Anda di halaman 1dari 10

OPINI: MEMAHAMI GERAKAN OPM

Oleh Frans Maniagasi


Warga Asli Irian, Peneliti pada Resources Productivity Center (RPC) di
Jakarta

Hampir 33 tahun (1 Mei 1963) Irian Jaya "kembali" ke dalam Negara


Kesatuan RI, menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia. Maka,
keberadaan Irian Jaya secara fisik sebagai bagian dari bangsa
Indonesia tidak relevan lagi untuk dibicarakan. Yang masih terbuka
untuk dipersoalkan adalah menjadi "bagian dari nasional Indonesia"
itu.

Apakah makna dalam alam "pikiran" dan "perasaan" masyarakat Irian Jaya
selama ini? Persoalan ini menyangkut upaya memahami diri kita sendiri
sebagai satu bangsa, sebagai self-understanding as a nation.

Untuk itu, salah satunya adalah memahami gerakan-gerakan Organisasi


Papua Merdeka atau OPM, dalam kurun antara 1963-1988. Mengapa kurun
ini dijadikan sampel, padahal selama ini kita tahu melalui sejarah
politik kontemporer Indonesia Merdeka, terutama masa menjelang Irian
Jaya "kembali" ke pangkuan RI, dinyatakan bahwa OPM merupakan produk
peninggalan kolonialisme Belanda?
Apakah produk OPM masih harus dinyatakan semata-mata sebagai "dosa"
akibat peninggalan penjajahan kolonialisme Belanda? Tentu tidak karena
pada periode 1965-1988, kami ingin katakan wilayah ini telah masuk
menjadi bagian integral dan tak terpisahkan lagi dari negara RI, serta
pada era di mana rejim Orde Baru tengah gencar-gencarnya melaksanakan
pembangunan nasional, kok masih muncul berbagai aksi OPM di Irian
Jaya.

Selain itu, alasan kita mencermati kurun ini adalah pertama, dari
aspek historis berawal pada 28 Juli 1965, untuk pertama kalinya
gerakan OPM lahir di kota Manokwari. Ini ditandai oleh aksi
orang-orang Arfak terhadap pasukan Batalyon 751 (Brawijaya), di mana
tiga anggota kesatuan itu dibunuh. Pemicunya adalah keluhan mereka
terhadap penguasa setempat akibat tingginya pengangguran di kalangan
masyarakat Arfak.

Kedua, alasan untuk mengakhiri kurun analisis pada 14 Desember 1988,


yang ditandai oleh berkumpulnya sekitar 60 orang di stadion sepakbola
Mandala di Jayapura guna menghadiri upacara pembacaan "proklamasi OPM"
serta "pengibaran bendera OPM" yang dipimpin oleh seorang tokoh
akademisi, Dr Thomas Wanggai (kini sedang menjalani hukuman di LP
Cipinang-Jakarta). Ekses dari peristiwa itu, doktor lulusan hukum dan
administrasi publik dari Jepang dan AS itu "dijatuhi" hukuman penjara
20 tahun oleh pengadilan Negeri Jayapura.

**** Tonggak-tonggak peristiwa dalam periode itu secara kronologis ada


lima kejadian penting dalam aksi-aksi gerakan OPM.

I. 26 Juli 1965: Aksi dan gerakan OPM merembet hampir di seluruh


daerah Kepala Burung dan berlangsung dua tahun. Tokoh pemimpin gerakan
itu adalah John Ariks, 75 tahun. Sedangkan tokoh militernya dua
bersaudara, Lodewijk dan Barends Mandatjan. Mereka adalah dua tokoh
asli dari Arfak di Kabupaten Manokwari. Sedangkan dua bersaudara,
Ferry dan Permenas Awom, adalah transmigran suku Biak yang memang
banyak terdapat di Manokwari.

Sebelum terjun dalam pemberontakan bersenjata itu, John Ariks adalah


pemimpin Partai Politik bernama Persatuan Orang New Guinea (PONG) yang
berbasis di Manokwari dan terutama beranggotakan orang-orang Arfak.
Tujuan partainya mencapai kemerdekaan penuh bagi Papua Barat (Irian
Jaya) tanpa sasaran tanggal tertentu (Ikrar Nusa Bhakti, 1984, Robin
Osborne, 1989: 35-36).

