pisang tersebut, dan tambahkan 2 ml larutan Fehling
kedalam tabung reaksi
Metode Osazon
Prinsip:
Reaksi ini dapat digunakan baik untuk larutan aldosa maupun ketosa, yaitu dengan
menambahkan larutan fenilhidrazin, lalu dipanaskan hingga terbentuk kristal
berwarna kuning yang dinamakan hidrazon (osazon).
Cara Kerja:
1. Campurkan fenil hidrazin Na asetat kering dengan 5 ml larutan percobaan.
2. Kocok dan panaskan di dalam penangas air, kemudian didinginkan
3. Periksa endapan dibawah mikroskop. Larutan yang diuji adalah larutan glukosa 1%,
fruktosa 1%, sukrosa 1%, laktosa 1%, maltosa 1%, pati 2%.
Metode Tollens
Prinsip:
Tollen terdiri dari Ag2SO4 yang bila ada gula pereduksi Ag akan direduksi menjadi
Ag+ yang akan membentuk cinci perak. Kelemahan dari reaksi Tollen adalah dia
bukan cuma bereaksi dengan gula pereduksi tetapi juga bereaksi dengan senyawa
keton yang mempunyai gugus metil.
Cara Kerja:

1. 1 ml larutan AgNO3 di campurkan kemudian 2 tetes NaOH 10% ( ditetes demi tetes)
dan ammonia encer.
2. Campuran di atas di aduk kemudian di tambahkan 1 ml larutan sampel
( karbohidrat) didiamkan selama 5 menit.
3. Jika tidak terjadi reaksi larutan di panaskan.
4. Pada semua larutan smapel di lakukan hal yang sama
5. Hasil pengamatan di catat.
Metode iodine
Prinsip:
Uji iodium digunakan untuk melihat pembentukan polisakarida. Penambahan
iodium pada suatu polisakarida akan menyebabkan terbentuknya kompleks absorbsi
berwarna spesifik. Amilum atau pati akan menghasilkan warna biru. Hasil yang
postif hanya pada penambahan air dan HCl dengan iodine.
Cara Kerja:
1. Di tambahkan 2 tetes iodine pada 3 ml pada masing-masing larutan karbohidrat
(Larutan Glukosa, Larutan Fruktosa, Larutan Maltosa, Larutan Laktosa, Larutan
Amilum, Larutan Gula, Larutan Madu, dan Larutan Susu), pada tabung reaksi I
ditambahkan 2 tetes air, pada tabung reaksi II di tambahkan 2 tetes HCL 6 N, dan
pada tabung reaksi III di tambahkan 2 tetes NaOH 6 N.
2. Hasil campuran diatas di kocok dan di perhatikan warna apa yang terbentuk.
3. Setelah di kocok tabung di panaskan, dan kemudian di dinginkan.
4. Di lakukan hal yang sama pada semua larutan sampel.
5. Hasil pengamatan di catat.
2. Metode Analisis Kuantitatif Karbohidrat
Ada beberapa macam metode yang dapat kita gunakan untuk analisa kadar gula
reduksi secara
1.

kuantitatif yaitu :

Metode Fisika
Ada dua (2) macam, yaitu :

a.

Berdasarkan indeks bias


Cara ini menggunakan alat yang dinamakan refraktometer, Refraktometer adalah
alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Misalnya
gula, garam, protein, dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya
adalah memanfaatkan refraksi cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernest
Abbe seorang ilmuan dari German pada permulaan abad 20 (Anonim, 2010).
Pengukurannya didasarkan atas prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui prismacahaya hanya bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma kerja dengan

suatu sudut yang terletak dalam batas-batas tertentu yang ditentukan oleh sudut
batas antara cairan dan alas.
yaitu dengan rumus :
X = [(A+B)C - BD)]
dimana :
X = % sukrosa atau gula yang diperoleh
A = berat larutan sampel (g)
B = berat larutan pengencer (g)
C = % sukrosa dalam camp A dan B dalam tabel
D = % sukrosa dalam pengencer B
Cara Kerja:
1. refraktometer dibersihkan terlebih dahulu dengan tisu ke arah bawah
2. Refraktometer ditetesi dengan aquadest atau larutan NaCl 5% pada bagian prisma
dan day light plate
3. Refraktometer dibersihkan dengan kertas tissue sisa aquadest / NaCl yang
tertinggal
4. Sampel cairan diteteskan pada prisma 1 3 tetes
5. Skala kemudian dilihat ditempat yang bercahaya dan dibaca skalanya
6. Kaca dan prisma dibilas dengan aquades / NaCl 5% serta dikeringkan dengan tisu,
dan
7. Refraktometer disimpan di tempat kering
b. Berdasarkan rotasi optis
Cara ini digunakan berdasarkan sifat optis dari gula yang memiliki struktur asimetrs
(dapat memutar bidang polarisasi) sehingga dapat diukur menggunakan alat yang
dinamakan polarimeter atau polarimeter digital (dapat diketahui hasilnya
langsung) yang dinamakan sakarimeter
Menurut hokum Biot; besarnya rotasi optis tiap individu gula sebanding dengan
konsentrasi larutan dan tebal cairan sehingga dapat dihitung menggunakan
rumus :
[a] D20 = 100 A
LxC
dimana :
[a] D20 = rotasi jenis pada suhu 20 oC menggunakan
D = sinar kuning pada panjang gelombang 589 nm dari lampu Na
A = sudut putar yang diamati

C = kadar (dalam g/100 ml)


