Anda di halaman 1dari 8

Definisi

Nilai diri berdasarkan Kristus merupakan penilaian seseorang secara


menyeluruh tentang dirinya yang diperoleh dari pemahaman yang benar
bagaimana Allah melihat dan menilai dirinya.

Nilai diri atau self-esteem adalah bagaimana seseorang merasa tentang


dirinya, yaitu penilaian seseorang secara menyeluruh tentang dirinya atau
seberapa banyak seseorang menyukai dirinya sendiri.

Bila penilaian seseorang tentang dirinya tinggi, ia akan merasa dirinya


berharga dan merasa senang pada dirinya. la senang bahwa dirinya adalah
sebagaimana ia adanya. Maka dikatakan orang itu mempunyai nilai diri tinggi
(high self esteem). Sebaliknya, bila penilaian seseorang terhadap dirinya
secara keseluruhan rendah, ia akan merasa diri kurang berarti dan cenderung
kurang senang pada diri, atau malu pada dirinya. Orang tersebut mempunyai
nilai diri rendah (low self esteem).

Nilai diri tinggi dan nilal diri rendah, jangan dikacaukan dengan tinggi hati
dan rendah hati. Malah seringkali justru karena orang mempunyai nilai diri yang
tinggi dan merasa aman dan damai dengan dirinya, dapat lebih menghargai
orang lain. Sebaliknya orang yang menilai dirinya rendah, bukan bersikap rendah
hati, tetapi akan merasa rendah diri, merasa tidak mempunyai keunggulan dan
bakat apa-apa. Yang disadarinya hanyalah kelemahannya dan untuk menutupi
kelemahannya ia merasa perlu untuk menonjolkan dirinya dengan mengecilkan
orang lain. la bersikap sombong dan tinggi hati serta cenderung iri/sirik pada
orang lain yang dinilainya lebih dari dirinya. Maka ia kurang bisa menghargai
orang lain dan menutupi atau mengecilkan keunggulan orang lain .

Penilaian seseorang terhadap dirinya sangat


mempengaruhi dan menentukan dalam banyak
hal, misalnya :
- bagaimana ia berhubungan dengan orang lain.
- siapa yang ia pilih sebagai temannya
- seberapa jauh produktifitas
- bagaimana keberaniannya untuk bersikap kreatif
- seberapa jauh ia mau berusaha untuk berhasil
- apakah ia akan jadi pemimpin atau pengikut

Perasaan tentang nilai dirinya adalah inti dari kepribadian seseorang.


Perasaan ini menentukan apakah ia akan menggunakan bakat dan kesanggupan
yang ada pada dirinya, atau membiarkannya berlalu. Sesungguhnya penilaian
diri adalah sumber utama apakah seseorang akan berhasil atau gagal dalam
hidupnya. Karena itu, penilaian seseorang terhadap dirinya sangat penting.

Penilaian diri sebagai tinggi/rendah terjadi


berdasarkan 2 faktor pertimbangan yaitu:
1. Apakah saya dicintai
berarti keberadaan saya diterima oleh sekeliling saya.
2. Apakah saya berharga
berarti keberadaan saya membawa dampak/saya berguna/berarti, saya
mempunyai kesanggupan untuk mengatur diri sendiri dan lingkungan saya
dengan baik, dan saya tahu saya dapat memberi suatu sumbangsih kepada
orang lain.

Setiap orang mempunyai kebutuhan untuk dicintai dan merasa berharga dan
kebutuhan ini terus berlangsung selama orang hidup.

Kalau dikatakan, anak rnempunyai kebutuhan untuk dicintai karena itu


orang tua harus mencintai anaknya, banyak orang tua akan mengatakan tentu
saja saya sayang kepada anak saya! Tetapi soalnya bukan being loved tapi yang
penting feeling loved. Apakah anak itu juga merasa bahwa dirinya disayang?
Seringkali pesan ini tidak sampai. Orang tua bekerja mati-matian untuk anak,
sampai tidak mempunyai waktu untuk anak. Maka kasih sayang orang tua tidak
bisa dirasakan anak.

