Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Kejang merupakan kelainan neurologi yang sering ditemukan pada anak, sekitar
4-10% anak menderita setidaknya satu kali bangkitan kejang pada 16 tahun pertama
kehidupan. Insiden tertinggi pada anak kurang dari 3 tahun, dan frekuensi menurun pada
anak yang lebih tua. Penelitian epidemiologi menunjukkan diperkirakan 150.000 anak
akan mengalami kejang pertama yang tidak terprovokasi setiap tahun, dan 30.000 anak
tersebut akan berkembang menjadi epilepsy.
Kejang merupakan suatu perubahan fungsi pada otak secara mendadak dan sangat
singkat atau sementara yang dapat di sebabkan oleh aktivitas otak yang abnormal serta
adanya pelepasan listrik serebral yang sangat berlebihan. Kejang demam berdasarkan
definisi dari The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology
and Prognosis 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari
38,4oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak
berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang sebelumnya (IDAI, 2009).
Kejang demam adalah kejang yang terkait dengan demam dan usia, serta tidak
didapatkan infeksi intracranial ataupun kelainan lain di otak. Demam adalah kenaikan
suhu tubuh di atas 38C rectal atau 37,8C aksila. Pendapat ahli terbanyak kejang demam
terjadi pada waktu anak berusia antara 3 bulan sampai dengan 5 tahun. Berkisar 2-5%
anak di bawah umur 5 tahun pernah mengalami bangkitan kejang demam. Lebih dari
90% penderita kejang demam terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun. Terbanyak
bangkitan kejang demam terjadi pada anak usia antara 6 bulan sampai dengan 22 bulan.
Insiden bangkitan kejang demam tertinggi pada usia 18 bulan.
Di Amerika Serikat dan Eropa prevalensi kejang demam berkisar 2,2 % - 5%. Di
Asia prevalensi kejang demam meningkat dua kali lipat di banding di Eropa dan
Amerika. Di Jepang kejadian kejang demam berkisar 8,3 %-9,9%, bahkan di Guam
insiden kejang demam mencapai 14 %. Kejadian kejang demam di Indonesia dilaporkan
mencapai 2 - 4 % di tahun 2005 - 2006. Provinsi jawa tengah 2-3% dan tahun 2005 2006 rumah sakit Roesmani Semarang untuk kasus mencapai 2% pada tahun 2004 - 2006
lebih sering pada anak laki-laki.

Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam. Pertama sewaktu demam


berlansung singkat dengan bangkitan kejang dapat berbentuk tonik, klonik, fokal atau
akinetik. Umumnya kejang demam berhenti sendiri, begitu kejang demam berhenti anak
akan terbangun dan sadar tanpa adanya kelainan saraf. Kejang dikelompokan menjadi
dua yaitu kejang demam sederhana dan kejang kompleks. Kejang demam merupakan
salah satu kelainan saraf tersering pada anak factor yang berperan dalam etiologi kejang
demam yaitu : demam, usia, riwayat keluarga, trauma persalinan, dan BBLR.
Ketika seorang anak datang dengan keluhan kejang, harus diusahakan mencari
penyebabnya. Gambaran yang detail dari seorang saksi mata merupakan faktor yang
paling penting untuk mendiagnosis secara tepat. Bila riwayat penyakit tampaknya tidak
sesuai dengan kejang, diagnosis alternatif harus dipikirkan.
Angka kematian kejang demam hanya 0,64 % - 0,75 %, sebagian penderita kejang
demam sembuh sempurna, sebagian berkembang menjadi epilepsy sebanyak 2-7 %.
Sebagian terbesar serangan kejang demam berlansung singkat yaitu kurang dari 15 menit,
serta bersifat sementris, bilateral atau umum. Prichard dan MC gral mengemukakan
bahwa bila pireksia (suhu badan tinggi) merupakan penyebab utama dari kejang demam,
dan bentuk kejang simetris. Namun, didapatkan bahwa kenyataan lain bahwa otak tidak
selalu bereaksi secara simetris terhadap stimulus atau rangsangan yang umum, tetapi
kasus yang demikian jarang. Walaupun prognosis kejang demam baik, bangkitan kejang
demam cukup menghawatirkan bagi orang tuanya dan sebagian besar orang tua belum
mengetahui tentang penyakit kejang demam. Sebagian besar menganggap anaknya sakit
berat dan akan berakhir dengan kematian, atas dasar pertimbangan bahwa demam
memungkinkan bangkitan kejang demam, kejang demam menurunkan tingkat kecerdasan
dan cacat saraf, kekhawatiran dan kebingungan orang tua terhadap anaknya mengalami
bangkitan kejang. Untuk kepentingan tersebut pengetahuan tentang cara memperidiksi
terhadap bangkitan kejang demam dan factor risiko yang menyebakan kejang demam.

