Anda di halaman 1dari 32

Pencucian Uang dan

Korupsi
Dr. Trisno Raharjo, S.H.
M.Hum.

Pasal 14 UNCAC menetapkan, bahwa The return of assets is a


fundamental principle of anti-money laundering regime, and
States Parties shall afford one another the widest measure of
cooperation and assistance in this regard.
Substansi pasal ini berkaitan dengan strategi memerangi
TPPU yang mengandung 3 elemen pokok.
Pertama, adanya institusi yang mengatur kebijakan domestik
dan mengawasi pemerintah dalam hal perbankan dan
institusi-institusi lain di bidang keuangan.
Kedua, pertukaran intelijen baik ditingkat nasional maupun
internasional melalui suatu badan pusat intelijen keuangan
(FIU).
Ketiga, pengembangan kerjasama antar perbatasan wilayah
dalam memberantas praktek pencucian uang

Tindak pidana asal (predicate crime)


didefenisikan sebagai tindak pidana
yang memicu (sumber) terjadinya
tindak pidana pencucian uang.

Penempatan tindak pidana


korupsisebagai predicate crime
nomor satu (huruf a) dalam UU TPPU,
merupakanmanifestasi dari
pembentuk undang-undang yang
memandang bahwa
korupsimerupakan persoalan bangsa
yang paling mendesak dan
mendapat prioritas
dalampenangananya.

Praktik-praktik money laundering dewasa


ini sangat sering dilakukan terhadap uang
yang diperoleh dari kejahatan korupsi.
Praktik pencucian uang (money laundering)
sebuah cara untuk melakukan penyamaran
atau penyembunyian atas hasil tindak
pidana korupsi yang dilakukan.
Pencucian uang kemudian dipakai sebagai
ameng atas uang hasil kejahatan korupsi
tersebut.

Setelah proses pencucian uang


selesai dilakukan, maka uang
tersebut secara formil yuridis
merupakan uang dari sumber yang
sah atau kegiatan-kegiatan yang
tidak melanggar hukum.

Penanganan perkara tindak pidana


pencucian uang mempunyai arti
penting bagi pengembalian aset
Negara terkait dengan
pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.

Korupsi masih menjadi tindak pidana


urutan pertama berdasarkan analisis
di PPATK dengan persentase 43,4%.

kasus Dhana Widyatmika (DW),


pegawai pajak golongan IIIC, yang
disinyalir mempunyai kekayaan
melebihi kewajaran

Dhana Widyatmika terancam


sangkaan Pasal 2, 3, 5,dan 12
Undang-Undang Tindak Pidana
Korupsi (UUTipikor) dan Pasal 3 dan 4
Undang- Undang Tindak Pidana
Pencucian Uang (UU TPPU)

Dugaan korupsi yang dilakukan dalam kasus


tersebut adalah perbuatan memperkaya diri
dengan modus penggelapan pajak, atau
menawarkan jasa pada wajib pajak untuk
meringankan pajak yang harus dibayar atau
menerima suap, gratifikasi atau bermain pada
proses banding pajak yang memenangkan wajib
pajak
Hasil korupsi kemudian disimpan di rekening
maupun dalam safety box, untuk membeli
berbagai barang dan ada juga yang diinvestasikan.

Faktor yang pertama, kepemilikan yang


sebenarnya dan sumber yang
sesungguhnya dari uang yang dicuci itu
harus isembunyikan.
Faktor kedua, bentuk uang tersebut harus
berubah dana yang berasal dari tindak
pidana korupsi hampir dipastikan berupa
uang tunai. Uang tunai ini harus dapat
diubah bentuknya menjadi alat
pembayaran lain, misalnya berbentuk cek.

Faktor ketiga, jejak yang ditinggalkan


oleh pencucian uang harus tersamar
atau tidak diketahui (obscured).
Tujuan dari pencucian uang adalah
apabila orang lain tidak dapat
mengikuti jalannya proses
pencuciang uang dari permulaan
sampai akhir proses tersebut.

Faktor keempat, pengawasan terus


menerus harus dilakukan terhadap uang
tersebut. Pada akhirnya banyak orang
yang muncul ketika uang itu sedang dicuci
mengetahui bahwa uang tersebut adalah
uang haram (dirty money) dan apabila ia
dapat mengambil atau mencurinya, maka
kecil sekali kemungkinannya bagi pemilik
uang itu untuk dapat mengambil tindakan
hukum terhadap perbuatan tersebut.