Demikian juga mengenai perasaaan diri berharga. Orang tua ingin anak
mempunyai rasa diri berharga tetapi memarahinya di depan temannya atau
orang tua tidak berani memberi tanggung jawab, karena merasa ia belum bisa.
Maka konsep tentang dirinya ia anak yang tidak sanggup, ia merasa diri kurang
berharga/ kurang berarti/ kurang berguna.

Asal Mula Nilai Diri

Beberapa eksperimen dengan bayi menyimpulkan bahwa banyaknya


respon hangat yang diterima seorang hayi, menjadi dasar untuk kelak
terbentuknya pandangan positif mengenai dirinya. Respon ini dapat berupa
perhatian, senyuman, pelukan, nyanyian, serta bentuk-bentuk permainan dan
percakapan dengan bayi. Meskipun belum mengerti kata-kata, namun seorang
bayi sudah dapat menyimpulkan kesan tentang dirinya dari bagaimana ia
diperlakukan. Sentuhan, gerakan tubuh, ketegangan otot, nada suara dan
ekspresi wajah dari orang-orang disekitarnya mengirimkan pesan kepadanya,
siapa dirinya. Orang-orang yang penting dalam hidup anak berperan sebagai
"psychological mirrors " atau cermin yang memberikan gambaran sejak ia
masih sangat kecil tentang siapa dirinya; baik melalui bahasa kata-kata, maupun
melalui bahasa tubuh. Misalnya kalau ibunya memberi respon yang hangat
terhadap kebutuhannya, ibunya datang ketika ia menangis, tersenyum dan
memeluknya, ia mendapat pengalaman bahwa dirinya diterima dan berharga.
Sikap ibunya adalah seperti cermin yang memperlihatkan siapa dirinya. Ini
adalah cikal bakal untuk bertumbuhnya nilai diri yang tinggi.
Sebaliknya, bila setelah dibiarkan menangis lama akhirnya ibunya datang
juga, lalu sambil mengomel-ngomel mengganti popoknya dengan wajah
cemberut, lalu mendorong botol susu dengan kasar ke mulutnya, lalu sambil
menyusuinya membaca majalah, maka bahasa tubuh ibu ini menjadi cermin
bahwa keberadaan dirinya sebetulnya menggangu ibunya. Kalau hal seperti ini
sering terjadi, anak itu mempunyai konsep bahwa dirinya tidak disukai, tidak
disayang dan tidak berharga. Banyak/sedikitnya cerminan/gambaran positif yang
diterima sejak dini menentukan terbentuknya konsep diri yang positif/negatif.
Konsep diri itu membentuk nilai diri seseorang.

Ketika anak sudah lebih besar dan mengerti kata-kata, juga kata-kata dan
sikap orang-orang di sekitarnya menjadi cerminan yang membentuk konsep
dirinya dan nilai dirinya. Maka anak akan menilai diri sendiri setinggi ia dinilai
orang-orang tersebut.
Di samping orang tua, orang-orang lain pun menjadi cermin untuk anak,
misalnya kerabat, tetangga, baby sitter, pembantu turut membentuk
pandangannya terhadap dirinya. Dari penilaian orang lain, tumbuhlah penilaian
terhadap diri sendiri. Semakin ia menyukai konsep dirinya, semakin tinggi self
esteem/penilaian dirinya.

Dampak Nilai Diri Terhadap Kepribadian Anak


Anak yang seringkali menerima cerminan positif, akan merasa bahwa
"saya disayang, saya dianggap berharga bagi mereka. Orang tua saya
mengatakan bahwa saya sudah dapat melakukan beberapa hal dengan baik,
namun masih banyak hal yang perlu saya pelajari. Kalau belum berhasil, saya
akan berusaha lagi, nanti saya pasti bisa, lalu saya ingin mencoba melakukan
banyak hal baru. Saya senang pada diri saya".