BAB II
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Masuk RS
No. RM

: An. A
: 7 bulan
: Perempuan
: Tambun Selatan, Kab. Bekasi
: Islam
: 23 April 2015
: 03 50 00 41

IDENTITAS ORANG TUA

Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Pekerjaan

Ayah
Tn. S
38 tahun
Laki-laki
Tambun Selatan
Islam
Karyawan Swasta

Ibu
Ny. A
30 tahun
Perempuan
Tambun Selatan
Islam
Ibu Rumah Tangga

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara allo-anamnesis kepada Ibu pasien, pada tanggal 24 April
2015 di ruang PICU RSUD Kota Bekasi pukul 11.00 WIB.
1. Keluhan Utama
Kejang sebanyak 3 kali (tanggal 23 April 2015)
2. Keluhan Tambahan
Penurunan kesadaran
Badan panas 5 hari SMRS
Perut kembung sejak pagi SMRS
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa oleh kedua orang tua pasien ke IGD RSU Kota Bekasi
karena kejang sebanyak 3 kali hari itu, setiap kejang berlangsung 5 menit. Ini
merupakan kejang yang pertama. Sesaat sebelum kejang, ibu pasien menyatakan
perut pasien kembung. Saat kejang tangan dan kaki pasien kaku, mata tidak
mendelik ke atas, dan tubuh tidak bergetar. Setelah kejang pasien mengantuk, tapi
masih bangun. Saat tiba di RSU Kota Bekasi pasien sudah tidak sadar.
Menurut ibu pasien, sejak 5 hari sebelum kejang pasien demam naik turun.
Ibu pasien mengatakan demam pertama kali diawali dari adanya bekas gigitan di

bibir kiri bawah, kemudian seluruh tubuh pasien merah-merah. Setelah itu, pasien
dibawa ke bidan dan diberikan obat penurun panas. Setelah minum obat tersebut,
demam pasien turun dan merah-merah di tubuh menghilang. Tapi besoknya pasien
demam lagi dan demam kali ini dirasakan tinggi. Pasien kembali dibawa ke bidan
namun demam tidak turun, lalu keluarga membawa pasien ke dokter umum dan
diberikan obat namun demam tetap tidak turun. Pada hari kelima panas, pasien
kejang pertama kali di rumah kemudian setelah 5 menit berhenti. Pasien lalu
dibawa ke RS Sentosa dan disana kejang untuk kedua kalinya, lalu diberi obat
dari anus. Karena di RS tersebut ruang rawat penuh, pasien dibawa ke RS Bakti
Kartini, tapi ruangan penuh. Lalu dibawa ke RSU Kota Bekasi dan mengalami
kejang ketiga di IGD.
Ibu pasien menyangkal adanya muntah, diare, ataupun penyakit lain pada
pasien. Nafsu makan pasien sejak demam menurun, pasien masih mau minum
4.

ASI, BAK dan BAB tidak ada masalah yang bermakna.


Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya pasien belum pernah mengalami kejang. Pasien juga tidak

5.

memiliki riwayat alergi dan sakit yang lama.


Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga pasien tidak ada yang memiliki penyakit yang sama dengan

6.

pasien dan tidak ada yang memiliki alergi.


Riwayat Penyakit Sosial
Di wilayah tempat tinggal pasien tidak ada yang memiliki penyakit yang

7.

sama dengan pasien.


Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ibu pasien
mengandung cukup bulan dan selama kehamilan tidak pernah ada gangguan yang
bermakna. Pasien dilahirkan dengan bantuan bidan dan saat lahir BBL : 2.900
gram dengan PB : 47 cm. Pasien lahir dengan menangis spontan, tidak nampak

8.

biru atau pun kulit berwarna kuning.


Riwayat Pertumbuhan
Menurut ibu pasien tidak pernah ada gangguan pada pertumbuhan pasien.
Berat badan pasien setiap kali ditimbang selalu bertambah, begitupun dengan

9.

panjang badan pasien.


Riwayat Perkembangan

Menurut ibu pasien perkembangan antara pasien dengan kakak pasien jauh
lebih terlambat. Saat ini pasien baru bisa tengkurap dan duduk jika dipegang.
10. Riwayat Imunisasi
BCG
DPT
Polio
Campak
Hep. B
11. Riwayat Makan
Pasien telah

: (+)
: (+)
: (+)
: (-)
: (+)
diberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan tetap

dilanjutkan sampai saat ini. Selain itu, pasien juga diberikan susu formula
Bebelove. Pasien baru mulai makan cerelac.
C

PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALISATA
Keadaan Umum
: Tampak Sakit Berat
Kesadaran
: Sopor
AVPU
: Pain
PAT
:
o P
: look (-) cry (-) interactive (-) consolability (-) tone (+)
o A
: nafas spontan, NCH (-), retraksi (-)
o T
: sianosis (-) pucat (-) CRT <3
Tanda Vital
:
o Tekanan darah
: tidak dilakukan
o Nadi
: 140 x/menit
o Suhu
: 39,5C
o Pernapasan
: 54 x/menit
1.

2.

Data Antropometri
o Berat Badan
o Tinggi Badan
o BB/U
o TB/U
o BB/TB
o Status Gizi
Kepala-Leher
o Bentuk dan ukuran
cekung (-)

: 6,3 kg
: 67 cm
: Kesan < -2 SD
: Kesan Gizi Cukup/Baik (0-2 SD)
: Kesan < -2 SD
: Gizi Kurang

: normocephali, UUB belum tertutup, cembung (-),

o Mata

: PBI diameter 3mm, Refleks Cahaya +/+, CA -/-,

SI -/o Telinga
o Hidung

: tidak ada sekret


: bentuk normal, septum deviasi(-), sekret(-),
NCH (-)

o Mulut

: lidah kotor (-)

o Tenggorokan

: hiperemis faring(-)

o Leher

: trakea ditengah, kel. Tiroid tidak teraba

o Rangsang meningeal : kaku kuduk (-)


3.

Thorax
PARU
o Inspeksi

: gerak dada simetris, tidak tampak retraksi

intercostal dan retraksi subcostae pada kedua lapang paru


o Palpasi
: simetris,krepitasi (-)
o Perkusi
: sonor pada kedua lapang paru
o Auskultasi
: SN ves +/+ Rh-/-, Wh-/JANTUNG
o Inspeksi

: iktus kordis tidak tampak

o Palpasi

: iktus tidak kuat angkat, thrill(-)

o Perkusi

: batas jantung kiri

: ICS V MCL sinistra

batas jantung kanan : ICS IV PSL dextra


batas atas
: ICS II PSL dextra

o Auskultasi
4.

: S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
o Inspeksi

: buncit, tidak tampak distensi

5.
6.
7.
D

o Palpasi

: nyeri tekan (-), hepar tidak teraba

o Perkusi

: meteorismus(-), shifting dullness (-)

o Auskultasi

: bising usus (+)

Ekstremitas
Akral hangat (+) edema (+),sianosis(-)
Kulit
Turgor baik, ptechiae (-)
KGB
Cervical, inguinal, axilla tidak teraba

PEMERIKSAAN PENUNJANG
(Tanggal 23/04/2015 jam 03:36)
Nama Test
Darah Rutin
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
CRP Kualitatif
Fungsi Hati
Albumin
SGOT
SGPT
Fungsi Ginjal
Ureum
Kreatinin
Diabetes
GDS
Elektrolit
Natrium (Na)
Kalium (K)
Clorida (Cl)

Hasil
HEMATOLOGI

Nilai Rujukan

6,8
5,11
13,7
38,6
Index Eritrosit
75,6
26,8
35,5
33
IMUNOSEROLOGI
Non Reaktif
KIMIA KLINIK