II. 1 Juli 1971: Empat tahun setelah pemberontakan OPM di daerah


Kepala Burung dapat dipadamkan oleh pasukan elit RPKAD (Kopassus) di
bawah komando (alm) Sarwo Edhie Wibowo, "proklamasi OPM" kedua
tercetus. Peristiwa itu terjadi 1 Juli 1971 di Desa Waris, Kabupaten
Jayapura, dekat perbatasan PNG. Pencetusnya seorang Letnan Satu
tamatan Seskoad Bandung, Seth Jafet Rumkorem.

Padahal, ini menarik, Seth J. Rumkorem adalah putera Lukas Rumkorem,


seorang tokoh pejuang Indonesia yang pada Oktober 1949 mendirikan
Partai Indonesia Merdeka (PIM) di kampung Bosnik, Kabupaten
Biak-Numfor. Putra seorang tokoh pejuang Merah Putih, Seth Jafet
Rumkorem tadinya "menyambut" baik kedatangan pemerintah dan tentara
Indonesia di Irian Jaya dengan tangan terbuka. Sambutannya itu
ditunjukkan dengan keputusannya meninggalkan pekerjaannya sebagai
penata buku di kantor KLM di Biak, dan masuk TNI/AD yang
memungkinkannya mengikuti pendidikan militer di Cimahi (Jawa Barat),
sehingga berhasil memperoleh pangkat Letnan Satu bidang inteligen di
bawah pasukan Diponegoro.

Namun, kekesalannya menyaksikan berbagai ketimpangan pembangunan,


antara lain berupa pelanggaran hak-hak asasi manusia menjelang
pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, mendorongnya
masuk hutan bersama-sama aktivis OPM lainnya. Sebelumnya, ia sudah
membina hubungan dengan kelompok aktivis OPM pimpinan Herman Womsiwor
di Belanda. Atas dorongan Herman Womsiwor, ia membacakan teks
proklamasi Republik Papua Barat di Markas Victoria, 1 Juli 1971.
III. 3 Desember 1974: Tiga tahun setelah proklamasi kemerdekaan oleh
Seth Rumkorem, di Markas Besar OPM Victoria, dekat perbatasan PNG, 3
Desember 1974, enam pegawai negeri di kota Serui, ibukota Kabupaten
Yapen Waropen, menandatangani apa yang mereka sebut "Pernyataan Rakyat
Yapen Waropen." Isinya menghendaki persatuan bangsa Papua dan Samarai
(di ujung buntut PNG) sampai ke Sorong, yang 10% mereka di luar RI.
Pada 9 Maret 1977, mereka divonis delapan tahun penjara, karena
tuduhan melakukan "makar." IV. 26 April 1984: Terjadi insiden yang
berakhir dengan kematian seorang antropolog asal Irian Jaya, Arnold C.
AP. Kurator museum Antropologi Universitas Cenderawasih Jayapura itu
dikenal sebagai seniman dan budayawan Irian yang berupaya mengumpulkan
seluruh kesenian dan budaya suku-suku di Irian Jaya. Arnold AP, lahir
di Biak 1 Juli 1945, menyelesaikan studi sarjana Muda Geografi dari
Uncen. Sewaktu jadi mahasiswa, ia turut bersama sejumlah mahasiswa
Universitas Cenderawasih dalam demonstrasi menantang kunjungan utusan
PBB, Ortiz Sans, untuk mengevaluasi hasil Pepera 1969.

Setelah hasil Pepera memperoleh pengesahan oleh PBB, tampaknya ia


menyadari bahwa pendirian suatu negara Papua Barat yang terpisah dari
Indonesia terlalu kecil "peluangnya." Kemudian ia berusaha
memperjuangkan agar orang Irian dapat mempertahankan "identitas"
kebudayaannya, meskipun tetap berada dalam konteks negara RI.