L = panjang tabung (dm)
sehingga C = 100 A
L x [a] D20 -

2. Metode Kimia
Metode ini didasarkan pada sifat mereduksi gula, seperti glukosa, galaktosa, dan
fruktosa (kecuali sukrosa karena tidak memiliki gugus aldehid). Fruktosa meskipun
tidak memiliki gugus aldehid, namun memiliki gugus alfa hidroksi keton, sehingga
tetap dapat bereaksi. Dalam metode kimia ini ada dua (2) macam cara yaitu :
a. Titrasi
Untuk cara yang pertama ini dapat melihat metode yang telah distandarisasi oleh
BSN yaitu pada SNI cara uji makanan dan minuman nomor SNI 01-2892-1992.
b. Spektrofotometri
Adapun untuk cara yang kedua ini menggunakan prinsip reaksi reduksi CuSO4 oleh
gugus karbonil pada gula reduksi yang setelah dipanaskan terbentuk endapan kupru
oksida (Cu2O) kemudian ditambahkan Na-sitrat dan Na-tatrat serta asam
fosfomolibdat sehingga terbentuk suatu komplek senyawa berwarna biru yang
dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 630 nm.
c. Cara Luff Schoorl
Prinsip: Monosakarida dioksidasi oleh CuO dari reagen Luff Schoorl menjadi
Cu2O.kemudian kelebihan CuO dari reagen luff Schoorl akan bereaksi dengan KI
suasana asam membentuk I2 yang akan bereaksi dengan cara dititrasi dengan Natiosulfat dengan indikator amilum .
Cara Kerja:
1. Persiapan Sampel
Pada prosedur kerja dalam praktikum ini, sampel yang ingin dilakukan pengujian
telah tersedia sehingga dalam praktikum ini kami tidak melakukan proses
persiapan sampel.
2. Prosedur Kerja Analisa
Berikut prosedur kerja pengujiannya:

1. Pipet sample sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer kemudian tambahkan 35 ml


aquades dan 10 ml larutan luff.
2. Panaskan sampai mendidih
3. Dinginkan dalam wadah berisi air.
4. Tambahkan 10 ml larutan KI 25% dan 17 ml H2SO4 6N perlahan-lahan lewat dinding.
5. Tambahkan 2 ml amilum, amati perubahan warna yang terjadi (biru tua).
6. Titrasi dengan larutan Natrium tiosulfat 0,005N sampai warna biru tua

hilang.

7. Catat volume titrasi.


d.

Metode Nelson-Somogyi
Metode ini dapat digunakan untuk mengukur kadar gula reduksi dengan
menggunakan pereaksi tembaga arseno molibdat. Kupri mula-mula direduksi
menjadi bentuk kupro dengan pemanasan larutan gula. Kupro yang terbentuk
selanjutnya dilarutkan dengan arseno molibdat menjadi molibdenum berwarna biru
yang menunjukkan ukuran konsentrasi gula dan membandingkannya dengan larutan
standar sehingga konsentrasi gula dalam sampel dapat ditentukan. Reaksi warna
yang terbentuk dapat menentukan konsentrasi gula dalam sampel dengan
mengukur absorbansinya. (Sudarmadji.S.1984)
Cara Kerja :

1. Diambil 1 ml larutan sampel.


2.

Ditambahkan 1 ml reagen Nelson pada tiap-tiap tabung reaksi dan dipanaskan


dalam air mendidih selama 20 menit, kemudian didinginkan 5 menit dalam air
mengalir.

3. Ditambahkan 1 ml reagen arsenomolibdat pada tiap-tiap tabung reaksi, dikocok


sampai homogen dan larut sempurna.
4. Ditambahkan 7 ml aquadest pada tiap-tiap tabung reaksi, kemudian dikocok.
5. Ukur absorbansi pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm.
6. Kadar gula reduksi sampel ditentukan dengan menggunakan persamaan kurva
standard.
3.

Metode enzimatis
Untuk metode enzimatis ini, sangat tepat digunakan untuk penentuan kagar suatu
gula secara individual, disebabkan kerja enzim yang sangat spesifik. Contoh enzim

yang dapat digunakan ialah glukosa oksidase dan heksokinase Keduanya digunakan
untuk mengukur kadar glukosa.
a.

Glukosa oksidase
D- Glukosa + O2 oleh glukosa oksidase Asam glukonat dan H2O2
H2O2 + O-disianidin oleh enzim peroksidase 2H2O + O-disianidin teroksdasi yang
berwarna cokelat (dapat diukur pada l 540 nm).

b.

Heksokinase
D-Glukosa

ATP

oleh

heksokinase

Glukosa-6-Phospat

+ADP

Glukosa-6-Phospat + NADP+ oleh glukosa-6-phospat dehidrogenase Glukonat-6Phospat + NADPH + H+ Adanya NADPH yang dapat berpendar (memiliki gugus
kromofor) dapat diukur pada l 334 nm dimana jumlah NADPH yang terbentuk setara
dengan jumlah glukosa.
Menggunakan enzim spesifik untuk karbohidrat yan g akan diuji. Contoh enzimnya
yaitu
4.

glukosa oksidase dan heksokinase.