5-10
4-5
11-14,5
37-47
75-87
24-30
31-37
150-400
Non Reaktif

2,25
289
139

3,5-4,5
< 37
< 41

15
0,49

20-40
0,5-1,3

485

60-110

124
3,4
91

135-145
3,5-5,0
94-111

(Pemeriksaan Analisa Gas Darah tanggal 23/04/2015 jam 07:52)


Nama Test
pH
pCO2
pO2
O2 saturasi (SO2%)
HCO3
TCO2
BE ecf
BE blood
Std HCO3(SBC)
O2 content
O2 cap
Alveolar oxygen
AaDO2
Suhu
Hb
O2
FiO2

Hasil
7.366
21,4
90,2
96,9
12,4
13,0
-13,2
-10,0
16,6
20
20,4
174,7
84,4
37
14,7
2
28

Nilai Rujukan
7,35 7,45
35 45
83 108
95 98
22 26
23 27
-2 3
-2 3
22 26

RESUME
Seorang anak perempuan berusia 7 bulan datang dibawa keluarganya ke IGD
RSU Kota Bekasi dengan keluhan kejang sebanyak 3 kali hari itu, setiap kejang
berlangsung 5 menit. Ini merupakan kejang yang pertama. Sesaat sebelum kejang, ibu
pasien menyatakan perut pasien kembung. Saat kejang tangan dan kaki pasien kaku, mata
tidak mendelik ke atas, dan tubuh tidak bergetar. Setelah kejang pasien mengantuk, tapi
masih bangun. Saat tiba di RSU Kota Bekasi pasien sudah tidak sadar.
Menurut ibu pasien, sejak 5 hari sebelum kejang pasien demam naik turun. Ibu
pasien mengatakan demam pertama kali diawali dari adanya bekas gigitan di bibir kiri
bawah, kemudian seluruh tubuh pasien merah-merah. Setelah itu, pasien dibawa ke bidan
dan diberikan obat penurun panas. Setelah minum obat tersebut, demam pasien turun dan
merah-merah di tubuh menghilang. Tapi besoknya pasien demam lagi dan demam kali ini
dirasakan tinggi. Pasien kembali dibawa ke bidan namun demam tidak turun, lalu
keluarga membawa pasien ke dokter umum dan diberikan obat namun demam tetap tidak
turun. Pada hari kelima panas, pasien kejang pertama kali di rumah kemudian setelah 5

menit berhenti. Pasien lalu dibawa ke RS Sentosa dan disana kejang untuk kedua kalinya,
lalu diberi obat dari pantat. Karena di sana ruang rawat penuh, pasien dibawa ke RS Bakti
Kartini, tapi ruangan penuh. Lalu dibawa ke RSU Kota Bekasi dan mengalami kejang
ketiga di IGD.
Dari hasil pemeriksaan ditemukan : Keadaan Umum: Tampak Sakit Berat, Kesadaran
Sopor. Tekanan darah tidak dilakukan, Nadi 140 x/menit, Suhu 39,5C, Pernapasan
54 x/menit. Dari Data Antropometri didapatkan Status Gizi : Gizi Kurang
Pemeriksaan umum lainnya masih dalam batas normal. Dari hasil pemeriksaan penunjang
ditemukan kelainan pada hasil eritrosit 5,11 (menurun), trombosit 33 (menurun) albumin
2,25 (menurun) SGOT/PT 289/139 (meningkat) Na 124 (menurun) K 3,4 (menurun) Cl
91 (menurun).
F

DIAGNOSIS
Kejang Demam Kompleks

DIAGNOSIS BANDING
Ensefalitis
Epilepsi
Ensefalopati dengue

PENATALAKSANAAN
Rawat PICU
O2 2 L/m
N5 360 cc/24 jam
Cefotaxime injeksi 2x300 mg IV
Amikasin injeksi 2x50 mg IV
Dexamethasone injeksi 3x2 mg IV
Sanmol injeksi 70 mg IV kalo perlu
Sibital 120 mg IV 12 jam kemudian 2x15 mg IV
Periksa :
o AGD
o Darah lengkap
o Elektrolit
o GDS

PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Functionam

: Ad Bonam
: Dubia Ad Bonam

Ad Sanationam

: Dubia Ad Malam

FOLLOW UP
RUANG PICU

S
Keluhan (-)

23 April 2015
O
A
P
Ket.
S : 38C
Kejang Demam Infus
diganti Lab : jam 16:16
N : 166 x/menit
Leukosit : 9,9
Kompleks
menjadi NaCl
RR : 52 x/menit
Eritrosit : 5,04
Mata : CA-/- SI
loading 100 Hb : 13,7
DD :
Ht : 37,0
-/Ensefalopati
cc
MCV : 73,4
Thorax :
Setelah
itu
dengue
MCH 27,2
Pul. SN ves -/lanjut NaCl 500 MCHC : 37,0
rh +/+ wh -/Trombosit : 37
cc/24 jam
Cor S1S2 reg; m
Ulang GDS 1
g
jam lagi
Abd. Supel BU
Foto Thorax
+ NT
Ext. hangat +
edema

ptechiae
Intake : 300
Output : 309
Balance : -9
Diuresis 6,3
Cek ulang GDS Lab : jam 19:48
GDS 1 jam post
3 jam kemudian
koreksi : 148

S
Keluhan (-)

O
S : 36,2C
N : 138 x/menit
RR : 30 x/menit
Mata : CA-/- SI
-/Thorax :
Pul. SN ves -/rh +/+ wh -/-

24 April 2015
A
Kejang Demam
Kompleks
DD :
Ensefalopati
dengue

P
Ket
RL : 500 cc/24 Albumin : 2,2
Natrium : 124
jam 24
cc/jam
Meropenam
2x250 mg
Amikasin 2x50
mg

Cor S1S2 reg; m

Dexamethasone

g
Abd. Supel BU

3x2 mg
Sibital 2x15 mg
Sanmol 70 mg
Tranfusi

+ NT
Ext. hangat +
edema

albumin 50 cc
Urdafalk 2x75

ptechiae
Intake : 650
Output : 889
Balance : -239
Diuresis : 4,6

S
Keluhan (-)

mg (puyer)
Ulang
GDS/hari

O
S : 35,4C
N : 99 x/menit
RR : 30 x/menit
Mata : CA-/- SI
-/Thorax :
Pul. SN ves -/-

25 April 2015
A
Kejang Demam
Kompleks
DD :
Ensefalopati
dengue

rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m


g
Abd. Supel BU

Cek Na pasca

koreksi
Cek Albumin
Cek seri DHF

ptechiae
Intake : 600
Output : 1129
Balace : -529
Diuresis : 6,2

S
Keluhan (-)

O
S : 35,8C
N : 125 x/menit
RR : 28 x/menit

Ket
24 GDS : 79
Na : 130
cc/jam
K : 4,9
Meropenam
Cl : 88
2x250 mg (3)
Amikasin 2x50 Hb : 13,7
Ht : 38,6
mg (3)
Leukosit : 6800
Dexamethason
Trombosit : 33
3x2 mg
Sibital 2x15 mg
Sanmol 70 mg
kalo perlu

+ NT
Ext. hangat +
edema

P
RL :

26 April 2015
A
Kejang Demam
Kompleks

P
RL :

cc/jam

Ket
24 Leukosit : 9,7
Eritrosit : 3,69
Hb : 10,3

Mata : CA-/- SI
-/Thorax :
Pul. SN ves -/-

Meropenam
DD :
Ensefalopati
dengue

rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m


g
Abd. Supel BU
+ NT
Ext. hangat +
edema

Ht : 27,7
MCV : 75,2
2x250 mg (4)
MCH : 27,9
Amikasin 2x50
MCHC : 37,2
mg (4)
Trombosit : 165
Dexamethason
Protein total : 5
3x2 mg
Albumin : 3,65
Sibital 2x15 mg Globulin : 1,35
Sanmol 70 mg GDS : 70
Na : 131
kalo perlu
K : 4,1
Urdafalk 2x1
Cl : 88
puyer

ptechiae
Intake : 614
Output : 689
Balance : -75
Diuresis 2,9

S
Keluhan (-)