Metode pencucian uang sudah


sangat intim dengan pelaku korupsi
dan cukup dikenal oleh masyarakat
internasional, yaitu buy and sell
conversions, offshore conversions,
dan legitimate business conversions

Buy and sell conversions


dilakukan melalui jual beli barang dan jasa. Sebagai
contoh, real estate atau aset lainnya dapat dibeli
dan dijual kepada co-conspirator yang menyetujui
untuk membeli atau menjual dengan harga yang
lebih tinggi dari pada harga yang sebenarnya
dengan tujuan untuk memperoleh fee atau discount.
Kelebihan harga dibayar dengan menggunakan
uang illegal dan kemudian dicuci melalui transaksi
bisnis. Dengan cara ini setiap aset, barang atau jasa
dapat diubah seolah-olah menjadi hasil yang legal
melalui rekening pribadi atau perusahaan yang ada
di suatu bank.

Metode offshore
conversions
Dilakukan dengan cara dana illegal dialihkan ke wilayah
yang merupakan tax heaven money laundering centers
dan kemudian disimpan di bank atau lembaga keuangan
yang ada di wilayah tersebut
Dana tersebut lalu digunakan antara lain untuk membeli
aset dan investasi (fund investments). Negara atau
wilayah yang merupakan tax heaven terdapat
kecenderungan hukum perpajakan yang lebih longgar,
ketentuan rahasia bank yang cukup ketat dan prosedur
bisnis yang sangat mudah sehingga memungkinkan
adanya perlindungan bagi kerahasiaan suatu transaksi
bisnis, pembentukan dan kegiatan usaha trust fund
maupun badan usaha lainnya

Kerahasiaan inilah yang memberikan


ruang gerak yang leluasa bagi
pergerakan dana kotor melalui
berbagai pusat keuangan di dunia.
Metode offshore conversions ini, para
pengacara, akuntan, dan pengelola dana
biasanya sangat berperan dengan
memanfaatkan celah yang ditawarkan
oleh ketentuan rahasia bank dan rahasia
perusahaan

Metode legitimate business conversions dipraktekkan


melalui bisnis atau kegiatan usaha yang sah sebagai
sarana untuk memindahkan dan memanfaatkan hasil
kejahatan tindak pidana korupsi.
Hasil kejahatan dikonversikan melalui transfer, cek, atau
instrumen pembayaran lainnya, yang kemudian
disimpan di rekening bank atau ditarik atau ditransfer
kembali ke rekening bank lainnya.
Metode ini memungkinkan pelaku kejahatan
menjalankan usaha atau bekerja sama dengan mitra
bisnisnya dan menggunakan rekening perusahaan yang
bersangkutan sebagai tempat penampungan untuk hasil
kejahatan yang dilakukan.

Pelaku pencucian uang tidak terlalu


mempertimbangkan hasil yang akan
diperoleh, dan besarnya biaya yang
harus dikeluarkan, karena tujuan
utamanya adalah untuk
menyamarkan atau menghilangkan
asal usul uang sehingga hasil
akhirnya dapat dinikmati dan
digunakan secara aman

Melalui Sektor Perbankan


Salah satu pola yang ditempuh adalah
penggunaan rekening dengan menggunakan nama
palsu atau dengan nama orang-orang atau
kepentingan-kepentingan yang melakukan
kegiatannya untuk pihak lain
Penggunaan perusahaan-perusahaan gadungan
(shell or front companies) sebagai pemegang
rekening termasuk pula merupakan pola yang
digunakan oleh pencuci uang. Rekening-rekening
tersebut digunakan untuk memfasilitasi
penyimpanan atau pentransferan dana haram
tersebut.

Melalui Sektor
Nonperbankan
Lembaga-lembaga keuangan nonbank dan bisnis-bisnis
nonkeuangan tetap menarik bagi para pencuci uang untuk
dapat memasukkan hasil yang diperoleh mereka secara
melawan hukum itu ke dalam jalur keuangan yang biasa. Pada
pencucian uang terjadi pengalihan aktivitas yang sangat
signifikan dari sektor perbankan yang tradisional ke sektor
keuangan nonperbankan dan bisnis nonkeuangan serta berbagai
profesi.
Bureaux de change (money changer) makin lama makin
menjadi ancaman bagi pemberantasan tindak pidana pencucian
uang.
Hal itu dapat terjadi karena lembaga bureaux de change tidak
ketat diatur (heavily regulated), yaitu tidak seperti halnya bankbank dan lembaga-lembaga keuangan tradisional lainnya.