Metode Dinitrosalisilat (DNS)


Prinsip:
Metode ini digunakan untuk mengukur gula pereduksi dengan teknik kolorimetri.
Teknik ini hanya dapat mendeteksi satu gula pereduksi, misalnya glukosa. Glukosa
memiliki gugus aldehida, sehingga dapat dioksidasi menjadi gugus karboksil. Gugus
aldehida yang dimiliki oleh glukosa akan dioksidasi oleh asam 3,5-dinitrosalisilat
menjadi gugus karboksil dan menghasilkan asam 3-amino-5-salisilat pada kondisi
basa dengan suhu 90-100oC. Senyawa ini dapat dideteksi dengan spektrofotometer
pada panjang gelombang 540 nm.
Cara membuat pereaksi DNS :

1. Sebanyak 5 g asam 3,5-dinitrosalisilat dan 5 g NaOH 2 N dilarutkan dalam 100 mL


aquades (larutan A).
2. Sebanyak 150 g natrium kalium tartarat dilarutkan dalam 200 mL aquades (larutan
B). Larutan A dan B dicampur, lalu ditera dalam labu takar dengan aquades hingga
volume akhirnya menjadi 500 mL, kemudian diaduk dengan pengaduk magnetik
selama satu malam.
Cara kerja :
1. Buat larutan glukosa standar dengan konsentrasi masing-masing 0, 200, 400, 800,
1200, 1600, dan 2000 ppm.
2. Masing-masing larutan diambil 1 mL, lalu tambahkan 3 mL pereaksi DNS.

3. Kemudian, masing-masing larutan divorteks dan dipanaskan dalam air mendidih


selama 5 menit.
4. Setelah dingin, masing-masing larutan diencerkan 5 kali dan divorteks kembali.
5. Ukur absorbannya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm,
kemudian buat persamaan liniernya sebagai kurva standar.
6. Pengukuran kadar gula pereduksi pada sampel dilakukan dengan cara mengambil 1
mL sampel kemudian ditambahkan 3 mL pereaksi DNS.
7. Proses selanjutnya sama seperti pada larutan glukosa standar, kemudian nilai
pengukuran yang diperoleh diplot pada kurva standar.
5.

Metode Asam Fenol Sulfat


Prinsip:
Metode ini disebut juga dengan metode TS (total sugar) yang digunakan
untuk mengukur total gula. Metode ini dapat mengukur dua molekul gula
pereduksi. Gula sederhana, oligosakarida, dan turunannya dapat dideteksi dengan
fenol dalam asam sulfat pekat yang akan menghasilkan warna jingga kekuningan
yang stabil.
Cara Kerja:

1. Buat larutan glukosa standar dengan konsentrasi masing-masing 0, 100, 200, 300,
400, dan 500 ppm.
2. Masukkan 0,5 mL dari masing-masing larutan ke dalam tabung yang terpisah,
kemudian rendam dalam air, lalu tambahkan 0,5 mL fenol 5% dan 2,5 mL
H2SO4 pekat dengan hati-hati melalui dinding tabung.
3. Biarkan selama 10 menit, lalu vorteks dan biarkan kembali selama 20 menit.
4. Ukur absorbannya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 490 nm,
kemudian buat persamaan liniernya sebagai kurva standar.
5. Pengukuran sampel dilakukan dengan cara memasukkan 0,5 mL larutan sampel ke
dalam tabung, lalu rendam dalam air, kemudian tambahkan 0,5 mL fenol 5% dan
2,5 mL H2SO4 secara hati-hati.
6. Proses selanjutnya sama seperti pada larutan glukosa standar, kemudian nilai
pengukuran yang diperoleh diplot pada kurva standar.

Sumber:
Achmad, M dan Abdul, R.(Editor), 2006,Pengantar Kimia Farmasi Analisis :
Volumetri dan Gravimeteri, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Sumantri, AbdulR,2007,Analisis Makanan,Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


PutriPuspita.2013.UjiKuantitatifKarbohidrat.online:http://organiksmakma3a26.blogspot.c
om/2013/03/uji-kuantitatif-karbohidrat.html (diakses tanggal 10 Maret 2014).
Rosnah, dkk. 2011. Pedoman Praktikum Ilmu Kimia Makanan. Kendari: Politeknik
Kesehatan Kendari Jurusan Gizi

Winarno. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
http://desijumanti.blogspot.com/2014/04/metode-analisis-karbohidrat.html

Tulisan Teratas
o Analisis Karbohidrat
o Sifat Fisik dan Kimia Karbohidrat
o Penanganan Pasca Panen Buah - Buahan
o Belajar dari Kasus Obat Kuat dan Kosmetika Berbahaya
o Sakarin dan Siklamat
o Analisa Lemak dan Minyak
o Gula Rafinasi #1
o Dijual Aneka Teh Herbal
o Benefits of Cellery
o Pemanis Sintetis

Recent Posts
o Dijual Aneka Teh Herbal
o Dijual Aneka Herbal Capsule II

o Dijual Aneka Jenis Herbal Kapsul


o Benefits of Cellery
o Konsep Gaya Hidup Sehat ala Herbal

Blog Stats
o 137,028 hits

Subscribe to RSS headline updates from:


Powered by FeedBurner

My Profile

Blogroll
o Rumah Herbal Mahera
o umar saifudin
o WordPress.com
o WordPress.org

Subscribe in a reader

My site is worth$7,172.1Your website value?