27 April 2015
O
A
S : 35,3C
Kejang Demam
N : 148 x/menit
Kompleks
RR : 30 x/menit
Mata : CA-/- SI
DD :
-/Ensefalopati
Thorax :
dengue
Pul. SN ves -/rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m
g
Abd. Supel BU
+ NT
Ext. hangat +
edema
ptechiae
Intake : 746
Output : 769
Balance : -23
Diuresis : 5

P
RL :

Ket
24

cc/jam
Meropenam
2x250 mg (5)
Amikasin 2x50
mg (5)
Dexamethason
3x2 mg
Sibital 2x15 mg
Sanmol 70 mg
kalo perlu
Urdafalk 2x1
puyer

S
Keluhan (-)

O
S : 36C
N : 98 x/menit
RR : 28 x/menit
Mata : CA-/- SI
-/Thorax :
Pul. SN ves -/-

28 April 2015
A
Kejang Demam
Kompleks
DD :
Ensefalopati
dengue

rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m


g
Abd. Supel BU
+ NT
Ext. hangat +
edema

ptechiae
Intake : 709
Output : 989
Balance : -280
Diuresis : 4,2

P
RL :

Ket
24

cc/jam
Meropenam
2x250 mg (6)
Amikasin 2x50
mg (6)
Sibital 2x15 mg
Sanmol 70 mg
kalo perlu
Urdafalk 2x1
puyer
Luminal

2x15

mg
Rawat

di

bangsal

RUANG MELATI

S
Mencret
kali

29 April 2015
O
A
3 S : 36C
Kejang Demam
N : 100 x/menit
Kompleks
RR : 28 x/menit
Mata : CA-/- SI
DD :
-/Ensefalopati
Thorax :
dengue
Pul. SN ves -/rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m
g
Abd. Supel BU
+ NT
Ext. hangat +
edema

P
RL :

Ket
24

cc/jam
Meropenam
2x250 mg (7)
Amikasin 2x50
mg (7)
Sibital 2x15 mg
Sanmol 70 mg
kalo perlu
Urdafalk 2x1
puyer
Luminal

2x15

mg
Gentamicin

ptechiae

cream
Zinkid 1x5 ml
Susu Bebelove
FL

30 April 2015
O
A
Panas
S : 36,8C
Kejang Demam
Bengkak
di N : 100 x/menit
Kompleks
RR : 30 x/menit
tangan dan kaki
Mata : CA-/- SI
DD :
-/Ensefalopati
Thorax :
dengue
Pul. SN ves -/S

Ket

24 Leukosit : 8,2
Hb : 11,9
cc/jam
Ht : 31,4
Meropenam
Trombosit : 327
2x250 mg (8)
Protein total : 5
Sibital 2x15 mg Albumin : 3,31
Sanmol 70 mg Globulin : 1,69
kalo perlu
Urdafalk 2x1

rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m

puyer
Luminal

g
Abd. Supel BU

2x15

mg
Gentamicin

+ NT
Ext. hangat +
edema

P
RL :

cream
Zinkid 1x5 ml
Cetirizin 1x1/2

ptechiae

cth
Kontrol
albumin + DR

S
Bintik-bintik
merah di muka

O
S : 36C
N : 100 x/menit
RR : 30 x/menit
Mata : CA-/- SI
-/Thorax :
Pul. SN ves -/rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m

01 Mei 2015
A
Kejang Demam
Kompleks
DD :
Ensefalopati
dengue

P
RL :

Ket
24

cc/jam
Meropenam
2x250 mg (9)
Sibital 2x15 mg
Sanmol 70 mg
kalo perlu
Urdafalk 2x1

g
Abd. Supel BU

puyer
Luminal

+ NT
Ext. hangat +

mg
Gentamicin

edema

cream
Zinkid 1x5 ml
Cetirizin 1x1/2

ptechiae

2x15

cth

S
Keluhan (-)

02 Mei 2015
O
A
S : 36,1C
Kejang Demam
N : 100 x/menit
Kompleks
RR : 28 x/menit
Mata : CA-/- SI
DD :
-/Ensefalopati
Thorax :
dengue
Pul. SN ves -/-