Kemungkinan besar anak seperti ini akan tumbuh dengan kepribadian


yang mantap, yakin diri, tidak takut gagal, tidak mudah putus asa, kreatif,
bersedia bekerja keras untuk mencapai yang diharapkan dan dapat diandalkan.
Sebaliknya, anak yang sering mendapat cerminan yang negatif dan jarang
mendapat cerminan yang positif dari sekelilingnya, akan menilai dirinya sebagai
orang yang tidak dicintai dan tidak berharga. la merasa rendah diri dan tidak
yakin akan kemampuannya. la kurang mau mencoba karena merasa pasti akan
gagal. Meskipun ia mempunyai banyak segi kekuatan, namun yang dilihatnya
adalah kelemahannya. la akan bersikap ragu-ragu, takut mengambil inisiatif,
takut menghadapi risiko. Kemungkinan besar anak ini akan tumbuh dengan
kepribadian yang lemah, kurang yakin diri, merasa diri kurang sanggup, dan
mempunyai hari depan yang kurang cerah.

Harapan dan Kemungkinan

Kalau seorang anak sudah berkesimpulan. tidak disayang dan tidak


berharga, apakah sikap ini masih dapat berubah? Dapat, meskipun tidak mudah.
Karena konsep diri tumbuh dari pengalaman, bukan bawaan dan bukan
diturunkan dari orang tua kepada anak, maka berarti nilai diri masih dapat
berubah ke arah positif. $yaratnya ialah mendapat pengalaman yang positif dan
mempunyai keinginan untuk berubah/bertumbuh. Jadi untuk memulihkan rasa
dikasihi, ia perlu mendapat pengalaman diterima dengan hangat oleh orang
disekelilingnya. Untuk memulihkan rasa mampu dan berharga, ia perlu
mengalami sukses dalam apa yang dilakukannya. Adalah menggembirakan
untuk mengetahui bahwa orang mempunyai kapasitas/kemungkinan yang besar
untuk
berkembang dengan baik dalam waktu yang relatif singkat, kalau mendapat
pengalaman yang positif. Pengalaman positif dapat datang dari anggota
keluarga, teman dan orang lain, yang dapat menyediakan suasana yang
membangun nilai dirinya. Misalnya suami/istri yang bersikap menopang, anggota
keluarga/teman, yang bersikap menghargai, bacaan yang membangun,
introspeksi diri yang realitis, terapi psikologis maupun ajaran agama yang
menolong dan mengangkat dirinya.
NILAI DIRI BERDASARKAN KRISTUS DAN
DAMPAKNYA
Harapan untuk bertumbuh dalam penilaian diri yang positif, menjadi lebih
besar bagi orang yang berpedoman pada Nilai Diri Berdasarkan Kristus (Christ-
based self-esteem). Karena nilai diri kita bukan hanya didapat dari orang-orang
di sekeliling kita, melainkan dari instansi yang lebih tinggi dari manusia, dari
Tuhan sendiri. Cerminnya seakan-akan ada di atas. Dan cermin ini menyatakan
kepada kita bahwa :

a. Kita begitu dicintai oleh Allah, sehingga la tidak segan-segan mengaruniakan


AnakNya yang cuma satu-satunya supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya mendapat hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

b. Di dalam Tuhan Yesus kita tidak dianggap jelek dan rendah, karena oleh
pengorbanan Nya dosa kita diampuni dan kita mendapat kasih karunia Allah
(Efesus 1: 4 - 7).

c. Ketika kita masih berdosa, Allah menyatakan kasihNya kepada kita. Berarti
kita diterima oleh Allah dalam keadaan kita sejelek-jeleknya, karena
pengorbanan Tuhan Yesus untuk kita (Roma 5:8).