Dalam kapasitasnya sebagai ketua Lembaga Antropologi dan kepala museum


yang diberi nama Sansakerta, Loka Budaya, ia mendirikan sebuah
kelompok seni-budaya yang mereka namakan Mambesak (istilah bahasa Biak
untuk buruh Cenderawasih). Tujuan Mambesak sebagai suatu gerakan
kebudayaan dan kesenian adalah untuk menyelamatkan seni dan budaya
penduduk Irian Jaya agar tidak punah dimakan peradaban modern, akibat
derasnya proses pembangunan.

Namun Mambesak, sebagai gerakan kebudayaan yang ingin menyelamatkan


serta melestarikan seni, budaya penduduk Irian, ternyata dipandang
sebagai bahaya "laten" oleh aparat keamanan karena membangkitkan
semangat nasionalisme Papua (OPM).

Walhasilnya, pada 30 Nopember 1983, Arnold AP ditahan oleh aparat


keamanan. Sebelum dan sesudahnya, sekitar 20 orang Irian Jaya yang
umumnya terdiri atas cendekiawan, dosen, serta, mahasiswa Uncen dan
pegawai Kantor Gubernur Irian Jaya di Jayapura ditahan dan diselidiki
karena oleh pihak aparat keamanan diindikasikan adanya aspirasi
politik dalam kaitan dengan OPM.

Penahanan tokoh budayawan Irian Jaya ini berbuntut dengan "hijrahnya"


sejumlah dosen, mahasiswa, maupun pegawai Pemda Tk I Irian Jaya
menyeberang perbatasan menuju negara tetangga PNG, Februari 1984.
Hampir pada waktu yang sama, di Jakarta empat pemuda Irian Jaya --
yang mempertanyakan nasib penahanan Arnold AP ke DPRRI, akhirnya
terpaksa meminta suaka politik ke kedutaan besar Belanda. Ini akibat
mereka ketakutan karena dicari-cari aparat keamanan.

Malang tak bisa ditolak, pada 26 April 1984, sang budayawan Arnold AP
meninggal dunia "konon" karena ditembak oleh aparat keamanan karena
ingin melarikan diri dari LP Abepura di Jayapura (Robin Osborne, 1985
dan 1987: 152-153). Kematian sang budayawan, yang dianggap berhasil
mengakumulasikan dan mengintegrasikan kebudayaan masyarakat Irian
Jaya, dijadikan "simbol" pengukuhan terhadap identitas dan jati diri
orang Irian.

V. 14 Desember 1988: Seperti telah disinggung, sekitar 60 orang


berkumpul di stadion Mandala Jayapura. Mereka "mengibarkan bendera"
serta "membacakan naskah proklamasi kemerdekaan OPM" yang dimotori
oleh Dr Thomas Wanggai, cendekiawan dan intelektual Irian asal Serui.
Ini adalah kisah ironis bahkan tragis.

Betapa tidak. Nama Yapen-Waropen, atau istilah populernya "Serui,"


merupakan daerah yang sangat menonjol bahkan menjadi basis perjuangan
penegakan "Merah Putih" di Irian Jaya. Reputasi masyarakat di sana
sebagai basis gerakan Merah Putih di Irian terutama saat wilayah Irian
Jaya akan kembali ke pangkuan negara kesatuan RI merupakan hasil
didikan Dr G.S.J. Ratulangie dan Silas Papare mendeskripsikan suatu
"kekecewaan" yang tak terhingga terhadap pemerintah Indonesia.

Dapat dibayangkan suatu komunitas masyarakat yang ikut memperjuangkan


eksistensi kemerdekaan Indonesia di bumi Irian Jaya setelah 30 tahun
berada dalam pangkuan negara RI harus "berbalik" arah menentang
keberadaan pemerintah Indonesia.

Pada takaran seperti itu tentunya timbul pertanyaan, apakah ada yang
salah selama ini, sehingga masyarakat Yapen Waropen atau Serui
khususnya serta masyarakat Irian Jaya umumnya telah diabaikan?