Melamin dalam Susu Formula
Nasi Boranan; Rijsttafel van Lamongan

Analisis Karbohidrat
October 11, 2008

Oleh Umar Saifudin, STP


Pengertian Karbohidrat
secara sederhana dapat diartikan bahwa karbohidrat ialah suatuterbentukstop searching
for

terbentuk.

find

it

here!www.wonderwhat.bizclick

herexad

by

safeweb

senyawaterbentukstop searching for terbentuk. find it here!www.wonderwhat.bizclick


herexad by safeweb yang terdiri dari molekul-molekul karbon (c), hydrogen (h) dan
oksigen (o) atau karbon dan hidrat (h2o) sehingga dinamaka karbo-hidrat. dalam
tumbuhan senyawa ini dibentuk melaui proses fotosintesis antara air (h2o) dengan
karbondioksida (co2) dengan bantuan sinra matahari (uv) menghasilkan senyawa sakarida
dengan rumus (ch2o)n.
Fungsi Karbohidrat
Ada banyak fungsi dari karbohidrat dalam penerapannya di industri pangan, farmasi
maupun dalam kehidupan manusia sehari-hari. Diantara fungsi dan kegunaan itu ialah :
a. Sebagai sumber kalori atau energi
b. Sebagai bahan pemanis dan pengawet
c. Sebagai bahan pengisi dan pembentuk
d. Sebagai bahan penstabil
e. Sebagai sumber flavor (karamel)
f. Sebagai sumber serat
Klasifikasi Karbohidrat
Karbohidrat dapat digolongan menjadi dua (2) macam yaitu karbohidrat sederhana
dengan karbohidrat komplek atau dapat pula menjadi tiga (3) macam, yaitu :

a. Monosakarida (karbohidrat tunggal)


Kelompok monosakarida dibedakan menjadi dua (2) macam, yaitu pentosa yang
tersusun dari lima (5) atom karbon (arabinosa, ribose, xylosa) dan heksosa yang
tersusun dari enam (6) atom karbon (fruktosa/levulosa, glukosa, dan galaktosa).
Struktu glukosa dan fruktosa digunakan sebagai dasar untuk membedakan antara
gula reduksi dan gula non-reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada
adanya gugus aldehid (CHO pada glukosa dan galaktosa) yang dapat mereduksi
larutan Cu2SO4 membentuk endapan merah bata. Adapun gula non-reduksi ialah
gula yang tidak dapat mereduksi akibat tidak adanya gugus aldehid seperti pada
fruktosa dan sukrosa/dektrosa yang memiliki gugus keton (C=O).

D-Glukosa (Fischer) D-Glukosa (Haworth)


b. Oligosakarida (tersusun dari beberapa monosakarida)
Kelompok ini terdiri dari banyak jenis, seperti disakarida, trisakarida,
tetrasakarida, dll. Namun paling banyak dipelajari ialah kelompok disakarida yang
terdiri dari maltosa, laktosa dan sukrosa (dekstrosa). Dua dari jenis disakarida ini
termasuk gula reduksi (laktosa dan maltosa) sedangkan sukrosa tidak termasuk
gula reduksi (nonreducing).
c. Polisakarida (tersusun lebih dari 10 monosakarida)
Kelompok ini terdiri dari tiga (3) jenis yaitu :
1. Homopolisakarida

Yaitu polisakarida yang tersusun atas satu jenis dari monosakarida yang diikat
oleh ikatan glikosida, seperti galactan, mannan, fructosans, dan glucosans
(cellulose, dextrin, glycogen, dan starch/pati)
2. Heteropolisakarida
3. Polisakarida mengandung N (chitin)
Pengujian Karbohidrat
a. Uji Kualitatif
Pengujian ini dapat dilakukan dengan dua (2) macam cara, yaitu; pertama
menggunakan reaksi pembentukan warna dan yang kedua menggunakan
prinsip

kromatografi

Cromatography,

(TLC/Thin

HPLC/High

Layer

Performance

Cromatograpgy,
Liquid

GC/Gas

Cromatography).

Dikarenakan efisiensi pengujian, pada umumnya untuk pengujian secara


kualitatif hanya digunakan prinsip yang pertama yaitu adanya pembentukan
warna sebagai dasar penentuan kandungan karbohidrat dalam suatu bahan.
Sedikitnya ada tujuh (7) macam reaksi pembentukan warna, yaitu :
1. Reaksi Molisch
KH (pentose) + H2SO4 pekat furfural + naftol warna ungu
KH (heksosa) + H2SO4 pekat HM-furfural + naftol warna
ungu
Kedua macam reaksi diatas berlaku umum, baik untuk aldosa (-CHO)
maupun karbohidrat kelompok ketosa (C=O).
2. Reaksi Benedict
KH + camp CuSO4, Na-Sitrat, Na2CO3 Cu2O endapan merah bata
3. Reaksi Barfoed

KH + camp CuSO4 dan CH3COOH Cu2O endapan merah bata


4. Reaksi Fehling
KH + camp CuSO4, K-Na-tatrat, NaOH Cu2O endapan merah bata
Ketiga reaksi diatas memiliki prinsip yang hampir sama, yaitu
menggunakan gugus aldehid pada gula untuk mereduksi senyawa Cu2SO4
menjadi Cu2O (enpadan berwarna merah bata) setelah dipanaskan pada
suasana basa (Benedict dan Fehling) atau asam (Barfoed) dengan
ditambahkan agen pengikat (chelating agent) seperti Na-sitrat dan K-Natatrat.
5. Reaksi Iodium
KH (poilisakarida) + Iod (I2) warna spesifik (biru kehitaman)
6. Reaksi Seliwanoff
KH (ketosa) + H2SO4 furfural + resorsinol warna merah.
KH (aldosa) + H2SO4 furfural + resorsinol negatif
7. Reaksi Osazon
reaksi ini dapat digunakan baik untuk larutan aldosa maupun ketosa,
yaitu dengan menambahkan larutan fenilhidrazin, lalu dipanaskan
hingga terbentuk kristal berwarna kuning yang dinamakan hidrazon
(osazon).
b. Uji Kuantitatif
Untuk penetapan kadar karbohidrat dapat dilakukan dengan metode fisika,
kimia, enzimatik, dan kromatografi (tidak dibahas).
1. Metode Fisika
Ada dua (2) macam, yaitu :

a. Berdasarkan indeks bias


Cara ini menggunakan alat yang dinamakan refraktometer, yaitu
dengan rumus :
X = [(A+B)C BD)]
4
dimana :
X = % sukrosa atau gula yang diperoleh
A = berat larutan sampel (g)
B = berat larutan pengencer (g)

