Anda di halaman 1dari 3

Audit dan laporan keuangan keluarga ~ 1

Posted 25 June 2008


Filed under: Audit, Budget | Tags: Keuangan Keluarga
Leave a Comment

Apanya yang diaudit ya?! Jawabannya ya lebih kurang sama dengan audit perusahaan
oleh audit firm atau kantor akuntan publik. Tentu saja item yang diaudit tidak sebanyak
audit perusahaan, dan mungkin juga prosesnya tidak sampai berminggu-minggu, sehari
dua mungkin cukup.

Kalau perusahaan diperiksa semua laporan keuangan dan akuntasinya, yang bisa berupa
arus kas, laba rugi serta neraca, keuangan rumah tangga lebih sederhana. Tujuan
utamanya adalah untuk menentukan apakah perusahaan atau rumah tangga mempunyai
kemampuan untuk terus melanjutkan operasionalnya (going concern). Artinya,
apakah rumah tangga kita mempunyai kondisi keuangan yang fit dan memadai untuk
terus bertahan dan berkembang secara finansial.

Untuk bisa menentukan status sehat tidaknya kondisi keuangan keluarga ini, kita harus
memulainya dengan memeriksa laporan keuangan tentunya. Berbeda dengan perusahaan,
laporan keuangan rumah tangga cukup berisi laporan neraca (net worth) dan income
statement berupa laporan pendapatan dan pengeluaran.

Nah, berhubung kedua hal ini (audit dan membuat laporan) sangat berkaitan dan juga
relatif bisa dikerjakan hampir berbarengan – asalkan datanya lengkap, maka kita akan
membahas dua hal ini sebagai satu seri tulisan.

Laporan keuangan keluarga

Laporan keuangan terdiri dari balance sheet dan income statement, dan untuk kesempatan
kali ini kita akan melihat format neraca keuangan keluarga.

Neraca adalah potret kondisi kekayaan dan kewajiban rumah tangga pada akhir suatu
periode tertentu, misalnya akhir tahun kalender. Sebagaimana neraca perusahaan, neraca
rumah tangga juga harus berimbang (balance) antara asset dan liabilities-nya. Namun
komponennya sedikit berbeda;

Kekayaan
Jumlah
Cash – Giro
2.000.000
Cash – Simpanan
2.000.000
Deposito
30.000.000
Saham, Reksadana, ORI, dll.
-
Asuransi Jiwa (cash balance)
23.000.000
Harta bergerak (kenderaan, perhiasan, dll)
100.000.000
Dana Pensiun
5.000.000
Properti – rumah (harga pasar)
200.000.000
Lain-lain – barang antik
500.000.000
Total Asset
862.000.000

Liabilities
Jumlah
Hutang lancar (Credit cards)
20.000.000
Hutang jangka pendek (<1 thn)
-
Pajang terhutang
5.000.000
Hutang jangka panjang (>5 thn; KPR, mobil)
300.000.000
Lain-lain

Total Liabilities
325.000.000

Net Worth
537.000.000,-

Dari laporan diatas, jelas bahwa pemilik Neraca bersangkutan memiliki kekayaan (net
worth) yang cukup besar, karena a) aset yang dia miliki cukup besar dan b) hutangnya
sangat kecil dibandingkan total kekayaannya.

Ini tentu idaman semua keluarga. Namun tidak sedikit juga rumah tangga yang neraca
nya masih balance dengan hutang yang membengkak – alias net worth nya minus.
Mungkin ada juga yang benar-benar imbang, yaitu sama antara jumlah kekayaan dengan
kewajiban.

Salah satu manfaat dari mempunyai neraca keuangan sendiri ini adalah kemudahan dalam
mengisi SPT setiap tahunnya. Dan ketika kita punya neraca satu tahun, ini bisa dijadikan
template untuk tahun-tahun berikutnya, sehingga ketika datang bulan Maret, kita dengan
cepat bisa menentukan kewajiban pajak kita kepada negara. Yang sulit adalah
memulainya.

Disamping itu, yang lebih penting lagi, neraca bisa menjadi basis bagi Anda dalam
menghitung jumlah zakat maal yang harus dibayar. Dari tabel diatas, jelas orang tersebut
– fiktif tentunya, sudah wajib zakat; dan berdasarkan net worth-nya, kewajiban
zakatnya lebih kurang Rp. 13,425,000 per tahun. Angka ini diperoleh dari perhitungan
2,5% dari nilai net worth.

Namun harus diperhatikan, untuk perhiasan atau harta yang sifatnya idle, seperti emas
atau barang antik, sebagian ulama mengharuskan pembayaran zakat yang lebih besar (5-
10%).

Kegunaan lain dari neraca adalah sebagai alat kontrol bagi kita dalam menentukan
kemampuan going concern kita untuk tahun-tahun berikutnya. Neraca yang defisit (net
worth nya minus) menyiratkan perlunya pemangkasan kewajiban, mengurangi hutang
dan langkah-langkah penghematan lainnya.

Disisi lain, defisit juga bisa ditutupi dengan meningkatkan aset (mencari pendapatan
tambahan) atau konversi aset tetap menjadi cash – guna membayar hutang-hutang yang
ada. Dan seterusnya.

Sementara, kalau neraca kita sehat seperti contoh diatas, langkah lanjutnya lebih kepada
memanfaatkan kelebihan tersebut untuk keperluan ibadah (haji, perbanyak infaq),
membuka usaha, dan sebagainya.