**** Lima tonggak sejarah dalam evolusi pergerakan OPM sepanjang dan
selama pemerintah Orde Baru merupakan peristiwa yang penting untuk
dikaji. Ada benang merah yang bisa ditelusuri dari lima peristiwa itu.
Pertama, kemunculan aksi-aksi perlawanan terhadap pemerintah Indonesia
di Irian Jaya haruslah dipahami dalam arti yang luas, agar kita tidak
terjebak pada hanya satu sudut pandang saja. Misalnya hanya menganggap
semua aksi perlawanan itu dilatarbelakangi motif politis separatisme.
Padahal banyak faktor lain, seperti ketidakpuasan sosial.
Kedua, tidak adanya pemahaman yang seksama terhadap aksi-aksi tersebut
membuat kita terjerumus dalam menafsirkan geraka-gerakan itu.
Sehingga, ada dua faktor yang tampaknya langsung atau tidak berkaitan
dengan kemunculan aksi-aksi itu. Termasuk "drama" penyanderaan yang
kini sedang aktual di Mapunduma, Tiom, Jayawijaya itu.

Faktor-faktor itu, pertama, efek sampingan dari pendekatan keamanan


yang untuk jangka lama dijalankan di Irian Jaya. Kedua, dampak
beberapa program pembangunan yang justru dirasakan rakyat setempat
sebagai merugikan kepentingan mereka.

Pendekatan keamanan dalam bentuk operasi-operasi militer yang


dilaksanakan secara intensif dan dalam jangka panjang di Irian Jaya,
dengan maksud menumpas perlawanan OPM, di satu pihak berhasil
menghancurkan kekuatan perlawanan OPM. Namun, di pihak lain itu
meninggalkan "efek sampingan" berupa rasa takut yang begitu mendalam
dan berlarut-larut bahkan menjadi 'trauma" di kalangan mereka.

Masyarakat senantiasa dihantui trauma dicap sebagai "OPM" -- suatu


fenomena trauma yang mirip dengan apa yang dialami sebagian penduduk
pedesaan Jawa pasca penumpasan G 30 S/PKI tahun 1965/1966, yaitu
ketakutan dicap sebagai PKI.

Demikian juga pembangunan yang dilaksanakan di Irian Jaya sejak


"kembali" ke pangkuan Ibu Pertiwi (1 Mei 1963) hingga kini banyak
prestasi yang diperolehnya. Tapi di sisi lain, pendekatan pembangunan
dan dampaknya dari beberapa program pembangunan yang ada justru
dipandang sangat merugikan rakyat di sana. Bahkan, kemudian
menimbulkan rasa ketidakpuasan, kekecewaan, bahkan pada titik ekstrem,
memotivasi mereka melakukan semacam aksi-aksi perlawanan.

Katakan beberapa contoh, pembebasan tanah-tanah adat milik rakyat --


kasus tanah adat marga Ohee di Sentani, Kabupaten Jayapura, yang
kemudian dieksekusi oleh MA melalui "Surat Sakti"-nya. Pembebasan
tanah bagi keperluan penebangan kayu (HPH) untuk program transmigrasi,
atau proyek-proyek lainnya, tanpa menghiraukan hukum adat masyarakat
setempat. Sehingga seringkali hal itu memicu rasa tidak puas yang
kemudian meningkat menjadi aksi perlawanan terhadap pemerintah.

Membanjirnya transmigrasi dari Jawa dan arus transmigrasi dari


Sulawesi Selatan yang menguasai hampir seluruh sektor usaha ekonomi
dari kelas menengah sampai kelas bawah jelas dirasakan sebagai sesuatu
yang tidak adil buat rakyat Irian Jaya.

Mungkin dalam konteks itulah pemahaman terhadap aksi-aksi gerakan OPM


bisa dimengerti: sejauhmana proses "kembalinya" Irian Jaya 33 tahun
lalu dapat memberikan makna positif dalam rangka memperkuat kesadaran
sebagai satu bangsa -- Indonesia. 

Kapanlagi.com - Enam tersangka kasus penembakan di area PT Freeport, Mimika,


Papua dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman
maksimal hukuman mati.

Kepala Bidang Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ketut Untung Yoga
Ana di Jakarta, Senin, mengatakan para tersangka itu diduga melakukan berbagai
penembakan di lokasi pabrik emas dan tembaga hingga menyebabkan tiga orang tewas.