C = % sukrosa dalam camp A dan B dalam tabel


D = % sukrosa dalam pengencer B
b. Berdasarkan rotasi optis
Cara ini digunakan berdasarkan sifat optis dari gula yang memiliki
struktur asimetrs (dapat memutar bidang polarisasi) sehingga dapat
diukur menggunakan alat yang dinamakan polarimeter atau
polarimeter digital (dapat diketahui hasilnya langsung) yang
dinamakan sakarimeter.
Menurut hokum Biot; besarnya rotasi optis tiap individu gula
sebanding dengan konsentrasi larutan dan tebal cairan sehingga
dapat dihitung menggunakan rumus :
[] D20 = 100 A
LxC

dimana :
[] D20 = rotasi jenis pada suhu 20 oC menggunakan
D = sinar kuning pada panjang gelombang 589 nm dari lampu Na
A = sudut putar yang diamati
C = kadar (dalam g/100 ml)
L = panjang tabung (dm)
sehingga C = 100 A
L x [] D20
2. Metode Kimia
Metode ini didasarkan pada sifat mereduksi gula, seperti glukosa, galaktosa, dan
fruktosa (kecuali sukrosa karena tidak memiliki gugus aldehid). Fruktosa
meskipun tidak memiliki gugus aldehid, namun memiliki gugus alfa hidroksi
keton, sehingga tetap dapat bereaksi.
Dalam metode kimia ini ada dua (2) macam cara yaitu :
a. Titrasi
Untuk cara yang pertama ini dapat melihat metode yang telah distandarisasi oleh
BSN yaitu pada SNI cara uji makanan dan minuman nomor SNI 01-2892-1992.
b. Spektrofotometri
Adapun untuk cara yang kedua ini menggunakan prinsip reaksi reduksi CuSO4
oleh gugus karbonil pada gula reduksi yang setelah dipanaskan terbentuk endapan
kupru oksida (Cu2O) kemudian ditambahkan Na-sitrat dan Na-tatrat serta asam
fosfomolibdat sehingga terbentuk suatu komplek senyawa berwarna biru yang
dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 630 nm.

3. Metode Enzimatik
Untuk metode enzimatis ini, sangat tepat digunakan untuk penentuan kagar suatu
gula secara individual, disebabkan kerja enzim yang sangat spesifik. Contoh
enzim yang dapat digunakan ialah glukosa oksidase dan heksokinase Keduanya
digunakan untuk mengukur kadar glukosa.
a. Glukosa oksidase
D- Glukosa + O2 oleh glukosa oksidase Asam glukonat dan H2O2
H2O2 + O-disianidin oleh enzim peroksidase 2H2O + O-disianidin teroksdasi
yang berwarna cokelat (dapat diukur pada 540 nm)
b. Heksokinase
D-Glukosa + ATP oleh heksokinase Glukosa-6-Phospat +ADP
Glukosa-6-Phospat + NADP+ oleh glukosa-6-phospat dehidrogenase Glukonat6-Phospat + NADPH + H+ Adanya NADPH yang dapat berpendar (memiliki
gugus kromofor) dapat diukur pada 334 nm dimana jumlah NADPH yang
terbentuk setara dengan jumlah glukosa.
https://food4healthy.wordpress.com/2008/10/11/analisis-karbohidrat/

Karbohidrat dan Gula reduksi


2.1.1 Karbohidrat
Karbohidrat adalah senyawa yang mengandung unsur-unsur: C, H dan O,
terutama terdapat didalam tumbuh-tumbuha n yaitu kira-kira 75%. Dinamakan
karbohidrat karena senyawa-senyawa ini sebagai hidrat dari karbon; dalam
senyawa tersebut perbandingan antara H dan O sering 2 berbanding 1 seperti
air. Jadi C6H12O6 dapat ditulis C6(H2O)6, C12H22O11 sebagai C12 (H2O)11dan
seterusnya, dan perumusan empiris ditulis sebagai CnH 2nOn atau Cn (H2O)n
(Sastrohamidjojo, H., 2005).
Karbohidrat dibagi menjadi beberapa klas atau golongan sesuai dengan
sifat-sifatnya terhadap zat-zat penghidrolisis. Karbohidrat atau gula dibagi
menjadi empat klas pokok:
1

Gula yang sederhana atau monosakarida, kebanyakan adalah senyawasenyawa yang mengandung lima dan enam atom karbon. Karbohidrat yang
mengandung 6 karbon disebut heksosa. Gula yang mengandung 5 karbon
disebut pentosa. Kebanyakan gula sederhana adalah merupakan polihidroksi

aldehida yang disebut aldosa dan polihidroksi keton disebut ketosa.