Ket
24

cc/jam
Meropenam
2x250 mg (10)
Sibital 2x15 mg
Sanmol 70 mg
kalo perlu
Urdafalk 2x1

rh +/+ wh -/Cor S1S2 reg; m

puyer
Luminal

g
Abd. Supel BU

2x15

mg
Gentamicin

+ NT
Ext. hangat +
edema

P
RL :

cream
Zinkid 1x5 ml
Cetirizin 1x1/2

ptechiae

cth

BAB IV

ANALISIS KASUS

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada suhu tubuh (suhu rectal di atas 38C)
yang disebabkan oleh suatu proses ekstracranium. Kejang demam adalah kejang yang muncul
akibat demam pada bayi atau anak kecil (National Institute of Neurological Disorders and
Stroke/NINDS, 2013).
Diagnosis kejang demam harus ditegakan secara cepat dan tepat. Diagnosis penyakit ini
dapat ditegakan melihat dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saat anak datang kepada
dokter untuk ditangani. Diagnosis yang cepat dibutuhkan untuk pengambilan tindakan secepatcepatnya untuk menghentikan kejang yang dialami.
Dinilai dari anamnesis biasanya yang sering ditanyakan untuk menggali dan menetapkan
diagnosis kejang demam, antara lain adalah :

Adanya kejang, jenis kejang, lama kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi,

interval, pasca kejang, penyebab kejang di luar SSP


Riwayat kelahiran, perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsy dalam

keluarga (kakak-adik, orang tua)


Singkirkan dengan anamnesis penyebab kejang yang lainnya
Dari hasil anamnesis pada pasien ditemukan bahwa pasien mengalami kejang sebanyak 3
kali hari itu, setiap kejang berlangsung 5 menit. Ini merupakan kejang yang pertama. Sesaat
sebelum kejang, ibu pasien menyatakan perut pasien kembung. Saat kejang tangan dan kaki
pasien kaku, mata tidak mendelik ke atas, dan tubuh tidak bergetar. Setelah kejang pasien
mengantuk, tapi masih bangun. Saat tiba di RSU Kota Bekasi pasien sudah tidak sadar.
Menurut ibu pasien, sejak 5 hari sebelum kejang pasien demam naik turun. Ibu pasien
mengatakan demam pertama kali diawali dari adanya bekas gigitan di bibir kiri bawah, kemudian
seluruh tubuh pasien merah-merah. Setelah itu, pasien dibawa ke bidan dan diberikan obat
penurun panas. Setelah minum obat tersebut, demam pasien turun dan merah-merah di tubuh
menghilang. Tapi besoknya pasien demam lagi dan demam kali ini dirasakan tinggi. Pasien
kembali dibawa ke bidan namun demam tidak turun, lalu keluarga membawa pasien ke dokter
umum dan diberikan obat namun demam tetap tidak turun. Pada hari kelima panas, pasien kejang
pertama kali di rumah kemudian setelah 5 menit berhenti. Pasien lalu dibawa ke RS Sentosa dan

disana kejang untuk kedua kalinya, lalu diberi obat dari anus. Karena di sana ruang rawat penuh,
pasien dibawa ke RS Bakti Kartini, tapi ruangan penuh. Lalu dibawa ke RSU Kota Bekasi dan
mengalami kejang ketiga di IGD.
Selain itu, untuk menyingkirkan diagnosis banding kejang demam ditemukan pada
anamnesis bahwa pada keluarga tidak ditemukan ada yang pernah mengalami kejang, baik
disertai maupun tanpa adanya demam.
Dari hasil pemeriksaan fisik sendiri yang mendukung adalah ditemukan tidak adanya
ubun-ubun yang cembung yang artinya tidak ditemukan adanya proses intracranial yang
mengakibatkan kejang. Pada pasien juga ditemukan suhu yang meningkat pada saat pemeriksaan
yakni 39,5C yang mengindikasikan bahwa kondisi kejang pasien dipicu oleh adanya proses
demam yang melewati nilai ambang kejang sehingga timbullah kejang. Pasien juga ditemukan
tidak sadar saat berada di RSU Kota Bekasi. Hal ini sesuai dengan literature yang menyatakan
bahwa pemeriksaan fisik penting yang dibutuhkan untuk menegakan diagnosis kejang demam
adalah :

