Anda di halaman 1dari 8

Identifikasi logam berat Cu ( Tembaga ) Pada Tanah

Kimia Lingkungan
Tugas sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai mata
Kuliah Kimia Lingkungan

Oleh:
RAMDHAN NURMAN FAHADA
RESITA ZULFA SAVITRI
NADIA AYU SAPUTRI
SITI NUR KARIMA
FAIQATUL HIMMAH
ESA AFIYAH WIDIASWARA
DELISA DWINOVITA LUKMANDA
KHALDA LUQYANA MUKTIE
GISKA KUSUMANINGTIAS
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK KESEHATAN
BANDUNG
2015

a. Pengertian
Reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat, bukannya
antara dua zat murni. Satu tipe yang lazim dari campuran adalah larutan. Dalam
alam kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air. Cairan tubuh baik
tumbuhan maupun hewan adalah larutan dalam air dan banyak zat. Jelas reaksi di
samudera, danau, dan sungai melibatkan larutan. Dalam tanah reaksi utama
berlangsung dalam lapisan-lapisan tipis larutan yang diadsorpsi pada padatan,
bahkan dalam daerah gurun sekalipun. Analisa kimia adalah penyelidikan yang
bertujuan untuk mencari susunan persenyawaan atau campuran persenyawaan di
dalam suatu sampel.
Analisa kimia terdiri dari analisa kualitatif, yaitu penyidikan kadar
mengenai kadar unsur atau ion yang terdapat dalam suatu zat tunggal atau
campuran, suatu senyawa dapat diuraikan menjadi anion dan kation. Analisa
kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia
dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan. Metode gravimetrik merupakan
penentuan kadar suatu zat dalam sampel dengan mereaksikannya dengan analit
lain sehingga terbentuk endapan. Dimana endapan tersebut diuji kemurniannya
dan diketahui kadarnya melalui perhitungan dimana gram endapannya yang
didapatkan dibandingkan dengan massa sampel yang dikalikan faktor gravimetri.
Timbal dan tembaga dapat berada di dalam badan perairan secara alamiah dan
sebagai dampak aktivitas manusia. Konsumsi Cu dalam jumlah besar dapat
menyebabkan tembaga dan timbal bersifat toksik dan menimbulkan gejala-gejala
yang akut. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk menentukan kadar Cu
dalam suatu cuplikan, mengetahui jenis titrasi yang digunakan untuk menentukan
kadar Cu dalam cuplikan, dan untuk mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi dalam
analisa kuantitatif Cu.
b. Tujuan :
-Mengetahui kadar Cu yang terdapat dalam cuplikan pada percobaan ini

-Mengetahui volume dan konsentrasi titrasi Na2S2O3pada penentuan kadar Cu


dalam cuplikan agar dapat diketahui konsentrasi Cu dalam cuplikan
c. Alat dan bahan
Alat :
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah neraca analitik, pipet volum,
labu ukur 100 mL, erlenmeyer 250 mL, buret, dan beaker gelas., pipet tetes, dan
botol semprot.
Bahan :
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah KIO 3, H2SO4 2 N,
larutan KI 10%, larutan Na2S2O3, larutan amilum 1%, garam (pembuatan larutan
sampel), larutan KCNS atau NH4CNS 10% dan akuades.
d. Prosedur Kerja
1. Pembakuan larutan Na2S2O3 dengan larutan baku KIO3
Dengan teliti ditimbang 0,35 gram KIO3 dilarutkan dalam akuades kemudian
memasukan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 ml
Sampai batas diencerkan, dipipet 25 ml larutan baku KIO 3 dan dimasukan dalam
Erlenmeyer
2 ml H2SO4 2 N dan 10 ml KI 10 %, ditambahkan kemudian dikocok. Larutan ini
dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3 sampai larutan berwarna kuning muda.
Dengan akuades 25 ml diencerkan dan ditambahkan dengan 4 ml larutan amilum
10 %, titrasi dilanjutkan sampai warna biru hilang.
2.

Penentuan Kadar Cu dengan Larutan Baku Na2S2O3

Dengan teliti ditimbang 1,0 gram garam CuSO4, dilarutkan dalam akuades,
dimasukkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 mL,
Sampai tanda batas diencerkan, dan mengocok secara sempurna. Diambil 5 mL
larutan ke dalam labu ukur 100 mL, mengencerkan dengan akuades sampai tanda
batas, dan dikocok sempurna.
10 mL larutan sampel dipipet, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL,
menambahkan 2 mL KI 10%, kemudian dikocok.