Oligosakarida, senyawa berisi dua atau lebih gula sederhana yang dihubungkan
oleh pembentukan asetal antara gugus aldehida dan gugus keton dengan gugus
hidroksil. Bila dua gula digabungkan diperoleh disakarida, bila tiga diperoleh
trisakarida dan seerusnya ikatan penggabungan bersama-sama gula ini disebut

ikatan glikosida.
Polisakarida, di mana di dalamnya terikat lebih dari satu gula sederhana yang
dihubungkan dalam ikatan glikosida. Polisakarida meliputi pati, sellulosa dan

dekstrin.
Glikosida, dibedakan dari oligo dan polisakarida yaitu oleh kenyataan bahwa
mereka mengandung molekul bukan gula yang dihubungkan dengan gula oleh
ikatan glikosida (Sastrohamidjojo, H., 2005)
2.1.2 Gula Reduksi
Sebagian karbohidrat

bersifat gula pereduksi. Sifat gula pereduksi ini

disebabkan adanya gugus aldehida dan gugus keton yang bebas, sehingga dapat
mereduksi ion-ion logam. Gugus aldehida pada aldoheksosa mudah teroksidasi

menjadi asam karboksilat dalam pH netral oleh zat pengoksidasi atau enzim.
Dalam zat pengoksidasi kuat, gugus aldehida dan gugus alkohol primer akan
teroksidasi membentuk asam dikarboksilat atau asam ardalat. Gugus aldehida
atau gugus keton monosakarida dapat direduksi secara secara kimia menjadi
gula alkohol, misalnya D-sorbito yang berasal dari D-glukosa.
Gula reduksi merupakan golongan gula (karbohidrat) yang dapat mereduksi
senyawa-senyawa

penerima

adalah glukosa dan fruktosa. Gula

reduksi

elektron,
mempunyai

contohnya
kemampuan

untuk

mereduksi. Hal ini dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas.
Senyawa-senyawa yang mengoksidasi atau bersifat reduktor adalah logamlogam oksidator seperti Cu (II). Contoh gula yang termasuk gula reduksi adalah
glukosa, manosa, fruktosa, laktosa, maltosa, dan lain-lain. Sedangkan yang
termasuk dalam gula non reduksi adalah sukrosa (Team Laboratorium Kimia
UMM, 2008).
2.2 Penjelasan Bahan Baku
2.2.1 Jambu Biji Merah
Jambu biji merah (Psidium guajava L.) adalah salah satu buah heksotis
dan dikenal dengan nama lain sepeti jambu klutuk atau jambu batu. Jambu biji
merah termasuk dalam kelompok jambu biji bersama dengan jambu mangkok,
jambu paris, dan jambu susu. Jambu biji berbentuk bulat dengan diameter
kurang lebih 5 cm dan panjang 4-12 cm. Kulit buah berwarna kuning kehijauan
dengan daging buah berwarna merah muda sampai merah (Satuhu dan
Sjaifullah, 1994).
Kandungan gizi dalam 100 gram buah jambu biji merah adalah 36-50
kalori, 77-86 g air, 2,8-5,5 g serat, 0,9-1,0 g protein, 0,1-0,5 g lemak, 0,43-0,7 g
abu, 9,5-10 g karbohidrat, 9,1-17 mg kalsium, 17,8-30 mg fosfor, 0,3-0,7 mg
besi, 200-400 IU vitamin A, 200-400 mg vitamin C, 0,046 mg vitamin B1, 0,030,04 mg vitamin B2, 0,6-1,068 mg vitamin B3 dan 82% bagian yang dimakan
(Cahyono, 2010).
2.2.2 Pisang
Pisang merupakan tumbuhan monokotil yang termasuk dalam familia
Musaceae. Pohonnya memiliki tinggi dua hingga sembilan meter, akar rizoma
berada dalam tanah dan pelepahnya terdiri dari lembaran daun dan mahkota
terminal daun tempat munculnya bakal buah. Pisang merupakan buah klimaterik
yang artinya memiliki fase perkembangan, dengan meningkatnya ukuran buah
dan meningkatnya kadar karbohidrat yang terakumulasi dalam bentuk pati.

Pertumbuhan terhenti saat buah telah benar-benar ranum dan fase pematangan
buah terhambat. Selama fase pematangan, kekerasan buah menurun, pati
berubah menjadi gula, warna kulit berubah dari hijau menjadi kuning dan
kekelatan pada buah hilang, berkembang menjadi flavor dengan karakteristik
yang khas (Stover dan Simmonds, 1987).
Pisang memiliki nilai gizi yang baik karena mengandung komponen
karbohidrat yang tinggi sehingga dapat menyediakan energi sekitar 136 kalori
untuk setiap 100 gram (Poedjiadi, 1994). Senyawa gula dalam pisang merupakan
jenis fruktosa yang disebut juga dengan gula buah dan mempunyai indek
glikemik lebih rendah dibandingkan dengan glukosa. Disamping itu pisang juga
mengandung beberapa mikronutrisi seperti vitamin C, vitamin B6 dan mineral
kalium, magnesium, fosfor, besi dan kalsium (Kusumo & Farid, 1994).

2.3 Macam-macam Analisa Karbohidrat


2.3.1 Analisa Kualitatif
karbohidrat dengan zat tertentu akan menghasilkan warna tertentu yang
dapat digunakan untuk analisis kualitatif. bila karbohidrat direaksikan dengan
larutan naftol dalam alkohol. kemudian ditambahkan h2so4 pekat secara hatihati, pada batas cairan akan berbentuk furfural yang berwarna ungu. reaksi ini
disebut reaksi molisch dan merupakan reaksi umum bagi karbohidrat.
1) Uji molisch
Prinsip : bahan yang mengandung monosakarida bila direaksikan dengan H2SO4
pekat akan terhidrolisis membentuk furural. Furfural ini akan membentuk
persenyawaan dengan naftol ditandai dengan terbentuknya warna violet (cincin).
Oleh karena H2SO4 dapat menghidrolisis oligosakarida dan polisakarida.
Caranya : dalam 2 ml larutan contoh dalam tabung reaksi ditambahkan dua
tetes pereaksi -naftol 10% ditambahkan ke dalam tabung reaksi dimana larutan
contoh berada di lapisan atas. Cincin berwarna merah ungu pada 12batas ke dua
cairan menunjukkan adanya karbohidrat dalam contoh (Winarno, FG, 2004).
2)