Mereka yang kini menjadi tahanan penyidik Polda Papua itu adalah Amon Yamawe (30),
karyawan PT Freeport, Eltinus Beanal (26), warga Jl Timika Indah, Tommy Beanal (25),
warga Centi, Tembagapura, Mimika, Simon Beanal (30), warga Jl Baru, Timika,
Dominikus Beanal (25), karyawan PT Freeport dan Yani Beanal (18) pelajar.

Selain tuduhan pembunuhan berencana, mereka juga dijerat dengan pasal 338 KUHP
tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, pasal 351
KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Mereka juga dijerat dengan pasal 55, 56 dan 57 KUHP tentang ikut membantu terjadinya
tindak pidana dengan ancaman hukuman maksimal dua pertiga dari ancaman hukuman
pidana pokok.

Selain keenam tersangka, polisi juga menahan Endel Kiwak karena memiliki ratusan
butir amunisi namun tidak dijerat dengan pasal pembunuhan berencana tetapi
pelanggaran UU Darurat N0 12 tahun 1951.

Namun Yoga Ana tidak menjelaskan keterlibatan keenam tersangka dalam setiap kasus.
"Nanti akan dijelaskan, mereka terlibat kasus yang sama. Yang pasti, mereka menjadi
tersangka berdasarkan alat bukti yang ada," katanya.

Aksi penembakan terhadap polisi, TNI dan karyawan PT Freeport beberapa kali terjadi
dalam dua pekan terakhir ini hingga menyebabkan tiga orang tewas.

Pada Sabtu dan Minggu (11-12/7), dua karyawan PT Freeport tewas ditembak oleh
kelompok bersenjata yakni Drew Nicholas Grant (WN Australia) dan Markus Rante.

Insiden penembakan tersebut juga mengakibatkan satu polisi tewas dan dua polisi terluka.
Polisi yang tewas adalah Bripda Marson sedangkan yang luka adalah Iptu Ada Gunawan
tertembak di bagian kaki, AKP Anggun Tjahyono mengalami luka di jari tangan.

Beberapa polisi dan karyawan PT Freeport juga mengalami luka akibat tembakan.

Dua anggota Brimob Polda Papua, Rabu (5/7) ditembak orang tak dikenal saat naik mobil
di area PT Freeport sekitar Mile 54, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Akibatnya, peluru mengenai kaki Bripka Jimmy Renhard sedangkan peluru yang lain
bersarang di pantat dan paha Briptu Abraham Ngamelubun.

Pada 22 Juli 2009, rombongan karyawan PT Freeport Indonesia dan polisi yang
mengawalnya dihujani tembakan di Mile 52 area pertambangan sekitar pukul 10:45 WIT.

Akibatnya, Briptu Fritz Minoti mengalami luka sedangkan dua karyawan yang luka
adalah Lebang S dan Agus Salim.

KPU Irian Jaya Barat Dibentuk 28 Oktober Mendatang


Rabu, 08 Oktober 2003 | 17:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Komisi Pemilu akan memberntuk Komisi Pemilu Provinsi


Irian Jaya Barat pada 28 Oktober 2004. Pembentukan ini dilakukan setelah adanya
desakan dari Gubenur Irian beberapa waktu lalu. "Pembentukan ini dilakukan setelah
melihat realitas politik, juridis dan de fato provinsi itu," kata Mulyana W. Kusumah di
kantor Komisi Pemilu, Jakarta, Rabu (8/10).

Komisi sebelumnya melakukan peninjauan ke Irian Jaya Barat. Komisi diwakili oleh
Mulyana melakukan
kunjungan sejak Senin lalu. Dalam kunjungan itu, menurut Mulyana, ia melakukan
pertemuan dengan
anggota DPRD, partai politik dan jajaran pemerintahan daerah Irian di Manokwari.

Dalam kunjungan itu, Mulyana melihat adanya reaksi penolakan dari beberapa pihak di
luar Irian Jaya
Barat. Namun, dukungan dan desakan muncul dari parpol dan tokoh pemerintah daerah
setempat. Karena itulah KPU Irian Jaya Barat akan segera dibentuk.