Menggunakan Fasilitator Profesional


Kecenderungan lain adalah munculnya kelompok
fasilitator pencucian uang yang profesional. Mereka itu
adalah solicitors, attorneys, accountans financial
advisor, notaries, dan fiduciaries lainnya yang
memberikan jasa-jasa untuk membantu menyalurkan
keuntungan yang diperoleh dari kejahatan.
Kiat-kiat yang umum dilakukan adalah penggunaan
rekening dari klien-klien dari para solicitors atau
attorneys untuk melakukan placement dan layering
dana. Caranya adalah dengan menawarkan kepada
pencuci uang tersebut anonimitas hal istimewa
hubungan solicitors dan kliennya (the anonnimity of the
solicitor-client privilege)

Mendirikan Perusahan
Gadungan
Para pelaku pencucian uang menggunakan cara
lain dengan mendirikan perusahaan-perusahaan
gadungan (shell corporations), trusts, atau
partnership oleh pengacara, akuntan, dan para
profesional lainnya
Para profesional tersebut, melalui entitas-entitas
bisnis ini membangun jaringan yang sangat rumit
dengan maksud menyembunyikan asal-usul dana
hasil kejahatan dan menyembunyikan identitas
pihak-pihak yang terkait. Para profesional dalam
banyak kasus akan bertindak sebagai directors,
trustees, atau partners.

Melalui Bidang Real Estate


Teknik-teknik pencucian uang lainnya
yang dilakukan di luar sektor perbankan
adalah melakukan investasi di bidang
real estate. Pembelian ekspor/impor
emas dan perhiasan tetap merupakan
cara yang sering juga dilakukan. Hasil
kejahatan tersebut digunakan untuk
membeli barang dan produk yang
kemudian dikapalkan ke luar negeri
untuk dijual kembali.

Melalui Industri kasino


Industri kasino (perjudian) akhir-akhir
ini diidentifikasi rentan terhadap
pencucian uang. Kasinodapat
menarik bagi para pencuci karena
kasino sering memberikan jasa-jasa
sebagaimana yang diberikan oleh
bank, yaitu memberikan kredit,
melakukan penukaran uang, dan
mengirimkan uang.

Melalui Sektor Asuransi


Sektor asuransi juga rentan terhadap pencucian
uang. Suatu single premium insurance bond makin
lama makin populer. Para pencuci uang membeli
produk-produk ini dan menjualnya kembali dengan
diskon (at a discount), sisa nilainya dapat diperoleh
oleh pencuci uang yang dimaksud dalam bentuk
cek yang bersih (sanitised check) dari suatu
perusahaan asuransi. Single premium insurance
bond memiliki pula keuntungan yang lain sebagai
sarana pencucian uang karena dapat digunakan
sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dari
lembagalembaga keuangan.1

Melalui Industri Sekuritas


Sektor sekuritas yang dimaksud adalah
perdagangan efek-efek saham seperti obligasi
Sektor ini rentan pula untuk diintimidasi oleh para
pencuci uang terutama pada tahap layering.
Beberapa fitur dari produk ini membuat bisnis
menjadi sasaran yang menarik bagi para pencuci
uang seperti sifatnya yang internasional, transaksi
yang singkat (highly liquid), serta rekening
sekuritas (securities account) dapat dibuka
perusahaan pialang sehingga memungkinkan
identitas yang sesungguhnya tersembunyi

Pasal 74 UU TPPU No. 8/2010


Penyidikan tindak pidana pencucian
uang dilakukan oleh penyidik tindak
pidana asal sesuai dengan ketentuan
hukum
acara
dan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan,
kecuali ditentukan lain menurut
undang-undang ini.

PASAL 6 HURUF A
UU NO. 46 TAHUN 2009 TENTANG
PENGADILAN TINDAK PIDANA KO
RUPSI
(UU PENGADILAN TIPIKOR) BAHWA
PENGADILAN TIPIKOR BERWENANG
MEMERIKSA, MENGADILI, DAN
MEMUTUS PERKARA TINDAK PIDANA
PENCUCIAN UANG YANG TINDAK
PIDANA ASALNYA ADALAH TINDAK
PIDANA KORUPSI

Pasal 77 UU TPPU No. 8/2010


Untuk kepentingan pemeriksaan di
sidang pengadilan, terdakwa wajib
membuktikan
bahwa
harta
kekayaannya
bukan
merupakan
tindak pidana

Pasal 69 UU TPPU No. 8/2010


Untuk dapat dilakukan penyidikan,
penuntutan, dan pemeriksaan di
sidang pengadilan terhadap tindak
pidana pencucian uang TIDAK WAJIB
dibuktikan terlebih dahulu tindak
pidana asalnya.

Anda mungkin juga menyukai