Uji barfoed

Prinsip : monosakarida akan mereduksi reagen barfoed yang bersifat asam


sehingga kekuatan hidrolisis menurun dan mengakibatkan tidak dapat mereduksi
disakarida.
Caranya : pereaksi terdiri dari cupri asetat dan asam asetat. Dalam 5 ml pereaksi
dalam tabung reaksi ditambahkan 1 ml larutan contoh, kemudian tabung reaksi
ditempatkan dalam air mendidih selama 1 menit. Endapan berwarna merah
orange menunjukkan adanya monosakarida dalam contoh.

3)

Uji benedict
Prinsip : larutan CuSO4 dalam suasana alkali akandireaksikn oleh gula yang
mempunyai gugus aldehida sehingga cupri oksida (CuO) tereduksi menjadi Cu2O
yang berwarna merah bata.
Caranya : 5 ml pereaksi dalam tabung reaksi ditambahkan 8 tetes larutan
contoh, kemudian tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih selama 5
menit. Timbulnya endapan warna hijau, kuning atau merah orange menunjukkan
adanya gula pereduksi dalam contoh.

4)

Uji Seliwanoff
Prinsip : fruktosa dengan asam kuat akan mengalami dehidrasi membentuk 4
hidroksi

metylfurfural.

Bila

ditambahkan

recorsinol

akan

berkondensasi

membentuk persenyawaan yang berwarna merah 13


Carannya : 1 ml larutan contoh ditambahkan ke dalm 5 ml pereaksi (3,5 ml
recorsinol 0,5 % dengan 12 ml HCL pekat, kemudian encerkan dengan 35 ml
dengan air suling) kemudian ditempatkan dalam air mendidih selama 10 menit.
Warna merah cherry menunjukkan adanya fruktosa dalam contoh (Winarno, FG,
2004)
5)

Uji Iodin

Prinsip : polisakarida akan membentuk reaksi dengan iodin dan memberikan


warna spesifik tergantung jenis karbohidratnya. Amilosa dan iodin berwarna biru,
amilopektin merah coklat, glikogen dan dextrin berwarna merah coklat.
Caranya : larutan contoh diasamkan dengan HCl. Sementara itu dibuat larutn
iodin dalam larutan KI. Larutan contoh sebanyak satu tetes ditambahkan ke
dalam larutan iodin. Timbulnya warna biru menunjukkan adanya pati dalam
contoh, sedangkan warna merah menunjukkan adanya glikogen.
2.3.2 Analisa Kuantitatif
Banyaknya cara yang dapat digunakan untuk menentukan banyaknya
karbohidrat dalam suatu bahan yaitu antara lain dengan cara kimiawi, cara fisik,
cara ensimatik, atau biokimiawi, dan cara kromatografi. Penentuan karbohidrat
yang termasuk polisakarida maupun oligosakarida memerlukan perlakuan
pendahuluan sehingga diperoleh monosakarida. Untuk keperluan ini maka bahan
dihidrolisis dengan asam atau enzim pada suatu keadaan yang tertentu.
1)

Metode Luff Schoorl


Pada penentuan gula cara Luff-Schrool yang ditentukan bukannya kuprooksida
yang mengendap tetapi dengan menentukan kupri oksida dalam larutan
sebelum

direaksikan

dengan

gula

reduksi

(titrasi

blanko)

dan

sesudah

direaksikan dengan sampel gula reduksi (titrasi sampel). Penentuannya dengan


titrasi menggunakan Natrium tiosulfat. Selisih titrasi blanko dengan titrasi
sampel ekuivalen dengan kupro oksida yang terbentuk dan juga ekuivalen
dengan jumlah gula reduksi yang ada dalam bahan atau larutan. Reaksi yang
terjadi selama penentuan karbohidrat cara ini mula-mula kupri oksida yang ada
dalam reagen akan membebaskan iod dari garam kalium iodida. Banyaknya iod
yang dibebaskan ekuivalen dengan banyaknya kupri oksida. Banyaknya iod
dapat

diketahui

dengan

titrasi

menggunakan

Natrium

tiosulfat.

Untuk

mengetahui bahwa titrasi sudah cukup maka diperlukan indikator amilum.


Apabila larutan berubah warnanya dari biru menjadi putih berarti titrasi sudah
selesai.

Agar

perubahan

warna

biru

menjadi

putih

dapat

tepat

maka

penambahan amilum diberikan pada saat titrasi hampir selesai. Setelah


diketahui

selisih

banyaknya

titrasi

blanko

dan

titrasi

sampel

kemudian

dikonsultasikan dengan tabel yang sudah tersedia yang menggambarkan


hubungan antara banyaknya Natrium tiosulfat dengan banyaknya gula reduksi
(Sudarmadji,S. 1989).

2)

Metode Nelson-Somogyi
salah satu metode kimiawi yang dapat digunakan untuk analisa karbohidrat
adalah metode oksidasi dengan kupri. metode ini didasarkan pada peristiwa
tereduksinya kupri okisida menjadi kupro oksida karena adanya andungan
senyawa gula reduksi pada bahan. reagen yang digunakan biasanya merupakan
campuran kupri sulfat, na-karbonat, natrium sulfat, dan k-na-tartrat (reagen
nelson somogy) (fauzi, 1994).