Kesadaran
Suhu tubuh
Tanda rangsang meningeal
Tanda peningkatan intracranial, muntah proyektil, fontanela anterior menonjol,

papiledema tanda infeksi di luar SSP


Tanda infeksi di luar SSP : otitis media akut, tonsillitis, bronchitis, furunkulosis,

dan lain-lain.
Pemeriksaan nervi cranialis umumnya tidak mengalami gangguan
Unit Kerja Koordinasi Neurologi IDAI 2006 membuat klasifikasi kejang demam pada
anak meliputi :
Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure) merupakan 80% di antara

seluruh kejang demam.


Kejang demam berlangsung singkat (durasi < 15 menit)
Kejang dapat umum, tonik, dan atau klonik
Umumnya akan berhenti sendiri
Tanpa gerakan fokal
Tidak berulang dalam 24 jam
Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure)

Kejang terjadi selama > 15 menit

Kejang fokal atau parsial, atau kejang umum didahului kejang parsial

Berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam5,9

Dari semua yang ditemukan pada pasien diagnosis yang lebih menjurus adalah kejang
demam kompleks (KDK). Hal ini dikarenakan pada pasien ditemukan adanya 2 kriteria yang
memenuhi diagnosis gejala KDK, yaitu kejang parsial atau fokal yang pada pasien ditemukan
sebagai kekakuan pada kaki dan tangan, serta kejang berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
Setelah diketahui diagnosis yang jelas, maka dilakukan penanganan pada pasien yang
sesuai dengan literature yang ada yakni dengan :

Rawat PICU
O2 2 L/m
N5 360 cc/24 jam
Cefotaxime injeksi 2x300 mg IV
Amikasin injeksi 2x50 mg IV
Dexamethasone injeksi 3x2 mg IV
Sanmol injeksi 70 mg IV kalo perlu
Sibital 120 mg IV 12 jam kemudian 2x15 mg IV
Periksa :
o AGD
o Darah lengkap
o Elektrolit
o GDS

Prognosis pasien cukup baik. Dengan penangangan yang baik maka keselamatan hidup
pasien dapat terjamin. Selama kejang tidak terjadi terus menerus dan berulang, maka
kemungkinan fungsi otak pasien masih dapat kembali seperti semula. Dan untuk kekambuhan
dari penyakit ini cukup buruk, dikarenakan kondisi demamlah yang menyebabkan pasien kejang.
Hal ini perlu diteruskan kepada orang tua agar lebih berhati-hati dengan kondisi demam anak
sehingga lain waktu jika demam terjadi akan lebih cepat dilakukan penanganan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Starfstromand CE. The Incidence and Prevalence of Febrile Seizures. In : Baram TZ,
Shinnar S, ed. San Diego : Academic Press ; 2007. p.1-25
2. Knudesen FU. Practical Management Approaches to simple and Complex Febrile
Seizures, ed. In : Baram TZ, Shinnar S, ed. San Diego : Academic Press ; 2002. p.273384
3. Gorelick MH. Neurological Emergencies. In : Fleisher GR, Ludwig S, Silverman BK, ed.
Synopsis of Pediatric Emergency Medicine. Edisi Revisi. Philadelphia : Lippincott
William and Wilkins ; 2002.p.287-98

4. Shinnar S. Febrile Seizures. In : Swaiman KF. Ashwal S, ed. Pediatric Neurology :


Principles and Practice. Ed 3. St.Louis : Mosby ; 2000.p.676-91
5. Camfield P, Camfield C. Seizures Disorders. In : Feldman W,ed. Evidance based
pediatrics. Hamilton : BC Decker Inc ; 2000.p.229-42
6. Duffner PK, Baumann RJ. A Synopsis of the American Academy of Pediatrics practice
parameters on the evaluation and treatment of the children with febrile seizures. Pediatr
Rev ;2000.p.285-9
7. Commision on Epidemiology and Prognosis. International Leage Against Epilepsy.
Guidelines for epidemiologic studies in epilepsy. Epilepsia;.p.359-7

Beri Nilai