I2 yang dihasilkan dititrasi dengan larutan baku thio sampai larutan berwarna
kuning muda, kemudian menambahkan 2 mL larutan amilum 1% dan dilanjutkan
titrasi sampai warna biru hampir hilang.
2 mL larutan KCNS 10%, ditambahkan warna biru akan timbul lagi, cepat-cepat
dilanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang. Dilakukan duplo
e. Data Hasil Pengaamatan
No
1.

Langkah percobaan
Hasil pengamatan
Pembakuan larutan Na2S2O3 dengan Larutan kuning
KIO3

V titrasi 1 = 0,3 ml

-Menimbang 0,35 gr KIO3 + akuades V titrasi 2 = 0,1 ml


dalam

100

ml

labu

ukur, V total = 0,4 ml

Mengencerkan
25 ml KIO3 + 3 ml H2SO4 2N+ KI
10%,
mentitrasi dengan Na2S2O3 sampai
warna kuning muda
+ 2 tetes amilum 1% menitrasi sampai
2.

warna biru tepat hilang


Penentuan Kadar Cu dengan Na2S2O3 kuning tua menjadi
a. Menimbang 1 gr garam

kuning

muda

Melarutkan dalam akuades dan V = 0-3,6 ml


mengencerkan

V = 3,6 7,7 ml

10 ml larutan sampel + 2 ml KI 10% V = 7,7 8,2 ml


dan mengocok

Tidak timbul warna biru lagi

Menitrasi sampai warna kuning V = 0-3,2 ml


muda

V = 3,2 7,3 ml

+ 2 ml amilum 1% dan titrasi

V = 7,3 7,9 ml

+ 2 tetes KCNS 10%

V total titrasi 1 dan titrasi 2 =

b. Menimbang 1 gr garam

1,1 ml

Melarutkan dalam akuades dan V rata-rata = 0,55 ml

mengencerkan
10 ml larutan sampel + 2 ml KI 10%
dan mengocok
Menitrasi sampai warna kuning
muda
+ 2 ml amilum 1% dan titrasi
+ 2 tetes KCNS 10%
Perhitungan
Pembuatan Larutan Baku KIO3 0,1N
Massa KIO3 = 0,36 gr
BM KIO3 = 214,0064 gr/mol
V pengenceran

= 0,1 L

N KIO3 = ..?
N KIO3 =
= 0,1009 N
Pembakuan Larutan Baku Na2S2O3 dengan Larutan Baku KIO3 0,1N
N KIO3 = 0,1009 N
V KIO3 = 25 mL
V Na2S2O3 = 0,4 mL
N Na2S2O3 = ..?
N Na2S2O3 =
= 6,25N
Penentuan Kadar Cu2+ dalam CuSO4.5H2O
V Na2S2O3 = 0,55 mL
N Na2S2O3 = 6,25 N
Massa sampel

= 1 gr

% Cu2+ dalam sampel = ?


2 S2O32- + I2 S4O62- + 2I

2 mgrek S2O32- = mgrek I2


2 (V x N) S2O32- = mol I2 x e I2
mol I2 = 2
=2
= 0,0034375 mol
Reaksi :
2 Cu2+ + 4 I 2 CuI + I2
mol Cu2+ = 2 mol I2
= 2 x 3,4375 x 10-3 mol
= 6,8 x 10-3 mol
massa Cu2+ = mol Cu2+ x BA Cu2+
= 6,8 x 10-3 mol x 63,546 mol
= 0,4321 gr
% Cu dalam sampel
= 43,21 %
2. Penentuan Kadar Cu2+ dengan Larutan Baku Na2S2O3
Pada penentuan kadar Cu dengan larutan baku Na2S2O3 akan terjadi
beberapa perubahan warna larutan sebelum titik akhir titrasi. Tembaga murni
dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan
direkomendasikan jika thiosulfat harus digunakan untuk menetapkan tembaga.
Potensial standar pasangan Cu(II) Cu(I) adalah +0,15 V dan karena itu iod
merupakan pengoksidasi yang lebih baik dari pada ion Cu(II). Tetapi bila ion
iodida ditambahkan ke dalam larutan Cu(II) akan terbentuk endapan Cu(I).
2Cu2+ + 4I 2CuI(s) + I2
Penentuan kadar Cu2+ dalam larutan dengan bantuan larutan natrium
tiosulfat yang dilakukan mengencerkan 5 mL sampel garam hingga 100 mL dan
mengambil 10 mL hasil pengenceran tersebut untuk ditambahkan dengan larutan
KI 10% dan menitrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat hingga larutan yang
semula berwarna coklat tua menjadi larutan yang berwarna kuning muda.

Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan 4 mL larutan amilum 1 %


menghasilkan larutan yang semula berwarna kuning muda menjadi biru tua,
Penambahan indikator amilum 1% ini dimaksudkan agar memperjelas perubahan
warna yang terjadi pada larutan tersebut. kemudian larutan tersebut dititrasi
kembali dengan larutan natrium tiosulfat hingga warna biru pada larutan tepat
hilang. Untuk lebih memperjelas terjadinya reaksi tersebut, ke dalam larutan
ditambahkan amilum. Bertemunya I2 dengan amilum ini akan menyebabakan
larutan berwarna biru kehitaman. Selanjutnya titrasi dilanjutkan kembali hingga
warna biru hilang dan menjadi putih keruh.
I2 + amilum

I2-amilum

I2-amilum + 2S2O32- 2I + amilum + S4O6


Hal yang perlu diperhatikan setelah penambahan amilum adalah adanya
sifat adsorpsi pada permukaan endapan tembaga(I) iodida. Sifat ini menyebabkan
terjadinya penyerapan iodium dan apabila iodium ini dihilangkan dengan cara
titrasi, maka titik akhir titrasi akan tercapai terlalu cepat. Oleh karena itu, sebelum
titik akhir titrasi tercapai, yaitu pada saat warna larutan yang dititrasi dengan
Na2S2O3 akan berubah dari biru menjadi bening, dilakukan penambahan kalium
tiosianat KCNS. Penambahan KCNS menyebabkan larutan kembali berwarna
biru. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
2Cu2+ + 2I + 2SCN 2CuSCN + I2
Endapan tembaga(I) tiosianat yang terbentuk mempunyai kelarutan yang
lebih rendah daripada tembaga(I) iodida sehingga dapat memaksa reaksi berjalan
sempurna. Selain itu, tembaga(I) tiosianat mungkin terbentuk pada permukaan
tembaga(I) iodida yang telah mengendap. Reaksinya sebagai berikut:
CuI + SCN CuSCN + I
Penambahan larutan KCNS ini bertujuan sebagai larutan yang mengembalikan
reaksi penambahan indikator amilum dalam larutan sehingga larutan menjadi
kembali biru. Reaksi yang berlangsung adalah
2Cu2+ + 4 I 2CuI + I2
2S2O32- + I2 S4O62-+ 2I

dari hasil pengamatan dan perhitungan, didapatkan jumlah volume titrasi larutan
natrium tiosulfat yang dibutuhkan untuk merubah larutan dari warna coklat tua
menjadi kuning muda setelah penambahan amilum maka larutan menjadi bening
dan setelah penambahan KCNS maka larutan menjadi jernih kembali. Dari hasil
perhitungan diperoleh massa tembaga pada larutan sampel sebesar 0,4321 gram
dan kadar tembaga (%Cu2+) dalam larutan sample tersebut adalah sebesar 43,21
%.
KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan, perhitungan dan pembahasan yang telah diuraikan
sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut :
Ada dua cara analisis menggunakan senyawa iodium yaitu titrasi iodimetri atau
dengan iodometri dimana iodium terlebih dahulu dioksidasi oleh oksidator
misalnya KI.
Kadar tembaga dalam garam CuSO4.5H2O dapat ditentukan dengan cara
iodometri. Indikator yang dipakai adalah amilum karena amilum sangat peka
terhadap iodium dan terbentuk kompleks amilum berwarna biru cerah, saat
ekivalen amilum terlepas kembali. Massa tembaga pada larutan diketahui sebesar
0,4321 gram dan kadar tembaga dalam larutan sebesar 43,21 %.
DAFTAR PUSTAKA
Basset. J etc. 1994. Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI. Jakarta.