3)

Metode Anthrone
penggunaan metode anthrone untuk analisis total karbohidrat mulai berkembang
sejak penggunaan pertama kali oleh dreywood pada tahun 1946 untuk uji
kualitatif. dasar dari reaksi ini adalah kemampuan karbohidrat untuk membentuk
turunan furfural dengan keberadaan asam dan panas, yang kemudian diikuti
dengan reaksi dengan anthrone yang menghasilkan warna biru kehijauan (sattler
dan zerban 1948) dalam brooks et al (1986). uji anthrone ini memiliki kelebihan
dalam hal sensitifitas dan kesederhanaan ujinya (koehler, 1952). kekurangan dari
metode anthrone adalah ketidakstabilan dari reagen (anthrone yang dilarutkan
dalam asam sulfat), sehingga perlu dilakukan persiapan reagen yang baru setiap
hari.

4)

Metode Folin
Mempunyai prinsip, filtrat darah bebas protein dipanaskan dengan larutan
CuSO4 alkali. Endapan CuO yang dibentuk oleh glukosa akan larut dengan
penambahan larutan fosfo molibdat. Larutan ini dibandingkan secara kolorimetri
dengan larutan standar glukosa (Horwitz, 1970)

5)

Metode Enzimatis
Penentuan gula dengan cara enzimatis sangat tepat terutama untuk tujuan
penentuan gula tertentu yang ada dalam suatu campuran berbagai macam gula.
Cara kimiawi mungkin sulit untuk penentuan secara individual yang ada dalam
campuran itu,tetapi dengan cara enzimatis ini penentuan gula tertentu tidak
akan mengalami kesulitan karena tiap enzim sudah sangat spesifik untuk gula
yang tertentu. (S Sudarmadji, B Haryono, Suhardi, 2003)

6)

Metode Kromatografi
Penentuan karbohidrat dengan cara kromatografi adalah dengan mengisolasi
dan mengidentifikasi karbohidrat dalam suatu campuran. Isolasi karbohidrat ini
berdasarkan prinsip pemisahan suatu campuran berdasarkan atas perbedaan
distribusi rationya pada fase tetap dengan fase bergerak. Fase bergerak dapat
berupa zat cair atau gas,sedangkan fase tetap dapat berupa zat atau zat cair.
Apabila zat padat sebagai fase tetapnya maka disebut kromatografi serapan,
sedang bila zat cair sebagai fase tetapnya disebut khromatografi partisi.(S
Sudarmadji, B Haryono, Suhardi, 2003).

2.4 Prinsip Analisa Gula Reduksi


Metode Nelson Somogyi digunakan untuk mengukur kadar gula reduksi
dengan

menggunakan

pereaksi

tembaga-arsenol-molibdat.

Reagen

nelson

somogyi berfungsi sebagai oksidator antara kuprooksida yang bereaksi dengan


gula reduksi membentuk endapan merah bata. Dalam hal ini, pereaksi Somogyi
merupakan pereaksi tembaga alkali yang mengandung Na2PO4 anhidrat dengan
garam K-Na-tartrat (garam Rochelle), sedangkan pereaksi Nelson mengandung
amonium

molibdat

H2SO4,

NaHAsO4.7H2O.

Dengan

membandingkannya

terhadap larutan standar, konsentrasi gula dalam sampel dapat ditentukan.


Reaksi warna yang membentuk dapat menentukan konsentrasi gula dalam
sampel dengan mengukur absorbansinya. Metode Nelson-Somogyi merupakan
salah satu metode kimiawi yang dapat digunakan untuk analisa karbohidrat
adalah metode oksidasi dengan kupri. Metode ini didasarkan pada peristiwa
tereduksinya kupri okisida menjadi kupro oksida karena adanya andungan
senyawa gula reduksi pada bahan. Reagen yang digunakan biasanya merupakan
campuran kupri sulfat, Na-karbonat, natrium sulfat, dan K-Na-tartrat (reagen
Nelson Somogy) (Fauzi, 1994).

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Cahyono, Bambang.
2010. Sukses Budi Daya Jambu Biji di Pekarangan dan
Perkebunan. Yogyakarta: LilyPublisher.
Fauzi, Mukhammad. 1994. Analisa Hasil Pangan (Teori dan Praktek). Jember: UNEJ
Horwitz, W., 1970. Official Method of Analysis of Official Analytical Chemist. Washington
D.C: Fifteenth Edition.
Koehler, LH. 1952. Differentiation of carbohydrates by anthrone reaction rate and color
intensity. Analytical Chemistry 24: 1576-1579
Kusumo S, Farid A. 1994. Koleksi konservasi, evaluasi plasma nutfah pisang. Jakarta:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Penerbit UI-Press.
Sastrohamidjojo, H. 2005. Kimia Organik. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Satuhu, S.,. 1994. Penanganan dan Pengolahan Buah. Jakarta: Penebar Swadaya
Sattler L dan FW. Zerban. 1948. The Dreywood anthrone reaction as affected by
carbohydrate structure, Science, 108:207.
Stover, R.H. and N.W. Simmons. 1987. Bananas 3rd. Singapura: Longmans Group, U.K.
Ltd.
Sudarmadji, S. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberti
Sudarmadji, S; B. Haryono; dan Suhardi. 2003. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian.
Yogyakarta: Liberty.
Team Laboratorium Kimia UMM. 2008. Penuntun Praktikum Biokimia Bioligi. Malang:
Laboratorium Kimia UMM.
Winarno F.G. 2004.Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
http://nuruszahro.blogspot.com/2013/10/laporan-analisa-karbohidrat.html