Di Irian ada delapan kabupaten dan sebuah kota. Sehingga, akat Mulyana, KPU daerah
hanya tinggal
melakukan pendaftaran partai, menentukan daerah pemilihan dan menerima pencalonan
anggota Dewan Perwakilan Daerah.

Purwanto - Tempo News Room


Panwas Bahas Pelanggaran Pilkada Irian Jaya Barat
Rabu, 15 Maret 2006 | 00:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Kepala Daerah Provinsi


Irian Jaya Barat Rudi Maturbongs mengatakan, Selasa (14/3) ini, Panitia Pengawas
Distrik bersama Panitia Pengawas Kabupaten akan melakukan rapat. Rapat tersebut
untuk menentukan apakah temuan dan laporan termasuk dalam katagiori pelanggaran
atau tidak.

Kalau terjadi pelanggaran, dibagi lagi apakah termasuk ke dalam pelanggaran


administratif ataukah pidana. Namun panitia pengawas tidak berhak memberi sanksi atas
pelanggaran yang terjadi.

"Jika terbukti temuan dan laporan itu merupakan pelanggaran adminstratif maka akan
diproses KPUD. Namun kalau pidana akan dilaporkan ke pihak kepolisian," kata Rudi
kepada Tempo.

Secara umum, Rudi menambahkan, pilkada berjalan lancar. “Namun ada masalah-
masalah yang masih dalam batas kewajaran,” kata Rudi.
Contohnya, kasus yang terjadi dalam pilkada Irian Jaya Barat adalah adanya ketua TPS
yang mencoblos dua surat suara, kampanye dengan membagikan sticker bergambar calon
pasangan gubernur kepada warga yang hendak menuju ke TPS juga terjadi.

Pelanggaran tersebut, Rudi menambahkan, terjadi di satuan pemukiman transmigrasi


yang terletak 65 kilometer di luar kota Manokwari. "Penduduk setempat merupakan
warga dari Jawa yang bertransmigrasi pada tahun 80-an," ujar Rudi.

Selain itu, di Bakaro, Manokwari, ada 55 mahasiswa Jayapura yang sedang


melaksanakan kuliah kerja nyata ikut memberikan suara di Manokwari. Mahasiswa
tersebut baru tinggal sekitar 1-3 bulan di Manokwari. Pahadal yang boleh memberikan
suara adalah penduduk setempat.

Yng dimaksud dengan penduduk setempat adalah warga yang telah menetap di tempat
tersebut setidaknya enam bulan dan telah memiliki KTP. Rudi mengakui adanya
mahasiswa Jayapura yang memilih disebabkan adanya kelemahan dalam pilkada.

"Seharusnya pemilih memiliki kartu hak pilih. Namun karena pilkada ini sudah tertunda
maka digunakan surat undangan dengan model C6,” ujar Rudi. Surat undangan tersebut
diberikan kepada pemilih dan harus dibawa saat akan memilih di TPS.

Rudi juga mengatakan bahwa pada H-1 pemilihan panitia pengawas masih menemukan
spanduk-spanduk kampanye dari tiga pasangan calon gubernur. Hasil temuan panitia
pengawas sampai saat ini menemukan 41 spanduk kampanye pasangan Abraham
Octavianus Atururi- Rahimin Katjong, 39 spanduk kampanye pasangan Yorrys Th
Raweyai-Abdul M.Killian, dan 1 spanduk kampanye pasangan Dortehus 'Decky'
Asmuruf-Ali Kastela. KURNIASIH BUDI

Korban tewas akibat perang antarsuku di Mimika,


Papua, Berjumlah empat orang
Kategori: Pembangunan
Oleh Metrotvnews.com
Oct 19, 2007 - 12:51:41 AM
Digg cerita ini!
Email artikel ini
Halaman cetak

Mimika: Kepala Kepolisian Resor Mimika Ajun Komisaris Besar Polisi Goldhel M.
Nembra menegaskan korban tewas akibat perang antarsuku di Mimika, Papua, Berjumlah
empat orang. Klarfikasi ini disampaikan Kapolres ketika dihubungi Metro TV melalui
sambungan telepon, Kamis (18/10) sore. Sebelumnya, dalam pemberitaan situs berita ini
disebutkan bahwa korban tewas mencapai delapan orang.

Kapolres mengatakan berbagai cara sudah dilakukan untuk meredam dan menghentikan
perang antarsuku di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika ini. Salah satunya dengan
berdialog dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan perwakilan dari Kampung
Kimbeli, yakni Suku Dani dan Damal.

Menurut Kapolres, dialog kurang berhasil. Sebab, dua suku di Kimbeli bersikeras
meneruskan peperangan. Alasannya, korban tewas dari mereka lebih banyak, yakni tiga
orang, dibanding korban dari Kampung Banti, Suku Amungmue, yang hanya satu orang.
Mereka bertekad meneruskan perang hingga korban sama-sama berjumlah tiga orang.
Namun, Kapolres memastikan pihaknya akan terus berupaya untuk membujuk
menghentikan perang.

Godhel membenarkan pihaknya tidak bisa mengambil tindakan lebih tegas untuk
menghentikan perang. Sebab, konflik antarsuku di Papua, berbeda dengan konflik di
daerah lain. Jika polisi mengambil tindakan tegas, masalah justru akan berbalik atau
mereka akan bergabung dan menyerang polisi. Lagipula, instruksi dari Kepolisian Daerah
Papua memang memerintahkan untuk dilakukan negosiasi. "Karena mereka, jika sudah
ada korban jiwa, emosinya sudah tidak bisa dikendalikan," jelas Kapolres.

Menyoal pemicu awal konflik, Kapolres mengatakan, kematian seorang warga dari Suku
Damal--bukan dari Suku Amungmue seperti di berita sebelumnya. Menurut Kapolres,
warga Suku Damal tersebut tewas setelah mabuk. Dan warga Damal menuding kematian
Fred Magai itu akibat mabuk-mabukan bersama warga Amungmue. Kapolres
memastikan bahwa peperangan ini tidak terkait dengan konflik antarsuku yang sama
sebelumnya. Polisi kini sedang berusaha keras agar peperangan tidak meluas ke wilayah
Timika.(DEN)

Mimika: Kepala Kepolisian Resor Mimika Ajun Komisaris Besar Polisi Goldhel

Penyebaran AIDS di Papua Dievaluasi Tahun 2010


Nusantara / Minggu, 6 Desember 2009 01:39 WIB
Metrotvnews.com, Jayapura: Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi
Papua, Constant Karma, mengemukakan, penyebaran penyakit HIV/AIDS di Papua akan
dievaluasi secara menyeluruh pada tahun 2010 mendatang.

"Apakah sudah ada kesadaran masyarakat untuk bersama mewaspadai hal tersebut, kita
akan lakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyebaran penyakit HIV/AIDS di Papua,
tahun depan," kata Constant di Jayapura, Sabtu (5/12).

Salah satu tujuuan dari evalusai tersebut menurutnya, antara lain untuk mengetahui
perkembangan terakhir terkait penyebaran HIV/AIDS di Papua.

Constant juga menambahkan dari data dan materi yang akan dibahas dalam evaluasi
nanti akan diambil manfaatnya untuk di buat suatu gebrakan yang ikut membantu
pencegahan penyebaran HIV/AID di Papua yang paling efektif.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat jumlah penderita HIV/AIDS
di Papua mencapai 4.745 jiwa. Constant Karma mengungkapkan, 94 persen penyebaran
penyakit HIV/AIDS di Papua disebabkan perilaku seks bebas dengan berganti pasangan
dan kaum pria menjadi pemicu paling tinggi penularan HIV/AIDS di Papua.

Constant Karma juga mengemukakan, jumlah penderita HIV/AIDS di Papua Barat cukup
mengkhawatirkan yakni tercatat sekitar 1.500 kasus. Sementara jumlah penderita AIDS
yang meninggal dunia di Papua selama 2009 tercatat 400 jiwa. Namun kemungkinan ada
yang meninggal tetapi tidak terdata.(Ant/RIZ)