d. Kita dianggap berharga dan mempunyai kemampuan, sehingga diserahi


tanggung awab untuk mengurus dunia dan segala isinya (Kejadian 1 :26-28 -
Mazmur 8 : 5-7).
Maka sebetulnya sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, kita tidak
usah merasa tertekan oleh penilaian orang yang memperlakukan kita dengan
kurang sayang dan menganggap kita kurang berarti sehingga kita mempunyai
nilai diri rendah, karena sesungguhnya Allah menilai diri kita sebagai dikasihi,
diterima dan berharga. Kalau Allah saja menerima dan mengasihi diri kita, siapa
yang dapat menolak kita dan menganggap kita tidak mampu dan tidak bisa?" Itu
dimungkinkan perbuatan Tuhan
Yesus untuk kita. Kita mendapat self-esteem yang tinggi karena berdasarkan
Tuhan Yesus.

Berkat perbuatan Tuhan Yesus, kita tidak usah mempunyai low self-
esteem/ merasa rendah diri. Di dalam Tuhan Yesus kita mendapat penghiburan
dan kekuatan untuk berkembang lebih baik, kita telah diterima, dikasihi dan
dipandang berharga.

Nilai diri berdasarkan Kristus adalah dasar yang memungkinkan orang


berkembang lebih lanjut dalam kepribadiannya. Sebab nilai ini adalah ibarat
kunci yang dapat membuka pintu menuju perkembangan nilai diri positif.
Dampak pada orang yang memahami nilai diri berdasarkan Kristus, pada satu
pihak ia mendapat bekal berupa kekuatan dan janji pertolongan Tuhan Yesus
dalam ia berusaha bersikap sesuai nilai-nilai hidup Kristiani tersebut. Pada lain
pihak ia mendapat penugasan untuk meneladani Tuhan Yesus dalam hidupnya
("Sebab Aku telah memberikan teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat
sarna seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" - Yohanes 13:15; "Seperti Aku
telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi" : Yohanes
13:34). Maka dengan mendapat bekal dan janji pertolongan serta penugasan
Tuhan, orang mempunyai motivasi yang lebih kuat untuk mengembangkan
kepribadian dirinya ke arah yang lebih baik. Dengan melaksanakan nilai-nilai
Kristiani, makin banyak nilai-nilai hidup yang dipunyainya, makin baik pribadinya,
sehingga makin positif nilai dirinya.

Konsep Nilai Diri berdasarkan Kristus dapat dijabarkan dengan sikap seperti:
- Mengandalkan Tuhan dalam segala perkara .
- Menghargai diri sendiri dan orang lain
- Melakukan pekerjaan dengan penuh sukacita
Kesimpulan

Hal yang penting dalam penanaman nilai diri berdasarkan Kristus adalah
ditekankannya sikap mengandalkan Tuhan dalam segala perkara, menghargai
diri sendiri dan orang lain, melakukan pekerjaan dengan penuh sukacita. Dengan
nilai diri berdasarkan Kristus maka seseorang akan merasa dirinya berharga dan
kemudian ia akan memperlakukan orang lain dengan baik juga.

Sebaliknya orang yang memiliki sikap cepat berputus asa, mudah


menyerah hidupnya akan kacau dan merusak merasa dirinya tidak berharga,
direndahkan cenderung akan melihat orang lain dengan penilaian yang juga
negatif. Akibatnya ia kurang dapat bersosialisasi dengan baik.

Hubungan dengan orang lain menjadi kurang harmonis dan dapat menjadi
batu sandungan. Karena itu sangat penting memahami bahwa tanpa nilai diri
berdasarkan Kristus, tidak dapat seseorang mencapai keberhasilan yang
membanggakan dan membahagiakan dirinya dan juga orang lain.

Pemahaman yang benar dan jelas dari semua komunitas Sabda Space
tentang nilai diri berdasarkan Kristus yang berakar pada firman Tuhan, dapat
memampukan dalam mengatasi cobaan yang muncul dari keinginan untuk
melihat hanya dari segi kesenangan dan keuntungan diri sendiri ataupun
kesepakatan bersama. Terbentuknya karakter diri berdasarkan Kristus
memungkinkan untuk memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan.